Ijtima Ulama II Akan Digelar Pekan Depan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Umum Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama, Yusuf Martak memastikan Ijtima GNPF Ulama II akan digelar pada awal pekan depan di Jakarta.

Insya Allah awal pekan depan. Ya di Jakarta, pagi sampai selesai sore, ya enggak perlu waktu lama-lama lah. Cukup satu hari saja,” katanya dilansir Republika.co.id, Jumat (10/8/2018).

Menurut dia, akan ada beberapa ulama yang hadir dalam forum ijtima tersebut tapi memang dia mengakui tidak akan sebanyak Ijtima GNPF Ulama yang pertama. Ia meyakini hubungan antara satu ulama dengan yang lain berlangsung baik dan kompak.

“Kami nanti juga bisa melakukan teleconference, dan bisa mendapatkan mandat dari beberapa yang tidak hadir, jadi tidak terlalu besar seperti Ijtima Ulama yang kemarin, tapi kalau hadir ya senang sekali kami,” ungkap dia.

Ijtima GNPF Ulama telah dilakukan pada 27-29 Juli lalu di Jakarta. Ijtima saat itu memutuskan mendukung Prabowo Subianti sebagai capres 2019. Selain itu, juga merekomendasikan dua nama sebagai cawapres pendamping Prabowo. Yaitu Salim Segaf Al-Jufri dan Ustaz Abdul Somad.

Dua nama tersebut diketahui berada dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk dipilih Prabowo. Abdul Somad menolak maju ke Pilpres karena lebih memilih fokus di dakwah. Sedangkan Salim Segaf, namanya tak muncul dalam pembahasan cawapres Prabowo lantaran tidak disepakati parpol koalisi.

GNPF Ulama pun kembali mengajukan usulan dua nama alternatif. Dua ini adalah Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym, dan Ustaz Arifin Ilham. Namun pada Kamis (9/8/2018) malam, Prabowo tidak memilih nama-nama yang diusulkan itu.

Prabowo pada malam itu resmi memilih Sandiaga Salahudin Uno sebagai cawapresnya, dengan dukungan PKS, PAN, dan tentunya Gerindra. Demokrat baru bergabung ke dalam koalisi pendukung Prabowo-Sandiaga pada Jumat (10/8/2018) ini.

Catatan UBN (3) : Bersabarlah dalam Perjuangan Politik dan Jangan Tergesa-gesa

Ustaz Bachtiar Nasir (UBN) dalam Mudzakarah Seribu Ulama mengingatkan bahwa kebangkitan umat Islam akan datang, dan boleh jadi bermula di Indonesia. Kuncinya adalah kesabaran. Kesabaran ulama dalam mendidik umat, kesabaran umat dalam perjuangan dan kesatuan langkah perjuangan.
Berikut catatan Ustaz Bachtiar Nasir dalam Mudzakarah Seribu Ulama di Tasikmalaya, Ahad (5/8/2018) yang Jurnalislam.com himpun. Selamat membaca:
Oleh: Ustaz Bachtiar Nasir
Membincang kebangkitan Islam, kita dapat melihat contoh paling real yaitu orang-orang yang bersabar dengan damainya di Gaza, ini sudah saya sampaikan dalam forum-forum dunia bahwa senjata terhebat yang dibutuhkan dunia saat ini adalah Assalam.
Dan tidak ada yang bisa menegakkan perdamaian kecuali mereka yang menegakkan Islam dengan Laailaha illallah muhammdarrasulullah.
Putin itu bukan komunis, Putin itu demokrat. Komunisme di Rusia tinggal 35%,  dan komunisme di Rusia tidak PD memunculkan pemimpinnya karena kekuatan sosial komunisme sudah runtuh.
Saya ingin katakan, tidak ada kekuatan sosial di dunia ini sekokoh kekuatan sosial Islam. Jika negara dibangun berdasarkan kompromi-kompromi antara kekuatan-kekuatan sosial yang mempunyai daya tekan, saat ini di dunia tidak ada kekuatan sosial yang lebih kuat dari Islam.
Silahkan ke Tiongkok, kekuatan sosialnya hanya ada di pemerintahan. Seandainya kita di Indonesia ini tidak mau terpancing oleh mereka yang bermental penjajah yang ingin mengadudomba kita, kita kemudian kita bisa lewati. Insya Allah sebelum seratus tahun kebangkitan Islam di muka bumi dan Indonesia sebagai asal muasal kebangkitan itu. Lihat para pemuda di Palestina, Israel menekan mereka untuk menghentikan para pemuda itu melakukan aksi damai.
Agama damai itu Islam, dan yang bisa menegakkan kedamaian di muka bumi itu hanya Islam. Karenanya, sabar, jangan tergesa, jangan terpancing oleh syahwat politik yang tergesa-gesa.

Bersabarlah, waktu kita masih cukup, semua bisa teratasi, dengarkan apa kata ulama, dan ulama harus jernih dan hanya bersandar kepada Allah.  Kita semua sudah mengatakan bahwa nyawa kami sudah untuk Islam.

Bersabarlah, jaga perdamaian. Saya katakan damai bukan berarti takut dan pengecut. Jangan sampai kita dimanfaatkan oleh kekuatan-kekuatan politik yang saat ini kita sedang diuji.

Insya Allah 2019 akan menjadi Nashrun Muqdaiyyun, walaupun  NashrunIhtiqoqi kita dapatkan setelah itu. Tapi terus terang, tidak semua orang bisa membaca. Mereka mengira sekarang ini sudah nashrun ihtiqoqi, kita ini masih di masa euforia, atas nama yang kemaren terus kemudian dikatakan kita kuat, kita hebat padahal belum terstruktur.

Sebagai penutup untuk mudzakarah nanti. Ada seorang tokoh pergerakan dunia datang kepada saya, dia berkata begini,

“Selamat untuk anda, karena rahmat Allah untuk kebangkitan Islam diturunkan dari Indonesia. Tapi ini disilent dari kalian kalau kalian tidak pandai menjaganya. Kami berbenturan langsung setiap hari dengan mereka, dan kamu sebagai sebuah bangsa baru diberikan kekautan itu oleh Allah.”

Ada 3 pertanyaan untuk dijawab di Mudzakarah nanti, 1. Kaifa Tarbiyah, 2. Wa Kaifal qiyadha, tsumma kaiful idarah?

Memangnya yang datang ke 212 itu hasil tarbiyah kita semua? Kalau mereka mengaku-ngaku bahwa 212 adalah saya, suruh dia bikin 212 sekali lagi, bisa gak mendatangkan massa sebanyak itu? Tidak ada yang bisa mengklaim.

Yang harus kita lakukan adalah bagaimana memperbaiki tarbiyah kita secara benar. Kita bisa mencari contoh-contoh tarbiyah yang hebat di muka bumi ini.

Yang kedua, Kaifal qiyadah?Apa mau gini terus? Siapa nih presiden kita? Ada ngga duitnya? Seakan-akan belum pernah ada pemilu. Ini karena belum rapih.

Terakhir, bagaimana manajemen (idarah)? Kita nggak bisa grasak-grusuk, nggak bisa hanya pasang-pasang badan, masing-masing ingin jadi pemimpin.

Semoga ini menjadi pelajaran dan saya masih optimis, Insya Allah kebangkitan di dunia sebentar lagi dan bermula dari Indonesia.

Resmi Ditutup, Mudzakarah Seribu Ulama Hasilkan “Manifesto Ulama dan Umat”

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Mudzakarah Seribu Ulama yang digelar di Gedung Aisyah Kota Tasikmalaya resmi ditutup pada Ahad (5/8/2018) sekira pukul 23.00 WIB. Pertemuan yang dihadiri sejumlah ulama dan tokoh nasional itu menghasilkan tiga keputusan yang diberi judul Manifesto Ulama dan Umat. Berikut ini isinya,
Pertama, menetapkan Resolusi Konstitusional Pemerintah RI untuk kembali kepada Undang-undang Dasar (UUD) 1945 sesyau dengan penetapan Keppres Nomor 150 tahun 1959, LNRI Tahun 1959 Nomor 75, Dekret Presiden Soekarno 5 Juli 1959.
Kedua, Mengundangkan Syariat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara bagi umat Islam bangsa Indonesia, serta.
Ketiga, Mudzakarah Seribu Ulama di Tasikmalaya mengunkuhkan keputusan Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional di Jakarta tentang pencalonan presiden dan wakil presiden 2019. Namun jika terjadi deadlock politik, maka harus ada calon alternatif yang sesuai dengan Syariat Islam secara utuh.
Tiga poin tersebut dibacakan oleh Kaatib ‘Am Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA) Majelis Mujahidin, Drs. H. Nashruddin Salim di hadapan peserta Mudzakarah Seribu Ulama.

Catatan UBN (2): Diksi Penjajah terhadap Perjuangan Umat Kembali Terulang

Ustaz Bachtiar Nasir (UBN) dalam Mudzakarah Seribu Ulama mengingatkan bahwa kebangkitan umat Islam akan datang, dan boleh jadi bermula di Indonesia. Kuncinya adalah kesabaran. Kesabaran ulama dalam mendidik umat, kesabaran umat dalam perjuangan dan kesatuan langkah perjuangan.
Berikut catatan Ustaz Bachtiar Nasir dalam Mudzakarah Seribu Ulama di Tasikmalaya, Ahad (5/8/2018) yang Jurnalislam.com himpun. Selamat membaca:
Oleh: Ustaz Bachtiar Nasir
Islam Din Assalam. Islam adalah agama yang menyebarkan kesejahteraan dan perdamaian, dan itu akan terjadi ketika sama-sama kita memulai kebangkitan Islam di Indonesia dari berbagai sisinya dengan mengatkaan Lailaha ilallah wahdahu laa syarikalah lahul mulk walahul hamd.
Para ulama di mudzakarah nanti, kita bertanggungjawab kepada Allah SWT, jauhkan kepentingan-kepentingan sektoral organisasi, redam dan kubur sedalam-dalamnya syahwat politik dan ekonomi.
Sebagai ulama kita punya kewajiban untuk secara gradual membangun umat ini. Pesan saya tidak ada yang paling hebat untuk membangkitkan kekuatan umat kecuali dengan kalimat dakwah ilallah, kalimat dakwah ini adalah kalimatut tauhid.
Ustadz Bachtiar Nasir menyampaikan pandangannya dalam Mudzakarah Seribu Ulama di Tasikmalaya, Ahad (5/8/2018)
Ini yang akan mempersatukan kita selama kita bersabar, dan insya Allah apa yang diharapakan oleh para ulama tadi, presiden kita muslim sejati, kapolri kita muslim sejati.
Sekarang saya menangkap di Indonesia diksi-diksi penjajah karena merekat takut kalau Islam yang kita bawa ini damai, mereka takut kalau kita bersatu. Mereka takut itu.
Dulu sama penjajah Belanda, masyarakat muslim yang dituduh ekstrimis, inlander, istilah itu juga sekarang sedang digunakan.
Ada yang tidak normal di negeri ini, orang-orang yang mengaku dirinya muslimhanya karena sudah haji dan umrah, sudah shalat dan sudah puasa tapi memang tampuk kekuasaan, tanpa disadari ternyata keislamannya sedang dirasuki pola pikir penjajah.
Dengan istilah islam sebagai teroris, fundamentalis, radikalis, ini sebetulnya diksi-diksi jahiliyah, diksi-diksi penjajah. Tapi Insya Allah ke depan saya melihat dengan mempelajari Suriah, Irak, Afghanistan, harapan besar itu ada di Indonesia Insya Allah.
Dan saya yakin penduduk dunia saat ini sudah muak dengan tontonan kekerasan yang dilakukan oleh nonmuslim itu. Bahkan masyarakat di negara mereka sendiri sudah muak dengan pemimpinnya yang mempertontonkan senjata dan nuklir-nuklir mereka.
Apa yang sebetulnya dibutuhkan penduduk dunia saat ini adalah kedamaian. Dan ketahuilah tidak ada kelompok sosial, tidak ada kekuatan militer yang lebih kuat untuk menegakkan perdamaian selain Islam. Bersambung

Catatan UBN (1) : Bersiap Menyambut Kebangkitan Islam di Indonesia

Ustaz Bachtiar Nasir (UBN) dalam Mudzakarah Seribu Ulama mengingatkan bahwa kebangkitan umat Islam akan datang, dan boleh jadi bermula di Indonesia. Kuncinya adalah kesabaran. Kesabaran ulama dalam mendidik umat, kesabaran umat dalam perjuangan dan kesatuan langkah perjuangan.
Berikut catatan Ustaz Bachtiar Nasir dalam Mudzakarah Seribu Ulama di Tasikmalaya, Ahad (5/8/2018) yang Jurnalislam.com himpun. Selamat membaca:
SEJAK runtuhnya khilafah Islamiyah 1924 dan Indonesia merdeka tahun 1945, mudah-mudahan paling lama Insya Allah seratus tahun setelah Indonesia merdeka pada tahun 2045, Islam akan tegak di muka bumi dan Indonesia akan menjadi basis terkuatnya Indonesia Insya Allah.
Saya akan memberikan beberapa indikatornya.Dalam  beberapa konferensi internasional ternyata mata para pejuang-pejuang Islam dunia tertuju pada Indonesia dan mereka sangat berharap kebangkitan Islam itu datang dari Indonesia.
Turki sudah melakukan revolusi secara gradual lebih kurang selama 20 tahun. Secara ekonomi dan politik, Turki memang diantara negeri-negeri muslim, dimana pemimpinnya berani mengatakan Israel lah teroris yang sesungguhnya.
Tapi koreksinya adalah, menurut mantan menteri agamanya saat ini Turki memang sudah maju dari sisi keislaman tetapi baru dari bidang politik, ketika masyarakat terlalu bergegas ke depan, tapi Turki belum maju dari sisi pemikiran dan ruh Islam. Ini terjadi ketika politik yang diletakkan di depan.
Ustadz Bachtiar Nasir menyampaikan pandangannya dalam Mudzakarah Seribu Ulama di Tasikmalaya, Ahad (5/8/2018)

Berbeda halnya dengan Indonesia. Ini potensi yang harus dilihat secara jernih oleh para ulama. Indonesia memiliki kelebihan khusus bahkan melebihi Malaysia dan turki yang sifat kebangkitan Islam nya top – down, tetapi kebagkitan Islam di Indonesia itu bottom up, bermula dari rakyatnya, bermula dari umatnya.

Dan jika dari sini, kita memulai Insya Allah tidak akanada yang bisa menghentikan kebangkitan Islam di Indonesia. Kesalahan di Indonesia, terutama dalam memilih pemimpin di Indonesia yang selalu menjadikan indikator ekonomi untuk terpilihnya seorang pemimpin.

Ya katakanlah pilpres nanti dengan semua hasil ijtima dan dzikir kita. Ujungnya, para pemegang palang pintu partai hanya akan menanyakan dua hal; popularitasnya dan isi tasnya.

Tapi ada yang lebih penting yang harus kita pikirkan, ketika memaksakan diri apakah betul-betul kita sudah mempersiapkan calon pemimpin Indonesia yang sekarang hutang (plus bunga) nya sudah 5000 trilyun dan pada pilpres nanti kira-kira jumlahnya sudah mencapai 6.000 tirlyun. Kira-kira ulama siapa yang dapat menyelesaikan masalah seperti ini?

Saya ingin katakan bahwa, proses yang harus dilakukan secara rasional dan penuh kesabaran tidak grasak-grusuk. Saya ambil contoh negara-negara Kaukasus dan Balkan, secara ekonomi maju. 95% penduduknya muslim, tapi jangan berharap ada jilbab berkeliaran digunakan oleh masyarakat. Sebab hanya indikator ekonomi yang digunakan oleh masyarakat negara itu untuk mengukur kemajuan bangsa atas nama agama.

Negara itu adalah negara yang para pemimpinnya sudah tersekulerkan. Yang menjadikan indikator ekonomi sebagai indikator utama yang agama bagi mereka sudah dicabut dari akar-akanya sejak zaman Uni Soviet.

95% muslimnya, tetapi kalau ada anak yang berpuasa, orangtuanya yang akan pertama kali melarangnya.“Sudahlah jangan yang ekstrim-esktrim begitu, beragama yang biasa-biasa saja, yang penting ekonomi tercukupi,” demikian kira-kira mindset masyarakat mereka.

Kemajuan dengan indikator memaksakan pemimpin politik dan memaksakan pemimpin ekonomi, percayalah yang seperti ini pada akhirnya bukanlah perdamaian.

Islam Din Assalam, Islam adalah agama yang menyebarkan kesejahteraan dan perdamaian, dan itu akan terjadi ketika sama-sama kita memulai kebangkitan Islam di Indonesia dari berbagai sisinya dengan mengatkaan Lailaha ilallah wahdahu laa syarikalah lahul mulk walahul hamd. Bersambung

Ratusan Massa Ikuti “Longmarch Dunia Islam Berduka” di Bandung

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Aliansi Masyarakat Selamatkan Aksi Al Aqsha (AMSA) menggelar aksi berjalan kaki (longmarch) solidaritas untuk Palestina di Bandung, Jumat (3/8/2018). Aksi bertajuk “Longmarch Dunia Islam Berduka” itu dilakukan sebagai respon atas perlakuan semena-mena tentara Israel yang mengusir jamaah shalat jumat di Masjid Al Aqsha pada pekan lalu.
Aksi dimulai setelah shalat jumat sekira pukul 13.00 WIB dengan berjalan kaki dari depan Masjid Pusdai kemudian berorasi di depan Gedung Sate Bandung .

Massa lalu melajutkan longmarch ke Bandung Indah Plaza (BIP) dan berakhir di Masjid Al-Ukhuwah, di Jalan Wastu Kencana, No 27, Bandung.
“Kami melihat perbuatan tentara zionis Israel ini sudah melewati batas. Bukan hanya sekedar menghambat masyarakat muslim Palestina untuk beribadah di Masjid Al Aqsha, tapi kini berani membubarkan ibadah shalat Jumat di sana,” tegas Ketua Aliansi Masyarakat Selamatkan Al Aqsha (AMSA), Edi Haryanto.
Dalam aksinya, massa membawa beragam atribut seperti bendera, poster berisi protes seperti “Zionis Go to hell” dan poster dukungan kepada korban bencana gempa di lombok yang berbunyi “Kami Bersama Al Aqsha dan Korban Gempa Lombok”.
“Aksi longmarch diikuti oleh 40 lembaga dan organisasi kemasyarakatan di Jawa Barat,” kata Ketua AMSA Edi Haryanto.
Lembaga dan ormas tersebut antara lain Aqsha Institute, Yayasan Untuk Palestina MT Aria Jipang, Harapan Amal Mulia, MT Rinduku Baitullah (RBT), For Humanity, Mujahadah Community, Kasih Palestina, MT Rumahku Surgaku, Al Iman.
Selain itu, Pejuang Shubuh, Life for Ummah, Inisiatif Zakat, Rumah Zakat, One day One Juz, XTC Indonesia, Brigez Indonesia, KAMMI, Bandung Fighting Club, Nurul Hayat, dan Ash Shuffah.
Selain menyuarakan aspirasi, AMSA juga menggalang dana untuk disalurkan kepada para penjaga Masjid Al Aqsha dan korban bencana gempa di Lombok, NTB.

Reporter: Kiki Firmansyah

Kemenkes Tidak Memaksa Masyarakat yang Menolak Divaksin Rubella

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Menteri Kesehatan, Nila Farid Moeloek akhirnya menerima status kehalalan vaksin Rubella setelah rapat dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada Jumat (3/8/2018).
Setelah setahun bersikeras untuk menyukseskan vaksinasi 70 juta anak dengan vaksin rubella. Belajar dari fase pertama pemberian vaksin rubella yang sukses di Jawa Barat, Nila berkeinginan untuk menyukseskan fase kedua di luar Jawa.
Sayangnya, mereka yang di luar Jawa masih mempertanyakan kehalalan vaksin. Sehingga membuat MUI memanggil Menkes dan Biofarma. Hasilnya, Nila tidak memaksakan masyarakat yang tidak ingin memvaksin anaknya.
“Saya tidak memaksakan bagi yang menganggap bahwa vaksin rubella belum halal,” katanya di Kantor MUI, Menteng, Jakpus, Jumat (3/8/2018).
Namun, lanjutnya, pihaknya akan berusaha meminta Serum Institute of India untuk memberikan kandungan vaksin rubella tersebut.
“Fase kedua akan segera dimulai. Kami dan Biofarma akan segera mengatasi masalah tersebut,” pungkas Nila.

Rubella adalah penyakit akut dan ringan yang sering menginfeksi anak dan dewasa muda yang rentan. Namun yang menjadi perhatian dalam kesehatan masyarakat adalah efek kepada janin apabila rubella menyerang pada wanita hamil trimester pertama.

Data surveilans selama lima tahun terakhir menunjukkan 70 persen kasus rubella terjadi pada kelompok usia di bawah 15 tahun.

Infeksi rubella selama awal kehamilan dapat menyebabkan keguguran, kematian janin, atau sindrom rubella konegnital (Congenital Rubella Syndroma/CRS) pada bayi yang dilahirkan. CRS biasanya bermanifestasi sebagai penyakit jantung bawaan, katarak, microcephaly (kepala kecil), dan tuli.

Reporter: Gio

Deklarasi 2019 Ganti Presiden Bakal Digelar di Makassar, Libatkan Puluhan Ribu Massa

MAKASSAR (Jurnalislam.com) – Deklarasi 2019 Ganti Presiden akan digelar di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, pada Ahad (12/8/2018) mendatang di Monumen Mandala, Jalan Jenderal Sudirman.

Sejumlah deklarator nasional 2019 Ganti Presiden, di antaranya Neno Warisman dan musisi John Sang Alang, dijadwalkan hadir memeriahkan acara.

Ketua Forum Ummat Islam Bersatu (FUIB) Sulawesi Selatan, Ustadz Mukhtar Daeng Lau, yang juga selaku ketua panitia penyelenggara, mengatakan puluhan ribu massa akan terlibat dalam perhelatan akbar itu.

“Insya Allah, kami sudah melakukan koordinasi dengan semua perwakilan aktivis di sejumlah daerah, mereka sudah menyatakan kesiapannya untuk hadir dan memeriahkan deklarasi ini,” ujarnya, Jumat (3/8/2018).

Ustadz Mukhtar menjelaskan, deklarasi ini dipelopori oleh puluhan kelompok aktivis Islam yang berhimpun di bawah FUIB Sulawesi Selatan dan didukung oleh sebagai besar ormas Islam.

Ia menegaskan, penyelenggaraan acara tersebut murni inisiatif dari kalangan masyarakat bawah, dan sama sekali bukan pesanan dari kelompok partai politik tertentu.

“Ini murni kehendak masyarakat yang ingin melihat sebuah perubahan ke arah yang lebih baik melalui momentum Pemilihan Presiden tahun depan,” terang Ustadz Mukhtar.

Berdasarkan informasi dari tim panitia seusai melakukan rapat pemantapan sore tadi, sampai sekarang, sudah ada sekitar 40 lembaga ormas dan perwakilan kelompok Islam yang menyatakan kesediaannya untuk bergabung, di antaranya Laskar Pemburu Aliran Sesat (LPAS), Front Pembela Islam (FPI), Pemuda Komite Perjuangan Penegakan Syariat Islam (KPPSI), dan Forum Arimatea, serta Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) Sulawesi Selatan.

Ansharusy Syariah Nusa Tenggara Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa Lombok

BIMA (Jurnalislam.com) – Jamaah Ansharusy Syariah (JAS) Wilayah Nusa Tenggara (Nusra), menyalurkan donasi dan bantuan kemanusiaan untuk korban gempa Lombok.
Bantuan sebesar Rp.20.000.000 itu diserahkan kepada organisasi kemanusiaan Forum Medis dan Aksi Kemanusiaan (Me-Dan) NTB pada Rabu (2/8/2018). Ketua Jamaah Ansharusy Syariah wilayah Nusra, Ustadz Muhammad Taqiyuddin mengatakan, bantuan ini merupakan bantuan hasil penggalangan dana yang dilakukan oleh seluruh anggota JAS wilayah Nusra selama tiga hari.
“Sebagai sebuah jamaah yang peduli terhadap sesama muslim, kami merasa terpanggil untuk ikut membantu mereka, apalagi dengan keadaan mereka yang sangat parah tertimpa gempa,” katanya kepada Jurnalislam.com.
Selain dari hasil penggalangan dana, bantuan juga didapatkan dari titipan atau donasi kaum muslimin Bima yang mempercayakan kepada Jamaah Ansharusy Syariah.
“Bukan kali ini saja kami dari Jamaah Ansharusy Syariah Nusra menggalang bantuan untuk kaum muslimin, tetapi setiap ada kejadian kami selalu berperan dan berusaha untuk terus bisa membantu saudara sesama muslim,” kata ustaz Taqiyuddin.
“Kami berharap mudah-mudahan bantuan ini bisa bermanfaat untuk saudara muslim di Lombok, dan kami akan terus berupaya untuk membantu mereka, baik itu dengan harta maupun dengan do’a kami,” pungkasnya.
Gempa Lombok pada Ahad (29/7/2018) lalu mengakibatkan ribuan rumah rusak dan 10.000 lebih warga mengungsi. Hingga saat ini, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika mencatat ada 524 gempa susulan.

Pasca Pemilu di Zimbabwe Korban Tewas Akibat Bentrokan Aparat dan Oposisi Meningkat

HARARE (Jurnalislam.com) – Jumlah orang yang tewas dalam kekerasan pasca-pemilu Zimbabwe telah meningkat menjadi enam, menurut polisi, ketika pemimpin oposisi Nelson Chamisa mengklaim kemenangan sebelum dirilisnya hasil resmi pemilihan presiden yang diperebutkan secara ketat.

Situasi di ibukota, Harare, tetap tegang pada hari Kamis (2/8/2018), ketika polisi melaporkan peningkatan jumlah korban tewas dalam bentrokan antara pasukan keamanan dan pendukung oposisi dari tiga menjadi enam.

Komisi pemilihan umum memiliki waktu hingga hari Sabtu untuk merilis hasil lengkap pemilihan presiden, tetapi menghadapi tekanan untuk melaporkannya di hadapan publik sesegera mungkin di tengah ketegangan yang meningkat. Mereka diperkirakan akan mulai merilis hasil tersebut mulai hari Kamis.

Pada hari Rabu, setelah para pejabat pemilu mengumumkan bahwa partai berkuasa ZANU-PF memenangkan sebagian besar suara parlemen, pendukung oposisi yang mengklaim pemungutan suara pada Senin dicurangi turun ke jalan, membakar ban dan melemparkan batu sebelum polisi anti huru hara dan tentara campur tangan.

Korban Tewas Serangan Bom Kampanye di Pakistan Meningkat Hingga 149 Orang

Para saksi mengatakan kepada Al Jazeera pada hari Rabu bahwa para tentara menggunakan amunisi hidup untuk membubarkan para demonstran. Pasukan keamanan juga menggunakan gas air mata dan meriam air pada mereka.

Baik pemerintah maupun oposisi menuduh satu sama lain menghasut kekerasan.

Sementara itu, Emmerson Mnangagwa, presiden incumbent dan pemimpin ZANU-PF, mengatakan pada hari Kamis dia sedang dalam pembicaraan dengan oposisi untuk menemukan cara meredakan situasi.

“Kami telah berkomunikasi dengan Nelson Chamisa untuk membahas cara untuk segera meredakan situasi, dan kami harus mempertahankan dialog ini untuk melindungi kedamaian yang kami pegang teguh,” Mnangagwa men-tweet.

Tapi setelah mengunjungi pengunjuk rasa yang terluka di rumah sakit Parirenyatwa Harare, Chamisa, pemimpin aliansi oposisi, Gerakan untuk Perubahan Demokratis (MDC) mengesampingkan pertemuan dengan lawannya.

“Saya tidak akan bertemu dengannya (Mnangagwa). Tidak ada pertemuan yang dijanjikan,” kata Chamisa pada hari Kamis.

Dia mengutuk kekerasan sebagai “tidak dapat diterima” dan mengulangi keyakinannya bahwa dia adalah pemenang pemilu.

Hadapi Agenda Tahunan Taliban, NATO akan Kawal Pemilu di Afghanistan

“Orang-orang kami cinta damai. Penduduk Zimbabwe cinta damai tetapi mereka adalah pemerintah yang sangat keras. Kami menghormati hukum tetapi kami telah disalahgunakan untuk menghormati hukum,” katanya.

“Mnangagwa kalah dalam semua konstituensi di mana anggota parlemen saya tidak berkinerja baik,” tambah Chamisa.

“Kami telah memenangkan pemilihan ini dan Mr Mnangagwa tahu itu – pendukung kami harus tenang dan mengantisipasi perayaan besar-besaran.

Sedangkan ZANU-PF mengatakan mereka “bersemangat menunggu hasil pemilihan” dan mengajukan banding ke oposisi “untuk memastikan bahwa pendukung mereka mempertahankan ketenangan da ketika orang pergi untuk memilih”.

“Kami jelas sangat senang bahwa hasil yang diumumkan oleh ZEC [Komisi Pemilihan Zimbabwe] sejauh ini menunjukkan bahwa kami mencapai lebih dari dua pertiga mayoritas dalam pemilihan parlemen,” kata Paul Mangwana, sekretaris ZANU-PF untuk urusan hukum.

“Kami mengharapkan bahwa hasil ini menjadi cerminan dari apa yang kami harapkan dari pemilihan presiden.”

Para ahli mengatakan baik partai yang berkuasa maupun oposisi bertanggung jawab atas kekerasan yang meletus di jalanan Harare pada hari Rabu.

“Ini adalah pertunjukkan kepemimpinan, tetapi ini merupakan kegagalan kedua belah pihak. Tidak pantas menggunakan tentara pada demonstran sipil,” kata Blessing-Miles Tendi, seorang profesor di Universitas Oxford, kepada Al Jazeera.

“Ada juga kegagalan kepemimpinan di pihak oposisi. Jika mereka punya senjata yang masih berasap, maka mereka harus memegang senjata tersebut dan segera mengajukan bukti konkrit untuk mendukung klaim mereka bahwa pemilihan telah dicurangi,” kata Tendi.

Ternyata Rusia Turut Campur dalam Pemilihan Trump pada Pemilu AS 2016

Pada hari Kamis, PBB menyerukan kepada kedua pihak untuk “menahan diri” setelah pemilihan jajak pendapat yang melihat partai berkuasa ZANU-PF memenangkan mayoritas kursi di parlemen.

“Kami prihatin dengan laporan bahwa ada insiden kekerasan di beberapa bagian Zimbabwe,” Farhan Haq, wakil juru bicara PBB, mengatakan kepada wartawan di New York pada Rabu malam.

“Kami menyerukan para pemimpin politik dan penduduk secara keseluruhan untuk menahan diri dan menolak segala bentuk kekerasan sambil menunggu penyelesaian sengketa dan pengumuman hasil pemilihan,” kata Haq.

Pemilihan hari Senin adalah yang pertama tanpa turut sertanya Presiden jangka panjang Robert Mugabe pada pemungutan suara dalam hampir empat dekade – sejak ia mengambil alih kekuasaan setelah Zimbabwe memperoleh kemerdekaan pada tahun 1980.

Lebih dari lima juta warga Zimbabwe terdaftar untuk ambil bagian dalam jajak pendapat. Dua puluh tiga kandidat – semuanya pertama kali ini mencalonkan diri – berebut posisi kepresidenan.

Ini adalah pertama kalinya sejak berakhirnya pemerintahan minoritas kulit putih dengan jumlah peserta yang begitu besar untuk memperebutkan kursi teratas negara.