Ini Alasan Gontor Datangkan Dr Zakir Naik

PONOROGO (Jurnalislam.com) – Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, memiliki sejumlah alasan untuk mendatangkan cendekiawan Muslim dunia, Doktor Zakir Abdul Karim Naik atau yang akrab dipanggil Dr Zakir Naik ke Gontor. Karena itu sejak setahun lalu, melalui acara “Peringatan 90 Tahun Gontor”, pihak Gontor telah berusaha untuk mengundang ahli perbandingan agama dari India itu untuk menyampaikan kuliah umum.

“Kedatangan Dr Zakir Naik diyakini Gontor bisa memberikan wawasan dan cakrawala baru serta dapat membangun pola pikir umat yang lebih global dan terbuka,” ungkap Ketua Pelaksana International Public Lecture UNIDA Gontor, Dr. Muhammad Kholid Muslih, M.A, saat ditemui di Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, Ahad (12/3/2017).

Gontor juga menilai, peraih penghargaan tertinggi dari Kerajaan Saudi Arabia, King Faisal International Prize (KFIP) itu juga merupakan tokoh Islam dunia yang mampu menjelaskan Islam secara sistematis, gamblang, ilmiah, santun dan damai.

“Hal ini sangat penting untuk menjawab berbagai tuduhan miring tentang Islam yang diarahkan oleh media-media mainstream dunia,” ungkap Kholid.

Secara internal, lanjut Kholid, bagi santri dan mahasiswa Gontor kedatangan tokoh berkelas dunia akan memberikan inspirasi kuat, bahwa -dengan kesungguhan, ketekunan serta potensi yang dimiliki serta izin Allah- dari rahim bumi Indonesia dan juga pesantren bisa terlahir tokoh berkaliber dunia, untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi dunia.

Hal lain yang dianggap penting bagi Gontor adalah terbangunnya kesatuan pemikiran, rasa, dan perasaan dalam diri umat Islam di Indonesia terkhusus santri dan mahasiswa, bahwa umat Islam dimanapun saja berada merupakan satu kesatuan yang saling terkait, tersambung dan terhubung yang tidak terpisah satu sama lain. “Bagaikan satu jasad yang tidak bisa dipisahkan,” imbuh Ketua Program Studi Ilmu Akidah Program Pascasarjana UNIDA itu.

Secara keilmuan, kajian tentang Kristologi serta Studi Agama-agama selain ada di Prodi Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin, juga ada di dalam Program Kaderisasi Ulama (PKU) serta bagian dari kajian Center for Islamic and Occidental Studies UNIDA. Bahkan merupakan prodi pertama dalam sejarah Perkembangan Perguruan Tinggi Darussalam Gontor.

“Kedatangan Zakir Naik ke Gontor -diyakini- akan memberikan spirit dan semangat serta pencerahan baru untuk pengembangan Studi dan kajian-kajian bidang ini dimasa yang akan datang,” kata Kholid yang juga pengajar pada Program Doktor Akidah dan Filsafat Islam UNIDA itu.

Lebih lanjut Kholid memaparkan, sejak berdirinya Gontor telah bercita-cita agar menjadi Universitas Islam bertaraf internasional yang berarti dan bermutu. Karenanya, visi dan orientasi serta kegiatan Universtas Darussalam selalu ke arah internasionalisasi ini.

Untuk mereliasisasikan cita-cita tersebut, kata Kholid, ada dua hal yang dilakukan UNIDA Gontor. Pertama, menjalin hubungan dengan berbagai perguruan tinggi dan lembaga bereputasi Internasional. Kedua, mendatangkan tokoh-tokoh bereputasi dunia. Dr Zakir Naik adalah salah satunya.

“Karena maksud terkhir ini Gontor dalam rangka peringatan 90 Tahun Pondok Modern Gontor mengundang Grand Syeikh al-Azhar, Imam Masjidil Haram Syeikh Dr. Abdurrahman as-Sudais serta Dr. Zakir Naik,” pungkasnya.

Seperti diketahui, UNIDA Gontor akan menggelar International Public Lecture bertema “Religion in the Right Perspective” dengan narasumber Dr Zakir Naik. Kuliah umum yang akan dihadiri 10 ribu peserta dari kalangan mahasiswa, dosen dan masyarakat umum itu akan digelar di Depan Balai Pertemuan Pondok Modern Darussalam, Gontor, Ponorogo, pada Rabu, 05 April 2017 pukul 08.00-12.00 WIB. []

 

2000 Peserta Sudah Daftar Kuliah Umum Zakir Naik di Gontor

PONOROGO (Jurnalislam.com) – Panitia International Public Lecture Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor menyatakan kesiapannya untuk menggelar even internasional yang akan menghadirkan cendekiawan Muslim dunia, Dr Zakir Abdul Karim Naik, pada 5 April mendatang.

“Panitia telah terbentuk semenjak akhir bulan lalu, sudah mengadakan dua kali rapat koordinasi,” ungkap Ketua Panitia International Public Lecture UNIDA Gontor, Dr. Muhammad Kholid Muslih, M.A, saat ditemui di Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, Ahad (12/3/2017).

Kholid menjelaskan, panitia telah membuka pendaftaran secara resmi sejak tiga hari yang lalu melalui website maupun pesan singkat (SMS) dan WhatsApp. Sejak dibuka hingga hingga Ahad malam (12/3/2017), calon peserta yang mendaftar mencapai 2000 peserta. Bahkan, perkembangan pada Senin (13/3/2017) pukul 16.45 WIB, pendaftar telah mencapai 2.417 peserta.

Menurut Kholid, Tim Panitia yang berkantor di Gedung CIOS UNIDA Gontor saat ini terus bekerja keras hingga larut malam agar bisa menyukseskan perhelatan akbar yang direncanakan akan menampung 10.000 peserta.

“Kami mohon doa semua pihak untuk kesuksesan acara ini,” pinta Ketua Program Studi Ilmu Akidah, Program Pascasarjana UNIDA itu.

International Public Lecture UNIDA Gontor merupakan salah satu kegiatan dari rangkaian safari dakwah Dr Zakir Naik yang bertajuk “Zakir Naik Visit Indonesia 2017.” Di Gontor, Zakir Naik akan menyampaikan kuliah umum bertema “Religion in the Right Perspective”.

Kuliah umum yang akan dihadiri 10 ribu peserta dari kalangan mahasiswa, dosen dan masyarakat umum itu akan digelar di Depan Balai Pertemuan Pondok Modern Darussalam, Gontor, Ponorogo, pada Rabu, 05 April 2017 pukul 08.00-12.00 WIB. Kuliah umum Zakir Naik disampaikan dalam bahasa Inggris, dan akan diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Bagi masyarakat yang ingin mengikuti acara ini dapat mendaftar dengan mengisi Form Pendaftaran Online (http://unida.gontor.ac.id/registration/public-lecture/) atau melalui pesan singkat (SMS) dan Whatsapp (WA) 05768089735 (Indosat), 087759225253 (XL) serta 081357640340 (Telkomsel).

Sempat Ditolak, Saksi Ahli Ahok Ini Malah Sebut Niat Menista Agama Sudah Terpenuhi

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Saksi Ahli Hukum Pidana dari UGM yang dihadirkan Penasehat Hukum (PH) Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok sebagai saksi yang meringankan (a de charge) menyatakan, unsur niat dalam tindak pidana penistaan agama Ahok patut diduga sudah terpenuhi.

Hal ini disampaikan Prof. Dr. Edward Omar Sharif Hiariej dalam lanjutan persidangan keempat belas perkara penistaan agama di Auditorium Kementerian Pertanian, Ragunan, Selasa (14/03/2017).

Dalam kesaksiannya, Edward menegaskan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) poin 12, ia menyebut berdasarkan video-video dan buku Ahok yang berjudul “Merubah Indonesia” yang sudah dilihat dan dibacanya, maka patut diduga unsur niat penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok sudah terpenuhi.

“Pernyataan ini berpatokan pada Teori Kesengajaan yang diobjektifkan,” terang Ahli ketika ditanyakan keterangannya pada poin 12 oleh Majelis Hakim.

Nasrulloh Nasution, tim advokasi GNPF MUI yang turut hadir mengawal persidangan ini menjelaskan, keterangan Ahli Hukum Pidana ini semakin memperkuat unsur niat dalam tindak pidana penistaan agama. Menurutnya, keterangan Ahli pada poin 12 ini bersesuaian dengan keterangan Ahli Hukum Pidana dari UII Prof Muzakkir dan keterangan Ahli Hukum Pidana dari MUI DR. Abdul Choir.

“Dengan demikian, unsur niat melakukan penistaan agama semakin kuat terbukti sehingga tidak ada lagi keraguan bagi hakim untuk menyatakan Ahok terbukti bersalah,” jelas dia kepada jurniscom, Selasa (3/14/2017).

Nasution mengatakan, Ahli Hukum Pidana dari UGM ini pernah diperiksa oleh Penyidik Bareskrim Mabes Polri. Namun oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) tidak dihadirkan di persidangan, dengan alasan keterangan Ahli ini tidak konsisten. Maka itu, kata dia, kehadiran Ahli Hukum Pidana ini sebagai saksi yang meringankan Ahok ditolak oleh JPU, dan oleh karenanya dalam persidangan Jaksa tidak bertanya kepada Ahli.

“Ahli ini tidak konsisten keterangannya, makanya tidak dipanggil Jaksa. Tapi keterangannya poin 12 sudah cukuplah bagi Jaksa untuk mencantumkannya dalam surat tuntutan,” papar Koordinator Persidangan GNPF MUI ini.

Diketahui, persidangan keempat belas telah selesai pada pukul 15.20 WIB, dan perisdangan akan dilanjutkan pekan depan dengan agenda lanjutan pemeriksaan Ahli yang akan dihadirkan oleh Penasehat Hukum Ahok. Penasehat Hukum Ahok rencananya akan menghadirkan 4 Ahli lagi pekan depan, dari berbagai bidang.

“Kita lihat apakah mereka (Ahli) kompeten dan profesional dalam bidangnya atau justru keterangannya sangat menunjukkan keberpihakannya kepada Ahok,” tutup Nasrulloh.

Sebelumnya, Saksi Ahli Pidana dari UGM ini sempat ditolak Majelis Hakim. Majelis Hakim menilai, menghadirkan saksi ahli sebelum saksi fakta tidak sistematis.

“Kalau saudara ingin memeriksa saksi ahli, boleh. Asalkan, setelah itu tidak ada saksi fakta. Kalau masih ada saksi fakta tambahan, saksi ahli tidak diperiksa hari ini agar berita acara pemeriksaan bisa sistematis,” kata ketua Majelis Hakim, Dwiarso.

(HA)

OKI Serukan Penarikan Segera Pasukan Armenia dari Wilayah Azerbaijan

JEDDAH (Jurnalislam.com) – Sekretaris Jenderal Organisasi Kerjasama Islam-OKI (Organization of Islamic Cooperation-OIC) Yousef al-Othaimeen telah menyerukan penarikan “segera” dan “tanpa syarat” pasukan Armenia dari wilayah Azeri yang mereka duduki.

Al-Othaimeen mengeluarkan pernyataan tersebut pada upacara hari Senin di kota Jeddah Saudi untuk menandai peristiwa pembantaian Khojali tahun 1992 yang ke-25, di mana ratusan warga sipil Azeri – termasuk anak-anak – tewas oleh pasukan Armenia.

“Pembantaian Khojali adalah hasil dari pendudukan Armenia yang tidak sah di wilayah Azeri,” katanya, lansir World Bulletin, Senin (13/03/2017).

Al-Othaimeen menyerukan negara-negara anggota OKI untuk mendesak Armenia mengakhiri pendudukannya atas tanah Azeri dan “mematuhi hukum internasional serta menghormati integritas wilayah Azerbaijan”.

Pembantaian, yang berlangsung pada 25 dan 26 Februari Tahun 1992, dianggap sebagai salah satu episode paling berdarah dalam perang antara Armenia dan Azerbaijan (1988-1994) untuk menguasai wilayah terakhir Upper Karabakh, yang tetap diduduki oleh Armenia

Setelah pembubaran Uni Soviet, pasukan Armenia mengambil alih kota Khojali di Upper Karabakh setelah menyerang dengan artileri dan tank.

Serangan dua jam tersebut menewaskan 613 penduduk Azeri, termasuk 116 perempuan dan 63 anak-anak, dan menyebabkan hampir 500 lainnya terluka kritis, menurut laporan resmi Azeri.

Kira-kira 150 dari 1.275 warga Azeri ditangkap pada saat itu oleh pasukan Armenia dan hingga kini masih tetap hilang.

Pemerintah Myanmar Terindikasi, HAM PBB: Muslim Rohingya Butuh Penyelidik Tingkat Tinggi

MYANMAR (Jurnalislam.com) – Pemerintah Myanmar “terindikasi mencoba untuk mengusir” semua Muslim Rohingya dari wilayahnya, seorang ahli hak asasi manusia PBB mengatakan, mendorong dilaksanakannya penyelidikan tingkat tinggi atas pelanggaran terhadap komunitas minoritas kaum Muslim.

Seperti yang di laporkan Aljazeera, Yanghee Lee, pelapor khusus PBB tentang hak asasi manusia di Myanmar, mengatakan kepada dewan HAM PBB di Jenewa pada hari Senin (13/03/2017) bahwa bukti-bukti menunjukkan pembersihan penuh tampaknya menjadi tujuan akhir dari penganiayaan institusional yang dilakukan terhadap Rohingya.

“Dengan melakukan survei nasional, untuk menghilangkan satu-satunya bukti hukum status Myanmar, menunjukkan pemerintah mencoba mengusir seluruh penduduk Muslim Rohingya dari negara,” katanya.

Tentara Myanmar melancarkan tindakan keras berdarah terhadap warga Muslim Rohingya pada bulan Oktober di negara bagian Rakhine Utara setelah sekelompok orang yang dibiarkan pemerintah malancarkan serangan pada beberapa pos perbatasan.

Penyelidik PBB mengatakan selama operasi militer pembunuhan sadis pada warga terjadi para wanita diperkosa secara massal oleh tentara dan bayi Rohingya disembelihi, ratusan rumah dibakar.

Lee ingin agar dewan hak menetapkan penyelidikan tingkat tertinggi PBB, Komisi Penyelidik, untuk menyelidiki tindakan sadis, serta operasi pembantaian pada tahun 2012 dan 2014.

Utusan PBB Myanmar di Jenewa Htin Lynn mengatakan pada dewan pada hari Senin bahwa tuduhan tersebut belum diverifikasi dan sepihak. Dia mengatakan operasi keamanan di Rakhine telah dihentikan dan jam malam dikurangi awal bulan ini.

“Situasi di negara bagian Rakhine sangat rumit dan dengan demikian memerlukan jawaban yang rumit, serta membutuhkan pemahaman yang lebih besar oleh masyarakat internasional,” katanya.

“Myanmar tidak menerima gagasan komisi Penyelidikan, namun kita serius menangani aksi kejahatan kemanusian skala nasional ini.”

Pejuang Oposisi Sepakat akan Tinggalkan Kota Homs

HOMS (Jurnalislam.com) – Pejuang oposisi Suriah diizinkan untuk meninggalkan lingkungan terakhir yang sebelumnya mereka kuasai di kota Homs di bawah kesepakatan rezim Assad yang didukung Rusia dan ditandatangani pada hari Senin (13/3/2017), Aljazeera melaporkan.

Menurut Talal Barrazi – Gubernur Provinsi Homs dimana kota Homs adalah ibukotanya – kesepakatan itu harus dilakukan dalam waktu enam sampai delapan pekan.

Kesepakatan ini mengikuti perjanjian lain yang tidak pernah sepenuhnya dilaksanakan antara rezim Suriah dan kelompok oposisi di al-Waer, benteng terakhir mereka di Homs, yang telah ditargetkan oleh serangan udara secara intensif dalam beberapa pekan terakhir.

Homs, kota terbesar ketiga di negara itu, pernah menjadi pusat perlawanan terhadap Presiden Bashar al-Assad.

Sepanjang perang Suriah, sekarang di akhir tahun keenam, sebagian besar wilayah di kota dikuasai oleh oposisi, tetapi pasukan rezim didukung Rusia dan koalisi Milisi Syiah bentukan Iran akhirnya kembali menguasai semua wilayah kecuali al-Waer.

Al-Waer adalah rumah bagi sekitar 75.000 orang dan telah berada di bawah pengepungan pemerintah sejak 2013, memicu kekurangan obat-obatan dan kadang-kadang makanan.

PBB belum mampu memberikan bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan ke al-Waer sejak September 2016.

Jubir Jaish al Islam: Pertempuran di Daraa Tewaskan dan Lukai Lebih dari 20 Pasukan Assad

SURIAH (Jurnalisalm.com) – Juru bicara Kepala Staf Jaish al-Islam, Hamzah Bayrakdar mengatakan bahwa pertempuran yang sedang berlangsung di kawasan Manshiya di Daraa (al-Mout Wala al-Mazallah) memberikan kontribusi signifikan untuk mengurangi tekanan pada Timur Ghouta di provinsi Rif Dimashq, lansir ElDorar AlShamia Senin (13/3/2017).

Unit Operasi “Al-Bonyan Almarsos” telah kembali pada hari Ahad (12/3/2017), pertempuran di kota Daraa, dan mampu membuat kemajuan dengan merebut kendali lokasi baru setelah bentrokan berlangsung berjam-jam, menewaskan dan melukai lebih dari 20 tentara rezim Suriah, juga menghancurkan sejumlah kendaraan, kemudian faksi revolusioner merebut “blok Abu al-Raha”, yang dianggap wilayah paling penting di mana milisi Assad bersembunyi di dalam kawasan Manshiya.

Timur Ghouta telah mengalami pengepungan terus menerus selama lima tahun, saat pasukan Assad dan milisi mengintensifkan serangan dengan adanya intervensi militer Rusia tahun lalu.

Perundingan Damai Suriah Putaran Ketiga akan Digelar Hari ini di Astana

ASTANA (Jurnalislam.com) – Peserta tiba di Astana, ibukota Kazakhstan pada hari Senin (13/03/2017) untuk menghadiri putaran ketiga pembicaraan Suriah di sana, kata menteri luar negeri Kazakhstan.

“Delegasi tiba hari ini untuk berpartisipasi dalam proses Astana putaran berikutnya untuk menyelesaikan situasi di Suriah,” kata Kairat Abdrakhmanov, lansir Anadolu Agency.

Astana pada hari Selasa (14/03/2017) akan menjadi tuan rumah pertemuan dua hari lagi yang dihadiri oleh perwakilan dari Rusia, Turki, dan Iran.

“Untuk saat ini, saya tidak bisa mengatakan siapa lagi yang akan menghadiri pembicaraan,” kata Abdrakhmanov. Dia menegaskan partisipasi tiga negara penjamin, seraya menambahkan: “Kami sedang menunggu konfirmasi dari peserta lain.”

Oposisi Suriah, pada hari Sabtu mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka diundang untuk pembicaraan tapi menuntut ditutupnya pembicaraan setelah 20 Maret, mengutip pelanggaran gencatan senjata.

Delegasi oposisi Osama Abu Zaid mengatakan di akun Twitter pribadinya bahwa oposisi tidak akan menghadiri pembicaraan.

Kementerian Luar Negeri Kazakhstan juga mengirimkan undangan untuk perwakilan PBB, Amerika Serikat, dan Yordania.

Abdrakhmanov mengatakan kehadiran Jordan akan memastikan partisipasi oposisi Suriah dalam rapat.

Tentang format pertemuan, menteri mengatakan: “Format dan agenda pembicaraan tergantung pada negara-negara penjamin, yaitu Rusia, Turki, dan Iran.”

Setelah gencatan senjata yang mulai berlaku pada 30 Desember, putaran pertama perundingan Suriah di Astana yang diadakan pada tanggal 23 Januari dan 24 ditengahi oleh Turki, yang mendukung oposisi, dan Rusia dan Iran, yang mendukung rezim Syiah Bashar al Assad.

Suriah telah terkunci dalam perang global sejak awal 2011, ketika rezim Nushairiyah Bashar al-Assad menumpas aksi unjuk rasa dengan keganasan militer tak terduga.

Sejak itu, lebih dari seperempat juta orang telah tewas dan lebih dari 10 juta lainnya menjadi pengungsi di seluruh negeri yang babak belur akibat perang- itu, menurut PBB.

Koalisi Arab Kembali Gempur Pemberontak Syiah Houthi di Perbatasaan, 28 Tewas

YAMAN (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 28 pasukan pemberontak Syiah Houthi tewas hari Senin (13/03/2017) dalam serangan udara koalisi pimpinan Arab Saudi dan serangan artileri oleh tentara Yaman di provinsi Hajjah di barat laut dekat perbatasan Saudi, menurut tentara Yaman, lansir World Bulletin.

“Pasukan militer kami hari ini mengupas posisi Houthi di distrik Midi provinsi Hajjah, menewaskan delapan militan Houthi,” kata pusat informasi militer dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan di halaman Facebook resmi mereka.

“Sementara itu, koalisi udara Arab [yang dipimpin Saudi] pada siang hari yang sama menargetkan sejumlah lokasi Houthi di Direktorat Hiran provinsi Hajjah, menewaskan sedikitnya 20,” tambah pernyataan itu tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Pemberontak Houthi juru bicara belum mengomentari pernyataan tentara.

Yaman tetap dalam keadaan perang sejak 2014, ketika pemberontak Syiah Houthi yang didukung Iran dan pasukan yang setia kepada mantan Presiden Ali Abdullah Saleh menyerbu ibukota Sanaa dan bagian lain negara.

Konflik meningkat pada tahun 2015 ketika Arab Saudi dan sekutu Arabnya meluncurkan serangan udara luas untuk membalikkan keuntungan militer Houthi dan menopang pemerintah Yaman yang didukung Saudi.

Jenderal Irak: 40 Persen Mosul Barat telah Dikuasai

MOSUL (Jurnalislam.com) – Pasukan pertahanan Irak mengatakan telah menguasai lebih dari sepertiga Mosul barat setelah memperoleh keuntungan stabil dalam pertempuran mereka untuk merebut kembali kota yang dikuasai IS yang memerangkap 600.000 warga sipil, lansir Aljazeera Ahad (12/03/2017).

Staf Mayor Jenderal Maan al-Saadi dari pasukan elit Irak mengatakan kepada kantor berita AFP, pada hari Ahad bahwa sekitar 17 dari 40 kabupaten barat dari kota terbesar kedua Irak tersebut telah direbut kembali dari Islamic State (IS).

Tidak mungkin untuk secara independen mengkonfirmasi klaim tersebut.

“Musuh telah kehilangan kekuatan melawan dan tekad mereka telah melemah. Mereka telah mulai kehilangan komando dan kontrol,” kata Saadi.

Dia mengatakan pasukannya bertempur melawan IS di daerah al-Jadida dan al-Aghawat di Mosul pada hari Ahad.

Komando operasi gabungan Irak mengatakan unit pasukan khusus dan polisi federal lain menyerang daerah Bab al-Toub di tepi Kota Tua Mosul.

“Pertempuran ini tidak mudah … Kami melawan musuh yang tidak teratur yang bersembunyi di antara warga dan menggunakan taktik perangkap booby-trap, bom, dan pelaku bom martir, dan operasi berlangsung dengan rencana menyelamatkan kehidupan warga,” kata Brigadir Jenderal Yahya Rasool.

Kemudian pada hari Ahad, Brett McGurk, utusan AS untuk koalisi anti-IS, mengatakan daerah tersisa di sekitar Mosul barat yang dipegang oleh IS benar-benar telah dikepung oleh pasukan Irak.

“IS terperangkap. Baru semalam, divisi militer Irak ke-9, di dekat Badush, di barat laut Mosul, memotong jalan terakhir keluar dari Mosul,” katanya

McGurk mengklaim bahwa IS telah kehilangan lebih dari 60 persen wilayah yang pernah mereka kuasai di Irak.