Berita Terkini

Cegah Corona, Arab Saudi Hentikan Sementara Izin Umroh

RIYADH(Jurnalislam.com)–Arab Saudi telah menangguhkan masuknya ke negara itu bagi orang-orang yang ingin melakukan umrah atau mengunjungi Masjid Nabawi di Madinah karena kekhawatiran akan penyebaran virus corona, lansir Kementerian Luar Negeri dalam sebuah pernyataan pada hari Kamis (27/2/2019)

Pedoman untuk mencegah kedatangan virus ke Kerajaan juga termasuk penangguhan perjalanan ke dan dari Arab Saudi untuk warga negara GCC menggunakan kartu ID nasional.

Ada juga penangguhan entri visa turis bagi mereka yang datang dari negara-negara di mana penyebaran virus berbahaya.

Hampir 7 juta peziarah tiba di Kerajaan setiap tahun, dengan mayoritas mendarat di bandara di Jeddah dan Madinah.

sumber: Arabnews

Kalau Tidak Ada Gebrakan, Buat Apa Ada Kongres Umat Islam?

Oleh: Tony Rosyid

 

Konggres Umat Islam digelar lagi. Setelah sempat mati suri di awal Orde Lama dan terkubur di sepanjang era Orde Baru. 1998 Orde Baru tumbang, Kongres Umat Islam hidup kembali.

Tapi, tak seheroik era tahun 1938 yang mengukuhkan Majlis Islam A’la  Indonesia (MIAI) dan 1945 yang berhasil melahirkan Partai Masyumi. Satu-satunya partai yang merepresentasikan umat Islam saat itu.

Pemilu tahun 1955 Masyumi dapat suara. 20,9 persen. Sebelum akhirnya NU menarik diri dari Masyumi. Masyumi makin melemah dan akhirnya dibubarkan oleh Soekarno. Di era Soeharto ganti nama menjadi Parmusi. Tapi, tak lama lahir, dihajar, dan mati juga. Reborn melalui PBB di era reformasi, tapi Wassalam!

 

Hebatnya Kongres Umat Islam saat itu, langsung masuk pada jantung masalah. Berani dan bernyali untuk ambil peran di saat Indonesia sedang mencari bentuk. Rekomendasinya riil, konkret dan terukur. Bagaimana dengan kongres sekarang yang dikomandoi panitianya oleh K.H Zaitun Rasmin, Wasekjen MUI yang namanya viral dan makin populer setelah debat di ILC dengan Ngabalin, utusan dari istana.

 

Soal isu, saat ini tak kalah besar dengan isu di tahun 1938 dan 1945. Jika pra dan pasca kemerdekaan isunya adalah bagaimana umat Islam mengambil peran kemerdekaan dan ikut mengisi panggung politik Indonesia yang sedang mencari bentuk, maka isu saat ini bagaimana umat Islam memulihkan perannya setelah banyak diambil, bahkan dirampok oleh para pemilik modal (kapitalis) yang mengendalikan negeri ini, baik ekonomi maupun politik, melalui tangan-tangan kekuasaan.

 

Fakta bahwa reformasi telah melahirkan oligarki tak bisa dibantah. Merekalah yang mengendalikan negara ini melalui proses industrialisasi politik. Demokrasi dikendalikan secara liberal oleh penyertaan modal para cukong sebagai investasi untuk memborong saham di setiap pemilu. Akibatnya, para pemimpin, elit dan pejabat tinggi tidak lahir dari hati rakyat, tapi mereka dilahirkan oleh kepentingan konglomerasi.

 

Umat Islam di Indonesia adalah mayoritas. 86 persen. Jumlah sebesar itu mesti menyadarkan Umat Islam untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Peran ini bisa diperjuangkan secara struktural melalui parpol, dan secara kultural melalui ormas yang semua perwakilannya hadir pada hari ini di kongres.

 

Umat Islam punya partai Islam. Ada PKS, PKB, PPP dan PAN. Selama ini empat partai Islam ini nyaris gak pernah akur. Kerja sendiri-sendiri dengan agenda dan kepentingan masing-masing. Bersaing dengan isu-isu klasik seperti wahabi, khilafah, Islam garis keras, dst untuk saling melemahkan. Padahal, partai-partai Islam inilah yang paling potensial untuk menyuarakan secara struktural berbagai kepentingan Umat Islam dibanding partai-partai lain.

 

Umat Islam menginginkan adanya aturan halal food, halal tourism, dan halal finance misalnya, mungkinkan bisa melalui partai di luar empat partai Islam itu? Ayo obyektif!

 

Inilah yang disorot oleh gubernur Bangka Belitung, Dr. Erzaldi Rosman Djohan, dalam pembukaan seminar “Halal Internasional” di hadapan para peserta Kongres Umat Islam ke-7 ini.

Gubernur Babel mengeluh kenapa Kredit Usaha Rakyat (KUR) lebih banyak melibatkan bank konvensional, bukan bank Syari’ah. Dimana keberkahannya, tanya orang nomor satu di Babel ini. Ia juga menyoroti RUU Omnibus Law terutama soal pihak yang akan mensertifikasi halal.

Gak usah ribut soal siapa pihak yang berhak mengeluarkan sertifikat halal, tapi yang lebih penting adalah bagaimana mengatur strategi untuk memperjuangkan halalisasi industri. Mosok kalah sama Jepang dan Australia, katanya. Sebuah pemanasan yang inspiratif dan sedikit berani. Keren Pak Gubernur!

 

Melalui kekompakan empat partai Islam, idealny aumat Islam bisa menitipkan semua aspirasi kepentingan dan harapannya. Baik kepentingan struktural maupun kepentingan substansial.

 

Kepentingan struktural artinya umat Islam mesti memiliki keterwakilan secara proporsional dan signifikan di struktur kepemimpinan bangsa ini.

 

Untuk memenuhi kebutuhan itu, akan lebih efektif jika Kongres ke-7 kali ini ikut merekomendasikan partai-partai Islam seperti PKS, PKB, PPP dan PAN berkoalisi dalam setiap pemilu, baik pilpres maupun pilkada. Lalu mendorong umat Islam untuk memberi dukungan kepada calon-calon pemimpin yang didukung oleh empat partai tersebut sebagaimana era 1955 ketika Masyumi jadi satu-satunya representasi hasil kongres Umat Islam tahun 1945. Berani? Atau mau diskusi panjang dulu sampai gagasan ini akhirnya masuk selokan karena tak adanya nyali para ulama dan tokoh Islam yang ikut Konggres ini.

 

Secara substansial, banyak problem serius yang sedang dihadapi oleh umat Islam, dan juga bangsa saat ini. Tidak saja problem ekonomi yang dikuasai oleh 1-10 persen orang terkaya di Indonesia, tapi juga problem hukum dimana institusi-institusi penegak hukum tak ada tanda-tanda punya kemauan sungguh-sungguh menjadi panglima keadilan. Tapi sebaliknya institusi-institusi ini justru seringkali dipakai untuk kepentingan pragmatis kekuasaan.

 

Tidak saja merekomendasikan, tapi Kongres Umat Islam juga mesti mengawal dan memastikan bahwa rekomendasi itu terealisasikan. Jangan sampai ada anggapan publik bahwa kongres Umat Islam hanya ritual lima tahunan. Kegiatannya gak didengar umat, rekomendasinya tak lebih dari asesoris kegiatan. Sekedar kumpul-kumpul ulama, pimpinan ormas dan pejabat.

 

Jangan sampai pula masyarakat di bawah nanya: Kongres Umat Islam itu apa sih? Kan gak lucu kalau pertanyaan itu yang muncul. Ayo buktikan!

 

Bangka Belitung, 27 Pebruari 2020

*Pemerhati Bangsa

KH Ma’ruf Amin: Umat Islam Harus Ada Pemimpinnya, Harus Ada Imamahnya

PANGKALPINANG (Jurnalislam.com) – Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VII resmi dibuka oleh Wakil Presiden Republik Indonesia KH Ma’ruf Amin di Novotel Bangka And Convention Centre, Pangkalpinang, Rabu (26/2/2020) malam.

Wapres KH Ma’ruf mengatakan bahwa Kongres Umat Islam Indonesia sebenarnya sudah dilakukan sejak lama, dan MUI hanya melanjutkan saja.

MUI, menurut KH Ma’ruf adalah representasi dari ormas-ormas Islam di Indonesia, karena berisi perwakilan ormas-ormas Islam.

“Umat Islam harus ada pemimpinnya, harus ada imamahnya. Bukan imamah atau pemimpin personal tapi imamah institusionaliyah (kepemimpinan organisasi, red ) yaitu MUI yang merupakan representasi dari ormas-ormas Islam,” ujarnya.

Kongres yang mengusung tema “Strategi perjuangan umat islam untuk mewujudkan NKRI yang maju, adil dan beradab” ini diharapkan menjadi jalan untuk mewujudkan umat Islam Indonesia sebagai umat yang terbaik.

Wapres Resmi Buka Kongres Umat Islam Indonesia

PANGKALPINANG (Jurnalislam.com) – Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VII resmi dibuka oleh Wakil Presiden Republik Indonesia KH Ma’ruf Amin di Novotel Bangka And Convention Centre, Pangkalpinang, Rabu (26/2/2020) malam.

Pembukaan ditandai dengan pemukulan bedug oleh wakil presiden didampingi Sekjen MUI Buya Anwar Abbas, Gubernur Bangka Belitung Erzaldi Rosman dan beberapa menteri.

KH Ma’ruf Amin mengatakan, MUI sebagai representasi dari ormas-ormas Islam hanya melanjutkan pelaksanaan Kongres Umat Islam Indonesia yang telah diselenggarakan bahkan sebelum Indonesia merdeka.

“Berarti MUI hanya menyambung saja. Ini sudah yang ketujuh. Berarti sudah 35 tahun kita adakan,” kata Kiai Ma’ruf.

“Umat Islam harus ada pemimpinnya, harus ada imamahnya. Bukan imamah atau pemimpin personal tapi imamah institusionaliyah (kepemimpinan organisasi, red ) yaitu MUI yang merupakan representasi dari ormas-ormas Islam,” ujarnya.

Kongres yang mengusung tema “Strategi perjuangan umat islam untuk mewujudkan NKRI yang maju, adil dan beradab” ini diharapkan menjadi jalan untuk mewujudkan umat Islam Indonesi sebagai umat yang terbaik.

Dr. Adian Husaini Raih Penghargaan Tokoh Perbukuan Islam 2020

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Penulis Muslim Dr Adian Husaini meraih penghargaan sebagai Tokoh Perbukuan Islam pada pameran buku Islam Islamic Book Fair 2020. Pameran tahunan yang digelar Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) DKI Jakarta ini digelar pada 26 Februari hingga 1 Maret mendatang.

“Dengan bangga, Ikapi DKI Jakarta memberi anugerah tokoh perbukuan Islam 2020 kepada yang terhormat Dr Adian Husaini,” kata Panitia IBD 2020, Muhammad Anis, dalam sesi penganugerahan IBF Award 2020 di JCC Senayan, Jakarta, Rabu (26/2).

Adian tergolong sebagai penulis yang aktif. Anis menyampaikan, Adian tercatat telah menulis 34 buku. Buku karangannya berjudul “Wajah Peradaban Barat” mendapat, penghargaan sebagai Buku Islam Terbaik kategori nonfiksi dewasa pada IBF Award 2006.

Dalam kesempatan itu, Anis mengatakan, kepiawaian Adian dalam menulis sudah terlihat sejak menimba ilmu di Institut Pertanian Bogor, yang saat itu menulis untuk buletin kerohanian Islam, an-Nahl. Kemudian pada 1990, dia memulai karier sebagai wartawan di harian Berita Buana, lalu dilanjutkan di Harian Republika sampai 1997.

Karier kepenulisan Adian berlanjut menjadi koresponden untuk sebuah koran Jepang dan juga menjadi penulis lepas di beberapa media nasional.

Dalam organisasi, Adian pernah menjadi pengurus Komisi Kerukunan Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, yakni pada 2000-2010, dan pengurus Majelis Tabligh PP Muhammadiyah pada 2005-2010.

Pada tahun yang sama, 2005-2010, Adian juga didapuk sebagai Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, kemudian pada 2010, dia menjadi Anggota Badan Pembina Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, hingga sekarang. Saat ini Adian menjabat sebagai ketua program doktor pendidikan Islam di Universitas Ibnu Khaldun Bogor, dan mengasuh Pondok Pesantren Attaqwa Depok

Sumber:republika.co.id

 

Bangka Belitung Adakan Seminar Halal Tourism

PANGKALPINANG (Jurnalislam.com) – Bank Indonesia Bangka Belitung bersama LPPOM MUI menggelar seminar International Halal Seminar “Toward Bangka Belitung as the World Class Destination for Halal Tourism” di Lantai 4 kantor Perwakilan BI Bangka Belitung Jl. Perkantoran Gubernur Babel, Air Itam.

Acara dibuka oleh Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Muhyiddin Junaidi.

Dalam sambutannya, ia mengatakan bahwa Islam memberikam solusi yang terbaik bagi segala persoalan dengan berpegang teguh pada nilai-nilai agama sehingga dapat memberikan kebahagiaan, ketenangan, dan keharmonisan umat beragama di Indonesia.

“Mudah-mudahan dengan seminar internasional ini kita bisa mengambil pelajaran penting bahwa sebuah peradaban dunia diawali budaya yang berlandaskan agama,” katanya.

Selain untuk mempromosikan Bangka Belitung ke internasional, seminar ini juga tidak bisa dipisahkan dari konvensi umat Islam untuk memberikan penyadaran kepada masyarakat luas bahwa Babel mempunta potensi industri wisata halal yang sangat luas.

“Kegiatan ini menguntunkan bangsa Indonesia khususnya Bangka Belitung yang menawarkan destinasi wisata halal yang sangat eksotik,” paparnya.

Sementara itu Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Rosman Djohan menyampaikan, halal tourism untuk menjaga keharmonisan masyarakat Bangka Belitung.

“Dengan adanya halal tourism ini kita ingin lebih memberikan rasa aman dan nyaman khususnya bagi turis yang beragama Islam,” tuturnya.

Seminar ini merupakan bagian dari rangkaian acara Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke 7 yang akan digelar di Convention Hall Novotel Hotel Pangkalpinang.

Reporter: Ibnu Fariid

Museum Internasional Nabi Muhammad akan Dibangun di Jakarta

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Museum Internasional Nabi Muhammad dan Peradaban Islam akan dibangun di kompleks Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara. Museum ini akan dibuat dengan sangat lengkap sehingga dapat menjadi rujukan.

Ketua Panitia Pembangunan Museum, Syafruddin mengatakan terpilihnya Indonesia sebagai tempat pembagunan karena dipandang sebagai negara paling moderat dan penuh toleransi serta perdamaian antar ummat beragama.

“Karena Indonesia tepatnya Jakarta mampu menjaga persatuan di tengah keragaman suku, agama dan ras,” katanya saat memberi sambutan dalam acara peletakan batu pertama di Pantai Ancol Timur, Rabu (26/02/2020).

Waketum Dewan Masjid Indonesia (DMI) mengatakan museum ini adalah hasil kerja sama DMI dan Liga Muslim Dunia. Selain itu hadirnya museum ini akan membawa Islam moderat dan tempat rujukan penelitian.

“Ada sirah nabawiyah, sejarah yang sangat lengkap dari sebelum lahir sampai akhir hayat Rasulullah dan dilanjutkan dengan era Khilatul Rasyidin,” ujarnya.

BMOIWI dan 20-an Ormas Datangi DPR Dukung RUU Ketahanan Keluarga

JAKARTA- Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia (BMOIWI) bersama dua puluhan ormas-ormas Islam nasional mendatangi Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (26/02/2020).

Kedatangan BMOIWI bersama 20-an ormas tersebut dalam rangka memberi dukungan kepada para wakil rakyat dalam pembahasan draf Rancangan Undang-Undang (RUU) Ketahanan Keluarga. Selain itu, di DPR, mereka j uga mempelajari dan mendiskusikan RUU Ketahanan Keluarga.

Presidium BMOIWI Dr Aan Rohana Lc M.Ag mengatakan bahwa RUU Ketahanan Keluarga perlu didukung dan disahkan, karena RUU ini nantinya akan melindungi dan memperkokoh peranan keluarga-keluarga Indonesia dalam membangun bangsa dan negeri ini.

“RUU Ketahanan Keluarga ini bertujuan untuk melindungi dan mengokohkan keluarga,” kata Dr Aan Rohana dalam pernyataannya kepada media di Jakarta, Rabu pagi (26/02/2020).

Presidium BMOIWI lainnya, Dr Sabriati Aziz M.PdI mengatakan bahwa pada sisi lain, ada pihak-pihak yang menolak RUU Ketahanan Keluarga dan mereka menghendaki agar RUU tersebut tidak disahkan menjadi Undang-Undang.

Oleh karena itu, BMOIWI mengajak berbagai pihak dan elemen masyarakat agar turut mendukung DPR RI dalam pembahasan draf RUU Ketahanan Keluarga.

Besar harapan kami para ketua ormas bisa ikut hadir agar bisa ikut mencermati dan merespon hal2 yg diperlukan untuk kekokohan keluarga Indonesia.

Adapun puluhan ormas yang membersamai BMOIWI mendatangi DPR RI yaitu antara lain Persaudaraan Muslimah (Salimah), Forsap, Forhati, PP Wanita Islam, PII Wati, Muslimat DD, Muslimat Hidayatullah, Muslimat Al Ittihadiyah, GPII Putri, WI, Muslimat Al Washliyah, Musma, Wanita Perti, W PUI, Wanita Guppi, dan KOHATI.

Sebagaimana diketahui, RUU Ketahanan Keluarga termasuk RUU yang masuk program legislasi nasional (Prolegnas) Prioritas 2020 DPR RI.

Ada 50 RUU dalam prolegnas prioritas 2020, antara lain RUU tentang Kesejahteraan Ibu dan Anak, Ketahanan Keluarga, dan lain sebagainya.*

WHO Peringatkan Negara-negara Agar Bersiap Wabah Corona

INTERNASIONAL(Jurnalislam.com)–Organisasi Kesehatan Dunia WHO menyatakan Virus Corona atau COVID-19 berpotensi menjadi wabah yang menyebar ke seluruh dunia.

Situasinya saat ini belum mencapai tahap itu namun potensinya mengarah ke sana.

Pernyataan WHO yang disampaikan hari Senin (25/2/2020) menyebutkan penyebaran virus tampaknya telah mencapai puncaknya di China.

Namun menurut WHO, lonjakan kasus baru di negara lain sudah sangat memprihatinkan dan semua negara harus bersiap menghadapi “potensi wabah.”

Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menjelaskan, puncak penyebaran virus di China terjadi antara 23 Januari hingga 2 Februari lalu, dan jumlah kasus baru di sana telah menurun.

“Virus ini dapat diatasi,” ujarnya dalam jumpa pers di Jenewa, seraya memuji upaya China mencegah penyebaran virus melalui penutupan wilayah dan karantina yang skalanya belum pernah terjadi sebelumnya.

Penyebaran kasus di negara lain telah mendorong tindakan drastis yang serupa.

Di Italia 11 kota ditutup dan Korea Selatan memerintahkan 2,5 juta warga Kota Daegu untuk tinggal di dalam rumah.

Namun penyebaran virus yang secara resmi dinamai sebagai COVID-19 terus berlangsung. Afghanistan, Bahrain, Irak, Kuwait dan Oman telah mengumumkan kasus pertama mereka pada Senin.

“Apakah virus ini berpotensi wabah? Tentu saja. Apakah kita sudah mencapai tahap itu? Dari penilaian kami, belum,” kata Ghebreyesus.

China terus melakukan langkah-langkah pencegahan, termasuk menunda sidang tahunan parlemen negara itu pada Senin kemarin.

Sumber: detik.com

Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar AS Terus Melemah

JAKARTA(Jurnalislam.com)- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah di perdagangan pasar spot pagi ini.

Jika rupiah terus melemah sampai penutupan perdagangan, maka depresiasi mata uang Ibu Pertiwi akan terjadi selama tujuh hari beruntun.

Pada Rabu (26/2/2020), US$ 1 dihargai Rp 13.880 kala pembukaan pasar spot. Rupiah melemah 0,07% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Kemarin, rupiah mengakhiri perdagangan pasar spot dengan pelemahan tipis 0,04%.

Namun sejatinya rupiah sudah melemah selama enam hari beruntun dan dalam enam hari tersebut depresiasinya mencapai 1,61%.

Kalau rupiah melemah lagi hari ini, maka bakal menjadi yang ketujuh secara beruntun.

 

Namun tidak hanya rupiah, mayoritas mata uang utama Asia pun melemah di hadapan dolar AS. Bahkan yen Jepang yang katanya berstatus safe haven pun tidak bisa lolos dari zona merah.

Sumber: cnbcindonesia