Kubu Terakhir Syiah Houthi di Jawf Direbut

YAMAN (Jurnalislam.com) – Tentara nasional Yaman dan Komite Perlawanan Rakyat pro-pemerintah pada hari Sabtu (01/10/2016) telah membebaskan desa Al-Gail di gubernuran utara Al-Jawf, kubu kunci terakhir bagi pemberontak Houthi yang didukung Republik Syiah Iran dan pasukan sekutu mereka yang setia kepada presiden terguling Ali Abdullah Saleh, kantor berita resmi Yaman mengutip satu sumber militer, Aljazeera melaporkan.

“Para pejuang tentara dan ketahanan nasional, yang didukung oleh jet tempur Koalisi Arab [yang dipimpin Saudi], melancarkan serangan pada hari Sabtu pagi di wilayah milisi Houthi di Al-Gail, dan membebaskan desa,” sumber militer mengatakan.

Dia menambahkan bahwa sejumlah pemberontakHouthi tewas dan terluka, sedangkan puluhan lainnya kabur dari medan perang.

Mengutip sumber militer, Agence France-Presse mengatakan pertempuran, dimana pasukan pro-pemerintah merebut kembali sebagian besar Ghail, menewaskan 11 milisi dan lima loyalis pemerintah.

Jawf terletak di perbatasan dengan Arab Saudi dan sebagian besar dikendalikan oleh pasukan loyalis.

Di wilayah Bab al-Mandab sendiri, pertempuran pada Sabtu menewaskan tiga loyalis dan melukai 17, kata sumber-sumber militer lainnya.

Bentrokan itu terjadi di daerah pegunungan Kahbub yang menghadap selat. Lima pemberontak juga tewas, kata sumber-sumber militer loyalis.

AFP tidak dapat memverifikasi jumlah korban pemberontak dari sumber independen, dan para pemberontak jarang mengakui kerugian mereka.

Sementara itu, Koalisi yang dipimpin Arab Saudi mengatakan bahwa serangan Houthi di sebuah kapal UEA yang membawa bantuan pada hari Sabtu di selat Bab al-Mandab sebagai “indikasi berbahaya.” Koalisi mengatakan bahwa warga sipil yang berada di atas kapal berhasil diselamatkan.

Pasukan loyalis merebut kembali pulau Perim di selat Bab al-Mandab pada Oktober tahun lalu, mendapatkan pijakan di jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Terusan Suez dan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudera Hindia.

Namun milisi Syiah masih menguasai beberapa ketinggian yang bisa mengawasi selat dari daratan, di mana telah terjadi pertempuran sengit dalam beberapa hari terakhir.

Sumber militer di Yaman mengatakan kepada AFP bahwa pemberontak Syiah Houthi menyerang sebuah kamp militer loyalis di daerah Bab al-Mandab, Sabtu.

Sementara itu, seorang pembom menargetkan daerah perumahan di kota pelabuhan Aden Yaman, Sabtu, menewaskan sedikitnya satu orang lain sipil dan melukai beberapa lainnya.
Hanya sedikit rincian yang telah muncul tentang bom bunuh diri yang terjadi di distrik Crater.

Namun, warga yang berada dekat dengan lokasi ledakan mengatakan bahwa sebuah mobil melaju mendekati area, kemudian seorang pria muda berusia sekitar dua puluhan keluar dan meledakkan dirinya sesaat setelah itu.

Sumber-sumber keamanan belum bisa memastikan siapa yang berada di balik serangan itu.

LSM: 1.176 Warga Sipil Tewas di Suriah Selama September

ISTANBUL (Jurnalislam.com) – Sebanyak 1.176 warga sipil tewas di seluruh Suriah dalam bulan September, pengawas hak asasi manusia yang berbasis di Inggris mengatakan, lansir Andolu Agency, Sabtu (01/10/2016).

Dalam laporan Sabtu, Jaringan Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan korban jiwa September termasuk 192 anak-anak dan 163 wanita.

“Sebanyak 57 warga sipil disiksa sampai mati oleh pasukan rezim Assad pada bulan September,” kata laporan itu.

Menurut LSM, serangan udara yang dilakukan oleh Rusia – sekutu utama rezim Bashar al-Assad – menewaskan 391 warga sipil di Suriah pada bulan September, termasuk 114 anak-anak dan 54 wanita.

“Rezim dan pasukan Rusia telah melanggar hukum hak asasi manusia yang menjamin hak untuk hidup,” kata LSM.

Laporan itu mengatakan bahwa sekitar 99 warga sipil, termasuk 17 anak-anak, tewas oleh militan IS.

Kelompok oposisi menewaskan 38 warga sipil, termasuk 19 anak-anak, sementara 14 orang tewas oleh serangan udara koalisi pimpinan AS pada bulan September, kata LSM.

Laporan ini melanjutkan untuk dicatat bahwa dua warga sipil, termasuk seorang wanita, tewas bulan lalu oleh PYD, sayap Suriah dari kelompok ektremis PKK.

Al Shabaab Targetkan Badan Intelijen Dan Keamanan Somalia dengan Bom Mobil

SOMALIA (Jurnalislam.com) – Sedikitnya dua orang tewas dan lima lainnya terluka setelah mobil yang sarat dengan bahan peledak meledak di dekat sebuah restoran di Mogadishu, menurut pejabat keamanan dan saksi kepada Aljazeera, Sabtu (01/10/2016).

Al-Shabab, afiliasi al Qaeda di Afrika terkunci dalam pertempuran melawan pemerintah Somalia dukungan Barat, secara teratur melontarkan serangan di Mogadishu, mengaku bertanggung jawab atas pemboman hari Sabtu tersebut, kata kantor berita Reuters.

Mobil itu diparkir di depan restoran Blue Sky, dekat jalan sibuk menuju markas Badan Intelijen dan Keamanan Nasional Somalia (the Somali National Intelligence and Security Agency-NISA) di distrik selatan Mogadishu.

Blue Sky terletak di dekat pusat penahanan, yang dikenal sebagai Jilaow, di mana jihadis yang tertangkap sering ditahan di sel bawah tanah.

Ledakan itu diledakkan dari jarak jauh di luar restoran, Mohamed Dahir, seorang juru bicara pasukan Somalia, mengatakan kepada kantor berita AFP, menambahkan bahwa “informasi yang kita punya sejauh ini menunjukkan bahwa dua warga sipil tewas dalam ledakan itu”.

Sumber mengatakan restoran tersebut sering dikunjungi baik oleh Aparat keamanan Somalia maupun warga sipil.

Namun Syeikh Abdiasis Abu Musab, juru bicara operasi militer al-Shabab, kepada Reuters, mengatakan, “Kami menargetkan pasukan keamanan dan petugas dari sel bawah tanah Jilaow yang berada di sana.”

Ia mengaku sedikitnya 10 orang tewas, tetapi tidak mengatakan apakah serangan itu menggunakan sebuah bom mobil, meskipun al-Shabab sering menggunakan taktik tersebut.

Reuters mengutip Abdifatah Omar, juru bicara pemerintah daerah Mogadishu, mengatakan bahwa tiga orang telah dikonfirmasi tewas di lokasi serangan sejauh ini dan empat lainnya luka-luka.

Jumlah korban yang diberikan oleh al-Shabab dan pejabat Somalia sering berbeda.

Mujahidin al-Shabab telah mengaku bertanggung jawab atas beberapa ledakan baru-baru ini di Mogadishu, termasuk pemboman mobil yang menewaskan seorang jenderal Somalia terkemuka dan beberapa pengawalnya.

Pada 30 Oktober nanti Somalia akan mengadakan pemilihan presiden yang selama ini tertunda saat negara menargetkan terciptanya kembali stabilitas yang telah lama ditunggu-tunggu.

Meskipun telah keluar dari ibukota pada 2011, al-Shabab masih menguasai hamparan luas daerah Somalia hingga pedesaan terpencil dalam melakukan operasi perang gerilya.

Turki Perpanjang Mandat Militer di Suriah dan Irak hingga September 2017

ANKARA (Jurnalislam.com) – Parlemen Turki pada hari Sabtu (01/10/2016) meloloskan mosi untuk memperpanjang mandat yang memungkinkan aksi militer di negara tetangga Suriah dan Irak selama satu tahun lagi, lansir World Bulletin.

Parlemen bersidang pada hari Sabtu, pada sidang parlemen baru hari pertama untuk membahas mandat saat ini yang akan berakhir pada 2 Oktober

Berdasar mosi baru itu, pemerintah Turki berwenang melancarkan operasi militer di Suriah dan Irak untuk memerangi kelompok yang mengancam negara. Operasi akan berlaku sampai 30 September 2017.

Menteri Pertahanan Fikri Isik sebelumnya mengatakan mandat tersebut akan memungkinkan Turki mengambil semua jenis tindakan yang diperlukan terhadap ancaman teroris dan risiko keamanan dalam kerangka hukum internasional.

“Perpanjangan mandat akan mendukung tindakan berkelanjutan pemerintah untuk mengakhiri ancaman teror secara permanen dan akan menjadi faktor alasan dalam menghadapi kelompok IS dan PKK,” kata Isik.

Mandat yang telah ada saat ini memungkinkan serangan militer ke Suriah dan Irak melawan ancaman yang mengarah ke Turki dan memungkinkan pasukan asing menggunakan wilayah Turki untuk melakukan operasi.

“friendly fire” Bunuh Lima Tentara Nasional Afghanistan dan Seorang Polisi

FARAH (Jurnalislam.com) – Serangan angkatan udara Afghanistan menewaskan lima tentara ANA (Afghanistan National Army) dan seorang polisi di Afghanistan barat, seorang pejabat, Sabtu (01/10/2016), dalam serangkaian insiden “friendly fire” terbaru, lansir World Bulletin.

Helikopter Afghanistan “keliru” membom pasukan mereka sendiri yang meminta bantuan serangan udara saat berperang melawan Taliban di daerah Kensk provinsi Farah Jumat, Dawlat Waziri, juru bicara kementerian pertahanan, mengatakan.

“Karena koordinat yang salah, helikopter membom sebuah pos pemeriksaan pasukan Afghanistan yang menewaskan lima tentara dan satu polisi,” katanya.

“Sebuah penyelidikan atas insiden tersebut telah diluncurkan,” tambahnya.

Bulan lalu serangan udara AS menewaskan delapan polisi Afghanistan di provinsi selatan Uruzgan, dalam insiden pertama seperti itu sejak pasukan Amerika diberi kekuasaan yang lebih besar untuk menyerang mujahidin Taliban.

Namun militer AS di Afghanistan berkelit pasukannya tidak terlibat dalam serangan udara di Farah.

Korban sipil dan militer yang tewas oleh NATO dan pasukan Afghanistan telah menjadi salah satu isu yang paling diperdebatkan dalam operasi 15-tahun melawan mujahidin Taliban, mendorong keras kritik publik dan pemerintah.

Sebuah serangan udara AS menewaskan 10 tentara Afghanistan pada bulan Juli tahun lalu di sebuah pos pemeriksaan militer di provinsi Logar di selatan Kabul, dan merupakan salah satu episode paling mematikan dari “friendly fire” oleh pasukan asing dalam beberapa tahun terakhir.

Afghanistan memiliki angkatan udara kecil dibandingkan dengan armada NATO, yang menyediakan pasokan bagi operasi militer, serangan udara dan evakuasi darurat sampai penarikan pasukan koalisi asing pada tahun 2014.

Angkatan udara baru-baru ini mulai melancarkan pemboman terhadap Taliban saat pertempuran mengamuk di beberapa provinsi di seluruh negeri.

Sementara di Daikundi media resmi Taliban, Al Emarah News, mengatakan sebanyak 73 personel ANA, ANP dan ALP telah bergabung pada Imarah Islam selama 3 pekan terakhir, menyerahkan 48 senapan, 4 senapan mesin PKM, 4 perangkat komunikasi, 48 rompi anti peluru dan sejumlah besar amunisi kepada Taliban.

 

50 Ormas Kurdi Kutuk Kebijakan PYD

SURIAH (Jurnalislam.com) – 50 organisasi masyarakat sipil menandatangani pernyataan mengutuk kebijakan Partai Uni Demokrat Kurdi (the Kurdish Democratic Union Party-PYD) terhadap tahanan dan menentang kebijakan partai, yang didasarkan pada tirani terhadap orang-orang yang tidak setuju dengan pendapat partai, ElDorar AlShamia melaporkan, Sabtu (01/10/2016).

Salinan pernyataan yang diperoleh koresponden ElDorar yang berbunyi: “Kami sebagai organisasi sipil mengutuk penangkapan yang dilakukan oleh Asayish yang berafiliasi dengan Partai Uni Demokrat melawan orang-orang yang bertentangan dengan mereka dalam pendapat, keyakinan dan aktivitas politik kebijakan damai, dan kami mengumumkan solidaritas kami dengan mereka serta berdiri bersama dengan para tahanan politik, dan kita menuntut untuk segera membebaskan semua tahanan, dan mengakhiri penahanan politik ini, memanggil organisasi hak asasi manusia dan kemanusiaan internasional agar campur tangan dengan cepat untuk melepaskan tahanan.”

Kampanye mogok makan, yang dilakukan oleh lawan partai berhenti setelah beberapa hari, karena tekanan dari orang tua para tahanan yang melakukan mogok makan, untuk menyelamatkan hidup mereka.

PYD sekitar sebulan lalu menangkap sejumlah pemimpin dan pendukung Dewan Nasional Kurdi, selama pemakaman milisi Peshmerga yang tewas dalam pertempuran melawan IS di Irak.

Serangan Udara Rezim Assad Hantam Rumah Sakit di Aleppo dengan Bom Barel

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Rumah sakit terbesar di kota Aleppo hancur hari Sabtu (01/10/2016) oleh serangan bom barel oleh pasukan rezim Suriah, menurut sumber-sumber pertahanan sipil setempat, lansir Anadolu Agency.

Sebuah helikopter rezim menjatuhkan bom barel di rumah sakit di distrik al-Sakhour. Rumah sakit bersama dengan sejumlah ambulans hancur, sumber-sumber, yang berbicara secara anonim karena masalah keamanan, mengatakan.

Menurut sumber, pasukan rezim Syiah Assad tersebut juga menargetkan tim bantuan yang membantu mengevakuasi korban dari rumah sakit.

Marwan Salim, seorang aktivis berbasis Aleppo, mengatakan sejumlah orang dilaporkan tewas dan terluka akibat serangan itu.

“Jet Rusia dan pasukan rezim secara simultan membombardir distrik al-Sakhour,” katanya kepada Anadolu Agency.

“Daerah Timur di kota Aleppo telah berada di bawah serangan intens selama 10 hari. Rusia menyerang menggunakan bom cluster sementara rezim menggunakan bom barel,” kata Salim.

Sejak 19 September, ketika rezim Nushairiyah Bashar Assad mengumumkan akhir gencatan senjata selama seminggu yang disponsori oleh Washington dan Moskow, pesawat-pesawat tempur Suriah dan Rusia menyerang wilayah Aleppo yang dikuasai pejuang Suriah.

f3a993f3-d983-4dca-b64e-c4b38c654fbc_cx0_cy10_cw0_w987_r1_s_r1

Sejumlah warga sipil dilaporkan tewas atau terluka dalam serangan, yang terus berkelanjutan.

Suriah telah terkunci dalam perang global sejak awal 2011, ketika rezim Assad menumpas para pengunjuk rasa yang meletus sebagai bagian dari “Gerakan Musim Semi Arab” – dengan keganasan militer Assad tak terduga.

Pusat Penelitian Kebijakan Suriah, sebuah LSM yang berbasis di Beirut, melaporkan total korban tewas akibat konflik lima tahun di Suriah berjumlah lebih dari 470.000.

Sejarah Lahirnya Komunisme Di Indonesia (Bagian 2) Sarekat Islam tanpa Islam?

Sarekat Islam tanpa Islam?

Revolusi di Rusia semakin membakar militansi kaum merah di Sarekat Islam. Kerjasama dua kubu dan saling silang soal prinsip mewarnai perjalanan Sarekat Islam. Namun konflik makin tajam saat Tjokroaminoto dituduh terlibat korupsi

 

Diantara berbagai ketidaksepahaman kubu kiri di Sarekat Islam, satu hal yang cukup krusial adalah soal agama. Kubu kiri ingin menarik Sarekat Islam ke arah netral agama. Mereka beralasan bahwa agama tidak menyediakan basis yang luas bagi aksi politk. Hal ini diperparah nantinya oleh usul Alimin Prawirodirdjo, yang menginginkan nama Sarekat Islam diganti menjadi Sarekat Hindia.[1] Persoalan agama sebagai landasan berjuang Sarekat Islam memang menjadi isu yang melandasi pertentangan antara kubu kiri dan Islam di SI. Isu ini nantinya akan semakin santer diperdebatkan, khususnya pasca terjadinya Revolusi 1917 di Rusia.

Revolusi 1917 mendapatkan sambutan hangat orang-orang kiri di Hindia Belanda khsusunya Sneevliet. Ia menulis sebuah artikel berjudul ”Zegepraal“ yang berarti kemenangan. Artikel ini memberikan dukungan agar rakyat Indonesia berjuang melawan imperialisme dan keterbelakangan feodal. Diserukannya,

”Disini ada satoe bangsa jang bersabar hati, sengsara, memikoel kesengsara’an, jalah satoe bangsa dari beberapa million djiwa telah beberapa abad…dan sesoedahnja Dipo Negoro, tiadalah ada bangoen lagi saorang banjak aken mereboet hak beoat mengatoer nasibnja sendiri. Hei, rajat bangsa Djawa, revolutie Rusland mengandoeng pengadjaran djoega bagi kamoe![2]

Tulisan ini membawa Sneevliet ke dalam masalah. Pemerintah kolonial bereaksi dengan menyeretnya ke pengadilan dan kemudian mengusirnya dari Hindia Belanda. Di Hindia Belanda orang-orang lintas pergerakan seperti Mas Marco hingga H. Fachrodin bereaksi menentang pengusiran Sneevliet.

1-4-sneevliet

Gambar 1.4 Sneevliet di Semarang tahun 1917. Sumber foto: iisg.nl

Memang, revolusi di Rusia bukan hanya disambut kaum kiri di Hindia Belanda, tetapi juga tokoh nasionalis semacam Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, yang pertama kali menerbitkan tulisan Sneevliet pada 19 Maret 1917 di De Indier, media massa yang dipimpinnya. Selain Dr Tjipto, Mas Marco juga menulis artikel yang menyambut revolusi tersebut. Ki Hajar Dewantara juga menyambutnya dengan menerjemahkan lagu Internationale. Semangat anti kapitalisme memang menjadi bahasa pada zaman itu. Tetapi Revolusi 1917, secara khusus semakin memperlihatkan kubu kiri yang bergerak diatas prinsip marxisme. Hal ini menjadi persoalan ketika kubu kiri juga turut meluaskan pengaruhnya di Sarekat Islam. Kecurigaan tokoh-tokoh Islam dalam SI seperti Abdoel Moeis dan Haji Agus Salim pada sepak terjang kubu kiri di SI sudah sejak lama. Menurut mereka dibalik Semaoen, ada sosok Sneevliet yang mengendalikannya.

”Lihatlah pekerdjaan Sneevliet, lebih dahoeloe ia petjah persekoetoean jang sebidji-bidjinja!

Sarekat Islam digojang Sneevliet!

Padahal masih banjak pekerdjaan jang lain, jang akan lebih berhasil dari ini kelakoean, jang ia soedah bikin.“[3]

Haji Agus Salim pun bereaksi atas pandangan marxis kubu kiri di SI. Dalam artikelnya di surat kabar Neratja pada 1 Oktober 1917, Haji Agus Salim menyebut kelompok SI Semarang sebagai kaum yang,
”…hendak membagi bangsa kita atas ’kaoem pekerdja‘ dengan ’kaoem bermodal.‘ Kaoem itoe jang membatalkan hak-milik, jang memakai nama ‘socialist‘ jang dibangoenkan dan dikembangkan dalam negeri ini oleh toean-toean Sneevliet, Baars d.l.l.“[4]

Haji Agus Salim juga mengkritik mereka dengan mengatakan, ”…kaoem ’socialist‘ itoe memboeta toeli sadja hendak memindahkan sengketa dan perselisihan di roemah tangganja (Eropa) ke tanah air kita.”[5]

Abdoel Moeis juga senada dengan Haji Agus Salim dan dengan terang menunjuk Sneevliet berada di balik Semaoen. Dalam tulisannya yang diterbitkan Sinar Djawa pada 2 Oktober 1917, Moeis menyebut,

”…SI Semarang masih koeat melengkat pada Sneevliet, karena dijwanja SI Semarang ialah Semaoen, sedang toelang tonggong Semaoen ialah Sneevliet.

Boekankah kita tahoe penghidoepan Semaoen ialah dari perkoempoelan VTSP, sedang Djiwanja VTSP ialah Sneevliet poela.“[6]

1-5-abdoel-moeis

Gambar 1.5 Abdoel Moeis. Sumber foto: Keith Foulcier (2005)

Semaoen menolak tuduhan Moeis ini. Dalam brosur Anti Indie Werbaar, Semaoen menyanggahnya seraya menyebutkan,”Sneevliet BOEKAN toelang poenggoeng saja, sebab semoea manoesia poenja fikiran sendiri-sendiri. Begitoepoen saja. Perkara SI tida ada perhoeboengan atoe pengaroeh dari Sneevliet.”[7]

Semaoen bisa saja menyanggah, tetapi tuduhan Abdoel Moeis kelak terbukti oleh pernyataan Sneevliet sendiri. Sneevliet menyebutkan,“The Sarekat Islam has provided us with the people for the unions which are developing in Java. The Sarekat Islam has also given us railway workers, the rest of the government employees and also workers in private enterprise. It is the task of the revolutionaries to develop the Sarekat Islam into a communist organisation; an organisation which will be a member of the Third International”[8]

Bagi Sneevliet, infiltrasi gerakan kiri ke dalam Sarekat Islam memberikan akses pada massa (kelompok) pekerja khsusunya buruh pekerja rel kereta. Adalah tugas bagi kelompok komunis untuk mengubah Sarekat Islam menjadi organisasi komunis, dan menjadikan Moskow dan Petrograd sebagai ‘Mekkah’ baru bagi Timur.[9] Senada dengan Sneevliet, aktivis ISDV,-organisasi kiri yang menjadi bagian dari Sarekat Islam- aktivis ISDV, Adolf Baars, menginginkan keterlibatan kelompok kiri di SI hanyalah sebuah ‘batu loncatan.’ Menurutnya ketika perkembangan SI mencapai titik akhir, SI akan kehilangan karakter relijius dan nasionalisnya dan hanya menganggap satu karakter kelas, saat itulah orang ISDV (sebagai organisasi kiri) yang ada di dalam SI hanya akan membiarkan perbedaan di tubuh SI (yang sudah lenyap ) menjadi persatuan aksi massa sosialis.[10]

1-6-pamplet-isdv

Gambar 1.6 Salah satu pamflet ISDV

Pengaruh kubu kiri dipimpin Semaoen kuat. Di Kongres Nasional Sarekat Islam ke-2 pada 20-27 Oktober 1917, kehadiran Semaoen menimbulkan dua mosi. Yang pertama penolakan indie werbaar dan yang kedua mosi pemecatan Semaoen.Akhirnya dicapai kompromi. Kedua mosi tersebut dicabut. CSI tetap mendukung indie Werbaar sebagai daya tawar untuk perjuangan menuju kedaulatan politik dan kesejahteraan. Kapitalisme juga menjadi pembahasan penting. Semaoen menolak adanya kapitalisme pribumi. Namun sikap SI diputuskan untuk menolak kapitalisme jahat sekaligus tidak menolak kapitalisme pribumi. Kongres CSI kedua tersebut menghasilkan keputusan yang membahas antara agama, kekuasaan dan kapitalisme dan menyimpulkan:

“Dengan tiada ferdoelikan segala igama jang lain, dan mengoesahakan kesabaran hati sebagai jang terboeka oleh Al-Qoeran dalam soerat Qoelya, maka Centraal Sarekat Islam pertjaja igama Islam itoe memboeka rasa fikiran demokratis.

Sambil mendjoendjoeng tinggi pada koeasa negeri. Maka Centraal Sarekat Islam menoentoet bertambah-tambah koeasa negeri, pengaroehnja segala golongan ra’jat Hindia di atas djalannja Pemerintahan agar soepaja kelak mendapat koeasa pemerintah sendiri (zelfbestuur). Boeat mentjapai hal itoe maka Centraal SI akan menggunakan segala kekoeatannja menoeroet djalan jang patoet. Centraal Sarekat Islam tidak menjoekai soeatoe bangsa berkoeasa di atas bangsa jang lain dan menoentoet soeatoe pihak keoasa negri akan memberikan perlindoenagna jang besar oentoek orang-orang jang lembek dan miskin baik beoat keperloean mentjari kepandaian, moepoen boeat keperloean mentjari makan. Centraal Sarekat Islam memerangi kekoeasannja kapitalsime jang djahat pada kejakinannja bahagian terbesar daripada pendoedoek boemipoetra amat boeroek adanja.[11]

Pengaruh kiri pada Sarekat Islam memang tak bisa dipungkiri. Perseteruan kedua kubu tidak bisa tidak juga saling mempengaruhi dan mencapai kompromi.

Hubungan tarik-menarik antara kedua kubu ini tetap dijaga oleh Tjokroaminoto. Tjokroaminoto adalah sosok pemersatu di Sarekat Islam. Baginya kedua kubu ini tetap harus dijembatani oleh dirinya. Pada kongres nasional kedua Sarekat Islam tahun 1918, Tjokroaminoto mengakomodir kubu kiri dengan mengangkat Semaoen sebagai komisaris CSI dan Dharsono, sebagai propagandis resmi CSI.[12]

Menjelang akhir 1918 keadaan semakin memburuk. Harga-harga melambung tinggi. Tak lagi terjangkau oleh rakyat. Pemerintah colonial dan sebagian besar anggota Volksraad lebih memihak pada pengusaha industri gula yang menolak untuk mengurangi wilayah perkebunan mereka untuk tanaman rakyat. Sarekat Islam mengadakan sidang di September 1918 untuk merespon keadaan ini. Kongres ini membicarakan badan penyokong untuk para aktivis yang terkena hantam tangan besi penguasa. Perbedaan pandangan kubu Semaoen dan Abdoel Moeis masih sangat tajam. Beberapa pokok perbedaan itu antara lain soal nasionalisme dan kapitalisme. Kubu Abdoel Moeis menolak dominasi satu bangsa atas bangsa lainnya. Sedangkan bagi kubu Semaoen, melawan kapitalisme adalah yang paling utama. Pun dalam menyikapi kapitalisme keduanya tak sejalan. Abdoel Moeis menganggap modal capital harus diserahkan kepada pengusaha-pengusaha pribumi, sedangkan kubu Semaoen menganggap harus diserahkan pada koperasi-koperasi. Dalam ihwal politik, Abdoel Moeis bagaiamanapun masih mengupayakan kerjasama dengan pemerintah, sesuatu yang ditolak sama sekali oleh kubu kiri.[13]

Semaoen, selain hal tadi, berhasil mempengaruhi kongres sehubungan dengan status Sneevliet. Semaoen mengusulkan agar Sneevliet menjadi wakil Sarekat Islam di Belanda. Namun usul ini ditentang banyak pihak karena khawatir SI akan menjadi alat dari Sneevliet. Akhirnya dicapai kompromi, Sneevliet diangkat menjadi wakil SI dengan mandate terbatas yang dapat dicabut sewaktu-waktu. Usul ini diterima dengan 5 : 4 dengan satu suara abstain. Usul lain Semaoen terkait dengan sikap SI terhadap orang-orang tionghoa. Semaoen mengusulkan agar Sarekat Islam tak lagi memusuhi orang-orang tionghoa. Karena musuh sebenarnya adalaha kapitalisme. Sidang memutuskan SI akan menyambut jika ada tawaran perdamaian dari orang-orang tionghoa, selama mereka mendukung pergerakan, membantu menghilangkan perbedaan dan tidak merintangi SI melawan kapitalisme. Lolosnya beberapa usulan Semaoen mencerminkan besarnya pengaruh kubu kiri kala itu.[14]

Perseteruan kubu kiri dan Islam di SI memang terus terjadi, namun mereka juga tetap bekerja sama dalam persoalan-persoalan lainnya. Termasuk perhatian Sarekat Islam pada buruh. Perhatian SI pada buruh sebenarnya bukan hal baru. Sejak awal, aktivis Sarekat Islam seperti Abdul Muis dan Haji Agus Salim sudah memberikan perhatian dan pembelaan mereka pada kaum buruh, terutama kuli kontrak di Deli, Sumatera Utara yang amat tertindas.[15]

Perhatian SI pada buruh semakin menguat dengan dibentuknya serikat buruh Personeel Fabriek Bond (PFB) yang dibentuk oleh Surjopranoto, seorang komisaris CSI yang dilantik berdasarkan kongres 1918. Surjopranoto yang lahir tahun 1871, adalah keturunan bangsawan dari keraton Pakualaman. Ia terlibat dalam pembelaan buruh di kelompok Prawiro Pandojo in Joedo, cabang perkumulan Adhi Dharmo. Surjopranoto, Voorszitter Sarekat Islam Jogjakarta. yang mendapat julukan ‘Si Raja Mogok ini,’ menegaskan perjuangannya membela kaum buruh. Ia menggugat “tuan-tuan kapitalis” yang hanya bertindak seenaknya, “tanpa berbitjara dengan boeroehnja? Pada taraf jang paling ringan mereka hanja memakinya; dan pada poentjak jang tertinggi mereka memoekoeli dan memetjatnya.[16]

PFB menjadi salah satu serikat buruh yang berkembang pesat diperkebunan pulau Jawa. Surjopranoto bersama PFB berhasil mengorganisir pemogokan-pemogokan buruh yang berhasil memperbaiki pendapatan kaum buruh. Disebabkan aksi-aksi pemogokannya, Soerjopranoto sampai dijuluki ‘Si Raja Mogok.’ PFB pada tahun 1920 memiliki anggota sebanyak 32 ribu orang. Tak ayal PFB menjadi salah satu serikat buruh terbesar di Hindia Belanda, bersama dengan VTSP yang diorganisir oleh SI Semarang di bawah Semaoen. Surjopranoto berhasil ‘menarik’ pusat pergerakan dari Semarang ke Jogjakarta. Persaingan ini kemudian semakin mengokohkan perseteruan dengan kubu kiri di Sarekat Islam.

1-7-buruh-pabrik-gula

Gambar 1.7 Buruh pabrik gula di Jawa tahun 1919. Sumber foto: lens.blogs.nytimes.com

Selain Semarang dan Jogjakarta, satu daerah lain memunculkan peta kekuatan baru di Sarekat Islam, yaitu Surakarta, dengan munculnya nama Haji Misbach. Nama Haji Misbach tak bisa dilepaskan dari terjadinya peristiwa penistaan terhadap Nabi Muhammad (SAW) oleh artikel Djojodikoro dalam Djawi Hisworo pada awal Januari 1918. Artikel tersebut menghina Rasulullah (SAW) dengan menyebut Rasulullah sebagi peminum Gin (sejenis minuman keras) dan penghisap opium. Sontak terbitnya artikel ini menimbulkan kemarahan dan protes umat Islam. Sarekat Islam dibawah Tjokroaminoto kemudian membentuk milisi bernama Tentara Kandjeng Nabi Moehammad (TKNM). TKNM berhasil mengadakan protes serentak pada 24 Februari 1918 dilebih dari 42 tempat di Jawa dan Sumatera, dan mengumpulkan massa sebanyak 150 ribu orang.[17]

Di Surakarta sendiri, SI Surakarta menolak untuk mendukung aksi ini, karena menganggap apa yang dilakukan oleh Djawi Hisworo sebagai kebebasan pers. Aksi anti Djawi Hisworo digerakkan oleh Haji Misbach. Ia adalah mubaligh yang banyak berdakawah di berbagai lapisan masyarakat dan menyentuh beragam sektor termasuk ekonomi dan media massa. Lewat media massa yang dipimpinnya, yaitu Medan Moeslimin dan kemudian Islam bergerak ia banyak menyampaikan aksi protesnya. Mengendornya TKNM dan diikuti dengan kacaunya kordinasi serta pengelolaan keuangan di TKNM membangkitkan kekecewaan Haji Misbach.[18]

Haji Misbach yang bergabung dengan Mas Marco Kartodikromo dalam Inlandsche Journalisten Bond (IJB) memang menjadi tokoh yang frontal mengkritik pemerintah kolonial. Hal ini membuatnya dipenjara oleh pemerintah kolonial. Selepas dari penjara, pandangan-pandangannya yang menentang kapitalisme kemudian membuatnya dikenal sebagai Haji komunis, tokoh yang menggabungkan pemikiran Islam dengan komunisme.

Kepedulian H. Misbach pada rakyat kecil dan kebenciannya terhadap sistem kapitalisme yang mengeksploitasi rakyat pada masa itu membuatnya tertarik dengan pemikiran komunisme. Bagi H. Misbach seorang muslim sejati pasti adalah seorang komunis, begitu pula sebaliknya. Seorang komunis yang masih membenci agama Islam, maka dia bukanlah komunis sejati atau orang yang belum mengerti hakikat komunisme. H. Misbach menganggap Muhammadiyah dan kubu Tjokroaminoto di Sarekat Islam adalah kapitalis. Dalam tulisannya yang berjudul Islamisme dan Komunisme, Haji Misbach menganggap Sarekat Islam dan Muhammadiyah sebagai racun. ”Sebaliknya untuk orang yang […] mengakunya, seperti: Mohammadiyah dan SO Tjokro, musti saya keterangan hal […] dianggap sebagai racun saja. Keduwa golongan ini (M.D dan Tjokrio) bukannya mereka menggerakkan agama […] yang sejati…“[19]

 

Serangan-serangan Haji Misbach kepada Muhammadiyah semakin keras selepas disiplin partai di Sarekat Islam. Dalam Medan Moeslimin No. 24 tahun 1922 misalnya, Haj i Misbach menulis,

”Nah sekarang tuan-tuan pembaca bisa fikir sendiri, sudah terang sekali H.A Dahlan dan sikap Muhammadiyah pada waktu sekarang ini perlu membuang IMAM kepada Al-quran, bisa juga H. A. Dahlan menjalankan sikapnya kanjeng Nabi Muhammad, sebab Kanjeng Nabi tidak suka menjilat kepada orang Musyrik di Mekkah,…“[20]

Tuduhan Muhammadiyah adalah kapitalis sebetulnya tak berdasar. H. Fachrodin, salah seorang tokoh SI dari Muhammadiyah telah terang menolak kapitalisme. Bahkan ia pernah dipenjara oleh pemerintah kolonial karena mengkritik praktek eksploitasi terhadap rakyat di Jawa. Meski demikian tuduhan agen kapitalis tetap ditujukan kepada dirinya. Hal ini bermula dari upaya H. Fahcrodin meminjamkan uang untuk Perserikatan Pegawai Pegadaian Boemipoetra (PPPB). KH. Ahmad Dahlan lewat Muhammadiyah mencarikan pinjaman bagi PPPB. Dan Muhammadiyah terpaksa meminjam uang dan menanggung bunganya. Hal ini langsung diserang oleh Haji Misbach yang menganggapnya melakukan praktek rentenir dan mencap Haji Fahcrodin sebagai ´agen kapitalis.‘[21]

Menanggapi serangan-serangan ini, Haji Fachrodin dalam Kongres Muhammadiyah tahun 1925, mengingatkan para peserta kongres. Majalah Soewara Moehaammadiyah No. 6 tahun 1925 melaporkan pernyataan Haji Fahcordin tersebut,

”Zaman baroe, fikiran orang baroe djoega. Moesoeh-moesoeh Islam memakai djalan baroe djoega, dengan djalan jang roepa-roepa sekali. Kita haroes membaharoe roh kita lagi, djangan senantiasa banjak loepa. Koerang hati-hati itoe menjebabkan keroegian Islam. Djangan kita salah, mana jang memang teman dan mana jang memang boekan…“[22]

1-8-fachrodin

Gambar 1.8 Haji Fachrodin. Sumber foto: Mu’arif. 2010. Benteng Muhammadiyah; Sepenggal Riwayat dan Pemikiran Haji Fahcrodiin. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah

Hadirnya Haji Misbach di Surakarta, memberikan peta baru konflik di Sarekat Islam. Di Kubu kiri SI Semarang bersama SI Surakarta menjadi seteru sengit kelompok Islam dibawah Haji Agus Salim – Abdul Muis, Haji Fachrodin, dan Surjopranoto. Keputusan Tjokroaminoto mengakomodir Semaoen dan Darsono dalam kepengurusan CSI tak meredam konflik. Kedua kubu bersaing dalam kedudukan di federasi Serikat buruh yang dibentuk pasca kongres SI tahun 1919. Federasi itu bernama Persatoean Pergerakan Kaoem Boeroeh (PPKB) dan berdiri pada 15 Desember 1919. Semaoen menjadi Presiden federasi sementara Surjopranoto menjadi wakilnya. Semaoen berhasil menggerakkan PPKB sebagai salah satu kekuatan yang membela kepentingan buruh. Seperti pada aksinya yang berhasil menekan percetakan Van Dorp untuk menaikkan upah buruh dengan menggalang pemogokan pada bulan Februari hingga April 1920. Keberhasilan ini tak lepas dari sikap Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum yang cukup netral. [23]

Sayangnya, PPKB juga menjadi ajang tarik menarik antar dua kubu. Wakil presiden PPKB, Surjopranoto meminta agar Yogyakarta menjadi pusat dari federasi ini. Semaoen menganggap pergeseran pusat federasi sebagai upaya mengurangi pengaruhnya kiri di PPKB. PPKB Meski sempat bekerja sama dalam PPKB, namun perpecahan antara diantara kedua gerakan buruh tersebut terjadi ketika PFB di bawah Surjopranoto hendak melaksanakan pemogokan dan menekan Sindikat Pabrik Gula. Namun Sindikat Pabrik Gula menolak melakukan negosiasi dengan PFB. Di satu sisi, permintaan PFB kepada PPKB (Semaoen) untuk mendukung pemogokan ditanggapi tak sepenuh hati oleh PPKB. Semaoen menganggap pemogokan ini tak efektif. Semaoen pun mengirimkan pesan untuk membatalkan rencana pemogokan, namun ternyata rencana ini bocor dan disiarkan oleh reporter Belanda. Rencana pemogokan ini hancur, meruntuhkan gerakan PFB. Kubu Surjopranoto dan Haji Agus Salim menuding Semaoen tak mendukung mereka.[24]

Sikap kubu kiri dibalas oleh kubu Surjopranoto dan Haji Agus Salim. Menjelang kongres Sarekat Islam di bulan Oktober, Semaoen yang sedang berada di Moskow mengirimkan Darsono sebagai wakil ISDV, namun ditolak oleh pengurus CSI karena Dharsono bukan anggota penuh. Absennya Tjokroaminoto yang saat itu tengah disibukkan oleh kasus ‘SI Afdeling B’ di Cimareme, membuat kedua kubu tak terjembatani. Anehnya sikap CSI dibalas oleh Dharsono dengan menuduh Tjokroaminoto terlibat skandal penggelapan dana.

Tanggal 9 Oktober 1920, Dharsono menulis di Sinar Hindia, “Mengapa CSI tidak punya uang, sedang Tjokro kelimpahan?” Tulisan ini menuduh Tjokro melakukan penggelapan uang. Tuduhhan yang sampai-sampai memunculkan istilah “Men-Tjokro”, sebuah istilah yang merujuk pada kegiatan penggelapan. Buya Hamka mengingat segala serangan pada Tjokroaminoto tersebut. Menurutnya ketika itu Tjokroaminoto, “Dihantam, ditjatji, dan dimaki habis-habisan dalam ssk, kaum Komunis, dituduh pemeras rakjat, penipu dan penggelapkan uang. Orang-orang jang menggelapkan uang kas-negeri disebut ‘mentjokro!’ Tidak dibedakan urursan person dengan urusan faham.”[25]

1-9-darsono

Gambar 1.9. Darsono. Sumber foto: De Tribune, 21 Juni 1929

Tuduhan tersebut sangatlah berlebihan. Karena bagaimana pun, ketidakcakapan mengelola keuangan bukan berarti penggelapan dalam mengelola keuangan.[26] Semaoen sendiri menanggapi negatif kritik Dharsono, terutama melihat akibat buruk dari kritik tersebut. Dan memang tuduhan Dharsono pada Tjokroaminoto tak pernah dapat dibuktikan. Tan Malaka pun mengakui kritik ini mengacaukan kerjasama kelompok kiri dengan kubu Islam di Sarekat Islam.[27]

 

[1] McVey, Ruth. 2010. Kemunculan Komunisme di Indonesia. Depok: Komunitas Bambu.

[2] Kemenangan dalam Surat Kabar Pertimbangan, 22 Maret 1917.

[3] Soewarsono. 2000.

[4] Surat kabar Neratja 1 Oktober 1917

[5] Ibid

[6] Soewarsono. 2000.

[7] Ibid

[8] Bing, Dov. Lenin and Sneevliet: The Origins of The Theory of Colonial Revolution in The Dutch East Indies dalam New Zealand Journal of Asian Studies, 11, 1 (June 2009)

[9] McLane , Charles B. 1966. Soviet Strategies in Southeast Asia. New Jersey: Princeton University Press.

[10] McVey, Ruth. 2010.

[11] Gie, Soe Hok. 1999.

[12] Ibid

[13] Ibid

[14] Ibid

[15] Rizkiyansyah, Beggy. 2014. Membela Peluh Buruh. http://jejakislam.net/?p=340. Diakses pada 2 September 2016

[16] Budiawan. 2006. Anak Bangsawan Bertukar Jalan. Yogyakarta: LKiS.

[17] Shiraishi, Takashi. 2005.

[18] Ibid

[19] Misbach, H.M. 2016. Islamisme dan Komunisme dalam Haji Misbach Sang Propagandis. Yogyakarta: Octopus.

[20] Misbach, H.M. 2016. Verslag dalam Haji Misbach Sang Propagandis. Yogyakarta: Octopus.

[21] Mu’arif. 2010. Benteng Muhammadiyah; Sepenggal Riwayat dan Pemikiran Haji Fahcrodiin. Yogyakarta: Swara Muhammadiyah.

[22] Ibid

[23] Soewarsono. 2000.

[24] McVey, Ruth. 2010, Rambe, Safrizal. 2008 dan Soewarsono. 2000.

[25] Hamka. 1957. Ajahku; Riwajat Hidup DR. H. Abd Karim Amrullah dan Perdjuangan Kaum Agama di Sumatera. Djakarta: Penerbit Djajamurni.

[26] McVey, Ruth. 2010 dan Shiraishi, Takashi. 2005.

[27] Malaka, Tan. 1922. Komunisme dan Pan-Islamisme. https://www.marxists.org/indonesia/archive/malaka/1922-PanIslamisme.htm. Di akses pada 1 September 2016.

Sejarah Lahirnya Komunisme di Indonesia (Bagian 1) Berawal dari Sarekat Islam

Berawal dari Sarekat Islam

Lahirnya Sarekat Islam menandai gerakan baru pribumi di Hindia Belanda. Kemudian dari dalam muncul kaum merah yang radikal. Cikal bakal gerakan komunis di Indonesia. Perselisihan dalam tubuh Sarekat Islam pun tak bisa dihindari.

 

Hindia Belanda (Indonesia) diawal abad ke 20 adalah sebuah negeri yang telah melalui zaman yang berbeda. Selepas sistem ekonomi kolonial yang mengeksploitasi alam habis-habisan melalui tanam paksa (culturstelsel), tanah air kembali diperas bersama manusianya dengan munculnya perkebunan-perkebunan milik swasta asing. Situasi sosial dan ekonomi di Hindia Belanda ditandai dengan berbagai perubahan. Kantor pelayanan publik bermunculan, perusahan-perusahan swasta hadir di Hindia Belanda, industri seperti gula dan tembakau menjadi tulang punggung baru ekonomi di Hindia Belanda. Namun semua itu hadir bukan demi rakyatnya, tetapi demi mengokohkan kolonialisme di Hindia Belanda.

Orang-orang pribumi saat itu juga mulai menikmati pendidikan di sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah kolonial. Politik etis yang mendorong pendidikan untuk orang pribumi sejatinya hanyalah kaki-kaki untuk menopang kolonialisme di Hindia Belanda. Kelak orang-orang pribumi yang mengecap pendidikan diproyeksikan sebagai petugas-petugas dalam sistem ekonomi kolonial. Meskipun begitu, bagi orang-orang pribumi pendidikan dapat menjadi pendongkrak status sosial. Pendidikan di sekolah kolonial tetap dianggap sebagai sesuatu yang menjanjikan bagi masa depan.

Orang-orang pribumi terdidik secara barat ini kemudian mendapatkan pencerahan baru dengan memasuki era media massa. Media massa lokal menjamur menjadi sumber pencerahan. Ratna Doemillah, Medan Prijaji atau Sinar Djawa dikenal sebagai media massa lokal saat itu. Media massa bukan satu-satu penanda perubahan zaman. Penanda lain adalah dimulainya organisasi-organisasi bagi orang pribumi, terutama Sarekat Islam sebagai simbol kebangkitan orang-orang pribumi. Hadirnya Sarekat Islam memberikan rasa harga diri bagi orang pribumi. Meski awalnya didirikan sebagai perkumpulan untuk dagang, namun dalam perkembangannya Sarekat Islam menjadi organisasi massa yang menyuarakan kepentingan rakyat, bukan sekedar perkumpulan tetapi menjadi pergerakan nasional.

Sarekat Islam meroket dan merebut hari masyarakat pribumi ketika itu. Jumlah anggotanya meledak, Dari 35 ribu orang di Agustus 1914, pada tahun1915, Sarekat Islam telah memiliki 490.120 anggota. Bahkan pada tahun 1919, anggota Sarekat Islam telah mencapai 2 juta orang.[1] Sarekat Islam memang mampu menyatukan penduduk pribumi. Agama Islam sebagai pengikat yang erat diantara masyarakat Hindia Belanda ketika itu. Kala itu, menyebut orang pribumi berarti adalah orang Islam. Sarekat Islam mampu menyatukan rakyat pribumi dari berbagai lapisan, mulai dari kalangan bangsawan, terdidik barat, petani, buruh hingga para ulama.

Atas azas Islam ini pula SI memilki daya ikat yang luar biasa. Bagi SI, agama Islam bukanlah sekedar ‘jualan’ untuk mengumpulkan massa, seperti yang dituduhkan sebagian kalangan. Dampak dari hadirnya Sarekat Islam amat terasa pada sisi keshalehan. Masjid-masjid menjadi lebih penuh, bukan hanya di hari Jumat, tetapi juga di hari-hari biasa. Ada kalanya masjid-masjid sampai penuh sesak tak mampu menampung jamaah. Banyak pekerja yang meminta libur pada hari Jumat. Di Menggala, Lampung, misalnya, warung tutup saat waktu Jumat.[2]

Tak dapat dipungkiri, Sarekat Islam mendapatkan tempatnya di hati rakyat juga karena karisma HOS Tjokroaminoto sebagai pemimpin pergerakan. Ia membawa Sarekat Islam menjadi organisasi nasional yang memihak kepentingan rakyat. Sarekat Islam memang tak dikekang oleh pemerintah kolonial. Gubernur Jenderal Idenburg menanggap kemunculan Sarekat Islam sebagai dampak dari politik etis yang mereka lakukan. Cepat atau lambat akan ada pergerakan semacam Sarekat Islam. Alih-alih mengekangnya, pemerintah kolonial memilih bersikap koperatif terhadap Sarekat Islam. Tjokroaminoto di lain sisi juga tidak bersikap frontal terhadap pemerintah kolonial. Indische Partij (IP) yang digerakkan oleh Douwes Dekker, dr. Tjipto Mangoenkoeseomo dan Ki Hajar Dewantara menjadi contoh dari sikap frontal terhadap pemerintah kolonial. Mengusung slogan “Hindia untuk Hindia”, IP dengan cepat dibungkam oleh pemerintah.

Di bawah kepemimpinan Tjokroaminoto, Sarekat Islam berdiri di berbagai daerah, bahkan hingga luar pulau Jawa seperti Bali, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan hingga Maluku. Untuk memudahkan kordinasi dengan berbagai cabangnya (afdeling), dibentuk Centraal Sarekat Islam (CSI). CSI tidak memiliki kuasa atas cabang-cabangnya. Setiap afdeling SI memiliki otonomi tersendiri.[3] Salah satunya adalah Sarekat Islam cabang Surakarta dan Semarang, yang akan banyak berseberangan dengan CSI di bawah Tjokroaminoto.

SI Surakarta setelah menjadi tempat berdirinya Sarekat Islam, lama-kelamaan kehilangan pengaruhnya di bawah Haji Samanhoedi. Dilanda beberapa pengunduran diri pengurusnya yang berasal dari kalangan Kesunanan akibat tekanan pemerintah kolonial, SI Surakarta kemudian mendapat suntikan tenaga muda dari sosok Mas Marco Kartodikromo. Mas Marco yang sebelumnya bekerja di Medan Prijaji, menjadi editor Sarotomo, penerbitan media massa berkala dari Sarekat Islam Surakarta. Ia juga ditunjuk sebagai Komisioner SI. Mas Marco memiliki pendirian yang berbeda dengan Tjokroaminoto.[4]

1-1-rapat-si

Gambar 1.1 Pertemuan Sarekat Islam di Blitar tahun 1914. Sumber foto: KITLV Digital Media Library

Mas Marco Kartodikromo lahir di Cepu tahun 1890. Seperti mentornya, Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara), ia adalah tokoh yang frontal mengkritik kebijakan pemerintah kolonial. Tahun 1914 ia mendirikan Indische Journalisten Bond (Ikatan Jurnalis Hindia). Ia juga menerbitkan Doenia Bergerak. Lewat Doenia Bergerak, ia mengkiritk Dr. Rinkes, Penasehat Urusan Pribumi, yang juga berhubungan baik dengan Tjokroaminoto. Sikap frontal Marco mengkritik pemerintah kolonial membuatnya dijerat dengan delik pers (persdelichten). Tahun 1915 ia dihukum selama 7 bulan penjara.[5] Sikap berseberangan CSI dengan cabang Sarekat Islam bukan hanya terjadi pada SI Surakarta saja, tetapi juga dengan SI Semarang.

SI Semarang memiliki sikap yang berseberangan dengan CSI sejak Semaoen, memegang kendali Sarekat Islam Semarang. Semaoen, yang lahir tahun 1899, awalnya adalah seorang juru tulis di Staatsspoor. Ia kemudian bergabung dengan SI Surabaya tahun 1914 dan terpilih menjadi sekertarisnya. Tahun 1915, Semaoen bertemu dengan Sneevliet dan segera tertarik dengan aktivitasnya. Semaoen kemudian bergabung dengan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV), sebuah perkumpulan yang awalnya adalah klub debat kaum sosial demokrat di Hindia Belanda. Selain ISDV, Semaoen juga bergabung dengan VSTP (Vereniging van Spoor Tramweg Personal), serikat buruh kereta di Hindia Belanda. Di VSTP, Semaoen segera berperan besar terutama dalam menggerakan pemogokan-pemogokan buruh.[6]

1-2-semaoen

Gambar 1.2 Semaoen. Sumber foto: wikipedia

Sosok Semaoen memang tak bisa dilepaskan dari figur Sneevliet sebagai mentornya. HJFM Sneevliet awalnya adalah aktivis serikat buruh di Belanda. Ia kemudian datang ke Hindia Belanda, mendirikan ISDV dan bergabung dengan VSTP. Di tangan Sneevliet, VSTP yang awalnya didominasi orang Eropa dan indo segera didominasi orang-orang pribumi.

Semaoen di VSTP segera menjadi salah satu pemimpinnya. Ia mampu menggerakkan berbagai pemogokan buruh. Begitu pula dengan perannya di Sarekat Islam. Sejak pindah dari SI Surabaya ke SI Semarang, Semaoen mampu menjadi ketua SI Semarang. Ia mampu menggaet anggota SI Semarang dari 1700 orang di tahun 1916, setahun kemudian menjadi 20 ribu orang. Melalui surat kabar Si Tetap dan Sinar Djawa, Semaoen menyuarakan berbagai kritik kerasnya kepada pemerintah kolonial.

Keadaan tahun 1917-1918 menyengsarakan. Kebijakan pemerintah kolonial semakin menjadi-jadi. Di tengah situasi sulit yang mencekik rakyat, keberpihakan pemerintah kolonial malah condong kepada pengusaha perkebunan. Air untuk irigasi sawah rakyat hanya diperbolehkan pada malam hari. Siang hari air mengalir untuk perkebunan. Rakyat yang pada siang hari sudah bekerja, harus bekerja keras lagi pada malam harinya mengawasi irigasi. Semaoen dalam Sinar Hindia menulis,”Ra’jat Hiindia tidak poenya keperloean sama sekali fatsal adanja fabrik goela, ondermining thee, koffie, rubber dan sebagainja jang bagitoe banjak, sebab hasilnja kapitalis loear Hindia dan loear negeri Belanda, sebab adanja ini semoa meroesak kemadjoen peroesahaan tanah boemipoetra, peroesahaan jang mana perloe sekalo boeat keselamatan ra’jat Hindia jang sebagian besar bikin merdeka boemipoetra dalam pentjarian idoepnja dan bikin makanan di sini.“[7]

Kritik keras Semaoen lewat SI Semarang ternyata bukan saja ditujukan pada pemerintah kolonial, namun juga kepada Centraal Sarekat Islam (CSI). SI Semarang di bawah Semaoen menjadi oposisi bagi CSI. Beberapa isu keduanya bersebarangan. Salah satunya adalah mengenai Ketahanan Aksi Hindia (Indie Werbaar Actie). Meletusnya Perang Dunia I, membuat para pengusaha di Belanda khawatir, ditambah lagi bahwa Hindia Belanda akan terseret juga ke dalam kancah peperangan tersebut dan merugikan kedudukan dan modal mereka di Hindia Belanda. Untuk itu mereka hendak memperkuat pertahanan mereka. Ini berarti orang-orang pribumi di Hindia Belanda dilibatkan sebagai milisi untuk mempertahankan wilayah mereka.

Wacana ini disambut dengan berbagai pendapat. Bagi CSI, Indie Werbaar dapat menjadi daya tawar untuk memperoleh kedaulatan politik di Hindia Belanda. CSI mendukung Indie Werbaar, dengan syarat rakyat Hindia Belanda memperoleh perbaikan kesejahteraan, perluasan pendidikan, hingga kedudukan yang sama dengan orang eropa di mata hukum. Melalui mosi pada kongres nasional pertama Sarekat Islam, mengemukakan bahwa lembaga perwakilan di Hindia Belanda yang dipilih oleh orang-orang pribumi (Indonesia) sendiri dan dipercayakan untuk mengelola pertahanan Indonesia. CSI, khususnya Moeis memang melihat Indie Werbaar lebih dari sekedar soal pertahanan tetapi juga ekonomi dan politik. Melalui lembaga perwakilan rakyat orang-orang pribumi, pada akhirnya nanti Indonesia akan memperoleh kemerdekaan penuh.[8]

Sebaliknya, kubu SI Semarang dibawah Semaoen menolak keras rencana ini. Menurut Semaoen, Indie Werbaar hanya akan merugikan rakyat. Menjadikan rakyat tameng kepentingan kolonial di Hindia Belanda. Dalam tulisannya di Sinar Hindia bulan Agustus tahun 1918, Semaoen menyebutkan orang-orang Jawa sudah melarat, hidup di kandang babi, hanya tulang dan berbalut kulit, maka ”djangan gembar-gembor paksa wong djowo djadi pemboenoeh.“[9]

Sikap SI di mata pemerintah kolonial sebenarnya juga dianggap sikap yang meragu. Rinkes dalam suratnya pada Gubernur Jenderal tanggal 10 Maret 1916 menyimpulkan bahwa alih-alih membuat satu mosi mendukung Indie Werbaar, Tjokroaminoto malah mengusulkan adanya Volksvertegen woordiging, atau perwakilan rakyat dijamin adanya.

Abdoel Moeis adalah salah satu tokoh CSI yang mempropagandakan perlunya dewan rakyat di Hindia Belanda. Bahkan ketika ia berkunjung ke Belanda untuk bertemu dengan pemerintah Belanda dengan tegas menyebutkan tujuan SI adalah otonomi politik. Meskipun ia juga menambahkan sejauh ini CSI puas di bawah kekuasaan Belanda selama pemerintah bisa bersikap cukup adil. Bagaimanapun, pernyataan Moeis membuat Gubernur Jenderal risau. Pemerintah kolonial pada desember 1916 memang akhirnya mengesahkan UU mengenai Volksraad (dewan rakyat). Namun dewan ini baru dipilih oleh pemerintah kolonial saat tahun 1918. Meski Volksraad hanya sebatas penasehat tanpa ada kewenangan lebih, namun CSI mendukung adanya Volksraad dan bersedia mengirimkan wakilnya duduk di Volksraad. Hal ini disebabkan karena CSI menganggap Volksraad sebagai transisi menuju otonomi politik.[10]

 

Gambar 1.3 Delegasi Indiewerbaar di negeri Belanda. Abdoel Moeis ketiga dari kiri. Sumber foto: Foulcier, Keith. 2005. Biography, History and The Indonesian Novel Reading Salah Asuhan. BKI 161-2/3

SI Semarang lagi-lagi bersikap berseberangan dengan CSI. Menurut mereka Volksraad hanyalah toneel (komedi) dan omong kosong. Kritik Semaoen sebagai wakil dari SI Semarang sangat pedas. Baginya Volksraad hanya mengelabui rakyat, seakan-akan pemerintah mendengarkan suara rakyat, padahal sebaliknya. Persoalan komposisi pemilihan anggota pun dianggap bermasalah karena hanya Tjoroaminoto yang dianggapnya mewakili kaum kromo. Semaoen mengajak rakyat untuk dijadikan wayang orang dalam toneel volksraad. Bagi Semaoen,“ Boekan ’Volksraad‘ jang akan bikin baik nasibnja ra’jat, tetapi gerakannja ra’jat sendiri“. Bersambung

Penulis: Tim Jurnalis Islam Bersatu (JITU) dan Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)

 

1 Korver, A.P.E. 1985. Sarekat Islam Gerakan Ratu Adil? Jakarta: Grafiti Pers

2 Ibid

3 Jaylani, Timur. 1959. Sarekat Islam: Its Contribution to Indonesian Nationalism. Tesis tidak diterbitkan untuk Institute Islamic Studies, McGill University, Montreal, Canada.

[4] Shiraishi, Takashi. 2005. Zaman Bergerak; Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti

[5] Ibid

[6] Soewarsono. 2000. Berbareng Bergerak; Sepenggal Riwayat dan Pemikiran Semaoen. Yogyakarta: LKiS

[7] Gie, Soe Hok. 1999. Di Bawah Lentera Merah. Yogyakarta: Bentang Budaya

[8] Noer.

[9] Rambe, Safrizal. 2008. Sarekat Islam Pelopor Bangkitnya Nasionalisme Indonesia 1905 -1942. Yayasan Kebangkitan Insan Cendikia

[10] Ibid

 

Adakan Seminar Jurnalistik , BGF Targetkan 1 Jurnalis Tiap Masjid Se-Jabar

BOGOR (Jurnalislam.com) – Bidik Global Foundation bersama Jurnalis Islam Bersatu (JITU) menggelar seminar dan pelatihan jurnalistik. Acara bertajuk “One Masjid One Journalist” digelar di Hotel Salak The Heritage Bogor, Sabtu (1/10/2016).

Inisiator acara, Iyus Khaerunnas Malik mengatakan, acara seminar dan pelatihan dimaksudkan untuk melahirkan satu orang jurnalis untuk satu masjid. Sebab, itu merupakan agenda yang efektif untuk memperlebar sayap informasi Islam.

“Untuk memantau isu-isu yang berkembang, harus mempunyai kemampuan jurnalistik agar mempunyai data. Bukan cuma sekadar tulisan yang kurang jelas,” katanya dalam pembukaan acara.

Direktur Bidik Global Foundation itu menegaskan, pihaknya akan serius menggarap gagasan itu dengan menargetkan Jawa Barat daerah awalan untuk mengimplementasikan program tersebut.

“Membuat laskar media, satu masjid satu jurnalis. Kita akan mengembangkan se-Jawa Barat,” tegasnya.

Seminar menghadirkan para jurnalis-jurnalis muslim senior seperti Surya Facrizal Ginting (Hidayatullah), Beggy Rizkiyansyah (jejakislam.net), Dr. Erma Pawitasari (penulis) dan Syaiful Falah ( suara-islam.com).