Mobil Polisi di Depan Gereja Filipina Dilempar Granat

FILIPINA (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 12 orang terluka setelah sebuah granat meledak di luar sebuah gereja Katolik selama misa malam Natal di Filipina selatan, lansir World Bulletin, Ahad (25/12/2016).

Kepala polisi Midsayap, Supt. Bernardo Tayong, mengatakan para ahli bom terus menjelajahi lokasi ledakan – yang terjadi di dekat sebuah mobil polisi di depan gereja – untuk mencari bukti-bukti.

Fr. Jay Virador dari Oblat Maria Imakulata (the Oblates of Mary Immaculate), co-president Misa (the Nativity of the Lord Mass), mengatakan ledakan terjadi sekitar pukul 09:45 (1345GMT) hari Sabtu di luar gereja St. Nino Paroki (St. Nino Parish) di kota Midsayap provinsi Cotabato Utara.

“Misa tiba-tiba berakhir, tidak ada doa penutup karena terjadi keributan,” Virador seperti dikutip oleh The Philippine Inquirer. “Orang-orang kalangkabut meninggalkan gereja.”

Pasukan di Filipina dan di negara-negara Asia Tenggara lainnya telah siaga dalam beberapa pekan terakhir, melakukan pengetatan keamanan untuk musim liburan Natal dan Tahun Baru.

Tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan hari Sabtu, yang berakibat sedikitnya 12 terluka – termasuk seorang wanita dalam kondisi kritis dan seorang polisi.

The Inquirer mengutip Supt. Romeo Galgo Jr, yang berbicara kepada polisi di Mindanao Tengah, mengatakan “kami sangat mengutuk perbuatan ini, polisi akan terus menjalankan tugasnya untuk memastikan keselamatan semua pihak.”

Pesawat Militer Rusia Jatuh di Laut Hitam Seluruh Penumpang Kemungkinan Tewas

SOCHI (Jurnalislam.com) – Sebuah pesawat militer Rusia dengan 91 orang di dalamnya jatuh ke Laut Hitam tak lama setelah lepas landas, kata kementerian pertahanan Rusia.

Tim penyelamat menemukan puing-puing di lokasi kecelakaan di lepas pantai kota resor Sochi, kantor berita Interfax melaporkan, lansir Aljazeera , Ahad (25/12/2016).

Kantor berita lokal melaporkan bahwa pecahan dan kepingan pesawat Tu-154 ditemukan 1,5 kilometer di lepas pantai Sochi pada kedalaman 50 sampai 70 meter.

Kantor berita lainnya melaporkan bahwa beberapa bagian pesawat dan undercarriage, dan juga genangan minyak pelumas ditemukan sekitar enam kilometer dari pantai.

Seluruh penumpang kemungkinan tewas, karena tidak ada pernyataan tentang korban selamat.

Pesawat, yang sedang dalam perjalanan ke Latakia di Suriah, membawa 81 penumpang dan 10 awak, kata kantor berita Interfax.

Tu-154 adalah pesawat tiga mesin yang dirancang Soviet.

Reporter Al Jazeera Natasha Ghoneim, melaporkan dari Moskow, mengatakan pesawat itu menghilang dari radar hanya beberapa menit setelah lepas landas.

“Laporan di Moskow mengatakan bahwa penumpang termasuk wartawan, personel militer dan anggota Alexandrov Ensemble yang terkenal, yaitu paduan suara tentara resmi dari angkatan bersenjata Rusia,” kata Ghoneim.

Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan Alexandrov Ensemble akan melakukan konser di pangkalan udara Rusia di Latakia.

Jasa penyelamatan unit penerbangan dari Distrik Selatan Militer di Krasnodar dan daerah tetangga terlibat dalam pencarian pesawat hingga kini, kata kementerian pertahanan.

 

Al Bab, Kota Stretegis di Suriah Bagi Turki

ANKARA (Jurnalislam.com) – Turki terus berusaha untuk membebaskan kota Al-Bab di Suriah utara yang dikuasai kelompok Islamic State (IS) dan PKK/PYD dari perbatasannya dalam menjaga keamanan perbatasan dan keselamatan pengungsi Suriah, Anadolu Agency melaporkan, Sabtu (24/12/2016).

Terletak 30 kilometer dari perbatasan Turki, Al-Bab (dalam bahasa Arab berarti pintu) digunakan sebagi rumah bagi sekitar 64.000 orang – terutama muslim Arab – sebelum letusan perang Suriah pada tahun 2011.

Kota ini terkenal sebagai salah satu pusat perdagangan aktif di Suriah dan memiliki lokasi khusus dan strategis karena terletak pada banyak jalan yang menghubungkan kota-kota Latakia, Aleppo, Raqqa, al-Hasakah dan Mosul Irak.

Militer Turki mendukung pejuang oposisi Pasukan Pembebasan Suriah (the Free Syrian Army-FSA) untuk membebaskan Al-Bab dari IS. Al-Bab adalah sebuah kota yang strategis bagi IS. Sabtu kemarin adalah hari ke-123 sejak kota itu dikepung untuk dibebaskan.

Operasi ini adalah bagian dari Operasi Perisai Efrat (Euphrates Shield) yang dipimpin Turki, yang dimulai pada akhir Agustus dengan tujuan meningkatkan keamanan, mendukung pasukan koalisi, dan menghilangkan ancaman teror di sepanjang perbatasan Turki.

Sekitar 840 kilometer persegi antara kota Azaz dan Jarabulus Suriah telah dibersihkan dari kelompok IS sejak operasi itu diluncurkan pada bulan Agustus.

Pembersihan kota akan menjaga pasukan IS berada dalam jarak 30-35 kilometer dari perbatasan Turki dan akan membantu menciptakan daerah aman bagi para pengungsi Suriah.

Operasi ini juga dimaksudkan untuk menjaga kota dari pasukan rezim Syiah Assad dan ekstremis PKK/PYD, yang berusaha untuk menciptakan sebuah “negara” di Suriah utara.

Kegagalan PKK/PYD merebut kota Al-Bab berarti bahwa hal itu tidak akan dapat terhubung kota Manbij di tepi barat dari Sungai Efrat dengan kota Afrin dekat perbatasan Turki.

Pada 13 November, pasukan FSA yang didukung Turki berhasil menguasai posisi dua kilometer dari Al-Bab.

Dan pada 9 Desember, FSA mulai maju di pusat kota, tapi mereka bertempur dengan perlawanan sengit saat pasukan IS menggunakan bom mobil dan jebakan untuk menghalangi pergerakan FSA ke kota.

Pasukan Yaman Rebut Kembali Distrik Nihm di Sanaa Setelah Setahun Dikuasai Syiah Houthi

SANAA (Jurnalislam.com) – Pasukan bersenjata dan faksi perlawanan Yaman akhirnya merebut kembali beberapa daerah strategis dalam sebuah distrik di ibukota Sanaa, Al Arabiya News Channel melaporkan, Sabtu (24/12/2016).

Beberapa daerah termasuk Telti al-Hamra, al-Madfoun dan al-Talal dari distrik Nihm Sanaa dibebaskan setelah lebih dari setahun dikuasai oleh pemberontak Syiah Houthi dan pasukan yang setia kepada mantan presiden terguling Ali Abdullah Saleh.

Kedua belah pihak terlibat pertempuran sengit berusaha untuk mengontrol distrik Nihm yang terletak di sebelah timur ibukota.

Sementara itu di Taiz, angkatan bersenjata pemerintah Abdrabbu Mansour Hadi berhasil merebut kembali sebuah rumah sakit militer dalam pertempuran dimana pemberontak Houthi mengalami kekalahan. Di antara mereka adalah pemimpin milisi kunci bernama Abu Assem.

Kemajuan datang sehari setelah pasukan Arab Saudi mampu melakukan operasi malam hari di Jizan dan Najran, setelah mengetahui lokasi pemberontak Syiah Houthi dan Saleh di dekat perbatasan Saudi, yang menyebabkan tewasnya 30 pemberontak Houthi.

Ini Alasan Kenapa Mujahidin Mundur dari Aleppo

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Mundurnya faksi jihad di Aleppo adalah untuk mencegah kerugian lebih lanjut, dan menyusun program politik yang dapat menyatukan kaum muslim rakyat Suriah.

Berbicara dari kubu oposisi (faksi-faksi jihad para pejuang) di Idlib, Omran Muhammad mengatakan alasan praktis: oposisi terpaksa menarik diri dari Aleppo timur adalah untuk meringankan krisis kemanusiaan sipil yang sudah sangat mengkuatirkan, Middle East Eye melaporkan dalam wawancara khusus, Sabtu (24/12/2016).

“Aleppo merupakan daerah perkotaan yang berpenduduk padat dengan sejumlah pejuang oposisi,” katanya.

“Untuk setiap langkah yang kami buat, puluhan jet Rusia menjatuhkan hujan bom pada warga sipil, mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang besar.”

“Tidak ada makanan, rumah sakit kehabisan obat-obatan bahkan kapas penyeka. Kami tidak memiliki pilihan kecuali membantu rakyat Aleppo mengungsi.”

Muhammad menolak klaim rezim Suriah Assad dan Rusia bahwa semua oposisi adalah “teroris”.

“Tentu saja, rezim menginginkan Anda berpikir bahwa kita semua [oposisi] adalah teroris, karena melawan gerakan Assad.

“Hanya karena kita semua ingin menggulingkan rezim tidak berarti bahwa kita adalah teroris.”

“Anda harus menyadari rezim ini tidak pernah mengizinkan oposisi itu ada. Tidak boleh ada pembangkang yang baik atau buruk dalam buku-buku (doktrin-doktrin) mereka. Aktivis, oposisi, jihadis, warga sipil, ataupun teroris.. kita semua adalah sama bagi rezim Suriah Assad yaitu musuh.”

Muhammad mengatakan bahwa walaupun perbedaan antara kelompok oposisi terjadi, itu adalah situasi yang “normal” dan harus diselesaikan secara terbuka bagi semua pihak.

 

Ahrar al Sham Serukan Persatuan Mujahidin Suriah dan Rebut Kembali Aleppo

SURIAH (Jurnalislam.com) – Faksi oposisi Suriah harus bersatu untuk membentuk “kepemimpinan kolektif” demi mempertahankan revolusi dan meletakkan dasar untuk merebut kembali Aleppo, juru bicara Ahrar al-Sham mengatakan dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Middle East Eye, Sabtu (24/12/2016).

Juru bicara Ahrar al-Sham mengeluarkan pernyataan beberapa hari setelah kota itu jatuh di bawah kontrol penuh pasukan rezim Suriah Assad, yang didukung oleh Rusia dan Iran.

Berbicara dari kubu oposisi (faksi-faksi jihad para pejuang) di Idlib, Omran Muhammad mengatakan kelompok-kelompok revolusioner harus bersatu di bawah kepemimpinan pusat untuk mencegah kerugian lebih lanjut, dan menyusun program politik yang dapat menyatukan kaum muslimin rakyat Suriah.

“Kita harus hadir untuk rakyat kita sebelum berpikir tentang pertempuran berikutnya. Kami akan berkumpul kembali, dan kami akan kembali untuk membebaskan kota.

“Kami percaya pada kepemimpinan kolektif,” katanya tentang Ahrar al-Sham, yang diterjemahkan sebagai “orang-orang bebas dari Suriah”. “Harapan kami tidak ada di negara lain. Harapan kami yang pertama adalah kepada Allah, dan kemudian pada orang-orang muslim Suriah.

Deklarasi persatuan Muhammad yang berani di antara faksi-faksi oposisi yang berbeda muncul pada saat krisis internal – pada tanggal 10 Desember kemarin, 16 faksi lokal Ahrar bersatu untuk membentuk sub-faksi baru yang disebut “Jaish al-Ahrar,” di bawah kepemimpinan mantan kepala Hashim al -Syekh.

Dengan syarat, para pejuang, faksi-faksi jihad yang ada harus mengesampingkan perbedaan mereka untuk mematahkan kemenangan rezim Syiah Suriah Assad dan sekutunya juga memberantas “penyakit” dari kelompok Islamic State (IS), katanya.

Pasukan Rezim Assad Mulai Lancarkan Serangan Baru di Pinggiran Aleppo

ALEPPO (Jurnalislam.com) – Pertempuran terjadi setelah klaim oleh televisi rezim Suriah atas sedikitnya tiga tewas akibat baku tembak di distrik tersebut, dan hanya dua hari setelah tentara Assad menguasai penuh kota Aleppo, Aljazeera melaporkan, Sabtu (24/12/2016).

Sedikitnya enam warga sipil juga tewas pada hari Sabtu dalam serangan udara di kota Atareb, di barat Aleppo, yang dikuasai pejuang Suriah menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (the Syrian Observatory for Human Rights-SOHR).

SOHR, kantor informasi berbasis di Inggris yang mendokumentasikan pelanggaran berat hak asasi manusia di Suriah, mengatakan sedikitnya dua anak termasuk di antara korban tewas.

SOHR tidak bisa segera menentukan siapa yang telah melakukan serangan udara, tetapi pesawat tempur Rusia dan pemerintah biasanya melakukan serangan di provinsi Aleppo.

Seorang koresponden AFP di Atareb mengatakan pesawat militer bisa dilihat berputar-putar di atas kota dan desa terdekat sepanjang hari.

Reporter Al Jazeera Hashem Ahelbarra, melaporkan dari Gazientep Turki dekat perbatasan dengan Suriah, mengatakan gelombang baru serangan udara terkonsentrasi di pinggiran timur, selatan dan utara Aleppo, dengan alasan mencegah pasukan oposisi masuk kembali ke kota yang telah direbut tersebut.

“Orang-orang khawatir karena ada ribuan warga sipil yang masih terperangkap di pinggiran Aleppo, terutama mereka yang telah dievakuasi dari Aleppo timur,” kata reporter tersebut.

“Jika pertempuran berlanjut, dapat memperburuk situasi kemanusian.”

Rusia meluncurkan serangan udara secara brutal dalam mendukung pasukan rezim Bashar al-Assad pada bulan September 2015, menandai bantuan besar dalam upaya rezim terhadap kelompok-kelompok pejuang Suriah.

Faksi Jihad di Ghouta Timur Pukul Mundur Pasukan Assad dari Rif Dimashq

SURIAH (Jurnalislam.com) – Faksi militer daerah Timur Ghouta memukul mundur pasukan Syiah Nushairiyah Assad pada hari Sabtu, dari wilayah yang mereka rebut baru-baru ini di garis depan Medaani provinsi Rif Dimash, lansir ElDorar AlShamia, Sabtu (24/12/2016).

Sumber-sumber militer melaporkan bahwa faksi mujahidin telah meluncurkan serangan balik pada titik yang baru-baru ini direbut pasukan rezim Assad di garis depan Medaani dan pertempuran sengit meletus di sana mengakibatkan hancurnya tank dan sejumlah pasukan Assad tewas.

Sumber menambahkan bahwa bentrokan menggunakan senjata berat dan menengah, telah diakhiri dengan menguasai kembali wilayah Ghouta yang mereka rebut di lima hari terakhir.

Milisi Syiah Hizbullah Libanon pendukung rezim Assad selama lebih dari tiga bulan mencoba untuk membuat kemajuan di garis depan Medaani; menargetkan wilayah tersebut dengan ratusan serangan udara dan tembakan artileri serta peluncur roket namun berkali-kali mengalami kegagalan

Tagar #BebaskanRanu Jadi Trending Topic, Netizen Minta Keadilan Ditegakkan

SOLO (Jurnalislam.com) – Sejak Sabtu (24/12/2016) malam pukul 19.00 WIB, netizen meramaikan sosial media dengan tagar #BebaskanRanu. Tagar ini ramai digunakan netizen pasca penangkapan Ranu Muda, seorang jurnalis muslim di Surakarta.

Pantauan Islamic News Agency (INA), tagar #BebaskanRanu naik ke urutan kedua topik yang paling dibicarakan (trending topic) di seluruh Indonesia. Tagar #BebaskanRanu hanya satu tingkat di bawah urutan ‘Selamat Natal’.

Akun @jituofficial, yang merupakan akun resmi milik Jurnalis Islam Bersatu (JITU) menceritakan kronologis di seputar peristiwa penangkapan Ranu dan 5 aktivis Solo lainnya.

“Kasus ini boleh jadi terbilang pelik, karena penuh dengan desas-desus, misleading informasi dari media sekuler juga adanya dugaan skenario gelap utk menjatuhkan aktivis amar maruf nahi munkar #BebaskanRanu,” tulis @jituofficial pada Sabtu malam.

Dilanjutkannya, @jituofficial baru bisa membuat pernyataan sikap setelah 5 hari mengikuti perkembangan informasi dan menemui sejumlah narasumber di lapangan.

Salah seorang netizen, @kyaipandanaran menukas, “#BebaskanRanu kalo negara ini negara hukum. Bukan negara kekuasaan #BebaskanRanu #BebaskanRanu.”

“Kapan keadilan akan terwujud di negeri ini.. #BebaskanRanu,” ujar Muhammad Budianto Bibit Ikan, salah seorang pengguna akun Facebook.

Ranu Muda ialah jurnalis media online Panjimas.com. Ia merupakan anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU) dan anggota Komisi Ukhuwah MUI Surakarta.

Pada Kamis dini hari 22/11, sekitar Pukul 00.10 WIB, Ranu diciduk polisi di rumahnya, Ngasinan Rt 003, Rw 004 Desa Kwarasan, Kecamatan Grogol, Sukoharjo. Ia dituding melakukan perusakan di kafe Social Kitchen sementara ia sedang melakukan tugas jurnalistiknya.

Penangkapan itu disaksikan kedua anaknya yang masih balita yang menimbulkan trauma. Nuraini, istri Ranu menyatakan keluarga tidak diberi Surat Penangkapan. Saat diambil aparat, Ranu hanya memakai kaos lengan pendek dan celana futsal. “Sekedar ingin ganti baju dan ke toilet saja Ranu dilarang,” kata dia.

Saat diangkut ke Mapolda Jawa Tengah di Semarang, kedua mata Ranu dilakban dan tangannya diborgol layaknya seorang kriminal. Hingga kini, Ranu masih ditahan di Polda Jateng.

Reporter: Fajar/IslamicNewsAgency (INA)

screenshot #BebaskanRanu jadi trending topic

FORJIM: Tolak Kriminalisasi Wartawan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Forum Jurnalis Muslim (Forjim) menyayangkan upaya kriminalisasi terhadap wartawan Muslim, Ranu Muda Adi Nugroho (36 tahun). Ranu adalah wartawan media online Islam Panjimas.com, yang bertugas meliput untuk wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya.

Sebelumnya, Ranu ditangkap oleh aparat kepolisian pada Kamis dini hari (22/12) di rumahnya, Ngasinan RT 03/04, Desa Kwarasan, Kecamatan Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah dan selanjutnya ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penggerebekan di Social Kitchen, 18 Desember 2016. Social Kitchen adalah restoran elite di Jl Abdul Rahman Saleh No. 1, Stabelan, Banjarsari, Solo yang diduga melanggar aturan jam operasional, menjual miras dan mempertontonkan tarian telanjang.

“Ranu ini seorang jurnalis yang sekarang bekerja untuk media Islam Panjimas.com. Informasi yang kita dapatkan, pada saat kejadian dia dalam posisi sebagai peliput,” ungkap Ketua Umum Forum Jurnalis Muslim (Forjim), Adhes Satria dalam siaran persnya, Jumat malam (23/12/2016).

Secara pribadi, Adhes mengaku mengenal Ranu dan bahkan pernah melakukan liputan bersama dalam kegiatan Musyawarah Nasional (Munas) MUI di Surabaya pada 2015 lalu. Sebagai wartawan media Islam, sangat wajar jika Ranu memiliki banyak kedekatan dengan tokoh-tokoh Islam dan ormas-ormas Islam. Justru akan aneh jika wartawan media Islam tidak dekat dengan kalangan Islam.

“Dia termasuk wartawan yang gigih dan berdedikasi tinggi terhadap profesinya,” lanjut alumni IISIP Jakarta ini.

Terkait teknis peliputan Ranu yang melekat (embedded) dengan Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) di Social Kitchen pada Ahad dini hari (18/12), Adhes menilai dalam dunia jurnalistik merupakan hal biasa alias lazim wartawan melakukan liputan embedded. Sehingga tidak perlu disoal, kenapa Ranu dalam tugasnya pada dini hari itu menumpang dengan kendaraan pengurus LUIS.

“Kalau embedded journalism itu biasa, bukan hal aneh. Wartawan-wartawan yang ikut liputan penangkapan teroris itu embedded dengan aparat,” jelas wartawan senior yang pernah bergabung dengan Majalah Islam Sabili ini.

Meski liputan melekat, lanjut Adhes, ia yakin Ranu tetap independen dalam menjalankan tugasnya. “Tentu saja dia harus tetap netral, independen, kritis dan tetap menyampaikan informasi secara berimbang sesuai dengan prinsip-prinsip jurnalistik,” imbuhnya.

Adhes mengatakan, penetapan tersangka terhadap Ranu akibat melakukan tugasnya sebagai seorang wartawan, akan menjadi preseden buruk bagi profesi jurnalis dan kebebasan pers. Karena itu ia tegas menolak segala upaya kriminalisasi terhadap wartawan.

“Kami meminta aparat untuk menghentikan upaya-upaya kriminalisasi terhadap wartawan. Terkait Ranu, bila ternyata dia tidak terbukti ikut melakukan perusakan di Social Kitchen kami mendesak agar dia dibebaskan secepatnya,” pungkasnya. []