SNHR: Dalam Dua Hari Rezim Assad Lakukan 28 Pelanggaran Gencatan Senjata

SURIAH (Jurnalislam.com) – Jaringan Suriah untuk Hak Asasi Manusia (The Syrian Network for Human Rights-SNHR) mengatakan dalam sebuah laporan yang diterbitkan Kamis (15/09/2016) tentang pelanggaran yang dilakukan oleh rezim Assad dan sekutunya di Suriah.

Seperti yang dilansir ElDorar AlShamia, Kamis, SNHR mengatakan bahwa 28 pelanggaran terjadi sejak Senin malam terakhir dalam pemboman yang menargetkan beberapa kota, yaitu kota Daraa, Homs, Idlib, Damaskus, Latakia dan Quneitera.

Jaringan mencatat dalam dua hari terakhir jelas terlihat pengurangan jumlah korban sipil di Suriah, setelah penghentian pemboman, yang menegaskan bahwa rezim al-Assad adalah penyebab utama dalam penghancuran dan pembunuhan manusia.

Kelompok hak Asasi manusia tersebut menekankan dalam laporannya mengenai kebutuhan agar “masyarakat internasional mendukung gencatan senjata untuk meluncurkan proses politik menuju fase transisi yang mengarah ke pembentukan pemerintahn baru, dan itulah yang akan benar-benar mengakhiri penderitaan masyarakat Suriah.”

Sekretaris Negara Amerika Serikat dan menteri luar negeri Rusia telah tiba di Jenewa untuk kesepakatan gencatan senjata di Suriah, berdasarkan percobaan gencatan senjata, Senin malam (hari pertama Idul Adha) untuk jangka waktu 48 jam. Tujuan utama perjanjian ini termasuk untuk memungkinkan bantuan kemanusiaan mencapai daerah-daerah yang dikepung, yang bahkan hingga sekarang tidak diizinkan bergerak setelah rezim menolak menyetujui masuknya truk bantuan ke Castello Road di utara Aleppo.

PBB Desak Rezim Suriah untuk Tidak Halangi Pengiriman Bantuan

JENEWA (Jurnalislam.com) – Utusan PBB untuk Suriah pada hari Kamis (15/09/2016) mendesak rezim Suriah untuk memberikan jaminan keamanan yang diperlukan dan izin untuk memungkinkan konvoi kemanusiaan melakukan perjalanan yang aman, Anadolu Agency melaporkan.

Empat puluh truk bantuan, sebagian besar membawa makanan dan tepung, terjebak di perbatasan Turki sejak Selasa karena masalah keamanan, seorang pejabat di Cilvegozu Border Gate, Kamis.

Berbicara pada konferensi pers di kantor PBB di Jenewa, Utusan Khusus PBB untuk Suriah, Staffan de Mistura menyesalkan bahwa Damaskus belum memberikan izin yang diperlukan.

“Surat-surat fasilitasi, izin akhir agar PBB dapat benar-benar menjangkau daerah-daerah belum diterima. Itu adalah sebuah fakta,” katanya.

“Hal ini terutama disesalkan karena biasanya di hari-hari seperti ini kita kehilangan waktu, ini adalah hari yang harus kita gunakan agar konvoi bergerak dengan membawa izin untuk pergi karena tidak ada pertempuran,” tambahnya, mengacu pada kesepakatan damai yang berlaku sejak Senin.

Jan Egeland, Penasehat Khusus Mistura, juga mengimbau kepada rezim Suriah agar pasokan penting untuk Aleppo Timur dan daerah lain yang membutuhkan tidak tertahan karena alasan kurangnya dokumentasi (surat izin).

Gencatan senjata yang ditengahi AS-Rusia yang dimulai Senin malam sebagian besar berlaku di seluruh Suriah dan telah diperpanjang lagi selama 48 jam.

Jubir Ahrar al Syam: Pasukan Assad Siap Lancarkan Serangan Besar di Distrik Idlib

SURIAH (Jurnalislam.com) – Milisi Assad sedang bersiap untuk meluncurkan serangan besar terhadap faksi mujahidin Suriah di wilayah Sahel, Juru bicara resmi Ahrar al Syam, Ahmed Kara Ali, menyatakan, lansir ElDorar AlShamia, Kamis (15/09/2016).

“Pergerakan milisi Assad di daerah pantai dekat kota Jisr al-Shoghour di distrik Idlib tampaknya telah siap untuk meluncurkan serangan besar pada daerah yang dibebaskan mujahidin,” Kara Ali merincinya.

Meskipun gencatan senjata telah diberlakukan, lanjut Kara Ali, bahwa Rusia dua kali melakukan pelanggaran gencatan senjata yang sangat berbahaya dari 57 pelanggaran gencatan senjata yang mereka lakukan, mencatat bahwa Rusia dan rezim Assad mengikuti kebijakan bumi hangus untuk menargetkan lokasi-lokasi strategis seperti di gencatan senjata sebelumnya.

Rezim Nushairiyah Assad terus berupaya mencegah konvoi bantuan kemanusiaan untuk mencapai kota Aleppo melalui Castello Road yang dianggap Kara Ali sebagai pelanggaran serius terhadap gencatan senjata dan bukti tidak mematuhinya rezim al-Assad terhadap kesepakatan itu.

Amerika Serikat dan Rusia pada Rabu malam mengumumkan untuk memperpanjang gencatan senjata selama 48 jam tambahan, sementara Moskow menegaskan bahwa mereka akan mena

Syiah Haji di Karbala, MMI: MUI Harus Tegas Fatwakan Syiah Sesat!

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) melalui Sekjennya, Ustadz Shobari Syakur mendesak pemerintah dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) tegas dalam menyikapi bahaya Syiah di Indonesia. Adanya Syiah di pemerintahan dan ormas Islam bukti ancaman Syiah mencengkeram.

“Pemerintah harus lebih tegas, nah pemerintah bisa tegas jika umat Islam tegas. Umat Islam bisa tegas jika simpul-simpul ini baik yang represantasi berhadapan dengan pemerintah seperti MUI bisa tegas,” katanya kepada Jurnalislam saat ditemui dikediamannya, Jl Semenromo Ngruki, Cemani, Grogol, Sukoharjo, Kamis (15/9/2016).

Fakta dengan adanya Syiah berhaji di Karbala, kata dia menjadi bukti Syiah sesat, maka Majelis Ulama Indonesia (MUI) harus andil dalam hal ini. Buku Syiah yang diterbitkan oleh MUI sudah bagus, namun MMI menilai harus ada tindakan yang lebih berani dari MUI.

Syiah Haji di Karbala
Syiah Haji di Karbala

“Syiah berhaji di Karbala menjadi satu bukti bahwa Iran dengan Syiahnya merupakan kesesatan yang nyata, dan menjadi ancaman umat akan pemahamanya,” tegas ustadz Shobari.

Untuk itu, MUI perlu mengadakan perhelatan besar dengan menggandeng elemen Islam seluruh Indonesia. Tujuannya agar umat mengerti akan kesesatan Syiah yang sedang berkembang di Indonesia.

“MUI perlu merekomendasikan Syiah sesat dengan perhelatan akhbar menggandeng MIUMI, NU, FPI, MMI, Muhammadiyah, dan yang lain. Saya rasa Syiah ini sudah mengkawatirkan sekali,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, jutaan kaum Syiah wukuf di Karbala di saat umat Islam dari seluruh dunia sedang menunaikan haji di Arab Saudi. Karena Iran melarang warganya pergi haji ke Makkah tahun ini dengan alasan pemerintah Arab Saudi tidak mau memenuhi persyaratan yang mereka minta.

AS dan Rusia Setuju Perpanjang Gencatan Senjata selama 48 Jam di Suriah

SURIAH (Jurnalislam.com) – AS dan Rusia mengatakan bahwa gencatan senjata di Suriah sebagian besar telah berjalan dan harus diperpanjang selama 48 jam, saat PBB mendesak semua pihak untuk menjamin keamanan konvoi bantuan, yang saat ini bersiap di sepanjang perbatasan Turki, menuju Aleppo.

“Ada kesepakatan menyeluruh, meskipun juga ada laporan kekerasan sporadis, keteraturan mulai terlihat dan kekerasan secara signifikan menurun,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri Mark Toner pada konferensi pers hari Rabu (14/09/2016), lansir Aljazeera.

“Sebagai bagian dari pembicaraan, mereka sepakat memperpanjang gencatan senjata selama 48 jam.”

Toner mengatakan Menteri Luar Negeri AS John Kerry dan timpalannya dari Rusia Sergei Lavrov telah berbicara sebelumnya melalui telepon dan setuju memperpanjang gencatan senjata.

Berdasarkan kesepakatan, yang ditengahi oleh AS dan Rusia pada hari Jumat, Washington dan Moskow bertujuan mengurangi kekerasan selama tujuh hari berturut-turut, sebelum mereka pindah ke tahap berikutnya, yaitu koordinasi serangan militer melawan Jabhat Fath al Syam dan kelompok Islamic State (IS), Jabhat Fath al Syam yang sebelumnya dikenal sebagai Jabhah Nusrah, berubah nama setelah memutuskan hubungan dengan al Qaeda pada bulan Juli.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (Syrian Observatory for Human Rights) yang berbasis di Inggris, yang memonitor konflik Suriah melalui kontak di lapangan, mengatakan tidak ada korban tewas akibat pertempuran yang telah dilaporkan dalam 48 jam pertama gencatan senjata.

“Komitmen ini awalnya akan berlangsung selama 48 jam, dan untuk mempertahankannya , AS dan Rusia akan membahas ekstensi, dengan tujuan mencapai perpanjangan waktu yang tidak terbatas untuk menurunkan kekerasan,” kata Toner.

Dia menambahkan bahwa Rusia harus menggunakan pengaruhnya atas Bashar al-Assad untuk memastikan bahwa bantuan kemanusiaan sampai ke masyarakat yang dikepung sesuai perjanjian.

“Kami belum melihat akses kemanusiaan namun kita masih terus memantau, dan berbicara dengan Rusia,” Toner mengatakan. “Kami menekan mereka untuk memaksa rezim Assad.”

Perpanjangan gencatan senjata, yang dimulai saat mataharithumbs_s_c_90a14fe31cfc60cb828ab6a9abc0695a terbenam pada hari Senin, terjadi konvoi bantuan yang dimaksudkan untuk mencapai populasi yang dikepung di utara kota Aleppo tetap terhenti di sepanjang perbatasan Turki.

Dua puluh truk sarat dengan makanan dan bantuan lainnya yang sangat dibutuhkan untuk wilayah Aleppo yang dikuasai faksi-faksi jihad Suriah, yang menjadi rumah bagi sekitar 300.000 orang, masih tetap berada di perbatasan pada hari Rabu menunggu kejelasan untuk perjalanan ke kota perang itu.

“Saya sudah mendesak pemerintah Rusia untuk memastikan bahwa mereka mempunyai pengaruh terhadap rezim Suriah, dan juga sisi Amerika untuk memastikan bahwa kelompok-kelompok bersenjata Suriah juga sepenuhnya gencatan senjata,” kata Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon di depan sebuah konferensi pers pada hari Rabu.

Konvoi bantuan seharusnya sudah menuju ke arah Aleppo pada hari Rabu, tapi Ban mengatakan pengaturan keamanan masih belum berjalan.

“Mereka berada di perbatasan dengan Suriah. Mereka masih di sana,” kata Ban.

PBB memperkirakan bahwa lebih dari setengah juta orang hidup di bawah pengepungan di Suriah, di mana konflik lima tahun telah menewaskan ratusan ribu dan menelantarkan lebih dari 11 juta lainnya.

Sementara itu, pasukan pro-rezim Assad dan pejuang Suriah dilaporkan akan mulai menggelar penarikan pasukan mereka dari jalan utama Aleppo yang diharapkan dapat digunakan untuk pengiriman bantuan Kamis pagi.

Zakaria Malahifji, dari kelompok oposisi anti-assad Fastaqim yang berbasis di Aleppo, mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa kelompok oposisi berniat untuk mematuhi rencana untuk mundur 500 meter dari Castello Road untuk membuatnya menjadi tempat yang netral, tetapi pasukan rezimdan sekutunya juga harus mundur.

Pada hari Rabu, Moskow dan Washington berbicara positif tentang kesepakatan gencatan senjata, yang Kremlin katakan meningkatkan harapan untuk solusi damai terhadap krisis.

Kerry juga mengatakan itu adalah “kesempatan terakhir” untuk menjaga Suriah bersama-sama, dan Washington berharap kesepakatan gencatan senjata akan menghidupkan kembali pembicaraan damai yang bertujuan mengakhiri konflik.

Namun, politisi oposisi Suriah yang menonjol, George Sabra, mengatakan banyak pelanggaran gencatan senjata sebelumnya yang telah merusak kepercayaan dalam gencatan senjata saat ini, menambahkan bahwa masih terlalu dini untuk berbicara tentang dimulainya kembali pembicaraan damai yang ditinggalkan pada bulan April.

Berbicara kepada Reuters, ia menyesalkan kurangnya mekanisme untuk menegakkan gencatan senjata dan melaporkan pemerintah rezim Nushairiyah Assad dan sekutu Syiahnya sering melakukan pelanggaran.

“Ini akan menghambat tujuan-tujuan lain dari gencatan senjata, seperti terhalangnya memberikan bantuan yang diperlukan untuk daerah terkepung,” kata Sabra.

Komunitas Pecinta Sedekah Tebar Qurban di Daerah Terpencil

WONOGIRI (Jurnalislam.com) – Komunitas Pecinta Sedekah (KPS) Soloraya menyerahkan sejumlah hewan Qurban dan ratusan paket sembako di daerah terpencil desa Ngampelsari, Tirtosworo, Giriwoyo, Wonogiri, Selasa (13/9/2016).

Koordinator aksi, Dadio Hasto mengatakan, bantuan tersebut sebagai bentuk kepedulian umat untuk berbagi kebahagiaan dalam menjalankan Syariat Islam. KPS menyerahkan 1 ekor sapi dan 10 ekor kambing ditambah 250 paket sembako.

“Harapannya mereka bisa ikut merayakan Iedul Adha karena disini jarang bisa menyembelih hewan qurban. Meski mereka ada yang punya kambing atau sapi namun itu untuk penghidupannya,” kata Hasto.

Kedatangan KPS disambut meriah oleh warga Ngampelsari, bahkan mereka diajak makan bersama dipelataran masjid.

“Semoga apa yang jenengan lakukan menjadi amal sholeh dan tambah banyak donator,” ucap salah satu warga.

Kegiatan KPS ini didukung oleh Laskar Sedekah (LS), Forum Silaturrohmi Antar Masjid (Fosam), Warung Murah (WM) 2000, Melangkah Dengan Sedekah (MDS), Komunitas Pendaki Muslim (KPM).

 

LSM Turki Bagikan 9000 Paket Daging Qurban ke Keluarga Miskin Gaza

GAZA (Jurnalislam.com) – Yayasan IHH Turki pada hari Rabu (14/09/2016) mendistribusikan bantuan daging hewan qurban Hari Raya Idul Adha bagi keluarga miskin di Jalur Gaza yang diblokade.

“Kami telah mendistribusikan paket daging qurban dari 83 sapi untuk 9.000 keluarga miskin di Gaza,” kata Direktur IHH Gaza Mehmet Kaya kepada Anadolu Agency.

“Penyediaan daging dari hewan qurban kepada orang miskin adalah bagian inti dari mandat kemanusiaan IHH ini,” tambahnya.

“Kami akan terus memberikan dukungan kepada keluarga miskin di Gaza dan di semua tempat yang kami hadiri,” Kaya menegaskan.

Sejak 2009, IHH telah mempertahankan kantor di Jalur Gaza, yang terus berada di bawah blokade Israel-Mesir hampir selama satu dekade.

Menurut data PBB, sekitar 80 persen dari hampir 2 juta penduduk Gaza sekarang bergantung pada donasi bantuan untuk kelangsungan hidup mereka.

Diblokade oleh Israel sejak tahun 2007, Jalur Gaza memiliki tujuh penyeberangan perbatasan yang menghubungkan mereka dengan dunia luar. Enam dari tujuh perbatasan ini dikendalikan oleh Israel, sementara satu perbatasan, yaitu Rafah, dikendalikan oleh Mesir, yang menutupnya dengan rapat.

Israel menutup empat penyeberangan komersial dengan Gaza pada Juni 2007 setelah gerakan perlawanan Palestina Hamas merebut kendali atas Jalur Gaza dari Otoritas Palestina.

syrie-aide-newPM Turki sampaikan ke Pemimpin Hamas akan Lanjutkan Bantuan ke Gaza

Turki akan menjaga pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza, Perdana Menteri Binali Yildirim mengatakan pada pemimpin Hamas Khaled Mashal pada hari Selasa, seorang sumber di kantor perdana menteri mengatakan.

Dalam panggilan telepon dengan pemimpin kelompok yang mengendalikan wilayah Palestina, Yildirim mengatakan Turki akan selalu berdiri bersama rakyat Palestina, kata sumber itu tanpa menyebut nama karena pembatasan.

Gaza telah berada di bawah blokade Israel sejak tahun 2007. Di bawah kesepakatan yang disetujui bersama Israel pada bulan Juni, Turki memasok bantuan ke Gaza.

 

 

Heboh, Politisi Iran Bocorkan Tujuan Intervensi Negaranya ke Suriah

TEHERAN (Jurnalislam.com) – Mehdi Khozali, seorang politikus senior Iran dan sekutu dekat presiden Iran, Hassan Rowhani, mengatakan bahwa intervensi Jenderal Qassem Soleimani, komandan Pasukan Quds di Suriah, telah menyebabkan munculnya Kelompok Islamic State (IS), lansir ElDorar AlShamia, Rabu (14/09/2016).

Pernyataan ini muncul dalam perkataan Khozali di ibukota Iran, Teheran, saat ia berkata: “Jika Bashar jatuh pada tahun 2011, kami menyingkirkan Baath Aflaqi, rezim otokratis dan diktator, dan kemudian kita bisa membangun hubungan baik dan kuat dengan pemerintah Suriah yang muncul dalam demokrasi untuk memerintah negara, kita tidak perlu melakukan intervensi militer di Suriah, juga kebijakan dan strategi Garda Revolusi, serta Soleimani telah salah dan menyebabkan kehancuran Irak dan Suriah, dan bahwa intervensi kami berlaku di Suriah berdampak juga bagi Turki.

Ini bukan pernyataan heboh pertama bagi Mahdi, putra seorang tokoh konservatif terkemuka Syiah, Ayatollah Khozali, yang sebelumnya mengatakan mantan presiden Iran, Ahmadinejad, memiliki asal-usul Yahudi.

Pemimpin Kurdi: PYD Terapkan Kebijakan PKK di Suriah

ERBIL (Jurnalislam.com) – PYD menerapkan kebijakan kelompok ekstremis PKK di Suriah, Masoud Barzani, presiden semi-otonom Pemerintah Daerah Kurdi Irak utara, mengatakan pada hari Rabu (14/09/2016), lansir Anadolu agency.

Dalam sebuah wawancara dengan harian Prancis Le Monde, Barzani mengkritik kegiatan terbaru PYD/PKK di Suriah utara.

Ketika diminta untuk mengevaluasi “Operasi Perisai Efrat ” (Euphrates Shield) Turki – yang membebaskan kota Jarablus, Suriah, bulan lalu dari kelompok Islamic State (IS) – Barzani mengatakan: “PYD mengusai daerah mayoritas Kurdi (di Suriah utara), dimana mereka membawa keluar kebijakan PKK.”

Ia menambahkan, “Turki berperang dengan PKK.”

PKK yang – terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki dan internasional – melanjutkan operasi bersenjata puluhan tahun pada bulan Juli tahun lalu. Sejak itu, lebih dari 600 personel Turki dan banyak warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, tewas dan sekitar 7.000 milisi PKK juga tewas.

Barzani melanjutkan untuk menyuarakan kepedulian terhadap masa depan penduduk Kurdi Suriah.

“Karena kebijakan non-inklusif mereka, PYD tidak menikmati dukungan dari kelompok lain di Suriah dan terus mendukung rezim Assad Suriah tanpa berpikir untuk masa depan Kurdi di wilayah tersebut,” katanya.

“PYD telah gagal untuk bekerja sama dengan oposisi Suriah (anti-Assad),” Barzani menegaskan.

Turki memberi label organisasi teroris bagi PYD, sementara AS menggambarkannya sebagai “mitra terpercaya”.

Ketika ditanya apakah Turki akan bergabung dengan operasi yang disiapkan untuk membebaskan kota Mosul di utara Irak dari IS, Barzani menyuarakan keraguan.

“Saya tidak berpikir Turki akan bergabung dengan operasi untuk membebaskan Mosul,” katanya kepada Le Monde. “Tapi Turki dapat membantu pasukan yang ambil bagian dalam operasi.”

“Selain itu, pemerintah Irak menentang ini (yaitu, peran Turki secara langsung dalam operasi), sementara Turki sendiri tidak ingin memasuki Mosul,” tambahnya.

Pada pertengahan 2014, Daesh menyerbu kota, bersama dengan sejumlah wilayah luas di utara dan barat Irak.

Dalam beberapa bulan terakhir, tentara Irak – yang didukung oleh serangan udara koalisi pimpinan AS dan sekutu lokal di darat – merebut kembali banyak wilayah yang hilang.

Para pejabat di Baghdad telah bersumpah untuk memberantas keberadaan Daesh di Irak pada akhir 2016.

AS dan Israel Tandatangani Kontrak Kesepakatan Bantuan Militer US$ 38 miliar

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Amerika Serikat menandatangani kontrak yang mencatat rekor kesepakatan sebesar $ 38 miliar untuk memberikan bantuan militer kepada pemerintah zionis selama periode 10-tahun – perjanjian tersebut merupakan jumlah terbesar yang pernah disepakati AS dengan negara manapun.

Setelah perundingan 10 bulan yang sering tegang, dua sekutu itu menyelesaikan nota kesepahaman (memorandum of understanding-MOU) dengan upacara penandatanganan pada hari Rabu (14/09/2016) di Washington DC, lansir Aljazeera.

“Perdana Menteri (Benjamin) Netanyahu dan saya yakin bahwa MOU baru ini akan memberikan kontribusi yang signifikan bagi keamanan Israel dalam lingkungan yang masih berbahaya,” kata Presiden AS Barack Obama dalam sebuah pernyataan, menurut kantor berita Reuters.

Menurut ketentuan, Israel akan menerima $ 3,8 miliar per tahun dari AS – naik dari $ 3,1 miliar yang diberikan Washington kepada Israel setiap tahun berdasarkan kesepakatan 10-tahun kemarin yang berakhir pada tahun 2018.

Kesepakatan itu digambarkan sebagai “janji tunggal terbesar dalam hal bantuan militer bilateral dalam sejarah AS,” tetapi juga melibatkan konsesi besar oleh pemerintah Israel, yang tidak akan lagi dapat mencari dana tahunan tambahan dari Kongres AS.

Reporter Al Jazeera Patty Culhane, melaporkan dari Washington DC, mengatakan angka tahunan $ 3,8 miliar tidak menandai perubahan besar “dibandingkan dengan apa yang Israel terima tahun 2015 atau 2016.”

“Kedengarannya seperti sedikit perbedaan, tapi kemudian jika Anda melihat uang yang diberikan Kongres AS secara rutin kepada Israel adalah di atas $ 3,1 miliar, jumlah itu benar-benar tidak terlihat banyak lagi,” kata Culhane.

“Pada 2015, Kongres AS memberi Israel $ 620 juta untuk pertahanan rudal, jadi pada dasarnya Israel akan mendapatkan jumlah yang sama seperti yang telah biasa mereka dapatkan.”

Angka ini juga secara signifikan lebih rendah dibandingkan dengan jumlah $ 4,5 miliar hingga $ 5 miliar yang Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu katakan ia cari ketika ia pertama kali memasuki perundingan, menurut Culhane.

Marwan Bishara, analis politik senior Al Jazeera, mengatakan Obama harus menjawab mengapa AS sekarang menandatangani bantuan militer yang mencatat rekor dengan Israel.

“Mengapa bantuan militer Amerika meningkat, dan tidak berkurang?” Bishara mengatakan, mengutip perjanjian damai Israel dengan Negara tetangga seperti Mesir dan Yordania, serta kesepakatan nuklir Iran baru-baru ini.

“Setiap kali situasi membaik untuk Israel, bantuan Amerika meningkat. Dan apa yang terjadi? Kebijakan Israel menjadi lebih dan lebih radikal. Hari ini, dan selama 40 tahun terakhir, Israel menjadi semakin radikal. Semakin banyak bantuan yang didapat, Israel menjadi semakin lebih radikal.

“Itu pertanyaan yang harus dijawab Presiden Obama.”

Efraim Inbar, seorang profesor di universitas Bar-Ilan Israel, mengatakan kepada Al Jazeera dari Yerusalem bahwa Israel membutuhkan kesepakatan untuk meng-upgrade sistem senjata yang menua, termasuk baterai pesawat dan rudal.

Berdasarkan kesepakatan itu, kemampuan Israel untuk menghabiskan sebagian dari dana AS untuk produk militer Israel secara bertahap akhirnya mengharuskan semua dana dihabiskan untuk industri militer Amerika, menurut kantor berita Associated Press.

Preferensi Israel untuk menghabiskan dana AS di dalam negeri telah menjadi titik utama yang mencuat dalam kesepakatan.

Perjanjian AS-Israel baru juga termasuk, untuk pertama kalinya, $ 5 milyar dana untuk program pertahanan rudal. Berdasarkan pengaturan sebelumnya, Kongres menyetujui dana untuk pertahanan rudal secara terpisah dan secara tahunan.

Kesepakatan itu dicapai meskipun rasa frustrasi meningkat dalam pemerintahan Obama mengenai kebijakan Israel membangun rumah pemukim di wilayah Palestina yang diduduki.

Washington telah memperingatkan bahwa kebijakan Netanyahu tersebut akhirnya akan beresiko terhadap harapan kesepakatan damai.