Mengambil Ibrah dari Kisah Cinta Paling Romantis

Mengambil Ibrah dari Kisah Cinta Paling Romantis

Sebuah kisah cinta yang keromantisannya mengalahkan kisah cinta Qais dan Laila, juga mengalahkan kisah cinta Romeo dan Juliet yang terkenal dikalangan muda.  Saking romantisnya, kisah cinta ini diabadikan oleh Tuhan semesta alam Robbul Izzati untuk diperingati setiap tahunnya agar manusia yang lain dapat mengambil hikmah dan mengikuti jejak langkah kisah cinta romantis ini.

Siapakah mereka?

Tentu sudah dapat ditebak, mereka adalah Nabiyullah Ibrahim dan Ismail ‘alaihissalam.

Siapa bilang mereka tidak saling mencinta?  Bukankah Ismail ‘alaihissalam adalah seorang anak yang dinanti-nanti kelahirannya, bertahun-tahun nabiyullah Ibrahim mengharapkan memiliki seorang anak yang dapat meneruskan keturunannya, ia tak henti-hentinya berdoa dengan khusyu kepada Allah “Rabbi hab lî minas shâlihîn”

Artinya: “Tuhanku, berikanlah aku seorang anak yang saleh” (QS. As-Shaffat : 100)

Istri nya Siti Sarah merasa iba melihat Nabi Ibrahim yang sangat mendambakan kehadiran seorang anak. Kemudian, Siti Sarah pun mendapatkan ide untuk menjodohkan Ibrahim dengan budak yang dimilikinya yaitu Siti Hajar dengan harapan dari pernikahan itu suaminya akan mendapatkan keturunan, demi membahagiakan suami tercinta karena Siti Sarah seorang yang mandul.

Dari pernikahan nabiyullah Ibrahim dengan Siti Hajar, Allah pun mengabulkan doa Ibrahim, lahir seorang bayi laki-laki yang diberi nama Ismail.

“Maka Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran seorang anak yang amat sabar (Ismail)” (QS. As-Shaffat : 101)

Begitu bahagia Nabiyullah Ibrahim atas kelahiran seorang anak yang dinanti-nanti, namun barulah kebahagiaan itu direguknya, Nabiyullah Ibrahim harus berpisah dengan anaknya yang masih menyusui. Dengan kecemburuan Siti Sarah kepada Siti Hajar yang melahirkan seorang anak untuk Ibrahim, Allah pun memerintahkan Ibrahim untuk membawa Siti Hajar beserta Ismail yang sangat dicintainya ke sebuah lembah yang tandus dan tidak ada pepohonan. Selain gersang, di lembah tersebut juga tidak ditemukan penghuni lain sehingga sangat sunyi. Siti Hajar istri yang shalihah ketika mengetahui itu adalah perintah Tuhannya,  beliau menerimanya dengan penuh rasa ikhlas dan tawakal kepada Allah.

Baru tatkala Ismail beranjak dewasa, mereka berkumpul kembali dengan ayahanda tercinta, sungguh kerinduan yang tiada tara.

Namun belum juga puas mencurah rindu dan cinta, tak lama kemudian cinta mereka harus kembali diuji, melalui mimpi, Allah meminta nabiyullah Ibrahim sang ayah menyembelih anak tercinta,

 

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ismail Berkata: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. As-Shaffat : 102)

Sebuah percakapan yang indah antara ayah dan anak yang saling mencinta, namun cinta mereka yang begitu besar tetap lebih meninggikan cinta mereka kepada Allah SWT. Mereka mengorbankan kerinduan mereka, mengorbankan rasa cinta mereka demi cinta kepada Allah Rabb mereka. Sungguh nabi Ibrahim dan Ismail merupakan orang yang sabar bukan?

Adakah Qais dan Laila melakukan hal yang sama? Mengorbankan cinta mereka demi meninggikan cinta kepada Allah.

Bagaimana juga dengan kisah Romeo dan Juliet?

Rupanya keromantisan kisah Qais dan Laila juga Romeo dan Juliet hanyalah fiktif belaka. Bagaimana bisa kita mengagumi kisah cinta mereka, sedangkan ada banyak kisah cinta indah yang benar-benar nyata, seperti halnya kisah cinta nabiyullah Ibrahim dan anaknya nabiyullah Ismail. Saking romantisnya kisah cinta mereka, Allah yang Maha Rahim mengabadikan kisah cinta mereka dalam syari’at qurban. Dan sesiapa yang mengikuti jejak langkahnya, Allah menjanjikan itu sebuah perbuatan yang paling dicintai Nya,

“Tidaklah seorang anak Adam melakukan pekerjaan yang paling dicintai ALLAH pada hari nahr kecuali mengalirkan darah (menyembelih hewan qurban)… ” (HR Tirmidzi).

Kita mau meniru kisah cinta yang mana?

 

Oleh : Jumi Yanti Sutisna

Sumber : berbagai sumber

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close X