Fatwa Zakat Fitrah Imam Asy-Syafi’i

Fatwa Zakat Fitrah Imam Asy-Syafi’i

JURNALISLAM.COM – Tidak terasa, hari raya Idul Fitri 1440 Hijriah akan segera datang. Sebelum meninggalkan bulan suci ini, ada perintah yang harus tinuaikan, zakat fitrah.

Menyoal zakat fitrah ini ada berbagai macam penjelasan dan fatwa terkait ini, salah satunya dari Imam Asy-Syafi’i. Ulama yang dilahirkan pada tahun 150 Hijriah ini mengatakan, zakat fitrah merupakan suatu kewajiban baik lelaki maupun perempuan dari kaum muslimin berupa satu sha’ makanan pokok kepada golongan yang berhak (mustahiq) menerima zakat mal (harta).

Sebagaimana dalam firman Allah: “Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk memerdekakan hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berutang, untuk jalan Allah, dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan. (Q.S At-Taubah (9) : (60).

Di dalam buku Fatwa-fatwa Imam Asy-Syafi’i karya Asmaji Muchtar, Imam Asy-Syafi’i memperinci terkait permasalahan zakat fitrah ini. Yang pertama menyoal siapa saja yang harus membayar zakat fitrah.

Asy-Syafi’i mengatakan, seseorang wajib membayar zakat fitrah untuk orang yang harus dinafkahinya, baik itu anak kecil, orang tua, orang lumpuh yang miskin, ayah dan ibu yang lumpuh dan miskin, istri, maupun pembantu istri.

Jika istri mempunyai pembantu lebih dari satu, hanya satu pembantu yang dizakatkan. Pembantu lain adalah kewajiban istri, demikian juga budak yang dimiliki istri.

Imam Asy-Syafi’i melanjutkan, jika seseorang mempunyai anak atau tanggung jawab baru pada akhir Ramadhan sebelum matahari tenggelam, ia harus mengeluarkan zakat untuk mereka. Meskipun anak itu kemudian meninggal malam itu juga, ia tetap harus mengeluarkan zakat fitrah.

Akan tetapi, jika anak itu menjadi tanggung jawabnya setelah matahari tenggelam pada akhir Ramadhan, ia tidak harus mengeluarkan zakat fitrah untuk tahun itu. Zakat fitrahnya tidak harus ia berikan, seperti hanya ia mempunyai harta yang belum tiba haul-nya.

Selain itu, orang gila dan anak kecil, zakat fitrahnya menjadi tanggungan walinya. Dengan demikian, wali harus mengeluarkan zakat fitrah untuk orang gila atau anak kecil tersebut. Sementara itu, orang yang sehat akalnya harus mengeluarkan zakat fitrahnya sendiri.

Dilanjutkannya, jika seseorang memasuki bulan Syawal lalu memiliki makanan yang cukup bagi diri sendiri dan orang yang menjadi tanggung jawabnya, sementara makanan itu cukup untuk dijadikan zakat fitrah bagi diri sendiri dan orang yang menjadi tanggung jawabnya; ia harus mengeluarkan zakat fitrah bagi dirinya sendiri dan orang yang menjadi tanggung jawabnya.

Jika makanan itu hanya cukup untuk zakat fitrah sebagian orang yang menjadi tanggung jawabnya, ia harus mengeluarkannya. Jika makanan itu hanya cukup dimakan dirinya sendiri dan orang yang menjadi tanggung jawabnya, ia tidak wajib mengeluarkannya, baik untuk diri sendiri maupun untuk mereka.

Orang yang tidak mempunyai apa-apa dan tidak mempunyai makanan untuk dijadikan zakat fitrah, ia tidak harus meminjam demi membayar zakat fitrah.

Imam Asy-Syafi’i juga menegaskan, Wali anak kecil atau orang gila berkewajiban mengeluarkan zakat fitrah mereka di samping orang yang berada dalam tanggung jawabnya.

Jika seseorang hidup pada akhir Ramadhan lalu mempunyai makanan pokok yang cukup untuknya, untuk orang-orang yang harus ia nafkahi, dan untuk zakat fitrah orang-orang yang harus dinafkahinya; ia harus mengeluarkan zakat untuk dirinya dan mereka.

Jika ia hanya mempunyai makanan pokok yang cukup untuk diri sendiri dan orang-orang yang harus dinafkahi sekaligus cukup untuk zakat fitrah dirinya dan mereka; ia harus mengeluarkannya.

Perkataan lain, jika pada malam tersebut seseorang mempunyai makanan pokok yang cukup untuk dirinya dan orang yang dinafkahinya, tetapi tidak cukup untuk zakat fitrahnya apalagi untuk orang yang dinafkahinya; ia tidak harus mengeluarkan zakat fitrah.

Sementara itu, jika salah seorang dari orang yang dinafkahinya mempunyai makanan pokok yang lebih, orang tersebut harus mengeluarkan zakat fitrah untuk dirinya sendiri, sebab ia belum dizakatkan oleh walinya.

Yang kedua tentang ukuran dan jenis makanan zakat fitrah

Seperti yang sudah banyak dipahami oleh masyarakat Indonesia yang menjadikan sosok Imam Asy-Syafi’i sebagai salah satu Imam Mahzab panutan, zakat fitrah memang dikeluarkan sebesar 1 sha’ atau sekitar 2.5 kg.

Makanan yang harus dijadikan zakat fitrah adalah makanan yang paling sering dimakan oleh orang (beras jika di Indonesia).

Putra dari pasangan Idris bin Abbas dan Fatimah binti Abdullah ini menjelaskan zakat fitrah penduduk desa dan kota sama saja, sebab Nabi tidak pernah membedakannya.

Ia juga mengatakan, zakat fitrah yang dikeluarkan berupa makanan pokok yang bagus dan tidak rusak. Meskipun demikian, ia boleh mengeluarkan zakat fitrah dengan makanan yang sudah lama asalkan belum rusak.

Poin lain dari penjelasan zakat

Jika seseorang mempersiapkan makanan untuk zakat fitrah kemudian makanan tersebut hilang dan ia termasuk orang yang mampu mengeluarkan zakat fitrah, ia harus menggantinya.

Seseorang boleh membagikan zakatnya kepada kaum kerabatnya, asalkan mereka termasuk orang yang berhak menerima zakat.

Terlebih lagi menurut ia, hal itu lebih baik daripada dibagikan kepada orang yang tidak hubungan kerabat dan tidak termasuk orang yang harus dinafkahinya.

Selain itu, poin lain tentang orang yang tidak mampu melakukan zakat fitrah. Jika seseorang tidak mampu mengeluarkan zakat fitrah ketika hilal Syawal tampak lalu sehari sesudahnya ia mampu, ia tidak perlu mengeluarkannya. Akan tetapi menurut Asy-Syafi’i lebih baik ia mengeluarkan zakat fitrah jika memperolehnya.

Jika seseorang tidak mempunyai apa pun, baik uang maupun makanan pada hari tersebut, ia tidak perlu meminjam kepada orang lain untuk membayar zakat fitrah.

Demikian sedikit banyak penjelasan zakat fitrah dari Imam panutan umat Islam mayoritas di Indonesia. Semoga apa yang ia jelaskan dapat diterapkan secara maksimal oleh negara dengan umat Islam paling banyak di dunia ini.

Sumber: Fatwa-fatwa Imam Asy-Syafi’i -Masalah Ibadah-, Dr. Asmaji Muchtar.

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close X