Konglomerasi Media dan Rusaknya Kontruksi Berpikir Umat

PASCA reformasi kran kebebasan media kembali terbuka, dalam periode ini media mengalami kemajuan yang begitu pesat. Hanya sayang beribu sayang kemajuan tersebut tidak diimbangi dengan kemajuan kualitas berfikir masyarakatnya. Kondisi ini terjadi ketika media hari ini hanya dikuasai oleh segelintir elit. Sehingga media difungsikan oleh para pemilik modalnya sebagai corong kepentingan sehingga prinsip media sebagai ruang informasi yang jujur dan adil bagi publik hari ini sudah tidak lagi dirasakan oleh publik.

Tentu ini berimplikasi terhadap pola pikir masyarakat itu sendiri. Media arus utama di negeri ini sudah mengabaikan nilai-nilai jurnalistik. Ini mengindikasikan bahwa mereka para konglomerat media memiliki banyak agenda kepentingan dalam skala besar sehingga salah satu cara untuk memuluskan agenda kepentingannya mereka melancarkan strategi mengontrol pikiran (mind control) lewat agitasi dan propaganda melalui media tersebut.

Dalam skala global, penguasaan media begitu dominan dan hampir pada semua sektor. Media arus utama dalam skala global dikuasai oleh Yahudi sesuai dengan amanat leluhur mereka, Theodore Herzel -sang bapak Yahudi- yang pada waktu itu menyampaikan gagasannya bahwa salah satu faktor yang mendorong terbentuknya negara Israel Raya selain faktor milter dan lobi politik adalah faktor penguasaan media, dan terbukti. Yahudi dalam berbagai sektor benar-benar menguasai dunia dan yang terpenting adalah ideologi Yahudi itu bisa tersebar ke berbagai belahan dunia.

Begitupun di negeri ini, para konglomerat pemilik media arus utama mengusung kepentingan lain di balik kepentingan bisnis. Dan kepentingan yang paling besar adalah kepentingan meneguhkan ideologi kapitalis mereka. Ini dibuktikan bahwa mayoritas pemilik media arus utama di negara ini adalah mereka para pembenci islam. Mereka berkeyakinan bahwasanya Islam yang mayoritas di negeri ini akan menjadi ancaman bagi keberlangsungan kepentingan yang diusungnya. Untuk itu mereka melancarkan berbagai macam strategi untuk merusak umat Islam. Dan strategi yang paling ampuh adalah dengan merusak kontruksi berpikir umat Islam.

Mereka menyuguhkan tontonan-tontonan yang membuat umat Islam hanyut dan terlena sehingga lupa akan misi perjuangannya sebagai umat Islam. Umat Islam pun digelontorkan berita serta informasi yang tidak jujur yang begitu kentara hingga membunuh wajah asli Islam yang damai, adil dan solutif. Walhasil, generasi Islam pun tampil sebagai generasi kesakitan yang gagal untuk membangun tujuan hidup.

Umat Islam pun berbondong-bondong meninggalkan kebiasaannya sebagai umat islam Dan beralih kepada kebiasaan yang dilakukan oleh musuh-musuh islam serta yang paling menyakitkan hati adalah ketika umat Islam itu sendiri ramai-ramai mengeroyok Islam sebagai akibat pemberitaan yang menyudutkan umat Islam yang dikemas secara masif sehingga Islam selalu ditampilkan sebagai pihak yang selalu terstigmatisasi salah.

Penyebab utamanya tentu saja faktor media mainstream yang mengkontruksi pola pikir umat Islam dengan ideologi kapitalismenya. Ini mengindikasikan sistem di negeri ini gagal untuk melindungi umat Islam yang mayoritas. Tidak ada regulasi yang diterapkan untuk menghalau dekadensi moral melalui peran media yang melanda umat Islam.

Tentu kita tidak lantas pesimis dengan kondisi tersebut. Kita bangga dengan banyaknya media Islam yang berkembang hari ini sebagai gerakan perlawanan media arus utama. Meskipun berskala kecil, namun mampu menggentarkan penguasa dan pemilik media arus utama. Tentu gerakan ini harus terus dirawat, terus disuarakan kepada umat Islam sebagai bagian dari gerakan penyadaran serta pencerahan bagi umat agar pola pikir umat terkontruksi secara baik sehingga tidak mudah dikalahkan dalam kancah pertarungan sosial.

Terakhir, kita pun perlu mengabarkan pesan langit kepada Nabi Muhammad SAW dan umatnya; “Hai orang-orang yang beriman jika seseorang yang fasiq datang kepadamu membawa berita, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu”. (QS Al Hujurat : 6)

 

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses