Tiga Jamaah Terluka dalam Serangan Teror di Musholla, Swiss

SWISS (Jurnalislam.com) – Tiga orang terluka oleh tembakan di pusat peribadatan kaum Muslim di Zurich, Senin, kata polisi. Media lokal melaporkan insiden itu terjadi di sebuah musholla di dekat stasiun kereta api kota.

“Saya hanya bisa mengkonfirmasi bahwa ada penembakan,” kata seorang juru bicara polisi Zurich mengatakan. Media Swiss mengatakan penyerang diduga melarikan diri dari TKP, lansir World Bulletin Senin (19/12/2016).

Polisi Zurich mengkonfirmasi beberapa orang terluka di sekitar tempat ibadah umat Islam tersebut, namun tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Media Swiss mengatakan polisi telah menutup daerah tersebut. Surat kabar 20 Minuten mengatakan tersangka dalam pencarian setelah insiden dekat stasiun kereta utama di ibukota keuangan Swiss.

Menlu Turki: 20.000 Warga Aleppo Timur telah Di Evakuasi

ANKARA (Jurnalislam.com) – Sebanyak 20.000 orang sejauh ini telah dievakuasi dari Aleppo timur, Menteri Luar Negeri Turki mengumumkan Senin (19/12/2016), lansir Anadolu Agency.

Di akun resmi Twitter-nya, Mevlut Cavusoglu menulis: “Jumlah orang yang dievakuasi dari East #Aleppo ke daerah yang berada di bawah kendali oposisi mencapai 20.000. Upaya kami terus berlanjut.”

Berdasarkan perjanjian gencatan senjata yang dijamin pekan lalu oleh Turki dan Rusia, warga sipil yang terperangkap di Aleppo Timur telah diizinkan untuk pergi ke banteng mujahidin di Idlib daerah yang dikuasai para pejuang Suriahi.

Namun proses evakuasi untuk sementara ditunda pada hari Jumat setelah kelompok teroris Syiah internasional pro-rezim menyerang konvoi sipil, menewaskan sejumlah pengungsi.

Evakuasi kembali dilanjutkan pada hari Senin di bawah kesepakatan minggu lalu yang memungkinkan ribuan warga sipil dan pejuang untuk dievakuasi dari kota yang dilanda perang.

Pada hari Selasa, pertemuan trilateral antara Turki, Rusia dan Iran di Suriah dijadwalkan akan diselenggarakan di Moskow, menurut sumber-sumber diplomatik Turki.

enteri luar negeri ketiga negara akan membahas perkembangan terbaru di Suriah, yang telah terkunci dalam perang saudara setan sejak awal 2011.

Faksi Perlawanan Suriah Bunuh 15 Pasukan Assad di Hama

SURIAH (Jurnalislam.com) – Faksi Perlawanan Suriah (Syrian Resistance) berhasil membunuh 15 pasukan rezim Assad di pedesaan Hama dalam dua ledakan selama dua puluh empat jam sebelumnya, ElDorar AlShamia melaporkan, Senin (19/12/2016).

Sumber militer mengumumkan pembunuhan sepuluh tentara Assad, termasuk seorang perwira pada hari Ahad, di pos pemeriksaan”al-Dahra” di sebelah barat kota Ma’an di pedesaan timur Hama selain kehancuran tangki dan senapan mesin, saat mereka mampu membunuh lima tentara Nushairiyah lainnya kemarin malam di “Soran” di utara pedesaan Hama.

Pasukan rezim Syiah Assad telah kembali menguasai Soran dan daerah lain di pedesaan Utara Hama setelah sebelumnya dibebasankan oleh faksi perlawanan Suriah sejak sekitar lima puluh hari.

 

Pesawat Pembawa Pasukan Rusia Jatuh, 16 Pasukan Kritis?

RUSIA (Jurnalislam.com) – Sebuah pesawat yang membawa tentara Rusia jatuh Senin pagi, 16 menderita luka parah, kata kementerian pertahanan, yang dikutip kantor-kantor berita Rusia, lansir World Bulletin, Senin (19/12/2016).

Semua orang selamat tapi 16 kritis, lembaga RIA Novosti melaporkan, mengutip kementerian pertahanan, menambahkan sedikitnya 20 dari mereka memerlukan rawat inap.

Tidak segera jelas apakah pesawat itu milik militer atau bukan.

Sebuah sumber di kementerian pertahanan mengatakan kepada Interfax bahwa pesawat itu tidak memberikan sinyal bahaya dan bahwa penerbangan berlangsung dalam kondisi cuaca buruk yang bisa menyebabkan pesawat membeku.

 

Konvoi 46 Bis Pengungsi Tiba di Pinggiran Barat Aleppo

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Empat puluh enam bus yang membawa warga sipil yang dievakuasi dari Aleppo tiba di pedesaan barat Aleppo pada hari Senin, menurut sumber-sumber oposisi lokal.

Sumber tersebut mengatakan pengungsi dari wilayah Aleppo timur yang dikuasai oposisi telah tiba di distrik Al-Rashdeen di pinggiran barat kota dalam konvoi 46 bus, lansir Anadolu Agency Senin (19/12/2016).

Sepuluh bus lain yang membawa warga sipil juga berangkat dari kota Al-Fuah dan Kefraya, sumber yang sama menambahkan, meminta anonimitas karena kekhawatiran akan keselamatan mereka.

Proses evakuasi dilanjutkan Senin di bawah kesepakatan sebelumnya yang ditengahi oleh Turki dan Rusia dimana sekitar 20.000 warga sipil dan pejuang harus dievakuasi dari Aleppo timur pada hari Senin dan Selasa.

Evakuasi warga sipil juga direncanakan di kota Madaya dan al-Zabadani – yang melibatkan sekitar 1.500 orang – serta dari Al-Fuah dan Kefraya, yang memiliki populasi berjumlah 15.000.

Pekan lalu, pasukan oposisi Suriah di Aleppo timur mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan rezim Assad untuk memungkinkan warga sipil dievakuasi dari kota.

Karena proses evakuasi dimulai Kamis lalu, sekitar 14.000 orang telah berangkat dari Aleppo menuju provinsi terdekat Idlib di dekat perbatasan Turki, menurut sumber lokal yang berbicara kepada Anadolu Agency.

Koresponden Anadolu Agency di Idlib mengatakan 10 bus yang membawa warga sipil dari Al-Fuah dan Kefraya telah tiba dengan aman di pinggiran barat Aleppo sejak dimulainya kembali proses evakuasi.

Pada hari Ahad, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin membahas evakuasi warga sipil dari Aleppo yang sedang berlangsung melalui telepon, menurut sumber presiden Turki.

Proses evakuasi sementara ditunda pada hari Jumat setelah kelompok teroris Syiah internasional pro-rezim menyerang konvoi sipil yang meninggalkan kota, menewaskan sejumlah pengungsi.

Dubes Rusia Tewas Ditembak Polisi Turki

ANKARA (Jurnalislam.com) – Duta Besar Rusia untuk Turki, Andrey Karlov tewas ditembak di ibu kota Turki, Ankara, Senin (19/12/2016) malam waktu setempat.

Andrey Karlov (62) ditembak saat menyampaikan sambutannya di sebuah pameran fotografi di Ankara. Ia ditembak beberapa kali hingga tewas.

Penembakan dikaitkan dengan peran dan keterlibatan Rusia di Suriah dalam membantu rezim Basyar Asaad melakukan pembantaian di Aleppo.

Dilaporkan ada beberapa orang lainnya yang mengalami luka-luka. Penyiar televisi lokal, NTV, mengatakan sedikitnya tiga orang terluka dan dibawa ke rumah sakit untuk menjalani perawatan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova membuat pengumuman tewasnya Karlov dalam sebuah pernyataan yang disiarkan secara langsung.

Penembaknya diidentifikasi sebagai seorang anggota kepolisian Turki bernama Mevlut Mert Altintas, 22 tahun. Menurut Wali Kota Ankara seperti dilansir Aljazeera, Senin (19/12/2016) malam, Altintas bertugas di ibu kota Turki itu.

Altintas berpakaian rapi, mengenakan jas dan berdasi, memiliki kartu pengenal sebagai anggota pengawal Duta Besar Rusia. Saat penyerangan itu, Altintas tengah libur alias sedang tidak bertugas.

Setelah menembak, Altintas membiarkan para tamu keluar dari ruang pameran, menurut media lokal.

Menurut saksi, pria penyerang tersebut meneriakkan, “Jangan lupa Aleppo!” Ya, penyerangan terhadap Dubes Rusia itu dikaitkan dengan situasi di Aleppo saat ini.

“Jangan lupa Aleppo! Jangan lupa Suriah!” seru Altintas setelah ia menembak jatuh tersungkur Duta Besar Karlov, seperti terlihat dalam video.

“Siapa pun yang mengambil bagian dalam kekejaman ini akan membayar harga, satu persatu … Hanya kematian yang akan membawa saya ke sini,” tegas Altintas sambil memegang pistolnya.

Ia kemudian melanjutkan pernyataannya dalam bahasa Arab. “Kami adalah keturunan dari Nabi Muhammad yang mendukung mereka untuk berjihad!” serunya.

Kantor berita Turki, Anadolu, melaporkan, pria tersebut kemudian meninggal di tempat setelah terjadi kontak senjata dengan pasukan keamanan. Serangan itu sendiri terjadi sehari sebelum pertemuan Rusia, Turki dan Iran untuk membahas Suriah di Moskow.

Diego Cupolo, seorang jurnalis foto di Ankara, mengatakan kepada Aljazeera bahwa ada sekitar seratus tentara dan polisi bersenjata bertugas di lokasi kejadian lengkap dengan kendaraan tempur lapis baja.

Sumber: Aljazeera

Majelis Az Zikra Desak Pemerintah Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Rusia dan Iran

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Juru bicara Majelis Az Zikra, Ustadz Ahmad Syuhada menyampaikan kekecewaannya atas kunjungan presiden Joko Widodo ke Iran beberapa waktu lalu. Pernyataan itu disampaikan dalam aksi unjuk rasa mengecam kebiadaban Rusia terhadap umat Islam Suriah di depan Kedubes Rusia, Jakarta, Senin (19/12/2016) pagi ini.

Iran adalah salah satu negara yang membantu rezim Nushairiyah Bashar Asaad dalam membantai umat Islam di Suriah.

“Saya menyatakan protes besar kepada Jokowi, kalau Anda beragama Islam, saat bayi-bayi dibantai, wanita berhijab diperkosa Anda justru asik duduk mesra di Iran,” ujarnya.

Karenanya, ia mendesak pemerintah Indonesia untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan negara-negara pendukung Bashar Asaad seperti Rusia dan Iran.

“Kami minta putuskan hubungan diplomatik dengan Rusia, dengan Iran, dengan Suriah. Umat Islam negeari ini sudah banyak diberikan pelajaran, hari ini kita tadrib, kita i’dad kita siapkan putra-putra kita sebagai mujahid,” tegasnya. “Tidak ada kemuliaan kecuali dengan jalan jihad,” sambung dia.

Lebih lanjut, Ustadz Ahmad menjelaskan, aksi solidaritas untuk umat Islam Suriah khususnya di Aleppo merupakan upaya untuk membuktikan salah satu prinsip tauhid, yaitu al-wara wal baro (loyalitas dan anti-loyalitas).

“Suriah adalah Indonesia, Indonesia adalah Suriah, ikatan ukhuwah Islam akan meruntuhkan tembok penyekat. demokrasi tidak ada harganya dalam Islam, nasionalisme tidak ada harganya dalam,” pungkas dia.

Ratusan umat Islam dari lintas ormas Islam pagi ini, Senin (19/12/2016) berunjuk rasa di depan Kedubes Rusia mengecam pembantaian terhadap umat Islam di Aleppo. Massa membawa spanduk-spanduk berisikan dukungan terhadap para pejuang di Suriah serta dan membakar gambar presiden Rusia, Vladimir Putin.

Reporter: Irfan Yusuf

 

Ustadz Zaitun Rasmin: Kebiadaban Rusia Harus Dilawan dengan Doa dan Jihad Fie Sabilillah

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sekjen Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI, Ustadz Zaitun Rasmin mengatakan, pembantaian terhadap umat Islam di Aleppo oleh pasuakan Syiah Bashar Asaad dan komunis Rusia adalah kebiadaban yang harus dilawan.

“Ini adalah kebiadaban yang harus dilawan. Memang kita tidak memiliki senjata, tetapi kita punya kekuatan doa yang akan menghancurkan Rusia,” katanya dalam unjuk rasa di depan Kedubes Rusia, Jakarta, Senin (19/12/2016) pagi ini.

Menurutnya, alasan agresi Rusia di Suriah yang semula untuk melawan kelompok Islamic State (IS) hanyalah untuk melegalkan pembunuhan terhadap umat Islam secara keseluruhan di Suriah.

Ustadz Zaitun mengancam akan mengobarkan semangat jihad umat Islam Indonesia jika pemerintah Rusia tidak menghentikan pembantaian terhadap muslim Suriah.

“Dengarlah wahai Dubes Rusia, jika kejadian pembantaian ini terus terjadi, jangan sampai umat Islam Indonesia kehabisan kesabaran dan melakukan jihad fie sabilillah,” tegasnya.

Ia menjelaskan, umat Islam Indonesia mempunyai sejarah lebih hebat dibandingkan perjuangan rakyat Afghanistan.

“Kita dengan persenjataan bambu runcing sanggup menggalahkan penjajah Belanda. Kami peringatkan, kehancuran Rusia telah di depan mata kalau sampai tidak mengakhiri pembantaian di Suriah,” pungkasnya.

Reporter: Irfan Yusuf

Sambut Puluhan Ribu Warga Aleppo, Turki Persiapkan 18 Kamp Pengungsi di Sepanjang Perbatasan

TURKI (Jurnalislam.com) – Sumber media Turki melaporkan bahwa Turki telah memulai pembangunan tenda untuk mengakomodasi kelompok yang paling rentan, untuk membantu warga Suriah yang telah dievakuasi dari kota Aleppo, ElDorar AlShamia melaporkan, Ahad (18/12/2016).

Sumber mencatat bahwa Turki membangun sebuah kamp di kota Rihaniyya, negara bagian Hatay yang dapat menampung hingga seribu orang, sambil terus bekerja membangun 18 kamp di dekat lintas batas Bab al-Hawa yang dapat menampung puluhan ribu warga sipil Aleppo, dan menjelaskan bahwa tiga tempat sedang diidentifikasi dalam rangka membangun tempat penampungan sementara, dikoordinasikan oleh Departemen bencana dan darurat Turki, dalam rangka menerima warga sipil yang terperangkap di Aleppo.

Dikatakan bahwa sekitar 85 ribu warga sipil sebelumnya terdampar di kota Aleppo yang terkepung oleh rezim al-Assad di lingkungan timur. Sekitar delapan ribu dari mereka telah dievakuasi meninggalkan sekitar 70 ribu lainnya menunggu penyelesaian proses evakuasi.

Gencatan Senjata Diperpanjang, Evakuasi di Aleppo Timur Berlanjut

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Evakuasi di Aleppo timur dilanjutkan Senin pagi dengan 500 orang tiba di daerah yang dikuasai oposisi di barat kota, menurut sumber-sumber lokal, lansir Anadolu Agency Ahad (18/12/2016).

Pasukan rezim Syiah Suriah dan oposisi menerapkan kesepakatan yang ditengahi oleh Turki dan Rusia awal bulan ini.

Kesepakatan ini menuntut evakuasi 20.000 warga sipil dan pejuang dari Aleppo timur, yang waktu evakuasinya diperpanjang pada Senin, dan sisanya pada hari Selasa.

Akan ada evakuasi di kota-kota Madaya dan al-Zabadani – yang melibatkan 1.500 orang – serta di kota-kota yang dikuasai Syiah di al-Fu’ah dan Kefraya, yang memiliki populasi gabungan sejumlah 15.000 warga.

Pada hari Ahad, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin membahas evakuasi warga sipil di kota Aleppo Suriah yang dilanda perang di telepon, menurut sumber presiden.

Awal pekan ini, pasukan oposisi Suriah di Aleppo timur mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan pasukan rezim Bashar al-Assad untuk mengevakuasi warga sipil dari kota.

Sejak itu, sedikitnya 7.500 warga sipil telah meninggalkan Aleppo menuju banteng mujahidin di Idlib – yang terletak di dekat perbatasan dengan Turki – menurut pejabat kelompok oposisi Suriah.

Laporan kekerasan terhadap warga sipil di Aleppo beberapa pekan terakhir semakin intensif yang dilakukan oleh milisi Syiah gabungan yang di dukung Iran.

PBB dan negara-negara Barat menyerukan Moskow dan Damaskus untuk memungkinkan evakuasi yang aman bagi warga sipil dan pejuang oposisi yang mau bekerja sama saat pasukan Rusia dan rezim Suriah membombardir warga sipil secara brutal dan mengepung kota.