Ormas Islam Jatim Kutuk Aksi Terorisme Perorangan, Kelompok, hingga Negara

SURABAYA (Jurnalislam.com)—Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur dan 76 ormas Islam yang tergabung dalam Gerakan Umat Islam Bersatu (GUIB) mengutuk keras aksi terorisme dan kekerasan yang dilakukan oleh siapapun.

Tragedi bom Surabaya dan penangkapan terduga teroris di sejumlah tempat di Surabaya merupakan tindakan kekerasan yang tidak dibenarkan dalam Islam,” kata Ketua Umum MUI Jawa Timur KH Abdusshomad Buchori, dalam keterangan tertulis yang diterima Jurnalislam.com.

Karenanya, MUI dan Ormas Islam mengutuk dengan keras aksi terorisme dan segala bentuk kekerasan tak bermoral yang dilakukan oleh perorangan, kelompok atau negara yang dapat meresahkan dan merusak nilai-nilai kemanusiaan.

MUI dan ormas Islam Jatim juga menghimbau umat beragama agar tetap menjaga kerukunan, tetap komitmen pada undang-undang yang berlaku.

“Menjaga ketertiban masing-masing umatnya, tidak saling memfitnah sehingga tidak mudah diadu domba oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, yang berakibat merugikan semua umat beragama khususnya dan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada umumnya,” tambahnya.

Pernyataan sikap yang ditandatangani GUIB dan MUI Jatim ini merupakan pernyataan bersama ormas Islam Jatim seperti NU, Muhammadiyah, Hidayatullah, DDII, DMI, FPI, HMI, ICMI, PII, dan puluhan ormas dan komunitas Islam lainnya.

Inilah Pesan Syeikh Ayman Setelah AS Pindahkan Kedubesnya ke Yerusalem

JURNALISLAM.COM – Pada malam pembukaan kedutaan besar pemerintah AS di Yerusalem hari Senin (14/5/2018), Al Qaeda merilis pesan baru dari pemimpinnya, Dr Ayman al-Zawahiri. Amir al Qaeda tersebut menekankan pada awal pidatonya bahwa telah ada “kegemparan besar” atas keputusan pemerintah Trump yang telah memindahkan kedutaan dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Presiden Trump telah “jelas dan jujur,” mengungkapkan secara terbuka “wajah Perang Salib modern yang sesungguhnya, yang tidak berurusan dengan retret dan rekonsiliasi,” menurut Syeikh Zawahiri.

Syeikh Zawahiri melanjutkan dengan mengulangi seruan lama Al Qaeda: Seluruh sistem internasional memusuhi umat Islam. Mereka hanya menjadi bagian dari Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menjadikan seseorang terlibat dalam skema yang terjadi di Palestina sekarang ini, kata penerus Syeikh Usamah bin Laden.

Memang, judul pidato Syeikh Zawahiri, “Tel Aviv Juga Tanah Muslim,” juga menggarisbawahi maksudnya. Relokasi kedutaan adalah masalah kecil yang terkait dengan konspirasi “Tentara Salib” yang sangat luas yang ditentang keras Al Qaeda, lansir The Long War Journal, Senin.

Dr Ayman al Zawahiri mengingatkan “saudara Muslim dan mujahidin serta ulama yang tulus” bahwa “semua negeri kaum Muslimin di dunia yang menjadi anggota di PBB dan telah mengakui Israel dengan menandatangani Piagam PBB, yang menegaskan kesatuan dan integritas teritorial masing-masing negara, termasuk wilayah Israel, ” ini adalah dosa asal yang ditemukan dalam keputusan negara manapun ketika masuk dalam PBB.

58 Warga Palestina Gugur dalam Aksi Protes Peresmian Kedutaan AS di Yerusalem

Pemimpin al-Qaeda tersebut menegaskan bahwa, dengan menandatangani piagam PBB, negara-negara tersebut telah setuju untuk meninggalkan “kekuasaan (pemerintahan) yang berlandaskan Syariah.” Artinya, mereka telah sepakat bahwa mereka tidak akan mematuhi hukum Islam. Sebaliknya, negara-negara ini “puas” dengan mengatur dan “berkuasa” menurut “keputusan Dewan Keamanan PBB dan Majelis Umum,” termasuk keputusan pada tahun 1947 untuk membagi wilayah tanah Palestina.

Tel Aviv dan Jerusalem sama-sama “tanah Islam,” terang Syeikh Zawahiri. Orang beriman sejati perlu “membebaskan Palestina” dan “semua tempat tinggal Muslim lainnya” setelah mendeklarasikan bahwa seluruh “sistem tirani internasional adalah kriminal” sehingga tidak sah dalam mengatur kehidupan bernegara.

Syeikh Zawahiri sekali lagi menyerukan persatuan kaum Muslim, sebuah tujuan akhir Al Qaeda, adalah seperti itu sehingga ummah (kaum Muslim sedunia) terlibat dalam “perlawanan… di berbagai front, bukan sebagai kelompok terpisah yang mundur menghadapi para penjahat terbesar.”

Syeikh Zawahiri juga mengingatkan bahwa Syeikh Usamah bin Laden mengidentifikasi Amerika sebagai pemimpin sistem internasional yang korup (zhalim) oleh karena itu, Amerika adalah “musuh pertama kaum Muslim.” Syeikh Usamah Bin Laden pertama kali menyatakan bahwa orang Amerika “tidak bisa bermimpi tentang keamanan sampai kita benar-benar hidup di Palestina, dan sampai semua tentara penjajah pergi dari tanah Palestina.”

Lakukan Pembantaian pada Warga Palestina, Erdogan: Israel adalah Negara Teroris

Tujuannya adalah membangun “kekhalifahan setelah disatukan oleh tauhid,” kata Syeikh Zawahiri. Ini akan membutuhkan dakwah dan jihad. Dan Muslim tidak boleh bingung dalam membedakan mana musuh dan mana teman, dan berjuang dalam “pertempuran pemikiran sebelum pertempuran senjata,” serta tetap “bebas dari ilusi.”

Di masa lalu, para pemimpin al-Qaeda telah meminta umat Islam untuk menggunakan tanah Suriah untuk “membebaskan” Yerusalem. Al Qaeda menggunakan tema ini sebagai seruan bagi para jihadis di Suriah.

Pesan Syeikh Zawahiri adalah episode ke-9 dalam seri “Pesan Singkat Demi Kemenangan Umat”, di mana ia telah meliput berbagai topik. Meskipun Syeikh Zawahiri kadang berbicara lama, pernyataannya dalam program ini sangat singkat.

Seri ceramah ini telah berjalan sejak Agustus 2016, Zawahiri dan media As Sahab dengan jelas mengatur waktu rilis episode ini bertepatan dengan relokasi kedutaan AS ke Yerusalem.

Syeikh Zawahiri juga tetap merupakan seorang komentator yang produktif, yang secara teratur menyampaikan pesan terkini dan penting bagi umat Islam.

Terjemahan bahasa Inggris dari pesan itu didistribusikan melalui Telegram oleh Al-Tamkin Media, yang secara teratur menerjemahkan pesan dari para pemimpin senior Al Qaeda. Kutipan dalam artikel ini diadaptasi dari terjemahan kasar Al-Tamkin.

Aneh, Israel yang Bantai Warga Gaza, AS Malah Salahkan Hamas

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Juru bicara Gedung Putih, Raj Shah menuduh para pemimpin Hamas melakukan “upaya propaganda yang mengerikan dan tidak menyenangkan” setelah pembunuhan sedikitnya 58 demonstran Palestina oleh pasukan penjajah Israel, Senin (14/5/2018).

Berbicara kepada wartawan saat briefing Gedung Putih, Shah juga menolak untuk bergabung dengan negara lain – termasuk Perancis dan Inggris – dalam menyerukan agar Israel menahan diri dalam menanggapi demonstrasi, lansir Aljazeera.

58 Warga Palestina Gugur dalam Aksi Protes Peresmian Kedutaan AS di Yerusalem

Gedung Putih malah mengulangi pernyataan pemerintahan Trump bahwa Israel memiliki hak untuk membela diri.

“Tanggung jawab atas kematian tragis ini bersandar pada Hamas,” kata Shah. “Hamas dengan sengaja dan sinis memprovokasi tanggapan ini.”

Lakukan Pembantaian pada Warga Palestina, Erdogan: Israel adalah Negara Teroris

Duta Besar PBB untuk Palestina Kutuk Pembantaian Israel pada Warga Gaza

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Riyad Mansour, duta besar PBB untuk Otoritas Palestina, mengutuk pembantaian Israel terhadap warga Palestina di Gaza.

Berbicara pada konferensi pers di New York, Mansour menggambarkan keputusan Washington untuk membuka kedutaannya di Yerusalem sebagai “sangat tragis.” lansir Aljazeera Senin (14/5/2018).

“Kami akan menggunakan semua hak kami yang tersedia di dewan keamanan demi memastikan Dewan Keamanan memikul tanggung jawabnya untuk mengutuk pembantaian ini dan membawa mereka yang bertanggung jawab ke pengadilan,” kata Mansour.

“Sangat tragis bahwa mereka (Amerika) sedang merayakan aksi ilegal sementara Israel melukai dan membunuh ribuan orang Palestina.

“Hari tragis bagi rakyat Palestina dan rasa malu pada mereka yang mengabaikan rasa sakit dan penderitaan rakyat Palestina.”

Serang Kedaulatan Palestina, Abbas: Inilah Kebrutalan Israel dalam Satu Hari Paling Biadab

AL QUDS (Jurnalislam.com) – Presiden Palestina Mahmoud Abbas menggambarkan peristiwa di Gaza sebagai “salah satu hari paling sadis” selama konferensi pers pada Senin (14/5/2018).

Dia juga mengatakan pada konferensi pers bahwa langkah memindahkan kedutaan AS ke Jerusalem adalah serangan terhadap kedaulatan rakyat Palestina.

“Pada hari ini, pembantaian Israel terhadap warga kami berlanjut di Jalur Gaza serta Tepi Barat. Hari ini adalah salah satu hari paling ganas yang pernah disaksikan oleh warga kami,” kata Abbas, lansir Aljazeera.

“Saat kita bicara sekarang ini, sekitar 52 orang Palestina telah terbunuh. Jumlah itu kemungkinan akan meningkat. Ini adalah indikasi tingkat kebrutalan Israel.”

Lakukan Pembantaian pada Warga Palestina, Erdogan: Israel adalah Negara Teroris

“Hari ini Israel sedang merayakan pembukaan kedutaan AS. Mereka mengklaim bahwa tanah Yerusalem yang mereka duduki adalah tanah leluhur mereka. Itu adalah pemalsuan sejarah.

“Orang Palestina selama ini telah hidup di tanah ini. Orang-orang kami tidak akan menyerah sampai kami mencapai kemenangan dengan Yerusalem sebagai ibu kota kami.

“Dengan langkah [memindahkan kedutaan] ini AS telah mengesampingkan dirinya dari proses perdamaian di Timur Tengah. Ia tidak bisa lagi bertindak sebagai mediator dan perannya tidak lagi berlaku.”

Pesawat Drone Israel Targetkan Wartawan yang Liput Aksi Protes di Gaza

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Sebuah pesawat tanpa awak Israel yang membawa tabung gas air mata menargetkan sekelompok wartawan di Gaza saat meliput aksi protes warga Senin (14/5/2018), termasuk kru TV Al Jazeera.

Koresponden Al-Jazeera, Hoda Abdel-Hamid, berdiri di barisan media dengan beberapa wartawan lain ketika dia terkena gas air mata.

Abdel-Hamid telah dikirim ke rumah sakit untuk dirawat karena efek dari gas air mata.

58 Warga Palestina Gugur dalam Aksi Protes Peresmian Kedutaan AS di Yerusalem

Demonstrasi, yang bertepatan dengan pembukaan kedutaan AS di Yerusalem, adalah bagian dari aksi protes yang sudah berlangsung beberapa pekan yang menuntut hak untuk kembali bagi para pengungsi Palestina ke daerah-daerah yang secara paksa diusir dari tahun 1948.

55 Wartawan Terluka oleh Pasukan Israel di Jalur Gaza

Lakukan Pembantaian pada Warga Palestina, Erdogan: Israel adalah Negara Teroris

TURKI (Jurnalislam.com) – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menegaskan bahwa Israel melakukan “teror negara” dan “genosida”, menurut Anadolu Agency yang dikelola pemerintah pada hari Senin (14/5/2018), ketika Ankara mengumumkan hari berkabung nasional selama tiga hari atas pembunuhan puluhan warga Palestina di Gaza oleh pasukan penjajah Israel.

“Israel melancarkan teror negara. Israel adalah negara teroris,” kata Erdogan kepada mahasiswa Turki selama kunjungan di ibukota Inggris, London.

58 Warga Palestina Gugur dalam Aksi Protes Peresmian Kedutaan AS di Yerusalem

“Apa yang telah dilakukan Israel adalah genosida. Saya mengutuk drama kemanusiaan ini, genosida, dari sisi mana pun itu datang, Israel atau Amerika,” tambahnya.

Ribuan orang sebelumnya berbaris melalui pusat kota Istanbul untuk mengecam pertumpahan darah ketika AS memindahkan kedutaan Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem yang membangkitkan kemarahan yang meluas di seluruh dunia Islam.

Darurat Al Aqsha: Al Quds Dikepung Puluhan Ribu Warga Zionis Yahudi

Print

58 Warga Palestina Gugur dalam Aksi Protes Peresmian Kedutaan AS di Yerusalem

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 58 warga Palestina gugur pada hari Senin (14/5/2018) di Gaza dan lebih dari 2.700 lainnya terluka ketika tentara penjajah Israel menembakkan peluru tajam, gas air mata, dan bom api ke arah demonstran yang berkumpul di beberapa titik di dekat pagar dengan Israel, Aljazeera melaporkan.

Demonstrasi, yang bertepatan dengan pembukaan kedutaan AS di Yerusalem, adalah bagian dari aksi protes yang sudah berlangsung beberapa pekan yang menuntut hak untuk kembali bagi para pengungsi Palestina ke daerah-daerah yang secara paksa diusir dari tahun 1948.

Sejak aksi protes digelari pada 30 Maret, pasukan penjajah Israel telah menewaskan sedikitnya 107 warga Palestina di daerah wilayah pantai (Gaza) dan melukai sekitar 12.000 orang.

Protes itu datang menjelang peringatan tahunan Nakbah, atau “malapetaka” bagi Palestina, ketika negara Israel didirikan pada 15 Mei 1948, dalam operasi militer yang menyebabkan pengusiran ratusan ribu warga Palestina dari desa-desa mereka.

Darurat Al Aqsha: Al Quds Dikepung Puluhan Ribu Warga Zionis Yahudi

Konvoi Keenam Bawa 1.334 Warga Homs ke Provinsi Idlib

SURIAH (Jurnalislam.com) – Konvoi pengungsi keenam yang membawa warga dari pedesaan utara provinsi Homs di Suriah barat tiba pada hari Ahad (13/05/2018) di pedesaan barat Aleppo dan provinsi Idlib, menurut koresponden Anadolu Agency di lapangan.

Konvoi 28 bus, disertai 60 mobil sipil, membawa 1.334 penduduk dari Homs utara. Lebih dari 14.500 orang telah dievakuasi sejauh ini.

Para pengungsi akan ditampung di kamp pengungsi, sekolah, dan masjid di kedua provinsi tersebut.

Turki Dirikan Tempat Penampungan Pengungsi Ghouta Timur di Idlib

Pada tanggal 2 Mei, rezim Syiah Assad dan kelompok oposisi Suriah menyetujui gencatan senjata di desa utara provinsi Homs. Berdasarkan kesepakatan tersebut, pasukan Rusia dan rezim akan bergerak ke wilayah itu sementara para pejuang oposisi menyerahkan senjata berat mereka.

Perjanjian itu juga menyediakan jalan keluar yang aman bagi para pejuang oposisi di beberapa wilayah lain yang dipegang oposisi di Suriah utara.

Suriah baru saja mulai bangkit dari konflik kejam yang dimulai pada 2011, ketika rezim Syiah Assad menindak keras para aksi unjuk rasa dengan keganasan militer yang tidak terduga.

Darurat Al Aqsha: Al Quds Dikepung Puluhan Ribu Warga Zionis Yahudi

AL QUDS (Jurnalislam.com) – Puluhan ribu pemukim ilegal Yahudi, yang dikelilingi polisi zionis untuk perlindungan, telah berbaris mengelilingi Kota Tua, merayakan Hari Yerusalem pada malam ketika kedutaan AS pindah dari Tel Aviv.

Peristiwa tahunan, yang memperingati aneksasi Israel atas Yerusalem Timur yang diduduki pada tahun 1967, dianggap oleh penduduk Palestina di kota itu sebagai provokasi yang disengaja.

Peringatan di tahun-tahun sebelumnya menyebabkan toko-toko milik warga Palestina hancur dan aksi protes warga Palestina dengan kejam ditekan oleh polisi penjajah Israel.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, penutupan jalan dan barikade didirikan pada hari Ahad (13/5/2018) untuk membatasi dengan ketat agar warga Palestina tidak mengakses jalan menuju Gerbang Damaskus, salah satu pintu masuk ke Kota Tua.

“Warga Palestina di Yerusalem hari ini berdiam dengan hujan ratusan pentungan dijatuhkan di kepalanya,” Osama Barham, seorang aktivis di kota itu, mengatakan kepada Al Jazeera.

“Artinya, kita ditindas dari segala arah.”

Barham berdiri di satu sisi dekat Gerbang Damaskus, tempat sekelompok kecil warga Palestina dan media Arab berkumpul.

Peresmian Dubes AS di Yerusalem Akan Berlangsung Hari Ini, Dunia Arab Bungkam

Di bawah mereka, sekelompok besar jemaat Yahudi dengan warna putih dan biru telah berkumpul di tangga batu. Beberapa orang menari-nari dengan nada hingar-bingar. Yang lain meneriakkan slogan dengan semangat.

“Langkah kedutaan AS bukanlah masalah yang paling penting di sini,” kata Barham, menjelaskan bahwa bagi warga Palestina perkembangan seperti itu hanyalah hasil yang telah diprediksi setelah penjajahan beberapa dekade.

“Kami tidak kaget atau terkejut mendengar berita bahwa Presiden AS Donald Trump mengumumkan [pada Desember 2017] pengakuannya atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel,” tambahnya.

“Apa yang jauh lebih berbahaya bagi kita daripada tindakan kedutaan adalah kenyataan tentang: serangan Judaisation atas kota, Israelifikasi masyarakat kita, pengasingan warga Palestina, penghancuran rumah-rumah Palestina dan penyerbuan Masjid al-Aqsha oleh pemukim ilegal Yahudi.”

“Yerusalem berada di bawah penjajahan, sehingga kami tidak merasa tiba-tiba berada dalam kesulitan karena lokasi baru kedutaan di Yerusalem barat,” tambah Barham.

Nyanyian dan sorak sorai para pemukim zionis ditambah suara drum dan terompet dari marching band di tengah mereka. Raungan besar meningkat ketika polisi Israel menyingkirkan barikade dan membiarkan para pemukim untuk memasuki Kota Tua.

Sebelumnya, ratusan pemukim ilegal merazia kompleks Masjid al-Aqsha, situs ketiga tersuci dalam Islam. Mereka mengangkat bendera Israel dan ritual di sana.

Konfrontasi dengan warga Palestina pun terjadi, berakibat sedikitnya satu penangkapan, sebelum para pemukim meninggalkan kompleks.

Di dalam Kota Tua, di lingkungan Syeikh Lulu, Umm Jihad berdiri di luar rumahnya, mengawasi anak-anaknya dan memberi arahan kepada para pria yang menemukan kesulitan mencapai rumah mereka sendiri karena penutupan yang diberlakukan Israel.

“Saya berharap banyak orang akan keluar besok karena kami memerlukan dukungan sebanyak mungkin,” katanya kepada Al Jazeera, mengacu pada demonstrasi yang direncanakan pada hari Senin terhadap relokasi kedutaan.

“Hari ini, kita tidak bisa bergerak di sekitar kota karena pasukan Israel praktis membarikade kita di rumah kita sendiri.”

Dia mengatakan langkah kedutaan AS tidak akan mengubah “keinginan warga Palestina.”
“Tidak ada yang akan tetap diam dalam menghadapi tindakan AS dan Israel,” katanya.

“Yerusalem adalah jantung dari perjuangan Palestina, dan setiap warga Palestina yang tinggal di sini merasakan maknanya sampai ke tulang mereka.”