Siswi Muslimah Spanyol Perjuangkan Jilbab di Kampusnya

SPANYOL (Jurnlislam.com) – Dalam pekan yang sama saat jilbab dan busana muslim membuat debut yang menakjubkan di catwalk New York Fashion Week, Amerika Serikat, wanita di Spanyol memilih untuk mengenakan jilbab memperjuangkan kemenangan kecil mereka sendiri.

Takwa Rejeb, 22, seorang mahasiswi pariwisata yang penuh semangat, menjadi berita utama di seluruh negeri ketika ia mengecam sebuah sekolah di Valencia, di pantai timur Spanyol, yang melarang dia mengenakan jilbab, lansir World Bulletin, Kamis (22/09/2016).

“Saya tidak bisa menemukan kelas saya, jadi saya menemui kepala sekolah, yang saat itu ada di sana, dan dia mengatakan kepada saya kelas saya mulai di sore hari. Lalu dia berkata, “Asal tahu saja, Anda tidak akan dapat belajar dengan itu, dan aku bertanya, dengan apa?” Dan dia menjawab, “Dengan jilbab itu,” Rejeb mengatakan kepada media Jumat lalu.

Meskipun sekolah itu, Benlliure High School, mengatakan ada tiga siswi lain yang tidak diizinkan belajar dengan jilbab, ia merasa itu adalah pelanggaran hak-haknya. Alih-alih menerima atau pindah ke sekolah lain, ia memutuskan untuk menantang larangan tersebut.

Bersama-sama dengan pengacara dari SOS Racismo, sebuah organisasi payung kelompok anti-rasis, ia membawa kasus ini ke Departemen Pendidikan Valencia. Otoritas Valencia awalnya mengatakan kepada harian Spanyol, El Pais bahwa sekolah berhak memutuskan dress code (aturan berpakaian).

Kepala Sekolah Benlliure mengatakan aturan berpakaian di sekolah itu “masuk akal dan secara luas diterima” oleh siswa, dengan alasan “homogenitas dan kesehatan” untuk membenarkan larangan bagi semua tutup kepala, menurut El Pais.

Namun, pemerintah Valencia mengumumkan pada hari Senin bahwa mereka akan “menjamin hak pendidikan” bagi siswa. Pada hari Kamis, seorang pejabat pemerintah Valencia mengatakan kepada El Pais bahwa pemerintah daerah akan menjamin jilbab diizinkan di setiap lembaga yang didanai oleh pemerintah Valencia.

 

Pasukan Assad Gelar Operasi Penangkapan Massal terhadap Pemuda di Deir Ez Zour

SURIAH (Jurnalislam.com) – Pasukan rezim Nushairiyah Assad melakukan operasi penangkapan massal terhadap para pemuda di kota Deir Ez-Zour untuk mengumpulkan sebanyak mungkin rekrutan untuk membantu militer Assad dalam pertempuran, lansir ElDorar AlShamia, Kamis (22/09/2016).

Penangkapan itu terkonsentrasi di lingkungan “al-Jura” dan “al-Qosour” di mana mereka telah mendirikan pos pemeriksaan di jalan-jalan utama dan ke rumah-rumah.

Sekitar 60 pemuda yang berusia antara 17 sampai 32 tahun ditangkap, sumber media melaporkan.

Sumber tersebut mengatakan bahwa penangkapan terjadi bertepatan dengan gerakan kelompok Islamic State (IS) di wilayah tersebut dan memperkuat front pertempuran, terutama di sekitar “Jabal al-Thardeh” dan Deir Ez-Zour Airport.

Turki Tidak akan Ikut dalam Operasi Merebut Raqqa Jika PYD dan YPG Berpartisipasi

ANKARA (Jurnalislam.com) – Turki tidak akan berpartisipasi dalam operasi yang kemungkinan akan dilaksanakan untuk merebut kota Raqqa di Suriah utara dari Islamic State (IS) selama operasi tersebut mendapat dukungan dari milisi PYD, sayap Suriah dari kelompok ekstremis PKK, dan YPG, Juru Bicara Presiden Ibrahim Kalin mengatakan Kamis (22/09/2016), lansir World Bulletin.

“Bergabung dalam operasi bersama PYD/YPG benar-benar tidak mungkin. Pada prinsipnya, kami mendukung pembersihan Raqqa dan kota-kota Suriah lainnya dari kelompok IS. Namun, prinsip-prinsip dan ketentuan kami tentang masalah ini jelas,” katanya dalam sebuah wawancara dengan jaringan berita milik negara TRT Haber.

Juru bicara itu menjawab pertanyaan tentang kemungkinan operasi gabungan AS-Turki untuk membebaskan Raqqa, yang dibahas oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden AS Barrack Obama selama KTT G20 di Cina awal September.

Kalin mengatakan negosiasi masih berlangsung, dan belum ada ketetapan.

Pendekatan Turki untuk setiap operasi di Raqqa akan mirip dengan pendekatan dalam operasi Manbij atau Jarabulus, tambahnya.

Kalin juga mengomentari proses menawarkan kewarganegaraan untuk warga Suriah “yang memenuhi kriteria tertentu” dan mengatakan Turki akan terus menerima pengungsi Suriah, meskipun “bukan merupakan negara terkaya di dunia.”

“Namun, Turki adalah negara yang menjadi tuan rumah bagi pengungsi dalam jumlah terbesar,” katanya, menambahkan Turki juga menduduki puncak daftar teratas dalam hal bantuan kemanusiaan yang ditawarkan relatif terhadap pendapatan per kapita.

Turki menjadi tuan rumah pengungsi Suriah jumlah terbesar di dunia – yaitu sejumlah 2,7 juta – dan sejauh ini telah menghabiskan sekitar $ 10 miliar untuk pengungsi di Turki.

Faksi Perlawanan Suriah: Kami akan Fasilitasi dan Lindungi Kiriman Bantuan ke Warga Sipil

SURIAH (Jurnalislam.com) – Faksi perlawanan Suriah menegaskan lagi pada Rabu, dalam pernyataan bersama, bahwa mereka akan memfasilitasi dan melindungi konvoi kemanusiaan yang dikirim untuk warga sipil di Suriah, ElDorar AlShamia melaporkan Kamis (22/09/2016).

Faksi menolak sepenuhnya setiap upaya yang menargetkan konvoi kemanusiaan, menyerukan PBB dan masyarakat internasional untuk mengambil tanggung jawab dan menghukum mereka yang terlibat dalam pemboman, yang menargetkan konvoi Bulan Sabit Merah di pedesaan barat Aleppo.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa rezim Syiah Assad telah berulang kali mengganggu masuknya bantuan kemanusiaan ke daerah-daerah yang terkepung, dan tidak menanggapi resolusi Dewan Keamanan, dalam sabotase terbaru terhadap konvoi bantuan kemanusiaan yang dikirim ke distrik Muadamiyat al-Sham yang dikepung.

31 Korban, termasuk 12 petugas Bulan Sabit Merah Suriah tewas dalam pemboman udara rezim yang menargetkan 20 truk yang membawa bahan bantuan kemanusiaan yang dikirim PBB, dan di bawah pengawasan Bulan Sabit Merah Suriah.

Lebih dari 20.000 Pengungsi Suriah di Turki Kembali ke Kota Jarablus

TURKI (Jurnalislam.com) – Lebih dari 20.000 warga Suriah telah kembali ke Jarabulus dekat perbatasan Turki, beberapa pekan setelah Tentara Pembebasan Suriah yang didukung Angkatan Darat Turki membebaskan kota Suriah utara di provinsi Aleppo, kata seorang pejabat daerah kepada Anadolu Agency, Kamis (22/09//2016).

Selama sebulan Operasi Perisai Efrat, sekitar 1.200 kilometer persegi (745 mil) wilayah Suriah utara telah dibersihkan dari unsur-unsur kelompok Islamic State (IS) di wilayah tersebut. Sekitar 900 posisi IS diserang 4.000 kali setelah pengambilalihan Jarabulus, sumber tersebut menambahkan.

Sebagai hasil dari operasi, populasi Jarabulus sekarang membengkak menjadi 25.000 dari 3.500, menurut seorang anggota dewan lokal di kota Suriah. Ratusan keluarga akan pulang dari Azaz di pedesaan utara Aleppo dan Manbij, kata seorang pejabat yang berbicara dengan syarat anonimitas karena masalah keamanan.

Pasukan oposisi Suriah baru-baru ini mengambil alih distrik Tal-ar kota Cobanbey di provinsi barat laut Aleppo, yang telah diduduki oleh pasukan IS.

Operasi Perisai Efrat dimulai bulan lalu dan Tentara Pembebasan Suriah, yang didukung oleh militer Turki, merebut kembali Jarabulus dari IS.

Turki mengatakan operasi mereka bertujuan untuk meningkatkan keamanan perbatasan, mendukung pasukan koalisi dan menghilangkan ancaman yang ditimbulkan oleh milisi, terutama IS dan PYD dukungan AS. Operasi ini sejalan dengan hak negara untuk membela diri sesuai perjanjian internasional dan mandat yang diberikan kepada angkatan bersenjata Turki oleh parlemen pada tahun 2014, yang telah diperpanjang satu tahun lagi di September 2015.

Helikopter Rezim Suriah Serang Warga Sipil dengan Bom Barel, 11 Tewas

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Sebelas orang tewas dan puluhan lainnya terluka pada hari Kamis ketika helikopter rezim Suriah menjatuhkan bom barel di wilayah yang dikuasai para pejuang di barat laut kota Aleppo, Suriah, kata sumber-sumber medis setempat, lansir Anadolu Agency, Kamis (22/09/2016).

Menurut sumber dari rumah sakit lapangan lokal yang berbicara secara anonim karena takut akan keselamatan mereka, sedikitnya sembilan warga sipil tewas di distrik Al-Sokkari Aleppo sementara dua lainnya tewas di distrik Al-Ansari.

Sementara itu, Najib al-Ansari, seorang pejabat pertahanan sipil yang berbasis di Aleppo, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa pesawat tempur Rusia dan rezim Assad telah melakukan 150 serangan udara terpisah di Aleppo pada hari Rabu.

“Pesawat Rusia menyerang kawasan Bustan al-Qasr [Aleppo] dengan bom fosfor, mengakibatkan beberapa bangunan tempat tinggal terbakar,” kata al-Ansari.

Suriah telah terkunci dalam perang global sejak awal 2011, ketika rezim Nushairiyah Assad menumpas para pengunjuk rasa – yang meletus sebagai bagian dari gerakan “Arab Spring” – dengan keganasan militer yang tak terduga.

Pusat Penelitian Kebijakan Suriah, sebuah LSM yang berbasis di Beirut, melaporkan jumlah korban tewas akibat konflik enam tahun di Suriah lebih dari 470.000.

5 Pasukan AS Tewas Saat Terobos Pertahanan Taliban di Distrik Alingar

LAGHMAN (Jurnalislam.com)Al-Emarah News, Kamis (22/09/2016), mengatakan 5 pasukan penjajah AS dan sejumlah pasukan boneka mereka tewas dalam upaya menerobos posisi mujahidin pada pertempuran mematikan di distrik Alingar provinsi Laghman timur tadi malam saat Taliban mempertahankan wilayahnya dengan kokoh.

Sedikitnya 5 penjajah Amerika dan sejumlah pasukan boneka lokal tewas dalam baku tembak sementara beberapa pasukan musuh lainnya juga terluka.

Seorang mujahidin juga memeluk kesyahidan dan tiga lainnya cedera.

Dalam laporan lain, seorang antek Arbaki (pasukan bayaran) ditembak dan tewas dalam serangan penembak jitu di distrik Alingar pada hari Rabu. Kalashnikov dan amunisi berhasil disita dari target.

Kemudian di Daikundi, para pejabat mengatakan serangan Mujahidin di markas polisi Gizab dan pos-pos sekitarnya masih berlangsung sejak pagi hari. Sejauh ini 9 pos pemeriksaan telah dikuasai, membunuh dan melukai beberapa orang bersenjata di dalam pos dan memaksa sisanya melarikan diri dengan meninggalkan 5 mayat di tengah pertempuran.

Menurut rincian sebanyak 21 personil musuh telah menyerahkan diri membawa senjata mereka kepada Imarah Islam Mujahidin.

 

Banjir Surut, Warga Garut Bersama Relawan Gotong Royong Bersihkan Lumpur

GARUT (Jurnalislam.com) – Pasca banjir bandang yang menimpa warga di bantaran Sungai Cimanuk, Garut, Rabu (21/9/2016) lalu, sore tadi, Kamis (22/9/2016) warga bersama para relawan bahu-membahu membersihkan lumpur yang menggenangi rumah-rumah mereka.

Air yang ditaksir setinggi 4-5 meter itu menyapu rumah-rumah di bantaran sungai dan menyisakan lumpur dan material lainnya. Sebagian warga juga mengungsi ke masjid dan mushola setempat, sementara para relawan yang datang dari berbagai daerah berlalu lalang membantu warga.

Warga Kampung Mulyasari RW 15 Komplek Terminal Guntur menuturkan, mereka membutuhkan lebih banyak pompa air untuk membersihkan lumpur.

“Kami butuh pompa air yang lebih besar pak untuk menggunakan air Cimanuk, karena sekarang kami mengambil air dari sumur untuk membersihkan lumpur, tapi kan itu terbatas,” terang seorang warga kepada Jurniscom.

Lokasi yang sulit diakses, membuat warga bersama relawan harus membersihkan lumpur dengan alat seadanya. Mobil-mobil damkar pun tak bisa berbuat banyak, hanya terlihat berjejer di depan RS Dr Slamet yang juga menjadi korban sapuan banjir yang disebut-sebut sebagai banjir terparah yang melanda Kota Intan itu.

Bahkan di Kampung Lapang Paris di sekitaran RS Dr Slamet, akses hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki karena ketinggian lumpur mencapai satu meter lebih. Selain itu, di kampung ini juga aliran listrik terputus.

“Masih ada kampung yang minim bantuan, karena kesananya kita harus jalan kaki melewati lumpur segini (menunjukan tangan ke arah perut),” terang Tedi, salah seorang relawan asal Garut.

“Tapi kami sudah dari sana tadi dan alhamdulillah sudah membuka posko,” tambah Tedi.

Sementara itu, aktivitas di RS Dr Slamet sudah kembali normal namun lalu lintas di Jalan Rumah Sakit masih padat. Volume air di sungai Cimanuk sendiri saat ini sudah surut namun alirannya masih deras. Hingga petang tadi, hujan masih mengguyur kota Garut.

GEMPITA: Bangsa Patani Masih Jauh Dari Kata Damai

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Dalam rangka memperingati perayaan Hari Perdamaian Internasional (International Day of Peace), Koordinator Gerakan Mahasiswa Indonesia Peduli Patani (GEMPITA), Aiman bin Ahmad menegaskan posisi bangsa Patani hingga saat ini masih jauh dari kata perdamaian.

“Oleh karena berbagai perundingan belum menemukan persetujuan dari pihak terkait, berbagai peristiwa konflik yang terjadi di Patani (Selatan Thailand) sampai saat ini dan semakin meningkat,” ujar Aiman dalam pers rilisnya pada Kamis, (22/09/2016).

Meningkatnya kekerasan konflik di Patani (Selatan Thailand) saat ini bukan lagi hal yang baru, konflik kekerasan telah berlangsung bertahun-tahun.

Gempita peringati Hari Perdamaian Internasional
Gempita peringati Hari Perdamaian Internasional

“Masyarakat Patani (Selatan Thailand) sering dilukai, ditangkap, dipenjara dan dibunuh dengan tidak perikemanusian, perikeadilan dan melanggar dengan Hak Asasi Manusia (HAM),” ungkapnya.

Salah satu konflik yang membekas di hati rakyat Patani (Selatan Thailand) yaitu tragedi peristiwa Tak Bai (25/10/2004), dimana puluhan jiwa melayang dan menambah jumlah janda dan anak yatim piatu. Ironisnya, pemerintah dan militer Thailand tidak ingin bertanggung jawab atas tragedi peristiwa Tak Baik tersebut.

“Perlakuan yang tidak perikemanuisaan, perikeadilan dan melanggar dengan Hak Asasi Manusia (HAM) ini membuat rasa hilang kepercayaan rakyat Patani (Selatan Thailand) terhadap pemerintah Thailand,” tambah Aiman.

Sampai saat ini, masyarakat Patani (Selatan Thailand) tetap memperjuangkan hak-hak mereka, bersabar dengan situasi terjadi dan tantangan yang amat pedih. Harapan masyarakat Patani untuk meraih perdamaian, akan tetap menjadi cita-cita besar masyarakat Patani dalam kehidupan berbangsa di dunia internasional.

Sebagaimana diketahui, Hari Perdamaian Internasional (International Day of Peace), terkadang secara tidak resmi ada yang menyebutnya Hari Perdamaian Dunia (World Peace Day), diperingati setiap tahun pada tanggal 21 September.

Peringatan ini didedikasikan demi perdamaian dunia, dan secara khusus demi berakhirnya perang dan kekerasan, misalnya yang mungkin disebabkan oleh suatu gencatan senjata sementara di zona pertempuran untuk akses bantuan kemanusiaan.

Untuk membuka hari peringatan ini, Lonceng Perdamaian PBB dibunyikan di Markas Besar PBB di (Kota New York). Lonceng tersebut dibuat dari koin-koin yang disumbangkan oleh anak-anak dari seluruh benua selain Afrika, dan merupakan hadiah dari Asosiasi Perserikatan Bangsa-Bangsa dari Jepang, sebagai “suatu pengingat atas korban manusia akibat peperangan”, pada salah satu sisinya tertulis “Long Live Absolute World Peace” (Panjang umur perdamaian dunia sepenuhnya).

Hari Perdamaian Internasional pertama kali diperingati tahun 1982, dan dipertahankan oleh banyak negara, kelompok politik, militer, dan masyarakat.

Reporter: Ally Muhammad Abduh

Faksi Mujahidin Suriah Rebut Kembali Desa Alexandria-Hama dari Pasukan Assad

SURIAH (Jurnalislam.com) – Faksi mujahidin Suriah yang beroperasi di pedesaan utara Hama kembali menuai kemenangan dengan merebut beberapa desa dari cengkeraman pasukan rezim Assad setelah pertempuran sengit yang berlangsung selama beberapa jam, ElDorar AlShamia melaporkan Rabu (21/09/2016).

sumber media melaporkan, faksi mujahidin menguasai penuh desa Alexandria, selain wilayah pabrik setelah dikontrol oleh pasukan rezim Assad selama beberapa jam dengan dukungan dari serangan udara Rusia.

Sumber-sumber juga mengatakan bahwa sebuah tank dan dua kendaraan lapis baja lainnya hancur selama pertempuran yang berlangsung di garis depan Ma’ardes dan desa Alexandria serta merebut sejumlah besar senjata dan amunisi.

Pasukan Nushairiyah Assad dan didukung milisi Syiah Internasional berikut dukungan serangan udara Rusia telah berusaha untuk mendapatkan kembali daerah yang telah didominasi sebelumnya oleh faksi-faksi perlawanan di pedesaan utara Hama.