BAZNAS Bantah Pernyataan Polisi: Tidak Benar Kami Terima Setoran dari LAZ

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Badan Amil Zakat Nasional atau BAZNAS memberikan penjelasan terkait temuan Polisi tentang dugaan adanya dana dari kotak amaly ang digunakan untuk mendanai kelompok teroris.

Polisi mengklaim bahwa ada lembaga amal yang menggunakan uang yang terkumpul di kotak amal sebelum diserahkan ke lembaga BAZNAS setiap enam bulan. Selain itu, pelaporan ke BAZNAS dilakukan diduga agar legalitas pengumpulan dana terjaga.

Terkait hal itu, Wakil Ketua BAZNAS, Zainulbahar Noor, membantah keterangan polisi. Zainul mengatakan, pihaknya selama ini tidak pernah menerima setoran dana dari kotak amal Lembaga Amil Zakat (LAZ).

Sebab penyaluran dana masyarakat yang dikumpulkan melalui ratusan ribu kotak amal itu dikelola sendiri oleh masing-masing lembaga.

“Benar bahwa LAZ harus membuat laporan dua kali setahun, tetapi tidak menyetor uang sebagai syarat izin LAZ sebagaimana yang dilansir beberapa media. Laporan pengelolaan dana ini sesuai amanah Undang-undang No 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat,” kata Zainul dalam keterangannya, Sabtu (19/12).

Zainul menegaskan, BAZNAS sama sekali tidak pernah menerima setoran uang hasil pengumpulan infak atau sedekah oleh BAZNAS daerah maupun LAZ di skala nasional, provinsi hingga kabupaten/kota.

Penyaluran dana yang dihimpun LAZ dapat disalurkan sendiri oleh LAZ sesuai dengan ketentuan syariah dan undang-undang.

“Lembaga yang berada di bawah koordinasi BAZNAS mengirimkan laporan kinerja berupa laporan keuangan yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik. Namun lembaga yang kini telah diamankan polisi tersebut mengirimkan laporan yang belum diaudit hingga batas waktu yang ditentukan,” ucap dia.

Sumber: kumparan.com

Laskar FPI Dibunuh, Ulama Tasikmalaya: Kalau Jokowi Bungkam, Tolong Wapres Bersuara

TASIKMALAYA (Jurmalislam.com) –  Unjuk rasa bertajuk #TasikUsik Aksi Solidaritas 6 Laskar FPI digelar di Tasik, Jumat (18/12/2020).

Ribuan umat Islam yang tergabung dalam Aliansi Aktivis dan Masyarakat Muslim Tasikmalaya (Almumtaz) berunjuk rasa di depan Mapolres Tasikmalaya Kota, menuntut Habib Rizieq dibebaskan dan meminta diusut tuntas dugaan pelanggaran HAM oleh Polri,

Ulama Tasikmalaya KH Miftah Fauzi mengatakan bahwa umat Islam belum mendengar satupun perkataan presiden yang berduka cita atas korban pembunuhan yang merupakan warganya sendiri.

“Presiden  kita sampai hari ini belum mengatakan perkataan yang sifatnya ikut berbelasungkawa terhadap enam korban,” kata dia, Jumat (18/12/2020).

“Tapi paling tidak mbok ya presiden ngomong, presiden Jokowi ngomong, saudara Kyai Maruf Amin mestinya ngomong agar fitnah ini tidak menyebar ke seluruh bangsa, agar api kebencian ini tidak menyeluruh ke seluruh penjuru bangsa,” tambah dia.

Karenanya, menurut Kiai Miftah, sudah seharusnya Presiden Jokowi membentuk tim independen pencari fakta, agar bisa terungkap fakta sesungguhnya dan tidak ada yang ditutup-tutupi pihak aparat.

“Kita kasihan dengan polisi-polisi yang baik, dengan aparat yang baik, sementara orang-orang yang berkuasa hari ini seolah-olah merasa melakukan kebenaran, bohong ditutupi bohong, kebohongan ini sudah memuncak di negeri ini,” pungkasnya.

Mewujudkan Negeri Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur

Oleh : Jumi Yanti Sutisna 

Negeri yang nyaman, aman dan sejahtera dengan penduduk-penduduk yang berakhlak baik tentulah harapan banyak manusia, Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur. Sebuah negeri seperti yang digambarkan oleh Firman Allah dalam QS. Saba ayat 15,

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

“Sungguh bagi kaum Saba’ ada tanda (kebesaran Tuhan) ditempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun disebelah kanan dan disebelah kiri, (kepada mereka dikatakan), makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) sedang (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”.

Imam Ibnu Katsîr rahimahullah mengatakan tentang Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur adalah “Di negeri mereka sama sekali tidak ada lalat, nyamuk, kutu dan hewan-hewan yang berbisa. Hal itu karena cuaca yang baik, alam yang sehat dan penjagaan dari Allah agar mereka mentauhidkan-Nya dan beribadah kepada-Nya” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/507)

Melihat kepada negeri ini kini, rasanya sangatlah jauh sekali dari Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur meskipun negeri ini memiliki potensi alam yang baik. Mengapa sangat jauh dari Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur?

Karena dapat disaksikan dari hari kehari di negeri ini adalah kejadian-kejadian carut marut yang mengiris hati. Dari wabah penyakit yang belum ada tanda-tanda akan usai sedangkan negeri lain sudah tahap pemulihan, penghinaan terhadap agama dan persekusi ulama, penindasan terhadap rakyat kecil melalui RUU, upaya pembunuhan karakter terhadap pemimpin daerah yang dinilai tidak mendukung pemerintah pusat, kemudian kehebohan dalam menghadapi seorang ulama yang baru saja pulang ke negeri tercinta dengan pernak pernik fitnah yang menghabiskan waktu saja, dan baru-baru ini korupsi mencengangkan dari para menteri negara.

Carut marut negeri ini mengingatkan kepada alur sejarah, bahwa setelah keterpurukan akan berganti dengan kebangkitan yang menjayakan peradaban, meski sebelum itu harus dilalui masa pahit yang penuh pengorbanan. Namun antara masa pahit dan datangnya kebangkitan tidaklah bisa ditawar, alur sejarah tetaplah berjalan.

Jika sudah begitu, apa yang dapat dilakukan selain mempersiapkan diri dan menyiapkan generasi agar mampu berperan dan mengisi kebangkitan yang kemudian merekalah yang mampu menciptakan Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur.

Lalu dari mana harus memulai?

Tentu persiapan itu dimulai dari diri sendiri dan keluarga. Bukankah satuan terkecil dari masyarakat adalah keluarga? Baik buruk suatu negara tergantung dari baik buruk keluarga. Carut marut yang terjadi dinegeri ini kini tidak dipungkiri lagi salah satunya berasal dari pendidikan keluarga yang membentuk karakter-karakter anak negeri.

Kemudian bagaimana langkahnya?

Langkah terbaik tentu dengan tetap mengikuti langkah-langkah pendahulu yang telah membuktikan kejayaan sebuah peradaban, yaitu generasi sahabat dan kekhalifahan. Berikut langkah dasar mewujudkan Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur yang dapat dirangkum penulis dari berbagai sumber :

 

  1. Menguatkan diri dengan iman kepada Allah SWT,

Allah SWT berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu. Karena itu Kami menyiksa mereka disebabkan oleh perbuatan mereka itu ” (QS al-Araf [7]: 96).

 

Imam Ibnu Katsir menjelaskan, “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa” maknanya adalah: “Kalbu-kalbu mereka mengimani apa saja yang dibawa oleh para rasul kepada mereka. Mereka membenarkan dan mengikuti para rasul itu. Mereka bertakwa dengan melakukan ragam ketaatan dan meninggalkan aneka keharaman…” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/404).

 

  1. Menjadikan diri patut menjadi teladan yang baik untuk keluarga dan masyarakat.

Tentu hal ini adalah yang paling sulit, karena harus melawan musuh diri berupa nafsu dan kemalasan, namun mau tidak mau ini adalah salah satu kunci dasar karena individu adalah satuan terkecil dari keluarga yang kemudian membentuk masyarakat. Individu-individu yang baik, jika mereka dalam jumlah yang banyak tentu akan membentuk peradaban masyarakat yang baik.

Rasulullah pun dalam mendidik keluarganya adalah dengan memberi contoh akhlak yang mulia, sehingga istri, anak cucu dan kerabatnya adalah pribadi-pribadi yang memiliki kontribusi dalam masyarakat dan agama.

Begitu pula yang dilakukan ayah Muhammad Al-Fatih pembebas Konstatinopel. Ayah Al-Fatih pun seorang sultan yang menaklukkan banyak daerah di Eropa, tak heranlah jika anaknya Al-Fatih pun kemudian menjadi seorang penakluk yang digambarkan oleh Rasulullah.

 

  1. Memiliki Ilmu dalam beragama dan mendidik anak dalam keluarga.

مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَهَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ.

“Yang ingin sukses dunianya, hendaknya dia berilmu. Yang ingis sukses akhiratnya, hendaklah dia berilmu. Yang ingin sukses dunia dan akhiratnya juga harus berilmu”

 

Bukankah sesuatu yang memperkuat keyakinan adalah ilmu, yang memudahkan setiap langkah dan urusan adalah ilmu dan salah satu syarat diterimanya suatu ibadah adalah adanya ilmu.

Bagaimana bisa kuat keimanan kita jika tanpa ilmu yang menguatkannya, bagaimana bisa kita memberi teladan yang baik untuk anak-anak jika tidak mengetahui apa-apa saja kebaikan yang harus dilakukan dan dicontohkan. Sedangkan untuk mengetahui sesuatu kebaikan itu tentunya dari ilmu. Bagaimana bisa mewujudkan Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur oleh diri dan anak-anak kita tanpa dengan ilmu. Dan ilmu yang dimaksud disini adalah yang berasal dari Al-Quran, Sunnah serta sumber ilmu lainnya yang tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Sunnah.

 

  1. Berdoa memohon pertolongan dan bertawakkal kepada Allah.

Menyiapkan diri dan generasi dengan adab membanggakan untuk mewujudkan Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur tentulah bukan pekerjaan yang mudah, namun bukan berarti sesuatu yang tidak mungkin meski tantangan zaman yang memberatkan.

Tentulah sebagai manusia sangat terbatas kemampuannya, diri yang sering diliputi nafsu dan kepada anak-anak pun tak mampu memberikan pengawasan dan penjagaan selama 24 jam, namun tidak ada daya dan kekuatan melainkan milik Allah, setelah ilmu dan teladan telah diupayakan maka tugas kita adalah berdoa untuk diri dan anak-anak kita serta menyerahkan segala hasilnya kepada Allah ta’ala.

Seperti halnya Ibrahim dalam mendidik Ismail anaknya, ketika raga tak mampu menjangkau untuk memberi pendidikan, jika ilmu dan teladan sudah dijalankan maka berdoa dan bertawakallah yang dilakukan kemudian akhirnya Allah memberi pertolongan  berupa kemudahan-kemudahan yang dialami Siti Hajar dalam mengasuh dan mendidik.

Begitu pula yang terjadi pada keluarga Imran, saat Imran tak kuasa memberikan pendidikan kepada Maryam anaknya karena ia harus berpulang kepada yang Maha Kuasa, maka Allah lah yang melengkapi pendidikan dengan dihadirkannya nabi Zakariya.

 

Dalam mempersiapkan diri dan generasi beradab yang siap membangun serta mengisi peradaban, cukuplah 4 langkah dasar diatas yang telah dicontohkan orang-orang terdahulu yang telah terbukti mampu mengukir indahnya sebuah peradaban mewujudkan Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur. Insyaa Allah.[]

 

 

 

 

Aksi Damai Jakarta Berujung Penangkapan, PA 212 Jateng Pilih Audiensi, Batalkan Rencana Demo

SEMARANG-(Jurnalislam.com) Aksi yang sedianya akan digelar alumni 212 Senin (21/12) besok di depan Mapolda Jateng, terkait dugaan pelanggaran HAM atas tewasnya enam laskar FPI, mendapat penolakan dari Mapolda Jateng, bahkan secara tegas akan membubarkan secara paksa, walaupun secara administratif sudah melengkapi perihal perizinan dan syarat protokol kesehatan.

Kepada Jurnalislam.com Wakil ketua PA 212, Endro Sudarsono menyampaikan bahwa pihaknya di Jawa tengah tidak ingin seperti yang terjadi di Jakarta

“Memperhatikan kejadian di jakarta aksi 1812 yang memakan fisik maupun penangkapan, kita menginginkan di Jawa Tengah tidak seperti itu, katanya, Sabtu (19/12/2020).

Acara aksi turun jalan yang akan diselenggarakan tersebut akan diganti menjadi audiensi, hal itu dilakukan setelah mendapatkan masukan dari para ulama.

“Kita berfikir atas nasehat beberapa ulama kita putuskan untuk audiensi di DPRD provinsi Jawa Tengah,” ucapnya

Walaupun begitu pihaknya belum mengetahui bagaimana teknis dilapangan berkenaan berapa jumlah yang akan dihadirkan dalam audiensi.

“Ya nanti kita akan koordinasi masalah itu,” pungkasnya

 

Wantim Harap Keputusan MUI Merupakan Cerminan Kesepakatan Seluruh Ormas Islam

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Silaturahmi Pimpinan Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Periode 2020-2025 digelar secara virtual pada Jumat malam (18/12/2020).

Tujuan diselenggarakannya silaturahmi ini adalah untuk saling mengenal antarpimpinan Dewan Pertimbangan serta untuk mendapatkan arahan dari ketua Dewan Pertimbangan MUI, sebagai kerangka dalam mengemban tugas.

 

Dalam acara tersebut, Ketua Dewan Pertimbangan MUI, KH. Maruf Amin menjelaskan bahwa ada 3 hal yang perlu diselaraskan agar terdapat kesamaan sudut pandang dalam menyikapi perumusan visi MUI.

Pertama adalah terkait dengan Manhaj, untuk dirumuskan secara konkret cara berfikir dan cara pergerakannya agar tidak terjebak pada ifrath (kebablasan) ataupun tafrith (bersikap gegabah).

Kedua yakni menyangkut koordinasi gerakan, dimana bila MUI disepakati sebagai Imamah Institusionaliyah atau Imam di antara ormas Islam.

Dalam hal ini, maka seluruh keputusan yang dihasilkan oleh MUI haruslah merupakan hasil keputusan yang juga disepakati oleh ormas-ormas Islam di bawah naungan MUI.

Ketiga ia juga menyampaikan terkait pokok-pokok gerakan perlindungan, penguatan, dan juga penyatuan negara dan umat.

Selain daripada itu, ia juga berpesan agar pikiran-pikiran dan keputusan yang dirumuskan oleh Dewan Pertimbangan dapat dikonsultasikan dengan Dewan Pengurus harian sehingga keduanya dapat bersama membangun MUI dengan lebih baik lagi.

“Saya kira supaya tidak merupakan keputusan sepihak saja sebab hal-hal yang harus dikerjakan bersama. Walaupun rumusan pokoknya ada di Dewan Pertimbangan tapi eksekusinya detailnya tentu ada di Dewan Pengurus Harian. Itulah saya ingin membuat situasi yang baru, saling mengisi sesuai fungsinya jangan melewati seperti yang digariskan Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga (PDPRT),” jelasnya.

Dalam kegiatan tersebut dihadiri pula oleh Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Prof Dr Syafiq A. Mugni, Ketua MUI Masduki Baidlowi, dan Masykuri Abdillah, serta seluruh jajaran kepengurusan Dewan Pertimbangan MUI periode 2020-2025.

Serentak Solidaritas Laskar FPI, Giliran Ribuan Warga Sukabumi Geruduk Mapolres

SUKABUMI (Jurnalislam.com) – Aksi unjuk rasa menuntut dibebaskannya Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab dan pengusutan kasus pembunuhan 6 laskar FPI juga dilakukan terjadi di Sukabumi.

Ribuan umat Islam Sukabumi melakukan orasi di depan Mapolres Sukabumi, Jumat (18/12/2020).

“Ini baru awal, bahwa kami umat Islam dari kabupaten dan Kota Sukabumi menuntut pembebasan Imam Besar kami Habib Rizieq bin Husein Shihab. Kemudian kami juga menuntut seluruh pelaku pembantaian enam laskar FPI harus diusut sampai ke akar-akarnya dan pelakunya ditindak seadil-adilnya,” kata Korlap aksi Gunarto kepada Jurnalislam, Jumat (18/12/2020)

Gunarto menegaskan, pihaknya akan terus mengawal tuntutan tersebut hingga pemerintah bisa memenuhinya.

“Kami akan terus mengawal ini,” sambungnya.

Gunarto juga mengimbau umat Islam untuk tetap tertib dan mengikuti isu ini sesuai arahan dari Habib Rizieq Shihab.

“Tapi juga harus terus menambah semangat untuk mengawal kasus ini,” ujarnya.

Dalam aksinya, massa aksi juga menunjukkan simbol tangan terikat selaiknya tangan Habib Rizieq yang terikat ketika keluar dari Mapolda Metro Jaya.

Reporter: Haady

[FOTO] #TasikUsik Aksi Solidaritas untuk Kemanusiaan Muslim Tasikmalaya

TASIKMALAYA (Jurmalislam.com) –Ribuan warga Tasikmalaya yang tergabung dalam Aliansi Aktivis dan Masyarakat Muslim Tasikmalaya (Almumtaz) berunjuk rasa di depan Mapolres Tasikmalaya Kota, Jumat (18/12/2020).

Massa yang berasal dari berbagai elemen umat Islam di Tasikmalaya itu menyampaikan 5 tuntutan, diantaranya usut tuntas kasus pelanggaran HAM atas pembunuhan 6 laskar FPI.

Mereka mengusung tema #TasikUsik, Aksi Solidaritas untuk Kemanusiaan Muslim Tasikmalaya. Dalam aksi ini, mereka menuntut mengembalikan fungsi Polri sebagai pelayan dan pengayom masyarakat, pembebasan Habib Rizieq tanpa syarat, hentikan kriminalisasi ulama, dan hentikan diskriminasi hukum

 

Unjuk rasa penolakan penahanan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab dan kecaman atas tragedi pembunuhan 6 laskar FPI oleh aparat terus bergulir.
Ribuan umat Islam yang tergabung dalam Aliansi Aktivis dan Masyarakat Muslim Tasikmalaya (Almumtaz) berunjuk rasa di depan Mapolres Tasikmalaya Kota, Jumat (18/12/2020)

Ribuan Masyarakat Tasikmalaya Gelar Aksi Solidaritas untuk 6 Laskar FPI

 TASIKMALAYA (Jurmalislam.com) – Unjuk rasa penolakan penahanan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab dan kecaman atas tragedi pembunuhan 6 laskar FPI oleh aparat terus bergulir.

Ribuan umat Islam yang tergabung dalam Aliansi Aktivis dan Masyarakat Muslim Tasikmalaya (Almumtaz) berunjuk rasa di depan Mapolres Tasikmalaya Kota.

Massa yang berasal dari berbagai elemen umat Islam di Tasikmalaya itu menyampaikan 5 tuntutan, diantaranya usut tuntas kasus pelanggaran HAM atas pembunuhan 6 laskar FPI, kembalikan fungsi Polri sebagai pelayan dan pengayom masyarakat, pembebasan Habib Rizieq tanpa syarat, hentikan kriminalisasi ulama, dan hentikan diskriminasi hukum.

“Hari ini adalah aksi kemanusiaan, aksi solidaritas, sebagaimana kita ketahui ada 6 orang saudara kita dari FPI yang dibunuh dengan sangat keji. Terlepas siapa yang membunuhnya, yang jelas pembunuhnya adalah biadab,” kata Ketua Almumtaz, Hilmi Afwan dari atas mobil komando, Jumat (18/12/2020)

Massa aksi juga mendesak presiden RI Joko Widodo untuk mencopot Kapolri dan Kapolda Metro Jaya.

“Kami datang dengan damai agar presiden segera mengganti kapolri dan mencopot kapolda metro jaya, karena kami percaya masih banyak polisi yang baik,” tegasnya.

Orasi juga disampaikan silih berganti oleh perwakilan ormas-ormas Islam dengan tuntutan senada.

Sementara itu masa berkumpul di luar, sejumlah perwakilan massa beraudienai dengan Kapolres di dalam Mapolres Kota Tasikmalaya.

Massa memulai aksinya dari Masjid Agung Kota Tasikmalaya kemudian longmarch menuju Mapolres Kota Tasikmalaya.

Hingga berita ini diturunkan, aksi masih berlangsung.
Rep: Arya Jipang

Luncurkan Buku Putih Penanganan Covid-19, Netty: Pandemi Harus Dilawan Dengan Kolaborasi Optimal

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Fraksi PKS DPR RI didukung Perpustakaan DPR RI meluncurkan Buku Putih Penanganan Covid-19 di Indonesia pada Kamis, (17/12/2020) di Ruang Abdul Muis, Gedung Nusantara III DPR RI. Ketua Tim Penyusun yang juga Wakil Ketua Fraksi PKS Netty Prasetiyani Aher mengatakan, buku ini merupakan sebentuk tanggung jawab Fraksi PKS dalam berkontribusi menangani pandemi Covid-19.

“Buku ini merupakan kumpulan ide dan gagasan sebagai respon terhadap wabah, sekaligus menjadi sumbangsih dan tanggung jawab PKS dalam menangani pandemi. Kami berharap buku ini bermanfaat bagi rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, ” kata Netty dalam paparannya.

Netty juga menyampaikan bahwa buku ini juga mendorong agar terjadinya kolaborasi optimal seluruh elelmen bangsa dalam bahu-membahu menghadapi pandemi Covid-19.

“Kunci keberhasilan penanganan Covid-19, salah satunya adalah, harus dilakukan kolaborasi optimal. Hadirnya Menteri Kesehatan dalam acara ini, juga Kepala BNPB, bersanding dengan Fraksi PKS, semoga menjadi salah satu wujud dari kolaborasi optimal,” kata Netty.

Menurut Netty, meskipun PKS menegaskan diri sebagai partai oposisi, bukan berarti PKS asal beda dengan pemerintah. “PKS tetap harus menunjukkan kontribusi konstruktif untuk kemajuan bangsa, termasuk dalam penanganan pandemi,” paparnya.

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto yang hadir sebagai pembicara juga menyampaikan bahwa penanganan pandemi Covid-19 harus dilakukan bersama-sama.

“Penanganan Covid-19 tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah saja. Jadi benar apa yang disampaikan oleh Ibu Netty tadi, tidak bisa sendiri tapi memerlukan banyak pihak tidak terkecuali partai politik. Buku putih penanganan Covid-19 memberikan gambaran kolaborasi akan penanganan Covid-19” katanya.

Buku yang disusun oleh Tim Covid-19 Fraksi PKS DPR RI dan The Indonesian Democracy Initiative (TIDI) terdiri dari sepuluh bab yang membahas penanganan pandemi Covid-19 dari berbagai aspek.

“Salah satu bab membahas tentang prediksi akhir pandemi Covid-19 di Indonesia. Kalau hari ini orang lain sudah bicara second wave, kita justru masih belum tahu apakah gelombang pertama sudah sampai pucak atau belum,” terang Netty.

“Buku ini juga membahas jurang persepsi antara kebijakan pemerintah dengan harapan publik. Juga masalah komunikasi publik yang tidak terkelola dengan baik sehingga masyarakat terfragmentasi antara yang menganggap penyakit ini serius dengan yang menganggap ini biasa-biasa saja,” tambahnya.

Evaluasi terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19, kata Netty, juga diulas. “Pemerintah di awal pandemi sempat gamang apakah perlu menerapkan kebijakan karantina wilayah atau tidak, apakah perlu dilakukan serentak atau parsial per daerah. Dampak dari penerapan PSBB terhadap mobilitas masyarakat, penyebaran virus dan lainnya pun perlu dikaji secara menyeluruh” kata Netty.

Laznas BMH Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Gresik

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Hujan deras yang mengguyur wilayah Gresik, Sabtu (12/12) malam, membuat delapan desa yang berada di Kecamatan Benjeng, Gresik, terendam air.

 

Delapan desa di Kecamatan Benjeng yang saat ini terendam air adalah, Desa Sedapurklagen, Deliksumber, Lundo, Kedungrukem, Munggugianti, Kalipadang, Bulurejo dan Sirnoboyo. Ketinggian air di beberapa desa tersebut bervariasi.

 

“Kejadian bermula dari adanya hujan deras pada hari Sabtu (12/12) sore sampai malam, anak sungai Kali Lamong meluap dan itu menyebabkan delapan desa tergenang,” ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gresik Tarso Sagito.

 

Banjir ini merupakan banjir terbesar yang mengakibatkan ribuan rumah, sekolah, masjid dan ribuan hektar sawah terendam.

 

Senin (14/20) pagi LAZNAS BMH perwakilan Jawa Timur melalui cabangnya di Gresik turut merespon dan turut aksi dengan memberikan logistik, paket obat-obatan, dan makanan siap saji untuk warga terdampak di desa munggugianti Kec. Benjeng, Gresik hingga malam.

 

” Alhamdulillah, Total sementara ada 650KK, 495 rumah dan 1800 Jiwa penerima manfaat dari aksi dan penyaluran bantuan dari BMH,” tutur Muh Iqbal Koordinator Aksi Laznas BMH di Gresik.

 

Bapak Solik (55) selaku tokoh masyarakat Desa Munggugianti menyampaikan terimakasih kepada Laznas BMH atas bantuan yang diberikan.

 

“Terimakasih BMH atas bantuannya, hingga larut malam masih mengantar bantuan ke warga-warga kami dengan perahu, semoga berkah,” ungkap Bapak Solik.