Generasi Milenial Lebih Suka Kerja di Bidang Digital

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Menteri Keuangan, Sri Mulyani, mengatakan saat ini generasi milenial lebih tertarik bekerja di perusahaan digital, terutama yang sudha berstatus unicorn. Kecenderungan ini karena perusahaan digital memiliki prospek masa depan yang baik untuk mengembangkan karier.

“Kalau berbicara dengan anak milenial, pekerjaan yang diharapkan mereka ingin kerja di perusahaan digital besar seperti Tokopedia. Karena memiliki luxury yang most potential,” ujar Sri Mulyani di Jakarta, Kamis (10/10/2019).

Mantan direktur pelaksana Bank Dunia ini menambahkan, hal ini seiring pertumbuhan pesat industri digital Indonesia, yang merupakan salah satu yang tercepat di dunia. Bahkan, saat ini, nilai ekonomi digital Indonesia sudah mencapai USD40 miliar.

Tahun 2025 mendatang, ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai USD130 miliar.

“Indonesia salah satu negara di dunia, dimana gross ekonomi digitalnya termasuk tercepat setiap tahunnya. Ini angka yang menakjubkan. Kalau kita bicara ada satu sektor ekonomi yang bisa tumbuh USD40 miliar di hari gini adalah sesuatu yang luar biasa,” jelasnya.

Untuk itu, Sri Mulyani menekankan akan terus memajukan perusahaan digital karena bisa meningkatkan ekonomi Indonesia.

“Kemenkeu menganggap perusahaan digital adalah mitra yang kita harapkan bisa sama-sama memajukan perekonomian Indonesia,” tandasnya.

Sumber: sindonews.com

Pasca Penyerangan Wiranto, Megawati Minta Kader PDIP Waspada

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri menyatakan prihatin atas peristiwa penyerangan terhadap Menko Polhukam, Wiranto.

“Saya prihatin mendengar kabar peristiwa penyerangan terhadap Pak Wiranto. Saya mengecam aksi penyerangan tersebut. Saya berharap aparat kepolisian bisa menyelidiki motivasi pelaku melakukan penyerangan,” kata Megawati di Jakarta, Jumat (11/10/2019).

Presiden kelima RI itu mengaku terkejut atas insiden penyerangan itu. Sehingga, ia berharap, kasus tersebut tak bisa dibiarkan atas nama apa pun.

“Kita tidak mentolerir aksi kekerasan. Semoga Pak Wiranto segera sembuh dan bisa beraktivitas kembali,” lanjut Megawati.

Terkait insiden penusukan ini, Megawati menghimbau segenap kader PDIP untuk tetap tenang dan waspada menjaga lingkungan masing-masing.

“Kader PDIP diminta untuk tenang dan waspada,” pungkas Megawati.

Diberitakan sebelumnya, Wiranto diserang dua orang dengan menggunakan belati.

Atas kejadian tersebut, mantan Menhankam Pangab itu harus menjalani operasi akibat tusukan benda tajam di RSPAD Gatot Subroto.

Sumber: sindonews.com

Ratusan Pemukim Yahudi Serbu Masjid Al-Aqsa, 5 Warga Palestina Ditangkap

ALQUDS (Jurnalislam.com) – Tentara penjajah Israel menangkap lima warga Palestina di Gerbang Al-Raha, Kompleks Masjid Al-Aqsa, Kamis (10/10/2019) kemarin.

Kantor berita Palestina Safa melaporkan, semua orang yang menyaksikan peristiwa itu dilarang untuk mendokumentasikan apapun.

Peristiwa itu dipicu oleh ratusan pemukim Yahudi yang dikawal polisi Israel menyerbu kompleks Al-Aqsa dari Gerbang Al-Mughrabi dan bertindak provokatif.

“Sekitar 159 pemukim Yahudi memasuki kompleks Al-Aqsa,” kata Otoritas Wakaf Keagamaan Jerusalem (sebuah lembaga yang dikelola Jordania untuk mengawasi situs Muslim dan Kristen di Al-Quds) dalam sebuah pernyataan.

Direktur Masjid Al-Aqsa Sheikh Omar Al-Kiswani mengatakan kepada Safa: “Ada hasutan yang jelas oleh Israel, dan program sistematis untuk mengubah realitas di Al-Aqsa dan memaksakan realitas baru di dalamnya dengan kekuatan bersenjata.”

Dilaporkan juga bahwa telah terjadi “peningkatan eskalasi” dalam kunjungan pemukim Yahudi Israel dan “seruan ekstremis untuk menyerbu Al-Aqsa selama liburan Yahudi di tengah pembatasan ketat yang diberlakukan oleh otoritas pendudukan di Palestina.”

Gerbang Al-Rahma (Gerbang Rahmat), sebuah aula besar yang merupakan bagian dari Gerbang Al-Dhahabi (Gerbang Emas), ditutup dengan rantai dan kunci oleh pasukan Israel pada tahun 2003 selama Intifada Kedua.

Pada bulan Februari tahun ini, ratusan jamaah Palestina memprotes penutupan dan memasuki Gerbang Al-Rahma, membuka kembali gerbang dan berdoa di dalamnya.

Israel merespons dengan menangkap sekitar 60 warga Palestina dari rumah mereka, dan menahan Kepala Wakaf Yerusalem Syekh Abdel Azeem Salhab dan wakilnya Sheikh Najeh Bkeirat.

Hanya Karena Bepergian, 30 Warga Rohingya Ditangkap Aparat Myanmar

Pemerintah Myanmar menangkap dan memenjarakan 30 warga Rohingya yang hendak pergi ke Yangon, termasuk seorang anak 5 tahun

RAKHINE (Jurnalislam.com) – Human Rights Watch (HRW) mendesak pihak berwenang Myanmar harus segera membebaskan 30 Muslim Rohingya yang ditahan karena berusaha melakukan perjalanan dari Negara Bagian Rakhine ke kota Yangon. Pemerintah harus mencabut semua pembatasan perjalanan pada etnis Rohingya dan mencabut peraturan diskriminatif yang membatasi hak mereka untuk bebas bergerak.

Polisi menangkap 30 warga Rohingya pada 26 September 2019. Seminggu kemudian, pengadilan menjatuhkan hukuman 21 tahun penjara kepada mereka, dan mengirim delapan anak ke pusat penahanan anak. Termasuk, seorang anak berusia 5 tahun, ditahan di penjara Pathein bersama ibunya.

“Pemerintah Myanmar tampaknya berniat menganiaya Rohingya tak peduli mereka tinggal di rumah atau mencoba melakukan perjalanan bebas di negara itu,” kata Brad Adams, direktur HRW Asia.

“30 pria, wanita, dan anak-anak ini dihukum karena hanya mencari pelarian dari kebrutalan sehari-hari yang telah mereka alami selama bertahun-tahun,” sambungnya.

Laporan media setempat mengatakan, 30 warga Rohingya ditangkap dengan dalih bepergian tanpa izin resmi dan dokumentasi.  Mereka ditangkap setelah tiba di Wilayah Ayeyarwady dengan kapal dari kota Sittwe di Negara Bagian Rakhine tengah. Mereka itu sedang dalam perjalanan ke Yangon untuk mencari pekerjaan atau berusaha untuk melanjutkan ke Malaysia.

Pada tanggal 4 Oktober, Pengadilan Kotapraja Ngapudaw menjatuhkan hukuman dua tahun penjara bagi 21 etnis Rohingya dan tidak diberi akses ke perwakilan hukum. Mereka dihukum berdasarkan bagian 6 (3) dari Undang-Undang Registrasi Penduduk Burma tahun 1949, yang dijatuhi hukuman maksimal dua tahun.

Rohingya sering menghadapi penangkapan dan penuntutan karena berusaha melakukan perjalanan antara kota-kota kecil atau di luar Negara Bagian Rakhine.

Delapan diantaranya adalah anak-anak yang kemudian dikirim ke “sekolah pelatihan” di kota Kawhmu, Wilayah Yangon, di mana keluarga mereka dilarang mengunjungi mereka. Radio Free Asia melaporkan bahwa “belum ada keputusan” tentang anak berusia 5 tahun itu.

“Itu adalah kekejaman yang sangat ironi, sebelumnya orang-orang Rohingya ini ditahan di penjara terbuka di Negara Bagian Rakhine dan sekrang akan dipenjara di Pathein,” kata Adams.

“Pemenjaraan mereka merupakan tanda yang jelas bagi PBB dan pemerintah asing yang mendorong kembalinya pengungsi Rohingya dari Bangladesh bahwa Myanmar tidak berminat untuk memberikan kebebasan fundamental bagi populasi Rohingya,” tutupnya.

PBNU Minta Penyerangan Wiranto Tak Dikaitkan dengan Islam

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bidang Hukum, HAM, dan Perundang-undangan, Robikin Emhas, menyatakan apa pun motif dan alasannya, penyerangan terhadap Menko Polhukam Wiranto tidak bisa dibenarkan.

“Sehingga yang diserang adalah simbol negara. Itu artinya, yang diserang hakikatnya adalah keamanan negara, keamanan masyarakat,” katanya saat dihubungi Jurnalislam.com, Kamis (10/10/2019).

Menurutnya, segala macam tindakan kekerasan bukan merupakan ajaran. Oleh karena itu jangan ada yang mengaitkan dengan agama.

“Jangan ada yang mengaitkan dengan Islam. Karena Islam adalah agama damai, rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil alamin),” pungkasnya.

Robikin menjelaskan, Islam mengutuk segala bentuk kekerasan. Bahkan tidak ada satu pun agama di dunia ini yang membenarkan cara-cara kekerasan dalam mencapai tujuan.

“Untuk itu saya mendukung penuh upaya dan langkah-langkah aparat keamanan untuk mengusut cepat dan tuntas motif, pola, serta gerakan yang memicu terjadinya peristiwa tersebut,” tuturnya.

Ia mengajak semua pihak mengambil pelajaran berharga dari peristiwa ini. Termasuk hati-hati mencari referensi, mengambil guru.

“Jangan berguru pada media sosial dan kelompok eksklusif. Cari lembaga pendidikan yang sudah terbukti mengajarkan nilai-nilai agama yang moderat dan toleran,” katanya.

MUI Heran Apa yang UGM Takutkan dari Sosok UAS

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas ikut menanggapi penolakan kampus UGM yang melarang Ustaz Abdul Somad (UAS) berceramah.

Anwar Abbas merasa heran mengapa kehadiran UAS untuk menyampaikan kuliah umum di Masjid UGM dibatalkan.

“Sebagai sesama akademisi, apa yang harus mereka takutkan dengan UAS,” katanya saat dihubungi Jurnalislam.com, Kamis (10/10/2019).

Ketua PP Muhammadiyah menilai, pandangan UAS tidak ada yg bertentangan dengan pancasila dan UUD 1945.

Kalau adanya masalah perbedaan pilihan dalam pilpres yang lalu seharusnya juga tidak mesti menjadi masalah.

“Negara ini kan negara demokrasi jadi sah-sah saja orang punya pilihan yang berbeda dengan kita dan kita harus menghormati hal tersebut,” ujarnya.

Menurutnya, dunia kampus harus membuka diri dan jangan tertutup seperti itu.

Kecuali kalau yang bersangkutan memang punya pandangan yang akan merusak pancasila uud 1945 dan NKRI.

Pengamat: Sakiti Hati Rakyat Bisa Memotivasi Mereka Nekat Serang Pejabat

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pengamat terorisme Harits Abu Ulya menilai insiden penyerangan warga terhadap Menkopolhukam Wiranto boleh jadi karena sikap Wiranto sendiri yang dianggap sebagian rakyat menyakiti hati nurani mereka.

“Selama ini publik gelisah dan berharap agar para pejabat atau penguasa bisa bisa kontrol diri tidak keluarkan kebijakan atau statemen yang menyakiti hati nurani rakyat,” kata Harits kepada Jurnalislam.com, Kamis (10/10/2019).

“Jika tidak, bisa-bisa memotivasi warga atau rakyat berbuat nekat  menyerang pejabat,” tambahnya.

menilai insiden penyerangan warga terhadap Menkopolhukam Wiranto boleh jadi karena ada orang yang memang membenci Wiranto karena apa yang dia perbuat.

Misalnya, bisa saja ucapan dan kebijakan Wiranto dianggap menyinggung sebagian masyarakat sehingga orang tersebut melampiaskannya kepada Wiranto.

“Bisa saja itu pelakunya adalah orang-orang yang secara personal benci kepada wiranto sebagai Menkopolhukam yang selama ini di anggap membuat statemen politik yang tidak nyaman disebagian nalar dan nurani publik,” pungkasnya.

Ada Pihak yang Dinilai Ngebet Tunggangi Kriminalitas terhadap Wiranto ke Isu Terorisme

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pengamat terorisme Harits Abu Ulya menilai bahwa tindak kriminal terhadap Menkopolhukam Wiranto rentan ditunggangi dan di arahkan ke isu terorisme.

Seharusnya, menurut Harits, pelaku kriminal ditindak sesuai ketentuan hukum, dibawa ke persidangan.

“Jadi kita proporsional saja, pelaku kriminal penyerangan di bawa ke meja hijau dan di adili,” kata dia kepada Jurnalislam.com, Kamis (10/10/2019).

Menurutnya, tindakan kriminal ini bisa saja di arahkan ke isur terorisme.

“Bisa saja oleh sebagian pihak yang ngebet menyeret ke arah isu “isis”,”teroris” dan sebagainya,” katanya.

“Bahkan bisa saja di dramatisasi dengan narasi yang bombastis sesuai kepentingan politik yang menunggangi kasus kriminal ini,” ungkapnya.

Soal Penyerangan, Pengamat: Sebagian Publik Tak Nyaman atas Sikap Wiranto

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pengamat terorisme Harits Abu Ulya menilai insiden penyerangan warga terhadap Menkopolhukam Wiranto boleh jadi karena ada orang yang memang membenci Wiranto karena apa yang dia perbuat.

Misalnya, bisa saja ucapan dan kebijakan Wiranto dianggap menyinggung sebagian masyarakat sehingga orang tersebut melampiaskannya kepada Wiranto.

“Bisa saja itu pelakunya adalah orang-orang yang secara personal benci kepada wiranto sebagai Menkopolhukam yang selama ini di anggap membuat statemen politik yang tidak nyaman di sebagian nalar dan nurani publik,” kata Harits kepada Jurnalislam.com, Kamis (10/10/2019).

Ia menilai, boleh jadi kasus kriminal ini seolah menjadi sangat penting karena yang diserang adalah seorang pejabat menteri meski jelang titik akhir jabatannya.

“Tapi jika di bandingkan dengan kasus atau tragedi lainnya yang menimpa rakyat, maka apa yang di alami Wiranto suatu hal yang kecil. Rakyat banyak menderita; pengungsi gempa Ambon, pengunsi dan korban penyerangan di Wamena,” pungkasnya.

 

Jumat Besok, Wapres Akan Resmikan Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Wakil Presiden M Jusuf Kalla, Jumat 11 Oktober, rencananya akan meresmikan Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah dan Masjid Baitul Karim yang terletak di jalan Cipinang Cempedak I No 14, Jakarta Timur. Kepastian acara peresmian ini diungkap oleh Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ir Candra Kurnianto.

“Kemarin (Selasa, 8 Oktober 2019) kami sudah bersilaturahim ke kantor Wapres, dan Pak JK (Jusuf Kalla) insya Allah bisa datang meresmikan gedung ini,” jelas Candra ketika dihubungi Rabu (9/10).

Acara peresmian ini juga dihadiri oleh Pimpinan Umum Hidayatullah, Ust Abdurrahman Muhammad, Ketua Umum DPP Hidayatullah Dr Nashirul Haq, para ulama dan tokoh masyarakat, serta seluruh ketua DPW Hidayatullah dari 34 propinsi di Indonesia.

Acara peresmian akan dimulai pukul 10.00 hingga tiba waktu shalat Jumat. “Pak JK (Jusuf Kalla) rencananya akan shalat Jumat di Masjid Baitul Karim,” kata Candra lagi. Yang bertindak sebagai khatib adalah Menteri Agraria dan Tata Ruang Indonesia, Dr. Sofyan A. Djalil.

Masjid Baitul Karim adalah masjid berkapasitas sekitar 400 jamaah yang terdapat di lantai 1 Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah. Selain masjid, di gedung ini juga terdapat ruang pertemuan dan ruang produksi konten-konten publikasi untuk sarana dakwah.

Gedung ini, menurut Candra, akan betul-betul difungsikan untuk kegiatan dakwah. Di gedung ini akan berlangsung proses belajar dan mengajar al-Quran, pelayanan konsultasi keluarga, kajian keislaman, dan tempat pertemuan para tokoh Islam guna membicarakan solusi atas persoalan umat.

Gedung berlantai 4 ini berdiri di areal seluas 6 ribu meter per segi. Pembangunan gedung ini dimulai pada Februari 2018. Peletakan batu pertama ketika itu dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

Hidayatullah, kata Candra, telah menetapkan kegiatan-kegiatan dakwah dan pendidikan sebagai program arus utama organisasi. Program dakwah dilakukan oleh para dai yang tersebar di 352 DPD Hidayatullah, sedang program pendidikan telah dijalankan oleh seluruh penyelenggara pendidikan Hidayatullah, dari tingkat SD hingga perguruan tinggi.