Seorang Pembom Palsu Tewas Ditembak di Kantor Polisi Perancis

PARIS (Jurnalislam.com) – Seorang pria bersenjatakan pisau mengenakan sabuk peledak palsu ditembak dan dibunuh pada hari Kamis setelah ia memasuki kantor polisi Paris, kata pejabat Prancis, lansir Aljazeera, Kamis (07/01/2016).

Penembakan terjadi setahun setelah serangan terhadap surat kabar satir Perancis Charlie Hebdo di Paris, ibukota Perancis.

Luc Poignant, seorang pejabat serikat polisi, mengatakan bahwa pria itu berteriak "Allahu Akbar," bahasa Arab untuk "Allah Maha Besar."

Hanya beberapa menit sebelumnya, di tempat lain di kota, Presiden Prancis Francois Hollande telah selesai melakukan penghormatan kepada petugas polisi yangtewas dalam menjalankan tugas, termasuk tiga yang ditembak mati dalam serangan Januari lalu.

Seorang pejabat kepolisian Paris mengatakan polisi sedang menyelidiki insiden di kantor polisi Paris tersebut yang kemungkinan lebih merupakan tindakan teror bukan hanya tindak pidana standar. Pejabat itu berbicara dengan syarat anonim karena ia tidak berwenang untuk disebutkan namanya kepada publik sesuai dengan kebijakan polisi.

Lingkungan di Goutte d'Or, distrik utara Paris, ditutup setelah penembakan.

Pada tanggal 7 Januari, 2015, dua bersaudara kelahiran Prancis mengaku anggota  Al Qaeda Peninsula (AQAP) mengeksekusi 11 orang di dalam gedung Charlie Hebdo, kantor majalah satir penghina Nabi Muhammad, serta seorang polisi di luar gedung.

Dua hari berikutnya, serangan juga terjadi di Paris,  tidak terkait dengan serangan sebelumnya, penyerang  menembak mati seorang polisi wanita dan kemudian menyerbu supermarket, menewaskan empat sandera. Seluruh tiga orang bersenjata tersebut tewas oleh Polisi Perancis.

 

Deddy | Aljazeera | Jurnalislam

 

 

PCNU Probolinggo Ancam Turunkan Massa Tindak Tempat Hiburan Malam

PROBOLINGGO (Jurnalislam.com) – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Probolinggo kembali mendesak pemerintah Kota Probolinggo untuk menutup tempat- tempat hiburan malam yang sudah meresahkan. Hal tersebut disampaikan wakil ketua PCNU Kota Probolinggo, KH Abdul Halim saat ditemui Jurnalislam di kediamannya di Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kadengan, Kota Probolinggo, Ahad (3/1/2016) lalu.

Kyai Halim mengaku PCNU kota Probolinggo telah melayangkan Surat Permohonan penutupan tempat- tempat hiburan malam bermasalah kepada pemkot sejak tahun 2013. Namun, hingga kini belum ada respon dari pemkot Probolinggo.

“Kami telah mengirim surat dan audiensi dan lobi-lobi dengan walikota. Kami dari PCNU kayaknya sudah cukup sabar menanti sekian lama. Maka dari itu, NU akan mempertegas lagi,” kata Kyai Halim.

Dalam surat terakhirnya tanggal 5 Oktober 2015, PCNU kembali meminta walikota untuk mengevaluasi perizinan terhadap tempat-tempat hiburan di kota Probolinggo. Lagi-lagi tidak digubris.

“Sama Walikota surat yang terahir juga tidak direspon,” ujarnya.

Permintaan itu bukan tanpa alasan. PCNU yang didukung MUI dan umat Islam Probolinggo telah memberikan sejumlah bukti yang menunjukkan tempat-tempat hiburan malam itu telah meresahkan. Diantara tempat hiburan malam itu adalah Ayang Karaoke di Jalan Mastrip Gg. V RT 06 RW 13 Kelurahan Kanigaran, Kecamatan Kanigaran.

Kyai Halim mengungkapkan, pengunjung karaoke tersebut kerap menunjukkan sikap yang tidak sopan, mabuk-mabukan serta adanya prostitusi terselubung. Tak hanya itu, beberapa bulan lalu seorang warga menjadi korban penusukan yang dilakukan oleh pengunjung karaoke yang mabuk.

“Beberapa bulan yang lalu warga di sekitar situ ada yang ditusuk oleh pengunjung karaoke Ayang,” kata Kyai Halim

Kyai Halim juga memperlihatkan arsip surat laporan yang diajukan PCNU sejak 2013. “Sebenarnya bertahun-tahun melalui MUI peringatan ini kami sampaikan, tapi tidak ditanggapi,” ujarnya.

Lambannya respon pemerintah membuat Kyai Halim mulai geram. Ia menegaskan tidak akan ada lagi kompromi. “Kami dari NU tidak akan audiensi lagi, kami tidak melayani audiensi, sikap kami sudah cukup jelas. Kalau mereka (pemkot-red) tidak mau tegas, kami yang akan tegas. Kalau kami diundang untuk audiensi lagi kami tidak akan pernah datang,” tegasnya.

Kyai Halim mengancam akan mengajak ormas-ormas Islam dan pondok-pondok pesantren untuk turun langsung menindak tempat-tempat maksiat di Kota Probolinggo.

“Kami mengeluarkan massa dengan koordinasi MUI tentunya. Kami akan mengirim surat ke pondok- pondok ataupun ormas Islam se-Probolinggo untuk menindaklanjuti tempat hiburan malam yang masih aktif itu,” tegas Kyai Halim.

“Mencegah kemungkaran adalah perintah dari Allah Subhanahu wata’ala sampai kapan pun kami tidak akan pernah berhenti,” tambahnya.

Aksi turun ke jalan untuk menutup tempat-tempat hiburan bermasalah itu sempat akan dilakukan oleh PCNU Probolinggo pada tahun lalu. Tapi, atas saran 12 kyai pengasuh pondok pesantren di Kota Probolinggo, rencana itu ditunda.

Reporter: Findra | Editor: Ally | Jurnalislam

Maraknya Pelecehan Agama, MUI: Akibat Penegakkan Hukum Tak Merata

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Pusat, Aminudin Yakub menilai maraknya penistaan agama akhir-akhir ini disebabkan penegakkan hukum (law enforcement) yang tidak merata.

"Law enforcement terkait masalah penistaan dan penodaan agama di Indonesia ini tidak cukup merata. Ada yang sungguh-sungguh dilakukan tindakan law enforcement pada satu kasus, tapi banyak kasus yang lain juga itu tidak serius," keluhnya, Rabu (6/1/2016).

"Tidak serius dalam artian tidak sampai final, tidak sampai keranah hukum, lenyap tidak berbekas," tambahnya.

Menurutya, dengan adanya kasus-kasus tidak tuntasnya penegakan hukum itulah yang menyebabkan tidak adanya efek jera bagi para pelakunya.

"Semestinya seluruh aparat hukum punya treatment yang sama tentang. Kalau treatmennya sama, maka law enforcement itu akan dirasakan masyarakat sehingga masyarakat punya efek jera," pungkasnya.

Reproter: Irfan | Editor: Ally | Jurnalislam

https://ssl.gstatic.com/ui/v1/icons/mail/images/cleardot.gif

 

Seorang Serdadu Israel Tewas dan Lainnya Luka Parah saat Latihan Perang

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Seorang serdadu zionis tewas dan lainnya luka-luka berat saat latihan militer di pangkalan militer Israel di wilayah selatan Palestina terjajah, Infopalestina melaporkan, Rabu (06/01/2016).

Situs “Update Berita – Sampul Israel” menyatakan, seorang tentara Israel tewas dan lainnya luka berat dalam latihan militer di pangkalan militer Taslem, di Palestina selatan.

Situs berita Israel menegaskan, tim medis sudah mengevakuasi mereka ke RS Suroka dengan helikopter.

Sementara Wakil Kepala Biro Politik Gerakan Perlawanan Islam Hamas Ismail Haniyah mengirim sejumlah surat kepada para pemimpin kawasan. Isinya menghimbau mereka untuk mendukung intifadhah al-Quds dan perjuangan rakyat Palestina.

 

Deddy | Infopalestina | Jurnalislam

Gerakan Anti Islam Baru, Deklarasi di Inggris

INGGRIS (Jurnalislam.com) – Sebuah gerakan politik baru yang mendiskreditkan Islam sebagai "ideologi fasis" diluncurkan di Inggris pada Selasa, World bulletin melaporkan, Rabu (06/01/2016).

Pegida Inggris adalah model gerakan anti Islamisasi Barat Jerman yang didirikan di Dresden pada tahun 2014. Cabang lainnya telah didirikan di  Norwegia, Swedia dan Spanyol.

Kelompok Anti Islam Inggris didukung oleh mantan pemimpin anti-imigrasi Liga Pertahanan Inggris Tommy Robinson, yang mengatakan ia ingin menarik pemilih British moderat.

Deklarasi diadakan di sebuah pub di Luton, 70 kilometer (43 mil) utara London. Kota ini sering menjadi sasaran kelompok kanan-jauh karena populasi Muslim yang signifikan.

Dalam video host di akun Facebook kelompok, Robinson mengatakan pada pertemuan ia anti-Islam tetapi tidak rasis.

"Ada beberapa organisasi sayap kanan asli di negeri ini yang membenci saya," katanya. "Aku dikenal sebagai Zionis dan pedagang ras karena aku benar-benar tidak menentang orang kulit hitam, saya tidak menentang imigran – Aku menentang Islam sebagai ideologi fasis."

Kelompok ini akan dipimpin oleh Paul Watson, yang mengatakan proses politik Inggris itu "tidak mewakili rakyat negeri ini."

"Kami punya 60 persen orang yang sangat peduli tentang imigrasi massal dan tentang Islam, terutama sisi Islam itu," katanya.

Kelompok ini mengumumkan pawai pertama akan diadakan di Birmingham, kota terbesar kedua di Inggris.

Otoritas setempat mengatakan akan menentang acara tersebut.

 

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam

Qatar Panggil Dubesnya di Iran

DOHA (Jurnalislam.com) – Qatar memanggil pulang dubesnya di Teheran pada hari Rabu (06/01/2016) sebagai protes atas serangan yang menargetkan misi diplomatik Arab Saudi di Iran, kata pernyataan kementerian luar negeri, Al Arabiya News Channel melaporkan, Rabu.

"Kementerian memanggil pagi ini duta besar Qatar untuk Teheran dengan alasan serangan terhadap kedutaan Kerajaan Arab Saudi di Teheran …," dikutip Khalid Ibrahim Abdulrahman Al-Hamar, direktur Departemen Urusan Asia.

Sikap Doha ini mirip dengan tindakan yang diambil oleh negara-negara lain di Teluk menyusul serangan terhadap misi Saudi, oleh para pengunjuk rasa yang marah atas eksekusi Riyadh terhadap tokoh Syiah Nimr al-Nimr.

Arab Saudi dan Bahrain telah memutus hubungan diplomatik dengan Iran dan Kuwait juga telah menarik duta besarnya.

 

Deddy | Alarabiya | Jurnalislam

Taliban: 8 APC Hancur, 21 Tentara Musuh Tewas dan Terluka dalam Bentrokan Lanjutan di Marjah

HELMAND (Jurnalislam.com) – Pejabat melaporkan dari kabupaten Marjah bahwa hari Rabu sore Mujahidin Imarah Islam terlibat baku tembak dengan pasukan ANA (Afghanistan National Army) dan agresor AS yang masuk wilayah antara wilayah Camp dan pusat kabupaten hingga malam dengan bantuan kekuatan udara, lansir Al Emarah News Rabu (06/01/2016).

Mujahidin sejauh ini menghancurkan 8 APC musuh serta membunuh dan melukai 21 tentara ANA, pejabat mengatakan menambahkan bahwa 3 Mujahidin juga telah terluka dalam bentrokan yang sedang berlangsung,

Rincian lebih lanjut tentang pertempuran akan diperbarui ketika informasi tiba.

Sehari sebelumnya di lokasi yang sama, seorang pasukan aggressor AS tewas dan melukai dua lainnya serta sebuah helicopter AS ditembak jatuh Taliban.

 

Deddy | Shahamat | Jurnalislam

Serangan Udara Rezim Suriah Bunuh 20 Warga Sipil di Ghouta Timur

DAMASKUS (Jurnalislam.com) – Dua puluh warga sipil tewas, termasuk perempuan dan anak-anak, dan 50 lainnya terluka Rabu (06/01/2016) ketika rezim Bashar al-Assad melakukan beberapa serangan udara di daerah Ghouta Timur dekat Damaskus, sumber Pertahanan Sipil mengatakan kepaada Anadolu Agency.

Sumber, yang berbasis di daerah  yang menjadi target, mengatakan pesawat-pesawat tempur Suriah telah menyerang kota-kota Zamalka, Misraba dan kota Douma.

Saat ini wilayah tersebut dikuasai oleh pejuang oposisi anti-Assad, Ghouta Timur merupakan bagian dari provinsi Rif Dimashq Suriah.

Selama tiga tahun terakhir, daerah telah diblokade pemerintah rezim Suriah, menutup aliran listrik dan air.

Menurut angka PBB, perang global Suriah – akan memasuki tahun keenam – 250.000 orang telah tewas dan mengubah negara itu menjadi sumber pengungsi terbesar di dunia.

 

Deddy | Anadolu Agency | Jurnalislam

Ponpes Al-Ishlah Bondowoso Gelar Workshop Kristologi Bersama Hj. Irena Handono

BONDOWOSO (Jurnalislam.com) – Pondok Pesantren Al Ishlah Bondowoso, Jawa Timur menggelar Workshop Kristologi bersama Hj. Irena Handono. Kegiatan itu berlangsung selama tiga hari dari tanggal 1-3 Januari 2016.

Selama 16 jam, mantan biarawati yang kini menjadi kristolog internasional itu mengupas satu per satu warna-warni Kristologi yang membuat semua peserta geleng-geleng kepala, berdecak kagum, terbelalak dengan iringan tasbih, tahmid, takbir hingga gigit jari. Hati pun tergerak, pikir mulai tersadar setelah memahami apa yang beliau sampaikan dengan halus, sopan, tegas, jelas dan bijak.  

Workshop secara intensif berlangsung di Gedung Serba Guna dengan peserta yang dibatasi hanya seratus lima puluh orang dan dilanjut dengan orasi ilmiah pada Sabtu malam di masjid bersamaan dengan pengajian Tafsir Jalalain dan Yudisium Sarjana STIT Al-Ishlah yang menghadirkan dua ribuan jama'ah dari berbagai unsur gerakan Islam hingga organisasi kemahasiswaan dan jama'ah  dari dalam maupun luar Jawa Timur. Hampir tidak ada peserta yang mengantuk selama beliau menyampaikan materi. Sedikit saja berkedip, rasanya rugi melewatkan materi yang tersaji. 

Dengan bijak beliau menuturkan bahwa Kristologi sangatlah penting untuk dipelajari oleh kaum Muslim sebagai benteng dan senjata dalam memerangi kaum Kristiani yang terus gencar melakukan propaganda kristenisasi.

"Perang tidak harus dengan gencatan senjata. Tidak harus dengan kekerasan. Mereka memerangi kita dengan pemikiran, maka kita pun harus berperang melawannya dengan pemikiran kita. Bagaimana kita bisa mengalahkan mereka jika kita tidak tahu apa itu Kristen, jika kita tidak belajar Kristologi ? Mereka saja banyak yang mempelajari kitab suci Al-quran dan ajaran-ajaran Islam untuk menghancurkan kita," ungkapnya. 

Dalam pemaparannya, beliau dengan gamblang mengajak seluruh peserta memperdalam kajian Al-Quran dan membandingkan dengan kitab Injil versi Kristen dengan menunjukkan pembuktian-pembuktian yang semakin membangun kesadaran adanya bahaya apostasi (pemurtadan), kristenisasi berselubung identitas Islam, tanshiriyah, de-Islamisasi, de-imanisasi dengan praktek-praktek Maladaptasi dan Character Assasination hingga penghancuran yang kemudian semakin menyadarkan bahwa hanya Islam agama yang Haqq dan semua agama tidaklah sama. 

"Isyhaduu bi anna Muslimun, saksikan bahwa aku seorang Muslim." Bersyukur menjadi seorang Muslim, demikianlah yang saat itu banyak dirasakan. Tidak ada kekhawatiran dalam mempelajari Kristologi hingga secara bersama membuka dan menganalisis kitab Bible dan mendapatkan banyak pencerahan akan kebenaran yang telah dirasakan oleh seorang muallaf dengan pembuktian dan penjabaran yang terang. Sangat jelas kebenaran Al-quran saat satu per satu ayat Bible dan sejarah membuat geleng kepala.

Dengan mengutip beberapa statement kaum kafirin beliau menegaskan bahwa bagi mereka, Al-quran memang tidak bisa diotak-atik, tidak bisa dirubah, tetapi tafsirnya lah yang bisa dan selama ini telah diotak-atik. Inilah yang berbahaya dan harus diperangi. Beberapa pernyataan resmi para pejabat barat yang terang-terangan memusuhi Islam pun tersaji dengan jelas, mulai dari Islam yang dianggap sebagai ancaman bagi masa depan barat hingga pernyataan "mari kita tunjukkan perlawanan kita kepada Islam" yang jelas dimuat di media massa.

"Nah, kalau sudah tahu seperti ini, adakah yang ingin murtad ?" Tanya beliau.
"TIDAK…!!!" Dengan tegas para hadirin menjawab. Ada kesyukuran akan nikmat iman dan Islam yang terus mengalir kuat.

"Mari kita bersatu. Musuh kita ada di depan mata, untuk apa kita bersusah perang dengan sesama Muslim ? Seakan Muslim dengan gerakan yang berbeda adalah musuh besar," tegas beliau.

Bagi beliau, strategi dakwah bermacam-macam adanya, strategi yang ampuh adalah dengan pikir dan dzikir. Mereka memerangi kita di titik itu, maka kitapun menguatkan pada titik itu (khususnya di Indonesia). Tidak harus melumpuhkan lawan secara fisik, dengan kita paham betul akan agama kita serta tahu bagaimana ajaran serta strategi mereka, maka kita pun bisa membalikkannya. Insyaa Allah kita akan menang, saat ini kita memang diadu, maka kita harus bersatu.

"Belajarlah sejarah, dalami sejarah Islam dan Al-quran. Banyaklah bersyukur," pesan beliau saat diwawancarai di bandara sebelum kembali melakukan perjalanan dakwah Senin (4/1/2016) pagi.

Kontributor: Qurrota Qur'ani | Editor: Ally | Jurnalislam

 

Ini Kronologi Keluarnya Surat D.O Ronny Setiawan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pemecatan Ronny Setiawan sebagai mahasiswa dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dinilai banyak pihak sebagai bentuk kesewenang-wenangan kampus. Tak hanya dari mahasiswa, kecaman pun terlontar dari wakil ketua DPR-RI, Fahri Hamzah. (baca: Surat Terbuka Fahri Hamzah Untuk UNJ: "Anda Rektor atau Diktator?"). Bagaimana sebenarnya kronologis keluarnya surat Drop-Out Ronny dari pihak UNJ. Berikut kronologis lengkap yang diterima redaksi Jurnalislam  dari Koordinator Aliansi Mahasiswa UNJ Bersatu.

Assalamu’alaikum wr. wb. Tulisan ini kami buat sebagai bentuk release resmi dan klarifikasi info yang beredar di berbagai media yang kami anggap ada beberapa hal yang tidak valid.

Pertama, tidak benar bahwa sebelumnya Aliansi Mahasiswa UNJ Bersatu sudah melakukan demonstrasi.

Kedua, tidak benar info yang mengatakan kami mengultimatum rektor UNJ.

Ketiga, selain informasi yang berasal dari ALIANSI MAHASISWA UNJ BERSATU, maka informasi tersebut merupakan hasil olahan dari data sekunder dan tidak bisa dipertanggung-jawabkan kevalidannya.

Berikut kronologisnya:

Rabu, 23 Desember 2015, Mahasiswa FMIPA UNJ melakukan demonstrasi di kampus A UNJ. Inti tuntutan demonstrasi ketika itu adalah penolakan mahasiswa FMIPA UNJ atas rencana Rektorat UNJ yang akan memindahkan FMIPA dari kampus B ke kampus A UNJ. Mereka menolak kepindahan itu. Alasannya sederhana, fasilitas penunjang akademik dan organisasi di kampus A belum siap dan tidak memadai.

Rentang waktu antara tanggal 24 sampai 28 Desember, muncul begitu banyak tulisan baik yang anonim maupun yang jelas penulisnya. Salah satunya adalah tulisan anonim yang berjudul “Almanak Kepemimpinan Rektor Djaali”, yang begitu vokal dalam mengkritik rektor UNJ. Informasi yang beredar begitu cepat tersebar kepada publik UNJ. Terlebih ditambah dengan postingan-postingan yang beredar di berbagai media sosial, seperti misal broadcast yang mendapat selebaran surat disposisi rektor UNJ terhadap salah satu mahasiswa di FIP yang mengajukan permohonan penurunan UKT. Permohonan itu ditolak oleh rektor UNJ, lalu disampaikan melalui disposisi rektor UNJ yang tertuliskan “UKT sudah hasil verifikasi FIP. Kalau tidak sanggup, bisa cuti atau menarik diri”. Opini yang beredar semakin menyebar di UNJ. Terlebih, permasalahan di UNJ yang memang sudah begitu banyak ketidakjelasannya, seperti: carut-marut dan tidak amannya perparkiran UNJ, simpang siurnya informasi mengenai pelaksanaan KKN dan beredar info dari salah satu fakultas bahwa KKN tidak didanai kampus selain uang kelompok yang besarannya 1 juta rupiah, pemutusan beasiswa PPA/BBM, perubahan BEM Jurusan ke BEM Prodi yang terkesan dipaksakan, kepindahan FMIPA UNJ, permasalahan dalam transparansi UKT dan tidak adanya alur yang jelas soal mekanisme penurunan UKT, dan menagih janji rektorat UNJ untuk mengadvokasi korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum dosen FIS UNJ.

Minggu, 27 Desember 2015, untuk meredam atas tidak fokusnya release dan tulisan yang beredar di media. Selaku komandan Green Force UNJ (tim aksi universitas), pukul 15.30 di BEM UNJ, saya (Ahmad Firdaus) berinisiatif mengumpulkan tim aksi fakultas se-UNJ dan mitra strategis BEM UNJ. Tujuannya adalah untuk berdiskusi, dan merumuskan beberapa isu strategis yang perlu dikawal ke depan. Setidaknya ada 7 fokus isu yang kala itu dibahas, seperti: Parkiran, UKT, KKN/KKL, FMIPA, Beasiswa, BEM Prodi, dan kasus pelecehan seksual oleh oknum dosen FIS. Pertemuan kala itu menyepakati bahwa ke depannya perlu diadakan diskusi lebih dalam perihal masalah-masalah itu dengan melibatkan berbagai elemen mahasiswa.

Senin, 28 Desember 2015, pukul 08.00 WIB, undangan FGD (Focus group Discussion) yang disebar atas nama Aliansi Tim Aksi se-UNJ dan Underbow BEM UNJ, yang berjudul “UNJ GAWAT DARURAT!” tersebar. Kami tujukan undangan itu untuk berdiskusi terfokus. Rencana FGD itu dilakukan pada Selasa, 29 Desember 2015, di Pelataran IKK FT UNJ. Dari tulisan itu, kami mengundang berbagai elemen mahasiswa, seperti: Majelis Tinggi Mahasiswa UNJ, Ketua & Wakil Ketua BEM UNJ, Ketua & Wakil Ketua BEM UNJ Terpilih, Ketua BEM Fakultas se-UNJ, Ketua BEM Fakultas Terpilih se-UNJ, Ketua BEM Jurusan se-UNJ, Ketua BEM Jurusan Terpilih se-UNJ, Departemen Dalam Negeri BEM UNJ, Departemen Advokasi BEM se-UNJ, Departemen Sosial & Politik BEM se-UNJ, organisasi mahasiswa ekstra-kampus (HMI, KAMMI, GP, PMII, dll), LPM Didaktika & Gerakan ‪#‎Adili Andri, serta seluruh mahasiswa UNJ.

Dan responsnya, undangan tersebut mendapat respons luar biasa. Seluruh undangan tersebut mengkonfirmasi hadir. Tetapi, ada upaya penggembosan terhadap rencana FGD kami. Malam harinya, antara pukul 21.00-23.00, kami mendapat kabar secara serempak, seluruh ketua Lembaga OPMAWA (BEMF & BEMJ) di semua fakultas di UNJ mendapat undangan mendadak dari Dekanat Fakultas & jajarannya masing-masing untuk bertemu dengan mereka di pagi harinya, pukul 08.00. Tanpa diberitahukan ingin membicarakan apa. Kebetulankah? Tidak. Terlalu sederhana jika itu kebetulan, tanpa ada “The Godfather” yang memberikan instruksi. Biasanya, menemui untuk minta tanda tangan proposal saja minta ampun susahnya, ada gerangan apakah hingga punya waktu khusus untuk berdialog dengan mahasiswa?

Padahal, niat kami pada sore itu hanyalah ingin berdiskusi, ingin berkumpul. Membicarakan permasalahan kampus. Berdialog penuh solusi. Tanpa ada sedikitpun niat untuk anarkis, berdemonstrasi apalagi akan membakar gedung rektorat. Kami tidak sepicik itu berpikir.

Selasa, 29 Desember 2015, pukul 08.00-12.00 WIB, pertemuan dengan dekanat dan jajarannya dilangsungkan. Kami diajak bertemu dengan dekanat fakultas masing-masing. Dan sudah bisa ditebak, ucapan semua dekan di tiap fakultas seragam. Surat undangan FGD tersebut dibacakan di hadapan yang hadir. Undangan FGD kami diartikan sebagai rencana demonstrasi. Inti dari pertemuan itu adalah: agar kami membatalkan FGD yang dilakukan sore harinya, dan di fakultas lain, meminta agar yang diundang untuk tidak memenuhi undangan yang dibuat Green Force & Tim Aksi se-UNJ. Kami menolak. Melalui tulisan berjudul “UNJ MASIH GAWAT DARURAT”, kami tegaskan bahwa FGD tetap akan terlaksana, apapun alasannya. Kami juga sempat menolak usulan dari dekanat FIS untuk menggunakan ruangan tertutup dalam pertemuan itu.

Selasa, 29 Desember 2015, pukul 15.00 WIB, “Focus Group Discussion: Mengurai Benang Kusut Kampus Pendidikan” dilaksanakan. Seperti dugaan. Diskusi kala itu membludak. Tercatat lebih dari 350 mahasiswa UNJ menghadiri forum itu. Semua yang hadir merasakan keresahan bersama. Di sana mereka menyampaikan aspirasinya. Diskusi kala itu dibuat dengan beberapa kelompok-kelompok kecil sesuai fokus isu. Setidaknya ada 7 forum diskusi kecil: Parkiran, UKT, KKN/KKL, Perpindahan FMIPA, Beasiswa, BEM Prodi, dan kasus pelecehan seksual oleh oknum dosen FIS. Masing-masing isu itu ditunjuk koordinator masing-masing isu untuk memimpin diskusi kecil itu. Di akhir diskusi, setelah masing-masing koordinator menyampaikan sementara kajian, forum kala itu sepakat untuk membentuk gerakan kritis-solutif dalam ALIANSI MAHASISWA UNJ BERSATU.

Rabu, 30 Desember 2015, melalui perantara BEM UNJ, kami atas nama Aliansi Mahasiswa UNJ Bersatu mengajukan surat permohonan audiensi kepada rektorat UNJ. Tujuannya adalah untuk meminta penjelasan dan klarifikasi atas kebenaran isu yang beredar di kalangan mahasiswa UNJ. Sekaligus meminta penjelasan terkait beberapa isu dalam kampus. Selagi mematangkan kajian, kami memberikan tenggat waktu hingga tanggal 5 Januari 2016 bagi rektorat UNJ untuk memenuhi undangan tersebut.

Singkat cerita, rentang waktu antara tanggal 31 Desember 2015 – 03 Januari 2016 kami masih menunggu itikad baik dari rektorat UNJ untuk memenuhi undangan diskusi dengan mahasiswa. Kami masih merespon positif bahwa rektorat UNJ akan bersedia untuk bertemu dengan mahasiswanya. Namun, pada hari Senin, 4 Januari 2016, Ronny Setiawan (Ketua BEM UNJ) mendapat surat pemanggilan orang tua. Surat itu meminta kesediaan orang tua Ronny Setiawan untuk memenuhi panggilan Rektor UNJ pada Selasa, 5 Januari 2016, pukul 09.00 WIB.

Hari ini, 5 Januari 2016, secara resmi, melalui surat bernomor 01/SP/2016 tentang Pemberhentian Sebagai Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta, Rektor UNJ melakukan Drop Out terhadap Ronny Setiawan. Alasannya, Ronny dinilai telah melakukan tindak kejahatan berbasis Teknologi dan Penghasutan yang dapat mengganggu ketenteraman dan Ronny dinilai telah menyampaikan surat kepada Rektor UNJ yang bernada ancaman (surat audiensi).

Menanggapi kekisruhan yang terjadi di UNJ, berikut adalah sikap kami:

Menyayangkan sikap Rektor UNJ yang telah bertindak sewenang-wenang membungkam dan mencoreng wajah demokrasi kampus.
Kami, Aliansi Mahasiswa UNJ Bersatu, menuntut Rektor UNJ untuk mencabut surat bernomor 01/SP/2016 tentang Pemberhentian Sebagai Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta.
Kami menyerukan kepada seluruh mahasiswa UNJ dan seluruh civitas akademika UNJ untuk tidak berdiam diri terhadap tindakan sewenang-wenang ini.
Kami menuntut Rektorat UNJ untuk bertindak kooperatif dengan Aliansi Mahasiswa UNJ Bersatu dalam menyelesaikan kekisruhan yang terjadi di UNJ.
Kami akan terus bergerak untuk tetap mengawal isu dalam kampus UNJ dan tidak akan pernah mundur dalam mengatakan kebenaran.

Tertanda,
Ahmad Firdaus
Koordinator Aliansi Mahasiswa UNJ Bersatu

 

Irfan | Jurnalislam