Jund al Aqsha Serahkan 57 dari 230 Tahanan Ahrar al Syam kepada JFS

SURIAH (Jurnalislam.com)Jund al Aqsha menyerahkan 57 tahanan Ahrar al Syam kepada Jabhat Fath al Syam (JFS) setelah ketegangan baru meletus di Suriah utara antara sejumlah faksi jihad dengan Jund al Aqsha, yang berlangsung selama tiga hari sebelum JFS turut campur menyelesaikan masalah dan membuat kesepakatan dengan faksi-faksi jihad untuk membubarkan faksi Jund al-Aqsha, ElDorar AlShamia melaporkan, Selasa (11/10/2016).

Sumber jaringan berita ElDorar menjelaskan bahwa JFS telah menerima 57 tawanan yang dibebaskan oleh Jund al-Aqsha. Dari 230, tersisa 173 tahanan yang akan diserahkan kepada Ahrar al Syam besok pagi, sedangkan batas waktu pembebasan tahanan, sesuai dengan perjanjian sebelumnya telah berakhir.

JFS telah menandatangani perjanjian dengan faksi-faksi Jaysh al-Mujahidin, Nur al-Din Al-Zanki, al-Jaba al-Shamia, Ahrar al-Syam, Soqour al-Syam, Jaysh al-Islam, Fastaqem gathering, Faylaq al-Syam.

Perjanjian tersebut juga menyepakati untuk menghentikan ketegangan dan menegaskan bahwa semua tahanan segera dibebaskan dalam waktu 24 jam kecuali mereka yang memiliki hubungan dengan kelompok Islamic State (IS).

Selain itu juga disepakati pembentukan komite peradilan yang mencakup perwakilan dari faksi-faksi jihad serta perwakilan dari Jabhat Fath al Syam dan orang-orang yang netral untuk menyelidiki insiden pembunuhan tahanan oleh Jund al Aqsha yang diduga disusupi oleh kelompok IS dan Komite ini akan bertemu dalam waktu maksimal 48 jam.

 

Ansharusyariah Bersama Ratusan Umat Islam Bogor Gagalkan Perayaan Asyuro Syiah

BOGOR (Jurnalislam.com) – Jama’ah Ansharusyariah Bogor bersama ratusan warga gagalkan perayaan asyuro Syiah. Aksi itu bertempat di Jl Siti Hasanah Pasirkuda Bogor, Selasa (11/10/2016) malam.

Aksi berlangsung tegang dengan kesatuan pengamanan kepolisian, warga berhasil menembus dan menemui Kapolres Bogor Kota untuk mendesak pemberhentian ritual Syiah yang sedang berlangsung.

Koordinator aksi, Ustadz Firdaus menyampaikan aspirasi warga Bogor tentang bahaya dan kesesatan syiah.

“Ajaran Syiah adalah sesat, sesuai fatwa MUI dan tidak boleh berkembang di daerah Bogor. karena akan merusak generasi Islam dan merongrong agama Islam,” katanya dihadapan Kapolres Bogor Kota.

Menanggapi itu, Kapolres Bogor Kota AKBP Andi Herindra mengaku kepolisian hanya melindungi warga dan wilayahnya dari hal-hal yangg tidak diinginkan.

Namun demikian, setelah negoisasi alot berdurasi 30 menit. Kepolisian sepakat dan perayaan asyuro Syiah dibubarkan.

img-20161011-wa012Aksi berlangsung damai, tidak ada unsur kekerasan, terlihat ada beberapa atribut Banser NU disekitar tempat kejadian.

Setelah ada kesepakatan pembubaran asyuro syiah, ratusan masa yang terdiri dari Jamaah Ansharus Syariah, Jundullah, Gempa, dan masyarakat Islam sekitar itu membubarkan diri dengan damai.

Diketahui, pihak kepolisian bersama Kapolres sudah menjaga tempat itu sejak sore menjelang maghrib.

Ritual asyuro Syiah direncanakan berlangsung hingga dini hari. Namun berhasil digagalkan warga pada pukul 22:00 malam.

 

Reporter: Jaenal

Perwira Garda Revolusi Iran ini Dibunuh karena Tolak Ikut Berperang ke Suriah

SURIAH (Jurnalislam.com) – Koran Timur Tengah mengungkapkan rincian pembunuhan yang menewaskan seorang perwira dari Garda Revolusi Iran (Iran’s Revolutionary Guard-IRGC) karena ia menolak untuk pergi ke Suriah, bersama rombongan pasukan yang meninggalkan Iran hari Kamis sebelumnya untuk bergabung bertempur bersama rezim Nushairiyah Assad, lansir ElDorar AlShamia Senin (10/10/2016)

Surat kabar itu mengutip sumber yang dekat dengan keluarga “Mohammad Reza Hamidawi,” dari pusat Korps Pengawal Revolusi Iran “al-Khalifa”, bahwa Pengawal Intelijen membawanya ke tempat yang tidak diketahui. Setelah keluarganya mencari dia dan saudaranya di pusat Garda Revolusi, pasukan intelijen membawanya ke sebuah penjara di mana ia menemukan saudaranya tewas dengan leher terdapat bekas jeratan tali, serta tubuh yang memar, dan mereka mengatakan kepadanya bahwa saudaranya telah melakukan bunuh diri.

Menurut sumber, “Hamidawi” bersama sejumlah petugas menjalani pelatihan intensif di pusat Omidiyeh untuk mengirim mereka ke Suriah, tapi ia mengatakan kepada keluarganya bahwa ia menolak ide tersebut dan menolak pergi, saat sumber menunjukkan bahwa keluarga “Hamidawi” ditekan oleh Garda Revolusi agar tidak mengumumkan atau melaporkan tentang insiden itu secara resmi atau untuk tidak berbicara kepada media.

Enam bulan terakhir terjadi peningkatan kekalahan Garda Revolusi Iran di Suriah, di mana media Iran hampir setiap hari mengumumkan lebih banyak kematian perwira tinggi dan penasihat militer.

MUI Tegaskan Ahok Lakukan Penghinaan Kepada Al Qur’an

JAKARTA (Jurnalislam.com)- Ketua Majelis Ulama Indonesia Pusat KH Ma’ruf Amin degan tegas menyatakan bahwa perkataan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Kepulauan Seribu dengan menyatakan “dibohongi pakai surat al Maidah 51” adalah sebagai bentuk penghinaan terhadap Al-Qur’an.

“Iya kita menyatakan itu menghina Al Qur’an dan menghina ulama, yang memiliki konsekwensi hukum, masalah nanti itu masuk penodaan agama dan terkait penistaan agama kita serahkan kepada penegak hukum,” terang ketua MUI setelah melakukan audiensi bersama para Ulama di Gedung MUI Jalan Proklamasi Jakarta Pusat, Selasa (11/10/2016).

Terkait permohonan maaf yang dilayangkan Gubernur petahanan ini, Kyai Ma’ruf menyatakan Mejelis Ulama Indonesia masih mengkaji permohonan maaf itu.

“Kita MUI sedang mengkaji permintaan maaf itu, permintaan maaf atas kesalahan dia atau karena dipelintir sehingga menimbulkan kegaduhan. Jadi saya masih belum bisa menyimpulkan dia minta maaf atas kesalahanya menuduh bohong atau meminta maaf karena terjadi kegaduhan jadi belum, kita belum buat kesimpulannya. Karena itu kita fokus kepada pernyataannya belum pada permintaan maafnya,” tukasnya.

MUI Pusat: Tindak Tegas Penista Agama!

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pernyataan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di depan masyarakat Kepulauan Seribu, Rabu (28/9/2016) lalu, telah mengundang kontroversi. Dalam pidato itu, Ahok menyinggung surat Al-Maidah ayat 51 dengan ucapan ‘dibohongin pakai Surat Al-Maidah 51’. Menanggapi itu, Majelis Ulama Pusat membuat tanggapan resmi.

Pernyataan sikap MUI itu disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Dr. Anwar Abbas, di kantor MUI Pusat, Jalan Proklamasi no.51, Jakarta, Selasa (11/10/2016) siang.

Dalam pernyataan itu, MUI menegaskan Al-Quran surah al-Maidah ayat 51 merupakan panduan umat Islam dalam memilih pemimpin, serta menjadi salah satu dalil larangan menjadikan non Muslim sebagai pemimpin.

“Al-Quran surah al-Maidah ayat 51 secara eksplisit berisi larangan menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin. Ayat ini menjadi salah satu dalil larangan menjadikan non Muslim sebagai pemimpin,” katanya.

Ia melanjutkan, menyatakan bahwa kandungan surah al-Maidah ayat 51 yang berisi larangan menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin adalah sebuah kebohongan, hukumnya haram dan termasuk penodaan terhadap Al-Quran.

Untuk itu, MUI mendesak aparat penegak hukum wajib menindak tegas setiap orang yang melakukan penodaan dan penistaan Al-Quran dan ajaran agama Islam serta penghinaan terhadap ulama dan umat Islam sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

“Aparat penegak hukum diminta proaktif melakukan penegakan hukum secara tegas, cepat, proporsional, dan profesional dengan memperhatikan rasa keadilan masyarakat, agar masyarakat memiliki kepercayaan terhadap penegakan hukum,” tegasnya.

Namun demikian, MUI sebagai wadah umat Islam meminta masyarakat tetap tenang dan kondusif, tidak main hakim sendiri. Menghimbau pemerintah dan masyarakat menjaga harmoni kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

“Masyarakat diminta untuk tetap tenang dan tidak melakukan aksi main hakim sendiri serta menyerahkan penanganannya kepada aparat penegak hukum, di samping tetap mengawasi aktivitas penistaan agama dan melaporkan kepada yang berwenang,” pungkasnya mengakhiri pembacaan peryataan sikap MUI Pusat.

Pernyataan resmi MUI Pusat
Pernyataan resmi MUI Pusat

Ahrar al Syam Rilis Pengakuan Mengejutkan Pasukan Penyusup IS (video)

SURIAH (Jurnalislam.com) – Media Office milik faksi jihad Ahrar al Syam menyiarkan rekaman yang menunjukkan “Hussein al-Ismaeil”, dari kota Kafr Nbl di Pedesaan Idlib, mengakui bahwa ia adalah elemen pasukan Islamic State (IS) yang direkrut untuk menyusup dan menargetkan faksi jihad Suriah di provinsi Idlib, dan menyerang penjara “al-Ukab” milik Jabhat Fath al Syam (JFS), ElDorar AlShamia melaporkan Senin (10/10/2016).

Ismaeil menjelaskan dalam pengakuannya bahwa ia direkrut oleh seseorang yang bekerja dengannya di sebuah restoran, kemudian bersama dengan lebih dari 20 orang dari pedesaan Idlib menuju kota “al-Tabqa” di provinsi Raqqa, dan bergabung dengan korps “al-Qa’qa’a” yang dipimpin langsung oleh “Abu Muhammad al-Adnani” yang terbunuh beberapa pekan lalu.

Menurut Ismaeil ia kembali ke provinsi Idlib lalu bertemu dengan Abu Walid Dabeq, seorang pemimpin Jund al-Aqsha, yang menerima Ismaeil dan sejumlah rekrutan lainnya di kantor pusat Pasukan Eksekutif untuk Jund al-Aqsha di kota al-Taman’a untuk bergabung, Ismaeil mulai menyusup untuk melakukan serangkaian operasi bom mobil di markas Faylaq al-Syam, dan menargetkan beberapa kendaraan milik faksi militer yang terlepas dari afiliasi, mendistribusikan makanan beracun (pai daging), yang telah dicampur dengan zat mematikan arsenik bagi faksi yang berkoalisi dengan JFS.

Ismaeil mengaku mencoba menanam bom dengan cara yang biasa digunakan oleh JFS, yang sebelumnya dikenal sebagai Jabhah Nusrah di setiap markas mereka, sebelum ia ditangkap, ia menjelaskan bahwa ia juga menanam bom bersama kelompoknya di salah satu markas Jund al-Aqsha di jalan Murek di Pedesaan Hama ketika mereka merasa terancam.

hrk_2
Lihat video disini: Ahrar al Syam Rilis Pengakuan Mengejutkan Pasukan Penyusup IS

Pertempuran Sengit Berkecamuk di Gedung Pemerintah India di Kashmir

KASHMIR (Jurnalislam.com) – Polisi India mengatakan pasukannya memerangi kelompok orang bersenjata di dalam gedung pemerintah di wilayah Kashmir yang dikuasai India.

Polisi mengatakan kepada kantor berita Associated Press pada hari Senin (10/10/2016) bahwa tentara dan paramiliter tentara mengepung kompleks setelah tembakan terdengar dekat kota Pampore, sekitar 10 km di luar Srinagar, ibukota Kashmir India.

Seorang tentara dilaporkan terluka dalam pertempuran awal.

Sumber mengatakan kepada Al Jazeera bahwa sedikitnya dua gerilyawan diduga bersembunyi di dalam Lembaga Pengembangan Kewirausahaan, dan bahwa penembakan intermiten bisa didengar di dalam gedung.

Serangan itu terjadi saat Kashmir melancarkan protes terbesar melawan penjajahan India dalam beberapa tahun terakhir, dipicu oleh pembunuhan pada bulan Juli terhadap seorang komandan mujahidin populer oleh tentara India.

Protes, dan tindakan keras militer melumpuhkan kehidupan di Kashmir yang dikuasai India, dengan toko-toko, sekolah dan sebagian besar bank yang tersisa tutup dan ponsel serta internet hanya bekerja sebentar-sebentar.

Kashmir terbagi antara India dan Pakistan sejak akhir pemerintahan Inggris pada tahun 1947. Kedua Negara mengklaim wilayah itu secara penuh.

Sentimen anti-India merebak luas di Kashmir, di mana kelompok pejuang telah bertempur merebut kemerdekaan melawan pasukan India atau merger dengan Pakistan sejak tahun 1989. Lebih dari 70.000 orang telah tewas sejak itu.

Ketegangan antara kedua Negara tetangga bersenjata nuklir tersebut melonjak setelah serangan bersenjata bulan lalu di sebuah pangkalan militer India menewaskan 19 tentara India dimana kedua kelompok terlibat saling tembak berat dan mortir melintasi perbatasan de facto di Kashmir hampir setiap hari.

Advokasi Internasional untuk Muslim Rohingya Laporkan Pembantaian Baru sedang Terjadi di Myanmar

ANKARA (Jurnalislam.com) – Kelompok advokasi Rohingya di seluruh dunia menyuarakan keprihatinan bahwa tentara melakukan kekerasan dan pembunuhan terhadap kelompok minoritas Muslim menyusul tewasnya sembilan polisi di Myanmar, Anadolu Agency melaporkan Senin (10/10/2016).

Sembilan polisi tewas bersama delapan orang bersenjata di tiga serangan terpisah di pos-pos polisi di perbatasan Myanmar-Bangladesh di barat negara bagian Rakhine Ahad pagi.

Pada hari Senin, sebuah pernyataan dari kelompok berjudul “Berhenti Membunuh Rohingya di Arakan yang Tidak Bersalah (Stop Killing Innocent Rohingya in Arakan)” mengatakan bahwa setelah serangan, lebih dari 10 Rohingya tidak bersalah dibantai oleh pasukan militer dan polisi Myanmar (Arakan adalah nama kolonial Inggris untuk Rakhine).

“Penangkapan massal juga sedang berlangsung,” kelompok itu menyatakan, menambahkan bahwa banyak wanita Muslim Rohingya juga telah ditangkap di desa Wabek di Kota Maungdaw di Rakhine.

“Dalam beberapa jam terakhir tujuh Rohingya ditembak mati oleh pasukan militer di desa Myo Thugyi di Maungdaw.

Meskipun polisi menangkap dua gerilyawan selama serangan, pihak berwenang belum mengkonfirmasi kelompok yang bertanggung jawab.

“Kami tidak yakin bahwa para penyerang berasal dari RSO, tetapi mereka meneriakkan kata ‘Rohingya’ selama serangan,” kata Kepala Polisi Zaw Win dalam konferensi pers Ahad, mengacu pada Organisasi Solidaritas Rohingya (Rohingya Solidarity Organization-RSO).

RSO adalah kelompok gerilyawan yang mengambil nama dari kelompok minoritas Muslim Rohingya, Rohingya digambarkan oleh PBB sebagai salah satu kaum Muslim yang paling teraniaya di dunia.

Meskipun sebagian besar ahli percaya keberadaannya adalah sebuah mitos, pemerintah telah mengklasifikasikan RSO sebagai kelompok gerilyawan dan pejabat menyalahkan RSO melakukan serangan baru di daerah perbatasan.

Pernyataan itu mengaku tidak ada organisasi bersenjata Rohingya yang mereka ketahui, tetapi organisasi bersenjata non-Rohingya lainnya ada di Rakhine.

“Tampaknya beberapa pejabat keamanan atau pemerintah daerah secara pribadi mengarahkan media bahwa orang Rohingya yang melakukan serangan itu. Tidak ada bukti untuk ini,” tambahnya.

“Mereka mungkin melakukannya karena serangan itu terjadi di daerah Rohingya, atau menggunakan serangan itu sebagai dalih untuk melakukan tindakan keras terhadap Rohingya.”

Kelompok ini meminta Aung San Suu Kyi yang mengatur Liga Nasional untuk Demokrasi untuk mengambil langkah-langkah segera untuk memastikan aturan hukum diikuti oleh militer, polisi dan pasukan keamanan lainnya dan meminta masyarakat internasional untuk campur tangan dengan pemerintah untuk memastikan itu memberlakukan aturan hukum.

“Aksi juga harus diambil terhadap nasionalis yang mencoba untuk mengeksploitasi kematian polisi ini untuk menyiapkan kebencian dan kekerasan anti Rohingya dan anti-Muslim,” katanya.

Pernyataan itu ditandatangani oleh organisasi Rohingya dari Inggris, Denmark, Jepang, Australia, Jerman, Swiss, Norwegia, Finlandia, Italia, Swedia, Belanda, Malaysia, dan Komite Pengungsi Muslim Rohingya.

Perancis Serukan Penyelidikan atas Kejahatan Perang di Aleppo

SURIAH (Jurnalislam.com) – Prancis mengumumkan akan meminta pengadilan pidana internasional untuk menyelidiki kemungkinan kejahatan perang di Aleppo Suriah, lansir Aljazeera, Senin (10/10/2016).

Timur kota Aleppo yang dikuasai pejuang Suirah, yang telah dikepung sejak awal September, menjadi fokus serangan pemboman udara intensif oleh jet tempur Rusia dan Suriah.

Sebaliknya, pejuang anti rezim Assad mencoba mematahkan pengepungan dan berupaya menghubungkan wilayah lain yang dikuasai oposisi di sebelah barat Aleppo, yang merupakan kota kedua Suriah.

“Kami tidak setuju dengan yang dilakukan Rusia, membombardir Aleppo. Prancis berkomitmen untuk menyelamatkan penduduk Aleppo,” Jean-Marc Ayrault, menteri luar negeri Perancis, mengatakan kepada radio Inter Perancis pada hari Senin.

Dia mengatakan Presiden Francois Hollande akan memperhitungkan situasi di Aleppo untuk memutuskan apakah akan menemui rekan Rusia-nya Vladimir Putin ketika Putin berkunjung ke Paris pada tanggal 19 Oktober.

“Jika presiden memutuskan [untuk bertemu dengan Putin], maka pertemuan itu tidak akan berisi pembicaraan basa-basi,” kata Ayrault.

Pasukan rezim Suriah yang didukung Rusia telah membombardir dalam serangan baru selama dua pekan di Aleppo, merebut wilayah utara dan mendorong kembali garis depan di pusat kota.

Namun, kabupaten selatan Sheik Said pada hari Senin jatuh ke tangan koalisi mujahidin Suriah setelah mereka mengalahkan kelompok bersenjata asing pro-rezim Assad yang berusaha untuk mempertahankannya.

Sebuah sumber oposisi mengatakan kepada Al Jazeera bahwa lebih dari 20 pasukan pro-rezim Nushairiyah dari milisi Syiah Irak tewas dalam bentrokan.

Sejak awal serangan militer Suriah pada 22 September, beberapa hari setelah gencatan senjata yang ditengahi AS-Rusia runtuh, sedikitnya 290 orang – warga sipil – telah tewas di daerah yang dikuasai pejuang Suriah di Aleppo ini, 57 dari mereka anak-anak, menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (to the Syrian Observatory for Human Rights-SOHR).

Pada hari Sabtu Rusia memveto resolusi Perancis yang menuntut segera diakhirinya serangan udara dan penerbangan militer atas Aleppo, dan untuk mengupayakan gencatan senjata, serta akses bantuan kemanusiaan di seluruh Suriah.

Resolusi saingan yang didukung Rusia juga gagal.

Namun, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menawarkan secercah harapan, mengumumkan selama pertemuan bilateral dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Istanbul pada hari Senin bahwa kedua negara telah sepakat untuk bekerja sama memberikan bantuan kepada Aleppo.

Sesuai kesepakatan tersebut, Rusia pada hari Senin mengumumkan pembentukan sebuah pangkalan militer permanen di Suriah.

Langkah, yang diumumkan oleh Nikolai Pankov, Wakil Menteri Pertahanan negara itu, menunjukkan bahwa Rusia membangun kekuatan di Suriah meskipun menarik sebagian pasukannya pada bulan Maret.

“Dengan melakukan itu Rusia tidak hanya meningkatkan potensi militernya di Suriah tetapi di seluruh Timur Tengah,” Senator Igor Morozov, anggota majelis tinggi parlemen Komite Urusan International (International Affairs Committee), mengatakan kepada kantor berita RIA.

Hadapi Serangan Udara Rusia dan Assad, Oposisi Suriah Desak Pasokan Senjata Anti-Pesawat

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Kelompok oposisi utama Suriah pada hari Senin (10/10/2016) menyerukan kepada sekutu asing mereka untuk memasok senjata ground-to-air dalam melawan serangan udara mematikan rezim Assad dan Rusia di Aleppo, World Bulletin melaporkan, Senin.

Pasukan rezim dan pesawat tempur Rusia telah meningkatkan serangan udara di Aleppo dalam beberapa pekan terakhir, menewaskan ratusan warga sipil dan meningkatkan kekhawatiran internasional yang luas.

Juru bicara HNC Salem al-Meslet mengatakan setelah pembicaraan bahwa oposisi saat ini bergantung pada “negara-negara sepersaudaraan dan teman-teman … untuk mengalahkan embargo senjata canggih yang dikenakan pada oposisi.”

Sekutu Arab Washington, yang dipimpin oleh Arab Saudi, telah bahwa pasukan oposisi yang bertempur melawan Assad diberikan senjata canggih seperti MANPADS – rudal anti-pesawat yang ditembakkan dari bahu.

Para ahli mengatakan pasokan senjata seperti ini mungkin dapat mengubah keseimbangan kekuasaan di medan perang dan membuat Damaskus lebih siap untuk berbicara, tetapi para pejabat AS khawatir senjata tersebut bisa jatuh ke tangan Jabhat Fath al Syam.

Riyadh berperan penting dalam formasi akhir tahun lalu HNC, yang menyatukan berbagai kelompok oposisi dan faksi politik oposisi.