Islamophobia Rusia Terlihat Jelas di Sochi Lalu Negara-negara Barat Mendiamkannya

SOCHI (jurnalislam.com) – Al Jazeera melaporkan adanya diskriminasi terhadap Muslim di olimpiade Satanic Putin di Sochi. Dalam laporannya yang berjudul “Diskriminasi Olimpiade: Bercampur dengan Muslim di Sochi”, dengan subjudul “Mengapa kebijakan Islamofobia Putin merasuki Olimpiade Musim Dingin di Sochi”, Al Jazeera melaporkan secara khusus:

Kebijakan Islamofobia Putin melingkupi Olimpiade musim dingin di Sochi.
“Lebih dari 20.000 Muslim Sochi membantu membangun infrastruktur dan panggung-panggung untuk Olimpiade Musim Dingin 2014 di Rusia (sebenarnya merupakan wilayah Emirat Kaukasus – KC ), dimana atlet Muslim dari berbagai negara peserta akan bersaing dalam stadion, lereng pegunungan  dengan struktur senilai multi-jutaan ini.

Namun, bagi umat Islam di Sochi, Islamophobia yang merajalela telah menimbulkan bayangan kewaspadaan dan bahaya selama Olimpiade ini. Liputan olimpiade Sochi menyebutkan Islam dan Muslim secara eksklusif identik dengan ancaman teroris, “black-widows” berjilbab, ketaatan agama dan masalah keamanan nasional.

Upacara Pembukaan olimpiade juga memamerkan wajah palsu “New Russia” yang dikemas dengan rapi. Kebencian Rusia kuno terhadap komunitas LGBTQ serta masyarakat pribumi dan Muslim pendatang, juga ditampilkan secara jelas di Sochi .

Saat persiapan olimpiade, reporter NBC, Bob Costas menyatakan bahwa Olimpiade Sochi akan, “Berlangsung dengan latar belakang pertanyaan tentang perbedaan kebijakan, keamanan, pembengkakan biaya dan isu-isu hak asasi manusia”.

Pesan tersebut, yang dikeluarkan dari meja berita dan Oval Office, secara jelas mengindikasikan bahwa AS menentang struktur yang dibangun untuk Olimpiade Sochi.

Tidak ada pernyataan serupa  yang dikeluarkan mengenai Islamofobia yang mengelilingi Olimpiade. Sebaliknya, media dan retorika politik di AS mengenai Muslim dan Islam konteksnya sejalan dengan yang ada di Rusia.
Kebijakan Muslim di Amerika Serikat, dan hubungannya terhadap “perang global melawan terorisme”, menyebabkan kata Islamophobia kurang ajar Sochi itu keluar dari berita utama, dan berakibat pemerintah AS menjadi abai dalam mempertanyakan kebebasan beragama Muslim di Rusia.

20.000 Muslim,  0 masjid
Islamophobia dibangun secara mendalam dalam hukum Rusia. Rusia Baru (New Russia) –  seperti juga Rusia Lama (Old Russia), secara keras menganiaya agama minoritas. Kota Olimpiade berdiri di tepi Pegunungan Kaukasus –  yang merupakan situs dari penghilangan dan pengungsian Muslim Sirkasia di abad ke-19.

Dalam upaya untuk meredam perlawanan, Tsar bersama dengan strategi Soviet memusatkan pada penutupan masjid, serta menghilangkan pusat-pusat keagamaan dan tempat-tempat pertemuan sebagai strategi untuk membersihkan etnis Muslim pribumi. Taktik selimut penindasan Rusia ini memperpanjang kekuasaan Tsar, Uni Soviet, dan memperbudak penduduk Muslim sekitar dan wilayah Kaukasus.

Dalam artikel Mother Jones “Mengapa Sochi tidak memiliki masjid”, Tim Murphy menulis bahwa Sochi tidak memiliki sebuah masjid pun bagi ke-20.000 penduduk Muslimnya.

Sebagian besar umat Islam ini “bermigrasi ke kota selama dekade terakhir untuk mengambil pekerjaan membangun fasilitas Olimpiade”. Masjid terdekat adalah di desa Tkhagapsh, sekitar 50 kilometer dari Sochi. Kemungkinan untuk mendahului munculnya protes, Anatoli Rykov, walikota interim Sochi, mengatakan kepada wartawan bahwa pembicaraan untuk membangun masjid pertama Sochi akan dimulai setelah Olimpiade.

Ruang sholat disiapkan untuk atlet Muslim. Namun, akomodasi bagi atlet Muslim tersebut bagaimanapun bukanlah simbol toleransi. Melainkan hanyalah sebuah upaya yang terang-terangan untuk memadamkan timbulnya pembangkangan dalam Desa Olimpiade, namun secara bersamaan, menyangkal hak-hak warga Muslim Sochi untuk mempraktekkan keyakinan mereka.

Kurangnya masjid di Sochi merupakan simbol dari sebuah kebencian yang dalam terhadap umat Islam. Atribut mencolok dari identitas Muslim, termasuk jenggot atau jilbab, status hukum dan kebangsaan Chechnya atau Sirkasia, akan segera memobilisasi 50.000 pasukan polisi yang berpatroli sekeliling kota.

In short, Sochi is no place for Muslims, and the Steering Committee’s welcome for the Games’ Muslim athletes will surely expire as soon as Olympic flame is put out.

Singkatnya, Sochi bukan merupakan tempat bagi umat Islam, dan sambutan Komite Pengarah bagi atlet olimpiade Muslim pasti akan berakhir segera setelah api Olimpiade dipadamkan.

Sochi: Apakah merupakan sebuah Desa Potemkin modern?
Olimpiade Sochi disebut sebagai “momen kemuliaan pribadi” bagi Vladimir Putin. Sebuah sirkus megah senilai $ 51 miliar bagi orang kuat Rusia yang menampilkan keberanian dan kekuatan keuangan untuk ditonton seluruh dunia. Namun, arogansi Putin hanya mencakup satu dimensi saja, yaitu bagaimana olimpiade ini akan diingat setelah berakhir tanggal 23 Februari nanti.

Tanpa pertanyaan, Putin mendukung kebijakan Islamofobia modern di Rusia hari ini. Namun, fobia yang bercampur dengan kebencian agama terhadap kekaisaran, xenophobia dan identitas otentik Rusia yang berasaskan konsepsi ras yang sempit, merepresentasikan tsar modern selama berabad –abad.

Di luar Struktur Olimpiade miliaran dolar yang melambangkan “Rusia Baru” tertanam fobia dan sistem kebencian tidak bisa disembunyikan oleh upacara pembukaan yang megah atau stadium bernilai seni tinggi.
Ketika keramaian orang banyak dan kamera dunia telah pergi jauh, Sochi akan dikenang sebagai “desa Potemkin” modern, yang dibangun di atas pilar cekung kebencian yang selamat dari jatuhnya dinding dan ambruknya tirai besi. Setelah medali terakhir diberikan di Sochi, hal inilah yang akan berdiri sebagai simbol abadi dari Olimpiade Musim Dingin 2014”. (ded412/kavkazcenter)

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.