Pemerintah Tetapkan Idul Adha 1439 Hijriyah pada 22 Agustus 2018

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan Hari Raya Idul Adha 1439 Hijriyah jatuh pada tanggal 22 Agustus mendatang. Keputusan ini berdasarkan hasil sidang isbat penetapan 1 Dzulhijah 1439 Hijriyah di Kantor Kemenag Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Sabtu (11/8/2018).
Dalam sidang yang dipimpin langsung oleh Dirjen Bimas Islam Kemenag, Muhammad Amin tersebut disepakati bahwa tanggal 1 Dzulhijah 1439 Hijriyah jatuh pada hari Senin (13/8/2018). Dengan demikian, Hari Raya Qurban jatuh pada 22 Agustus.
“Maka malam 1 Dzulhijah jatuh pada hari Senin tanggal 13 Agustus 2018. Maka tanggal 10 Dzulhijah atau Hari Raya Idul Adha jatuh pada 22 Agustus 2018,” kata Amin dilansir Jawapos.com

Penetapan itu berdasarkan dua mekanisme yang diterapkan oleh Kemenag, yaitu dengan cara hisab, dan ruqyatul hilal atau penglihatan hilal dari sejumlah titik pemantauan.

Kemenag melakukan ruqyatul hilal di 92 titik yang tersebar di seluruh Indonesia. Dari laporan 29 pelaku ruqyatul hilal, tak satupun yang melihat hilal. Sehingga bulan Dzulqaidah digenapkan menjadi 30 hari.

“Atas dua hal itu dari perhitungan hisab dan ruqyatul hilal yang tidak terlihat, sebagaimana yang kita pedomani dari fatwa MUI, kita putuskan bulan Zulkaidah 1439 Hijriyah kita sempurnakan dengan cara ijtima menjadi 30 hari,” jelasnya.

Lebih jauh Amin berharap keputusan ini menjadi berkah bagi seluruh umat Islam di Indonesia. Tak lupa Kemenag atas nama pemerintah mengucapkan selamat hari raya Idul Qurban bagi seluruh umat muslim.

“Mudah-mudahan keputusan ini memberi berkah pada kita semua. Atas nama pemerintah khususnya untuk umat Islam selamat memasuki bulan Dzulhijah, selamat merayakan hari raya Idul Adha,” tutup Amin.

Ini Kata Aa Gym Soal Pilpres 2019

CIMAHI (Jurnalislam.com) – Jelang pemilihan presiden (pilpres) 2019, masyarakat Indonesia diimbau menjaga ukhuwah (silaturahim), tidak menuhankan pilpres dan tidak rusak akhlak akibat helatan politik lima tahunan tersebut.

Hal tersebut diungkapkan Pimpinan Daarut Tauhid, Abdullah Gymnastiar yang akrab disapa Aa Gym saat ceramah di acara Tabligh Akbar Mapolres Cimahi, Sabtu (11/8/2018). Dirinya bersyukur, satu tahapan pemilu sudah dilalui dan akan dilanjutkan dengan tahapan-tahapan berikutnya.

Ia berharap, ajang pilpres tidak dijadikan sebagai ajang pertandingan, namun sebagai ajang perlombaan. Artinya, tidak ada pihak yang saling mengalahkan, menjatuhkan, menghancurkan dan melumpuhkan.

“Kita bersyukur satu tahapan sudah dimulai. Kita jadikan perlombaan (dimana) semua berusaha memberikan yang terbaik,” ujarnya lansir Republika.co.id.

Dirinya menambahkan, persoalan saat ini yang dihadapi oleh bangsa adalah akhlak, bukan politik atau ekonomi. Oleh karena itu, selama proses penyelenggaraan pilpres harus menjaga ukhuwah.

“Saya ingin membantu agar pilpres ini akidah umat tetap terjaga, mendukung masyarakat terjaga akhlaknya dan mendukung agar ukhuwah terjaga,” ujarnya.

Kapolres Cimahi, AKBP Rusdy Pramana mengatakan kegiatan Tabligh Akbar Polres Cimahi dalam rangka tasyakur Kemerdekaan RI ke-73. Selain itu, menjaga kondusivitas menjelang Asian Games 2019 dan menjelang pengamanan pilpres dan pileg 2019.

 

Merindu Pemimpin Seperti M Natsir

Oleh: Beggy Rizkiyansyah – Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa
Suka tak suka perhatian kita saat ini terus dibombardir oleh satu topik: bursa penentuan Calon Presiden dan Wakil Presiden Indonesia. Bukan saja dalam setiap pemberitaan media, tetapi isu ini menggelayuti linimasa media sosial kita.
Apapun dinamika yang terjadi kenyataannya telah terbaca. Tak mudah bagi calon presiden yang ada (Prabowo Subianto) untuk menerima rekomendasi yang telah diperas oleh para ulama dari Ijtima Ulama tempo hari. Tak perlu dipungkiri, hasil rekomendasi Ijtima ulama masih dipandang politisi sejajar dengan faktor-faktor lainnya.
Rekomendasi ulama bukan dianggap satu keputusan yang harus ditaati. Tetapi masih sekedar pertimbangan-pertimbangan untung rugi politik belaka. Para politisi belum melihat Ulama sebagai satu pengarah umat yang signifikan. Lebih mengenaskan masih ada politisi yang mungkin melihat ulama sekedar mesin pendulang suara.
Setidaknya sejak era reformasi umat kerap menitipkan cita dan harapannya kepada perahu-perahu politisi sekular. Atau minimal tak berideologi Islam. Tak pelak situasi semacam ini menyiratkan bahwa Islam tak lagi dipandang sebagai satu sistem perikehidupan -yang bukan saja diridhai oleh Allah- tetapi juga mampu menyelesaikan berbagai persoalan.
Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional GNPF Ulama
Maka kejadian semacam ini seharusnya dilihat bukan sebagai sumber masalah, tetapi sebenarnya adalah gejala dari sebuah persoalan yang lebih besar, yaitu betapa mendominasinya sekularisme di Indonesia. Para figur (calon) pemimpin masih berparadigma memisahkan agama dengan negara. Menganggap Islam bukanlah solusi persoalan yang ada. Begitu pula masyarakatnya. Betapa banyak yang belum merasa perlu memilih solusi berdasarkan Islam.
Kita akhirnya terjebak dalam lingkaran setan. Calon pemimpin yang dititipkan cita Islam melihat aspirasi umat dan ulama bukanlah sebagai pondasi berpijak melainkan pertimbangan elektoral belaka. Masyarakat pemilih pun demikian. Figur yang tidak ideologis dianggap dapat memberi jalan keluar dari masalah yang membeli mereka.
Cukuplah figur tersebut didandani, dicocok-cocokkan, dipantas-pantaskan dengan simbol-simbol Islam belaka. Cukup dilabeli ‘keturunan ulama,’ berasal dari kelompok tertentu atau diberi label dekat dengan kelompok Islam, sudah terpuaskan dahaga masyarakat. Kita sepertinya cukup puas dibuai dongeng-dongeng semacam, si fulan seperti Umar bin Khattab; yang bermasa lalu kelam kemudian menemukan jalan Islam.

Gelar-gelar tempelan semacam “Umar abad ini”, atau “Natsir baru” sudah cukup untuk menutup mata kita. Modus semacam inilah yang akhirnya menjadi santapan akrobat para politisi. Dengan bungkus dan sorot lampu media, pencitraan “Islami” menjadi santapan sehari-hari. Mata rantai lingkaran setan ini memang harus diputus.

Kita harus berbesar hati melihat kenyataan bahwa semakin jauhnya para aktor politik dari ulama. Hal ini bisa saja diresapi sebagai satu kekecewaan. Tetapi kita juga dapat melihat sisi terangnya. Sudah saatnya umat bersama ulama berdiri sendiri. Tak lagi menggantungkan harapan dan menitipkan cita pada pemimpin yang tak seideologi.

Umat Islam beserta Ulama harus mengajukan (calon) pemimpinnya sendiri. Bukan lagi menitipkan aspirasi pada pemimpin berbeda perahu. Apalagi mencari pemimpin dadakan, dipaksakan, karbitan atau hasil gorengan media. Kita tak bisa lagi baru membicarakan pemimpin ketika mendekati masa pemilihan kepala daerah atau kepala negara.

Mencetak pemimpin umat bukanlah perkara satu dua tahun. Ia adalah satu proses kaderisasi oleh ulama yang ditempa sejak lama dengan berbagai kondisi. Mari kita lihat kenyataan sejarah. Berbagai tokoh pemimpin umat adalah hasil tempaan ulama dalam waktu yang lama.

Mohammad Natsir misalnya. Ia adalah pemimpin yang ditempa oleh ulama sekaliber Ahmad Hassan. Natsir sejak muda berguru ke Tuan Hassan. Bahkan Natsir memilih Bersama Tuan Hassan ketimbang mengambil peluang beasiswa studi oleh pemerintah kolonial Belanda. Tuan Hassan bukan saja menempa Natsir dengan ilmu agama, tetapi ia melatih Natsir muda untuk menjadi pengawal umat.

M. Natsir pendiri Dewan Dakwah Islam Indonesia

Kehadirannya di Majalah Pembela Islam membuktikan ia hadir untuk mengadvokasi umat Islam. Natsir muda tak puas berguru pada seorang guru saja. Pada Haji Agus Salim, Natsir Bersama kawan-kawan di Jong Islamieten Bond (JIB) memerlukan hadir menimba ilmu dari politisi senior Sarekat Islam tersebut. Buya Hamka menyebut para anggota JIB, “…yang lebih memperdalam pengertian dan amalan agama sehingga Islam tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi menjadi dasar dan pandangan hidup.” (Hamka: 2002)

Munculnya Natsir Bersama Jong Islamieten Bond (JIB) ini harus dilihat sebagai satu kriteria calon pemimpin, yaitu figur yang memang telah lama berjejaring dengan dunia gerakan Islam. Bukan figur yang sekonyong-konyong muncul ketika masa politik elektoral belaka. Kehadiran dalam dunia pergerakan memberikan makna bahwa calon pemimpin telah lama membersamai umat. Bukan sekedar cendikiawan yang hidup di menara gading.

Mohammad Natsir dan JIB adalah contoh generasi emas gerakan Islam. JIB bergerak bersama umat khususnya para pelajar muslim. Ditengah belantara sekularisme yang menyelimuti pelajar-pelajar ‘pribumi’ di sekolah Belanda, para aktivis JIB mencoba menghidupkan suluh bagi para pelajar tersebut. Diskusi-diskusi, tulisan-tulisan, aktivitas mengajar menjadi denyut sehari-hari generasi emas tersebut.

Dari JIB-lah kemudian muncul tokoh-tokoh seperti Mr. Kasman Singodimedjo, Mohammad Roem, Syamsurizal, dan lainnya. Sebagian besar dari mereka kemudian menjadi tokoh sentral di Masyumi. Buya Hamka menuturkan kesaksiannya tentang para pemuda generasi emas JIB ini:

“Intelek pejuang bekas didikan Haji A. Salim dan anggota Kernlingaam tadi, dengan sendirinya telah dapat menutup mulut kaum intelek didikan barat, yang siang malam bermimpi bahasa belanda tadi, yang memandang Islam sebagai, ‘Islam Sontoloyo, santri gudikan atau kiyai bini banyak atau kolam masjid kotor atau Islam yang tidak bisa dipakai untuk kemajuan atau orang Islam harus menganut modernisasi, kalau perlu musti pandai berdansa’ dan sebagainya.” (Hamka: 2002)

Organisasi Jong Islamieten Bond (JIB) memisahkan diri dari Budi Oetomo dan membentuk organisasi intelektual Muslim

Mohammad Natsir memang menjadi figur yang menonjol dari aktivitasnya “menutup mulut kaum intelek didikan barat.” Pena-pena tajamnya menjadi bukti betapa gigihnya Natsir membela kehormatan Islam. Majalah Pembela Islam yang dikelola Natsir di Bandung menjadi saksi pembelaan Natsir terhadap Islam. Mulai dari isu penistaan terhadap Islam, ketidakadilan pemerintah kolonial, hingga isu-isu kebangsaan. Semua disajikan Natsir dalam tulisan yang tajam tetapi tetap beradab. Tak mengumbar retorika dan amarah nista.

Buya Hamka, yang menjadi salah satu pembaca Pembela Islam, mengatakan, “Mulai saja majalah itu dibaca, timbullah dalam jiwa semangat yang terpendam yaitu semangat hendak turut berjuang dalam Islam. Artikel-artikel yang dimuat di dalamnya menggugah perasaan hati untuk bangun, bergerak, berjuang hidup dan mati dalam Islam.” (Hamka: 1978)

Semua tentu mengingat perdebatan Natsir dan Soekarno tentang agama dan negara yang aktual dan nikmat tersebut. Salah satu “monument” perdebatan antara Islam dan sekularisme. Tak mungkin kita mempelajari sejarah pemikiran di Indonesia tanpa merujuk pada perdebatan Natsir dengan Soekarno tersebut.

Dari perdebatan dan tulisan-tulisan Natsir lainnya kita dapat melacak jejak pemikiran Natsir. Seorang pemimpin haruslah figur yang dapat ditelusuri dan dikenali pemikiran dan gagasannya. Mudah bagi kita untuk mengetahui gagasan Natsir dari segudang tulisan-tulisannya. Tiga jilid Capita Selecta adalah contoh mudah menelusuri gagasan dan pemikirannya. Dari tulisannyalah kita dapat mengetahui bahwa Natsir adalah figur yang ideologis. Mengusung Islam sebagai pandangan hidup.

Dari sebaran tulisan-tulisannya pula kita dapat mengetahui Natsir adalah figur yang berwawasan luas. Tulisannya merentang dari persoalan dakwah (lihat Fiqhud Da’wah), politik, sejarah hingga budaya. Ketika membuka kembali perdebatan Natsir dengan Soekarno maka kita paham, bahwa Natsir pun menyelami bacaan-bacaan Soekarno. Ia (mampu) mengunyah bacaan dari lintas ideologi.

Dari tulisan-tulisannya Natsir dapat dikenal oleh khalayak yang lebih luas menembus batas geografis dan ideologi. Buya Hamka misalnya, meski dikenal sebagai aktivis dan mubaligh dari Sumatera Barat, namun mengenal Natsir pertama kali melalui tulisan-tulisannya di Majalah Pembela Islam.

“Artikel-artikel dari M. Natsir di dalam majalah Pembela Islam itu sangat menarik hati saya. Saya pun seorang pengarang. Tetapi saya mengakui bahwa karangan Natsir memberi saya bahan untuk hidup, sehingga saking tertariknya saya kepada tulisan-tulisannya itu, saya pun mencoba mengirim karangan kepada Pembela Islam,dan karangan saya disambut baik dan dimuat dalam Pembela Islam.” (1978)

Lewat surat-surat Soekarno selama masa tahanan kepada Tuan Hassan, kita dapat mengetahui bahwa Soekarno pun ‘mengenal’ dan memuji tulisan-tulisan Natsir meski secara pribadi belum pernah bertemu. Itu sebabnya Soekarno berhubungan baik dengan Natsir hingga mempercayainya saat Menteri Penerangan. Meski kemudian perbedaan politik tajam memisahkan mereka. Natsir memilih jalan memperjuangkan Islam sebagai Dasar Negara.

Presiden Sukarno dalam konvensi Masyumi bersama M. Natsir

Perjuangan Natsir untuk mengajukan Islam sebagai Dasar Negara adalah buah dari ideologinya. Ia maju memperjuangkan Islam sebagai Dasar Negara dalam Sidang Konstituante (1957-1959). Natsir konsisten memperjuangkan ideologinya baik kala ia menjadi aktivis maupun setelah ia menjabat berbagai jabatan tinggi di negeri ini. Natsir tidak menjadi pemimpin yang pragmatis apalagi oportunis. Tipikal pemimpin yang konsisten dengan ideologinya yang kita butuhkan. Bukan yang hidup dalam alam pragmatisme.

Dinamika dan intrik politik praktis tak membuat Natsir menjadi pragmatis. Ideologi justru membimbing Natsir menembus rintangan dan intrik dalam belantara politik kala itu. Sebab Natsir memang bukan tokoh karbitan atau yang dipaksakan terjun dalam politik. Ia telah memulainya jauh sejak menjadi Anggota KNIP, memimpin Masyumi, atau pun menjadi pejabat negara hingga Perdana Menteri. Pengalaman (ber)politik adalah satu kriteria yang dibutuhkan untuk menembus rimba politik yang penuh tipu daya.

Natsir juga tak tergoda kemewahan dunia yang dekat dengan kekuasaan. Kesederhanaan tentu yang diingat setiap orang yang pernah mengenalnya. Kesederhanaan Natsir bukanlah pencitraan. Tetapi buah dari keteladanan gurunya semacam Haji Agus Salim.

Kita tentu tidak hendak mencari duplikat dari Natsir di masa kini. Kita juga bukan ingin bernostalgia dan hidup dengan romantisme masa lalu. Yang kita perlu resap adalah pelajaran yang membentuk pribadi seorang pemimpin. Pemimpin yang ditempa oleh ulama, membersamai umat, menuliskan gagasan-gagasannya, konsisten dengan ideologi dan hidup dalam kesederhanaan. Sehingga kita dapat membentuknya di masa kini sebagai calon pemimpin umat Islam di masa depan.

Agar umat tak perlu (lagi) disodori pemimpin dadakan, karbitan dan tak lagi dijejali sekedar slogan memilih pemimpin dalam keadaan darurat. Memilih yang mudharatnya paling kecil. Disertai bunga-bunga pencitraan, ketergesaan dan pembenaran. Bisakah kita mulai melangkah jalan panjang tersebut? Di tangan para ulama dan umat yang bersatu kita dapat memulainya.

Ijtima Ulama II Akan Digelar Pekan Depan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Umum Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama, Yusuf Martak memastikan Ijtima GNPF Ulama II akan digelar pada awal pekan depan di Jakarta.

Insya Allah awal pekan depan. Ya di Jakarta, pagi sampai selesai sore, ya enggak perlu waktu lama-lama lah. Cukup satu hari saja,” katanya dilansir Republika.co.id, Jumat (10/8/2018).

Menurut dia, akan ada beberapa ulama yang hadir dalam forum ijtima tersebut tapi memang dia mengakui tidak akan sebanyak Ijtima GNPF Ulama yang pertama. Ia meyakini hubungan antara satu ulama dengan yang lain berlangsung baik dan kompak.

“Kami nanti juga bisa melakukan teleconference, dan bisa mendapatkan mandat dari beberapa yang tidak hadir, jadi tidak terlalu besar seperti Ijtima Ulama yang kemarin, tapi kalau hadir ya senang sekali kami,” ungkap dia.

Ijtima GNPF Ulama telah dilakukan pada 27-29 Juli lalu di Jakarta. Ijtima saat itu memutuskan mendukung Prabowo Subianti sebagai capres 2019. Selain itu, juga merekomendasikan dua nama sebagai cawapres pendamping Prabowo. Yaitu Salim Segaf Al-Jufri dan Ustaz Abdul Somad.

Dua nama tersebut diketahui berada dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk dipilih Prabowo. Abdul Somad menolak maju ke Pilpres karena lebih memilih fokus di dakwah. Sedangkan Salim Segaf, namanya tak muncul dalam pembahasan cawapres Prabowo lantaran tidak disepakati parpol koalisi.

GNPF Ulama pun kembali mengajukan usulan dua nama alternatif. Dua ini adalah Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym, dan Ustaz Arifin Ilham. Namun pada Kamis (9/8/2018) malam, Prabowo tidak memilih nama-nama yang diusulkan itu.

Prabowo pada malam itu resmi memilih Sandiaga Salahudin Uno sebagai cawapresnya, dengan dukungan PKS, PAN, dan tentunya Gerindra. Demokrat baru bergabung ke dalam koalisi pendukung Prabowo-Sandiaga pada Jumat (10/8/2018) ini.

Catatan UBN (3) : Bersabarlah dalam Perjuangan Politik dan Jangan Tergesa-gesa

Ustaz Bachtiar Nasir (UBN) dalam Mudzakarah Seribu Ulama mengingatkan bahwa kebangkitan umat Islam akan datang, dan boleh jadi bermula di Indonesia. Kuncinya adalah kesabaran. Kesabaran ulama dalam mendidik umat, kesabaran umat dalam perjuangan dan kesatuan langkah perjuangan.
Berikut catatan Ustaz Bachtiar Nasir dalam Mudzakarah Seribu Ulama di Tasikmalaya, Ahad (5/8/2018) yang Jurnalislam.com himpun. Selamat membaca:
Oleh: Ustaz Bachtiar Nasir
Membincang kebangkitan Islam, kita dapat melihat contoh paling real yaitu orang-orang yang bersabar dengan damainya di Gaza, ini sudah saya sampaikan dalam forum-forum dunia bahwa senjata terhebat yang dibutuhkan dunia saat ini adalah Assalam.
Dan tidak ada yang bisa menegakkan perdamaian kecuali mereka yang menegakkan Islam dengan Laailaha illallah muhammdarrasulullah.
Putin itu bukan komunis, Putin itu demokrat. Komunisme di Rusia tinggal 35%,  dan komunisme di Rusia tidak PD memunculkan pemimpinnya karena kekuatan sosial komunisme sudah runtuh.
Saya ingin katakan, tidak ada kekuatan sosial di dunia ini sekokoh kekuatan sosial Islam. Jika negara dibangun berdasarkan kompromi-kompromi antara kekuatan-kekuatan sosial yang mempunyai daya tekan, saat ini di dunia tidak ada kekuatan sosial yang lebih kuat dari Islam.
Silahkan ke Tiongkok, kekuatan sosialnya hanya ada di pemerintahan. Seandainya kita di Indonesia ini tidak mau terpancing oleh mereka yang bermental penjajah yang ingin mengadudomba kita, kita kemudian kita bisa lewati. Insya Allah sebelum seratus tahun kebangkitan Islam di muka bumi dan Indonesia sebagai asal muasal kebangkitan itu. Lihat para pemuda di Palestina, Israel menekan mereka untuk menghentikan para pemuda itu melakukan aksi damai.
Agama damai itu Islam, dan yang bisa menegakkan kedamaian di muka bumi itu hanya Islam. Karenanya, sabar, jangan tergesa, jangan terpancing oleh syahwat politik yang tergesa-gesa.

Bersabarlah, waktu kita masih cukup, semua bisa teratasi, dengarkan apa kata ulama, dan ulama harus jernih dan hanya bersandar kepada Allah.  Kita semua sudah mengatakan bahwa nyawa kami sudah untuk Islam.

Bersabarlah, jaga perdamaian. Saya katakan damai bukan berarti takut dan pengecut. Jangan sampai kita dimanfaatkan oleh kekuatan-kekuatan politik yang saat ini kita sedang diuji.

Insya Allah 2019 akan menjadi Nashrun Muqdaiyyun, walaupun  NashrunIhtiqoqi kita dapatkan setelah itu. Tapi terus terang, tidak semua orang bisa membaca. Mereka mengira sekarang ini sudah nashrun ihtiqoqi, kita ini masih di masa euforia, atas nama yang kemaren terus kemudian dikatakan kita kuat, kita hebat padahal belum terstruktur.

Sebagai penutup untuk mudzakarah nanti. Ada seorang tokoh pergerakan dunia datang kepada saya, dia berkata begini,

“Selamat untuk anda, karena rahmat Allah untuk kebangkitan Islam diturunkan dari Indonesia. Tapi ini disilent dari kalian kalau kalian tidak pandai menjaganya. Kami berbenturan langsung setiap hari dengan mereka, dan kamu sebagai sebuah bangsa baru diberikan kekautan itu oleh Allah.”

Ada 3 pertanyaan untuk dijawab di Mudzakarah nanti, 1. Kaifa Tarbiyah, 2. Wa Kaifal qiyadha, tsumma kaiful idarah?

Memangnya yang datang ke 212 itu hasil tarbiyah kita semua? Kalau mereka mengaku-ngaku bahwa 212 adalah saya, suruh dia bikin 212 sekali lagi, bisa gak mendatangkan massa sebanyak itu? Tidak ada yang bisa mengklaim.

Yang harus kita lakukan adalah bagaimana memperbaiki tarbiyah kita secara benar. Kita bisa mencari contoh-contoh tarbiyah yang hebat di muka bumi ini.

Yang kedua, Kaifal qiyadah?Apa mau gini terus? Siapa nih presiden kita? Ada ngga duitnya? Seakan-akan belum pernah ada pemilu. Ini karena belum rapih.

Terakhir, bagaimana manajemen (idarah)? Kita nggak bisa grasak-grusuk, nggak bisa hanya pasang-pasang badan, masing-masing ingin jadi pemimpin.

Semoga ini menjadi pelajaran dan saya masih optimis, Insya Allah kebangkitan di dunia sebentar lagi dan bermula dari Indonesia.

Resmi Ditutup, Mudzakarah Seribu Ulama Hasilkan “Manifesto Ulama dan Umat”

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Mudzakarah Seribu Ulama yang digelar di Gedung Aisyah Kota Tasikmalaya resmi ditutup pada Ahad (5/8/2018) sekira pukul 23.00 WIB. Pertemuan yang dihadiri sejumlah ulama dan tokoh nasional itu menghasilkan tiga keputusan yang diberi judul Manifesto Ulama dan Umat. Berikut ini isinya,
Pertama, menetapkan Resolusi Konstitusional Pemerintah RI untuk kembali kepada Undang-undang Dasar (UUD) 1945 sesyau dengan penetapan Keppres Nomor 150 tahun 1959, LNRI Tahun 1959 Nomor 75, Dekret Presiden Soekarno 5 Juli 1959.
Kedua, Mengundangkan Syariat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara bagi umat Islam bangsa Indonesia, serta.
Ketiga, Mudzakarah Seribu Ulama di Tasikmalaya mengunkuhkan keputusan Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional di Jakarta tentang pencalonan presiden dan wakil presiden 2019. Namun jika terjadi deadlock politik, maka harus ada calon alternatif yang sesuai dengan Syariat Islam secara utuh.
Tiga poin tersebut dibacakan oleh Kaatib ‘Am Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA) Majelis Mujahidin, Drs. H. Nashruddin Salim di hadapan peserta Mudzakarah Seribu Ulama.

Catatan UBN (2): Diksi Penjajah terhadap Perjuangan Umat Kembali Terulang

Ustaz Bachtiar Nasir (UBN) dalam Mudzakarah Seribu Ulama mengingatkan bahwa kebangkitan umat Islam akan datang, dan boleh jadi bermula di Indonesia. Kuncinya adalah kesabaran. Kesabaran ulama dalam mendidik umat, kesabaran umat dalam perjuangan dan kesatuan langkah perjuangan.
Berikut catatan Ustaz Bachtiar Nasir dalam Mudzakarah Seribu Ulama di Tasikmalaya, Ahad (5/8/2018) yang Jurnalislam.com himpun. Selamat membaca:
Oleh: Ustaz Bachtiar Nasir
Islam Din Assalam. Islam adalah agama yang menyebarkan kesejahteraan dan perdamaian, dan itu akan terjadi ketika sama-sama kita memulai kebangkitan Islam di Indonesia dari berbagai sisinya dengan mengatkaan Lailaha ilallah wahdahu laa syarikalah lahul mulk walahul hamd.
Para ulama di mudzakarah nanti, kita bertanggungjawab kepada Allah SWT, jauhkan kepentingan-kepentingan sektoral organisasi, redam dan kubur sedalam-dalamnya syahwat politik dan ekonomi.
Sebagai ulama kita punya kewajiban untuk secara gradual membangun umat ini. Pesan saya tidak ada yang paling hebat untuk membangkitkan kekuatan umat kecuali dengan kalimat dakwah ilallah, kalimat dakwah ini adalah kalimatut tauhid.
Ustadz Bachtiar Nasir menyampaikan pandangannya dalam Mudzakarah Seribu Ulama di Tasikmalaya, Ahad (5/8/2018)
Ini yang akan mempersatukan kita selama kita bersabar, dan insya Allah apa yang diharapakan oleh para ulama tadi, presiden kita muslim sejati, kapolri kita muslim sejati.
Sekarang saya menangkap di Indonesia diksi-diksi penjajah karena merekat takut kalau Islam yang kita bawa ini damai, mereka takut kalau kita bersatu. Mereka takut itu.
Dulu sama penjajah Belanda, masyarakat muslim yang dituduh ekstrimis, inlander, istilah itu juga sekarang sedang digunakan.
Ada yang tidak normal di negeri ini, orang-orang yang mengaku dirinya muslimhanya karena sudah haji dan umrah, sudah shalat dan sudah puasa tapi memang tampuk kekuasaan, tanpa disadari ternyata keislamannya sedang dirasuki pola pikir penjajah.
Dengan istilah islam sebagai teroris, fundamentalis, radikalis, ini sebetulnya diksi-diksi jahiliyah, diksi-diksi penjajah. Tapi Insya Allah ke depan saya melihat dengan mempelajari Suriah, Irak, Afghanistan, harapan besar itu ada di Indonesia Insya Allah.
Dan saya yakin penduduk dunia saat ini sudah muak dengan tontonan kekerasan yang dilakukan oleh nonmuslim itu. Bahkan masyarakat di negara mereka sendiri sudah muak dengan pemimpinnya yang mempertontonkan senjata dan nuklir-nuklir mereka.
Apa yang sebetulnya dibutuhkan penduduk dunia saat ini adalah kedamaian. Dan ketahuilah tidak ada kelompok sosial, tidak ada kekuatan militer yang lebih kuat untuk menegakkan perdamaian selain Islam. Bersambung

Catatan UBN (1) : Bersiap Menyambut Kebangkitan Islam di Indonesia

Ustaz Bachtiar Nasir (UBN) dalam Mudzakarah Seribu Ulama mengingatkan bahwa kebangkitan umat Islam akan datang, dan boleh jadi bermula di Indonesia. Kuncinya adalah kesabaran. Kesabaran ulama dalam mendidik umat, kesabaran umat dalam perjuangan dan kesatuan langkah perjuangan.
Berikut catatan Ustaz Bachtiar Nasir dalam Mudzakarah Seribu Ulama di Tasikmalaya, Ahad (5/8/2018) yang Jurnalislam.com himpun. Selamat membaca:
SEJAK runtuhnya khilafah Islamiyah 1924 dan Indonesia merdeka tahun 1945, mudah-mudahan paling lama Insya Allah seratus tahun setelah Indonesia merdeka pada tahun 2045, Islam akan tegak di muka bumi dan Indonesia akan menjadi basis terkuatnya Indonesia Insya Allah.
Saya akan memberikan beberapa indikatornya.Dalam  beberapa konferensi internasional ternyata mata para pejuang-pejuang Islam dunia tertuju pada Indonesia dan mereka sangat berharap kebangkitan Islam itu datang dari Indonesia.
Turki sudah melakukan revolusi secara gradual lebih kurang selama 20 tahun. Secara ekonomi dan politik, Turki memang diantara negeri-negeri muslim, dimana pemimpinnya berani mengatakan Israel lah teroris yang sesungguhnya.
Tapi koreksinya adalah, menurut mantan menteri agamanya saat ini Turki memang sudah maju dari sisi keislaman tetapi baru dari bidang politik, ketika masyarakat terlalu bergegas ke depan, tapi Turki belum maju dari sisi pemikiran dan ruh Islam. Ini terjadi ketika politik yang diletakkan di depan.
Ustadz Bachtiar Nasir menyampaikan pandangannya dalam Mudzakarah Seribu Ulama di Tasikmalaya, Ahad (5/8/2018)

Berbeda halnya dengan Indonesia. Ini potensi yang harus dilihat secara jernih oleh para ulama. Indonesia memiliki kelebihan khusus bahkan melebihi Malaysia dan turki yang sifat kebangkitan Islam nya top – down, tetapi kebagkitan Islam di Indonesia itu bottom up, bermula dari rakyatnya, bermula dari umatnya.

Dan jika dari sini, kita memulai Insya Allah tidak akanada yang bisa menghentikan kebangkitan Islam di Indonesia. Kesalahan di Indonesia, terutama dalam memilih pemimpin di Indonesia yang selalu menjadikan indikator ekonomi untuk terpilihnya seorang pemimpin.

Ya katakanlah pilpres nanti dengan semua hasil ijtima dan dzikir kita. Ujungnya, para pemegang palang pintu partai hanya akan menanyakan dua hal; popularitasnya dan isi tasnya.

Tapi ada yang lebih penting yang harus kita pikirkan, ketika memaksakan diri apakah betul-betul kita sudah mempersiapkan calon pemimpin Indonesia yang sekarang hutang (plus bunga) nya sudah 5000 trilyun dan pada pilpres nanti kira-kira jumlahnya sudah mencapai 6.000 tirlyun. Kira-kira ulama siapa yang dapat menyelesaikan masalah seperti ini?

Saya ingin katakan bahwa, proses yang harus dilakukan secara rasional dan penuh kesabaran tidak grasak-grusuk. Saya ambil contoh negara-negara Kaukasus dan Balkan, secara ekonomi maju. 95% penduduknya muslim, tapi jangan berharap ada jilbab berkeliaran digunakan oleh masyarakat. Sebab hanya indikator ekonomi yang digunakan oleh masyarakat negara itu untuk mengukur kemajuan bangsa atas nama agama.

Negara itu adalah negara yang para pemimpinnya sudah tersekulerkan. Yang menjadikan indikator ekonomi sebagai indikator utama yang agama bagi mereka sudah dicabut dari akar-akanya sejak zaman Uni Soviet.

95% muslimnya, tetapi kalau ada anak yang berpuasa, orangtuanya yang akan pertama kali melarangnya.“Sudahlah jangan yang ekstrim-esktrim begitu, beragama yang biasa-biasa saja, yang penting ekonomi tercukupi,” demikian kira-kira mindset masyarakat mereka.

Kemajuan dengan indikator memaksakan pemimpin politik dan memaksakan pemimpin ekonomi, percayalah yang seperti ini pada akhirnya bukanlah perdamaian.

Islam Din Assalam, Islam adalah agama yang menyebarkan kesejahteraan dan perdamaian, dan itu akan terjadi ketika sama-sama kita memulai kebangkitan Islam di Indonesia dari berbagai sisinya dengan mengatkaan Lailaha ilallah wahdahu laa syarikalah lahul mulk walahul hamd. Bersambung

Ratusan Massa Ikuti “Longmarch Dunia Islam Berduka” di Bandung

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Aliansi Masyarakat Selamatkan Aksi Al Aqsha (AMSA) menggelar aksi berjalan kaki (longmarch) solidaritas untuk Palestina di Bandung, Jumat (3/8/2018). Aksi bertajuk “Longmarch Dunia Islam Berduka” itu dilakukan sebagai respon atas perlakuan semena-mena tentara Israel yang mengusir jamaah shalat jumat di Masjid Al Aqsha pada pekan lalu.
Aksi dimulai setelah shalat jumat sekira pukul 13.00 WIB dengan berjalan kaki dari depan Masjid Pusdai kemudian berorasi di depan Gedung Sate Bandung .

Massa lalu melajutkan longmarch ke Bandung Indah Plaza (BIP) dan berakhir di Masjid Al-Ukhuwah, di Jalan Wastu Kencana, No 27, Bandung.
“Kami melihat perbuatan tentara zionis Israel ini sudah melewati batas. Bukan hanya sekedar menghambat masyarakat muslim Palestina untuk beribadah di Masjid Al Aqsha, tapi kini berani membubarkan ibadah shalat Jumat di sana,” tegas Ketua Aliansi Masyarakat Selamatkan Al Aqsha (AMSA), Edi Haryanto.
Dalam aksinya, massa membawa beragam atribut seperti bendera, poster berisi protes seperti “Zionis Go to hell” dan poster dukungan kepada korban bencana gempa di lombok yang berbunyi “Kami Bersama Al Aqsha dan Korban Gempa Lombok”.
“Aksi longmarch diikuti oleh 40 lembaga dan organisasi kemasyarakatan di Jawa Barat,” kata Ketua AMSA Edi Haryanto.
Lembaga dan ormas tersebut antara lain Aqsha Institute, Yayasan Untuk Palestina MT Aria Jipang, Harapan Amal Mulia, MT Rinduku Baitullah (RBT), For Humanity, Mujahadah Community, Kasih Palestina, MT Rumahku Surgaku, Al Iman.
Selain itu, Pejuang Shubuh, Life for Ummah, Inisiatif Zakat, Rumah Zakat, One day One Juz, XTC Indonesia, Brigez Indonesia, KAMMI, Bandung Fighting Club, Nurul Hayat, dan Ash Shuffah.
Selain menyuarakan aspirasi, AMSA juga menggalang dana untuk disalurkan kepada para penjaga Masjid Al Aqsha dan korban bencana gempa di Lombok, NTB.

Reporter: Kiki Firmansyah

Kemenkes Tidak Memaksa Masyarakat yang Menolak Divaksin Rubella

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Menteri Kesehatan, Nila Farid Moeloek akhirnya menerima status kehalalan vaksin Rubella setelah rapat dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada Jumat (3/8/2018).
Setelah setahun bersikeras untuk menyukseskan vaksinasi 70 juta anak dengan vaksin rubella. Belajar dari fase pertama pemberian vaksin rubella yang sukses di Jawa Barat, Nila berkeinginan untuk menyukseskan fase kedua di luar Jawa.
Sayangnya, mereka yang di luar Jawa masih mempertanyakan kehalalan vaksin. Sehingga membuat MUI memanggil Menkes dan Biofarma. Hasilnya, Nila tidak memaksakan masyarakat yang tidak ingin memvaksin anaknya.
“Saya tidak memaksakan bagi yang menganggap bahwa vaksin rubella belum halal,” katanya di Kantor MUI, Menteng, Jakpus, Jumat (3/8/2018).
Namun, lanjutnya, pihaknya akan berusaha meminta Serum Institute of India untuk memberikan kandungan vaksin rubella tersebut.
“Fase kedua akan segera dimulai. Kami dan Biofarma akan segera mengatasi masalah tersebut,” pungkas Nila.

Rubella adalah penyakit akut dan ringan yang sering menginfeksi anak dan dewasa muda yang rentan. Namun yang menjadi perhatian dalam kesehatan masyarakat adalah efek kepada janin apabila rubella menyerang pada wanita hamil trimester pertama.

Data surveilans selama lima tahun terakhir menunjukkan 70 persen kasus rubella terjadi pada kelompok usia di bawah 15 tahun.

Infeksi rubella selama awal kehamilan dapat menyebabkan keguguran, kematian janin, atau sindrom rubella konegnital (Congenital Rubella Syndroma/CRS) pada bayi yang dilahirkan. CRS biasanya bermanifestasi sebagai penyakit jantung bawaan, katarak, microcephaly (kepala kecil), dan tuli.

Reporter: Gio