Menkes Akui Kesempatan AS Tahan Corona Sudah Tertutup

WASHINGTON(Jurnalislam.com) — Menteri Kesehatan dan Layanan Manusia Amerika Serikat (AS) Alex Azar memperingatkan ‘jendela sudah tertutup’ bagi AS untuk mengambil langkah efektif menahan laju penyebaran Covid-19. Hal ini ia sampaikan di stasiun televisi NBC dan CNN pada Ahad (28/6).


Azar menyinggung tentang naiknya angka kasus infeksi virus corona baru-baru ini, terutama di bagian selatan. Ia mengatakan masyarakat harus ‘bertindak dengan bertanggung jawab’ dengan mematuhi pembatasan sosial dan mengenakan masker terutama ‘di pusat-pusat wabah’.

Azar berpendapat dua bulan yang lalu AS memiliki posisi yang lebih baik dalam menanggulangi penyebaran virus karena melakukan banyak pemeriksaan dan menyediakan perawatan Covid-19. Namun ia mengakui beberapa pekan ke depan semakin banyak pasien yang di rawat inap dan meninggal dunia sebab hanya itu indikator yang tersia.

Jumlah kasus infeksi di Texas dan Florida meningkat setelah mereka mulai membuka kembali aktivitas ekonomi. Angka kasus infeksi harian di AS mencapai titik tertingginya dengan 40 ribu kasus lebih per hari.

Sementara jumlah kasus infeksi di seluruh dunia sudah mencapai 10 juta. Di beberapa tempat muncul beberapa pusat wabah baru. Seperti klub malam di Zurich, Swiss dan Leicester, Inggris yang menandakan virus corona masih menyebar luas di Eropa.

Amerika Latin dan India juga mengalami peningkatan jumlah kasus infeksi. Sementara itu China memperluas rencana pemeriksaan Covid-19 usai mengizinkan salon dibuka kembali. Jumlah kasus infeksi virus corona di Negeri Tirai Bambu kian menurun.

Sumber: republika.co.id

Jatim Tertinggi Penambahan Kasus Baru Covid, Disusul Sulses dan Jateng

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Pemerintah pada Ahad (28/6) merilis penambahan kasus positif covid-19sebanyak 1.198 orang dalam 24 jam terakhir.

Dari angka tersebut, Jawa Timur masih menjadi provinsi dengan penambahan kasus harian tertinggi yakni 330 kasus baru.

Kemudian disusul Sulawesi Selatan dengan 192 kasus baru, Jawa Tengah dengan 188 kasus baru, DKI Jakarta dengan 125 kasus baru, dan Kalimantan Selatan dengan 73 kasus baru.

Penambahan kasus hari ini juga semakin mengukuhkan posisi Jawa Timur sebagai provinsi dengan angka kumulatif kasus positif terbanyak nasional. Jawa Timur saat ini mencatatkan total akumulasi kasus Covid-19 sebanyak 11.508 orang. Sedangkan DKI Jakarta menduduki posisi kedua dengan angka kumulatif kasus 11.114 orang.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menjelaskan, angka penambahan kasus hari ini didapat dari pengujian terhadap 17.230 spesimen. Angka ini menurun dibanding kapasitas uji pada Sabtu (28/6) kemarin sebanyak 21.589 spesimen. Yurianto menjelaskan, menurunnya kapasitas uji spesimen disebabkan sejumlah laboratorium yang libur pada akhir pekan.

“Kita maklumi setiap hari libur beberapa lab khususnya di RS dan beberapa lab di luar jejaring Kemenkes, mereka tidak operasional sehingga hasil yang didapat sebagian besar oleh lab jejaring Kemenkes dan beberapa lab lagi yang tetap operasional selama akhir pekan,” jelas Yurianto dalam keterangan pers, Ahad (28/6).

Indonesia memang mulai konsisten mencatatkan penambahan kasus harian di kisaran 800 sampai 1.300 orang per hari selama nyaris sebulan terakhir. Pemerintah mengklaim, penambahan kasus yang cukup tinggi disebabkan kapasitas uji spesimen yang terus meningkat.

Selama satu hari terakhir, tercatat juga ada 20 provinsi yang melaporkan penambahan kasus positif di bawah 10 orang. Bahkan 9 provinsi di antaranya mencatatkan penambahan nol kasus harian. Kalimantan Barat misalnya, mencatatkan nol kasus baru dan 8 pasien sembuh. Kemudian ada Lampung yang juga melaporkan nol kasus baru dan 7 orang sembuh.

Kasus pasien Covid-19 yang dinyatakan sembuh memang terus meningkat tajam. Per hari ini, tercatat ada 1.027 pasien yang sembuh sehingga totalnya mencapai 22.936 orang. Sementara itu, ada tambahan 34 pasien yang meninggal dunia dengan status positif Covid-19. Sehingga total pasien meninggal dunia ada 2.754 orang.

Sumber: republika.co.id

Sistem Pendidikan Luar Biasa dalam Hadapi  Bencana

Oleh : Kurnia Agustini, S.Pd.

Pemerintah menerapkan kebijakan New Normal Life saat ini, meski grafik COVID belum turun. Alasan yang dikemukakan adalah keterpurukan bidang ekonomi harus segera dihindari, maka kegiatan ekonomi dan pariwisata harus segera dibuka kembali,. Sejumlah daerah dan kota yang dianggap aman, dapat melakukan kegiatan eknomi dan lain sebagainya, secara bertahap, serta tetap mematuhi aturan protokol kesehatan. Kebijakan ini menunjukkan , bahwa pemerintah tidak mampu menjamin kebutuhan ekonomi warga negara, jika kebijakan isolasi yang dipilih. Hal ini menunjukkan pula, bahwa kepentingan ekonomi yang kemudian lebih mendominasi.

Di sisi lain, New Normal atau lebih dikenal dengan istilah Adaptasi Kebiasaan Baru, memunculkan masalah baru. Kebijakan setengah ‘mentah’ ini akhirnya malah dipahami masyarakat  sebagai hilangnya bahaya COVID dan masyarakat bebas melakukan aktivitas apapun, tanpa takut ataupun khawatir. Timbullah euforia masyarakat, dengan menyerbu sejumlah tempat makan, nongkrong, atau wisata. Baik untuk sekadar melepas kerinduan berkumpul ataupun meluapkan bahagia karena terbebas dari bencana. Lalu protokol kesehatan pun tak diindahkan lagi. Bahkan munculsebuah  pendapat  bahwa generasi Z sulit taat pada aturan protokol kesehatan.

Masalah di dunia pendidikan saat penerapan kebijakan AKB ini pun tak kalah peliknya. Apakah sekolah perlu dibuka kembali dengan pengaturan waktu dan protokol kesehatan,  ataukah belajar di rumah saja?  Dua pilihan ini telah mebuat resah, karena dua-duanya memiliki konsekuensi kesulitan dan akibat tertentu. Walaupun memang pada akhirnya pembukaan sekolah diserahkan pada pertimbangan dan analisis dari daerah masing-masing. Tentunya, pilihan yang diambil seharusnya dengan dasar pertimbangan pendidikan generasi dan keselamatannya tidak terabaikan. Menjadi persoalan sesungguhnyanya adalah, apakah terletak pada tempat belajar, ( baca : rumah atau sekolah) ataukah pada  sistem pendidikan yang dibenahi ?Seperti apa seharunya sistem pendidikan  yang aman dan tangguh menghadapi bencana, dengan berbagai karakteristik kesulitan di berbagai situasi juga menghasilkan genersi cemerlang? Mari kita telaah sistem berikut ini.

Sistem Pendidikan Islam dibangun atas tujuan yang jelas, kuat, dan menyeluruh. Kebudayaan dan corak kehidupan yang dihasilkan unik, berbeda, dank has. Peradaban yang dibangun lebih maju dibanding peradaban yang dihasilkan sistem pendidikan yang lain.

Generasi yang dilahirkan pun adalah generasi cemerlang, disiplin, bertanggungjawab, pekerja keras, jujur.  Generasi yang tangguh dan matang menghadapi berbagai situasi dan tantangan zaman, yang tidak akan gamang menghadapi bencana. Generasi yang memiliki visi misi yang tegas. Mencari kehidupan dunia setingi-tingginya  dengan menomorsatukan akhirat.

Salah satu keunggulan tujuan sistem pendidikan Islam adalah kepribadian Islam yang tangguh. Dengan kepribadian Islam yang kuat, siswa menyadari bahwa menuntut ilmu bukan ditujukan hanya untuk menjadikan siswa pintar, atau mengejar nilai rapot semata. Akan tetapi, sebagai sebuah kewajiban yang berkaitan pahala dan dosa. Dengan demikian, dalam kondisi apapun, belajar adalah sebuah keharusan yang menghasilkan pahala bagi yang melaksanakannya

Keunggulan lain dari sistem pendidikan Islam adalah metode pengajaran yang bertumpu pada pemikiran. Akal atau pemikiran adalah aset manusia. Akal yang menjadikan manusia makhluk mulia sekaligus instrumen utama dalam proses belajar.  Akal adalah alat dan berpikir itu sendiri. Metode pengajran yang mebuat siswa berpikir/berakal.

Pemikiran yang ditransfer dari pengajar ke pelajar, harus membuat pelajar berpikir, bukan hanya membuat mereka belajar. Artinya, pemikiran itu harus dihubungkan dengan fakta, atau lingkungan yang dapat dicerap atau dirasakan siswa. Jadi berpikir tanpa mengaitkan dengan situasi dan masalah yang sedang terjadi, dengan lingkungan sekitar ( Baca : agama, politik sosial, kesehatan, ekonimi,dsb), adalah mustahil. Jika seperti itu, yang terjadi hanya transfer informasi saja. Bukan berpikir yang melahirkan pemahaman.

Ketika mentransfer pemikiran, seorang pengajar harus mendekatkan apa yang termuat dalam pemikiran tersebut dengan makna-makna yang dapat  dengan mudah dipahami oleh anak. Dengan cara bagaimana? Yaitu dengan menghubungkan antara pemikiran dengan fakta yang dekat dan akrab dengan anak. Jadi pemikiran itu tidak mengawang-awang, tetapi benar-benar nyata dan terindera. Siswa selalu dibiasakan berpikir dan paham dalam proses  belajar.

Selain itu, pemikiran yang telah  menjadi pemahaman itu, akan senantiasa mendorong anak untuk peka terhadap masalah apapun di lingkungannya. Termasuk peka terhadap masalah pandemi COVID 19. Anak yang sudah berpikir dengan berpemahaman, akan selalu peduli terhadap setiap permasalahan di sekitarnya.  Jadi, anak dikatakan sudah belajar dan berpikir tentang COVID dari gurunya, adalah anak yang sudah paham apa persoalannya dengan benar dan bagaimana solusinya yang tepat. Kemudian siswa taat dengan solusi yang telah dipahaminya. Kalau solusi pandemi yang dia pahami dan yakini diambil dari Islam, maka akan dilaksanakannya dengan penuh rasa tanggungjawab. Oleh karena pemahaman  secara alami akan membentuk pola pikir dan pola sikapnya. Sehingga tidak ada lagi  generasi yang tidak taat dan tidak bertanggungjawab, karena dia akan bersikap sesuai pemikirannya.

Adapun untuk penyediaan sarana dan prasarana pendidikan, sistem pendidikan Islam menyerahkan tanggungjawab pendanaannya pada pemerintah, sepenuhnya. Pemerintah wajib, tidak bisa ditawar, untuk memenuhi, mendanai, mencukupi seluruh biaya pendidikan, tanpa kecuali, untuk seluruh warga masyarakat. Sarana dan prasarana yang layak, tepat, bahkan canggih. Sehingga tidak ada lagi persoalan teknis, terkait sarana belajar di sekolah ataupun di rumah. Guru dan murid bisa belajar dimanapun, sekolah ataupun rumah, kapanpun dengan lancar dan nyaman. Apalagi dengan kemajuan teknologi setiap saat, maka pembelajaran dimanapun dan kapanpun akan terasa menyenangngkan.

Syahdan, sebuah sistem pendidikan yang menyeluruh,  dengan metode yang tepat,  disertai motivasi yang tinggi, didukung peralatan memadai dan modern, adalah sistem pendidikan yang andal menghadapi kondisi apapun.                                                                                                                                                  Sungguh, sistem pendidikan seperti inilah yang tangguh menghadapi bencana. Sistem pendidikan luarbiasa yang dinanti dan diminta. Sistem pendidikan yang memberi solusi mengakar, sehingga mampu menuntaskan setiap masalah secara tuntas. Itulah sistem pendidikan Islam yang sempurna memanusiakan manusia.

 

 

 

 

Serbu Senyum, Dompet Quran, dan MCI Berdayakan Mualaf Blitar-Kediri

KEDIRI(Jurnalislam.com)–Menjadi mualaf menurut pembina Mualaf Center Indonesia (MCI) Cabang Kediri Ustadz Rifky Ja’far Thalib merupakan perjalanan hidup yang menegangkan. Di dalamnya terdapat banyak cerita duka dan bahagia.

Dibutuhkan kesabaran, dukungan orang lain, dan doa yang terus-menerus untuk tetap istiqomah dalam berislam. Tanpa ketiga hal itu, akan sangat sulit bagi seorang mualaf untuk tetap tegar menjalani ujian aqidah.

MCI Provinsi Jawa Timur hadir di tengah-tengah komunitas mualaf berbagai kota di Jawa Timur untuk membersamai perjalanan kehidupan spiritual para mualaf.

Bentuk aktualnya adalah pendampingan masalah, pemberdayaan, dan pemandirian para mualaf secara rutin dan reguler. Di MCI, khususnya MCI Jawa Timur, permasalahan-permasalahan yang dialami mualaf dibahas dan dicarikan jalan keluar. Para pengurus dan pembina MCI selalu terbuka pada para mualaf yang membutuhkan bantuan keluar dari masalahnya.

MCI Cabang Kediri dan Blitar adalah beberapa cabang MCI yang aktif melakukan pendampingan para mualaf. Para mualaf dibina dengan pengajian-pengajian rutin dan kegiatan-kegiatan kerohanian. Selain itu, bantuan-bantuan yang bersifat ekonomi juga selalu diupayakan untuk membantu kehidupan para mualaf.

Bantuan ekonomi terbaru diberikan pada para mualaf di MCI Kediri dan Blitar berbentuk paket sembako pada Sabtu 27/5/2020. Bantuan itu merupakan hasil Kerjasama  Dompet Al-Qur’an Indonesia (DQ), Yayasan Seribu Senyum, kitabisa, dan MCI Provinsi Jawa Timur.

 

Bantuan itu adalah bentuk kepedulian keempat lembaga sosial itu pada permasalahan-permasalahan yang dihadapi mualaf.

Dian Nurlia, Purnama Sari, salah satu mualaf asal Banten yang kini berdomisili di Blitar merasa senang dengan eksistensi dan kehadiran MCI di kota Blitar. Ia merasa mendapatkan saudara-saudara baru yang bisa diajak berbagi dan mendalami agama Islam. Apalagi ia masih awam dalam pemahaman agama Islam.

“Alhamdulilah saya sangat senang dengan adanya MCI cabang Blitar. Disini saya bisa berkumpul, berjamaah, dan mendapatkan banyak saudara. Saya juga merasa diperhatikan karena ada kegiatan-kegiatan positif bagi mualaf. Salah satunya kegiatan sambung tali silaturahmi dan pembagian paket sembako yang diadakan hari ini,” ungkap Dian

Hal Senada juga dirasakan oleh Philip, Mualaf dari Pare kediri. Ia merasa bahagia dengan tersambungnya tali ukhuwah antara MCI Provinsi Jawa Timur, MCI cabang Kediri, DQ, dan Yayasan Seribu Senyum di acara kajian dan pembagian sembako untuk para mualaf. Ia berharap tali silaturahmi yang sudah terbentuk bisa selalu terjaga. “Semoga tali silaturahmi yang dilandaskan agama Islam ini selalu terjaga sepanjang waktu,” kata Philip.

Agung Heru Setiawan selaku Ketua MCI Provinsi Jawa Timur berpesan pada para mualaf agar tetap semangat dan istiqomah dalam berislam. Sebab menurutnya, nikmat iman dan islam adalah nikmat terbesar yang harus dijaga.

“Mudah-mudahan kita bisa selalu bisa bersama dalam nikmat iman dan Islam. Semoga saudara-saudara saya yang mualaf bisa terus istiqomah dalam menjalani kehidupan di atas agama islam dan dimatikan dalam keadaan khusnul khotimah,” pungkas Agung.

54 Ribu Kasus Corona RI, Pemerintah: Masyarakat Tak Patuh Protokol

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Juru Bicara Pemerintah Penanganan virus Corona (COVID-19), Achmad Yurianto melaporkan penambahan kasus positif COVID-19 sebanyak 1.198 orang. Sehingga akumulasi kasus positif Covid-19 di Tanah Air hingga 28 Juni 2020 sebanyak 54.010 orang.

“Mari kita pahami bersama bahwa penambahan kasus ini menggambarkan sekali lagi menggambarkan bahwa disiplin kepatuhan untuk melaksanakan protokol kesehatan masih belum sepenuhnya dilaksanakan dengan baik,” ujarnya di Media Center Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanganan COVID-19 Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta, Minggu (28/6/2020).

Artinya, kata Yuri, masih ada orang yang sakit yang terkonfirmasi positif tetapi tidak melaksanakan isolasi diri dengan baik.

 

“Masih ada kontak tracing dari kasus konfirmasi positif yang kita rawat belum bisa diperiksa laboratoriumnya dan kemudian belum bisa melaksanakan isolasi dengan baik. Masih ada kelompok yang rentan untuk tertular karena tidak patuh untuk menjaga jarak, tidak menggunakan masker dan tidak rajin mencuci tangan,” paparnya.

Sumber: sindonews.com

Gelombang PHK, PKS Sesalkan Pemerintah Malah Prioritaskan TKA Cina

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Anggota Komisi IX DPR, Kurniasih Mufidayati menyayangkan tetap masuknya 152 Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China ke Konawe, Sulawesi Tenggara di tengah-tengah pandemic Covid-19 yang belum usai.

Pasalnya, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IX dengan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) pada 6 Mei 2020 lalu, disepakati salah satu hasil kesimpulan rapat adalah menunda sementara masuknya tenaga kerja asing ke Indonesia selama pandemi COVID-19.

“Sekarang status pandemi global belum dicabut dan status bencana nasional juga masih diterapkan tetapi pemerintah mengizinkan masuknya tenaga kerja asing ke Indonesia dengan berbagai polemik yang mengiringinya,” ujar Mufida dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (28/6/2020).

 

Kemudian, lanjut Politikus PKS ini, dalam poin-poin kesimpulan RDP tersebut, semangat yang hadir adalah memastikan hak-hak pekerja di Tanah Air terpenuhi dan mengawal hak Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang harus dipulangkan ke Tanah Air karena pandemi COVID-19.

 

“Pandemi ini menyebabkan gelombang PHK di Tanah Air, ditambah saudara-saudara kita Pekerja Migran Indonesia harus dipulangkan ke daerah asal karena COVID-19. Artinya banyak anak bangsa yang kehilangan pekerjaan dan menjadi pengangguran akibat pandemi. Kita ingin memprioritaskan mereka tapi ironisnya Tenaga Kerja Asing justru yang diberi kesempatan mendapatkan pekerjaan di negeri ini,” paparnya.

Selain soal kesempatan kerja, sambung Mufida, tujuan penghentian kedatangan TKA sementara itu juga bertujuan untuk mencegah kembali merebaknya penyebaran COVID-19 kasus impor.

“Negara lain yang sudah selesai gelombang pertama kemudian mengalami gelombang kedua karena imported cases. Indonesia puncak gelombang pertama saja belum. Jadi kita bertanya, bagaimana status kesehatan TKA China yang diizinkan masuk ke Indonesia ini?” terangnya.

Lebih dari itu, Mufida juga meminta pemerintah memperhatikan aspirasi yang berkembang di masyarakat.

 

Penolakan warga terhadap kedatangan 152 TKA China itu adalah satu dari sekian banyak polemik yang muncul soal kedatangan TKA.

 

“Masyarakat, Ombudsman dan banyak pihak sudah memberikan penegasan soal penolakan Tenaga Kerja Asing selama Pandemi. Kami di DPR sebagai lembaga tinggi negara juga sudah memberikan rekomendasi resmi tentang moratorium ini tanpa diindahkan pemerintah. Kita tidak anti Tenaga Kerja Asing tapi saat ini jutaan anak bangsa lebih membutuhkan pekerjaan di tengah sulitnya ekonomi akibat pandemi,” pungkas Mufida.

Sumber: sindonews.com

ICMI Minta Jokowi dan Pimpinan Parpol Cabut RUU HIP

JAKARTA(Jurnalislam.com)- Ketua Umum (Ketum) Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie ikut menyoroti soal Rancangan Undang-Undang tentang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) yang ramai menjadi perdebatan sengit di masyarakat.

Jimly bahkan mengimbau agar Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan para pimpinan partai politik (parpol) berinisiatif untuk mencabut secara resmi RUU HIP dari Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas 2020 karena, RUU ini telah memperluas konflik dan perpecahan.

Hal ini disampaikan Jimly lewat cuitannya di akun twitter pribadinya @JimlyAs pada Minggu (28/6) pagi ini.

RUU HIP perluas konflik dan perpecahan, a.n. Ketum ICMI kami himbau pimpinan semua Parpol dan Presiden untuk ambil inisatif, dialog, mulai dengan cabut resmi RUU HIP dari prolegnas 2020. Para tokoh/pimpinan, juga dihimbau tidak gunakan ideologi perang dan teologi pemusuhan, termasuk peralat hukum pidana untuk menang-kalah ,” tulis Anggota DPD RI itu.

Sumber: sindonews.com

Pimpinan DPR Klaim Legislasi RUU HIP Akan Dihentikan

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Nasib Rancangan Undang-undang (RUU) Halian Ideologi Pancasila (HIP) diputuskan. Pimpinan DPR RI ingin pembahasan RUU HIP itu dihentikan.

“Rencana berhenti,” ujar Wakil Ketua DPR bidang Politik dan Keamanan Azis Syamsuddin, Ahad (28/6/2020).

Sementara itu, Wakil Ketua DPR bidang Ekonomi dan Keuangan Sufmi Dasco Ahmad mengungkapkan sikap Pimpinan DPR sudah jelas mengenai nasib RUU HIP. “Sudah berulang-ulang sikap Pimpinan DPR sudah jelas, sikap Gerindra sudah jelas,” kata Dasco secara terpisah.

 

Sekadar diketahui sebelumnya, Gabungan Ormas Islam menggelar unjuk rasa di depan Gedung DPR/MPR, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Rabu (24/6/2020).

 

Mereka di antaranya menggunakan seragam maupun atribut bendera bertuliskan Front Pembela Islam (FPI), Laskar Pembela Islam (LPI), Jawara Betawi Brigade 411 Jakarta Selatan, GNPF Ulama dan Forum Komunikasi Anak Betawi (FORKABI).

Massa aksi Selamatkan NKRI dan Pancasila dari Komunisme itu meminta RUU HIP dihentikan. Kemudian, perwakilan massa Aliansi Nasional Anti Komunis (Anak) NKRI itu audiensi dengan tiga pimpinan DPR, Aziz Syamsuddin, Sufmi Dasco Ahmad dan Rachmat Gobel.

 

Adapun pengusul RUU HIP itu adalah Badan Legislasi (Baleg) DPR. “RUU tersebut disiapkan dan diusulkan oleh Badan Legislasi. Badan Keahlian tidak mendapatkan penugasan untuk menyiapkan naskah akademik dan RUUnya,” ujar Kepala Pusat Perancangan Undang-undang Badan Keahlian Dewan, Inosentius Samsul.

Sumber: sindonews.com

Angka Corona Global Tembus 10 Juta Kasus

INTERNASIONAL(Jurnalislam.com)- Total kasus infeksi Covid-19 di seluruh dunia dilaporkan telah menyentuh angka 10 juta. Ini menandai tonggak utama dalam penyebaran penyakit pernapasan yang sejauh ini telah menewaskan hampir setengah juta orang dalam tujuh bulan.

“Angka itu kira-kira dua kali lipat jumlah penyakit influenza parah yang dicatat setiap tahun,” kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Channel News Asia pada Minggu (28/6/2020).

Amerika Utara, Amerika Latin dan Eropa masing-masing menyumbang sekitar 25 persen kasus. Sementara Asia dan Timur Tengah masing-masing menyumbang sekitar 11 persen dan sembilan persen.

Sejauh ini, ada lebih dari 497 ribu kematian terkait dengan virus ini, kira-kira sama dengan jumlah kematian akibat influenza yang dilaporkan setiap tahun.

Pandemi kini telah memasuki fase baru, dengan India dan Brasil memerangi lebih dari 10 ribu kasus perhari. Kedua negara menyumbang lebih dari sepertiga dari semua kasus baru dalam seminggu terakhir.

Sumber: sindonews.com

ACT Siapkan Bantuan untuk Pengungsi Rohingya di Aceh

ACEH (Jurnalislam.com)–Sejumlah lembaga kemanusiaan menggelar pertemuan membahas tentang nasib puluhan orang pengungsi etnis Rohingya yang telah diselamatkan dan berlabuh di Aceh Utara, belum lama ini.

Salah satu lembaga yang hadir dalam pertemuan tersebut adalah Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Dilansir dari situs ACT, dalam pertemuan yang digelar Jumat 26 Juni 2020 malam, ACT membahas rencana keterlibatan setiap lembaga serta dukungan untuk memenuhi kebutuhan para pengungsi dalam beberapa minggu ke depan.

Kepala ACT Lhokseumawe, Thariq Farline menjelaskan, dari setiap lembaga menyampaikan bentuk dukungan masing-masing dalam hal pemenuhan kebutuhan pengungsi selama masa response. “Sebelum adanya keputusan pasti terkait keberlanjutan kepengurusan pengungsi Rohingya,” ujar Thariq dikutip dari ACT News.

Pertemuan malam itu dihadiri pula oleh perwakilan dari Pemerintah Kabupaten Aceh Utara. Suplai makanan dan tempat tinggal menjadi salah satu prioritas yang dibahas dalam pertemuan.

Tahriq menjelaskan saat ini pengungsi berada di bekas Kantor Imigrasi Desa Punteuet, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe. Kemungkinan akan dipindahkan kembali dalam beberapa hari ini ke lokasi lain.

“Suplai makanan bagi pengungsi juga belum ada yang menangani. Pemerintah pun khawatir persoalan ini jika dibiarkan berlarut akan menjadi dampak yang buruk bagi pengungsi,” kata Thariq.

ACT sebagai salah satu lembaga yang hadir pada malam itu, mengambil peran untuk menyediakan makanan pokok para pengungsi melalui dapur umum. Rencananya dapur umum ACT akan aktif Sabtu 27 Juni 2020 siang dan akan berjalan selama 30 hari ke depan.

Skema pemberdayaan akan dijalankan dalam program ini. ACT akan membeli bahan-bahan makanan dari masyarakat setempat sehingga tidak hanya kebutuhan para pengungsi yang terpenuhi, tetapi ekonomi masyarakat juga dapat berjalan.

“ACT berinisiatif mengambil peran untuk memenuhi kebutuhan makan para korban konflik kemanusiaan ini selama 30 hari ke depan. Berkaitan dengan produksi makanan, kita memakai skema memberdayakan masyarakat. Rencananya bahan-bahan makanan akan kita order dari masyarakat sekitar. Harapannya dengan skema ini, ekonomi sekitar pengungsian bisa bergulir juga,” tutur Thariq dikutip dari ICT News.

Pada Rabu 24 Juni 2020, sebuah kapal terombang-ambing di perairan Aceh Utara. Kapal itu membawa 94 warga etnis Rohingya di Myanmar dengan rincian 15 laki-laki dewasa, 49 perempuan dewasa, dan 30 anak-anak.

sumber: sindonews.com