Milisi Syiah Saraya al Salam Serahkan Wilayah Tikrit ke Tentara Irak

BAGHDAD (Jurnalislam.com) – Milisi Syiah, Saraya al-Salam, menyerahkan beberapa bagian kota Tikrit di barat laut Irak ke tentara Irak pada Kamis (01/09/2016) sekitar satu tahun setelah merebut daerah tersebut dari Islamic State (IS).

“Saraya al-Salam telah secara resmi menyerahkan tanggung jawab keamanan kepada tentara Irak dari Komando Operasi Baghdad di daerah yang terletak di sebelah barat daya distrik Al-Ishaqi (Tikrit ini),” sekte Syiah Saraya. Iyad al-Musawi mengatakan kepada Anadolu Agency, Kamis.

Menurut al-Musawi, semua elemen milisi Syiah sekarang telah ditarik dari daerah dan sejak itu telah digantikan oleh personil militer Irak.

Sekte Saraya al-Salam adalah sayap militer dari gerakan ekstremis Syiah Sadr yang dipimpin oleh tokoh Syiah Irak dan tokoh oposisi Moqtada al-Sadr.

Kelompok ini merupakan bagian dari Hashd al-Shaabi, payung milisi Syiah pro militer Irak yang saat ini terlibat dalam memerangi IS.

Pada pertengahan 2014, IS menyerbu distrik Al-Ishaqi Tikrit, ibukota daerah provinsi Saladin utara Irak.

Hampir satu tahun kemudian, pasukan Irak – yang didukung oleh milisi Syiah Hashd al-Shaabi – merebut kembali distrik dari IS, dengan Saraya al-Salam bertanggung jawab atas setiap kondisi di wilayah Samarra, Balad dan Al-Dujail.

Pasukan Rezim Assad Gagal Rebut Hama dari Mujahidin Suriah

SURIAH (Jurnalislam.com) – Sejumlah area provinsi Hama Suriah yang diberhasil direbut oleh koalisi mujahidin Suriah dihantam serangan udara berat pada hari Kamis saat pasukan pro-rezim Assad berusaha menghadang serangan besar kelompok mujahidin Suriah di daerah strategis yang penting bagi rezim Bashar al-Assad, lansir Al Jazeera Kamis (01.08.2016).

Serangan yang dimulai pada hari Selasa adalah serangan koalisi mujahidin yang terkoordinasi terbesar di provinsi Hama sejak 2014, menurut kelompok monitoring Observatorium Suriah untuk HAM (the Syrian Observatory for Human Right-SOHR).

Observatorium yang berbasis di Inggris tersebut mengatakan sedikitnya 25 orang warga sipil, termasuk enam anak, tewas dalam serangan udara rezim Assad semalam, Rabu.

Televisi pemerintah Suriah mengatakan pada hari Kamis bahwa angkatan udara telah melakukan “serangan terkonsentrasi” terhadap daerah yang mereka gambarkan sebagai “daerah jihadis”.

Dorongan kelompok pejuang Suriah di Hama menandai tantangan baru bagi rezim Assad dan sekutunya di wilayah Suriah di mana Nushairiyah Assad mencoba mengkonsolidasikan kekuasaannya terhadap upaya lima tahun untuk menggulingkan dia.

Seorang pejabat di salah satu faksi yang melancarkan serangan, Jaish al-Nasr, mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa jet Suriah dan Rusia terlibat dalam serangan udara berat. Rusia telah membom pemukiman sipil selama hampir satu tahun.

 

Pemimpin Garda Revolusi Iran, Jenderal Ahmad Gholami, Tewas di Selatan Aleppo

SURIAH (Jurnalislam.com) – Media Iran melaporkan kematian salah satu pemimpin Garda Revolusi Iran (IRGC) di dalam wilayah Suriah selama pertempuran berlangsung di pedesaan selatan Aleppo, ElDorar AlShamia mengatakan Kamis (01/08/2016).

Sumber Media melaporkan bahwa mantan wakil Ketua IRGC dan pemimpin Batalion Sayed al-Shohadaa, Brigadir Jenderal Ahmad Gholami, tewas dalam pertempuran pedesaan selatan Aleppo dalam 24 jam terakhir.

Lewaa Fatemion” Afghanistan berkabung atas kematian tiga prajuritnya yaitu Abbas Kamel, Mustafa Husseini dan Hussein Rezai dalam pertempuran yang sama di selatan Aleppo, menunjukkan bahwa mereka dibunuh “di garis depan saat bertugas.”

Milisi Syiah Iran, Irak, Afghanistan dan Hizbullah Libanon bergabung dengan pasukan rezim Nushairiyah Assad pada pertempuran di selatan Aleppo, wilayah kendali faksi mujahidin Suriah, dengan tujuan untuk memotong jalan pasokan antara Aleppo dan seluruh pedesaan nya.

 

 

 

Teror Masa Depan Anak, Pemuda Muhammadiyah: Pemerintah Harus Nyatakan Perang Terhadap LGBT

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak menegaskan bahwa perilaku gay adalah ancaman nasional dan telah menjadi teror bagi masa depan anak Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan menanggapi terkuaknya prostitusi anak laki-laki untuk melayani kaum gay dewasa di kawasan Puncak, Bogor.

“Fakta ini membuktikan bahwa perilaku gay ini adalah ancaman nasional. Mengancam masa depan Anak-Anak Indonesia, ancaman kelompok gay yang menggunakan prostitusi anak ini adalah fakta bahwa mereka sudah menjadi teror bagi masa depan anak-anak Indonesia,” tegasnya dalam pernyataan yang diterima Jurniscom, Kamis (1/9/2016).

Menurut Dahnil, kasus ini juga dapat menjadi landasan kuat bagi pemerintah untuk mengkriminalkan pelaku homoseksual dan menghukum seberat-beratnya para pelaku perdagangan anak dibawah umur untuk pemuas nafsu bejad kaum gay.

“Masa depan anak-anak kita dan keamanan mereka sedang dibawah teror para teroris yang berperilaku menyimpang tersebut, maka pemerintah harus bersikap tegas dan terang perang terhadap mereka, dan kami percaya pemerintah bisa melakukan hal tersebut, jangan sampai masyarakat yang bereaksi berlebihan,” terangnya.

Untuk diketahui, Subdit Cyber Crime Bareskrim Polri berhasil mengungkap jaringan prostitusi pada Selasa (30/8/2016) malam kemarin di wilayah Cipayung, Puncak, Jawa Barat. Seorang residivis berinisial AR yang baru enam bulan keluar penjara adalah germo yang menawarkan anak-anak laki-laki kepada sesama jenis atau homoseksual lewat media sosial atau secara online.

Faksi Mujahidin Suriah Siap Gagalkan Pengepungan Pasukan Assad pada Penduduk Al Waer, Homs

SURIAH (Jurnalislam.com) – Faksi mujahidin Suriah menegaskan bahwa mereka akan berusaha menggagalkan rencana rezim Syiah Assad untuk mengubah keadaan demografi di Suriah dan mencegah perpindahan penduduk yang tinggal di lingkungan “al-Waer” di Homs, ElDorar AlShamia melaporkan, Kamis (01/09/2016).

11 Faksi mengancam melalui pernyataan pada hari Rabu untuk mengebom barak dan pertemuan milik pasukan Nushairiyah Assad: “Kami tidak akan membiarkan lingkungan dan desa-desa pro Assad tetap aman dan pasukan kami telah melakukan pemboman dan perusakan.”

Pernyataan itu juga menegaskan organisasi-organisasi internasional berkontribusi pada perpindahan warga sipil Muslim dan berkolusi dengan rezim Assad, serta mempertanyakan: “Mengapa mereka khawatir tentang lingkungan pro rezim Assad di Aleppo dan tidak pernah berbicara tentang apa yang terjadi di Homs”.

Rezim Syiah Assad menerapkan kebijakan mengepung dan menciptakan kelaparan terhadap banyak daerah di Suriah, sehingga memaksa penduduk Daraya untuk keluar beberapa hari lalu setelah lima tahun pengepungan serta pemboman berat, dan saat ini mereka bersiap mengulangi skenario yang sama di lingkungan “al-Waer” yang terkepung di Homs.

 

Bantuan Idul Adha Turki Mencapai 130 Negara

TURKI (Jurnalislam.com) – Ribuan hewan kurban sebagai bagian dari perayaan Idul Adha mendatang akan disumbangkan kepada keluarga yang membutuhkan di 130 negara, menurut seorang pejabat senior dari Direktorat Urusan Agama Turki, lansir World Bulletin, Kamis (01/09/2016).

Yayasan, yang merupakan salah satu badan amal terbesar di negara itu, memimpin persiapan untuk hari raya dan mendistribusikan daging hewan kurban untuk keluarga Muslim di seluruh dunia.

Wakil Presiden Abdurrahman Cetin mengatakan 225.000 hewan akan dikorbankan selama Idul Fitri.

“125.000 dari 225.000 hewan kurban akan disembelih di luar negeri dan didistribusikan kepada orang-orang yang membutuhkan di 130 negara,” kata Cetin.

Dia mengatakan 100.000 hewan yang tersisa akan dikorbankan di Turki dan akan didistribusikan kepada ribuan orang di seluruh Turki, terutama lokasi para pengungsi Suriah.

Menurut yayasan, mereka yang ingin mengambil bagian dalam perayaan ini dapat membayar 500 lira Turki (sekitar $ 169) di luar negeri, sementara itu untuk mengambil bagian dalam perayaan domestik di Turki akan dikenakan biaya 690 lira Turki (sekitar $ 230).

Dimulai pada 12 September, Muslim akan merayakan Idul Adha tiga hari, yang juga dikenal sebagai Hari Raya Kurban, yang merayakan kesediaan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan anaknya Ismail untuk Allah Swt.

Ini adalah hari raya utama kedua dari dua hari raya utama yang dirayakan oleh umat Islam dan menandai hari terakhir ibadah haji bagi kaum muslimin di Arab Saudi, di mana jutaan jamaah berkumpul ke Makkah dan Madinah.

 

Kantor Militer al Asala dan al Tanmya: Dengan Cara Ini al Adnani Dibunuh

SURIAH (Jurnalislam.com)ElDorar AlShamia melaporkan Kamis (01/09/2016), bahwa sekretaris Jenderal al-Asala & al-Tanmya, “Khaled Al-Hamad”, mengumumkan sebuah informasi baru mengungkapkan siapa yang membunuh juru bicara kelompok Islamic State (IS), Abu Muhammad al Adnani, dan keterangan ini membuat berita sebelumnya yang diterbitkan oleh media Barat, Rusia dan Amerika yang mengklaim bertanggung jawab atas pembunuhan terbukti tidak benar.

Al-Hammad mengatakan bahwa yang membunuh Adnani adalah salah satu pemimpin IS itu sendiri, yang dikenal sebagai Ali Moussa Al Shawakh, yang dijuluki “Abu Luqman,” di mana ia menanam bahan peledak di dalam mobilnya.

Hammad mengatakan alasan Abu Luqman membunuh al Adnani adalah karena pimpinan IS, Abu Bakr al-Baghdadi mengirim Adnani ke Suriah, setelah ekstraksi sertifikat membuktikan garis keturunan untuk “Ahlul Bait” yang bertujuan menetapkan struktur baru organisasi IS di Suriah, dan dengan garis keturunan tersebut mencegah Abu Luqman memimpin dan memegang jabatan IS di Suriah, yang telah diperjuangkan sejak dua tahun lalu, sehingga membangkitkan kemarahan Abu Luqman, dan ia bergegas membunuh Adnani dengan alat peledak improvisasi.

Sebelumnya departemen Pertahanan AS (Pentagon) mengumumkan kemarin bahwa Adnani tewas dalam serangan udara di mobilnya, di dekat kota al-Bab di timur Aleppo.

Umat Islam Jawa Barat Siap Hadang Perayaan Asyura Syiah

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Ketua umum Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS), KH Athian Ali menyatakan, pihaknya akan aktif berkonsolidasi dengan aparat dan masyarakat untuk menghadang perayaan hari Asyura Syiah.

“Kami ANNAS di setiap wilayah khususnya daerah Jawa Barat sudah aktif untuk berkonsolidasi baik kepada masyarakat, aparat maupun pemerintah terkait bahaya Asyura Syiah,” tegasnya kepada Jurnalislam melalui sambungan telepon, Rabu (31/8/2016).

Ia menjelaskan, peringatan hari Asyura Syiah kerap dijadikan ajang untuk menyampaikan prinsip-prinsip ajaran sesat mereka. Hal tersebut dinilainya akan memancing konflik di tengah masyarakat. Sebab, ajaran Syiah telah menodai agama Islam.

“Kapolri sendiri beberapa waktu yang lalu sempat mengatakan konflik agama adalah yang paling rawan. Saya mengamininya, karena masalah ini sangat sensitif,” ujarnya.

Agar tidak terkesan reaktif, Kyai Athian berharap aparata dan masyarakat pro-aktif dalam mengawasi pergerakan kelompok tersebut.

“Masyarakat diharapkan pro-aktif untuk bersama mengawasi pergerakan Syiah. Agar tidak ribut sesaat dan paska kejadian ritual Asyura. Potensi konflik dari perayaan Asyura sangat besar, jangan sampai kita baru ribut setelah itu terjadi,” tandasnya.

Namun, Kyai yang juga menjabat Ketua Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) itu menyayangkan minimnya langkah-langkah konkrit ormas-ormas Islam besar dalam membendung pergerakan Syiah.

“Kita memang selalu berkordinasi dengan ormas Islam, walau memang belum ada langkah-langkah konkrit dari ormas besar untuk menggarap Syiah,” pungkasnya.

Terpisah, Ketua Pembela Ahlu Sunnah (PAS) Ustadz Roinul Balad mengatakan, menegaskan aparat jangan pernah memberi ruang kepada kelompok Syiah untuk melakukan perayaan Asyura.

“Undang-undangnya sudah jelas, tinggal menunggu niat baik pemerintah apakah itu Walikota, Gubernur dan aparat keamanan,” katanya kepada Jurnalislam, Rabu (31/8/2016).

Tahun lalu, umat Islam di Bandung Raya kembali harus melakukan aksi pembubaran perayaan hari Asyura yang digelar di Stadion Sidolik, Kota Bandung. Dengan dalih terdesak, pemerintah Kota Bandung mengaku terpaksa harus memberi izin bersyarat kepada panitia perayaan Asyura yang dihadiri oleh jemaat Syiah dari berbagai daerah di Indonesia itu.

Jika tahun ini perayaan Asyura kembali terjadi di Jawa Barat, ustadz Roin menegaskan akan kembali melakukan penghadangan dengan mengikuti prosedur hukum yang berlaku.

“Tapi jika seandainya pemerintah atau aparat yang seharusnya menjadi wasit malah berpihak kepada mereka (Syiah-red), maka kami akang mengambil langkah tegas,” tegasnya.

IPT 1965 Raih Penghargaan, Pengamat: AJI Didominasi Kader PKI

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Tasrif Award tidak hanya diberikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) kepada komunitas LGBTIQ. Kelompok Pengadilan Rakyat Internasional (IPT) 1965 juga dinobatkan AJI sebagai peraih penghargaan itu.

Baca juga: Dinilai Dukung LGBTIQ, MUI Tegur Menang

IPT 1965 adalah kelompok yang memperjuangkan kasus pemberantasan Partai Komunis Indonesia (PKI) oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1965 dan sesudahnya. Pengadilan tersebut digelar pada 10 hingga 13 November tahun lalu di Den Haag, Belanda.

Menurut pengamat gerakan komunis, Alfian Tanjung, IPT adalah sidang liar yang tidak mempunyai landasan hukum tetap. Ia juga menilai AJI telah didominasi oleh orang-orang komunis baru. Jadi, ia tidak heran jika AJI memberikan penghargaan kepada kelompok IPT 1965.

“Kader-kader di AJI memang orang-orang kiri baru, komunis-komunis baru itu numpuknya disitu. IPT itu juga kan sidang liar yang tidak mempunyai kekuatan hukum tetap. Baik secara hukum Belanda maupun hukum internasional,” katanya kepada Jurniscom melalui sambungan telepon, Kamis (1/9/2016).

Mantan aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) itu menjelaskan, IPT 1965 sebenarnya telah mencemarkan nama baik pemerintah Indonesia dengan menetapkan pemerintah sebagai tersangka atas peristiwa 1965 dengan tuduhan pelanggaran HAM berat. Padahal, peristiwa 1965 merupakan upaya negara untuk memberantas pemberontakan PKI.

“Dalam teori kenegaraan, kaum pemberontak itu kan seharusnya ditangkap,” lanjutnya sembari menambahkan bahwa IPT tidak bisa merubah Ketetapan MPRS No. 25 Tahun 1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia.

“Hanya saja kita mengakui kita kalah dalam masivitas informasi, agitasi propaganda mereka memang kuat,” sambungnya.

Gerakan komunis saat ini, kata dia, sedang membangun kembali kelembagaan yang mempunyai landasan hukum. Mereka juga menyusup ke dalam partai-partai politik.

“Idealnya mereka bisa kembali menghidupkan PKI, kalau tidak mereka bisa lewat partai-partai yang telah mereka susupi,” tegasnya.

Lebih lanjut, Alfian mengimbau kepada umat Islam untuk mewaspadai kebangkitan PKI. “Jika umat tidak melek, tidak mustahil pembantaian umat Islam oleh PKI pada tahun 48, 62 dan 64 bisa terulang,” pungkasnya.

Gerhana Matahari Cincin, Kemenag Imbau Umat Islam Shalat Khusuf