Konflik di Kongo Berpotensi Virus Ebola Menyebar

KONGO (Jurnalislam.com) – Kekerasan milisi di Republik Demokratik Kongo (DRC) mencegah pekerja bantuan mengakses korban potensial Ebola, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (the World Health Organization-WHO).

Sebanyak 78 kasus telah dikonfirmasi dan kemungkinan penyakit Ebola telah tercatat di DRC timur laut sejak 1 Agustus, WHO mengatakan pada hari Jumat (17/8/2018), lansir Aljazeera.

Wabah terbaru telah menelan hingga 44 jiwa (17 dikonfirmasi dan 27 kemungkinan), tambahnya.

Sedikitnya 1.500 orang berpotensi terkena virus mematikan di provinsi Kivu Utara tetapi kekerasan di wilayah itu membuat para pejabat tidak yakin jika mereka telah mengidentifikasi semua rantai yang menyebar di bagian timur negara yang luas itu.

Di daerah itu, para pekerja kesehatan dipaksa untuk menavigasi tanggapan mereka di antara lebih dari 100 kelompok bersenjata.

Amnesty Internasional: Muslim di Republik Afrika Tengah Dipaksa Menjadi Kristen

Tedros Adhanom Ghebreyesus, kepala WHO, mengatakan wilayah itu penuh dengan “zona merah”, atau area yang tidak dapat diakses.

“Kami tidak tahu apakah kami telah mengidentifikasi semua rantai penularan. Kami memperkirakan akan melihat lebih banyak kasus sebagai akibat dari infeksi sebelumnya dan infeksi ini berkembang menjadi penyakit,” kata juru bicara WHO Tarik Jasarevic pada konferensi pers di Jenewa.

“Skenario terburuk adalah bahwa terdapat blindspot di mana epidemi bisa bertahan namun tidak kami ketahui,” katanya.

Wabah ini menyebar di seluruh lahan pertanian subur di Kongo timur dan telah mencapai provinsi Ituri yang terletak berdekatan.

Ebola menyebabkan penyakit serius termasuk muntah, diare dan dalam beberapa kasus perdarahan internal dan eksternal. Sering fatal jika tidak diobati.

DRC telah mengalami 10 kali wabah Ebola sejak virus itu ditemukan di Sungai Ebola pada tahun 1976, dan telah menewaskan sekitar 900 orang.

Agensi anak-anak PBB, UNICEF, mengatakan bahwa proporsi orang yang terkena dampak yang sangat tinggi dalam wabah ini adalah anak-anak.

Pengungsi Muslim Afrika Tengah : Antara Dibunuh Atau Mati Kelaparan

Dua anak telah meninggal karena penyakit tersebut, dan pusat layanan medis di Beni dan Mangina merawat enam orang lain yang terinfeksi oleh penyakit atau yang diduga.

Dalam upaya untuk menghentikan kemajuan virus, pihak kesehatan DRC yang berwenang mengatakan bahwa dokter di Beni mulai menggunakan obat prototipe yang disebut mAb114 untuk mengobati pasien.

Dikembangkan di Amerika Serikat, obat prototipe adalah protein yang mengikat pada target spesifik virus dan memicu sistem kekebalan tubuh.

Ghebreyesus mengatakan lima pasien telah menerima obat yang sejauh ini tidak berlisensi, dan bahwa WHO menginginkan “untuk mempercepat sebanyak mungkin.”

Vaksinasi yang ditargetkan, yang ditujukan terutama untuk petugas kesehatan garis depan, dimulai pekan lalu, dan sejauh ini 216 orang telah menerima vaksin.

Epidemi antara 2013 dan 2016 menewaskan lebih dari 11.300 orang di Afrika Barat.

EBOLA_DRC3

Rumahnya Hancur Akibat Gempa, Janda Tua Ini Dibuatkan Hunian Sementara

Saya sudah tidak punya apa-apa lagi, rumah saya hancur, saya hanya hidup sendirian disini

LOMBOK (Jurnalislam.com) – Gempa juga menghancurkan rumah milik Bu Kesmin, nenek 55 tahun warga Desa Rempek, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara. Dari tenda pengungsian, janda tua yang hidup seorang diri ini hanya bisa meratapi puing-puing rumahnya yang telah rata dengan tanah.
Suaminya telah lama meninggal dunia. Anak-anaknya pun sudah berkeluarga dan tinggal jauh dari tempat tinggalnya. Kini rumah sederhana peninggalan sang suami pun sirna.
“Saya sudah tidak punya apa-apa lagi, rumah saya hancur, saya hanya hidup sendirian disini,” ucapnya yang tak kuasa menahan airmata.
Bu Kesmin sangat berharap ia dapat memiliki rumah sederhana untuk sekedar berlindung dari dingin dan hujan.
“Sekarang ini cuaca yang semakin dingin, ditambah hujan sudah mulai turun,” ungkapnya kepada Jurnalislam.com, Jumat (17/8/2018).
Hunian sementara Bu Kesmin. FOTO: Sirath/Jurniscom
Tim relawan dari Jamaah Ansharusy Syariah berinisiatif untuk membuatkan hunian sementara bagi Bu Kesmin. Rumah yang dibangun dari kayu dan baja ringan itu bersifat sementara hanya dapat digunakan untuk beristirahat.
“Saya sangat berterima kasih sekali, atas kebaikan dari para relawan yang sudah mau membangunkan rumah untuk saya,” tutur Bu Kesmin.
Meski sederhana, bangunan tersebut sangat berarti bagi Bu Kesmin yang hanya tinggal seorang diri. Ia berharap semuanya bisa kembali seperti semula.
Kabupaten Lombok Utara menjadi salah satu daerah terdampak gempa terparah yang melanda wilayah tersebut beberapa waktu lalu. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, 75% infrastuktur di Lombok Utara hancur dan rusak.
Reporter: Sirath

Foto Kondisi Salah Satu Desa Terdampak Gempa di Lombok Utara

LOMBOK (Jurnalislam.com) – Musibah gempa bumi yang berkali-kali mengguncang Lombok Utara beberapa waktu lalu telah meluluhlantakkan wilayah tersebut. Salah satunya Dusun Rempek Desa Rempek Kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Utara.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional dan Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan hampir 75 persen permukiman di Lombok Utara hancur dan rusak akibat gempa.

 

Foto Suasana Upacara Hari Kemerdekaan di Salah Satu Desa Terdampak Gempa Lombok

LOMBOK (Jurnalislam.com) – Meski di tengah duka, namun ratusan warga Desa Sembalun Bumbung, Lombok Timur yang terdampak gempa ini tampak khidmat mengikuti upacara HUT RI ke-73, Jumat (17/8/2018). Reporter Islamic News Agency (INA) berhasil mengabadikan momen tersebut.

HUT RI Ke-73, ICMI : Tetap Jaga Persatuan Bangsa

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia ke-73, Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), Prof DR Jimly Asshiddiqie berpesan kepada bangsa Indonesia untuk tetap menjaga persatuan.

“Selamat merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 73 tahun kepada seluruh masyarakat lndonesia,” katanya melalui siaran pers yang diterima Jurnalislam.com, Jumat (17/8/2018).

Jimly menjelaskan, banyak cara dan upaya dapat dilakukan oleh masyarakat untuk melanjutkan cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia dengan perbuatan yang positif, yakni melalui aksi-aksi kerja nyata dan tetap menjaga semangat persatuan nasional.

“Mari menikmati kemerdekaan dengan mengisinya melalui kerja nyata. Membangun bangsa dan negara tanpa perpecahan anak bangsa,” ujarnya.

Ia juga menyoroti peringatan 73 tahun kemerdekaan ini di tengah panasnya situasi politik menjelang Pilpres 2019. Ia menyebutnya dengan tahun politisi.

“Hari ulang tahun Republik Indonesia sekarang bertepatan dengan tahun politisi, bukan tahun politik. Sebab yang sibuk adalah para politisi, bukan rakyat,” kata Jimly.

Kendati demikian, Jimly mengimbau, supaya tetap mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa meskipun ada perbedaan pilihan dalam soal politik dan pemimpin.

Jimly mengatakan, yang harus dipahami dan disadari bahwa semua calon pemimpin bangsa yang berkompetisi dalam politik adalah saudara dalam satu Tanah Air.

“Makanya pilihan pasangan calon jangan hanya dengan semangat menang atau kalah sesaat. Kemajuan bangsa butuh perspektif yang luas dan jangka panjang,” ujar Jimly.

Reporter: Gio

“Hari Kemerdekaan Sebagai Momen Untuk Bangkit”

LOMBOK (Jurnalislam.com) – Ratusan warga terdampak gempa di Desa Sembalun Bumbung, Kabupaten Lombok Timur pada Jumat (17/8/2018) pagi, mengikuti upacara Hari Kemerdekaan.
Dengan pakaian seadanya, mereka tetap khidmat mengikuti upacara yang diselenggarakan oleh relawan dan Karang Taruna itu di tanah lapang di daerah tersebut.
Lantunan Indonesia Raya dari paguan suara pemudi Desa Sembalun Bumbung mengiringi pengibaran bendera ke atas tiang bambu.
Warga Desa Sembalun Bumbung, Lombok Timur mengikuti upacara hari kemerdekaan. FOTO: Ahmad Jilul Qur’ani Farid/INA

Pembina Upacara, Jusman yang merupakan Sekretaris Desa Sembalun Bumbung, dalam amanatnya menyampaikan pesan moral kepada warganya untuk menjadikan hari kemerdekaan sebagai momen untuk bangkit pasca bencana gempa yang meluluhlantakan desa mereka.

“Hari kemerdekaan adalah momentum bagi daerah untuk bangkit menoreh prestasi setelah bencana yang terjadi, kita harus bisa bangkit dari segala macam musibah dengan bersabar serta gotong royong memulihkan situasi dan kondisi,” terang Jusman dalam amanatnya sebagai inspektur upacara.

Jusman juga menekankan kepada warga untuk tidak hanya menjadi penonton sementara para relawan memberikan bantuan.

“Jangan sampai cuma relawan yang bekerja dan kita cuma jadi penonton saja, kita harus gotong royong ikut bekerja bersama para relawan,” tegas Jusman.

Reporter: Ahmad Jilul Qur’ani Farid | INA
Foto: Ahmad Jilul Qur’ani Farid | INA

Merdeka di Tanah Gempa

“Walau kami susah, kami tetap ingin bangkit dan berbagi,” kata Tria

JURNALISLAM.COM – Hitam. Gelap pekat membalut dusun Jorong, Desa Sembalun Bumbung, Kabupaten Lombok Timur. Setitik cahaya tersebar, di setiap tenda-tenda pengungsi. Malam itu, (16/8/2018), para pengungsi korban gempa Lombok hanya bisa berkumpul di terpalnya masing-masing.

Tak ada hingar bingar H-1 hari kemerdekaan. “17-an sekarang kami yasinan aja,” kata Iyuni, bocah kelas 1 SD Sembalun yang sekolahnya kini hanya menyisakan bangku-bangku kosong. Listrik yang byar-pet di pengungsian, membuat malam hari itu begitu gelap gulita.

Satu tenda pengungsian seluas 3 x 6 meter itu, bisa saja diisi 30 orang berjubel di dalamnya. Sunyi memang, tapi sesekali lantuan al Qur’an menyeruak dari sudut tenda itu. Hanya secuil cahaya dari senter, yang menemani bocah-bocah itu mengeja kalam suci.

Pengungsian di Dusun Sembalung Bumbung, Kabupaten Lombok Timur. FOTO: Aghniya\INA

Di masjid, mesin genset ditarik. “BRRRRRR……”

“Pet..” tiba-tiba mati. Shalat isya di Masjid darurat ramah gempa itu tetiba menjadi hening dan semakin syahdu. Beberapa warga masih melanjutkan bacaan al Qur’annya di masjid, sambil ditemani gemuruh genset yang terus menderu.

Malam itu, mungkin tak seperti desa -kampung- tempat lainnya di penjuru negeri ini. Tak ada paduan suara, tak ada malam gembira, tak ada lomba jelang 17 Agustus, tak ada hingar bingar meriahnya hari kemerdekaan Indonesia ke-73.

Ketika semburat fajar menyiram bukit dan gunung yang memagari Sembalun; Gunung Rinjani, bukit Nanggi, bukit Anak Dara, Pegasingan, Pelawangan, dan sekitarnya, semburat itu juga membelai pucuk tiang bambu.

Di atas tiang bambu sederhana itu, sehelai bendera merah putih berkibar. Tak jauh dari situ, di tengah ladang yang disulap menjadi lapangan, sebatang bambu dipasang tegak. Di sanalah, upacara sederhana itu terlakon.

Jangan tanya mengapa upacara tak dilakukan di sekolah. “Sekolahnya hancur, nggak bisa dipakai,” masih kata Iyuni, sahabat kecil kita. Upacara itu, dilakukan dengan sangat sederhana.
Para relawan dari berbagai daerah seperti Laz LMI, Sinergi Foundation, Santama (Santri Tanggap Bencana) segera berbagi peran dalam tim upacara. Ibu-ibu, anak- anak, remaja, pemuda, semua menyemut mengisi tanah lapang.

Sekretaris desa, Pak Jusman datang hadir menjadi pembina upacara yang sangat sederhana itu. Ibu-ibu dengan capingnya, anak-anak dengan sandal bututnya, para remaja dengan kaos belelnya datang.

Sederhana memang, tapi hari raya kemerdekaan itu begitu penuh makna bagi mereka.

Upacara 17 Agustus di Dusun Jorong, Desa Sembalun Bumbung, Kabupaten Lombok Timur. FOTO: Aghniya/INA

Tomi, seorang warga Sembalun yang juga porter (pemandu) Gunung Rinjani bilang, kalau tahun ini tak ada orang yang berlomba-lomba untuk sekadar berfoto – untuk dibagikan di media sosial- di kaki bukit, danau, atau puncak Gunung Rinjani.

“Tahun kemarin bisa jadi ada 1000 orang lebih ke puncak, 5000 orang di kaki bukit. Setiap 17 Agustus, bahkan tenda saja tak muat,” kata Tomi. Namun kini, Tomi menyaksikan pemandangan yang berbalik 180 derajat: gempa telah merubah segalanya.

Tak ada lagi orang –orang berebut bergaya di puncak gunung. Upacara warga Sembalun di kaki bukit Rinjani begitu sederhana, tapi sangat bermakna. Lihatlah, bagaimana seorang Ibu bernama Idam ini menatap haru, menyerapi upacara yang sederhana ini.

“Saya terharu,” katanya. Matanya berkaca-kaca, saat menyanyikan lagu ‘syukur’ saat bendera merah putih diturunkan menjadi setengah tiang untuk mengenangkan bencana gempa. Setiap tahun, kata Ibu Idam, 17 Agustusan dirayakan dengan sangat meriah.

Tapi tahun ini tidak. Warga merayakannya dengan sangat sederhana sekali. Pagi itu, merah putih berkibar setengah tiang di Sembalun. Pak Jusman, sekretaris desa mengingatkan warga bahwa momen kemerdekaan adalah momen warga kembali membangun desanya, dengan semangat.

Upacara ditutuh doa yang syahdu, dan lagu daerah sembalun. Sesudah itu, warga bersiap untuk shalat Jumat. Di masjid darurat, lagi-lagi, khatib shalat Jumat, ustaz Hardianysah mengingatkan kembali bahwa kemerdekaan.

Petugas upacara membacakan Pembukaan UUD 45 yang ditulis tangan. FOTO: Aghniya/INA

Ia pun mengingatkan kemerdekaan dalam pandangan Islam, ialah ketika seorang hamba, benar-benar mentauhidkan Allah. Ia mengisahkan kisah sahabat Rib’i bin Amir ketika bersua panglima Persia Rustum.

“Allah telah mengutus kami untuk memerdekaan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan terhadap sesama hamba kepada penghambaan kepada Allah, dari kesempitan dunia kepada keluasannya, dan memerdekaan kezhaliman agama-agama kepada keadilan Al-Islam,”kata ustaz Hardi mengisahkan sahabat yang mulia ini.

Di tanah gempa ini, makna kemerdekaan menjadi sangat sederhana. Warga memaknainya dengan semangat untuk bangkit dan kembali membangun desanya.

“Walau kami susah, kami tetap ingin bangkit dan berbagi,” kata Tria, seorang petani –pengungsi- yang membagikan sayurannya untuk korban gempa di Kabupaten Lombok Utara.

Kata Tria, justru ketika kesulitan itulah, manusia harus semakin berbagi. “Justru ini adalah ujian keimanan kami, inilah makna kemerdekaan, keyakinan kepada Allah,” katanya.

Sayup-sayup, pekik merdeka kini menyeruak dari kampung ini. Kalimat takbir dan pekik merdeka saling bersahutan. “Merdeka..merdeka…Allahu Akbar…”

“Kami yakin dan kami masih memiliki Allah. Walaupun kami kesulitan, masih banyak saudara kami yang juga kesulitan di luar sana, dan insya Allah kami akan bangkit,” pungkas Tria. Kita doakan bersama-sama. Amin.

Reporter : Rizki Lesus | INA
Foto : Aghniya | INA

Refleksi Kemerdekaan : Sudahkan Indonesia Merdeka Secara Hakiki?

Oleh : Hardita Amalia,S.Pd.I,M.Pd.I – IRT, Penulis Buku Anak Muda Keren Akhir Zaman Qibla Gramedia, Founder Komunitas Ibu Pembelajar, Dosen STAI PTDII Jakarta-

EUFORIA merayakan hari jadi  ke 73 tahun kemerdekaan Indonesia bergema di seluruh negeri. Berbicara kemerdekaan, maka berkorelasi erat dengan keberhasilan negara dalam menyejahterahkan rakyatnya, menurunkan angka kemiskinan, menghilangkan kriminalitas, juga mampu mengatasi berbagai problematika sosial di masyarakat.

Juga tentang angka korupsi pejabat yang semakin rendah, dan hutang negara yang mampu tereduksi, kemampuan negara untuk berdikari tanpa didominasi oleh pressure asing dan aseng, termasuk dalam pengelolahan sumber daya alam juga kebijakan-kebijakan publik yang pro terhadap kepentingan rakyat bukan kepentingan asing atau aseng.

Namun sungguh ironis, secara de facto, berbagai macam problematika makin hari kian bertambah melingkupi negeri tercinta. Mulai dari persoalan ekonomi yang kian menghimpit rakyat, makin tercekik dengan berbagai kebijakan pemerintah yang tak memihak kepada rakyat kecil.

Pada era pemerintah sekarang misalnya, tercatat BBM naik 10 kali  (news.detik.com/3/7/2018). Yang jelas-jelas kenaikan BBM menjadikan rakyat makin terhimpit serta makin sulit memenuhi kebutuhan baik komoditas pangan, sandang maupun papan yang berimbas naik sebab kenaikan harga BBM.

Tak hanya itu hutang Indonesia yang kian hari kian menggunung menjadikan indikasi lemahnya stabilitas ekonomi Indonesia. Dimana Indonesia menanggung kuartal hutang luar negri sebesar  Rp. 5,075 Triliun (www.viva.co.id, 17/7/2018). Bahkan penjualan aset negara yang dilakukan oleh pemerintah, mengutip pendapat Fadli Zon adalah salah satu bentuk penghianatan bangsa.

Kita pun menyaksikan bahwa sumber daya alam Indonesia yang begitu berlimpah ruah yang Allah karuniakan kepada negeri ini nyatanya tak dikuasai oleh pribumi, namun dikuasai oleh asing. Kita bisa menyaksikan salah satu penguasaan asing atas sumber daya alam Indonesia, misalnya saja penguasaan tambang emas oleh PT Freeport yang dinilai Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menyebutkan bahwa PT Freeport Indonesia (PTFI) telah menimbulkan kerugian negara sebesar 185 Triliun (finance.detik.com/19/3/2018).

Kondisi kemiskinan pun kian meroket, dimana penduduk miskin kian meningkat, mengutip dari (ekonomi.kompas.com, 19 Juli 2017). Ditambah problem degradasi moral, serta kondisi serba permissif pada aspek sosial yang dihadapi Indonesia yakni maraknya kasus aborsi, free sex yang melanda generasi muda akibat gaya hidup hedonis yang berkiblat kepada Barat. Hingga pada akhirnya dari berbagai fakta problematika kompleks yang ada di Indonesia secara de facto, Indonesia belum bisa dikatakan merdeka. Indonesia masih dijajah secara pemikiran dan kebijakan.

Negara merdeka adalah negara yang idealnya terbebas dari berbagai bentuk penjajahan fisik maupun non fisik dari berbagai aspek, sosial, politik, budaya, dsb. Hal tersebut bertentangan dengan yang terjadi di Indonesia.

Dalam Islam, kemerdekaan adalah bentuk penghambaan kepada Allah dalam semua aspek kehidupan. Tak terbatas pada aspek ibadah ritual saja, karena Islam memiliki solusi komprehensif untuk mengadapi berbagai problem kehidupan manusia termasuk masalah politik, pendidikan, sosial, dsb.

Maka hendaknya sebagai muslim kita mau diatur dengan Islam dan mau menerapkan Islam dalam berbagai aspek kehidupan kita, termasuk dalam lingkup negara. Karena hanya Islamlah satu-satunya aturan yang mampu mengatasi berbagai problematika yang dihadapi oleh manusia. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam Q.S Al-A’raf 96  :

Allah SWT berfirman:

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَـفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَالْاَرْضِ وَلٰـكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf: 96).

Maka hanya dengan aturan Islam yang diterapkan secara sempurna maka akan kita jumpai kemerdekaan hakiki yang mampu menghantarkan Indonesia menjadi negeri yang mulia dan terdepan.*

Belum Nampak Relawan dan Bantuan, Pengungsian di Lombok Timur Ini Memprihatinkan

LOMBOK (Jurnalislam.com) – Kondisi pengungsian di Dusun Tanah Lilin, Desa Bilopetung, Sembalun, Lombok Timur sangat memprihatinkan. Belum nampak para relawan dan bantuan di daerah ini.

Hadri, salah seorang warga mengaku belum punya rencana apa-apa kedepan. Ia dan warga lainnya hanya menunggu bantuan segera datang.

“Rumah kami hancur, mata pencaharian ndak ada, kami bingung mau apa setelah ini,” ungkap Hadri, kepada Islamic News Agency (INA), Kamis (16/8/2018).

Hadri belum punya rencana untuk bekerja dan membangun rumah. Dirinya masih trauma, sehingga belum berani meninggalkan keluarga.

“Belum tahu mau apa, kita mau lihat dulu gimana bantuan pemerintah,” lanjutnya.

Selain itu, masalah yang dihadapi pengungsi adalah tempat tinggal sementara. Setidaknya dalam 3 bulan ke depan, warga masih akan tinggal di pengungsian.

“Kami akan tetap di sini minimal tiga bulan lagi,” kata Muhammad Ali (32), warga Dusun Jorong, Desa Sembalun Bumbung, Sembalun, Lombok Timur.

Namun Ali mengaku bingung kapan bisa menempati rumah baru. Biaya yang besar menjadi alasan utamanya.

“Mungkin satu tahun lagi kami mengungsi, karena kami sendiri ndak tahu kapan punya biaya buat bikin rumah,” lanjutnya.

Ali pun mengkhawatirkan kondisi pengungsian saat musim hujan tiba.

“Kita mengungsi di kebun, kalau hujan, habislah sudah,” pungkasnya.

Seorang pengungi di Desa Bayan, Lombok Timur sedang beristiharat

Berharap keberadaan relawan

Sementara itu, Supiadin (46), warga Desa Sembalun Bumbung, Sembalun, Lombok Timur, menyampaikan harapannya kepada relawan agar tetap memberi perhatian terhadap korban bencana di Lombok.

“Berharap relawan tetap ada selama kami ngungsi, terutama medisnya,” ungkap Supiadin kepada Islamic News Agency (INA), Kamis (16/8/2018).

Supiadin mengungkapkan jika keberadaan Relawan sangat membantu masyarakat. Namun ia khawatir seandainya relawan yang saat ini bertugas berangsur pulang. Sehingga ia berharap ada relawan-relawan baru yang datang dari penjuru Indonesia.

“kalau pun harus pulang, ada penggantinya dari daerah lainnya di Indonesia,” tambahnya.

Kebutuhan pengungsi masih sangat banyak. Di Sembalun misalkan, warga sangat kesulitan mendapatkan beras.

“Iya masih perlu banyak bantuan, di sini beras sulit. Kami hanya panen beras merah setahun sekali.”

Selain itu, pasca ratusan gempa susulan, kata Supiadin, banyak tembok-tembok yang berjatuhan.

Dan itu yang dikhawatirkan akan mencelakakan anak-anak. Sehingga ia berharap aparat segera merobohkan dan membersihkan reruntuhan.

“Kami khawatir sama anak-anak, jadi kami berharap aparat segera melakukan survei untuk membongkar rumah kami,” pungkasnya.

Reporter: Hilman | INA

Pengungsi Lombok Utara Harus Berjalan 10 Kilometer Untuk Dapatkan Air Bersih dan Makanan

LOMBOK (Jurnalislam.com) – Para pengungsi di Lombok Utara masih kesulitan mendapatkan air bersih dan makanan pokok. Ratimi (40), salah satu pengungsi di Dusun Tanah Lilin Desa Bayan Kabupaten Lombok Utara mengaku harus berjalan berkilo-kilo meter.

“Belum ada bantuan, kami cari air sama beras jauh, 10 kilometer baru dapat,” ungkap Ratmini (40), kepada Islamic News Agency (INA), Rabu (15/8/2018).

Menurutnya, sulitnya akses jalan menuju Dusun Tanah Lilin membuat bantuan terlambat masuk ke kampungnya. Jalanan yang sempit dan retak akibat gempa hanya bisa ditempuh oleh sepeda motor.

Baca juga: Forum Me-DAN Akan Dirikan Hunian Sementara Untuk Korban Gempa di Lombok Utara

Selain krisis air dan makanan, Dusun Tanah Lilin membutuhkan tenda dan selimut. “Kami di sini kekurangan tenda sama selimut,” lanjut Ratmini.

Pengungsi Lombok Utara harus menempuh puluhan kilomeer untuk mendapatkan air bersih. FOTO: Hilman/INA

Muhammad Ali (19), putra dari Ratmini, mengaku dirinya harus menempuh jarak 10 km untuk menuju sumber mata air di Mendala, Lombok Utara.

Setiap harinya, Ali yang ditemani sang adik, Riawan Hadi (17) membawa 2 jerigen yang berisikan 40 liter air untuk sekali mandi keluarga.

“Sehari kita bawa dua jerigen air, pagi sama sore, dua kali mandi, dua kali ambil air,” kata Ali.

Hal serupa masih dialami ribuan pengungsi lainnya di Kabupaten Lombok Utara, bahkan dalam pantauan INA, warga harus berkumpul di pinggir jalan untuk meminta bantuan.

Reporter: Hilman | INA