Dinilai Langgar HAM, ISAC Minta DPR-RI Panggil Kadensus 88

SURAKARTA (Jurnalislam.com) – The Islamic Study and Action Center (ISAC) mengirim laporan terkait kasus salah tangkap Densus 88 Anti-Teror terhadap dua warga Solo. Dalam laporan itu ISAC menjelaskan kronologis penangkapan Nur Sawaludin dan Galih di Jalan Honggowongso, Laweyan, Kota Solo, Selasa (29/12/2015) lalu.

Baca: Dua Korban Salah Tangkap Densus 88 Beberkan Kronologis Penangkapan

Dalam surat yang ditujukan kepada Ketua DPR RI, Ketua Komisi III DPR RI, Ketua Komnas HAM, Ketua Kompolnas dan Ketua Ombudsman DIY itu, ISAC menilai, Densus 88 telah melakukan pelanggaran HAM.

ISAC meminta Kepada Ketua DPR RI, Ketua Komisi 3, Ketua Kompolnas untuk memanggil Kapolri dan Kadensus 88 Anti Teror untuk mememinta keterangan perihal Salah Tangkap atau tindak pidana penculikan 2 warga Solo yang tidak prosedural, tanpa disertai surat penagkapan, masih ada perilaku dan perkataan kasar, intimidasi serta mempersulit pelaksanaan sholat dhuhur yang merupakan aktualisasi agama. 

"Dalam kasus ini Densus 88 Anti Teror tidak minta maaf, tidak merehabilitas nama baik dan tidak memberi kompensasi sebagaimana Peraturan Pemerintah no 27 tahun 1983," kata ketua ISAC, Muhammad Irawan dalam laporannya, Jumat (1/1/2016).

ISAC juga meminta Kepada Ketua Komnas HAM dan Ombudsman untuk mengusut terjadinya dugaan pelanggaran HAM dan tindakan tanpa prosedur yang dilakukan oleh densus 88 Anti Teror.

Diberitakan sebelumnya, dua warga Solo itu ditangkap Densus 88 atas dugaan terlibat jaringan ISIS. Namun tuduhan tersebut meleset, Nur dan Galih pun dititipan di Polsek Laweyan kemudian dibebaskan.

Reporter: Dyo | Editor: Ally | Jurnalislam

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.