Darurat Al Aqsha: Al Quds Dikepung Puluhan Ribu Warga Zionis Yahudi

AL QUDS (Jurnalislam.com) – Puluhan ribu pemukim ilegal Yahudi, yang dikelilingi polisi zionis untuk perlindungan, telah berbaris mengelilingi Kota Tua, merayakan Hari Yerusalem pada malam ketika kedutaan AS pindah dari Tel Aviv.

Peristiwa tahunan, yang memperingati aneksasi Israel atas Yerusalem Timur yang diduduki pada tahun 1967, dianggap oleh penduduk Palestina di kota itu sebagai provokasi yang disengaja.

Peringatan di tahun-tahun sebelumnya menyebabkan toko-toko milik warga Palestina hancur dan aksi protes warga Palestina dengan kejam ditekan oleh polisi penjajah Israel.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, penutupan jalan dan barikade didirikan pada hari Ahad (13/5/2018) untuk membatasi dengan ketat agar warga Palestina tidak mengakses jalan menuju Gerbang Damaskus, salah satu pintu masuk ke Kota Tua.

“Warga Palestina di Yerusalem hari ini berdiam dengan hujan ratusan pentungan dijatuhkan di kepalanya,” Osama Barham, seorang aktivis di kota itu, mengatakan kepada Al Jazeera.

“Artinya, kita ditindas dari segala arah.”

Barham berdiri di satu sisi dekat Gerbang Damaskus, tempat sekelompok kecil warga Palestina dan media Arab berkumpul.

Peresmian Dubes AS di Yerusalem Akan Berlangsung Hari Ini, Dunia Arab Bungkam

Di bawah mereka, sekelompok besar jemaat Yahudi dengan warna putih dan biru telah berkumpul di tangga batu. Beberapa orang menari-nari dengan nada hingar-bingar. Yang lain meneriakkan slogan dengan semangat.

“Langkah kedutaan AS bukanlah masalah yang paling penting di sini,” kata Barham, menjelaskan bahwa bagi warga Palestina perkembangan seperti itu hanyalah hasil yang telah diprediksi setelah penjajahan beberapa dekade.

“Kami tidak kaget atau terkejut mendengar berita bahwa Presiden AS Donald Trump mengumumkan [pada Desember 2017] pengakuannya atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel,” tambahnya.

“Apa yang jauh lebih berbahaya bagi kita daripada tindakan kedutaan adalah kenyataan tentang: serangan Judaisation atas kota, Israelifikasi masyarakat kita, pengasingan warga Palestina, penghancuran rumah-rumah Palestina dan penyerbuan Masjid al-Aqsha oleh pemukim ilegal Yahudi.”

“Yerusalem berada di bawah penjajahan, sehingga kami tidak merasa tiba-tiba berada dalam kesulitan karena lokasi baru kedutaan di Yerusalem barat,” tambah Barham.

Nyanyian dan sorak sorai para pemukim zionis ditambah suara drum dan terompet dari marching band di tengah mereka. Raungan besar meningkat ketika polisi Israel menyingkirkan barikade dan membiarkan para pemukim untuk memasuki Kota Tua.

Sebelumnya, ratusan pemukim ilegal merazia kompleks Masjid al-Aqsha, situs ketiga tersuci dalam Islam. Mereka mengangkat bendera Israel dan ritual di sana.

Konfrontasi dengan warga Palestina pun terjadi, berakibat sedikitnya satu penangkapan, sebelum para pemukim meninggalkan kompleks.

Di dalam Kota Tua, di lingkungan Syeikh Lulu, Umm Jihad berdiri di luar rumahnya, mengawasi anak-anaknya dan memberi arahan kepada para pria yang menemukan kesulitan mencapai rumah mereka sendiri karena penutupan yang diberlakukan Israel.

“Saya berharap banyak orang akan keluar besok karena kami memerlukan dukungan sebanyak mungkin,” katanya kepada Al Jazeera, mengacu pada demonstrasi yang direncanakan pada hari Senin terhadap relokasi kedutaan.

“Hari ini, kita tidak bisa bergerak di sekitar kota karena pasukan Israel praktis membarikade kita di rumah kita sendiri.”

Dia mengatakan langkah kedutaan AS tidak akan mengubah “keinginan warga Palestina.”
“Tidak ada yang akan tetap diam dalam menghadapi tindakan AS dan Israel,” katanya.

“Yerusalem adalah jantung dari perjuangan Palestina, dan setiap warga Palestina yang tinggal di sini merasakan maknanya sampai ke tulang mereka.”