Operasi Intelijen Usik HRS, Pengamat : Kalau Bisa ‘Di-Munir-kan’

Operasi Intelijen Usik HRS, Pengamat : Kalau Bisa ‘Di-Munir-kan’

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pengamat terorisme dari The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Harits Abu Ulya, menilai, kejadian yang menimpa Habib Rizieq di Arab Saudi baru-baru ini adalah operasi intelijen.

“Dari evident (indikasi-indikasi) yang ada, apa yang menimpa HRS adalah operasi intelijen,” katanya kepada Jurnalislam.com melalui pesan singkat, Kamis (8/11/2018).

Menurutnya, ada upaya menjatuhkan HRS dalam kubangan masalah untuk mematikan langkah HRS selama di saudi. “Bahkan kalau bisa ya ‘di-Munir-kan’,” tambahnya.

Haris menjelaskan, HRS pernah disandungkan kasus imigrasi, namun gagal. Kasus terbaru yang mengaitkan HRS dengan kelompok teror adalah upaya lain untuk terus mengusik HRS di Saudi.

“Cara murahan seperti yang terjadi; ditembok rumah kediaman HRS di pasang bendera Tauhid, didokumentasikan lanjut dilaporkan kemudian diasosiasikan dengan kelompok ISIS, HT dan sebagainya dimana Saudi sangat alergi bahkan keras bersikap terhadap kelompok-kelompok tersebut,” paparnya.

“Dengan begitu HRS mudah dijadikan target oleh aparat keamanan Saudi. Dengan resiko penjara sampai hukuman mati,” sambung Harits.

Baca juga : 

Selain itu, Harist melihat, kasus ini dimanfaatkan oleh rezim untuk membangun imej positif seolah rezim peduli dengan HRS.

“Narasi yang dibangun atas kasus ini adalah rezim ingin meraup citra positif sembari cuci tangan seolah-olah tidak terlibat atau tidak tahu menahu dgn peristiwa yang menimpa HRS,” kata Harist.

Harits menambahkan, jika FPI dapat memulangkan HRS ke Indonesia itu adalah upaya yang positif untuk meredam situasi saat ini. Sebab, kehadiran HRS sangat dinantikan umat Islam.

“Dari sisi kepentingan umat yang lebih luas tentu hadirnya HRS di Indonesia akan jauh lebih besar maslahatnya, jutaan Umat Islam siap disisi HRS.” ucapnya.

Media ramai memberitakan penangkapan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab oleh kepolisian Saudi. Penangkapan itu atas dugaan pengibaran bendera ISIS di kediamannya di Saudi.

Menurut Duta Besar RI untuk Saudi, Agus Maftuh Abegebriel, berita penangkapan tersebut mulanya diketahui Dubes RI untuk Arab Saudi saat tengah malam pada Senin (5/11/2018). Pemeriksaan pada Rizieq dilakukan kepolisian Arab Saudi selama lebih dari 24 jam.

Atas pemberitaan itu, HRS pun menyampaikan klarifikasi melalui akun twitternya. HRS menduga, kasus itu adalah jebakan dan intimidasi untuk menghalangi Reuni Akbar 212 yang akan digelar 3 pekan mendatang.

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.