Bentrokan Antara Pejuang Muslim Kashmir dengan Pasukan India Berlanjut, 19 Tewas

Srinagar (Jurnalislam.com) – Sebuah aksi penutupan (shutdown) berlanjut untuk hari kedua di seluruh Kashmir yang dikendalikan India, menyusul bentrokan mematikan di desa-desa kubu pejuang dan pasukan penjajah India yang menewaskan 19 orang.

Semua toko, sekolah, dan perguruan tinggi masih ditutup dan jalan-jalan sepi pada hari Senin (2/4/2018) ketika para pemimpin pejuang Kashmir menyerukan penutupan penuh sebagai protes terhadap pembunuhan itu.

Kashmir yang mayoritas Muslim telah terbagi untuk India dan Pakistan sejak merdeka dari Inggris pada 1947.

Ribuan Warga Kashmir Turun ke Jalan Hadapi Tentara India

Di banyak wilayah yang bergejolak, termasuk bagian-bagian lama kota utama Kashmir, Srinagar, ratusan personel keamanan menjaga jalan karena pembatasan yang diberlakukan oleh pemerintah.

Para pemimpin separatis Kashmir memperpanjang seruan penutupan hingga 3 April. Pejabat pemerintah Kashmir memperpanjang penutupan sekolah-sekolah di wilayah tersebut setelah ketegangan baru.

Pada hari Ahad (1/4/2018), 19 orang, termasuk 12 pejuang, empat warga sipil dan tiga tentara India, tewas di tiga desa di distrik selatan Kashmir dan satu pejuang gugur dalam pertempuran senjata singkat di Dialgam, sebuah desa di distrik Anantnag.

Pembunuhan para pejuang menyebabkan demonstrasi besar-besaran di banyak wilayah, di mana lebih dari tiga lusin orang terluka.

SA Dinkar, inspektur polisi setempat, mengatakan kepada Al Jazeera pada hari Senin situasinya terkendali.

“Semua pejuang telah dikuburkan dan acara pemakaman mereka berakhir. Kami tidak mendapatkan laporan tentang bentrokan, kecuali beberapa orang yang luka ringan,” katanya.

Desa-desa di Shopian telah menyaksikan kekerasan secara teratur sejak awal tahun ini dalam bentuk baku tembak antara kelompok perlawanan bersenjata dan pasukan India.

Sebagian besar pejuang yang gugur dalam bentrokan Ahad adalah warga lokal Kashmir selatan.

“Pasukan India menargetkan semua orang tidak peduli apakah pengunjuk rasa atau bukan,” kata Kulsuma Begum, yang menemani putra remajanya di sebuah rumah sakit di kota utama Kashmir, Srinagar.

“Putraku ditembak dengan pelet di mata kiri dan para dokter tidak yakin apakah dia bisa mendapatkan kembali penglihatannya sepenuhnya.

“Sungguh menyakitkan melihat semua anak muda di bangsal sini sedang berjuang untuk bisa melihat kembali.”

Dr Saleem Tak, inspektur medis di Rumah Sakit Shri Maharaja Hari Singh (SMHS), mengatakan hari Ahad adalah hari yang sibuk bagi para staf.

“Kemarin, kami menerima 45 pasien,” katanya kepada Al Jazeera.

Dia mengatakan “41 dari mereka menderita luka akibat serangan pelet di mata mereka, tiga mengalami luka tembak, dan salah satu dari mereka terkena peluru di perutnya. Sisa pasien lainnya stabil.”

Desa-desa di Kashmir selatan telah berubah menjadi benteng perlawanan menyusul pembunuhan seorang komandan muda, Burhan Wani, oleh pasukan penjajah India pada tahun 2016.

Sejak itu, warga secara terbuka mendukung kelompok bersenjata yang memerangi pasukan penjajah India di Kashmir.

Baik Pakistan maupun India mengklaim wilayah Himalaya secara penuh dan telah berperang tiga kali di wilayah pegunungan, yang tetap menjadi salah satu wilayah paling termiliterisasi di dunia.

Warga Kashmir menuntut referendum dilakukan untuk membiarkan mereka memutuskan masa depan mereka.

Puluhan ribu orang, kebanyakan warga sipil, telah tewas sejak 1990.

Komadan Perang untuk Pasukan Wanita Syiah Houthi Tewas oleh Rekan Syiahnya

YAMAN (Jurnalislam.com) – Seorang komandan Syiah Houthi yang terkenal dibunuh di Sanaa, ibukota Yaman yang berada di bawah kendali milisi, sebagai akibat dari meningkatnya perselisihan antar jajaran mereka, Al Arabiya melaporkan Senin (2/4/2018).

Menurut sumber di Sanaa, Hussein al-Bakli, seorang komandan militer Houthi yang bertanggung jawab atas brigade wanita bersenjata “Descendants of Zainab,” yang bertugas menggerebek rumah-rumah dan menekan para pengunjuk rasa perempuan, tewas bersama salah satu temannya pada hari Sabtu (31/3/2018) di Bayt Baws di South Sanaa.

Syiah Houthi: Abdullah Saleh Kami Bunuh karena Pengkhianatan

Bakli ditembak dalam serangan penyergapan, kata sumber, menambahkan bahwa para pembunuh melarikan diri dari tempat kejadian setelah mengkonfirmasi Bakli telah mati.

Sumber menambahkan bahwa Bakli, yang dekat dengan Mohammed Ali al-Houthi, kepala Komite Revolusi, tewas karena perselisihan antar sesama milisi Houthi atas korupsi dan perebutan kekuasaan di daerah yang mereka kendalikan.

Rakyat Mesir Tidak Terkejut As Sisi Menang dengan 97% Suara, Ini Sebabnya

MESIR (Jurnalislam.com) – Sebagai hasil akhir yang tidak mengejutkan bagi rakyat Mesir dan seluruh dunia, Abdel Fattah as-Sisi memenangkan pemilihan presiden dengan 97 persen suara, mengamankan masa jabatan empat tahun lagi, Aljazeera melaporkan Senin (2/4/2018).

Pemilihan Mesir tersebut dikritik sebagai pertunjukan satu orang tanpa oposisi yang kredibel, karena sedikitnya enam kandidat lainnya dibatalkan, diadili, atau dipenjarakan.

Mengumumkan hasil akhir pada hari Senin, komisi pemilihan Mesir mengatakan bahwa pemilih berjumlah 41,5 persen, lebih rendah dari 47 persen pada pemilu 2014.

Satu-satunya lawan yang tersisa untuk melawan as-Sisi adalah Mousa Mostafa Mousa yang tidak banyak dikenal, yang mendaftarkan diri beberapa jam sebelum batas waktu dan berasal dari partai yang sebelumnya telah mendukung as-Sisi.

Memperingati 4 Tahun Kudeta Berdarah Militer Mesir pada Presiden Mursi

Hasil awal yang dirilis pada hari Kamis menunjukkan bahwa Mousa hanya menerima tiga persen suara, dan menurut The Economist, berada di tempat ketiga setelah lebih dari satu juta orang merusak kertas suara mereka.

Beberapa pemilih malah mencoret nama kedua kandidat dan menambahkan nama pemain sepak bola Liverpool sekaligus anggota tim sepak bola nasional Mesir, Mohamed Salah, yang dilaporkan mendapat suara dua kali lebih banyak daripada Mousa.

Namun hasil tersebut direvisi keesokan harinya untuk menunjukkan bahwa tidak ada surat suara yang rusak.

“Pemilihan ini adalah lelucon dan penuh kepalsuan,” Sarah Yerkes, seorang rekan di Carnegie Endowment for International Peace yang berbasis di Washington, mengatakan kepada Al Jazeera.

“Pemilihan ini tidak benar-benar penting bagi negara.”

Masa jabatan pertama as-Sisi di kantor, yang dimenangkannya setelah militer menyingkirkan Presiden Muhammad Mursi dari kekuasaan, dicirikan oleh janji-janji yang gagal dipenuhi, seperti memberantas “terorisme” dan meningkatkan ekonomi negara.

Negara-negara Teluk, terutama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, memompa investasi miliaran dolar ke Mesir ketika as-Sisi pertama kali menjabat, tetapi penindasan juga meningkat dengan “kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya”, James Gelvin, profesor Sejarah Timur Tengah Modern di Universitas California, Los Angeles, mengatakan kepada Al Jazeera.

Pengadilan Mesir Jatuhi Hukuman Mati pada Dr Yusuf Qaradawi

“banyaknya uang tunai secara cepat tidak dapat mengurangi krisis ekonomi Mesir dalam jangka panjang, yang merupakan hasil dari perencanaan ekonomi yang buruk, kronisme, dan ledakan demografis,” katanya.

Krisis ekonomi di Mesir akan menjadi prioritas as-Sisi selama masa jabatan keduanya di kantor, dengan resiko menjerumuskan penduduk ke dalam kesengsaraan lebih lanjut, kata Galvin.

Profesor itu mengutip sejumlah faktor ekonomi yang saat ini kemungkinan akan memburuk, seperti tingkat pengangguran yang tinggi, pembatasan makanan dan bahan bakar, ketidaksetaraan pendapatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan aturan plutokrasi.

“Dalam sebuah dunia di mana kebijakan ekonomi neoliberal adalah satu-satunya resep untuk ekonomi nasional dalam krisis, hanya ada rasa sakit yang meningkat di pasar bagi warga Mesir,” katanya.

“Ketika [mantan presiden] Sadat dan Mubarak berusaha memaksakan kebijakan neoliberal, pemberontakan rakyat – yang disebut kerusuhan IMF – terjadi,” katanya.

“Dalam situasi seperti ini, Sisi tidak diragukan lagi akan melanjutkan represi yang keras, mungkin beralasan membasmi ancaman terorisme.”

Mantan panglima angkatan bersenjata yang berusia 63 tahun tersebut mempertahankan basis pendukung setia, yang memandangnya sebagai kekuatan untuk stabilitas dan bukan demokrasi.

“Tidak ada yang percaya dia seorang demokrat,” kata Sarah Yerkes. “Sebaliknya, banyak orang Mesir yang senang mengorbankan demokrasi jika itu berarti kinerja ekonomi, stabilitas, dan keamanan yang lebih besar.

“Masalah dalam argumen itu adalah bahwa ekonomi Mesir dan situasi keamanan semakin memburuk – tidak membaik, di bawah kekuasaan otoriter Sisi,” tambahnya.”

Menurut Gelvin, Sisi bergantung pada dukungan berkelanjutan dari “negara dalam (deep state)” – yang meliputi militer, birokrasi dan peradilan – dan pendukungnya.

Begini Obrolan Trump dengan Presiden Mesir pada Sambungan Telepon

Selain itu, pengaruh presiden tidak hanya bergantung pada dukungan domestik tetapi juga dukungan regional dan internasional yang bergantung pada mempertahankan status quo di wilayah tersebut – terutama dari Arab Saudi dan Amerika Serikat.

“Sisi akan tetap berkuasa selama deep state memegang pengaruh, dan dia terus menggempur sisa populasi,” kata Gelvin.

Puisi Sukmawati Berbalas Felix Siauw: Kamu Tak Tahu Syariat

JAKARTA (Jurnalislam.com) — Sukmawati Soekarnoputri membacakan puisi berjudul ‘Ibu Indonesia’ pada Perayaan 29 Tahun Berkarya desainer senior Anne Avantie di panggung peragaan busana Indonesia Fashion Week (IFW) 2018, Jakarta pekan lalu.

Puisi itu dinilai sebagian pihak khususnya elemen umat Islam menyinggung hal SARA karena membahas tentang syariat Islam, cadar hingga azan. Ustaz Felix Siauw dalam akun instagramnya @felixsiauw membuat puisi balasan untuk Sukmawati.

Berikut isinya yang dikutip Jurnalislam.com

Kamu Tak Tahu Syariat

Kalau engkau tak tahu syariat Islam, seharusnya engkau belajar bukan berpuisi, harusnya bertanya bukan malah merangkai kata tanpa arti

Bila engkau mau mengkaji, engkau akan memahami bahwa hijab itu bukan hanya pembungkus wujud, tapi bagian ketaatan, sebagaimana saat engkau ruku dan sujud

Engkau juga akan mengerti, bahwa membandingkan konde dan cadar itu perkara menggelikan, sebab yang satu ingin terjaga, yang lain malah mengumbar

Kalau engkau tak tahu syariat Islam, hal paling pintar yang engkau lakukan adalah diam. Sebab bicara tanpa ilmu itu menyesatkan, berjalan tanpa pelita di gelap malam

Pastinya juga engkau tak tahu bahwa negeri ini dibangkitkan darah perlawanannya oleh kalimat takbir, yang enam kali dilantangkan dalam azan yang engkau tuduh tak lebih merdu dibanding kidung ibu

Tanpa Islam tak ada artinya Indonesia, maka dimulakan negeri ini dengan “Atas berkat rahmat Allah”. Islam adalah ruh Indonesia, nyawa Indonesia

Takkan berdaya wanita Indonesia tanpa Islam, yang telah menuntun mereka dari gelapnya penjajahan menuju cahaya kemerdekaan. Dari sekeder pelengkap jadi tiang peradaban

Dan kini aku menggugat dirimu, mempertanyakan dirimu, siapa kamu sebenarnya? Mengapa cadar dan azan begitu mengganggu dirimu, membuat engkau resah? Yang kutahu, hanya penjajah yang begitu

Tak paham konde, tak mampu berkidung, tak jadi masalah. Tapi tak tahu syariat mana bisa taat? Tak Indonesia tetap bisa menghuni surga, tak Islam maka tak ada lagi penolong di satu masa yang tak ada keraguan di dalamnya

Kalau engkau tak tahu syariat. Mari sini ikut melingkar dan merapat. Akan aku sampaikan biar engkau pahami, bagi mereka yang beriman, tak ada yang lebih penting dari Allah dan Rasul-Nya

Pasca Puisi Sukmawati, Akun Instagram Anne Avantie Hilang dari Pencarian

JAKARTA (Jurnalislam.com) — Sukmawati Soekarnoputri membacakan puisi berjudul ‘Ibu Indonesia’ pada Perayaan 29 Tahun Berkarya desainer senior Anne Avantie di panggung peragaan busana Indonesia Fashion Week (IFW) 2018, Jakarta pekan lalu.

Puisi itu dinilai sebagian pihak khususnya elemen umat Islam menyinggung hal SARA karena membahas tentang syariat Islam, cadar hingga azan.

Tak lama pasca beredar video puisi Sukmawati, akun instagram Anne Avantie yang bernama @anneavantiheart tiba-tiba menghilang dari pencarian di instagram. Padahal, akun tersebut sebelumnya cukup aktif dan diikuti hingga 600 ribu follower lebih.

Puisi Sukmawati Berbalas Felix Siauw: Kamu Tak Tahu Syariat

Hingga berita ini dibuat Selasa (3/4/2018) pagi, belum ada keterangan mengapa akun instagram @anneavantieheart nonaktif. Ada sebagian netizen yang mengaitkan dengan puisi Sukmawati di helatan Anne Avantie itu. Berikut petikan Sukmawati Soekarno Putri :

Ibu Indonesia

Aku tak tahu Syariat Islam
Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik dari cadar dirimu
Gerai tekukan rambutnya suci
Sesuci kain pembungkus ujudmu
Rasa ciptanya sangatlah beraneka
Menyatu dengan kodrat alam sekitar
Jari jemarinya berbau getah hutan
Peluh tersentuh angin laut

Lihatlah ibu Indonesia
Saat penglihatanmu semakin asing
Supaya kau dapat mengingat
Kecantikan asli dari bangsamu
Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif
Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesia

Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok
Lebih merdu dari alunan azan mu
Gemulai gerak tarinya adalah ibadah
Semurni irama puja kepada Illahi
Nafas doanya berpadu cipta
Helai demi helai benang tertenun
Lelehan demi lelehan damar mengalun
Canting menggores ayat ayat alam surgawi

Pandanglah Ibu Indonesia
Saat pandanganmu semakin pudar
Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu
Sudah sejak dahulu kala riwayat bangsa beradab ini cinta dan hormat kepada ibu Indonesia dan kaumnya.

Hamas Desak Liga Arab Tuntut Israel ke Pengadilan Internasional

GAZA (Jurnalislam.com) – Kepala politik Hamas Ismail Haniyeh meminta Liga Arab untuk menuntut Israel ke Pengadilan Kriminal Internasional (the International Criminal Court-ICC).

Permintaan itu terucap saat Haniyeh melakukan percakapan telepon pada hari Senin (2/4/2018) dengan Sekretaris Jenderal liga yang berbasis di Kairo, Ahmed Abul-Gheit, untuk membahas praktik-praktik Israel menyerang Palestina, lansir Anadolu Agency.

Pada hari Jumat, sedikitnya 18 warga Palestina tewas dan ratusan lainnya terluka oleh tembakan tentara Israel selama unjuk rasa menuntut kembalinya pengungsi di dekat perbatasan Jalur Gaza.

Haniyeh menggarisbawahi perlunya “pergi ke Majelis Umum PBB untuk membahas kejahatan [Israel] dan membentuk komisi investigasi khusus”, kantornya mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Erdogan pada PM Israel: Anda Seorang Teroris, Negara Anda adalah Negara Teror

Dewan Keamanan PBB mengadakan sesi pada hari Sabtu atas permintaan Kuwait untuk membahas situasi di perbatasan Gaza, tetapi Dewan gagal mengutuk kekerasan Israel terhadap demonstran Palestina.

Menurut pernyataan itu, Abul-Gheit mengecam “kejahatan Israel terhadap peserta dalam demonstrasi damai”.

Delegasi Liga Arab dijadwalkan bertemu pada hari Selasa di Kairo untuk membahas tindakan Israel terhadap Palestina.

Demonstrasi Jumat adalah awal dari protes enam pekan yang puncaknya akan diselenggarakan pada 15 Mei, di hari warga Palestina menyebutnya sebagai “Nakba”, atau “Malapetaka”, yaitu hari ketika Negara Israel diciptakan.

Para demonstran menuntut agar para pengungsi Palestina memperoleh hak mereka untuk kembali ke kota-kota dan desa-desa yang ditinggalkan keluarga mereka ketika melarikan diri, atau diusir, saat negara Israel diciptakan pada tahun 1948.

PBB: 130.000 Orang Telah Tinggalkan Ghouta Timur

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Sekitar 130.000 orang meninggalkan sebuah daerah pinggiran Damaskus selama serangan rezim Suriah yang memakan waktu beberapa pekan, PBB mengatakan pada hari Senin (2/4/2018), lansir Anadolu Agency.

Juru bicara Stephane Dujarric mengatakan PBB dan mitra-mitranya telah berupaya meringankan krisis kemanusiaan akibat serangan terhadap Ghouta Timur, tetapi mengatakan “kebutuhan masih tetap sangat besar”.

“PBB terus menyerukan akses yang aman, tanpa gangguan dan berkelanjutan bagi semua yang membutuhkan, dan setiap evakuasi warga sipil harus berjalan aman, sukarela, dan ke tempat yang mereka pilih,” katanya. “Warga sipil memiliki hak untuk kembali segera setelah situasi memungkinkan.”

Jaishul Islam Bantah Laporan Telah Sepakat dan Menyerahkan Kota Douma ke Rezim Assad

Pada 24 Februari, Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat mengadopsi Resolusi 2401 yang menyerukan gencatan senjata di Suriah – terutama di Ghouta Timur – untuk memungkinkan pengiriman bantuan kemanusiaan.

Meskipun ada resolusi, namun rezim Syiah Assad dan sekutu-sekutunya di awal Maret meluncurkan serangan darat utama – yang didukung oleh kekuatan udara Rusia – untuk menguasai wilayah yang dipegang oleh oposisi di distrik tersebut.

Sejak 19 Februari, lebih dari 1.400 korban telah tewas dalam serangan oleh rezim Assad dan sekutu-sekutunya di Ghouta Timur, menurut sumber-sumber pertahanan sipil setempat.

Sebagai rumah bagi sekitar 400.000 penduduk, distrik ini tetap dalam pengepungan rezim Syiah Nushairiyah yang melumpuhkan selama lima tahun terakhir yang menyulitkan pengiriman pasokan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan.

Suasana Haru di Peletakan Batu Pertama Gedung Dakwah ANNAS

BANDUNG (Jurnalislam.com)–Ahad, 1 April 2018, persis di seberang Sekolah Staf dan Komando Tentara Nasional Indonesia (Sesko TNI), bilangan Martanegara Bandung, tampak berkumpul ratusan ulama, pejabat, dan tokoh masyarakat di sebuah tanah kosong seluas 360 meter persegi.

Ada Ketum MUI Kota Bandung cum Ketua Dewan Pertimbangan MUI Jabar, Prof. Dr. KH Miftah Faridl. Ketum Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) Pusat. Ir Kusmayadi Tatang Padmadinata, Asisten Kesra Pemprov Jabar. Pjs Walikota Bandung, Doktor Muhammad Solihin. Kaporestabes Kota Bandung Kombes Hendro Pandowo. Anggota DPR RI H Shodiq Mujahid. Wakil Ketua DPRD Kota Bandung Edwin Senjaya. Pakar Hukum Tata Negara, Prof. Asep Warlan Yusuf. Tampak pula Guru Besar Komunikasi Unpad, Prof. Engkus Kuswarno, dan beberapa lainnya.

Ada apa gerangan sampai sosok-sosok spesial itu berkumpul? Tentu saja kumpul yang tak sekadar berkerumun. Kumpul yang tak semata tatap muka antar kolega, lantaran lama tak bersua.

Gedung Dakwah ANNAS Diharap Jadi Sarana Dakwah Tangkal Paham Syiah

Tersimpan sebuah mimpi dan harapan. Dalam sambutannya di perhelatan Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung Dakwah ANNAS (Aliansi Nasional Anti Syiah) tersebut, KH Athian Ali M Da’i L c MA, sang Ketum yang juga inisiator ANNAS berujar, “Betapa mahalnya harga aqidah bagi umat Islam. Maka penting dibentengi dari bahaya beragam aliran dan pemikiran menyimpang, khususnya Syiah. Alhamdulillah ada seorang dermawan yang mewakafkan sebidang tanah di lokasi strategis ini, untuk dibangun gedung dakwah.”

Gedung Dakwah ini, kata Ketua Umum Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI) ini, kelak akan menjadi Pusat Dakwah, pendidikan dan silaturahim ulama dan umat.

“Pembangunan Gedung 3 lantai seluas 360m2 itu akan berlangsung secara bertahap selama 6 bulan hingga 1 tahun ke depan, dengan proyeksi biaya mencapai 3,5 Milyar Rupiah,” kata KH Athian Ali dilansir Islamic News Agency (INA), Kantor Berita yang dirintis Jurnalis Islam Bersatu (JITU).

Karenanya, Athian berharap, dengan doa dan dukungan segenap elemen umat, mudah-mudahan pembangunan gedung ini bisa segera terwujud.

Di tempat dan acara yang sama, Pj Walikota Bandung Muhammad Solihin, mengapresiasi rencana pembangunan Gedung Dakwah ANNAS.

“Atas nama Pemerintah Kota Bandung, saya mengapresiasi peletakan batu pertama Gedung Dakwah ini. Semoga menjadi sarana dakwah dalam menjaga aqidah, serta membentengi umat dari paham-paham menyimpang, penyebab lingkungan tidak kondusif.”

Di puncak acara, di satu sudut yang sudah dipersiapkan, pekik takbir dari lisan para tokoh, mengiringi satu per satu batu berlapis semen yang mulai tersusun, sebagai simbol dimulainya pembangunan Gedung Dakwah ANNAS.

Acara lantas dipungkas oleh lantunan do’a syahdu Ketum MUI Kota Bandung yang juga Ketua Dewan Pertimbangan MUI Jabar, Prof. Dr. KH. Miftah Faridl.

Tetiba haru membuncah. Atmosfir acara yang sejak awal diwarnai senyuman, sontak berubah. Bulir-bulir bening tampak meleleh dari sudut-sudut mata sang pelantun doa, juga tuan rumah, KH Athian Ali. Doa dan air mata, yang semoga mengetuk pintu langit, sehingga terbuka seluas-luasnya untuk terwujudnya sebuah niat dakwah. Bentengi akidah ummah.

 

Reporter: Abdullah emha/INA/ Jurnalis Islam Bersatu

Asep Warlan : Gedung Dakwah Bukti Keseriusan ANNAS Tolak Syiah

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Parahyangan (Unpar) yang juga anggota Dewan Pakar Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) Prof. Dr. Asep Warlan mengatakan bahwa pembangunan gedung dakwah ANNAS merupakan bukti keseriusan organisasi tersebut dalam menangkal gerakan syiah.

“Gedung dakwah adalah center of action, tempat kita berdiskusi, menyusun strategi, berinteraksi dengan umat. Bagaimana kita meyakinkan kepada semua pihak bahwa dengan adanya gedung ini menunjukman bahwa kita memang sangat serius dalam dakwah ini. Bahwa dakwah ini harus sampai kepada umat,” katanya dalam peletakan batu pertama Gedung Dakwah ANNAS di Bandung, Ahad (1/4/2018).

Suasana Haru di Peletakan Batu Pertama Gedung Dakwah ANNAS

Asep Warlan menekankan bahwa menilik bahaya gerakan syiah yang mengancam keutuhan NKRI, maka dakwah harus terus digencarkan. “ANNAS Foundation berkomitmen untuk mempunyai kinerja yang baik dalam dakwah. Dakwah itu bagaimana mendayagunakan sarana dan salah satu yang kita hadirkan adalah pembangunan Gedung Dakwah ANNAS ini,” tambahnya.

Gedung ini, diharapkan dapat mempererat ukhuwah dan kesatuan perjuangan menjaga akidah umat dari akidah syiah.

“Karena perjuangan membutuhkan pengorbanan, pengorbanan membutuhkan kekuatan, kekuatan membutuhkan kebersamaan, kebersamaan membutuhkan kemauan, dan kemauan membutuhkan keihlasan. Mudah-mudahan gedung ini akan menjadi maslahat, barokah dan mencapai pada tujuannya,” pungkasnya.

Gedung Dakwah ANNAS Diharap Jadi Sarana Dakwah Tangkal Paham Syiah

BANDUNG (Jurnalislam.com)–Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) Indonesia menggelar helatan peletakan batu pertama pembangunan Gedung Dakwah, Minggu (1/4/2018).

Acara ini dihadiri oleh ratusan tamu undangan mulai dari kalangan ulama, media, tokoh nasional hingga pejabat daerah seperti Ketua MUI Kota Bandung Prof. K.H. Miftah Faridl, Kapolrestabes Bandung, Kombes Hendro Pandowo serta dari Wali Kota Bandung yang diwakili oleh Pejabat Sementara (PJS) Muhammad Solihin dan Wakil DPRD kota Bandung Edwin Sanjaya.

Acara dibuka dengan pembacaan Ayat Suci Al Qur’an hingga menampilkan cuplikan video dukungan serta ucapan selamat dari Tokoh Nasional maupun Jawa Barat, dan dilanjutkan dengan seremonial Peletakan Batu Pertama. Acara ditutup dengan doa dan foto bersama.

Dalam sambutannya Ketua ANNAS Pusat K.H. Athian Ali Da’i, Lc, MA. Mengucapkan rasa syukur atas terlaksana nya acara ini dan berharap agar gedung dakwah digunakan sebagai pusat penangkalan syiah di Indonesia khususnya di Jawa Barat.

“Puji Syukur tidak henti-hentinya kepada Allah SWT atas rahmat serta karunia dan Innayah nya kepada kita sekalian pada kesempatan ini bisa bertemu dengan Bapak dan Ibu Sekalian,” kata KH Athian Ali.

Dalam kesepatan yang sama, Pejabat Sementara (Pjs) Walikota Bandung Muhammad Solihin mengucapakan selamat dan mengapresiasi atas peletakan batu pertama Gedung Dakwah Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS).

“Dalam kesempatan yang berbahagia ini Kami atas nama pemerintah Kota Bandung mengucapkan terima kasih dan apresiasi atas peletakan batu pertama Gedung Dakwah Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS)”, ungkapnya

Dengan visi ANNAS yaitu : Menjadikan Aliansi Nasional Anti Syiah sebagai kekuatan strategis ummat Islam mengahadapi ajaran sesat di indonesia, Muhammad Solihin pun berharap dengan dibangunnya Gedung Dakwah ANNAS ini bisa menjadi gedung sarana dakwah yang sesuai dengan nilai-nilai islam yang tercantum dalam Alquran dan Hadits.

Reporter : Kiki Firmansyah