Ahli: Pemerintah Belum Berhasil Tangani Covid-19

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Dokter Spesialis Paru Erlina Burhan menilai pemerintah belum berhasil menangani penyebaran virus corona. Pendapat Erlina tersebut menyikapi survei Indikator Politik yang menyebutkan mayoritas masyarakat Indonesia memilih memprioritaskan ekonomi dibanding kesehatan.

“Ini apa artinya, artinya bahwa kita barangkali belum bisa mengendalikan penyebaran ini dan kita tahu penyebaran yang terbanyak, yang risiko tinggi kan transportasi, pariwisata, tempat-tempat hiburan atau tempat-tempat nongkrong ya, kemudian perkantoran yang terakhir. Artinya ini kita lihat keramaian, kalau keramaian terjadi, kemungkinan terjadi transmisi itu di situ,” kata Erlina dalam acara survei Indikator Politik Indonesia secara daring, Selasa (21/7/2020).

Juru Bicara RSUP Persahabatan ini mengingatkan agar masyarakat lebih berhati-hati. Pasalnya, jumlah kasus positif COVID-19 meningkat signifikan sejak pembatasan sosial berskala besar (PSBB).
“Belum adanya penurunan. Begitu juga kematian. Kita sudah menyalip China, itu luar biasa. China itu penduduknya 1,6 miliar, kita penduduknya 270 juta tetapi jumlah kasus yang terkonfirmasi lebih banyak (dari China),” ujar Erlina.
Dirinya pun menilai masyarakat belum memahami transmisi atau penyebaran COVID-19. “Kalau toh ini mau diseimbangkan kesehatan dan perekonomian, syaratnya satu bahwa protokol kesehatan mutlak untuk dilaksanakan dan pelaksanaannya jangan dibiarkan diserahkan kepada masyarakat, tapi ada pemantauannya. Jadi artinya ada di tempat, ada orang yang mengawasi,” ujarnya.

sumber: sindonews.com

Turki Gelar Shalat Jumat Pertama di Hagia Sophia 24 Juli

ISTANBUL(Jurnalsilam.com) — Turki akan menggelar sholat Jumat pertama di Hagia Sophia pada 24 Juli 2020. Sejumlah persiapan sudah dilakukan termasuk memasang karpet hingga melestarikan mozaik di dinding Hagia Sophia.

Juru bicara kepresidenan Turki pada Minggu menegaskan mozaik bersejarah dari ikon Istanbul Hagia Sophia akan dilestarikan, seperti yang telah terjadi selama 500 tahun terakhir.

“Poin utama di sini adalah tidak ada kerusakan pada mozaik, penggambaran, tekstur sejarah dan arsitektur bangunan ini,” kata Ibrahim Kalin kepada saluran berita Turki NTV.

“Saat ini, kami sedang berusaha menutupi mereka dengan tirai [saat sholat],” lanjut dia.

Pernyataan juru bicara kepresidenan itu disampaikan beberapa hari sebelum sholat Jumat pertama di Hagia Sophia yang direncanakan pada 24 Juli.

Sejak lama sholat bisa dilaksanakan di dalam Hagia Sophia namun untuk sholat Jumat baru pertama digelar pada 24 Juli.

Pekan lalu, pengadilan tinggi Turki membatalkan dekrit Kabinet 1934, yang mengembalikan status Hagia Sophia dari museum menjadi masjid.

Kalin tidak memberikan perincian tentang berapa banyak orang yang diperkirakan hadir pada salat Jumatpertama pertama di Hagia Sophia, tetapi dia mengatakan bahwa aturan jarak sosial akan diterapkan karena pandemi Covid-19.

Dia juga mengesampingkan penutupan mozaik untuk pengunjung.

“Ini juga akan terbuka untuk pengunjung reguler, siapa pun yang ingin pergi dan melihat mozaik itu,” tambah Kalin.

Sumber: republika.co.id

Kebijakan Terkait Filantropi Kesehatan Dinilai Kurang Dukungan Pemerintah

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Kesehatan menjadi salah satu isu yang banyak mendapatkan perhatian dan dukungan dari pelaku filantropi.

Dukungan filantropi ini bisa menjadi sumberdaya alternatif untuk menopang pelayanan kesehatan dalam sistem JKN (Jaminan Kesehatan Nasional), khususnya melalui skema biaya tidak langsung (indirect cost).

Sayangnya, besarnya dukungan filantropi untuk kesehatan ini belum didukung dengan kebijakan pemerintah dan insentif yang memadai. Salah satunya dapam hal insentif perpajakan.

Beberapa temuan itu mengemuka saat dilakukan pemaparan hasil riset “Pemetaan Kegiatan Filantropi di Indonesia”. Kegiatan ini diusung oleh Forum Nasional Filantropi Kesehatan yang digelar di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM, Yogjakarta, selasa (21/7).

Riset ini merupakan kolaborasi Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) UGM dengan Filantropi Indonesia. Hadir dalam kegiatan, tim peneliti PKMK UGM, dr. Jodi Visnu dan Direktur Eksekutif Filantropi Indonesia, Hamid Abidin, Direktur Kesehatan dan Gizi Bappenas, Pungkas Bahdjuri Ali, serta Analis Kebijakan Ahli Utama Kementerian Kesehatan, dr. Untung Suseno.

Acara yang berlangsung selama dua hari ini juga diisi pemaparan mengenai filantropi kesehatan dari lembaga filantropi nasional dan internasional, pemerintah dan akademisi.

Dalam paparannya, dr. Jodi Visnu selaku peneliti menyatakan, kesehatan merupakan salah satu isu atau program yang banyak didukung oleh pelaku filantropi. Tim peneliti mengidentifikasi 117 lembaga yang teridentifikasi sebagai pelaku filantropi kesehatan.

Para pelaku filantropi Kesehatan ini terdiri dari 41 korporasi, serta lembaga non-korporasi yang terbagi menjadi 15 lembaga yayasan korporasi, lima lembaga berbasis keluarga, 16 lembaga berbasis keagamaan dan 40 lembaga independen.

Dalam memberikan dukungan bagi sektor kesehatan, pelaku filantropi kesehatan itu berperan sebagai donatur atau penyumbang (grantor), lembaga perantara (intermediary) dan pelaksana program (implementer).

Menurut Jodi, pelaku filantropi kesehatan baik individu maupun institusi, berkontribusi pada perwujudan dan peningkatan kualitas kesehatan dalam masyarakat lewat upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan suportif. Bantuan kemanusiaan yang diberikan secara langsung maupun tidak langsung terkait dengan sistem kesehatan.

Sumber: republika.co/id

 

Fatwa MUI Ditunggu Terkait Shalat Idul Adha di Tengah Pandemi

BANDUNG(Jurnalislam.com)—  Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Jawa Barat (GTPP Jabar) masih menunggu fatwa MUI terkait pelaksanaan sholat Idul Adha, 31 Juli mendatang.

Karena, lima dari 27 kabupaten/kota di Jabar masuk ke dalam zona oranye atau daerah dengan risiko penularan Covid-19 yang sedang.

Menurut Juru Bicara GTPP Jabar Berli Hamdani, lima daerah itu yakni Kota Bogor, Kota Bandung, Kota Bekasi, Kota Depok, dan Kota Cimahi.

Menurutnya, seharusnya kewaspadaan masih harus tetap dilaksanakan meski dalam fase Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB).

“Zona oranye risiko sedang, yang risiko rendah (zona kuning) saja belum diperbolehkan secara luas melaksanakan sholat Idul Adha di lapangan/masjid. Intinya masih menunggu fatwa MUI terkait hal ini,” ujar Berli, Selasa (21/7).

Sebelumnya pada 13 Juli 2020,  Jabar menerbitkan Surat Edaran Nomor 451/110/HUKUM tentang Penyelenggaraan Shalat Idul Adha dalam Situasi Wabah Bencana Non Alam COVID-19.

Dalam surat itu terkandung beberapa imbauan. Di antaranya agar warga membawa alat sholat masing-masing, jaga jarak, tidak berkerumumun dan mengimbau agar anak-anak, lanjut usia dan orang yang memiliki sakit bawaan berisiko tinggi untuk tidak mengikuti shalat Idul Adha secara langsung.

Sementara itu untuk tempat penyelenggaraan sholat Idul Adha dapat dilaksanakan di lapangan/masjid/ruangan, kecuali tempat yang dianggap tidak aman dari penularan infeksi COVID-19 oleh Gugus Tugas di Kabupaten/Kota.

Beberapa poin yang dicantumkan di antaranya, agar panitia membatasi pintu keluar/masuk ke area salat, menyediakan alat pengecek suhu, menerapkan physical distancing, kemudian tidak memawadahi sumbangan jemaah dengan cara menjalankan kotak untuk menghindari penularan infeksi Covid-19 dan tidak mengizinkan jamaah yang tak bermasker untuk masuk.

Menurut Gubernur Jabar, Ridwan Kamil, pelaksaanaan sholat Idul Adha tidak akan bermasalah, selama protokol dalam AKB ini dipatuhi. “Jaga jarak 1 meter, itu panitia yang harus mengatur. Sementara anak-anak dan lansia direkomendasikan tidak mengikuti, jaga keselamatan,” katanya.

Sumber: republika.co.id

 

Pola Hoaks ‘Klepon Islami’, Diposting, Diramaikan, Dihapus

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Komunitas Anti Hoax, Indonesian Hoaxes melakukan riset mendalam atas postingan yang viral terkait  ‘klepon islami’.

Adisyafitrah Ketua Komunitas Indonesian Hoxaes, menyebut postingan tersebut hanya klaim sepihak atas isu klepon yang sengaja dibuat dengan tujuan memancing keributan di media sosial.

“Ini bukan didasari dari sentimen politik, atau apa pun, namun hanya keisengan yang disalahgunakan untuk memancing keributan,” ujar Adisyafitrah, lansir Republika.co.id di Jakarta, Selasa (21/7).

Penelusuran Indonesian Hoaxes mendapati salah satu akun yang memposting foto “Klepon Islami” ini pada Senin (20/7/20) malam. Postingan ini diunggah oleh fanspage atau halaman Facebook, dengan username Erwin Rabbani II.

Postingan itu diunggah pada pukul 20.31 WIB. Dalam postingan tersebut, dicantumkan caption “Ya Allah Ya Rabbi Ya Kareem!!! K-Dron Sejak kapan Makanan Punya Agama?”

Fanspage Erwin Rabbani II, adalah fanspage dengan muatan politik yang terus menerus mendukung setiap kebijakan Presiden Jokowi. Fanspage yang baru dibuat pada 30 April 2020 itu sudah diikuti oleh 1.700 orang lebih. Namun amplifikasi dari postingan itu dibagikan berulang secara masif oleh akun-akun yang senada dengan fanspage tersebut.

Postingan tentang “Klepon Islami” tersebut tidak ditemukan lagi
“Saya juga sudah menyimpan jejak postingan tersebut, karena dugaan awal kami, postingan ini pasti akan dihapus,” jelas Adisyafitrah.

Adisyafitrah dan komunitas Indonesia Hoaxes, serta beberapa komunitas anti-hoax lainnya mencatat,  pola sebaran seperti ini terus terjadi.

Akun-akun penyabar pertama sengaja menghapus postingan tersebut, sehingga akun-akun yang mengamplifikasi meme atau konten yang mengolok-olok agama, keyakinan, ras dan pilihan politik bisa bebas dari tanggung jawab atas meme tersebut.

“Ini sudah bertahun-tahun, polanya selalu sama,” kata Adisyafitrah.

Polanya sebaran konten hoax tersebut berawal dari akun-akun kecil atau bahkan akun yang baru saja dibuat, lalu diposting konten tersebut, setelah itu dihapus, atau akun tersebut berganti nama dan menyetel privasi.

Barulah akun-akun dengan pilihan politik tertentu dan beberapa akun di atas mengunggah ulang konten yang bernada rasis, olok-olok tersebut, sehingga memancing keributan di media sosial.

Meme “Klepon Islami” menjadi viral setelah akun-akun serupa Tretan Muslim dan Denny Siregar mengamplifikasinya dengan mengunggah ulangnya.

Sumber: republika.co.id

Eks Komisioner KPU Wahyu Setiawan Janji Ungkap Kecurangan Pilpres

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Mantan komisioner KPU (Komisi Pemilihan Umum) Wahyu Setiawan menyatakan siap membongkar kecuarangan Pemilu 2019.

Terdakwa kasus suap pergantian amtar waktu (PAW) anggota DPR, Wahyu Setiawan itu akan membocorkan siapa saja yang melakukan kecuran dalam Pemilu, baik Pilpres, Pileg, maupun Pilkada.

Wahyu Setiawan telah mengajukan diri sebagai justice collaborator (JC). Ia siap bekerja sama dengan aparat penegak hukum untuk membongkar kecurangan dan suap dalam Pilpres, Pileg, dan Pilkada.

“Sudah diajukan kemarin setelah sidang,” kata salah satu tim penasihat hukum Wahyu, Saiful Anam saat dikonfirmasi, Selasa (21/7).

Saiful menerangkan, Wahyu juga siap membongkar pihak-pihak yang terlibat dalam perkara yang menjeratnya saat ini.

“Semuanya, tidak hanya yang terlibat PAW, tetapi terkait kecurangan Pemilu, Pilpres dan Pilkada, akan diungkap semua,” kata Saiful.

Sumber: jawapos grup

FKUB Diminta Berperan Cegah Covid-19

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian meminta Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) membantu sosialisasi protokol pencegahan Covid-19 di masyarakat.

“Jadikan ini momentum kita menghadapi musuh bersama, sehingga kerukunan sosial kita akan semakin kuat. Tolong disampaikan info-info yang kami sampaikan ini dengan cara bapak-bapak masing-masing karena budaya negara kita ini sangat menghormati tokoh-tokoh agama,” ujar Tito dalam seminar daring yang berlangsung di Jakarta, Selasa (22/7).

Menurut Mendagri, pertemuan virtual sore itu penting sekali artinya karena dapat menjadi momentum bagi dirinya merekatkan diri dengan para tokoh-tokoh agama yang dihormati masyarakat.

Bahkan, untuk hadir dalam seminar daring itu, Mendagri mengaku sampai meminta izin Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD karena ada acara yang digelar olehnya.

“Saya minta izin ke bapak Menkopolhukam, ingin berbicara kepada FKUB pak. Karena FKUB ini sangat penting sekali. Ini tokoh, masyarakat kita sangat hormat kepada tokoh agama,” kata Tito.

Mendagri merasa perlu baginya meminta tokoh-tokoh agama di FKUB untuk berbicara kepada umatnya, membangun kesadaran sosial. “Dan terhadap isu Pilkada, kami minta kepada bapak-bapak tokoh agama, mainkan isu Covid-19 dan penanganan dampak ekonominya sebagai isu sentral. Sehingga menekan isu-isu primordial, termasuk masalah keagamaan yang sering kali dipermasalahkan dan akhirnya terjadi konflik,” kata Mendagri.

Mendagri meminta agar protokol pencegahan Covid-19 dapat disampaikan dengan bahasa keagamaan sehingga masyarakat dapat ikut bergerak untuk mentaati protokol kesehatan tersebut.

“Menaati protokol kesehatan pakai masker, ajak para kepala daerah, siapapun juga, maupun pengusaha, untuk mau membagi-bagikan masker sebanyak-banyaknya pada rakyat. Ajak masyarakat untuk cuci tangan dengan benar, tidak hanya dengan sabun, tapi ya ini (hand sanitizer),” kata Mendagri.

Sehingga dampaknya, setiap orang dapat menjadikan masker dan hand sanitizer sebagai kebiasaan baru yang tidak dapat ditinggalkan. “Dua barang ini, perlakukan seperti kita lupa membawa ponsel,” kata Tito.

Turut hadir dalam seminar itu Menteri Agama Fachrul Razi dan Ketua Umum Asosiasi FKUB Indonesia Ida Pangelingsir Putra Sukaheta.

Sumber: republika.co.id

 

Innalillahi, Sultan Sepuh Cirebon Arief Natadiningrat Meninggal Dunia

CIREBON(Jurnalislam.com) – Berita duka datang dari Keraton Kasepuhan Cirebon. Sultan Sepuh XIV, PRA Arief Natadiningrat, meninggal dunia, Rabu (22/7) sekitar pukul 05.20 WIB.

Kabar itu dibenarkan menantu Sultan Sepuh, Akbar. Dia menjelaskan, Sultan Sepuh wafat saat tengah menjalani perawatan di Rumah Sakit Sentosa Bandung. “Betul,’’ kata Akbar, Rabu (22/7/2020).

Sultan Sepuh akan dimakamkan di pemakaman Astana Gunung Jati, Kabupaten Cirebon.

Lokasi tersebut merupakan kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati beserta keturunannya, termasuk para sultan dari Keraton Kasepuhan Cirebon. Sultan Sepuh rencananya akan dimakamkan siang ini. “Pukul 14.00 WIB,’’ ujar Akbar.

sumber: republika.co.id

 

Pemerintah Tetapkan Idul Adha 1441H Jatuh pada 31 Juli 2020

InJAKARTA (Jurnalislam.com) – Pemerintah menetapkan Hari Raya Idul Adha 1441 H jatuh pada Jum’at, 31 Juli 2020. Ketetapan ini disampaikan Menteri Agama Fachrul Razi usai memimpin Sidang Isbat (Penetapan) 1 Zulhijjah 1441 H yang digelar Kementerian Agama, di Jakarta.

Menurut Menag, keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan hasil hisab posisi hilal dan laporan rukyatul hilal. Lebih dua belas pemantau mengatakan melihat hilal dan telah disumpah. Rukyatul Hilal ini mengkonfirmasi hasil hisab bahwa hilal di seluruh Indonesia berada di atas ufuk, antara 6 derajat 51 menit sampai dengan 8 derajat 42 menit.

“Berdasarkan itu, sidang secara mufakat menetapkan 1 Zulhijjah 1441H jatuh pada Rabu, 22 Juli 2020. Dan Idul Adha yang bertepatan dengan 10 Zulhijjah 1441H jatuh pada Jum’at, 31 Juli 2020,” ujar Menag Fachrul, Selasa (21/07).

Hadir mendampingi Menag dalam konferensi pers Ketua Komisi VIII DPR Yandri Susanto dan Ketua Majelis Ulama Indonesia KH Muhyidin Junaidi. Sama halnya dengan Sidang Isbat 1 Syawal 1441H yang lalu, kali ini sidang juga dilakukan dengan memperhatikan protokol kesehatan.

Sidang isbat ini diikuti melalui video konferensi oleh para pimpinan ormas Islam, para ahli ilmu falak atau astronomi dari UIN/IAIN, Ketua LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), perwakilan BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika), BOSCHA ITB (Institut Tekonologi Bandung), serta BIG (Badan Informasi Geospasial) dari Planetarium Jakarta.

Menag menuturkan dalam melaksanakan sidang isbat Kementerian Agama selalu menggunakan dua metode, yaitu hisab dan rukyat. Menurutnya, hisab dan rukyat, bukannlah dua hal yang untuk diberhadapkan atau saling dibenturkan. “Keduanya adalah metode yang saling melengkapi satu dengan yang lain,” kata Menag.

“Inilah hasil sidang isbat yang baru saja kita laksanakan dan kita sepakati bersama, dan tentu kita berharap mudah-mudahan dengan hasil sidang isbat ini seluruh umat Islam di Indonesia akan berhari raya Idul Adha tahun ini secara bersama-sama,” sambungnya.

Sebelumnya, Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Agus Salim melaporkan dari 84 titik pengamatan rukyat tersebut, terdapat sejumlah petugas dari lima daerah yang telah melihat hilal dan disumpah atas kesaksiannya. Sampai dengan pelaporan ini dibacakan, masih ada sejumlah laporan melihat hilal yang masuk dari berbagai daerah.

Adapun nama petugas yang dilaporkan Agus Salim dalam sidang isbat telah memberikan kesaksian melihat hilal adalah sebagai berikut:

Pertama, Rudin ST (47) dan Nanda Dewi Pamungkas Siwi (23), ASN BMKG Kupang NTT. Keduanya melihat hilal dan disumpah Ketua Pengadilan Agama Kupang Rasyid Muzhar.

Kedua, Inwanuddin (42), Khoirul Amin (56), dan Solahuddin Kamil (52), semuanya dari Tim Lembaga PCNU Gresik, melihat hilal dan disumpah Hakim Pengadilan Agama Gresik Muchidin

Ketiga, Kasdikin bin Markilan (48), Ali Mahfud bin Husen (42), dan M Kamaluddin bin Munadi (36), ketiganya ASN dan BHR Tuban Jatim, menyatakan melihat hilal dan telah disumpah Hakim Pengadilan Agama Jatim Irwandi

Keempat, Junaidi (43) dosen Ponorogo Jatim, dan Sunanil Huda (38) Humas Kankemenag Ponorogo, keduanya melihat hilal dan telah disumpah Kyai Safrudin

Kelima, KH Yahya (50), Pimpinan Pesantren Darul Hikam menyatakan melihat hilal dan telah disumpah Hakim Pengadilan Agama Kab Sukabumi, Jabar, Zaenal Abidin.

Belajar dari Al Fatih, Membentuk Tim dan Pemimpin Terbaik

Oleh : Jumi Yanti Sutisna

Ada pepatah bilang “Guru terbaik adalah pengalaman orang lain” bukan pengalaman diri sendiri.

Jika pepatah itu diejawantahkan dalam kehidupan sehari hari, misalkan karyawan, bagaimana menjadi karyawan yang sukses, apa yang harus dilakukan, apakah harus membuat pola sendiri yang belum teruji, atau mencari role model karyawan yang telah sukses dan mengikuti pola ia menjadi sukses.

Contoh lain menjadi pengusaha, bagaimana menjadi pengusaha yang sukses, apa yang harus dilakukan, apakah harus membuat pola sendiri yang belum teruji, atau mencari role model pengusaha yang telah sukses dan mengikuti pola ia menjadi sukses.

Dapat dibayangkan jika pilihannya adalah mencari pola sendiri, yang belum teruji, tetap ada kemungkinan untuk sukses, namun berapa waktu yang terbuang untuk coba-coba. Bukankah Allah pun mengajarkan dalam kitab sucinya yang didominasi dengan kisah-kisah, itu pertanda Allah ingin agar manusia belajar dari pengalaman orang lain.

Belajar dari pengalaman orang yang gagal agar tidak melakukan langkah serupa, sehingga tidak ikut-ikutan gagal. Belajar dari pengalaman orang yang sukses, agar dapat mengikuti jejak langkahnya, mencontek langkahnya, sehingga pun meraih kesuksesan juga.

Didalam Al-Quran, diceritakan kisah bagaimana Habil dan Qabil mempersembahkan sedekahnya, siapa yang sedekahnya diterima dan siapa yang tidak. Di Al-Quran pun diceritakan kisah keluarga Ibrahim yang santun, sehingga memiliki anak-anak yang santun, cerdas serta shalih. Bukankah dengan begitu Allah ingin agar manusia belajar dari pengalaman orang lain? Maha Baik Allah dengan kesempurnaan ilmu Nya.

 

Kemudian, membentuk sebaik-baik pemimpin dan sebaik-baik tim, bagaimana caranya?

Mari melihat kepada hadist,

“Sungguh, kalian akan menaklukkan Konstantinopel. Sungguh, sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin yang menaklukkannya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya” (HR. Ahmad)

 

Siapakah yang menaklukkan Konstantinopel?

Ia adalah Sultan Mehmed II pada 20 Jumadil Awal 857 H bertepatan dengan 29 Mei 1453 M bersama pasukannya berhasil menaklukkan Konstantinopel. Setelah penaklukan itu ia pun diberi gelar dengan nama Muhammad Al-Fatih yang kemudian nama ini lebih terkenal dari nama aslinya.

 

Bagaimana bisa seorang pemuda berusia 21 tahun Muhammad Al-Fatih menjadi sebaik-baik pemimpin dan memiliki sebaik-baik pasukan (tim) ?

Tidak lain dikarenakan ada perjalanan panjang orangtua Muhammad Al-Fatih dalam mendidiknya sehingga dalam usia muda Muhammad Al-Fatih mampu menjadi sebaik-baik pemimpin dan memiliki sebaik-baik pasukan. Bukankah indahnya berlian terbentuk dari tempaan proses yang panjang, dan Rasulullah pun bersabda “Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah, lalu kedua orang tuanya lah yang menjadikannya sebagai seorang yahudi, nasrani & majusi (penyembah api). (HR. Muslim No.4807)

Lalu bagaimana orangtua Muhammad Al-Fatih mendidik?

Rupanya bagian inilah yang berperan besar selain kemudahan dari Allah yang membentuk Muhammad Al-Fatih menjadi sebaik-baik pemimpin dan memiliki sebaik-baik tim (pasukan)

Bagian inilah yang patut dipelajari dan diteladani oleh para orangtua dan calon orangtua. Berikut intisari pendidikan orangtua Muhammad Al-Fatih yang dapat dirangkum oleh penulis :

 

  1. Memiliki motivasi yang kuat dan menyusun misi dalam mendidik.

Sultan Murad II ayah dari Muhammad Al-Fatih, bukan tanpa motivasi dan latar belakang sehingga dapat membentuk seorang anak yang merupakan sebaik-baik pemimpin dijamannya. Hadist Rasulullah yang mengabarkan pembebas konstantinopel adalah pemimpin terbaik itulah yang menjadi motivasi dan latar belakang sang ayah menempa anaknya agar menjadi pemimpin terbaik yang dikabarkan oleh Rasulullah. Membentuk sebaik-baik pemimpin dan sebaik-baik tim menjadi misi Sultan Murad II dalam mendidik anaknya.

 

  1. Menjalin bonding dengan anak.

Sultan Murad sangat dekat dengan anaknya. Ia tampaknya paham bahwa ikatan emosi akan sangat mempengaruhi anak untuk ikut atau tidak dengan misi yang diembannya. Ia paham untuk dapat menguasai hati anak maka ia harus menjalin bonding dengan anak. Bukan untuk memanjakan atau menjadikannya sebagai ‘anak ayah’ kemudian akan mengakibatkan ketergantungan anak pada ayahnya.

Menjalin bonding dengan anak pun membuat kebutuhan hati anak akan kasih sayang, perhatian, kepedulian dan cinta menjadi terpenuhi, sehingga anak merasa dihargai dan dicintai, yang kemudian membuat anak percaya bahwa bimbingan-bimbingan orangtuanya adalah demi kebaikan anaknya, dan anak pun tak ragu untuk mengikuti orangtua. Jika kita melihat banyak anak jaman sekarang, membangkang kepada orangtua, bisa jadi tidak ada bonding diantara mereka.

Bagaimana upaya Sultan Murad II menjalin bonding dengan anaknya?

Salah satunya adalah selepas bangun tidur Sultan Murad II mengajak anaknya shalat subuh kemudian berjalan-jalan menikmati fajar sembari bercengkrama dengan suasana yang menyenangkan. Selama berjalan-jalan itu tangan Sultan Murad II tidak lepas dari menggenggam tangan Muhammad Al-Fatih.

 

  1. Membiasakan kalimat positif dan doa untuk anak.

Perkataan bisa menjadi doa. Ungkapan ini sering kita dengar bukan?

Apalagi perkataan dan doa orangtua untuk anaknya.

Banyak kisah yang membenarkan ungkapan diatas, salah satu contoh terdekat adalah perkataan ibu Imam As-Sudais yang menyumpahi anaknya menjadi imam Masjidil Haram, dan terbukti sudah.

Ini pun yang dilakukan oleh ayah Muhammad Al-Fatih jauh sebelum ibu imam  As-Sudais. Bedanya ayah Muhammad Al-Fatih tidak menyumpahi, namun menyampaikan sebuah impian kepada anaknya.

Setiap hari Sultan mengajak anaknya duduk di puncak menara masjid yang tertinggi, lalu Sultan menunjuk tangannya jauh di sebuah cakrawala dan menyampaikan impiannya kepada anaknya yang masih sangat kecil.

“Mehmed, lihatlah! Di depan, jauh di depan sana, di sanalah Konstantinopel. Kota itu adalah salah satu pusat dari kekufuran. Ibu kota Romawi Timur yang sangat kuat. Kota itu akan jatuh ke dalam kekuasaan Islam. Dan engkaulah, Insyaallah, yang akan menaklukkannya kelak.”

Setiap hari kalimat itu disampaikan pada anaknya, tentu kalimat ini masuk dalam alam bawah sadar Muhammad Al-Fatih sehingga ia tergerak dan percaya diri untuk mampu mewujudkan impian itu.

Jika sebaliknya kini banyak para orangtua dalam amarahnya sering mengucapkan kata “bodoh” “nakal”, apakah itu yang diharapkan orangtua?

 

  1. Memberi teladan yang baik dan khususnya yang menuju ke arah misi pendidikan.

Misi ayah Muhammad Al-Fatih untuk menjadikan anaknya seorang penakluk konstantinopel, bukan sekedar impian tanpa langkah nyata. Sultan Murad II pun disebut sebagai salah satu sultan dari Bani Utsman yang paling banyak memperkokoh sendi-sendi daulah dan memperluas penaklukan-penaklukan daulah di tanah Eropa kecuali Konstantinopel. Sultan Murad II memberi contoh langsung kepada anaknya bahwa ia seorang penakluk dan mengikut sertakan Muhammad Al-Fatih dibeberapa peperangan. Bahkan saat Sultan Murad II memimpin peperangan menghadapi pasukan gabungan Eropa, ia didampingi oleh Muhammad Al-Fatih yang akhirnya pasukan Sultan Murad II meraih kemenangan gemilang yang gema kemenangannya membahana ke penjuru dunia Islam, ini sebagai salah satu upaya pendidikan seorang ayah dalam mempersiapkan anaknya untuk menjadi sebaik-baik pemimpin.

 

  1. Memberikan Guru Terbaik.

Guru pun memegang peran penting dalam membentuk kepribadian dan keilmuan seorang anak. Ini dipahami betul oleh Sultan Murad II. Meski diawal sang ayah membangun pondasi pendidikan dengan kolaborasi bonding dan disiplin (tegas), kemudian ayahnya pun memilihkan guru dari ulama-ulama terbaik dan terkenal pada masanya, dan ulama-ulama terbaik inilah yang mempengaruhi wawasan, politik dan seni militer dalam kepribadian Muhammad Al-Fatih sehingga mampu menaklukkan Konstantinopel.

Salah satunya adalah Syekh Amid Syamsudin merupakan guru yang paling tegas dan paling berpengaruh bagi Muhammad Al-Fatih seperti penuturan Muhammad Al-Fatih setelah menjadi sultan “Penghormatanku terhadap Syekh itu (Amid Syamsuddin)  adalah penghormatan yang menarik seluruh sisi jiwaku. Saat berada dihadapannya, aku dan kedua tanganku gemetar”

*Penulis adalah Jurnalis Jurnalislam.com

Para Panglima Islam Penakluk Dunia oleh Muhammad Ali

Dan literasi lain tentang Muhammad Al-Fatih