Berita Terkini

BPJS Naik 100 Persen, Hastag #BoikotBPJS Ramaikan Media Sosial

SOLO (jurnalislam.com)- Keputusan pemerintah untuk menaikan iuran BPSJ per 1 Januari 2020 menjadi dua kali lipat menuai polemik. Hastag #BoikotBPJS pun sempat menjadi trending topik di twitter pada senin, (4/11/2019).

Salah satu akun twitter @afief_afiefady ikut berkomentar dengan mempertanyaakan perihal banyaknya penunggakan yang dilakukan pihak BPJS kepada instansi rumah sakit.

“Rakyat disuruh wajib iuran @BPJSKesehatanRI tapi kenyataannya @BPJSKesehatanRI masih nunggak pembayaran ke rumah sakit ?? Mau naikin pula iurannya ?? Lha iuran kemarin kemana sampai nunggak ?? #BoikotBPJS,” katanya selasa,(5/11/2019).

Sementara @Tarawinat4 ikut menanggapi pernyataan Direktur Utama BPJS Kesehatan Fahmi Idris yang menyebut iuran BPJS hanya naik 5000 perhari di kelas satu, 3000 perhari kelas dua dan 2000 perhari di kelas tiga.

“Penghasilan rakyat tidak menentu tapi dipaksa untuk membayat iuran BPJS dengan dalih 5 ribu/hari. Nyari duit untuk makan aja susah, gimana mau bayar buat BPJS,?? #BoikotBPJS,” ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IX Nihayatul Wafiroh meminta pemerintah untuk mengimbangi kenaikan iuran 100 persen dari BPJS dengan meningkatkan pelayanan kesehatan untuk pengguna.

“Kami tidak mau kalau hanya naik saja untuk menutupi kekurangan tapi tidak ada kenaikan dalam hal pelayanan. Jadi kami berharap kenaikan iuran BPJS itu menjadikan kami harus melihat kembali bagaimana tingkat pelayanannya,” kata Nihayatul di gedung DPR, Senayan, Jakarta, sebagaimana dikutip dari detik.com pada Rabu (30/10/2019).

Niat Cegah Radikalisme, Tjahjo: Seleksi CPNS Ada Soal Wawasan Kebangsaan

YOGYAKARTA(Jurnalislam.com) — Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB) Tjahjo Kumolo mengatakan, pencegahan radikalisme juga dilakukan terhadap ASN.

Yang mana, pencegahannya dimulai saat tes CPNS dilakukan.

Ia mengatakan, akan ada materi khusus saat tes CPNS dilakukan. Dalam tes, akan disisipkan soal terkait  wawasan kebangsaan.

Bahkan, katanya, ada tim yang disiapkan untuk menyusun soal-soal tersebut.

“Kemudian, Tim Kementistek-Diknas dan Dikti yang menyusun soalnya, ada sekian persen yang kita berikan soal-soal mengenai wawasan kebangsaan,” kata Tjahjo di Kompleks Kantor Gubernur DIY, Yogyakarta, Senin (4/11).

Ia menjelaskan, radikalisme harus diwaspadai dari berbagai aspek termasuk ASN.

Sehingga, dapat mencegah adanya perpecahan yang dapat terjadi karena adanya paham radikalisme di masyarakat Indonesia yang memang sangat beragam.

“Silakan orang berhak untuk berserikat, berpartai dan berormas. Orang berhak untuk melakukan ibadah sesuai agama dan keyakinannya masing-masing. Harus kita cegah yang bisa memecah bangsa,” kata Tjahjo.

Sementara itu, untuk ASN aktif, katanya, bukan berarti tidak ada pencegahan. Yang mana, ada tim yang disiapkan untuk melakukan monitor terhadap ASN di seluruh Indonesia.

“Pekerjaan rumahnya satu, harus tegak lurus pada Pancasila, UUD 45, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, itu saja untuk melayani semua masyarakar yang beragam,” ujarnya.

Sumber: republika.co.id

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diprediksi Terus Melambat

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh melambat pada kuartal III-2019. Ekspor sepertinya masih menjadi faktor pemberat pertumbuhan ekonomi, bukannya memberi kontribusi.

Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis data pertumbuhan ekonomi kuartal III-2019 esok hari.

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan ekonomi sepanjang Juli-September tumbuh 5,02% secara tahunan, melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yaitu 5,05%.

“Pertumbuhan ekonomi secara umum akan melambat menyusul penurunan ekspor, utamanya karena melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia akibat perang dagang.

Sementara investasi juga akan melambat (terutama Penanaman Modal Asing/PMA) karena melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia.

Jadi motor pertumbuhan ekonomi Indonesia pada akan ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah,” papar Damhuri Nasution, Ekonom BNI Sekuritas.

Damhuri menilai konsumsi rumah tangga masih akan tumbuh cukup baik, meski momentum Ramadan-Idul Fitri sudah lewat.

Kuatnya konsumsi dicerminkan oleh inflasi yang terkendali dan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang kuat.

Sepanjang kuartal III-2019, rata-rata inflasi nasional adalah 3,4% year-on-year (YoY). Masih berada di titik tengah-bawah target Bank Indonesia (BI) yaitu 2,5-4,5%.

Sementara IKK, meski terus melambat, tetapi masih di atas 100. Artinya, konsumen masih pede menghadapi kondisi perekonomian saat ini dan masa mendatang.

Sumber: cnbcindonesia.com

Reuni Akbar 212 Direncakan Kembali Digelar

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Reuni Akbar 212 akan kembali digelar pada 2 Desember mendatang. Namun, teknis pelaksanaannya belum didetailkan. Pihak penyelenggara masih melakukan musyawarah.

“Kita baru musyawarah,” kata Ketua Umum Persaudaraan Alumni 212 (PA 212) Slamet Maarif, saat dihubungi di Jakarta, Senin (4/11).

Seperti tahun-tahun sebelumnya, PA 212 akan menggelar kembali Reuni Akbar 212 pada tanggal 2 Desember.

Kegiatan ini dilaksanakan sebagai momentum untuk konsolidasi aktivis 212 yang pernah turun ke jalan dalam menyuarakan keadilan.

Meski belum ada sosialisasi yang pasti dari PA 212, berbagai poster digital terkait rencana Reuni Akbar tersebar di berbagai lini media sosial.

Di antaranya bertuliskan ‘Reuni Akbar Mujahid-Monas 212 2019, Ikuti, Hadirilah, Reuni Akbar Mujahid’.

Slamet Maarif enggan berkomentar banyak ketika ditanya mengenai momentum tahunan tersebut.

Apalagi ketika ditanyakan mengenai rencana kehadiran Habib Rizieq Syihab (HRS) pada Reuni Akbar 212, Slamet bergeming.

Ketua PBNU Nilai NU dan FPI Sama-sama Perkuat Ekonomi Umat

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Robikin Emhas memaparkan pendapatnya tentang penguatan ekonomi umat.

Dia bilang, pihaknya dan Front Pembela Islam (FPI) punya pemahaman sama terkait hal ini.

“Saya percaya FPI memiliki atensi mengenai hal ini. Akses terhadap keadilan, termasuk keadilan ekonomi boleh jadi merupakan sejenis common sense seluruh ormas yang ada,” kata Robikin melalui keterangan tertulis yang diterima Jurnalislam.com Senin (04/11/2019).

Terkait hubungan antar kedua Ormas, Robikin bilang tak ada perbedaan yang berarti. Bagi dia, persaudaraan atau ukuwah sesama umat tak boleh terputus.

“Tak boleh diputus hanya karena perbedaan pemikiran. Itulah konsepsi tri-ukhuwah yang dipelopori KH Ahmad Shidiq dan dikembangkan NU sejak tahun 1984,” kata dia.

Adapun soal penghormatan pada Habaib, NU melakukan hal itu sejak zaman prakemerdekaan hingga kini.

Dari dulu, Habaib atau Habib merupakan guru, dan dihormati hingga mencium tangan berkali-kali merupakan adat ketika bertemu.

“Boleh jadi tidak ada cium tangan wolak walik kepada habaib jika NU tdk melakukannya. Mengapa? Karena hal itu merupakan bagian dari perintah agama,” kata dia.

 

Reuni Akbar 212 Akan Kembali Digelar

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Reuni Akbar 212 akan kembali digelar pada 2 Desember mendatang. Namun, pihak penyelenggara mengaku masih melakukan musyawarah terkait teknis pelaksanaannya.

“Kita baru musyawarah,” kata Ketua Umum Persaudaraan Alumni 212 (PA 212) Slamet Maarif, saat dihubungi di Jakarta, Senin (4/11/2019).

Seperti tahun-tahun sebelumnya, PA 212 akan menggelar kembali Reuni Akbar 212 pada tanggal 2 Desember. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai momentum untuk konsolidasi aktivis 212 yang pernah turun ke jalan dalam menyuarakan keadilan pada tahun 2016 silam.

Meski belum ada sosialisasi yang pasti dari PA 212, berbagai poster digital terkait rencana Reuni Akbar tersebar di berbagai lini media sosial. Diantaranya bertuliskan ‘Reuni Akbar Mujahid-Monas 212 2019, Ikuti, Hadirilah, Reuni Akbar Mujahid’.

Slamet Maarif enggan berkomentar banyak ketika ditanya mengenai momentum tahunan tersebut, termasuk ketika ditanya mengenai rencana kehadiran Habib Rizieq Syihab (HRS) dalam acara tersebut.

PBNU Sebut Punya Banyak Kesamaan dengan FPI, Kecuali Satu Hal Ini

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Robikin Emhas mengatakan, pihaknya dan Front Pembela Islam (FPI) mempunyai banyak kesamaan pandangan termasuk tentang penguatan ekonomi umat.

“Selain di bidang keagamaan, NU juga memiliki konsen dalam penguatan ekonomi warga. Saya percaya FPI memiliki atensi mengenai hal ini. Akses terhadap keadilan, termasuk keadilan ekonomi boleh jadi merupakan sejenis common sense seluruh ormas yang ada,” kata Robikin melalui keterangan tertulis yang diterima Jurnalislam.com Senin (4/11/2019).

Terkait hubungan antar kedua Ormas, Robikin menegaskan tak ada perbedaan yang berarti. Bagi dia, persaudaraan atau ukhuwah sesama umat tak boleh terputus.

“Tak boleh diputus hanya karena perbedaan pemikiran. Itulah konsepsi tri-ukhuwah yang dipelopori KH Ahmad Shidiq dan dikembangkan NU sejak tahun 1984,” paparnya.

Adapun soal penghormatan kepada Habaib, Robikin mengatakan NU sudah melakukan hal itu sejak zaman prakemerdekaan karena Habaib merupakan guru yang harus dihormati.

“Boleh jadi tidak ada cium tangan wolak-walik kepada habaib jika NU tidak melakukannya. Mengapa? Karena hal itu merupakan bagian dari perintah agama,” kata dia.

Namun yang perlu ditegaskan, pihaknya tidak mendukung gagasan negara Islam atau Indonesia bersyariah maupun khilafah. Bagi NU, bentuk negara ini sudah final. Final sebagai kesepakatan para pendiri bangsa (mu’ahada wathaniyah) yang wajib dipatuhi generasi berikutnya.

“Karena kesepakatan adalah janji dan janji merupakan hutang yang musti dibayar. Bahkan sejak sebelum kemerdekaan NU melalui Muktamar Ke-11 di Banjarmasin tahun 1936 sudah menegaskan bahwa nusantara adalah Darussalam. Demikian juga konsepsi dakwah. Dalam pandangan NU, amar ma’ruf harus dilakukan bil ma’ruf dan nahi munkar pun harus dikerjakan bil ma’ruf,” pungkasnya.

Manipulator Agama

Oleh: M Rizal Fadillah

Ide Jokowi agar mengubah istilah dari radikalisme menjadi manipulator agama sepertinya ide brilyan tetapi sebenarnya tidak. Itu ide yang enteng enteng saja. Bahkan berkonotasi lain dan bisa menembak sana sini. Gagasannya tentu si radikal itu telah melakukan manipulasi agama. Beragama dengan tidak benar.

Dalam Al Qur’an yang mendekati pemaknaan manipulasi agama adalah yang tertuang dalam Surat Al Maa’uun. Disana terinci kriteria “pendusta agama” atau “manipulator agama” Surat ini biasa dikaitkan dengan gerakan Muhammadiyah yang selalu mengingatkan bahwa beragama mesti konsisten dalam prakteknya. Tidak cukup baca dan hafal. Kyai Ahmad Dahlan yang mengajarkan dari konsistensi amaliyah QS Al Maa’uun ini jadilah panti, sekolah, rumah sakit hingga perguruan tinggi.

Manipulator agama adalah mereka yang “menghardik anak yatim”, “tidak menyantuni orang miskin”, “shalat nya celaka” serta “tidak berzakat atau membantu”.

Terhadap yang “shalatnya celaka” ada dua makna besar, yakni:

Pertama, tidak khusyu “saahuun”. Tidak fokus ibadah kepada Allah. Beraudiensi tetapi fikiran kemana mana. Lalu “aladziina yusholuuna wala yusholuun” mereka yang sholat tapi tidak shalat. Sholat yang tak bermakna. Sholat itu menghadap Allah, hanya mengabdi dan menggantungkan diri kepada Allah. Jika ia sholat tetapi masih percaya dan menggantungkan pada “Nyi Roro Kidul”, “Nyi Blorong” atau “Jin Kahyangan” maka ia adalah manipulator agama. Begitu juga jika di rumah, di sawah, di kolam, atau di istana masih memelihara makhluk halus penjaga maka ini pun sama. Manipulator.

Kedua, riya “yuroo-uun”. Ingin dilihat orang. Shalat yang ingin dipuji atau bagian dari pencitraan diri. Jika ingin dipuji sebagai pemimpin yang mampu memimpin umat, kemudian ia senantiasa mau dan maju sebagai imam shalat padahal di belakang ada yang lebih fasih dan faqih, maka hal ini dikualifikasikan “roo-uun”. Riya dan pencitraan.
Tampil dengan profil keagamaan dengan niat untuk mengelabui orang lain juga termasuk manipulasi agama.

Atas dasar hal ini maka manipulator Agama menurut Al Qur’an adalah tercela, celaka, dan bahkan bisa masuk neraka. Mereka adalah kaum yang menjadikan agama sebagai permainan. Permainan budaya maupun politik. Sesungguhnya tidak memuliakan dan meninggikan agama, justru menghinakan. Ia adalah penoda agama. Jika itu seorang pemimpin, maka model seperti inilah pemimpin yang terpapar radikalisme itu. Manipulator agama.

*) Pemerhati Politik dan Keagamaan

Belum Ada Tersangka Penembakan, Polri Malah Tawarkan PNS ke Keluarga Randi

KENDARI(Jurnalislam.com)- Kasus penembakan yang menewaskan dua mahasiswa di Kendari, Sulawesi Tenggara, sudah 35 hari. Polisi belum juga mengungkap siapa pelaku penembakan Randi (21) dan apa penyebab meninggalnya Yusuf Kardawi.

Fitriani Sali, kakak kandung Randi, mengatakan suatu waktu pernah dihubungi oleh perwakilan Mabes Polri yang menjanjikan dirinya diangkat jadi pegawai negeri sipil (PNS). Namun, tawaran itu ditolak dengan tegas. Fitri menilai tawaran itu sama saja menjual nyawa adiknya.

“Saya menyatakan sikap tidak mau jadi PNS untuk gantikan nyawa adik saya,” kata Fitri saat ditemui di rumah kerabatnya di Kendari, Kamis (31/10).

Seandainya tawaran itu datang setelah pembunuh adiknya terungkap, Fitri mengatakan bisa jadi ia menerimanya dengan alasan polisi berbelas kasih kepada keluarganya yang miskin.

Anak pertama dari lima bersaudara ini baru saja menjalani wisuda pada Rabu (30/10) di Universitas Halu Oleo Kendari.

Selama empat tahun kuliah di Jurusan Teknologi Hasil Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UHO, ia memperoleh predikat memuaskan dalam indeks prestasi kumulatif (IPK).

Fitri menyebut orang tuanya mendukung sikap tegasnya. Selain pertimbangan status hukum yang masih menggantung, tawaran PNS itu ditolak karena seleksi abdi negara saat ini tidak bisa melalui lobi-lobi.

“Penerimaan PNS juga tidak segampang itu. Tesnya melalui online dan harus sesuai passing grade. Menurut saya akal-akalan saja,” tuturnya.

Ia menyebut tidak mengetahui apa alasan polisi menawarkan PNS. Namun, secara tegas, keluarga tetap meminta kepastian hukum dan keadilan atas meninggalnya sang adik.

“Keluarga akan terus menagih polisi. Saya juga tidak mau menjual nyawa adik saya,” tegasnya.

Upaya kepolisian untuk menemui keluarga korban, khususnya keluarga almarhum Randi terus dilakukan.

Terakhir, Mabes Polri mengirim AKBP Wa Ode Sarina yang memiliki hubungan kultur dengan keluarga korban.

Sumber: cnnindonesia.com

Sejalan dengan Kiai Said Aqil, Yaqut : Hormati Habib Rizieq

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor, Yaqut Cholil Quomas menyatakan bahwa dirinya sependapat dengan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj untuk menghormati seluruh habib, tak terkecuali Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Muhammad Rizieq Shihab yang memiliki gelar habib.

“Ya kan habib. Makanya Habib Rizieq kan Habib, dihormati iya,” kata Yaqut di Kompleks MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (1/11).

Yaqut memandang tak hanya orang yang memiliki status sebagai habib saja yang patut untuk dihormati, tapi juga para orang tua dan kiai-kiai.

Meski demikian, Yaqut menilai habib memiliki kesetaraan status dan kedudukannya dengan warga negara Indonesia lainnya bila berhadapan dengan hukum.

Ia mengatakan bila memiliki masalah hukum, seorang habib juga harus menghadapinya.

Sumber: cnnindonesia.com