Catatan UBN (1) : Bersiap Menyambut Kebangkitan Islam di Indonesia

Ustaz Bachtiar Nasir (UBN) dalam Mudzakarah Seribu Ulama mengingatkan bahwa kebangkitan umat Islam akan datang, dan boleh jadi bermula di Indonesia. Kuncinya adalah kesabaran. Kesabaran ulama dalam mendidik umat, kesabaran umat dalam perjuangan dan kesatuan langkah perjuangan.
Berikut catatan Ustaz Bachtiar Nasir dalam Mudzakarah Seribu Ulama di Tasikmalaya, Ahad (5/8/2018) yang Jurnalislam.com himpun. Selamat membaca:
SEJAK runtuhnya khilafah Islamiyah 1924 dan Indonesia merdeka tahun 1945, mudah-mudahan paling lama Insya Allah seratus tahun setelah Indonesia merdeka pada tahun 2045, Islam akan tegak di muka bumi dan Indonesia akan menjadi basis terkuatnya Indonesia Insya Allah.
Saya akan memberikan beberapa indikatornya.Dalam  beberapa konferensi internasional ternyata mata para pejuang-pejuang Islam dunia tertuju pada Indonesia dan mereka sangat berharap kebangkitan Islam itu datang dari Indonesia.
Turki sudah melakukan revolusi secara gradual lebih kurang selama 20 tahun. Secara ekonomi dan politik, Turki memang diantara negeri-negeri muslim, dimana pemimpinnya berani mengatakan Israel lah teroris yang sesungguhnya.
Tapi koreksinya adalah, menurut mantan menteri agamanya saat ini Turki memang sudah maju dari sisi keislaman tetapi baru dari bidang politik, ketika masyarakat terlalu bergegas ke depan, tapi Turki belum maju dari sisi pemikiran dan ruh Islam. Ini terjadi ketika politik yang diletakkan di depan.
Ustadz Bachtiar Nasir menyampaikan pandangannya dalam Mudzakarah Seribu Ulama di Tasikmalaya, Ahad (5/8/2018)

Berbeda halnya dengan Indonesia. Ini potensi yang harus dilihat secara jernih oleh para ulama. Indonesia memiliki kelebihan khusus bahkan melebihi Malaysia dan turki yang sifat kebangkitan Islam nya top – down, tetapi kebagkitan Islam di Indonesia itu bottom up, bermula dari rakyatnya, bermula dari umatnya.

Dan jika dari sini, kita memulai Insya Allah tidak akanada yang bisa menghentikan kebangkitan Islam di Indonesia. Kesalahan di Indonesia, terutama dalam memilih pemimpin di Indonesia yang selalu menjadikan indikator ekonomi untuk terpilihnya seorang pemimpin.

Ya katakanlah pilpres nanti dengan semua hasil ijtima dan dzikir kita. Ujungnya, para pemegang palang pintu partai hanya akan menanyakan dua hal; popularitasnya dan isi tasnya.

Tapi ada yang lebih penting yang harus kita pikirkan, ketika memaksakan diri apakah betul-betul kita sudah mempersiapkan calon pemimpin Indonesia yang sekarang hutang (plus bunga) nya sudah 5000 trilyun dan pada pilpres nanti kira-kira jumlahnya sudah mencapai 6.000 tirlyun. Kira-kira ulama siapa yang dapat menyelesaikan masalah seperti ini?

Saya ingin katakan bahwa, proses yang harus dilakukan secara rasional dan penuh kesabaran tidak grasak-grusuk. Saya ambil contoh negara-negara Kaukasus dan Balkan, secara ekonomi maju. 95% penduduknya muslim, tapi jangan berharap ada jilbab berkeliaran digunakan oleh masyarakat. Sebab hanya indikator ekonomi yang digunakan oleh masyarakat negara itu untuk mengukur kemajuan bangsa atas nama agama.

Negara itu adalah negara yang para pemimpinnya sudah tersekulerkan. Yang menjadikan indikator ekonomi sebagai indikator utama yang agama bagi mereka sudah dicabut dari akar-akanya sejak zaman Uni Soviet.

95% muslimnya, tetapi kalau ada anak yang berpuasa, orangtuanya yang akan pertama kali melarangnya.“Sudahlah jangan yang ekstrim-esktrim begitu, beragama yang biasa-biasa saja, yang penting ekonomi tercukupi,” demikian kira-kira mindset masyarakat mereka.

Kemajuan dengan indikator memaksakan pemimpin politik dan memaksakan pemimpin ekonomi, percayalah yang seperti ini pada akhirnya bukanlah perdamaian.

Islam Din Assalam, Islam adalah agama yang menyebarkan kesejahteraan dan perdamaian, dan itu akan terjadi ketika sama-sama kita memulai kebangkitan Islam di Indonesia dari berbagai sisinya dengan mengatkaan Lailaha ilallah wahdahu laa syarikalah lahul mulk walahul hamd. Bersambung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.