Resmi, GNPF Ulama Dukung Prabowo-Sandi

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama secara resmi menyatakan dukungannya kepada pasangan capres dan cawapres, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno dalam Pilpres 2019. Hal tersebut dinyatakan dalam Ijtima Ulama II setelah Prabowo menandatangani Pakta Integritas yang disodorkan GNPF.

Proses penandatanganan disaksikan oleh Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan, Sekjen Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mustafa Kamal, Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon dan peserta Ijtima Ulama II.

“Semuanya sudah terselesaikan dengan baik dengan ditandatanganinya Pakta Integritas oleh calon presiden Bapak Prabowo Subianto,” kata Ketua GNPF Ulama Yusuf Muhammad Martak di Hotel Grand Cempaka, Jakarta, Ahad (16/9/2018).

Selanjutnya, kata Yusuf, GNPF Ulama dari tingkat pusat hingga daerah akan mulai mengonsolidasikan tim untuk memenangkan Prabowo-Sandi.

“Insya Allah kita akan sama-sama, semua ulama, pusat dan daerah dengan tulus ikhlas memenangkan Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno,” pungkasnya.

Tak ketinggalan, Prabowo mengucapkan terima kasih kepada GNPF Ulama atas dukungan yang diberikan yang kedua kalinya, yakni pada Ijtima Ulama I dan Ijtima Ulama II. Prabowo berjanji akan berjuang sebaik mungkin dan menjalankan amanat yang diberikan para ulama dalam Pakta Integritas.

“Ini suatu yang mengharukan bagi diri saya. Seluruh jiwa dan raga akan saya persembahkan untuk bangsa dan negara,” imbuh Prabowo.

Prabowo Tandatangani 17 Poin Pakta Integritas Hasil Ijtima Ulama II, Begini Isinya

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Prabowo Subianto menandatangani Pakta Integritas Hasil Ijtima Ulama II di Grand Cempaka Hotel, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Ahad (16/9/2018). Berikut isinya yang dimuat dalam 17 poin:

1. Sanggup melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.

2. Siap menjaga dan menjunjung nilai-nilai religius dan etika yang hidup di tengah masyarakat. Siap menjaga moralitas dan mentalitas masyarakat dari rongrongan gaya hidup serta paham-paham merusak yang bertentangan dengan kesusilaan dan norma-norma yang berlaku lainnya di tengah masyarakat Indonesia.

3. Berpihak pada kepentingan rakyat dalam setiap proses pengambilan kebijakan dengan memperhatikan prinsip representasi, proporsionalitas, keadilan, dan kebersamaan.

4. Memperhatikan kebutuhan dan kepentingan umum beragama, baik umat Islam, maupun umat agama-agama lain yang diakui Pemerintah Indonesia untuk menjaga persatuan nasional.

5. Sanggup menjaga dan mengelola Ukhuwah Islamiyah (Persaudaraan Ummat Islam), secara adil untuk menciptakan ketenteraman dan perdamaian di tengah kehidupan masyarakat Indonesia.

6. Menjaga kekayaan alam nasional untuk kepentingan sebesar-besar kemakmuran rakyat Indonesia.

7. Menjaga keutuhan wilayah NKRI dari ancaman separatisme dan imperialisme.

8. Mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina di berbagai panggung diplomatik dunia sesuai dengan semangat dan amanat Pembukaan UUD 1945.

9. Siap menjaga amanat TAP MPRS No. 25/1966 untuk menjaga NKRI dari ancaman komunisme serta paham-paham yang bisa melemahkan bangsa dan negara lainnya.

10. Siap menjaga agama-agama yang diakui Pemerintah Indonesia dari tindakan penodaan, penghinaan, penistaaan serta tindakan-tindakan lain yang bisa memancing munculnya ketersinggungan atau terjadinya konflik melalui tindakan penegakkan hukum sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

11. Siap melanjutkan perjuangan reformasi untuk menegakkan hukum secara adil tanpa pandang bulu kepada segenap warga negara.

12. Siap menjamin hak berserikat, berkumpul dan menyatakan pendapat secara lisan dan tulisan.

13. Siap menjamin kehidupan yang layak bagi setiap warga negara untuk dapat mewujudkan kedaulatan pangan, ketersediaan sandang dan papan.

14. Siap menyediakan anggaran yang memprioritaskan pendidikan umum dan pendidikan agama secara proporsional.

15. Menyediakan alokasi anggaran yang memadai untuk penyelenggaraan kesehatan rakyat dan menjaga kelayakan pelayanan rumah sakit baik pemerintah maupun swasta.

16. Siap menggunakan hak konstitusional dan atributif yang melekat pada jabatan Presiden untuk melakukan proses rehabilitasi, menjamin kepulangan, serta memulihkan hak-hak Habib Rizieq Shihab sebagai warga negara Indonesia, serta memberikan keadilan kepada para ulama, aktivis 411, 212 dan 313 yang pernah/sedang menjalani proses kriminalisasi melalui tuduhan tindakan makar yang pernah tersangkakan. Penegakan keadilan juga perlu dilakukan terhadap tokoh-tokoh yang mengalami penzaliman.

17. Menghormati posisi ulama dan bersedia untuk mempertimbangkan pendapat para ulama dan pemuka agama lainnya dalam memecahkan masalah yang menyangkut kemaslahatan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Penandatanganan dilakukan antara Prabowo Subianto dan Ketua GNPF Ulama Yusuf Martak. Hadir pula dalam penandatanganan, Ketum PAN Zulkifli Hasan dan Waketum Gerindra Fadli Zon.

JAS Jabar: Jangan Keliru, Syiah di Indonesia itu Berbahaya!

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Pimpinan Jamaah Ansharusy Syariah (JAS) wilayah Jawa Barat, ustaz Heri Susanto menegaskan, aliran Syiah yang berada di Indonesia, khususnya Jawa Barat menurut para pakar dan ulama di Indonesia merupakan Rafidhah (berbahaya-red), bukan Zaidiyah.

“Tenyata, yang ada hari ini Syiah itu adalah Syiah rafidhah, dimana mereka itu merupakan biang dan pemicu terhadap perpecahan internal kaum muslimin.”

“Bukan yang dimaksud tidak berbahaya seperti Syiah Zaidiyah,” katanya kepada Jurnalislam.com di Bandung, Sabtu (16/9/2018).

Heri mengatakan, menjadi lebih mengkhawatirkan aliran Rafidhah ini untuk menjerumuskan umat Islam karena mempunyai ajaran Taqiyah (bermuka dua).

“Mereka sudah berani tampil di halayak umum dengan atribut dan acara yang menunjukan bahwa mereka itu adalah syiah rafidhah,” paparnya.

Oleh sebab itu, ia mengimbau, masyarakat jangan mudah percaya dengan isu perpecahan kaum muslimin yang dibawakan oleh mereka, seperti isu Wahabi dan sebagainya.

“Kemudian yang mengisukan tentang bagaimana perpecahan dengan mengangkat isu wahabi ternyata syiah di belakang ini, jadi banyak kaum muslimin yang terjebak dengan urusan ini,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, di setiap tahunnya pada tanggal 10 Muharram para penganut (ajaran) Syi’ah merayakan hari duka cita. Konon perayaan tersebut ditujukan sebagai bukti kecintaannya kepada Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhuma yang menjadi cucu Nabi Shallahu ‘alaihi Wassallam dengan cara menyiksa diri sendiri sampai berlumuran darah.

Ansharusyariah Jabar Ajak Ormas Islam Bersatu Hadang Syiah

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Antisipasi terhadap perayaan peringatan Hari Asyura Syiah yang dilakukan setiap tanggal 10 Muharram terus dilakukan oleh ormas-ormas Islam di Jawa Barat. Hal ini dilakukan sebagai implementasi dari fatwa MUI tahun 1984 yang menegaskan bahwa paham Syiah adalah aliran terlarang yang harus diwaspadai.
Jamaah Ansharusy Syariah Jawa Barat menegaskan, pihaknya akan terus berupaya menghadang pergerakan kelomok Syiah, termasuk menolak perayaan Hari Asyura.
“Ansharusy Syariah ini akan berupaya dengan sekuat tenaga terutama menjalin tansik bainal muslimin, untuk sama-sama berupaya untuk menghadap atau istilahnya meniadakan terkait dengan acara-acara ini, karena memang itu akan banyak lagi menyesatkan umat,” kata Ketua Ansharusyariah Jawa Barat Ustadz Heri Susanto kepada Jurnalislam.com, Sabtu (15/9/2018).

Ustadz Heri menjelaskan, Syiah adalah aliran sesat yang mengaku sebagai bagian dari agama Islam. Padahal, kata dia, mereka sangat bertolak belakang dengan Islam.

Ia menambahkan, kelompok Syiah di beberapa negara di Timur Tengah saat ini sedang membantai umat Islam, seperti di Suriah dan Irak.

“Suriah itu adalah ‘ukud darul mu’minin’ ibukotanya orang-orang beriman, entah berapa nyawa umat Islam yang melayang oleh Syiah Rafidhah dan Nushairiyah di sana.

Oleh karena itu, pihaknya akan selalu bersinergi dengan ormas-ormas Islam lainnya untuk menghadang segala bentuk aktifitas Syiah di Indonesia. Karena pada hakikatnya, lanjut dia, membiarkan kelompok Syiah di Indonesia sama halnya dengan memberikan legitimiasi atas apa yang mereka lakukan terhadap umat Islam di Suriah.

“Ansharusy Syariah memberikan apresiasi yang sangat positif kepada ikhwan-ikhwan dari berbagai tandzim, dari berbagai ormas dan sekaligus mengajak kepada kaum muslimin seluruhnya secara umum wabil khusus jawa barat untuk sama-sama menjegal terjadinya perayaan hari ‘idul ghadir, ayyamu as-asyuro hari raya mereka,” paparnya.

Untuk diketahui, Jawa Barat merupakan salah satu basis terbesar pergerakan kelompok Syiah di Indonesia. Perayaan hari-hari besar mereka seperti Idul Ghadir dan Asyura kerap dilakukan dengan terbuka di Kota Bandung. Pada tahun 2016 misalnya, mereka merayakan Hari Asyura di Stadion Sidolig Kota Bandung dengan ribuan massa yang datang dari seluruh Indonesia.

LBH Pelita Umat Desak Aparat Tangkap Pelaku Persekusi Gus Nur di Karanganyar

SOLO (Jurnalislam.com) – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pembela Islam Terpercaya (Pelita Umat) ikut menanggapi kasus persekusi yang dilakukan sekelompok oknum dari ormas Banser dan Pagar Nusa di Masjid Al Huda Talpitu, Karangpandan, Karanganyar, Jum’at (15/9/2018) lalu.

Ketua LBH Pelita Umat, Ahmad Khozinudi mendesak aparat kepolisian untuk segera melakukan tindakan penyelidikan dan mengusut tuntas pelaku pembubaran pengajian.

“Serta segera melakukan langkah-langkah untuk segera membuat rekomendasi pembubaran ormas dan memproses secara pidana terhadap ormas yang telah melakukan tindakan kekerasan dan mengambil alih peran dan fungsi penegak hukum,” ungkapnya dalam pesan siar yang diterima Jurnalislam.com, Sabtu (16/9/2018).

“Sebagaimana diatur dalam pasal 59 ayat (3) huruf c dan d, Jo. Pasal 60, UU No. 16 tahun 2017 tentang Pengesahan Perppu No. 2 tahun 2017 tentang Perubahan UU No 17 Tahun 2013 Tentang Ormas menjadi UU. Aparat penegak hukum, wajib menjamin keamanan dan memberi rasa aman setiap warga negara dalam menjalankan aktivitas dakwah yang telah dijamin konstitusi,” imbuh Ahmad.

Lebih lanjut, Ahmad meminta agar oknum dari Banser dan Pagar Nusa tersebut menghentikan persekusi terhadap sejumlah penceramah yang mereka anggap tak sejalan dengan ideologi Pancasila. Menurutnya, jika memang isi ceramah dari Gus Nur tersebut dianggap tak sejalan dengan Pancasila, maka kewenangan polisilah yang berhak menghentikan kegiatan pengajian tersebut.

Ahmad juga meminta pengurus Banser dan Pagar Nusa Karanganyar untuk meminta maaf di hadapan publik atas tindakan persekusi itu.

“Mengutuk dan mengecam keras tindakan pembubaran pengajian yang dilakukan oleh Oknum Ormas Banser dan Pagar Nusa, dan segera meminta Pengurus Ormas Banser dan Pagar Nusa untuk memberi klarifikasi sekaligus meminta maaf secara terbuka dihadapan publik,” paparnya

Kendati marak persekusi terhadap beberapa penceramah, Ahmad menghimbau kepada segenap elemen masyarakat untuk tidak menghentikan aktivitas dakwah Islam, Dan tidak melakukan pembatalan pengajian karena aktifitas keagaman dilindungi oleh undang-undang di Indonesia.

“Karena adanya ancaman dari segerombolan oknum ormas yang tidak paham hukum dan konstitusi. Umat Islam tidak boleh takut untuk menjalankan aktivitas dakwah Islam atas adanya kejadian ini,” tandasnya.

Ceramah di Karanganyar, Gus Nur Mengaku Sempat Dipersekusi Banser

SOLO (Jurnalislam.com) – Persekusi terhadap para penceramah kembali terjadi. Kali ini dialami oleh da’i asal Jawa Timur, Sugi Nur Raharja alias Gus Nur. Ia mengaku dirinya didatangi sekelompok dari ormas yang mengaku Banser saat memberikan ceramahnya di Masjid Al Huda Talpitu, Karangpandan, Karanganyar, Jum’at, (14/9/2018) malam.

Ditemui Jurnalislam.com di Syariah Hotel, Solo, Gus Nur menceritakan kronologi kejadian persekusi tersebut, ia menjelaskan, bahwa pagi sebelum berlangsungnya kajian sudah ada oknum Banser yang meminta Gus Nur membatalkan ceramahnya tersebut.

“Pagi itu ada satu atau dua oknum Banser datang ke polsek Karangpandan, intinya pengajian Cak Nur harus dibatalkan atau minimal diganti pematerinya, terus kemudian panitia ngotot tidak bisa dibatalkan ataupun diganti, akhirnya terjadi nego intinya tetap jalan,” kata Gus Nur mengawali cerita.

Tiba waktunya malam, lanjut Gus Nur, sampai di lokasi bertemu dengan pak Kapolsek. “Dan Tabligh seperti biasanya, Masjid penuh, dan jamahnya blundak sampai keluar, tapi ditengah tengah ceramah, laskar meneriakan yel yel perjuangan,” sambungnya.

Gus Nur juga mengatakan, kalau dirinya bersama tim sudah mengira akan kedatangan ormas tertentu yang akan membuat rusuh dalam kajiannya.

“Dan itu sudah kita prediksi, karena sebelumnya sudah ada info yang masuk akan ada Pagar Nusa ngluruk(datangi rame rame-red), akan ada ormas ormas yang asing ngumpul beberapa kilo dari lokasi, macem macem, infonya sudah masuk,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia membantah tuduhan yang mengatakan ceramahnya profokatif dan menyudutkan pihak tertentu, Gus Nur menegaskan, jika dalam ceramahnya di Masjid Al Huda Talpitu itu tidak membahas soal politik.

“Tapi pengajian itu sendiri aman, kan ini yang sering digoreng sama orang yang tidak sukalah, ditolak masyarakatlah, ceramahnya radikallah, bahasanya kan gitu, intoleran. Tidak masyarakatnya penuh, semuanya penuh, kita sendau gurau, kita khusuk, kita akrab, kita juga cair, materinya yang dibahas hakikat hijrah,” ujarnya.

“Karena masyarakat disitu itu infonya yang masuk ke saya masih primitif, masih suka sikep, jimat, keris, dan lain lain, jadi ini sudah ada pesanan dari panitia,” tandas Gus Nur.

Militer Zionis Hancurkan Sebuah Desa Palestina ‘Khan al-Ahmar’

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Militer zionis Yahudi telah menutup semua jalan menuju desa Badui di Tepi Barat yang dijajah Israel yang terancam pembongkaran.

Langkah pada hari Jumat (14/9/2018) tersebut terjadi beberapa hari setelah Mahkamah Tinggi  Israel memberikan lampu hijau bagi tentara untuk meruntuhkan desa Khan al-Ahmar dan mengusir 180 penduduknya untuk membuat jalan bagi pembangunan permukiman illegal Yahudi.

Abdullah Abu Rahma, seorang pejabat lokal Palestina, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa buldoser tentara zionis telah memblokir semua jalan menuju desa, yang terletak di dekat Yerusalem Timur, dengan gundukan besar tanah.

Puluhan penduduk lokal dan aktivis solidaritas berusaha menjaga jalan tetap terbuka, menurut Abu Rahma.

Baca juga: 

Penjajah Israel juga terus membongkar gubuk-gubuk metal yang telah didirikan oleh para aktivis yang memprotes rencana pembongkaran.

Pasukan Israel juga “mendirikan gerbang-gerbang logam besar, semacam penghalang semi permanen, yang dapat dibuka dan ditutup sesuka hati,” kata reporter Al Jazeera Harry Fawcett, melaporkan dari Khan al-Ahmar.

Warga Palestina hadang buldoser
Warga Palestina hadang buldoser

“Sepertinya kegiatan pagi ini adalah tentang tahap persiapan terakhir menjelang pembongkaran ini,” Fawcett menjelaskan.

Rencana Israel untuk menghancurkan desa dan merelokasi penduduknya secara paksa telah dikritik oleh Palestina dan menarik kecaman internasional.

Pada hari Kamis, Parlemen Eropa mengeluarkan resolusi yang menyerukan keputusan Israel untuk menghancurkan Khan al-Ahmar dan dengan paksa menghapus penduduknya sebagai  bentuk pelanggaran hukum humaniter internasional.

Petisi untuk membalikkan perintah pembongkaran ditolak oleh pengadilan tinggi Israel, yang setuju dengan pemerintah Israel yang beralasan bahwa desa itu dibangun tanpa izin yang tepat.

Palestina mengatakan bahwa izin bangunan yang diperlukan tidak mungkin diperoleh.

Baca juga: 

Penduduk desa adalah anggota suku Bedouin Jahalin yang diusir dari tanah mereka di gurun Naqab (Negev) oleh militer Israel pada 1950-an. Mereka mengungsi dua kali lebih banyak sebelum mereka menetap di Khan al-Ahmar, jauh sebelum pemukiman ilegal di sekitarnya ada.

Komunitas kecil yang terdiri dari 40 keluarga tinggal di tenda-tenda dan gubuk-gubuk di Area C menurut Persetujuan Oslo 1993, yang menyumbang 60 persen dari Tepi Barat dan berada total di bawah kendali administrasi dan militer Israel.

Penjajah Israel mengusir 10.000 warga Badui dari Zona E1, yang menduduki tanah seluas 15 km persegi di Yerusalem Timur, untuk membuat jalan bagi serangkaian unit perumahan baru khusus Yahudi yang menghubungkan Yerusalem ke pemukiman ilegal Maale Adumim.

Aktivis mengatakan bahwa pembangunan permukiman illegal lanjutan di daerah itu pada akhirnya akan membagi Tepi Barat yang diduduki menjadi dua, dan menjadi pukulan mematikan bagi harapan solusi dua negara yang tersisa.

Kembali di Khan al-Ahmar, Fawcett menjelaskan bahwa rencana Israel adalah agar warga desa “dipindahkan ke kota satelit di pinggiran timur Yerusalem Timur yang diduduki yang disebut Abu Dis”.

Serangan Taliban Tewaskan Puluhan Pasukan Afghanistan Bentukan AS

AFGHANISTAN (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 37 orang telah tewas dalam serangan malam hari di empat provinsi Afghanistan, kata para pejabat.

Dua puluh sembilan polisi dan anggota tentara nasional Afghanistan bentukan AS tewas dalam serangan pejuang Imarah Islam Afghanistan (Taliban) di provinsi barat Farah, kepala dewan provinsi, Farid Bakhtwar, mengatakan.

Pejuang Taliban menyerang beberapa pos pemeriksaan di pinggiran kota Farah Kamis (12/9/2018) malam, serta di tiga distrik lainnya, menyebabkan sedikitnya enam orang terluka, menurut pejabat itu, Aljazeera melaporkan Jumat (14/9/2018).

Di provinsi utara Samangan, sekelompok orang bersenjata menyerang pos keamanan di distrik Dara Suf, yang memicu pertempuran senjata selama berjam-jam.

Baca juga: 

Pejabat setempat mengatakan bahwa sedikitnya enam anggota pasukan militer tewas, termasuk petugas polisi.

Sedikitnya 14 orang terluka dalam serangan itu, anggota dewan provinsi, Safiullah Samangani mengatakan kepada kantor berita DPA.

Awal bulan ini, 14 orang tewas dan enam orang terluka dalam serangan Taliban di pos pemeriksaan polisi di distrik yang sama.

Sementara itu, warga sipil kembali terperangkap dalam pertempuran, dengan pejabat melaporkan dua orang tewas akibat baku tembak keduabelah pihak di distrik Jalrez di provinsi Maidan Wardak tengah.

Baca juga: 

Kedua korban adalah pegawai pemerintah dari provinsi tetangga Bamyan, anggota dewan provinsi, Sardar Bakhtyari dan Khawani Sultani, mengatakan.

Taliban telah merebut beberapa distrik di seluruh negeri dalam beberapa tahun terakhir dan melakukan serangan hampir setiap hari yang menargetkan pasukan militer Afghanistan.

Pada bulan Agustus, para pejuang Taliban melancarkan serangan ke kota Ghazni dalam serangan yang berlangsung selama lima hari.

Serangan itu secara luas dilihat sebagai unjuk kekuatan oleh Taliban sebelum rencana pembicaraan perdamaian dengan AS, yang telah ikut berperang di Afghanistan selama hampir 17 tahun.

Turki: Penyelesaian di Idlib dengan Solusi Politik Bukan Militer

ISTANBUL (Jurnalislam.com) – Juru bicara kepresidenan Turki pada hari Jumat (14/9/2018) mengatakan merupakan kepercayaan umum dari semua orang bahwa harus ada solusi politik dan bukan solusi militer di provinsi Idlib barat laut Suriah.

Berbicara kepada wartawan setelah pertemuan persiapan dengan perwakilan Prancis, Jerman dan Rusia untuk pertemuan puncak empat pihak mendatang di Suriah, Ibrahim Kalin mengatakan mereka mengharapkan pemeliharaan status Idlib saat ini, perlindungan warga sipil, dan pencegahan krisis kemanusiaan di sana.

“Poin umum dari semua orang adalah bahwa solusinya harus lebih bersifat politik daripada militer,” katanya, lansir Anadolu Agency.

Kalin mengatakan, kunjungan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan ke kota Rusia Sochi dan upaya-upaya setelahnya sangat penting.

Baca juga: 

“Turki mengharapkan dukungan yang lebih terbuka dan langsung dari komunitas internasional dan para pemimpin,” tambah Kalin.

Sejak awal September, sedikitnya 30 warga sipil tewas di Idlib dan Hama, dan puluhan juga terluka, akibat serangan udara dan serangan brutal pesawat tempur rezim Assad dan Rusia, menurut lembaga pertahanan sipil White Helmets.

Baca juga: 

Rezim Syiah Suriah baru-baru ini mengumumkan rencana untuk meluncurkan serangan militer besar-besaran ke daerah itu, yang lama dikendalikan oleh berbagai kelompok oposisi bersenjata.

PBB memperingatkan bahwa serangan semacam itu akan mengarah pada “bencana kemanusiaan terburuk di abad ke-21.”

Bocah Palestina Gugur Ditembak di Kepala oleh Tentara Zionis dalam Aksi Jumat

GAZA (Jurnalislam.com) – Sedikitnya tiga warga Palestina, termasuk seorang anak, terbunuh  pada hari Jumat (14/9/2018) oleh tembakan tentara  penjajah Israel di dekat zona penyangga Gaza – Israel.

Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan seorang anak lelaki berusia 14 tahun – yang namanya tidak disebutkan – meninggal seketika setelah ditembak di kepala oleh pasukan Israel di sebelah timur kota Jabalia.

Sementara itu, di timur Khan Yunis, seorang pria muda Palestina – juga belum diidentifikasi – menderita luka tembak yang fatal, menurut kementerian.

Delapan warga Palestina lainnya, termasuk tiga anak-anak, dilaporkan terluka oleh tembakan tentara Israel di tempat lain di sepanjang zona penyangga.

Baca juga: 

Mohammad Shaqqura, 21, juga menjadi martir setelah terkena peluru di dada di kamp pengungsi Maghazi di Jalur Gaza, yang terletak di Deir al-Balah Governorate, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.

Pada hari Jumat, warga Palestina berkumpul di daerah perbatasan untuk mengambil bagian dalam aksi unjuk rasa pekanan melawan penjajahan Israel selama puluhan tahun.

Sejak demonstrasi dimulai pada 30 Maret, puluhan warga Palestina telah menjadi martir – dan ribuan lainnya terluka – oleh pasukan zionis yang ditempatkan di sepanjang sisi lain dari zona penyangga.

Baca juga: 

Para pengunjuk rasa menuntut “hak untuk kembali” ke rumah dan desa mereka di Palestina sejak mereka diusir pada tahun 1948 untuk memberi jalan bagi negara baru Israel.

Mereka juga menuntut diakhirinya blokade 11 tahun oleh zionis Yahudi di Jalur Gaza, yang telah menghancurkan ekonomi wilayah pesisir dan merampas banyak komoditas dasar bagi lebih dari dua juta penduduknya.