Analis: Veto AS Buat Israel Semakin Brutal Terhadap Rakyat Palestina

GAZA (Jurnalislam.com) – Para analis meyakini bahwa bias AS terhadap Israel mendorong negara Yahudi yang memproklamirkan diri sendiri tersebut untuk meneruskan serangannya terhadap Palestina yang tak berdaya.

“Israel akan menghentikan kejahatannya terhadap Palestina jika Washington menghentikan dukungan mereka yang tak tergoyahkan terhadapnya,” kata Akram Attalah, seorang analis politik Palestina, kepada Anadolu Agency pada hari Ahad (03/6/2018).

Pada hari Jumat, AS memveto resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengutuk kekerasan Israel dan menyerukan “perlindungan rakyat Palestina” di Gaza dan Tepi Barat.

Sepuluh negara memberikan suara mendukung resolusi rancangan Kuwait tersebut, sementara Inggris, Polandia, Belanda dan Ethiopia abstain.

Turki Kecam Veto AS atas Resolusi Dewan Keamanan PBB

“Israel akan membatasi kejahatannya atas Palestina jika AS tidak menggunakan veto,” Attallah berpendapat.

Dia mengatakan veto AS memberi Israel lampu hijau untuk melanjutkan agresinya terhadap Palestina.

“Israel tahu bahwa mereka tidak akan dihukum oleh masyarakat internasional dan bahwa Dewan Keamanan PBB tidak akan mengeluarkan kecaman apapun selama pemerintahan Trump menggunakan hak veto itu,” tambahnya.

Resolusi, yang direvisi tiga kali tersebut awalnya menyerukan perlunya perlindungan internasional untuk rakyat Palestina.

Draf akhir setelah revisi “diperas” berisi seruan “pertimbangan langkah-langkah untuk menjamin keselamatan dan perlindungan penduduk sipil Palestina di Wilayah Pendudukan Palestina, termasuk di Jalur Gaza.”

Sudah 123 Warga Gaza Gugur dan 13.000 Lainnya Terluka oleh Kebrutalan Pasukan Israel

Aksi Great March of Return di Gaza
Aksi Great March of Return di Gaza

Sejak Maret, lebih dari 120 warga Palestina telah menjadi martir dan ribuan lainnya terluka oleh tembakan tentara Israel selama aksi protes anti-pendudukan di dekat pagar keamanan Gaza-Israel.

Analis politik Palestina Walid al-Mudalal mengatakan veto AS memberi Israel kekebalan terhadap penuntutan setelah membunuh sejumlah pengunjuk rasa di sepanjang perbatasan Gaza.

“Veto ini memberi Israel jaring pengaman dan melindunginya terhadap penuntutan,” al-Mudalal, seorang profesor ilmu politik di Universitas Islam di Gaza, mengatakan kepada Anadolu Agency.

DK Turki Kembali Nyatakan Dukungannya pada Palestina di Semua Forum Internasional

Dia mengatakan dukungan Amerika yang tak tergoyahkan untuk Israel dimulai pada tahun 1940-an.

“Namun, dukungan ini mencapai puncaknya pada pemerintahan AS saat ini,” ia menekankan.

AS telah menggunakan veto lebih dari 40 kali terhadap resolusi pro-Arab dan Palestina sejak Dewan Keamanan PBB didirikan pada 1945.

Pada tahun 1972, Washington untuk pertama kalinya menggunakan hak veto mendukung Israel guna membatalkan resolusi PBB yang mengutuk serangan Israel di Libanon.

Pada tahun 1988, AS menggunakan delapan veto untuk membatalkan resolusi PBB terhadap Israel.

“Sejak ia berkuasa, Trump berpartisipasi dalam kejahatan Israel melawan Palestina,” kata Mekhaimar Abu Saada, seorang profesor ilmu politik di Al-Azhar University, yang berbasis di Gaza, kepada Anadolu Agency.

Dia mengatakan administrasi Trump tidak akan menjadi “mediator yang adil” dalam setiap pembicaraan damai antara Palestina dan Israel.

“Veto AS untuk membatalkan resolusi perlindungan Palestina adalah lampu hijau bagi Israel untuk melakukan kejahatan baru terhadap rakyat Palestina,” katanya.

55 Wartawan Terluka oleh Pasukan Israel di Jalur Gaza

GAZA (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 55 wartawan yang meliput aksi protes yang sedang berlangsung di Jalur Gaza terluka oleh tentara Israel, kata pemerintah Gaza pada hari Ahad (03/6/2018).

“Pelanggaran yang dilakukan oleh Israel terhadap jurnalis di tanah Palestina telah mencapai total 125, 55 di antaranya terjadi di Gaza,” kata pernyataan pers, lansir Anadolu Agency.

Menekankan bahwa pelanggaran Israel terhadap jurnalis meningkat pada bulan Mei, pernyataan itu menambahkan: “Sembilan dari wartawan terkena peluru tajam, delapan terkena pecahan peluru peledak, 17 menderita akibat bom gas yang langsung ditembakkan ke arah mereka, sementara 21 lainnya menderita sesak napas dan pingsan.”

Pesawat Drone Israel Targetkan Wartawan yang Liput Aksi Protes di Gaza

Pasukan Israel merusak empat kendaraan siaran langsung dengan menembakkan bom gas dan tujuh wartawan ditahan di Tepi Barat. Selain itu, tentara Israel dituduh menembak dan memukul jurnalis.

Menurut pernyataan Kementerian Kesehatan Palestina hari Ahad, jumlah martir Palestina dalam demonstrasi Great March of Return telah mencapai 123, termasuk 12 anak-anak, dua petugas medis, dua wartawan sedangkan 13.672 warga Palestina – 7.451 di antaranya terkena amunisi hidup – dilukai oleh tentara Israel.

Sudah 123 Warga Gaza Gugur dan 13.000 Lainnya Terluka oleh Kebrutalan Pasukan Israel

Warga Palestina mengadakan aksi demonstrasi damai bernama Great March of Return di perbatasan Israel di Jalur Gaza sejak 30 Maret. Tentara Israel menggunakan amunisi langsung terhadap Palestina yang menuntut “kembali ke tanah tempat mereka setelah diasingkan dan mengakhiri blokade Israel yang tidak sah yang telah diberlakukan di Gaza sejak 2006 “.

Sudah 2 Wartawan Palestina Gugur saat Meliput “Great March of Return”

Sudah 123 Warga Gaza Gugur dan 13.000 Lainnya Terluka oleh Kebrutalan Pasukan Israel

GAZA (Jurnalislam.com) – Sebanyak 123 warga Palestina telah menjadi martir dan 13.000 lainnya terluka oleh tembakan tentara penjajah Israel sejak dimulainya protes anti-pendudukan di Jalur Gaza pada akhir Maret, menurut Kementerian Kesehatan.

“Para martir termasuk 13 anak, dua petugas medis dan dua wartawan,” juru bicara kementerian Ashraf al-Qidra mengatakan pada konferensi pers di Kota Gaza pada hari Ahad (03/6/2018).

Dia mengatakan sekitar 350 orang terluka serius selama protes.

Zionis Luncurkan Serangan Udara Terbesar setelah Puluhan Roket Hamas Hantam Israel

“Korban luka-luka termasuk 2.200 anak-anak dan 140 wanita,” katanya, menambahkan bahwa sejumlah korban yang terluka jauh melampaui batas kapasitas rumah sakit Gaza.

Sementara itu, Abdullatif al-Haj, kepala rumah sakit Gaza, mengatakan ada kekurangan obat-obatan dan persediaan medis di wilayah Palestina.

“Persediaan medis yang masuk tidak mampu memenuhi permintaan yang terus meningkat,” katanya.

Media Resmi Korea Utara: Assad Ingin Bertemu Kim Jong Un

KOREA UTARA (Jurnalislam.com) – Presiden rezim Suriah Bashar al-Assad mengatakan dia berencana untuk mengunjungi pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, media pemerintah Korea Utara melaporkan pada hari Ahad (03/6/2018). Itu akan menjadi pertemuan pertama di Pyongyang antara Kim dan kepala negara lain, lansir Al Arabiya.

“Saya akan mengunjungi DPRK dan bertemu dengan Yang Mulia Kim Jong Un,” kata Assad pada 30 Mei, kantor berita KCNA Korea Utara melaporkan, menggunakan inisial nama resmi negara itu, Republik Rakyat Demokratik Korea (the Democratic People’s Republic of Korea-DPRK).

Tidak ada komentar langsung dari kantor presiden rezim Suriah.

Assad dilaporkan membuat pernyataan itu ketika dia menerima surat kepercayaan dari Duta Besar Korea Utara, Mun Jong Nam.

Pyongyang dan Damaskus mempertahankan hubungan baik, dan pemantau Perserikatan Bangsa-Bangsa menuduh Korea Utara bekerja sama dengan rezim Suriah dalam pengadaan senjata kimia, tuduhan yang dibantah oleh Korut.

Kedua negara sama-sama menghadapi isolasi internasional, Korea Utara atas program senjata nuklirnya, dan Rezim Suriah atas taktiknya selama perang di Suriah.

Begini Kata Korea Utara Setelah Putin Terpilih Kembali Jadi Presiden

Sejak awal tahun, Kim telah meluncurkan serangkaian pertemuan diplomatik dengan para pemimpin di China dan Korea Selatan, dan dijadwalkan untuk mengadakan pertemuan puncak dengan Presiden AS Donald Trump di Singapura pada 12 Juni.

Sejak mengambil alih kekuasaan pada tahun 2011, Kim belum pernah secara terbuka bertemu dengan kepala negara lain di Korea Utara.

“Dunia menyambut peristiwa luar biasa di semenanjung Korea yang baru-baru ini dibawa oleh kepemimpinan politik Yang Mulia Kim Jong Un yang cakap dan bijaksana,” kata Assad, menurut KCNA. “Saya yakin dia akan mencapai kemenangan akhir dan mewujudkan reunifikasi Korea tanpa gagal.”

Menurut kementerian luar negeri Korea Selatan, Korea Utara menjalin hubungan diplomatik dengan rezim Suriah pada tahun 1966, dan membuka kedutaannya di Damaskus. Rezim Suriah membuka misinya di Pyongyang pada tahun 1969.

Kerja sama militer yang erat antara kedua negara dimulai ketika Korea Utara mengirim sekitar 530 tentara termasuk pilot, supir tank dan personil rudal ke Suriah selama perang Arab-Israel pada Oktober 1973.

“Pemerintah Suriah akan selalu mendukung semua kebijakan dan langkah-langkah kepemimpinan DPRK sepenuhnya dan selalu memperkuat dan mengembangkan hubungan persahabatan dengan DPRK,” kata Assad, sebagaimana dikutip oleh KCNA.

Liga Arab: Pasukan Israel Sengaja Membunuh Perawat Razan Al-Najar

KAIRO (Jurnalislam.com) – Liga Arab pada hari Ahad (03/6/2018) tegaskan bahwa Israel telah sengaja membunuh seorang paramedis Palestina berusia 21 tahun di Jalur Gaza.

Razan al-Najar ditembak di dada oleh penembak jitu Israel pada hari Jumat ketika sedang berlari menghampiri warga Palestina yang terluka di kota Khan Younis di Jalur Gaza selatan.

“Otoritas pendudukan Israel sepenuhnya bertanggung jawab atas pembunuhan tenaga medis itu,” kata liga yang berbasis di Kairo dalam sebuah pernyataan.

Liga Arab menyerukan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Palang Merah dan badan amal medis lainnya untuk membawa mereka yang bertanggung jawab ke pengadilan “demi memaksa Israel untuk menghormati perjanjian internasional mengenai keselamatan dokter dan tenaga medis.”

Liga Arab juga mendesak PBB dan organisasi internasional lainnya untuk “menyelidiki kejahatan Israel dan mengadili mereka yang bertanggung jawab dan meminta mereka bertanggung jawab atas kejahatan mereka.”

Pasukan Israel Bunuh Tim Medis Palestina Saat Aksi Unjuk Rasa

Demonstrasi damai diadakan sejak akhir Maret di Jalur Gaza, yang telah mengalami krisis kemanusiaan besar karena blokade Israel lebih dari satu dekade.

Sejak aksi massa di Gaza dimulai pada 30 Maret, lebih dari 120 demonstran Palestina telah menjadi martir dan ribuan lainnya terluka oleh tembakan tentara penjajah Israel.

Tentara Israel menggunakan amunisi hidup terhadap warga sipil yang menuntut kembali ke kota-kota dan desa-desa mereka di Palestina lama dan mengakhiri blokade ilegal Israel yang telah diberlakukan di Gaza sejak 2006.

Banyak warga Palestina yang diwawancarai oleh Anadolu Agency menggambarkan paramedis muda itu sebagai “malaikat penjaga” karena membantu banyak demonstran yang terluka akibat tembakan Israel selama protes anti-pendudukan.

Tolong Bocah Tergantung di Balkon, Pemuda Muslim Mali Dijuluki Spiderman Perancis

PARIS (Jurnalislam.com) – Seorang pria Muslim berusia 22 tahun dari Mali bernama Mamoudou Gassama telah menjadi pahlawan terbaru di Perancis, World Bulletin melaporkan Ahad (3/6/2018).

Mamoudou Gassama
Mamoudou Gassama

Dia tinggal di Perancis sebagai imigran gelap selama berbulan-bulan, tetapi seperti sudah ditakdirkan, dia sekarang dianggap sebagai pahlawan paling berani setelah memanjat gedung tinggi di Paris untuk menyelamatkan anak berusia 2 tahun yang tergantung di balkon.

Meskipun ada banyak orang yang menyaksikan adegan itu, mereka hanya bisa menonton. Tuan Mamoudou saat itu juga melihat kejadian tersebut dan sama-sama menunggu petugas pemadam kebakaran tiba. Namun ia melakukan tindakan yang berbeda dalam waktu singkat untuk menyelamatkan nyawa anak tersebut.

Presiden Prancis Emmanuel Macron memberi penghormatan karena keberaniannya termasuk memberinya kesempatan kerja dalam dinas Kebakaran dan juga kewarganegaraan Prancis.

Tindakan heroiknya membuatnya mendapatkan gelar, “Paris Spiderman” di berbagai media sosial.

Terjun Langsung ke NTT, Fauzi Baadila Ajak Masyarakat Peduli Warga Pelosok

Anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU) yang juga wartawan Jurnalislam.com, Ally M Abduh berkesempatan membersamai Kapal Ramadhan Aksi Cepat Tanggap (ACT) berlayar menuju desa terpencil di Indonesia Timur. Berikut liputannya

ALOR NTT (Jurnalislam.com)- Aktor ternama Fauzi Baadila terlihat hadir dalam aksi penyaluran donasi bahan pokok Kapal Ramadhan ACT di Desa Marry, Pulau Pura, Kabupaten Alor, Ahad (3/6/2018). Ia mengaku tergugah setelah melihat langsung implementasi bantuan kemanusiaan di lapangan.

“Orang- orang kota harus tahu kalau di pelosok tuh gak senyaman dan semakmur di kota. Jadi rasa kepeduliaannya harus lebih tinggi lagi, biar orang-orang yang di tepian negeri ini bisa ngerasain hal yang Insya Allah sama, paling tidak mereka gak kekurangan lah,” kata dia kepada Islam News Agency (INA), kantor berita yang diinisiasi JITU di sela-sela kegiatan penyaluran bantuan, Ahad (3/6/2018).

Bang Oji, sapaannya, menambahkan, selain untuk meningkatkan kesadaran pribadi dan masyarakat tentang keadaan saudara-saudara di pelosok negeri, kehadirannya juga untuk menjawab keraguan masyarakat yang telah berdonasi.

“Nah disini gue ngeliat sendiri, ngalamin sendiri, terus juga ngasih tau juga ke temen-temen yang udah peduli ‘Nyampe Bos, aman bos, tenang’,” ujarnya sambil berkelakar.

Pemeran utama film 212 The Power of Love itu, mengaku sudah dua kali ikut terlibat langsung ke daerah implementasi bersama Aksi Cepat Tanggap.

“Ini kedua kali, sebelumnya di perbatasan Turki-Suriah. Dua kali gua ngikutin kegiatan ACT, wah gua gak nyangka, bahkan melebihi perkiraan gua,” ungkapnya.

Fauzi tiba di Pelabuhan Kalabahi pada hari Sabtu (2/6/2018). Dia ditemani salah seorang tim Kapal Ramadhan yang berangkat langsung dari Jakarta menuju Bandara Mali, Pulau Alor.

Reporter: Ally Muhammad Abduh

Cerita Ramadhan dari Geladak Kapal, 72 Jam Menembus Indonesia Timur

Anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU) yang juga wartawan Jurnalislam.com, Ally M Abduh berkesempatan membersamai Kapal Ramadhan Aksi Cepat Tanggap (ACT) berlayar menuju desa terpencil di Indonesia Timur. Berikut liputannya:

ALOR – Kapal Ramadhan Aksi Cepat Tanggap (ACT) sudah berlayar tiga hari atau 72 jam sejak Kamis (31/5/2018) bertolak dari pelabuhan Garongkong, Sulsel.

Kapal yang membawa 10 ribu paket bantuan pangan ini telah berlabuh di pelabuhan Labuhan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT pada Jumat (1/6/2018).

Di sana kapal menurunkan 3.700 paket bantuan pangan untuk disalurkan ke tiga kabupaten, di antaranya Kabupaten Maumere, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur. Sebelas orang relawan diterjunkan untuk mengawal bantuan sampai ke tempat tujuan.

Butuh waktu 25 jam untuk sampai ke pelabuhan Labuan Bajo dari pelabuhan Garongkong. Sepanjang perjalanan para relawan menghabiskan waktunya dengan berbagai kegiatan. Mulai dari perkenalan, penyuluhan program sampai pemetaan kondisi daerah tujuan.

Sahur pertama di Kapal Innerie II sangat berkesan bagi para relawan terlebih bagi Achmad Suhadi. Pria 30 tahun asal Serang adalah salah salah satu relawan MRI (Masyarakat Relawan Indonesia) cabang Banten. Pria satu anak itu baru pertama kali mengikuti aksi penyaluran donasi ke pelosok Indonesia. Hadi, sapaannya, pergi bersama temannya sesama relawan MRI.

“Saya ingin jadi manusia yang lebih bermanfaat lagi,” kata dia kepada Islam News Agency (INA) yang turut serta dalam Kapal Ramadhan ini.

Hadi mengaku beruntung bisa terpilih menjadi bagian dari Kapal Ramadhan. Dia mengungkapkan, dari 150 relawan MRI yang mendaftar hanya dua orang yang lolos seleksi.

Demikian juga bagi Achmad Farudi, nama lengkap Rudi, merupakan salah seorang relawan yang bergabung dalam misi kemanusiaan ini. Dia bersama dua orang rekannya berasal dari Bali, dari Masyarakat Relawan Indonesia (MRI).

Bagi remaja 18 tahun ini, menjadi relawan adalah panggilan jiwa. “Kami bertiga dari Bali, berbekal niat untuk membantu sesama, ingin menjadi relawan, bergabung bersama ACT,” tuturnya kepada INA, kantor berita yang diinisiasi JITU ini.

Meski belasan jam terombang-ambing di atas laut, namun Rudi tetap semangat mengantarkan bantuan hingga ke tujuan. “Sudah biasa membantu. Sewaktu Bali ada erupsi Gunung Agung, saya juga bersama tim MRI ikut membantu korban erupsi,” ucapnya seolah menyiratkan dalam setiap pekerjaan baik pun selalu ada tantangan.

Semangat serupa juga ditunjukkan salah seorang relawan dokter dari Universitas Indonesia (UI), Refitia, 25. Pemilik nama lengkap Refitia Inayah Putri itu termotivasi ikut dalam misi ini lantaran melihat akses kesehatan warga NTT yang masih minim.

“Karena alasan tersebut kami berharap pelayanan kesehatan dapat menyentuh masyarakat di daerah terpencil. Jadi, mereka dapat memanfaatkan layanan kesehatan ini untuk berobat,” tutur dokter gigi itu.

Ia pun berharap, warga yang tadinya kesulitan mengakses layanan kesehatan, bisa segera berobat dengan kehadiran Kapal Ramadan ini.

Kebersamaan mereka telah dipisahkan oleh tugas. Ahmad Suhadi ditugaskan sebagai implementer ke daerah Maumere, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur, Refitia turun di Pelabuhan Kalabahi untuk memberin layanan kesehatan di Pulau Pura, Kabupaten Alor. Sementara Achmad Farudi harus ikut menuju tujuan akhir Kapal Ramadhan di Kupang.

Kapal Ramadhan merupakan program yang baru diluncurkan ACT tahun ini. Kapal ini membawa 10 ribu paket bantuan pangan untuk didistribusikan ke beberapa pulau di NTT.

 

Kapal Ramadhan memulai perjalanannya dari Dermaga Garongkong, Makasar, pada Kamis (31/5). Kapal ini telah singgah di Labuan Bajo pada Jumat (1/6) untuk menurunkan 3.700 paket bantuan pangan. Bantuan ini disalurkan ke Kabupaten Maumere, Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur.

 

Kapal Ramadhan kemudian melanjutkan perjalanan ke Pulau Kalabahi. Di wilayah ini didistribusikan 3.871 paket bantuan pangan. 2.413 paket bantuan pangan disalurkan ke Alor Daratan dan Pulau Buaya, 1.195 paket didistribusikan ke Pulau Pantar, dan 263 paket lainnya ke Pulau Pura. Sisa paket bantuan pangan akan didistribusikan di tujuan akhir Kapal Ramadhan, yakni Kupang.

Reporter: Ally Muhammad Abduh

Kehangatan Penduduk Alor Sambut Kapal Ramadhan ACT

Anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU) yang juga wartawan Jurnalislam.com, Ally M Abduh berkesempatan membersamai Kapal Ramadhan Aksi Cepat Tanggap (ACT) berlayar menuju desa terpencil di Indonesia Timur. Berikut liputannya:

ALOR NTT (Jurnalislam.com) – Setelah menempuh perjalanan hampir 40 jam dari Pelabuhan Labuan Bajo, Kapal Ramadhan ACT akhirnya merapat di Pelabuhan Kalabahi, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (2/6/2018).

Puluhan truk telah menunggu di dermaga untuk mengangkut 3.871 paket bantuan yang akan disalurkan ke 8 kecamatan yang dibagi di tiga titik implementasi.

Lokasi pertama di Pulau Buaya. Sebanyak 2.413 paket bantuan akan disalurkan di 17 desa yang terdapat di lokasi ini. Lokasi kedua di Pulau Antar. Disini, 1.195 paket akan disalurkan ke 15 desa di 5 kecamatan. Terakhir di Pulau Pura dengan 263 paket untuk 4 desa.

Ahad (3/6/2018) tim berangkat menuju daerah implementasi di kampung Timoabang, Desa Marru, Pulau Pura, Kabupaten Alor. Butuh waktu 30 menit menggunakan perahu kecil bermuatan 10 orang untuk tiba di desa ini dari pelabuhan Dalolong. Sebuah pelabuhan kecil di daerah Kalabahi.

Setibanya di pulau berpenduduk minoritas muslim itu, tim relawan disambut hangat penduduk setempat. Dari mulai anak-anak, tua muda semua bergotong royong memikul paket bantuan yang dikumpulkan di ruang kelas Madrasah Islam Swasta (MIS) Daruasalam Timoabang, satu-satunya sekolah Islam setingkat SD di pulau itu.

“Alhamdulillah kita senang dan bersyukur dengan adanya bantuan ini, baru pertama kali ini ada bantuan semacam ini. Kami sangat-sangat berterimakasih,” kata sesepuh Kampung Timoabang, Haji Lewa Iman kepada Islamic News Agency (INA), kantor berita yang diinisiasi Jurnalis Islam Bersatu (JITU).

Dia berharap bantuan tersebut dilakukan secara kontinyu. Haji Lewa mengaku sangat mengapresiasi upaya ACT di bulan suci Ramadhan ini untuk menyalurkan donasi ke masyarakat muslim khususnya di daerah-daerah terpencil.

“Mudah-mudahan kegiatan ini dicatat oleh Allah Subhanahu wa taala sebagai amal shaleh, apalagi ini kan bulan Ramadhan, bulan berkah,” tuturnya.

Selain memberikan bantuan bahan pokok, tim Kapal Ramdhan ACT juga mebuka posko layanan kesehatan gratis bagi warga muslim di Pulau Pura, Pulau Buaya dan Pulau Antar.

Seperti diungkapkan Dr Rizal Alimin dari Global Medical Action (GMA) yang juga ketum Tim Dokter Kapal Ramadhan, penduduk di daerah implementasi rata-rata mengeluhkan soal penyakit kulit.

“Seperti di daerah lainnya juga, daerah pinggiran pantai akan sering bersentuhan dengan penyakit kulit, batuk pilek, dan kita akan mempersiapkan semuanya,” ujar dr Rizal.

Kapal Ramadhan adalah produk filantropi program ramadhan dari Aksi Cepat Tanggap (ACT). Program digulirkan untuk menggugah kepedulian sosial masyarakat di momen istimewa tahunan ini, sebagai perhatian atas problem akut kemiskinan di sebagian wilayah Indonesia.

Reporter: Ally Muhammad Abduh

Hidup Melarat ala Perumus Pancasila

Oleh : Rizki Lesus*

*Penulis buku Perjuangan yang Dilupakan, Founder Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)

Rumah itu masih berstatus sewa, ketika sang penghuninya, Haji Agus Salim wafat sepenggal November 1954. Salah satu dari 9 perumus Pancasila, anggota dewan Volksraad, diplomat kesohor, Menteri Luar Negeri era revolusi itu wafat dengan – masih – bersatus sebagai ‘kontraktor’ alias pengontrak rumah.

Baru setelah itu, beberapa tahun kemudian, anak-anaknya patungan membeli rumah kontrakannya yang bertempat di Jalan Gereja Theresia (kini Jl. Agus Salim no 72) Jakarta.

Begitu kesederhanaan Haji Agus Salim dikisahkan sang cucu, Agustanzil Sjahroezah dalam Agus Salim Diplomat Jenaka Penopang Republik (2013: hal.114). Entah berapa kali, tokoh Partai Islam terbesar saat itu hidup nomaden, berpindah-pindah dari satu gang ke gang lainnya di berbagai kota.

Sangat jarang kita dengar, petinggi partai di negeri ini masih mengontrak rumah, pinda-pindah bahkan hampir tiap bulan. Padahal, mungkin di luar sana, seorang ayah tidur dengan anaknya di atas gerobak beratap langit.

Di dalam gang sempit itu, berkelok dari jalan utama, menyelusup gang pada perkampungan di sudut kota, di tempat becek, di kawasan kumuh, di sanalah Agus Salim dan istrinya, Zainatun Nahar mengisi hari-hari mereka.

Di Jakarta, sejoli ini pernah menikmati masa-masa indah di daerah Tanah Abang, Karet, Petamburan, Jatinegara, di gang-gang Kernolong, Tuapekong, gang Listrik dan masih banyak lagi.

Khusus gang listrik, menjadi kenangan tersendiri bagi sejoli ini. Di gang Listrik, justru Haji Agus Salim dan Zainatun Nahar hidup tanpa listrik gara-gara tak sanggup membayar iuran listrik. Anak keempat Salim, Adek, mengingatnya dulu ia harus membersihkan bola lampu setiap sore. (Kustiniyati Mochtar: 1984).

“Rumah kampung dengan meja kursi sangat sederhana,” tambah muridnya yang juga diplomat, Mohammad Roem dalam Bunga Rampai dari Sejarah, mengenang. Pernah pula, kasur gulung, ruang makan, dapur, dan ruang tamu kontrakan Haji Agus Salim bersatu dalam satu ruangan besar.

Jangan tanya ada atau tidak uang belanja, atau sembako di dalam lemari. Nasi goreng kecap mentega menjadi favorit ketika keluarga ini sedang tak ada makanan.

Tak heran, dalam Agus Salim Diplomat Jenaka Penopang Republik, ketua delegasi Belanda dalam perundingan Linggarjati, Willem Schermerhorn bilang,” Ia hanya mempunyai satu kelemahan : selama hidupnya melarat!”

Frasa selama hidupnya melarat ini artinya sangat jelas. Sebelum, saat, hingga pasca menjabat sebagai Menteri, atau jabatan lainnya, ia tetap melarat, dan tetap mengontrak rumah hingga akhir hayatnya.

Bisa dibayangkan kini, ada seorang menteri yang tidak punya rumah? Anggota Dewan yang kekurangan bahan makanan? Seorang yang menolak menjadi ketua partai besar ? Seorang diplomat kelas dunia yang tidak bisa bayar listrik?

Kisah kesederhanaan – atau kemelaratan – ini tak hanya dirasakan Haji Agus Salim. Perumus Pancasila lainnya, Mohammad Hata pun mengalami masa-masa senja yang tak jauh berbeda.

Ramadhan KH dalam Bang Ali, Demi Jakarta 1966 – 1967 mengisahkan bagaimana Ali Sadikin, gubernur legendaris Jakarta ini terenyuh melihat kondisi Bung Hatta yang tak mampu membayar iuran air hingga pajak.

“Begitu sederhananya hidup pemimpin kita pada waktu itu,” kata Bang Ali terharu. Bahkan, hingga akhir hayatnya, keinginan bung Hatta untuk membeli sepatu bally tak juga terpenuhi.

Wakil Presiden Indonesia pertama ini menabung, sampai-sampai beliau menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya. Namun apadaya, tabungan beliau tak cukup karena kebutuhan rumah tangganya. Sepatu bally tinggallah kenangan.

Perumus Pancasila lainnya, KH Wahid Hasyim merupakan sosok yang sangat bersahaja. Saat orang-orang bertanya ketika dirinya tak lagi menjabat sebagai menteri, ia menjawab:

“Tak usah kecewa! Saya toh bisa duduk di rumah. Saya mempunyai banyak kursi dan bangku panjang, tinggal pilih saja,” katanya mengundang gelak tawa orang –orang di sekitarnya. (Saifudin Zuhri : 2013).

Di saat masyarakat hidup sulit, katanya, tak elok jika para pemimpinnya hidup dengan mewah dan bersenang-senang. Karenanya, ia turut merasakan kesulitan serupa. Suatu kebiasaannya adalah berpuasa sunnah, bahkan dalam kondisi sesibuk apapun di mana pun.

Saifudin Zuhri mencatat, saat mereka menginap di suatu hotel, ia lupa menyiapkan sahur. Di atas meja ada sebutir telur rebus dari sisa santapan sahur kemarin dan segelas teh bagian Saifuddin Zuhri ketika sore.

“Dengan sebutir telur dan segelas teh itulah KH Wahid Hasyim bersahur,” kenang Saifudin Zuhri dalam Berangkat dari Pesantren. Sambil menyelesaikan sebutir telur yang satu-satunya untuk sahur itu KH Wahid Hasyim mengingatkan agar jangan sampai hidup menampakkan kemewahan di saat kondisi masyarakat sedang sulit.

”Kita berlapar-lapar supaya tidak melupakan nasib kaum lapar,”pesannya.

Tokoh perumus Pancasila lainnya, Prof. KH Abdul Kahar Muzakkir, tokoh Muhammadiyah yang pernah juga menjadi anggota Dewan Konstituante bahkan hingga pengujung senjanya, masih tinggal di rumah warisan ayahnya, Haji Muzakkir.

Mitsuo Nakamura mencatat bahwa kendaraan Abdul Kahar Muzakkir hanyalah sebuah skuter bekas pemberian mahasiswanya, yang sering kali mogok. Sebagai alternatif, ia kadang menggenjot sepeda, naik becak atau andong menempuh perjalanan sepanjang lima atau enam kilometer dari rumahnya mengajar di UII atau ke kantor PB Muhammadiyah di Yogyakarta. (Mitsuo Nakamura: 1996).

Ironi memang, tapi itulah mereka, para pendiri bangsa ini. Pantas saja, Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) – DPR kini – pertama, Kasman Singodimedjo melihat kondisi gurunya, Haji Agus Salim, dengan lirih berkata, “Leiden is lijden,” memimpin itu menderita!

Memang, mereka bukanlah Pembina, pengarah, atau apapun jabatan yang melekat terkait dasar negara ini. Namun mereka menyusun pondasi bangsa ini dengan penuh ketulusan, mungkin tanpa berpikir-pikir apakah anggaran sekian bisakah kami membina masyarakat?

Mereka membina nilai-nilai kebangsaan dengan keteladanan. Mungkin saja, balasan materi yang diterima saat itu minim, atau bahkan harus merogoh kocek pribadi, “Leiden is lijden,” memimpin itu menderita!

Mereka yang memilih jalan becek dan sunyi, berjalan kaki dengan tongkatnya dibanding gemerlap karpet merah dan mobil –mobil dan rumah mewah, gemerlap jantung kota lainnya.

Kemiskinan tak membuat mereka berhenti berbuat. Kesungguhan mengalahkan keber-ada-an, dan sejarah telah mencatatnya.

Kita tentu rindu sosok seperti mereka, bukan tentang melaratnya mereka, tapi tentang ruang kesederhanaan, kepekaan nurani, yang masa kini mungkin semakin sulit kita ditemukan.