Responsive image

Isolasi Diri Resapi Makna Ibadah

Isolasi Diri Resapi Makna Ibadah

(Jurnalislam.com) – Generasi sahabat adalah generasi yang beribadah pada Allah azza wa jalla. Yaitu generasi yang memahami ibadah dengan makna asal atau prinsip terlebih dahulu sebelum makna sekunder; yaitu ibadah itu merupakan amalan nusuk seperti shalat, puasa, zakat, haji, zikir, kurban dll.

 

Artinya pekerjaan asal hidup manusia hanyalah untuk shalat, berpuasa, tahajud, ibadah untuk menyucikan diri dan banyak-banyak berzikir:

 

لا يزال لسانك رطباً من ذكر الله

 

“Senantiasa lisanmu basah dengan zikir pada Allah.” (At-Tirmidzi)

 

Setelah itu semua dipahami barulah kemudian sahabat beralih pada pekerjaan sekunder, yang mengikuti makna ibadah prinsip. Seperti perbuatan baik secara umum, bekerja, menasihati, mencari nafkah, berbaik dengan tetangga dll. Ini adalah definisi ibadah dalam makna luas.

 

Dengan memahami makna ibadah yang prinsipal tersebut, sabahat menjadi generasi yang cinta pada Al-Quran. Demikianlah kita berdakwah pada masyarakat untuk memahamkan mereka makna ibadah tersebut.

 

Sehingga tema dakwah pertama yang kita sampaikan pada masyarakat untuk menumbuhkan kecintaan mereka pada Al-Quran; membacanya, tahsinnya, dan menjadikannya sebagai kebiasaan wirid harian. Agar lisannya selalu basah dengan bacaan Al-Quran yang merupakan bentuk ibadah paling agung.

 

Dakwah untuk menumbuhkan kecintaan pada shalat fardhu berjamaah dan tepat waktu, membiasakan shalat malam, puasa sunah, menutup aurat dengan sempurna dan itikaf. Sebelum itu semua terlebih dahulu membersihkan duri dalam hati kita sebelum menyingkirkan duri dari jalan.

 

Kita tidak mungkin dapat menyingkirkan rintangan di jalan dengan ikhlas kecuali hati kita harus bersih terlebih dahulu. Caranya dengan memperbanyak amalan ibadah prinsip. Melazimi thaharah, memperbanyak shalat, tilawah dan zikir.

 

Jadi, tugas utama seorang muslim adalah sibuk beribadah pada Allah dengan bentuk ibadah-ibadah asal. Sahabat merupakan perwujudan muslim ideal, sebabnya keberadaan Nabi shalallahu alaihi wasallam bersama mereka. Syakhsiyah Nabi shalallahu alaihi wasallam dalam masyarakat sahabat merupakan rukun penting dalam mencetak generasi sahabat.

 

Seluruh sahabat ditarbiyah oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam untuk beribadah pada Allah dengan makna ibadah asal, menyerahkan segala urusan pada Allah dan memperbanyak zikir agar hati mereka bersih. Mereka melihat contoh nyata Nabi shalallahu alaihi wasallam yang selalu shalat, puasa, beristighfar dan ibadah lainnya.

 

Muhammad shalallahu alaihi wasallam yang telah diampuni dosa yang lampau dan akan datang tetapi kakinya bengkak begadang shalat malam. Sehingga ibunda Aisyah radhiyallahu anha mengatakan: “Bukankah Allah telah ampuni segala dosa antum yang lalu dan akan datang?” yang dijawab oleh beliau shalallahu alaihi wasallam:

 

أفلا أكون عبدا شكورا؟

 

“Tidakkah sudah sepatutnya aku menjadi hamba yang bersyukur.”

 

Kalimat itu menjadi mutiara tarbiyah sepanjang hayat bagi Aisyah radhiyallahu anha dan seluruh sahabat radhiyallahu anhum yang menyaksikan langsung shalat dan ibadahnya Nabi shalallahu alaihi wasallam.

 

Sehingga bila kita melihat pada sahabat, kita akan menjumpai mereka selalu berdiri shalat di tengah kegelapan malam, melazimi zikir tanpa putus, selalu berpuasa sunah dan mereka mengutamakan amal-amalan hati agar mendapat anugerah kecintaan Allah ta’ala. Mewujudkan apa yang disebut ibadah pada Allah azza wa jalla.

 

Momen isolasi diri, karantina ataupun lockdown sejatinya anugerah bagi kaum mukmin untuk dapat meresapi makna prinsip ibadah. Lalu hari-hari dilalui dengan wirid, shalat, puasa dan menyucikan hati. (Agus Riyanto)

 

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close X