Catatan UBN (2): Diksi Penjajah terhadap Perjuangan Umat Kembali Terulang

Ustaz Bachtiar Nasir (UBN) dalam Mudzakarah Seribu Ulama mengingatkan bahwa kebangkitan umat Islam akan datang, dan boleh jadi bermula di Indonesia. Kuncinya adalah kesabaran. Kesabaran ulama dalam mendidik umat, kesabaran umat dalam perjuangan dan kesatuan langkah perjuangan.
Berikut catatan Ustaz Bachtiar Nasir dalam Mudzakarah Seribu Ulama di Tasikmalaya, Ahad (5/8/2018) yang Jurnalislam.com himpun. Selamat membaca:
Oleh: Ustaz Bachtiar Nasir
Islam Din Assalam. Islam adalah agama yang menyebarkan kesejahteraan dan perdamaian, dan itu akan terjadi ketika sama-sama kita memulai kebangkitan Islam di Indonesia dari berbagai sisinya dengan mengatkaan Lailaha ilallah wahdahu laa syarikalah lahul mulk walahul hamd.
Para ulama di mudzakarah nanti, kita bertanggungjawab kepada Allah SWT, jauhkan kepentingan-kepentingan sektoral organisasi, redam dan kubur sedalam-dalamnya syahwat politik dan ekonomi.
Sebagai ulama kita punya kewajiban untuk secara gradual membangun umat ini. Pesan saya tidak ada yang paling hebat untuk membangkitkan kekuatan umat kecuali dengan kalimat dakwah ilallah, kalimat dakwah ini adalah kalimatut tauhid.
Ustadz Bachtiar Nasir menyampaikan pandangannya dalam Mudzakarah Seribu Ulama di Tasikmalaya, Ahad (5/8/2018)
Ini yang akan mempersatukan kita selama kita bersabar, dan insya Allah apa yang diharapakan oleh para ulama tadi, presiden kita muslim sejati, kapolri kita muslim sejati.
Sekarang saya menangkap di Indonesia diksi-diksi penjajah karena merekat takut kalau Islam yang kita bawa ini damai, mereka takut kalau kita bersatu. Mereka takut itu.
Dulu sama penjajah Belanda, masyarakat muslim yang dituduh ekstrimis, inlander, istilah itu juga sekarang sedang digunakan.
Ada yang tidak normal di negeri ini, orang-orang yang mengaku dirinya muslimhanya karena sudah haji dan umrah, sudah shalat dan sudah puasa tapi memang tampuk kekuasaan, tanpa disadari ternyata keislamannya sedang dirasuki pola pikir penjajah.
Dengan istilah islam sebagai teroris, fundamentalis, radikalis, ini sebetulnya diksi-diksi jahiliyah, diksi-diksi penjajah. Tapi Insya Allah ke depan saya melihat dengan mempelajari Suriah, Irak, Afghanistan, harapan besar itu ada di Indonesia Insya Allah.
Dan saya yakin penduduk dunia saat ini sudah muak dengan tontonan kekerasan yang dilakukan oleh nonmuslim itu. Bahkan masyarakat di negara mereka sendiri sudah muak dengan pemimpinnya yang mempertontonkan senjata dan nuklir-nuklir mereka.
Apa yang sebetulnya dibutuhkan penduduk dunia saat ini adalah kedamaian. Dan ketahuilah tidak ada kelompok sosial, tidak ada kekuatan militer yang lebih kuat untuk menegakkan perdamaian selain Islam. Bersambung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.