Kemenkes Tidak Memaksa Masyarakat yang Menolak Divaksin Rubella

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Menteri Kesehatan, Nila Farid Moeloek akhirnya menerima status kehalalan vaksin Rubella setelah rapat dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada Jumat (3/8/2018).
Setelah setahun bersikeras untuk menyukseskan vaksinasi 70 juta anak dengan vaksin rubella. Belajar dari fase pertama pemberian vaksin rubella yang sukses di Jawa Barat, Nila berkeinginan untuk menyukseskan fase kedua di luar Jawa.
Sayangnya, mereka yang di luar Jawa masih mempertanyakan kehalalan vaksin. Sehingga membuat MUI memanggil Menkes dan Biofarma. Hasilnya, Nila tidak memaksakan masyarakat yang tidak ingin memvaksin anaknya.
“Saya tidak memaksakan bagi yang menganggap bahwa vaksin rubella belum halal,” katanya di Kantor MUI, Menteng, Jakpus, Jumat (3/8/2018).
Namun, lanjutnya, pihaknya akan berusaha meminta Serum Institute of India untuk memberikan kandungan vaksin rubella tersebut.
“Fase kedua akan segera dimulai. Kami dan Biofarma akan segera mengatasi masalah tersebut,” pungkas Nila.

Rubella adalah penyakit akut dan ringan yang sering menginfeksi anak dan dewasa muda yang rentan. Namun yang menjadi perhatian dalam kesehatan masyarakat adalah efek kepada janin apabila rubella menyerang pada wanita hamil trimester pertama.

Data surveilans selama lima tahun terakhir menunjukkan 70 persen kasus rubella terjadi pada kelompok usia di bawah 15 tahun.

Infeksi rubella selama awal kehamilan dapat menyebabkan keguguran, kematian janin, atau sindrom rubella konegnital (Congenital Rubella Syndroma/CRS) pada bayi yang dilahirkan. CRS biasanya bermanifestasi sebagai penyakit jantung bawaan, katarak, microcephaly (kepala kecil), dan tuli.

Reporter: Gio