IS Mulai Mengkosongkan Kota Raqqah

SURIAH (Jurnalisam.com) – Sekelompok pasukan Islamic State (IS) telah mengevakuasi kota Raqqa di Suriah semalam (Sabtu malam), menyandera warga sipil sebagai tameng, kata seorang juru bicara IS, saat pasukan yang tinggal di belakang masih bertempur.

Pasukan Demokratik Suriah (the Syrian Democratic Forces-SDF), sebuah aliansi milisi Kurdi dan Arab yang didukung agresor AS, mengatakan bahwa pasukan asing tidak termasuk dalam kesepakatan penarikan tersebut, Aljazeera melaporkan Ahad (15/10/2017).

Namun, anggota Dewan Sipil Raqqa mengatakan bahwa beberapa pasukan asing IS berhasil keluar bersama kelompok IS Suriah saat mereka meninggalkan ibukota yang mereka proklamirkan sendiri di utara negara tersebut.

IS membawa sekitar 400 warga sipil sebagai tameng manusia, menurut SDF.

Jepit IS di Raqqah, Jubir Koalisi AS: Kami Tidak Terima Negosiasi

Omar Alloush, anggota Dewan Sipil Raqqa, tidak mengatakan berapa banyak pasukan yang tinggal di kota tersebut, dimana Pasukan Demokratik Suriah telah menempatkan mereka ke dalam daerah kantong kecil.

Talal Silo, juru bicara SDF lainnya, mengatakan bahwa pasukan IS yang tertinggal di kota harus “menyerah atau mati”.

SDF pada hari Ahad mengumumkan “tahap akhir” pertempuran tersebut, dengan mengatakan bahwa pejuangnya telah memulai operasi untuk merebut 10 persen wilayah terakhir kota yang masih di bawah kendali IS.

Kekalahan IS di Raqqa akan menjadi tonggak sejarah dalam upaya untuk mematahkan “kekhalifahan” yang diumumkan sepihak kelompok tersebut pada tahun 2014 di Suriah dan Irak, di mana awal tahun “kekhalifahan” versi IS digerakkan dari kota utara Mosul.

IS menguasai Raqqa pada tahun 2014, dan merupakan kota pertama yang berada di bawah kendali penuh mereka. Raqqa menjadi identik dengan pelanggaran terburuk IS, dan terkenal sebagai pusat perencanaan serangan ke luar negeri.

Jumlah Korban Serangan Bom Truk di Mogadishu menjadi 85 Orang Tewas dan 250 Terluka

SOMALIA (Jurnalislam.com) – Jumlah korban tewas akibat ledakan Sabtu (14/10/2017) di ibukota Somalia, Mogadishu telah meningkat menjadi sedikitnya 85 orang, seorang pejabat dari layanan ambulans kota tersebut mengatakan kepada Al Jazeera.

Sebanyak 250 lainnya terluka dalam ledakan tersebut, yang terjadi di persimpangan yang sibuk, Abdulkadir Abdirahman mengatakan.

Presiden Mohamed Abdullahi Mohamed Farmaajo mengumumkan tiga hari berkabung nasional yang dimulai pada hari Ahad (15/10/2017), menyusul serangan tersebut.

“Kami menetapkan tiga hari berkabung untuk korban yang tidak bersalah, bendera akan dikibarkan setengah tiang. Waktu untuk bersatu dan berdoa bersama. Terror tidak akan menang,” kata Presiden Mohamed dalam sebuah pernyataan yang diposting di akun Twitter resmi presiden sejak Ahad dini hari.

Al Shabaab Bebaskan 8 Petugas Kemanusian Somalia

Ledakan tersebut, yang digambarkan oleh penduduk kota sebagai yang paling kuat yang pernah mereka saksikan di Mogadishu selama bertahun-tahun, juga menyebabkan puluhan orang cedera dan presiden meminta warga untuk membantu mereka yang terkena dampak serangan tersebut.

“Saya meminta seluruh warga untuk keluar, memberikan bantuan, menyumbangkan darah dan menghibur orang yang berduka. Mari kita selesaikan ini bersama,” kata Mohamed.

Tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Ledakan itu meninggalkan jejak kehancuran dengan rumah-rumah dan bisnis terdekat diratakan dan kendaraan berubah menjadi bangkai-bangkai yang terbakar.

Layanan darurat bekerja keras sampai larut malam mencoba menyelamatkan orang-orang yang terjebak di bangunan yang hancur.

Walikota meminta penduduk untuk menyumbangkan darah saat rumah sakit kehabisan darah.

“Saya meminta penduduk Somalia untuk mengunjungi rumah sakit kota dan menyumbangkan darah. Tolong, datang untuk selamatkan saudara Anda,” Thabit Abdi Mohammed, mengatakan kepada wartawan setelah menyumbangkan darah di sebuah rumah sakit setempat.

Ledakan truk pada hari Sabtu terjadi 48 jam setelah kedua menterinya, menteri pertahanan dan menteri militer negara Tanduk Afrika mengundurkan diri dari jabatan mereka tanpa penjelasan.

Bad Economy and Poverty Assessed Can not be Fixed By Jokowi Government

JAKARTA (Jurnalislam.com) -The result of the survey by Indonesian Political Indicators shows that 43 percent of Indonesian people feel the fulfillment of basic needs is heavier than last year. Only 18 percent felt that the fulfillment of basic needs increasingly light.

Executive Director of Indonesia Political Indicator Burhanuddin Muhtadi said the most urgent issue related to the interests of the people everywhere is economic. On these issues, more people argue negatively, although the number of positive assessments increased compared to last year

“The fulfillment of basic needs, treatment, education, the number of unemployed, the number of poor people, employment, and general welfare are still not positive,” said Burhanuddin at the Office of Cikini V Indicators Jakarta on Wednesday (11/10).

As many as 50 percent of respondents say, unemployment problems more and more, and only 20 percent say less. As many as 42 percent of respondents also said the problem of poverty more and more, while 24 percent said more and less. In addition, 54 percent admitted increasingly difficult to find a job, and only 14 percent who said the easier.

Burhan noted, Jokowi’s performance is considered bad in reducing the number of poor people, providing jobs, reducing unemployment, and making the price of basic necessities affordable by the people in general.

Nevertheless, Burhan said, since the beginning of 2016 many public who assess the national economic condition improved. In general, the results of this survey indicate 43.3 percent of respondents feel the national economic condition is getting better than last year.

“Jokowi’s most progressive government work is in the field of infrastructure development, especially public roads, inter-provincial intercity roads outside Java, public transportation facilities, and toll road development outside of Java,” he said.

Burhan said, Jokowi’s efforts to make health services in health centers and hospitals more accessible, also appreciated. As many as 41 percent feel the fulfillment of the needs of treatment getting lighter, as well as the needs of education is felt increasingly light by 38 percent of the public.

Gerindra Party politician Nizar Zahro said the weakness of the Jokowi-JK government in the economic field has become a gap that can be used by Gerindra Party to win the hearts of beginner voters all over Indonesia. He said there was still two years for Gerindra Party to get ready and raise elektabilitas.

“This is still a lot of loopholes and there are still many that have not been fulfilled by the Jokowi-JK government, especially about employment, economic growth, poverty rate and also the level of basic food needs,” Nizar said.

Translator: Taznim

Militer Turki Masuk ke Dalam Idlib Tanpa Koordinasi, Ini Kata Erdogan

ANKARA (Jurnalislam.com) – Ankara mengambil “tindakan sendiri” di provinsi Idlib di Suriah tanpa koordinasi dengan Aliansi bersenjata Hayat Tahrir al Sham (HTS) yang mengendalikan provinsi Idlib karena perbatasan Idlib berbatasan dengan Turki, Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan pada hari Jumat (13/10/2017).

“Turki berbagi perbatasan dengan Idlib. Jadi, kita harus mengambil tindakan sendiri, “Erdogan mengatakan pada sebuah pertemuan Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) di ibukota Turki, Anadolu Agency melaporkan.

“Kami memiliki garis perbatasan panjang sepanjang 911 kilometer dengan Suriah. Kamilah yang terus-menerus berada dalam ancaman,” tambahnya.

Presiden tersebut menyatakan bahwa Turki adalah sasaran serangan dan plot harian.

“Beberapa serangan tersebut dilakukan untuk mengalihkan perhatian dan energi kami dari perkembangan kritis di wilayah kami,” katanya.

“Mereka yang mendukung kelompok teror seperti, Kelompok Islamic State (IS), Organisasi Teroris Fetullah [FETO] dan PKK (YPG) gagal menyudutkan Turki [dan] sekarang mengambil tindakan langsung,” tambahnya.

Berbicara tentang masa-masa sulit yang dihadapi Turki, termasuk usaha kudeta 15 Juli tahun lalu, Erdogan mengatakan bahwa negara tersebut tidak akan melupakan orang-orang yang mendukungnya di masa-masa sulit atau orang-orang yang “berdiri dengan cara Turki”.

“Tentu kita tahu bahwa hubungan antar negara tidak bisa diatur sesuai asas pertemanan mutlak dan permusuhan mutlak,” tambahnya.

Hayyat Tahrir al Sham Rilis Pertempuran dengan IS di Provinsi Hama

Erdogan juga mengatakan bahwa Turki “sangat tidak nyaman” dengan apa yang dia sebut “standar ganda” yang ditunjukkan oleh beberapa negara terhadap Turki.

“Setiap hari Turki menghadapi pertandingan baru melawan mereka yang tidak bisa membuat kita berlutut di bidang politik, diplomatik, militer atau ekonomi,” kata Erdogan.

“Kami tidak dibatasi hanya dengan perlawanan atau pertahanan. Kami menerapkan rencana permainan kami sendiri, selangkah demi selangkah,” tambahnya.

Pernyataan Erdogan muncul setelah militer Turki mengumumkan pembuatan pos pengamatan di Idlib di bawah kesepakatan Mei antara Turki, yang mendukung kelompok-kelompok bersenjata penentang rezim Suriah Bashar al-Assad, pemimpin Suriah, dan Rusia dan Iran, yang mendukung rezim Syiah Assad.

Kesepakatan tersebut bertujuan untuk memastikan kelanjutan gencatan senjata yang disepakati Desember lalu antara ketiga negara penjamin.

Menurut pernyataan militer, zona de-eskalasi ini diciptakan untuk “meningkatkan keefektifan gencatan senjata, mengakhiri konflik, membawa bantuan kemanusiaan kepada mereka yang membutuhkan [dan] menetapkan kondisi yang diperlukan untuk kembalinya orang-orang yang mengungsi”.

Operasi militer terbaru Turki mengikuti Operasi Euphrates Shield, dimana Tentara Pembebasan Suriah (FSA), yang didukung oleh pasukan Turki, menyingkirkan kelompok Islamic State dari wilayah di Suriah utara antara Agustus 2016 dan Maret 2017.

6 Serdadu Mesir Tewas dalam Sebuah Serangan di Sinai Utara

MESIR (Jurnalislam.com) – Enam tentara Mesir tewas dalam serangan “kelompok bersenjata” di Sinai Utara, dimana ekstremis aktif beroperasi, kata juru bicara militer pada hari Jumat (13/10/2017).

“Elemen ekstremis menyerang sebuah pos keamanan di El-Arish dengan granat tangan dan senjata serbu,” Tamer el-Rifai menulis di halaman Facebook-nya, lansir World Bulletin.

Sebuah kelompok bersenjata di Semenanjung Sinai telah membunuh ratusan tentara dan polisi sejak militer menggulingkan presiden Mesir terpilih Muhammad Mursi pada tahun 2013, dengan sebuah afiliasi kelompok Islamic State (IS) mengklaim bertanggung jawab atas banyak serangan.

Wujudkan Persatuan Palestina, Hamas dan Fatah Sepakati Rekonsiliasi

Sehari sebelumnya dua kekuatan politik Palestina, Hamas dan Fatah, menandatangani sebuah kesepakatan rekonsiliasi di ibukota Mesir, Kairo, pada hari Kamis (12/10/2017), sebagai bagian dari usaha untuk mengakhiri keretakan satu decade.

Pengumuman tersebut disampaikan setelah perwakilan Hamas dan Otoritas Palestina (Palestinian Authority-PA) pimpinan Fatah bertemu di Kairo pada hari Selasa untuk melaksanakan sebuah kesepakatan persatuan yang ditandatangani pada tahun 2011 namun tidak diberlakukan.

Tanpa Koordinasi dengan HTS, Pasukan Turki Bergerak ke Dalam Provinsi Idlib

ANTAKYA (Jurnalislam.com) – Konvoi 12 kendaraan lapis baja pasukan Turki telah memasuki wilayah utara Suriah dalam sebuah gerakan militer baru.

Media berita Turki melaporkan bahwa kendaraan yang membawa tentara tersebut menyeberang ke provinsi Idlib, Kamis malam (Jumat dini hari).

Perkembangan tersebut terjadi setelah Turki mengatakan bahwa pihaknya mengirim pasukan ke Suriah untuk memberlakukan zona de-eskalasi di Idlib, yang dikendalikan oleh aliansi faksi jihad Hayyat Tahrir al-Sham (HTS).

Zona de-eskalasi merupakan bagian dari kesepakatan yang dicapai antara Turki, yang mendukung kekuatan melawan pemerintahan Presiden Bashar al-Assad, dan Iran dan Rusia, yang mendukung pemerintahan Rezim Bashar.

Sumber media Turki mengatakan konvoi tersebut mencakup sekitar 80 tentara.

Sumber-sumber lokal mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pasukan tersebut menuju ke bagian barat provinsi Aleppo.

Analisis: Turki Perhitungkan Kekuatan Hayat Tahrir al Sham di Idlib

Hashem Ahelbarra dari Al Jazeera, Jumat (13/10/2017), melaporkan dari Antakya, dekat perbatasan Turki dengan Suriah, mengatakan puluhan kendaraan militer telah menyeberang ke Suriah.

“Kami tahu dari sumber yang berbeda bahwa militer Turki berada di pinggiran barat provinsi Aleppo, namun tujuan akhir mereka adalah Idlib.

“Masih harus dilihat apa yang akan terjadi pada mujahidin Hayat Tahrir al-Sham, yang dipimpin Jabhat Fath al Sham, bagaimana sikap mereka atas pergerakan pasukan Turki di Idlib?”

Warga sipil di sana kuatir akan potensi bentrokan antara pasukan Tentara Pembebasan Suriah (FSA) yang didukung Turki dan HTS.

Sebuah serangan militer telah terjadi akhir-akhir ini di sepanjang perbatasan Turki dengan Suriah, dimana pemerintah Turki mendukung sebuah operasi untuk mengamankan kontrol perbatasan di provinsi Idlib.

Tentara Turki mulai mendirikan “pos pengamatan” di provinsi Idlib sebagai bagian dari upayanya untuk menciptakan zona de-eskalasi, kata militer pada hari Jumat.

“Pada 12 Oktober (Kamis), kami memulai kegiatan untuk mendirikan pos pengamatan,” kata militer dalam sebuah pernyataan.

Turki menghadapi banyak tantangan saat bergerak lebih dalam di Suriah, kata Ahelbarra.

“Pertama-tama, Turki perlu menerapkan zona de-eskalasi. Mereka harus memastikan bahwa tidak ada pihak yang terlibat dalam pertempuran dalam waktu dekat,” katanya.

Tantangan kedua adalah bahwa pasukan Kurdi beroperasi tidak jauh dari tempat militer Turki ditempatkan di Suriah. Turki mengatakan di waktu lalu bahwa mereka menganggap semua faksi Kurdi, khususnya organisasi SDF dan YPG, sebagai “teroris”, dan bahwa Turki tidak akan membiarkan mereka maju lebih jauh ke barat menuju Mediterania.

Studi Program tentang Wakaf Produktif, IDC Silaturahim dengan BWI

JAKARTA (Jurnalislam.com)– Dalam rangka memaksimalisasi program dakwah, pendidikan dan sosial, Infaq Dakwah Center (IDC) melakukan silaturahim dan studi program wakaf ke Badan Wakaf Indonesia (BWI), pada Selasa (10/10/2017) pagi di Gedung Bayt Qur’an, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur.

Dalam kunjungan silaturahim tersebut, Direktur IDC Mulyadi Abdul Gani beserta relawan IDC diterima baik oleh Direktur Eksekutif BWI Drs. H. Achmad Djunaedi, MBA. Pertemuan berlangsung akrab, hangat dan terbuka. Banyak pencerahan yang didapat terkait wakaf dan segala persoalannya.

Terlebih dahulu, Direktur Eksekutif BWI Achmad Djunaedi memaparkan sejarah wakaf sejak zaman Nabi Muhammad Saw. Ketika itu sahabat Umar bin Khatab memperoleh sebidang tanah di Khaibar, kemudian Umar menghadap Rasulullah meminta petunjuk, Umar berkata, “Ya Rasulullah, saya belum pernah mendapat harta sebaik itu, maka apakah yang engkau perintahkan kepadaku ?”

Rasulullah bersabda : Bila engkau suka, kau tahan tanah itu dan engkau sedekahkan hasilnya (manfaatnya), tidak dijual, tidak dihibahkan dan tidak
diwariskan.”

Lalu, menurut Ibnu Umar, “ Umar menyedekahkannya (hasil pengelolaan tanah) kepada orang-orang fakir, kaum kerabat, hamba sahaya, sabilillah, dan Ibnu
Sabil. Dan tidak dilarang bagi yang mengelola waqaf makan dari hasilnya dengan cara yang baik (sepantasnya) atau memberi makan orang lain dengan maksud tidak menumpuk harta” (HR. Imam Bukhori)

Lebih lanjut, Achmad Djunaedi menjelaskan, saat ini wakaf telah diatur dalam UU No. 41 Tahun 2004 & PP No. 42 Tahun 2006. UU tentang wakaf seperti membangun “negara Islam”. Hanya saja, masih banyak orang Islam yang tidak berpikiran maju, sehingga belum bisa menangkap makna UU tersebut.

“UU Wakaf ini sudah 13 tahun. Boleh dibilang, kalian terlambat mendapat informasi tentang wakaf. BWI akan terus mensosialisiasikan wakaf kepada umat Islam, meski anggaran yang diberikan oleh pemerintah masih sedikit. Nah, jika UU itu dibaca secara baik, nanti baru ngeh betapa dahsyatnya potensi wakaf,” ungkap Djunaedi.

Perlu diketahui, wakaf itu terdiri dari wakaf benda bergerak (berupa uang) dan wakaf tidak bergerak (berupa tanah, masjid, kuburan, masjid, musholla, pesantren, hingga madrasah). Padahal wakaf itu aslinya semacam bisnis. Tahan tanahnya, lalu dikelola hasilnya untuk kepentingan umat Islam.

“Tapi, di Indonesia, potensi wakaf hanya sebatas kuburan, masjid, musholla, pesantren. Seharusnya wakaf bukan hanya diperuntukkan masjid saja, tapi juga usaha komersial lainnya, seperti poliklinik, foodcourt, sarana pendidikan, ruang yang disewakan untuk perusahaan atau bank. Jangan sampai tanah di tempat strategis dipinggir jalan malah diruislagh, dijual, dan jadi sengketa. Faktanya begitu. Tanah Wakaf pun ditabrak,” ujar Djunaedi.

Dalam perjalanannya, wakaf dikelola oleh nadzir (semacam direktur atau manajer). Tapi, sayangnya, lanjut Djunaedi, wakaf dilakukan oleh orang tua yang telah uzur, yang tidak bisa berbuat apa-apa. Harusnya wakaf dikelola oleh mereka yang muda-muda, cerdas dan berpikiran maju.

“Jika ada tanah wakaf, atau masjid tua dipinggir jalan, sebaiknya dipanggil arsitektur untuk membangun masjid yang lebih bagus dan berlantai, yang didalamnya bisa disewakan untuk kepentingan Islam. Untuk membangunnya, bisa dilakukan dengan rekayasa bisnis.”

Selanjutnya akan dikembangkan wakaf produktif. Saat ini Wakaf di Indonesia ada 438.000 atau setara dengan 4 mliyar meter persegi.”

Lebih jauh Djunaedi menjelaskan tentang wakaf uang. Menurutnya, Wakaf Uang beda dengan infaq dan sedekah. Nah, untuk bisa mengelola wakaf uang, harus mendaftar lebih dulu ke BWI, lalu menjadi nadzir wakaf uang. Setelah mendapat SK, dibimbing, barulah kemudian bisa mengelola wakaf uang. “Kalau mengelola dana umat harus ada pertanggungjawabannya,” tandas Djunaedi.

Ketika ditanya apakah pewakif boleh mendapatkan bagi hasil dari tanah yang telah diwakafkan? Djunaedi menjelaskan, “Tidak bisa. Apa yang sudah diwakafkan telah terputus. Tidak ada istilah bagi hasil. Kalau ada pewakif yang minta bagi hasil, itu melanggar UU.”

Djunaedi juga menegaskan, masjid yang dikembangkan pembangunannya untuk usaha komersial lain, jangan dianggap menggusur keberadaan masjid.

“Justru masjid itu diperbagus, ruangnya diperbesar dan ber-AC. Tidak benar jika menghilangkan masjid yang telah ada. Seperti diketahui, lama-lama negara dikuasai kaum kapitalis. Karena itu harus diantisipasi, agar tidak tergerus oleh zaman.” (des/rilis)

Hayyat Tahrir al Sham Rilis Pertempuran dengan IS di Provinsi Hama

SURIAH (Jurnalislam.com)Hay’at Tahrir al Sham (HTS) merilis foto-foto kemarin yang menunjukkan pertempuran antara pasukannya dan Kelompok Islamic State (IS) di provinsi Hama, Suriah, Long Wor Journal.

Foto-foto tersebut menunjukkan pejuang pasukan elit HTS melawan IS di dekat desa Umm Mayal dan Talayhan di daerah timur Hama. Pejuang terlihat maju di medan perang, menggunakan senapan mesin berat dan terlibat dalam pertempuran jarak dekat. Beberapa foto menunjukkan tewasnya pasukan IS yang tersebar di sekitar desa kecil tersebut.

Analisis: Turki Perhitungkan Kekuatan Hayat Tahrir al Sham di Idlib

Pada saat yang sama, HTS juga melaporkan telah membongkar sebuah IED milik IS dan perangkat peledak di markas HTS di provinsi Idlib. IS, sebagai balasan, melakukan pemboman bunuh diri IS di lokasi HTS di Armanaz, Idlib.

Pertarungan antara dua pasukan tersebut meletus lagi awal pekan ini ketika IS meluncurkan operasi “Abu Muhammad al Adnani”, di Suriah tengah. Beberapa hari sebelumnya, HTS meluncurkan serangannya sendiri melawan pasukan rezim Syiah Assad di Hama, mengambil alih kota Abu Dali.

Kini Hayat Tahrir al Sham Kuasai Provinsi Idlib

PM Irak: Tentara Irak Tidak akan Serang Rakyat Kurdi

BAGHDAD (Jurnalislam.com) – Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi pada hari Kamis (12/10/2017) menyatakan bahwa tentara Irak tidak akan digunakan untuk melawan rakyat Kurdi.

“Kami tidak akan menggunakan tentara melawan rakyat dan kami tidak akan berperang melawan warga Kurdi,” kata al-Abadi dalam siaran pers televisi yang disiarkan di televisi pemerintah Irak, lansir Anadolu Agency.

Dia kemudian menekankan bahwa angkatan bersenjata Irak dikhususkan untuk memberikan keamanan publik di Irak dan melindungi negara dari ancaman asing.

Rezim Syiah Assad Dukung Referendum Kurdi

“Tanggung jawab kita adalah untuk melindungi persatuan Irak,” tegasnya.

Ketegangan terus meningkat antara Baghdad dan Pemerintah Daerah Kurdi Irak utara sejak 25 September, ketika peduduk Irak yang berada di daerah kekuasaan KRG (Kurdish Regional Government) – dan di beberapa wilayah yang disengketakan – memberikan suara untuk menyatakan kemerdekaan.

Segera setelah jajak pendapat tidak resmi bulan lalu, Baghdad melarang penerbangan internasional memasuki wilayah yang dikuasai KRG dan menutup semua misi diplomatik asing yang berbasis di wilayah Kurdi.

Jet Tempur Spanyol Jatuh saat Kembali ke Markas

ISTANBUL (Jurnalislam.com) – Sebuah jet tempur milik militer Spanyol jatuh pada hari Kamis (12/10/2017)etelah melakukan sebuah pertunjukan udara untuk merayakan hari nasional negara tersebut.

Kementerian pertahanan Spanyol mengkonfirmasi Eurofighter jatuh di Albacete, Spanyol selatan, saat kembali ke markas, lansir Anadolu Agency.

Kementerian tersebut mengatakan bahwa pilot tewas dalam kecelakaan yang terjadi saat manuver pendaratan.

Jet Tempur Rusia Jungkir Balik di Pangkalan Udara Assad, Pilot dan Kru Tewas

Gambar-gambar, yang konon berasal dari tempat kejadian, menunjukkan asap hitam besar mengepul dari reruntuhan pesawat yang terbakar.

Pihak berwenang Spanyol mengatakan mereka masih menyelidiki insiden tersebut, dan mengatakan penyebab kecelakaan belum diketahui.