Kekerasan Meningkat Dalam Protes Krisis Air di Khuzestan Iran

Kekerasan Meningkat Dalam Protes Krisis Air di Khuzestan Iran

TEHERAN(Jurnalislam.com) – Pihak berwenang Iran mengatakan seorang petugas polisi ditembak mati oleh “agitator” di provinsi Khuzestan Iran, dimana sudah enam hari berlangsung protes atas kekurangan air kini telah berubah menjadi protes yang mematikan.

Media pemerintah melaporkan bahwa petugas polisi lain di Bandar Mahshahr terluka setelah terkena peluru di kakinya pada Selasa malam, sebagaimana video dan laporan dari provinsi barat daya menunjukkan bahwa kekerasan belum berhenti.

Pihak berwenang sejauh ini mengkonfirmasi bahwa dua warga sipil, Ghasem Khozeiri (18 tahun) dan Mostafa Naimawi (30 tahun) ditembak mati pada hari Jumat, tetapi mereka mengatakan para pemuda itu bukan pengunjuk rasa dan pelaku pembunuhan oleh “oportunis dan perusuh”.

Diduga ada lebih banyak pengunjuk rasa yang telah tewas dalam aksi protes tersebut tetapi para pejabat belum mengkonfirmasi jumlah kematian lebih lanjut. Mereka juga tidak mengungkapkan berapa banyak warga sipil yang ditangkap.

Dilaporkan terjadi pemadaman internet secara sporadis di seluruh provinsi selama beberapa hari. Terlepas dari pembatasan internet, banyak video telah keluar dari beberapa kabupaten di Khuzestan dalam seminggu terakhir, dimana banyak diantaranya terdengar tembakan dan gas air mata terlihat digunakan aparat.

Dalam beberapa video, pengunjuk rasa terlihat melampiaskan amarahnya kepada aparat keamanan yang menggunakan pentungan berpakaian hitam, mengendarai sepeda motor dalam jumlah besar.

Sebuah video yang konon dari Selasa malam menunjukkan sebuah tank yang didirikan sebagai monumen perang delapan tahun Iran-Irak pada 1980-an dibakar, sementara ban terlihat dibakar untuk menutup jalan.

Namun video tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Khuzestan merupakan daerah yang kaya minyak, telah menghadapi masalah air selama beberapa dekade. Populasi Arab Sunni yang besar di provinsi itu telah lama mengeluh karena terpinggirkan di Iran yang didominasi Syiah.

Tahun ini, bagaimanapun sangat sulit bagi provinsi Khuzestan, karena suhu yang sangat panas dan kekeringan yang telah menyebabkan pemadaman listrik yang menyeluruh dan kekurangan air.

Para pejabat mengakui bahwa provinsi itu telah terpukul keras, tetapi mereka mengklaim kelompok-kelompok separatis yang harus disalahkan atas kekerasan tersebut dan menuduh media asing mencoba mengambil keuntungan dari situasi tersebut untuk menentang pendirian teokratis.

Presiden Hassan Rouhani mengatakan telah mengalokasikan anggaran baru untuk meringankan situasi, sementara tentara dan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) mengatakan mereka mengerahkan tanker air ke wilayah yang kekeringan.

Di provinsi ini juga terjadi beberapa protes terbesar sepanjang tahun 2019 yang disebabkan karena kenaikan harga bensin tiga kali lipat secara tiba-tiba. Organisasi hak asasi manusia mengatakan ada ratusan orang tewas selama protes itu dan juga akses internet hampir sepenuhnya terputus di seluruh negeri selama hampir seminggu.

Reaksi Masyarakat Iran

Selama seminggu terakhir, baik media sosial maupun media konvensional dipenuhi dengan akun dan berita dari dan reaksi terhadap situasi di Khuzestan.

Tagar dalam bahasa Parsi seperti #KhuzestanIsThirsty dan #KhuzestanHasNoWater telah banyak digunakan untuk mengarahkan perhatian pada krisis dan protes yang jarang diliput oleh media internasional.

Beberapa warga sipil telah mencoba mengumpulkan dana untuk membeli botol air dan kapal tanker untuk dikirim ke Khuzestan, tetapi warga yang lain menilai bahwa langkah tersebut dianggap meremehkan masalah jangka panjang, yang dihadapi oleh orang-orang di provinsi membutuhkan solusi yang berkelanjutan setelah bertahun-tahun salah pengelolaan dan dikucilkan.

“Masalah Khuzestan berasal dari proyek transfer air ilegal dari sungai dan pencurian air dari sumber sungai oleh mafia air,” tweet Fereshteh Tabanian, seorang pengacara yang berbasis di Ahvaz.

Penduduk Khuzestan telah menunjukkan di media sosial bahwa provinsi tersebut benar-benar tidak memiliki air keran yang dapat diminum dan mereka harus membeli air, atau mengambilnya dari sungai yang sebagian besar diantaranya kini telah mengering juga.

Pemadaman listrik juga memperburuk situasi karena banyak yang menggunakan pompa bertenaga listrik untuk mengalirkan air ke dalam rumah mereka.

Pada hari Selasa, sekelompok aktivis dan pembela hak asasi manusia termasuk Narges Mohammadi, yang dibebaskan dari penjara pada Oktober 2020 setelah menjalani hukuman delapan setengah tahun, berdemonstrasi di depan kementerian dalam negeri di ibukota, Teheran, untuk menyatakan dukungan kepada rakyat Khuzestan.

Suami Mohammadi, Taghi Rahmani, mengatakan aktivis dan beberapa lainnya ditangkap. Dia kemudian mengatakan mereka dibebaskan pada dini hari Rabu.

Dua mantan presiden Iran, Mohammad Khatami dan Mahmoud Ahmadinejad juga mengkritik reaksi pihak berwenang terhadap protes tersebut.

“Tidak ada organisasi politik, keamanan, militer atau penegak hukum yang memiliki hak untuk menghadapi protes rakyat dengan kekerasan, senjata atau peluru dengan alasan untuk melawan kekacauan,” kata Khatami. (Bahri)

Sumber: Al Jazeera

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close X