Responsive image
Responsive image
Responsive image

Muhammadiyah Sebut Amal Usahanya Bukan Semata Bisnis, Tapi untuk Umat

Muhammadiyah Sebut Amal Usahanya Bukan Semata Bisnis, Tapi untuk Umat

JAKARTA(jJurnalislam.com)– Bagi masyarakat awam, gerakan Muhammadiyah lebih dikenal melalui apa yang dinamakan sebagai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Misalnya aset-aset rumah sakit, panti asuhan dan lembaga pendidikan di bawah kendali Muhammadiyah.

Pengertian Amal Usaha Muhammadiyah sendiri sejatinya adalah ikhtiar amal saleh dan kemanfaatan yang bentuknya tidak semata-mata materi atau bendawi saja (tangible). Tetapi bisa juga dalam bentuk program-program non-fisik (intangible).

“Nah inilah yang kemudian harus kita siapkan dengan sebaik-baiknya agar jangan sampai kemudian dalam pengembangan amal usahanya, Muhammadiyah terjebak sebagai organisasi (pengelola) amal usaha. Ini yang kadang-kadanng menjadi kritik bagi kita sendiri, jangan sampai amal usaha-amal usaha (tangible) itu menjadi satu-satunya cara dari usaha Muhammadiyah,” himbau Budi Setiawan, Ketua MDMC PP Muhammadiyah.

Dalam forum Pengajian Buka Puasa Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Jepang, Senin (25/4), Budi menyampaikan bahwa hakikat dari AUM adalah media untuk memudahkan Persyarikatan dalam mencapai tujuannya, yaitu menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Kronik sejarah menurut Budi mencatat bahwa pendirian AUM berawal dari tantangan Kiai Ahmad Dahlan kepada murid-muridnya untuk mengamalkan Surat Al-Ma’un yang diawali dengan pendirian Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah di Kauman pada 1 Desember 1911. Karena itu, fondasi mendasar dan jiwa di dalam gerakan AUM adalah tujuh Pokok Pikiran di dalam Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah.

“Maka dalam menjalankan amal usahanya berpegang teguh berdasarkan ajaran Allah dan Rasul-Nya dan bergerak dengan membangun di segenap bidang dan lapangan dengan menggunakan cara serta menempuh jalan yang diridhai-Nya,” kata Budi.

Dalam perjalanan strategis AUM, Budi lalu mengutip pendapat dari Ketua PP Muhammadiyah, Hadjriyanto Y. Thohari yang pernah menyampaikan terkait tiga trisula Amal Usaha Muhammadiyah pada Muktamar ke-46 di Yogyakarta tahun 2010.

Pada kesempatan itu, Hadjriyanto menyebut Trisula AUM di abad pertama Muhammadiyah adalah bidang pendidikan (lembaga pendidikan), sosial (panti), dan kesehatan (rumah sakit). Sementara itu di abad kedua, Trisula AUM berupa bidang kebencanaan (MDMC), pemberdayaan masyarakat (MPM), dan pengelolaan dana umat (Lazismu).

Penekanan latar belakang inilah yang membuat AUM tidak sekadar perhitungan duniawi semata dan tidak semata-mata usaha yang berwujud atau tangible. Karenanya, Budi berharap para pegiat Persyarikatan memahami sisi pembeda ini.

“Maka kita bisa melihat bahwa gerakan Muhammadiyah dalam amal usaha itu adalah proses serius dari pemikiran yang mempunyai dasar sehingga usaha-usaha Amal Usaha Muhammadiyah itu tidak boleh kehilangan akarnya sebagai gerakan agama,” tegas Budi

 

 

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Close X