Jokowi Kenalkan 12 Wakil Menteri, Ini Nama-namanya

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah memilih 12 wakil menteri untuk membantu tugasnya. Jokowi memperkenalkan mereka dengan cara yang sama seperti mengumumkan menteri-menteri Kabinet Jilid II yaitu lesehan di tangga.

Pengenalan para wakil menteri ini dilakukan di tangga bagian dalam Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Jumat (25/10/2019). Para wakil menteri itu duduk lesehan bersama Jokowi-Ma’ruf Amin.

Wakil menteri pria terlihat mengenakan kemeja putih dan dasi. Sementara wakil menteri wanita terlihat mengenakan kebaya.

Berikut nama para wakil menteri yang sebelumnya dipanggil Jokowi ke Istana:

1. Wakil Menteri Luar Negeri: Mahendra Siregar (Dubes RI untuk AS)

2. Wakil Menteri Pertahanan: Sakti Wahyu Trenggono (Pengusaha/Bendahara Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf)

3. Wakil Menteri Agama: Zainut Tauhid (Politikus senior PPP/Waketum MUI)

4. Wakil Menteri Keuangan: Suahasil Nazara (Kepala Badan Kebijakan Fiskal)

5. Wakil Menteri PUPR: John Wempi Wetipo (Politikus PDIP)

6. Wakil Menteri LHK: Alue Dohong (Deputi Badan Restorasi Gambut)

7. Wakil Menteri Perdagangan: Jerry Sambuaga (Politikus Golkar)

8. Wakil Menteri Desa PDTT: Budi Arie Setiadi (Ketum Projo)

9. Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang: Surya Tjandra (Politikus PSI)

10. Wakil Menteri BUMN: Budi Sadikin (Direktur Utama Mining Industry Indonesia)

11. Wakil Menteri BUMN: Kartika Wirjoatmojo (Direktur Utama Bank Mandiri)

12. Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif: Angela Tanoesoedibjo (Pengusaha/Perindo)

sumber:detik.com

KH Ma’ruf Amin Diharap Perkuat Sektor Ekonomi Syariah

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menilai Wakil Presiden Ma’ruf Amin memiliki komitmen dan kekuatan pemikiran yang luar biasa, salah satunya sektor ekonomi syariah. Ia pun berharap Ma’ruf memperkuat sektor ekonomi syariah.

“Ma’ruf Amin memiliki komitmen dan kekuatan pemikiran yang luar biasa, dimana arus baru ekonomi Indonesia, beliau memberikan penguatan terhadap ekonomi syariah,” kata Khofifah ditemui di halaman ruang rapat paripurna, Gedung MPR/DPR RI, Jakarta pada Ahad (20/10).

Menurut dia, pasar sukuk dan obligasi sukuk penting untuk bisa didorong di Indonesia. Dia menjelaskan standar kepemilikan sukuk juga perlu dipromosikan di beragam lini masyarakat Indonesia.

“Kita di Jawa Timur pun sedang melakukan itu, kita ingin Jawa Timur nantinya bisa menjadi magnet keuangan Islam dunia,” jelas Khofifah.

Selain itu, Khofifah mengatakan ke depannya pasangan Joko Widodo bersama Ma’ruf Amin sebagai Presiden dan Wakil Presiden dapat menguatkan kerja sama untuk kemajuan.

Jokowi, ujar mantan menteri sosial itu, menegaskan perlunya kekuatan kemitraan untuk membangun bangsa.

“Mudah-mudahan bisa bersatu padu bagaimana sinergitas elemen-elemen strategis bangsa dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga ke Pulau Rote itu bisa bersinergi bersatu padu bagaimana keunggulan dan kemajuan bangsa bisa diwujudkan bersama,” demikian Khofifah.

Joko Widodo dan Ma’ruf Amin telah dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden periode 2019-2024 di MPR RI.

Presiden berencana mengumumkan nama tokoh-tokoh menteri yang akan berpartisipasi dalam kabinet ke depan pada Senin (21/10).

Terdapat lima prioritas yang akan dikerjakan pemerintahan dalam lima tahun ke depan, yakni pembangunan SDM, pelanjutan pembangunan infrastruktur, penyederhanaan regulasi, reformasi birokrasi, serta transformasi ekonomi dari ketergantungan terhadap sumber daya alam menjadi berdaya saing dan bernilai tambah.

Sumber: republika.co.id

Masduki Baidlowi Ditunjuk sebagai Jubir Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin

JAKARTA — Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Masduki Baidlowi ditunjuk sebagai Juru Bicara Wakil Presiden Ma’ruf Amin.

Posisinya setara dengan jabatan Staf Khusus Wapres.

“Insyaallah, (Masduki) termasuk di staf khusus bidang komunikasi, yang akan menyampaikan nanti penjelasan yang akan saya lakukan. Mulai hari ini sudah ikut tetapi SK-nya belum turun,” kata Ma’ruf Amin di Kantor Wapres, Jakarta, Kamis.

Pada Kamis siang, Masduki mendatangi Kantor Wapres di Jalan Veteran III Gambir, Jakarta Pusat, untuk menemui Wapres Ma’ruf.

Usai pertemuan, Masduki mengatakan bahwa ia akan mendampingi Wapres Ma’ruf dalam kegiatannya sehari-hari.

Wapres Ma’ruf dan Masduki juga telah berkoordinasi dengan Kepala Sekretariat Wapres (Kasetwapres) Mohamad Oemar terkait dengan agenda kegiatan yang akan dihadiri Wapres.

“Jadi, apa yang mesti dikerjakan Kiai sebagai wapres pekan ini, ada beberapa undangan tadi sudah dibicarakan, dan dijadwalkan apakah Pak Kiai bisa hadir atau tidak hadir, sudah terjaga,” lanjutnya.

Agenda Wapres Ma’ruf dalam waktu dekat adalah menghadiri suatu acara di Jawa Timur pada Ahad (27/10). Kemudian pada Jumat (25/10) Wapres Ma’ruf akan berkantor di Istana Wapres untuk melaksanakan jumatan bersama staf dan karyawan Setwapres.

Selain aktif di kepengurusan PBNU, Masduki Baidlowi pernah tercatat sebagai anggota DPR RI periode 2004—2009 dan pernah menjabat sebagai Ketua Komisi X DPR RI dan Infokom MUI.

Masduki lahir di Bangkalan pada 20 Juli 1958 dan pernah mengenyam pendidikan di Madrasah Ibtidaiah Miftahul Jannah, Madrasah Sanawiah Pesantren Sidogiri, Madrasah Aliah Pesantren Salafiyah, dan IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Sebelum berkarier di dunia politik, Masduki pernah bekerja sebagai wartawan di beberapa media massa nasional.

Presiden Jokowi Undang 12 Calon Wakil Menteri ke Istana

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Presiden Joko Widodo (Jokowi) memanggil 12 calon wakil menteri ke Istana Presiden, Jakarta, Jumat (25/10) pagi ini. Mereka tampak tiba sejak pukul 08:45 WIB hingga 09:18 WIB dengan mengenakan kemeja putih.

Tokoh pertama yang hadir yakni Dirut Inalum Budi Gunadi Sadikin, diikuti oleh mantan Bendahara Umum TKN Sakti Wahyu Trenggono, politikus PPP Zainut Tauhid, politisi Perindo Angela Tanoesoedibjo, politisi PSI Surya Chandra, dan mantan Bupati Jayawijaya Wempi Wetimpo.

Kemudian ada pula Dirut Mandiri Kartiko Wiryoatmojo, Dubes AS Mahendra Siregar, pejabat Badan Restorasi Gambut Alue Dohong, Ketua Umum Relawan Projo Budi Arie Setiadi, politikus Golkar Jerry Sambuaga, serta Kepala Badan Kebijakan Fiskal Suahasil Nazara.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo sendiri menyatakan akan melantik sejumlah wakil menteri.

Nama-nama calon wamen pun telah difinalisasi pasa Kamis (24/10) malam. Jokowi menyebut sebagian wakil menteri berasal dari profesional di bidangnya, namun ada juga yang berasal dari partai politik.

“Mengenai Wamen jadi sebetulnya sudah selesai (disusun). Wamen itu sudah selesai. Ada dari partai ada juga dari profesional,” kata Jokowi

Jokowi belum mau mengungkap kementerian apa saja yang akan mendapat wamen dan berapa jumlahnya.

Namun Jokowi menyebut bisa saja ada kementrian yang mendapat jatah lebih dari satu wamen.

Jokowi berharap kehadiran wamen ini betul-betul membantu menterinya. Pelantikan wakil menteri diagendakan digelar pada Jumat siang nanti di Istana Negara.

Sumber: republika.co.id

Datangi Istana, Wakil Ketua MUI Zainut Tauhid Diprediksi Jadi Wakil Menteri Agama

JAKARTA (Jurnalislam.com) — Presiden Joko Widodo (Jokowi) memanggil sejumlah nama calon wakil menteri di Istana Presiden, Jakarta, Jumat (25/10).

Setelah kehadiran Budi Gunadi Sadikin dan dan Wahyu Sakti Trenggono, Zainut Tauhid pun turut merapat.

Zainut Tauhid merupakan politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Wakil Ketua Umum MUI.

Namanya juga santer diisukan menempati posisi Wamenag.

Berdasarkan pantauan, ia hadir sekitar pukul 09:00 WIB mengenakan kemeja putih.

Namun, ia enggan memberikan keterangan tujuan kehadirannya ke Istana Presiden.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo sendiri menyatakan akan melantik sejumlah wakil menteri. Nama-nama calon wamen pun telah difinalisasi pasa Kamis (24/10) malam.

Pelantikan wakil menteri rencananya akan digelar pada Jumat siang nanti. Jokowi berharap, para wakil menteri dapat membantu kinerja para menterinya.

Sumber:republika.co.id

Mengatasi Dampak Negatif Gadget bagi Generasi Z

Oleh: Gesang Ginanjar Raharjo*

(Jurnalislam.com)–Seiring perkembangan zaman, gadget bukanlah benda mahal bagi para orang tua. Dengan uang dibawah dua juta rupiah saja mereka sudah bisa membelikan sebuah gadget untuk anak mereka. Banyaknya aplikasi dan game yang mudah diunduh juga menjadikan orangtua menyerahkan urusan hiburan bagi anak mereka kepada gadget.

Saat ini anak-anak kita telah memasuki masa ‘Generasi Z’, mereka yang terlahir tahun 1995-2000-an ke atas, dimana semuanya serba digital dan akses internet sangat mudah dijangkau. Disekitar kitapun banyak orang tua yang dengan mudah memberikan gadget kepada anak-anak dengan alasan supaya mereka tidak ‘gaptek’ dan ‘tenang’ saat bermain.

Akibatnya, anak sering merengek untuk memainkan gadget dalam waktu lama. Tentu sesuatu yang berlebihan akan berdampak buruk bagi perkembangan anak.

Dampak internet telah merubah perilaku generasi Z menjadi suka akan sesuatu yang instan dan viral. Informasi, gaya hidup atau sesuatu yang sedang trending-pun mereka ikuti bahkan menjadi panutan, tak peduli apakah hal itu berdampak positif atau negative bagi mereka, jika orangtua tidak pandai menyaringnya.

Sebagai orang tua, seharusnya juga harus lebih bijak dalam penggunaan gadget. Banyak para orang tua yang baru melek tekhnologi lebih asyik bermain game online, Instagram, Tik-Tok, Facebook, Whatsapp dan aplikasi lainnya sehingga anak mereka merasa diacuhkan dan akhirnya melampiaskan kejenuhannya lewat gadget.

Aplikasi chatting juga menjadikan perilaku generasi Z terkadang kurang berkomunikasi secara langsung (verbal). Mereka lebih suka berbicara lewat medsos yang mengakibatkan intensitas pertemuan fisik berkurang bahkan parahnya mereka bisa ketergantungan kepada gadget.

Akibat terbiasa chatting di media sosial maka timbul rasa kaku dan nerveous ketika bertemu satu sama lain. yang akhirnya mereka kembali tenggelam dalam dunia maya dan tak memperdulikan lagi sekitarnya. Mereka tak lagi saling menyapa dan lebih asyik berselancar di dunia maya.

Gadget juga berdampak menjadikan kehidupan mereka mejadi hedonis, individualis, dan terpapar pornografi, dimana anak-anak dengan mudah mengakses situs-situs terlarang yang akhirnya terjerumus kedalam perilaku freesex dengan alasan materi, ingin membeli pakaian model terbaru atau hp terbaru.

Banyak sudah kasus-kasus pemerkosaan anak dibawah umur dengan iming-iming sejumlah uang, mereka berkenalan lewat jejaring medsos (media sosial), lalu ketemuan yang akhirnya anak-anak kita dibujuk untuk melampiaskan hawa nafsu predator anak tersebut. Dan akhirnya tidak sedikit korban tersebut kemudian dibunuh. Na’udzubillah.

Kasus-kasus

Seperti berita pada akhir September lalu di Sukabumi, dimana ada kakak beradik RG (16) dan RS (14) tahun melakukan hubungan intim (inses) dengan ibu kandung serta memperkosa adik angkatnya NP yang masih berusia 5 tahun. Ketika ditanya kenapa mereka melakukan hal tersebut, mereka menjawab karena kecanduan video porno yang diperoleh melalui sebuah aplikasi sosial media lewat HP-nya.  (tribunnewsbogor.com)

Kasus lain yang terjadi di Cikarang yang dikabarkan oleh rmol.id (18/10/19) dimana dua remaja, NV (17) dan Ty (17) mereka menjalani rehabilitas di yayasan gangguan jiwa karena akibat ketergantungan yang akut terhadap gadget.

Kedua remaja ini sudah sangat berlebihan menggunakan ponsel. Bahkan, mereka mengoprasikan gawai dari sejak bangun tidur hingga malam. Akibat ketergantungan terhadap ponsel ini akhirnya mereka sering bolos sekolah, menjadikan mereka cepat emosional bahkan melawan kedua orangtuanya.

Begitu miris melihat kedua contoh fakta diatas, generasi yang seharusnya menjadi harapan agama dan bangsa malah menjadi korban keganasan gadget.

Mungkin masih banyak kasus-kasus serupa diluar sana dan tentu yang menjadi korban adalah generasi penerus bangsa bila kita tak mengawasi mereka sejak dini dalam penggunaan gadget.

Kekhawatiran sebagai orangtua adalah ketika anak mereka suka menyendiri di kamar dan memainkan smartphone mereka. Karena bisa jadi disitulah berbagai kemungkinan mereka berinteraksi dengan “evil of the world” di jagat internet (mulai dari gaya hidup hedonis, cyber bullying, gambar dan video porno, hingga predator pedofili) bisa terjadi. Pengasuhan orangtuapun bisa diambil alih oleh gadget, karena mereka lebih terhibur dengan game online maupun aplikasi smartphone lainnya.

Kerenggangan antar keluarga atau disebut Big Disconnection juga bisa dipicu dari seringnya sebuah keluarga dalam penggunaan gadget.  Dalam bukunya, The Big Disconnect: Protecting Childhood and Family Relationship in the Digital Age (2013), Catherine Steiner-Adair mewaspadai terjadinya “tragedi keluarga” terbesar abad ini, yaitu apa yang ia sebut “big disconnection”.

Tragedi ini sudah bisa lihat di sebagian besar keluarga di sekitar kita, bila ditanya setiap anggota mulai dari anak hingga orangtua pasti memiliki gadget, dan mereka lebih sering meggunakan gadget saat berada diacara keluarga, seperti saat sarapan, berkumpul arisan maupun acara inti keluarga.

Mereka lebih senang senyum-senyum sendiri membaca status Facebook maupun membaca gosipan di grup WA. Sedangkan si anak, mereka lebih fokus kepada game online dan permainan sejenisnya, akhirnya acara keluarga yang diharapkan menyenangkan menjadi hambar.

Inilah yang oleh Steiner-Adair disebut big disconnection, tragedi keluarga terbesar sepanjang sejarah umat manusia. Dan barangkali disconnection inilah yang memunculkan fenomena seperti kasus inses dan kecanduan gadget di atas. Karena itu setiap orang tua harus lebih kritis dalam menyikapi setiap aktivitas online anak mereka.

Pisau Bermata Dua

Gadget seperti pisau bermata dua, manfaatnya sangat banyak, sekaligus resiko berbahaya jika digunakan secara kurang bijaksana. Peneliti Joan Ganz Cooney Center, USA misalnya menemukan bahwa anak-anak berusia 5 tahun yang menggunakan aplikasi edukasi Ipad mengalami peningkatan kosa kata sekitar 27%, sedangkan pada anak-anak usia 3 tahun kosa katanya meningkat sebanyak 17%.

Gadget membuat mereka lebih mudah mengenal nama-nama binatang dan juga cepat mengenal huruf serta menjadikan mereka memiliki kosa kata lebih banyak.

Sedangkan negatifnya, disadari atau tidak kalau sudah memegang hp atau gadget anak-anak seperti tenggelam dalam dunianya sendiri.

Mereka jadi lupa makan, malas mandi, dan tak mau keuar rumah untuk bermain dengan teman-temannya. Beberapa sumber menyatakan, ketagihan internet memang sering membuat anak kurang beraktivitas secara fisik. Hal ini membuat anak lebih rentan terhadap obesitas dan resiko penyakit.

Shinta Laksmi, pakar media dalam presentasinya yang berjudul “Peran Perempuan Mengatasi Dampak Mobile Internet pada Anak” mengungkapkan, anak-anak remaja yang aktif menggunakan mobile internet beresiko terhadap perkenalan dengan orang asing, pornografi, bahkan menjadi korban perdagangan anak.

Sumber lain menyebutkan, anak-anak rentan mengalami bullying dan trauma. Yang memperihatinkan, anak-anak Indonesia ternyata ‘terlanjur’ bersentuhan dengan konten negatif dari internet.

Efek Negatif

Berdasarkan laporan Norton Online Family Report 2010, terungkap bahwa hampir semua (96 persen) anak-anak Indonesia mengalami hal negatif saat online di dunia maya.

Dalam survey tersebut menjelaskan, sebanyak 55 persen anak-anak yang disurvei telah menyaksikan gambar-gambar kekerasan dan pornografi. Sejumlah 35 persen lainnya mengaku dihubungi orang yang tidak dikenal, dan 28 persen dari mereka pernah menanggapi penipuan.

Survey yang dilakukan terhadap anak-anak berusia 10 hingga 17 tahun di beberapa kota di Indonesia tersebut juga mengungkap temuan mengejutkan. Yakni, sebanyak 36 persen anak-anak Indonesia melakukan online tanpa sepengetahuan orangtua mereka.

Sebagai orangtua berkesempatan besar dalam mencegah serta menekan resiko efek negative internet, kita harus memperkenalkan gadget sesuai kebutuhan.

The American Academy of Pediatrics menyarankan agar orangtua menunda pengenalan gadget hingga anak berusia minimal 2 tahun. Kemudian kita kenalkan gadget dengan aplikasi yang sesuai dengan perkembangan kebutuhan mereka.

Kita bisa mengenalkan internet kepada anak-anak dari hal positif terlebih dahulu, kita jelaskan bahwa didalam internet kita bisa melihat gambar-gambar hewan, tumbuhan, maupun informasi yang dibutuhkan oleh mereka, seperti ilmu pengetahuan tentang geografi, fisika, matematika dan seterusnya.

Mereka juga perlu tahu bahwa dunia maya itu juga memiliki sisi negatif, mereka harus dibekali dengan pentingnya menyimpan dan melindungi data pribadi. Jangan sampai mereka memberikan informasi seperti password, alamat rumah, usia dan nomor telepon di internet.

Pastikan juga mereka tidak memposting sesuatu yang menginformasikan lokasi mereka berada atau gambar-gambar kondisi dimana ia berada ke media social.

Membatasi waktu bermain gadget juga harus dilakukan agar mereka tidak keseringan dan ketergantungan terhadap gadget. Misalnya 2 jam perhari atau harus ijin terlebih dahulu ketika akan berselancar didunia maya.

Kita juga harus tahu tujuan mereka mengakses internet dan lebih aman jika mereka menggunakan komputer yang diletakkan di ruang keluarga sehingga kita bisa mengawasi dan membimbing mereka.

Aktifitas Fisik

Mendorong melakukan banyak aktivitas fisik di luar rumah juga bisa kita gunakan sebagai siasat agar mereka tidak ketergantungan dengan gadget. Kita juga bisa ciptakan suasana keluarga yang dekat dengan cara sering mengobrol, bermain dan mendengarkan curhatan anak-anak kita.

Kita juga harus berkomitmen untuk menyimpan gadget ketika berkumpul dengan keluarga, kita harus menjadi contoh kepada anak-anak bahwa sebagai orangtua juga tidak ketergantungan kepada gadget. Kita harus berkomitmen untuk menahan sementara menggunakan gadget saat berkumpul bersama anak-anak.

Membangun karakter berkepribadian (Syaksiyah) Islam yang berakhlak mulia, amanah, memiliki dedikasi dan kedisiplinan serta tanggung jawab juga bisa  diajarkan didalam keluarga kita, sehingga mereka bisa memanage waktu sebaik mungkin.

Karena tolok ukur yang paling tepat untuk menilai tinggi rendahnya kualitas kepribadian Islam seseorang adalah perilaku (suluk) sehari-hari seseorang dalam berbagai interaksi di tengah masyarakat.

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu benar-benar beriman. (TQS: Ali Imran: 139).

Kepribadian Islam

Tanamkan kepribadian Islam pada diri anak, sebagaimana di contohkan oleh Rasulullah SAW. Pertama, menanamkan akidah Islam kepada anak dengan metode yang tepat, yaitu sesuai dengan kategori akidah Islam sebagai aqidah aqliyah (akidah yang keyakinannya dicapai melalui proses berfikir).

Kedua, mengajaknya bertekad bulat untuk senantiasa menegakkan bangunan cara berpikir dan perilakunya diatas pondasi ajaran Islam semata. Ketiga, mengembangkan kepribadiannya dengan cara membakar semangatnya untuk bersungguh-sungguh mengisi pemikirannya dengan tsaqafah Islamiyah dan mengamalkan dan memperjuangkannya dalam aspek kehidupannya sebagai wujud ketaatan kepada Allah SWT. (M Ismail Yusanto, dkk Menggagas Pendidikan Islami, 52-53).

Selain itu yang paling penting adalah adanya peran negara yang harus serius dan konsisten untuk mengawasi serta memblokir situs-situs yang mengarah pada pornografi dan hal negative lainnya, sehingga tidak bisa dijangkau oleh generasi muda kita, serta mengedukasi generasi Z untuk bijak dalam menggunkan gadget.

Negara harus memberikan pelayanan atau riayah dengan menciptakan inovasi terbaru dalam hal pembuatan alat-alat elektronik sehingga aman dan bersahabat bagi lingkungan.

Negara juga harus mengeluarkan undang-undang yang menjelaskan garis-garis umum politik Negara dalam mengatur informasi sesuai dengan ketentuan hukum-hukum syariah.

Hal itu dalam rangka menjalankan kewajiban Negara dalam melayani kemashlahatan Islam dan kaum muslim serta menyebarluaskan kebaikan dari dan didalam masyarakat Islami tersebut. (Taqiyuddin An-Nabhani, Bab Syiasah Daulah I’lamiyah, 146).

Dengan ini diharapkan generasi Z bisa terlindungi dari konten-konten negative yang ada di dunia maya karena negara benar-benar menjamin keamanan dalam bersosial media.

Anak yang hobby memainkan gadget dalam jangka waktu lama bisa mempengaruhi kesehatan mata dan otot anak. Anak akan duduk diam memandang layar gadget sehingga membuatnya tidak melakukan gerakan fisik yang bisa mengganggu kesehatan mata dan perkembangan ototnya. Radiasi yang dipancarkan oleh gadget juga menjadi ancaman bagi kesehatan anak.

Ajak mereka mengobrol, sehingga mereka tidak menjadi anak yang pasif bahkan mengalami keterlambatan bicara. Dan yang paling penting kita tanamkan akidah Islam dalam diri mereka dan merubah persepsi (mafahim) mereka tentang penggunaan gadget agar mereka bisa memanage kegunaan gadget. Jangan sampai karena keteledoran kita dalam mendidik anak, menjadikan mereka terjerumus kedalam jurang bencana dunia maya. []

(Penulis, Tinggal di Malang)

 

Radikalisme, Isu Murahan yang Masih Dipertahankan

Oleh: Yudo Ratmiko
Syariah Institute

Sangat menarik judul laporan utama yang ditulis Koran Tempo edisi 23 Oktober 2019 “Fokus Radikalisme”. Tertulis di situ radikalisme menjadi prioritas menteri bidang politik kabinet baru Presiden Joko Widodo dan di situs berita merdeka.com pada tanggal yang sama juga menulis tentang prioritas kerja Menteri Agama, yaitu fokus menangani radikalisme. Sebagian publik terusik dan mereka mempertanyakan kenapa ini menjadi prioritas kerja kabinet Jokowi jilid 2, karena persoalan definisi “Radikalisme” itu sendiri masih rancu dan sering menjadi perdebatan.

Pada peristiwa kerusuhan Wamena beberapa waktu lalu yang menelan korban nyawa lebih dari 32 orang, dibunuh secara biadab, ditembaki senjata otomatis, dikampak, diperkosa, dan dibakar hidup-hidup. Tapi pemerintah belum menyatakan para pelaku sebagai kelompok radikal, namun hanya menyebutnya dengan kelompok separatis. Sebaliknya, ketika terjadi peristiwa penusukan Menko Polhukam Wiranto di Menes Pandeglang Banten, yang sampai saat ini peristiwa tersebut masih menjadi tanda tanya publik, Presiden Jokowi dengan tegas dan lantang mengajak masyarakat untuk melawan radikalisme.

Perbedaan perlakuan inilah yang dikhawatirkan oleh publik khususnya umat Islam bahwa diksi dan narasi radikalisme ini hanya ditujukan kepada kelompok Islam saja dan tidak untuk kelompok selain Islam seperti OPM dan kelompok lainnya. Karena seperti yang kita ketahui bersama setiap peristiwa kekerasan yang dilakukan sebagian umat Islam atau ketika umat Islam melakukan gerakan mengkritisi pemerintah langsung disebut kelompok radikal.

Hal ini sangat menyinggung dan mencederai perasaan umat Islam, karena pemerintah tidak obyektif dalam menilai dan mengartikan radikalisme. Masyarakat menilai pemerintah masih berat sebelah dan memberikan perlakuan yang berbeda terhadap para pelaku kekerasan, yang berakibat adanya anggapan bahwa radikalisme adalah bagian dari ajaran Islam. Padahal kita sudah sepakat bahwa tidak ada agama di dunia ini yang mengajarkan radikalisme. Meskipun kita sadar tiap individu punya potensi untuk berbuat radikal tapi itu tidak serta merta dikaitkan dengan agama yang dianutnya.

Kita semua sepakat bahwasannya radikalisme merupakan sebuah tindakan yang akan menghancurkan tertib sosial yang sudah dibangun, tetapi kita tidak boleh membirakan ketika isu tersebut digunakan untuk kepentingan politik guna menghancurkan lawan politiknya atau menyudutkan agama dan keyakinan tertentu.

Artinya, jangan jadikan radikalisme ini sebagai isu murahan sebagai cara cepat untuk menghancurkan lawan-lawan politik. Lantas apa yang harus dilakukan umat Islam menyikapi isu ini? Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan umat Islam khususnya para ulama dan tokoh umat, yaitu :

1. Memberikan edukasi kepada masyarakat khususnya umat Islam tentang makna radikalisme yang sesungguhnya sesuai dengan pemahaman syariat. Harapannya adalah masyarakat tidak terjebak dengan pengertian radikalisme ala negara barat khususnya Amerika dan sekutunya termasuk Cina di dalamnya yang sarat kebencian terhadap Islam.

2. Mengingatkan kepada pemerintah khususnya aparat keamanan untuk bersikap obyektif dalam menilai radikalisme. Jangan berat sebelah, karena hal itu tidak akan membuat bangsa ini bersatu malah akan mengakibatkan bibit permusuhan sesama anak bangsa dan menimbulkan tindakan radikal selanjutnya. Pemerintah harus bersikap tegas dalam penegakan hukum bagi siapa saja yang jelas-jelas melanggar hukum karena apabila ini tidak dilakukan maka ini akan menjadi salah satu faktor hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

3. Mengajak umat Islam untuk melawan kelompok manapun yang menggunakan isu radikalisme sebagai alat kepentingan politiknya dengan cara menghasut, memprovokasi dan mengarahkan masyarakat agar berbuat anarkis terhadap kelompok tertentu yang menjadi lawan atau yang mengusik kepentingan politiknya.

Seiring dengan tumbuhnya kesadaran berpolitik, umat Islam harus lebih kritis dalam melihat isu radikalisme. Umat Islam jangan mau dijadikan kambing hitam dalam persoalan ini. Umat harus lantang apabila isu ini hanya dijadikan isu murahan untuk membungkam sikap kritis umat Islam terhadap penguasa.

Sikap kritis terhadap pemerintah merupakan bagian dari amar makruf nahi munkar untuk selalu mengingatkan penguasa apabila para penguasa telah menyimpang dari ketentuan syariat dan konstitusi yang ada. Insya Allah, Allah akan segera hinakan para pejabat yang bermaksud jahat terhadap Islam apabila tuduhan radikalisme ini ditujukan khusus kepada Islam mengikuti apa yang menjadi arahan Amerika dan sekutunya termasuk Cina di dalamnya.

Dari Tren Hijrah Hingga Stempel Radikal | Ustadz Felix Siauw | JurnisTV

SOLO (Jurnalislam.com) – Ustaz Felix Siauw mengatakan, fenomena hijrah di Indonesia saat ini sudah menjadi sunatullah (ketetapan Allah) yang tidak bisa dicegah oleh siapapun.

“Seandainya dengan musim ya ini memang sudah waktunya musim semi, nah kalau namanya musim semi itu orang-orang bisa melihat bunga-bunga dicabutin kalau dia nggak suka, tapi dia nggak bisa menahan musim itu untuk datang,” katanya kepada jurnalislam.com di sela sela acara Launcing Kalam Hakiki Moslem Podcast di Gedung Al Irsyad, Surakarta, Ahad (20/10/2019).

“Ada satu kata dalam bahasa jawa yang akhir akhir ini sering saya ucap yakni ‘Wes Wayahe’, jadi memang ketika kita melihat tren hijrah, orang orang kemudian berpindah haluan, ini memang sudah waktunya,” sambungnya.

Kendati demikian, Ustaz Felix berharap hijrahnya generasi muda Indoensia tidak hanya menjadi tren semata, namun bisa menjadi sebuah gerakan yang terkordinasi kemudian membentuk kekuatan yang kelak bisa membuat Islam kembali berjaya.

Berikut wawancara lengkap JurnisTV dengan Ustaz Felix Siauw.

 

ICMI Minta Menag Fokus Peningkatan Kualitas Keagamaan, Bukan Radikalisme

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Umum Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI), Jimly Asshiddiqie mengaku tak sepakat permintaan Presiden kepada Menteri Agama untuk fokus menangani masalah radikalisme.

“Karena sudah ada lembaga yang menanganinya. Nggak usah menteri agama (mengurusi),” kata Jimly kepada Jurnalislam.com, Kamis (24/10/2019).

Dia menegaskan pemerintah sudah memiliki Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang melaksanakan tugas di bidang penanggulangan terorisme. Salah satu tugas pencegahannya adalah deradikalisasi.

Dengan begitu, tidak tepat jika Kementerian Agama (Kemenag) ikut mengurusi masalah deradikalisasi karena masing-masing lembaga sudah punya tugas dan fungsi. Menurutnya, dalam hal pencegahan, bukan hanya lembaga dan kementerian, masyarakat pun harus ikut memerangi radikalisme.

Menurut dia, salah satu garapan Menag adalah fungsi administrasi negara terhadap keagamaan. Menag harus melayani semua agama dengan adil dan memastikan bahwa kualitas keagamaan tertanam dengan baik di masyarakat.

“Dengan begitu makin tinggi integritas dan kualitas masyarakat. Kalau bisa koruptor makin berkurang, karena fungsi agama makin baik. Jangan agama semarak, tapi koruptor semakin banyak dan penjara penuh,” ujarnya.

Jimly juga mendorong agar Menag Fachrul Razi segera beradaptasi di internal Kementerian Agama (Kemenag) dan pihak eksternal seperti ormas-ormas lintas keagamaan.

Secara administrasi, menteri agama memang mengatur semua agama agar berkembang dan penganutnya lebih berintegritas dalam bernegara dengan keyakinan agamanya masing-masing.

Baca juga:

Ini Profil Singkat Meteri Agama Jenderal Purnawirawan Fachrul Razi

Tujuh Pesan Presiden Kepada Para Menteri, Pertama Jangan Korupsi

MUI Heran Mengapa Kapitalisme dan Liberalisme Tidak Dianggap Anti Pancasila

Din Minta Presiden Jokowi Hati-hati Kaitkan Radikalisme dengan Islam

Jokowi Minta Kemenag Urus Radikalisme, Din: Ahistoris dan Berlebihan

Menag Fokus Tangani Radikalisme, Muhammadiyah: Harus Terukur, Jangan Sembarangan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir berharap Jenderal (Purn) Fachrul Razi yang dipilih Presiden Jokowi menjadi Menteri Agama (Menag) bisa melakukan tindakan terukur dalam menangani isu radikalisme.

“Harus tetap terukur. Artinya, jangan sembarangan untuk ini radikal, ini bukan radikal,” katanya melalui rilis yang diterima redaksi Jurnalislam.com, Kamis (24/10/2019).

Menurutnya, dalam konteks apa pun, baik agama maupun dalam konteks umum perlu ada pemahaman yang komprehensif agar tidak asal dalam melakukan penanganan, karena bukan hanya agama, perilaku berbangsa, perilaku sosial juga memiliki bagian-bagian yang berpotensi ekstrem dan radikal.

Oleh sebab itu, ia berharap radikalisme tidak dilekatkan pada agama, apalagi tertuju pada agama tertentu. “Beragama, bernegara, berideologi, bersosial itu juga ada kecenderungan ekstrem dan radikal yang mengarah pada kekerasan. Kita banyak contoh kejadian-kejadian di Tanah Air kita ini bahwa korban dari tindakan-tindakan yang ekstrem bukan hanya karena agama. Oleh karena itu harus terukur,” paparnya.

Agama dan institusi kegamaan, kata Haedar, harus menjadi kekuatan yang mencerdaskan, mendamaikan, memajukan, serta menyatukan. Bahkan berperan dalam membela nilai-nilai rohani dan keadaban yang baik. “Saya pikir semua agama kan begitu komitmennya,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menitipkan pesan agar Menag dapat memposisikan diri sebagai menteri untuk semua golongan. Ia mencontohkan, meski pernah memiliki latar belakang militer, Menag harus bediri untuk semua rakyat Indonesia, bukan hanya untuk golongan militer.

“Nanti kalau hanya mengurus golongannya, mengurus kepentingannya nanti malah timbul ketidakadilan,” pungkas Haedar.

Baca juga:

MUI Heran Mengapa Kapitalisme dan Liberalisme Tidak Dianggap Anti Pancasila

MUI: Kemenag Jangan Dibelokkan ke Arah Anti Radikalisme

Din Minta Presiden Jokowi Hati-hati Kaitkan Radikalisme dengan Islam

Jokowi Minta Kemenag Urus Radikalisme, Din: Ahistoris dan Berlebihan

Ini Profil Singkat Meteri Agama Jenderal Purnawirawan Fachrul Razi