Kemendikbud: 54 Persen Sekolah Belajar Online

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melakukan survei yang berlangsung selama dua pekan. Survei dilakukan untuk mendata sekolah-sekolah yang melakukan pembelajaran dari rumah.

“Yang belajar dari rumah secara penuh itu sekitar 54 persen,” kata Pelaksana tugas (Plt) Direktur Jenderal PAUD dan Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, Hamid Muhammad, dalam siaran RRI, Jumat (24/4).

Adapun yang lainnya, kata Hamid guru masih beberapa kali datang ke sekolah. Biasanya sekolah memberlakukan sistem piket sehingga setiap kali guru datang ke sekolah dan menggunakan fasilitas belajar yang ada.

“Walaupun itu sebenarnya digunakan untuk mengajar anak-anak kita di rumah,” kata Hamid menambahkan.

Selain itu, dari survei yang dilakukan terdapat sekitar 2 persen sekolah yang siswa masih perlu datang ke sekolah. Namun, siswa datang hanya untuk mengambil tugas untuk nantinya dikerjakan di rumah.

Hamid menambahkan, saat ini dana BOS juga digunakan untuk upaya pencegahan Covid-19 di satuan pendidikan. Ia menjelaskan, hingga saat ini BOS sudah sekitar 99 persen disalurkan kepada sekolah.

“Hanya sekitar 0,5 persenan yang kami lakukan verifikasi data, terutama sekolah yang ada di Indonesia Timur,” kata Hamid.

Adapun BOP PAUD dan BOP Kesetaraan, penyalurannya dilakukan dari Kementerian Keuangan ke Pemerintah Daerah untuk kemudian ke satuan pendidikan. Saat ini dana BOP tersebut sudah tersalurkan sebanyak 48 peren, selebihnya masih dalam proses.

Sumber: republika.co.id

Kiai Ma’ruf: Puasa Tak Hanya Tahan Lapar, Juga Tahan Keluar Rumah

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengajak masyarakat bersabar dan tawakal menjalani ibadah puasa di tengah pandemi Covid 19. Kiai Ma’ruf mengatakan, puasa di tengah wabah virus Covid-19membuat masyarakat tidak hanya menahan haus dan lapar saja, tetapi juga untuk tetap di rumah.

Sejak Covid 19 ditetapkan sebagai pandemi global dan bencana nasional nonalam, seluruh masyarakat diminta untuk tetap di rumah. Seluruh masyarakat diminta menjaga jarak fisik atau physical distancing

“Karena itu kesabaran kita bukan hanya kita sabar untuk menahan diri tidak makan, tidak minum, tapi juga untuk tidak keluar rumah ya, untuk kita ibadah di rumah, untuk belajar di rumah, bekerja dari rumah, dan untuk juga sabar untuk menahan diri,” ujar Wapres saat ikut berpartisipasi dalam program stasiun TV swasta, Sabtu (25/4) malam.

Kiai Ma’ruf meyakini, jika hal itu dilakukan, maka pahala ibadah Ramadhan kali ini akan lebih besar. “Jadi, Ramadan kali ini insha Allah pahalanya lebih besar karena banyak hal yang harus dihindari dibanding Ramadan-Ramadan sebelumnya,” katanya.

Karena itu, Ketua Umum Majelis Ulama indonesia (MUI) nonaktif itu mengimbau pelaksanaan shalat fardu maupun sunah jamaah yang biasa dilakukan, pada Ramadhan kali ini dilakukan dari rumah. Ia meminta masyarakat menghindari tempat berkumpul seperti masjid, mushala yang berpotensi menjadi tempat penularan virus.

“Kan dalam agama juga tidak boleh kita membahayakan diri sendiri, tidak boleh juga kita membahayakan orang lain. Untuk mencegah itu maka kita perlu menghindari adanya kumpul-kumpul, termasuk juga shalat jamaah, kan salat tarawih itu sunnah saja untuk berjamaah itu,” ujarnya.

Wapres menerangkan, shalat yang dilakukan di rumah tidak akan mengurangi pahala ibadah tersebut, lantaran tidak dilakukan di masjid. “Karena itu tidak mengurangi kehusukkan bahakan pahalanya bisa menjadi lebih besar pada saat seperti ini, di rumah,” katanya.

Sumber: republika.co.id

 

Muhammadiyah Luncurkan Konseling Psikis Cemas Akibat Covid-19

YOGYAKARTA(Jurnalislam.com)– Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) meluncurkan Senarai Perilaku Masa Pandemi Covid-19 (Sikuvid) dan Senarai Kecemasan Diri Masa Pandemi Covid-19 (Sikevid) sebagai alat untuk mengukur kondisi kesehatan fisik dan psikis masyarakat, Sabtu (25/4/2020).

Melalui MCCC, Muhammadiyah bergerak aktif dalam mengatasi pandemi Covid-19 yang saat ini sedang melanda Indonesia. Dibentuk pada tanggal 5 Maret 2020 oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir, salah satu pelayanan yang dilakukan MCCC adalah Layanan Dukungan Psikososial (LDP) secara daring dengan melibatkan 60 Psikolog dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah se-Indonesia dan jangkauan layanan dari Aceh sampai Papua.

LDP sendiri diluncurkan pada 30 Maret 2020 dan pada tanggal 1 April 2020 LDP sudah mulai beroperasi.

Model layanan yang dilakukan berupa konseling secara daring setiap Senin-Ahad dengan teknis seorang psikolog menangani seorang klien dalam durasi waktu 30 menit. Layanan ini dapat dilakukan hingga tiga kali konsultasi atau sesuai kebutuhan dan bersifat gratis.

Hingga saat ini sudah ada 68 orang yang melakukan konsultasi ke LDP, dengan rincian 63 WNI dan 8 WNA.

Mayoritas permasalahan yang dikonsultasikan terkait Covid-19 dan berdampak pada kondisi kejiwaan sehingga menyebabkan depresi bahkan ada yang ingin bunuh diri.

Menindaklanjuti hasil dari LDP tersebut maka kemudian diluncurkan Sikuvid dan Sikevid yang merupakan alat untuk mengukur kesehatan fisik dan pikis masyarakat.

Alat ini berupa cheklist/senarai yang dapat digunakan oleh relawan secara fleksibel dan mandiri  dengan tetap menghormati etika profesi yang berlaku serta tidak harus diberikan oleh psikolog.

“Jika ditemukan indikasi risiko dan kecemasan tinggi maka kita akan bisa lakukan sisi kuratif dengan memberikan konseling bagi yang cemas tinggi serta segera merujuk kepada Puskesmas/RS terdekat bagi yang risiko tinggi terpapar virus. Ini sekaligus dapat menjadi inisiasi untuk melakukan preventif dan promotif di titik-titik mana yang dibutuhkan, sehingga akan dapat terpantau segera,” ujar Ratna Setiyani S, M.Psi., Psikolog selaku Psikolog LDP MCCC.

Komunitas Sobat Qur’an Bagikan APD dan Seribu Paket Sembako

KARANGANYAR (Jurnalislam.com)- Komunitas Sobat Qur’an (KSQ) bersama Ponpes Salman Al Farisi Karangpandan memberikan 1000 paket sembako gratis kepada masyarakat terdampak ekonomi akibat wabah virus covid-19.

Bantuan sembako bertajuk ‘shodaqoh sembako’ tersebut disalurkan pada ahad hingga Jum’at, (19-24/4/2020) di 7 Kota di Provinsi Jawa Tengah yakni, Karanganyar, Sragen, Solo, Boyolali, Sukoharjo dan Wonogiri.

“Alhamdulillah kegiatan ini berjalan dengan lancar dan tidak ada halangan, tujuan kami mengadakan program sedekah sembako karena kami melihat wabah yang menyerang khususnya negara kita dan umumnya belahan dunia,” kata ketua KSQ ustaz Kelik Subagio.

“Akhirnya dampaknya luar biasa karena banyak masyarakat yang diputus dari pekerjaannya ada karena kondisi tidak dikeluarkan tapi tidak bisa bekerja dan banyak lagi akhirnya perekonomian mereka terganggu,” imbuhnya.

Ia berharap, aksi sosial tersebut dapat membantu meringankan beban masyarakat dalam menghadapi wabah virus covid-19.

“Mudah mudahan yang sedikit kami berikan kepada mereka bisa mengurangi beban kehidupan yang selama ini mereka rasakan,” ujarnya.

Ustaz Kelik juga menyebut selain memberikan bantuan sembako gratis, pihaknya juga memberikan bantuan berupa Alat Pelindung Diri (APD) untuk tenaga medis di beberapa Rumah Sakit di Karesidenan Surakarta.

“Bantuan APD sejumlah 342 set tersebut kita berikan kepada tenaga medis yang menjadi garda terdepan dalam menghadapi wabah virus covid-19 di RS Dr Moewardi, PKU Muhammadiyah Sampangan, RSUD Boyolali, RSUD Sukoharjo, RS Nirmala Suri dan sejumlah puskesmas yang ada di Sukoharjo,” terangnya.

Sementara itu, Esti salah satu perawat di RS Dr Moewardi yang merupakan RS rujukan penanganan pasien covid-19 di Jawa Tengah, merasa sangat terbantu dengan APD yang diberikan oleh KSQ dan Ponpes Salman Al Farisi.

“Mengucapkan terimakasih atas donasi bantuan alat pelindung diri bagi petugas yang ada di RS Dr Moewardi,” terangnya.

Kehidupan Akhirat Lebih Baik Bagimu

 

وَلَلْآَخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَى

“Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).”(Ad-Dhuha: 4)

(Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu)  maksudnya kehidupan di akhirat itu lebih baik bagimu, karena di dalamnya terdapat kemuliaan-kemuliaan bagimu (dari permulaan) dari kehidupan duniawi.

Kehidupan dunia ini hanya bagai mata’ul ghurur  sebagaimana disebutkan dalam ayat lainnya,

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

_“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”_ (Al-Hadid: 20).

Dalam Tafsir Al-Jalalain disebutkan bahwa manusia terlalu sibuk dengan dunianya. Padahal hal-hal tadi (anak dan harta) bisa mendukung pada akhirat. Dunia itu membuat kita kagum layaknya petani yang kagum pada tanaman.

 

Padahal tanaman itu nantinya kering dan menguning, lalu hancur menjadi keropos dan tertiup angin. Yang mementingkan dunia dari akhirat, baginya siksa yang keras. Padahal dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata bahwa Allah menjadikan permisalan kehidupan dunia dengan perhiasan yang akan fana (sirna) dan kenikmatan yang akan hilang.

 

Dunia itu diibaratkan dengan *ghaits* yaitu hujan yang datang setelah sekian lama tak kunjung turun. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat,

وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ ۚ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ

_“Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.”_ ( Asy-Syura: 28)

Ibnu Katsir rahimahullah juga menyatakan para petani itu begitu takjub pada tanaman yang tumbuh karena hujan tadi.

 

Sama halnya dengan orang kafir ketika memandang dunia. Orang kafir itu begitu semangat pada dunia, hati pun condongnya pada dunia.

 

Padahal tanaman tadi itu bisa menguning, setelah sebelumnya begitu hijau dan enak dipandang mata. Kemudian akhirnya tanaman itu hancur dan kering. (Agus Riyanto)

 

Gotong Royong Masyarakat dan Dukungan Pemerintah, Kunci Tangkal Corona

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Masyarakat diminta membantu pemerintah mengatasi persoalan Covid-19dengan mematuhi aturan pemerintah untuk memutus penyebaran Covid-19.

Namun, pemerintah pusat dan daerah harus memastikan kebutuhan warga terdampak Covid-19 terpenuhi.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Ace Hasan Syadzily Jumat (24/4) mengatakan, pihaknya telah menyerahkan bantuan yang terdiri dari sembako, alat pelindung diri (APD) dan handwash station di Kelurahan Warga Mekar, BaleEndah, Bandung, pada Kamis (23/4).

Pada kesempatan itu ia meminta masyarakat harus disiplin untuk bekerja di rumah, belajar di rumah dan beribadah di rumah sebagai upaya untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Ace juga mengajak warga turut berpartisipasi dalam penanganan Covid-19 secara gotong royong. Hal itu dapat dilakukan dalam sebuah komunitas terkecil di masyarakat. Untuk itu pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat yang terkena dampak Covid-19 perlu mendapatkan dukungan sepenuhnya dari seluruh masyarakat.

Menurutnya, semangat gotong royong dan solidaritas sosial harus dihidupkan kembali melalui komunitas warga pada lingkungan terkecil di masyarakat. “Seperti RT atau kampung untuk saling membantu jika ada di antara warga yang kekurangan kebutuhan pokok,” katanya.

Hal tersebut dilakukan kata Ace, agar dapat mencegah terjadinya konflik di masyarakat akibat dampak Covid-19. Saat ini, Covid-19 memberi dampak nyata terhadap kehidupan warga.

Menurutnya, banyak dari mereka yang kehilangan pekerjaan dan  pendapatan. Itulah sebabnya, masyarakat mengalami tekanan ekonomi. “Dengan demikian, kemungkinan potensi adanya konflik sosial dalam masyarakat dapat diantisipasi dengan sebaik-baiknya,” katanya

Pada dasarnya masyarakat Indonesia memiliki daya tahan modal sosial yang tinggi di saat menghadapi tekanan sosial ekonomi akibat berbagai masalah yang sedang terjadi saat ini. Untuk itu perlu terus dibangum optimisme di seluruh lapisan masyarakat.

sumber: republika.co.id

 

Guru Darul Fikri Sidoarjo Salurkan Sembako untuk Warga Terdampak Covid-19

SIDOARJO(Jurnalislam.com)–Pandemi wabah corona yang terjadi dewasa ini telah banyak menimbulkan dampak negatif pada masyarakat indonesia.

Masyarakat kita kini tidak lagi leluasa dalam melakukan aktivitas di luar rumah. Masyarakat dibatasi dalam bepergian ke luar kota, banyak yang mengalami PHK hingga meninggal dunia akibat wabah corona.

Dalam rangka membantu meringankan beban masyarakat terdampak virus corona, guru-guru di PPTQ Darul Fikri Sidoarjo berinisiatif mengadakan agenda bertajuk “Dafi Tangkas Corona.” Agenda ini merupakan bentuk keprihatinan guru-guru Darul Fikri Sidoarjo terkait wabah virus corona yang sedang melanda Indonesia. Guru-Guru di Dafi berinisiatif untuk menyisihkan uang gaji mereka untuk membantu masyarakat sekitar pondok.

Uswatun Hasanah selaku kordinator kegiatan penggalangan dana menjelaskan sasaran bantuan pengalangan dana ini adalah masyarakat terdampak virus corona di lingkungan sekitar pondok Darul Fikri yaitu desa Anggaswangi dan desa Sarirogo, Kabupaten Sidoarjo. Jumlah estimasi dana yang dihasilan menurut Uswatun Hasanah lebih dari 7 juta setiap bulan selama 3 bulan ke depan.

“Dana sebesar itu akan disalurkan dalam bentuk pembagian sembako ke masyarakat. Kami juga ingin memberi contoh pada santri kami tentang kepedulian sosial,” jelas Uswatun Hasanah.

Selain itu, Uswatun Hasanah menambahkan telah berhasil menggandeng Dompet Al-Qur’an Indonesia untuk proses penyaluran hasil donasi ke masyarakat.

Darul Fikri Sidoarjo dan Dompet Al-Qur’an Indonesia juga telah berhasil melakukan proses penyaluran bantuan tahap pertama pada 24/4. Bantuan tersebut langsung diterima oleh para ketua RT setempat.

Agung Heru Setiawan selaku direktur Dompet Al-Qur’an Indonesia merasa gembira dengan adanya kolaborasi antara Darul Fikri Sidoarjo dan Dompet Al-Qur’an Indonesia dalam penanganan wabah virus corona.

Agung Heru Setiawan berharap sikap empati yang ditunjukan guru-guru Darul Fikri Sidoarjo akan ditiru buhan hanya oleh para santri mereka tapi juga sekolah-sekolah lain.

“Mudah-mudahan keteladanan guru-guru Darul Fikri akan menginspirasi lahirnya gerakan besar di sidoarjo. Kita bisa bayangkan seandainya seluruh guru dan siswa di Sidoarjo bahu-membahu untuk meringankan beban masyarakat terdampak corona. Pasti akan sangat membantu meringankan beban warga terdampak corona,” pungkas Agung Heru Setiawan.

Perantau di Jakarta Kebingungan Bayar Kontrakan

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Krisis akibat wabah virus Corona atau Covid-19 mulai berdampak terhadap masyarakat kelas menengah ke bawah.

Hal itu terutama bagi mereka yang hidup di perantauan dengan menempati kontrakan atau indekos di kota-kota besar, seperti Jakarta. Sampai-sampai untuk membayar kontrakan atau indekos harus berjibaku.

Salah satunya, Ahmad Panjul (34 tahun) pekerja pemasaran (sales) produk kartu kredit di salah satu bank swasta ternama di Jakarta. Hampir satu bulan dia banting setir dengan berjualan buah dan sayuran setelah pekerjaannya terdampak Covid-19.

“Di-PHK sih tidak, tapi kan nggak dapat nasabah dan nggak dapat intensif (gaji). Sekarang mah jualan saja dulu, meski hasilnya kadang kurang untuk makan saja,” keluh Panjul saat, Jumat (24/4).

Panjul mengakui, untung dari jualan keliling tidak seberapa bahkan kadang kurang untuk dibawa pulang.

Untuk bisa mencukupi keperluan sehari-hari, bayar kontrakan, listrik, termasuk tagihan-tagihan, Panjul terpaksa harus mencari pinjaman. Sebab, tidak mungkin dirinya harus menunggak bayar kontrakan atau menunda pembayaran token listrik.

“Ya terpaksa gali lubang tutup lubang, buat bayar kontrakan misalnya. Kalau makan mah insya Allah bisa dihemat seirit-iritnya, tapi kalau listrik, air kan nggak bisa harus tetap bayar,” kata bapak dua anak itu.

Apalagi setelah wilayah Jakarta dan juga Tangerang Selatan tempat dia tinggal menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Bahkan Jakarta sudah perpanjang, usai dua pekan menerapkan PSBB, Panjul mengaku semakin sulit untuk mencari pembeli buah dan sayurnya.

Hal itu karena dia tidak bisa sembarang masuk gang-gang atau perumahan untuk keliling menjajakan dagangannya.

“Pusing nggak ada penghasilan, gara-gara PSBB jualan semakin susah. Kalau begini terus (krisis) mungkin boyong saja ke kampung, setidaknya nggak bayar kontrakan di sana,” ucap Panjul dengan nada pilu.

Terkait bantuan sosial (bansos) yang digembor-gemborkan pemerintah di berita-berita televisi, media massa juga media sosial, belum dirasakannya.

Bahkan Panjul mengaku belum mengetahui cara mendapatkan setidaknya mendaftar penerima bantuan selain kartu prakerja. Menurutnya, pemerintah perlu gencar sosialisasi cara rakyat mendapatkannya bukan nilai yang dikeluarkan negara.

“Mestinya saat kondisi seperti ini, pemerintah kudu jemput bola, biar kita juga tetap di rumah sesuai anjuran pemerintah. Tapi bagaimana pun juga kita tetap harus bersyukur sampai detik ini masih ada rizki yang didapat, semoga krisisi ini cepat berlalu,” kata Panjul.

Sumber: republika.co.id

Tupoksi Stafsus Milenial Dinilai Tidak Jelas

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Ketua Komisi VIII DPR RI Yandri Susanto mengomentari mundurnya dua staf milenial Presiden.

Ia menilai mundurnya dua staf ahli Presiden RI Joko Widodo (Jokowi), Belva Devara dan Andi Taufan menunjukkan mereka belum pantas menduduki posisinya.

“Ya terbukti mereka belum pantas duduk sebagai stafsus dan cendrung gagal paham, Pak Jokowi harus lebih selektif lagi kalau merekrut stafsus, tapi kita apresiasi sikap mereka mau mundur setelah menuai polemik di publik,” kata Yandri, Jumat (24/4).

Yandri juga menilai, semua stafsus presiden yang tak membantu Presiden, bahkan cenderung merepotkan kinerja Presiden sebaiknya mundur. Ia lebih lanjut juga mempertanyakan kembali kinerja para stafsus millenial ini.

“Ya kalau cenderung ngerepotin Presiden bukannya membantu ya lebih baik mundur saja, selama ini tupoksi mereka nggak jelas juga,” ujar Sekretaris Fraksi PAN ini.

Dua stafsus Jokowi resmi mengundurkan diri, yakni Belva Devara dan Andi Taufan Garuda setelah menuai polemik.

Andi Taufan terlibat kasus surat ke Camat. Ia membuat surat berkop Sekretariat Kabinet dan disebar ke camat di berbagai wilayah Indonesia.

Surat dengan Nomor : 003/S-SKP-ATGP/IV/2020 itu berisi permintaan dukungan terkait program Relawan Desa Lawan Covid-19 dari PT Amartha Mikro Fintek (“Amartha”). Andi Taufan merupakan CEO perusahaan tersebut.

Sedangkan, Belva terkait dengan perkara penunjukkan Ruangguru sebagai mitra kartu Prakerja Jokowi. Posisi Belva sebagai CEO Ruangguru dan stafsus Presiden menuai kecaman publik. Terlebih, penunjukkan Ruangguru sendiri dinilai tak terbuka.

Sumber: republika.co.id

Riset: Warga Tidak Mudik Bukan Karena Dilarang, Tapi Tidak Punya Uang

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Bukan lagi soal mudik ataupun pulang kampung, tetapi publik lebih terpukul tidak mudik karena memang keadaan keuangan mereka tengah memburuk akibat pandemi Covid-19.

Hasil survei dari Lembaga KedaiKOPI menyebutkan bahwa sebesar 94,8 persen publik khususnya pendatang di Jabodetabek memilih tidak akan mudik karena alasan kondisi keuangan yang sedang tidak memungkinkan.

Namun, beberapa di antaranya memilih untuk tetap mudik nantinya tetapi pada saat hari raya, sebanyak 29 persen masyarakat lebih memilih hal tersebut sebagai pilihan tidak mudik jauh hari.

Survei tersebut diadakan beberapa hari jelang adanya keputusan untuk pelarangan mudik oleh pemerintah. Selain itu, berbagai tanggapan masyarakat juga digali dalam mengatasi perlawanan terhadap Covid-19.

Misalnya, pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dipersepsikan efektif oleh warga Jabodetabek terutama terkait pembatasan moda transportasi (Commuterline/KRL, TransJakarta).

Responden yang berasal dari Jabodetabek menjawab dengan rata-rata 8.40 untuk elemen penerapan PSBB yang telah dilaksanakan di wilayah Jabodetabek atau terbaca dengan hasil yang efektif.

Survei diselenggarakan pada 14-19 April 2020, dengan mewawancarai 405 responden yang merespon dari 2324 data panel responden di Jabodetabek Lembaga Survei KedaiKOPI (response rate: 17,4 persen).

Direktur Eksekutif Lembaga Survei KedaiKOPI, Kunto Adi Wibowo mengatakan, publik Jabodetabek mempersepsi penerapan PSBB sebagai hal yang efektif, dengan rata-rata tertinggi: pembatasan transportasi (8,7), dan rata-rata terendah: pembatasan kegiatan keagamaan (8,0).

Namun ketika ditanya terkait upaya antisipasi Covid-19, dengan pertanyaan terbuka dan diperkenankan menjawab lebih dari satu, upaya yang telah dilakukan publik masih terbilang rendah. Terdapat tiga besar hal yang sudah mereka lakukan dari temuan pertanyaan tersebut, yaitu Rajin cuci tangan (32,6 persen), di rumah saja (25,7 persen), dan menggunakan masker (25,4 persen).

“Walaupun warga mengatakan PSBB efektif, namun ketika ditanya upaya antisipasi yang mereka lakukan persentasenya terbilang rendah. Top of Mind ketika mereka ditanyakan menunjuk rajin cuci tangan sebagai aktivitas yang paling mereka lakukan, dan itu-pun hanya 32,6 persen. Hal ini menunjukkan tindakan untuk pengantisipasian di level personal masih rendah,” kata Kunto.

Angka responden Jabodetabek yang memercayai bahwa masyarakat Indonesia kebal pada Covid-19 terbilang rendah, hanya 7,4 persen yang setuju bahwa masyarakat Indonesia kebal Covid-19. Sedangkan, 92,6 persen tidak setuju bahwa masyarakat kebal COVID-19, dengan rata-rata 2,28 dari skala 10.

“Persentase ketidaksetujuan akan kekebalan Covid-19 ini lebih tinggi bila dibandingkan dengan Survei Persepsi Publik Indonesia tentang Virus Corona yang diselenggarakan oleh KedaiKOPI sebelumnya yaitu pada 3-4 Maret 2020.”

“Pada saat telesurvei yang diselenggarakan pada bulan Maret tersebut, hanya 65,1 persen menjawab tidak setuju bahwa masyarakat Indonesia kebal Covid-19, dan ada 34,9 persen yang setuju bahwa masyarakat Indonesia kebal Covid-19, dengan rata-rata 4,29 dari skala 10”, ujar Kunto.

Sedangkan, terkait kepanikan Kunto mengatakan, 39,3 persen dari responden menjawab panic buying adalah hal yang paling mungkin terjadi, sedangkan di urutan kedua, 22,7 persen menjawab timbulnya rasa takut/stigma negatif terhadap penderita serta petugas medis.

Seperti diketahui pemerintah selalu mengedepankan imbauan untuk tidak panik. Terkait temuan tersebut, Kunto mengatakan, “Namun, panik sebenarnya tidak sama dengan takut, justru takut diperlukan dalam penanganan krisis. Himbauan panik dapat dialihkan ke skema ketahanan dengan melibatkan komunitas.”

Untuk kebijakan bekerja dari rumah atau (WFH), sebesar 35,1 persen dari responden menjawab masih bekerja di luar rumah, dan 64,9 persen telah bekerja dari rumah (Work from Home). “Imbauan pemerintah untuk melakukan pekerjaan dari rumah, telah dipatuhi hampir 65 persen dari responden”, tutur Kunto.

Kemudian, 60,7 persen responden menjawab penghasilan dan pendapatan dirinya atau keluarga lebih buruk setelah ada imbauan Work from Home atau PSBB, 38,8 persen responden menjawab sama saja, sedangkan hanya 0,5 persen yang menjawab lebih baik dari sebelumnya.

Kunto mengatakan, terkait Kartu Prakerja, 94.3 persen dari responden mengatakan tidak memiliki kartu yang menjadi salah satu program kampanye Jokowi pada Pemilu 2019 kemarin, dan hanya 4,5 persen yang sedang dalam proses pendaftaran. Sisanya, 1,2 persen menjawab telah memiliki kartu Prakerja. Kartu Prakerja sendiri mengalami kenaikan alokasi dari yang sebelumnya hanya 10 triliun menjadi 20 triliun, untuk penanganan dampak ekonomi Covid-19 ini.

Sebesar 94,8 persen responden menjawab tidak akan mudik, sebab alasannya adalah penghasilan dan kondisi keuangan dirinya memburuk. Namun 29 persen dari para pendatang atau bukan asli daerah Jabodetabek mengatakan akan mudik pada Hari Raya Idulfitri nanti, 29,5 persen menjawab Ragu-ragu dan 41,5 persen menjawab tidak akan mudik.

Sebanyak, 93,8 persen responden menjawab khawatir bahwa diri mereka akan tertular Virus Corona/Covid-19. Rata-rata kekhawatiran akan tertular adalah 8,67 dari skala 10. Sedangkan 34,1 persen publik Jabodetabek mengetahui di sekitar (rumah, tempat kerja, dan pergaulan) terdapat orang yang berstatus Pasien Positif Virus Corona/Covid-19 dan Pasien Dalam Perawatan (PDP).

Terdapat 72,6 persen responden yang optimis darurat Covid-19 dapat diatasi hingga 29 Mei 2020. Rata-rata menjawab 6,81 dari skala 10 terkait optimisme penyelesaian Covid-19 dalam waktu dekat tersebut.

Sumber: republika.co.id