Cadar dan Marwah Islam

Cadar dan Marwah Islam

Oleh : Jumi Yanti Sutisna*

Rabu yang lalu (4/11/2020) sekitar pukul 10 pagi seorang wanita bercadar di Tangerang pulang dari pasar bersama keponakannya yang berusia 4 tahun, melewati rumah seorang tokoh masyarakat yang disebut ustadz oleh warga setempat. Tokoh masyarakat itu sedang mengobrol ditengah jalan  bersama seorang laki-laki, wanita bercadar bersama keponakannya lewat dan permisi.

Tanpa diduga tokoh masyarakat yang disebut ustadz itu menarik cadar milik wanita itu sehingga cadar terlepas dan jilbab yang dikenakan wanita menjadi berantakan. Melihat itu, sontak tokoh masyarakat yang menarik cadar dan laki-laki yang bersamanya tertawa. Namun, setelah di klarifikasi oleh pengacara muslim, tokoh masyarakat itu berdalih yang dilakukannya adalah candaan semata, tidak bermaksud melakukan pelecehan terhadap muslimah dan syariah cadar.

 

Peristiwa penarikan cadar ini membuat kita teringat pada salah satu adegan film kontraversial ‘My Flag’ yang ditayangkan NU Channel belum lama ini. Dimana ada adegan perselisihan dan penarikkan cadar. Entah, apakah peristiwa penarikkan cadar di Tangerang oleh tokoh masyarakat ini terinspirasi dari film ‘My Flag’ atau tidak, namun tetap ini adalah sebuah pelecehan yang menghinakan marwah Islam.

 

Pelecehan terhadap muslimah dan cadar ini bukan hanya mengingatkan kepada salah satu adegan film ‘My Flag’ melainkan juga mengingatkan pada kisah yang terjadi semasa hidup Rasulullah.

 

Seorang muslimah datang ke pasar Yahudi Bani Qainuqa’ membawa perhiasan dan duduk menghadapi tukang emas. Tukang emas dari kalangan yahudi menginginkan muslimah tersebut memperlihatkan wajahnya. Namun muslimah itu menolak. Kemudian seorang yahudi yang lain diam-diam dari belakang mengaitkan ujung baju muslimah itu dengan sebatang penyemat ke punggungnya, ketika muslimah itu berdiri, tampaklah auratnya. Mereka yahudi ramai-ramai menertawakannya, sedangkan muslimah itu menjerit.

 

Atas jeritan muslimah itu, datanglah seorang laki-laki Muslim dan langsung menghajar tukang emas dan membunuh seorang yahudi yang melecehkan muslimah itu. Orang-orang yahudi yang lain pun berdatangan dan membunuh laki-laki Muslim itu.

 

Mendengar ini, Rasululullah mengingatkan para yahudi agar tidak mengganggu kaum Muslimin dan supaya tetap memelihara perjanjian perdamaian yang sudah ada. Jika tidak, yahudi akan mengalami nasib seperti orang-orang Quraisy yang dikalahkan di perang Badar. Namun rupanya peringatan Rasululullah tidak diindahkan.

 

Bahkan kaum yahudi menantang “Muhammad, jangan kau tertipu karena kau sudah berhadapan dengan suatu golongan yang tidak punya pengetahuan berperang sehingga engkau mendapat kesempatan mengalahkan mereka. Tetapi kalau kami yang memerangimu, niscaya akan kau ketahui, bahwa kami inilah orangnya” .

 

Salah satu adab Islam, ibarat lebah tidak akan mengusik jika tidak diusik, namun demi kemuliaan Islam jika lawan menantang maka sebuah larangan untuk lari kebelakang.

 

Rasulullah dan kaum Muslimin menjawab tantangan yahudi dengan mengepung selama lima belas hari berturut-turut. Tidak ada satu orang pun yahudi yang dapat keluar, juga tak ada yang dapat masuk membawakan makanan. Sehingga, tidak ada pilihan bagi yahudi kecuali menyerah dan tunduk pada aturan Rasulullah. Kemudian Rasulullah mengambil keputusan untuk mengusir yahudi Bani Qainuqa’ dari Madinah. Pengusiran yahudi Bani Qainuqa’ ini membuat yahudi lain yang masih berada di Madinah menjadi lemah.

 

Inilah sikap Rasulullah saat marwah muslimah dan Islam dilecehkan. Rasulullah sebagai teladan kelembutan dan pemaaf seperti yang pernah ia lakukan saat penduduk Thaif melecehkannya namun disaat yang berbeda tatkala marwah agama dihinakan dan dilecehkan seperti yang dilakukan oleh oknum Yahudi Bani Qainuqa’ yang kemudian didukung oleh sesamanya, Rasulullah mengambil tindakan tegas pengusiran, demi marwah Islam.

 

Pun tak jauh berbeda dengan yang dilakukan oleh para sahabat dan para Khalifah dalam menjaga marwah Islam.

 

Sultan Abdul Hamid II mengirim surat ultimatum kepada pemerintah Perancis dan Inggris saat mereka menghinakan marwah Rasulullah melalui sebuah pertunjukkan drama, sehingga dengan ultimatum itu Perancis menghentikan pertunjukkannya dan Inggris membatalkan pertunjukkannya.

 

Jika kita mau mempelajari, bukankah sama pola musuh Islam dalam menunjukkan kebenciannya pada Islam. Baik itu dari kaum kafir maupun dari kaum munafik.

Tidak jauh berbeda bagaimana cara mereka menunjukkan kebencian pada Islam, terus menerus, lagi dan lagi, seperti yang dikabarkan oleh firman allah SWT,

 

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. (QS. At-Taubah : 32)

 

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 120)

 

Disinilah sebenarnya Allah ingin menunjukkan kebenaran seorang muslim dalam kecintaan kepada agamanya, apakah mereka berdiam diri dengan dalih Rasululullah adalah seorang pemaaf yang memaafkan penduduk Thaif kala menghinakannya. Bukankah itu soal yang berbeda? Dan bukankah Rasulullah pun telah memberi contoh tegas tatkala marwah muslimah dan agama dihinakan.

 

Rasulullah para sahabat serta orang-orang terdahulu telah memberi contoh terbaik dalam menyikapi kebencian-kebencian itu. Akan menjadi sebuah langkah terbaik dan solusi terbaik adalah meneladani apa yang mereka lakukan, karena mereka telah memberi bukti bagaimana cara menjaga marwah agama ini.

 

Berdiam tidak melakukan pembelaan saat agama dilecehkan dengan dalih toleransi? Kita bisa menengok Sultan Abdul Hamid II bertindak tegas dengan mengirim surat ultimatum kepada Inggris saat Inggris memiliki rencana mengadakan pertunjukan drama yang menghinakan Rasulullah, padahal antara Sultan Abdul Hamid II dan Inggris kala itu memiliki hubungan diplomatik yang baik.

 

Jangan-jangan kita yang berdiam diri atas pelecehan syariah dan agama hanya mencari-cari alasan atas lemahnya iman dan ketakutan yang besar akan kesulitan yang dihadapi jika membela agama Allah. Padahal firman Allah SWT,

 

“ Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al- Ankabut : 2 )

 

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Al-Baqarah : 214)”.

 

Atau kaum muslimin bersantai dan berdiam diri dengan pelecehan terhadap agama karena merasa bahwa kaum muslimin masih lemah, belum memiliki kekuatan dan kekuasaan seperti yang telah dimiliki para Khalifah.

 

“Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang beriman” (QS. Ali-Imran : 139)

 

Bukankah banyak sejarah menceritakan kaum muslimin memperoleh kemenangan atas kekuatan musuh Islam yang tampak lebih hebat?

Seperti halnya perang Badar rasio pasukan Muslimin dan musuh Islam adalah 1 : 3, 313 pasukan muslim dan 950 pasukan kafir. Kemudian Thariq bin Ziyad bersama pasukannya menaklukkkan benteng-benteng kuat Andalusia. Muhammad Al-Fatih bersama pasukannya yang mampu menembus kuatnya benteng Konstatinopel dengan cara yang tidak terpikirkan oleh musuh Islam, dan banyak lagi. Rupanya kesemua diperoleh dengan kuatnya keyakinan dan menjadikan dunia sebagai sarana saja.

 

Masih adakah alasan bagi kaum Muslimin untuk tidak melakukan pembelaan terhadap semua jenis penghinaan dan pelecehan terhadap Islam, padahal telah dikabarkan oleh Allah bahwa muslimin memiliki derajat yang lebih tinggi jika mereka beriman. Atau apakah ada pilihan yang lain yaitu kemunafikan.

*Penulis adalah Jurnalis

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close X