Berita Terkini

Inggris dan Prancis Alami Lonjakan Kematian Akibat Covid-19

PARIS(Jurnalislam.com) — Otoritas kesehatan Prancis pada Kamis (19/3) waktu setempat melaporkan 108 kematian akibat Covid-19. Dengan demikian, jumlah total korban jiwa virus corona baru itu mencapai 372, yaitu naik hampir 41 persen.

Kenaikan tajam itu terjadi pada saat Prancis melaksanakan karantina wilayah (lockdown) untuk membendung wabah tersebut.

Saat konferensi pers, direktur badan kesehatan, Jerome Salomon, menambahkan bahwa jumlah kasus telah meningkat menjadi 10.995, naik dari 9.134 pada Selasa (17/3).

Pertambahan itu merupakan lonjakan sebesar 20 persen dalam 24 jam.

Salomon mengatakan, 1.122 orang dalam kondisi serius dan membutuhkan bantuan alat untuk bertahan hidup. Angka tersebut menunjukkan kenaikan kasus sebesar 20,5 persen dibandingkan dengan jumlah pada Rabu (18/3).

Prancis diperkirakan memiliki sekitar 5.000 tempat tidur, yang dilengkapi dengan peralatan medis yang diperlukan. Namun, jumlah itu tidak tersebar merata di seluruh negeri.

Sementara itu, dari London dilaporkan bahwa jumlah orang di Inggris yang meninggal setelah terkena virus corona meningkat sebanyak 144. “Angka kematian baru itu merupakan kenaikan sebesar 40 persen dalam sehari,” kata Kementerian Kesehatan Inggris, Kamis (19/3).

Sumber: republika.co.id

Dinkes Cilegon Mengaku Kekurangan Alat dan Fasilitas Isolasi Corona

CILEGON (Jurnalislam.com)- Dinas Kesehatan (Dinkes) Cilegon mengaku kekurangan alat pelindung diri (ADP) hingga fasilitas di ruang isolasi di RSUD Cilegon.

Ruang isolasi di RSUD sebenarnya sudah ada, namun beberapa alat harus tersedia untuk menghadapi virus Corona.

“Alat hepa filter yang harus dipasang di ruang isolasi itu yang belum kita punya, harus beli, kemudian alat ventilator, kan ruangannya belum memenuhi syarat jadi harus disiapin semuanya, harus beli,” kata Kepala Dinas Kesehatan Cilegon, Arriadna kepada wartawan, Kamis (19/3/2020).

Alat-alat yang mesti dipenuhi di ruang isolasi tersebut masih dalam proses pengadaan. Proses itu dikatakan bakal memakan waktu cukup lama.

“Lagi dalam perencanaan mau membeli, sekarang lagi proses pengadaan, kan nggak bisa kayak beli cengek kan,” ujarnya. Dinkes Cilegon meminta bantuan ke pemerintah provinsi agar fasilitas ruang isolasi di RSUD Cilegon layak untuk merawat pasien COVID-19.

Selain itu, Dinkes menyatakan alat pelindung diri (ADP) masih kurang untuk tenaga kesehatan dan pegawai rumah sakit. Beberapa item sudah diberikan Pemprov namun tetap masih kurang.

“APD kurang memang, kita sudah dikasih sama provinsi dan itu bukan hanya untuk rumah sakit umum, tapi dikasih ke dinas dan kita juga yang membagi,” kata dia.

Sumber: detik.com

Ini Kata MUI tentang Puasa dan Tarawih di Situasi Wabah Corona

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Umat Muslim akan memasuki bulan Ramadhan terhitung satu bulan ke depan. Di tengah situasi wabah virus corona ini, muncul kekhawatiran terkait pelaksanaan shalat tarawih atau kegiatan buka puasa bersama.

Menanggapi ini, Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam Sholeh, mengatakan bagi umat Muslim kewajiban puasa tetap dijalankan seperti biasa.

Namun, ia tetap mengingatkan agar umat memberikan perhatian secara khusus terhadap potensi penyebaran virus corona.

“Seluruh potensi yang menyebabkan penyebaran virus harus dicegah dan diminimalisasi. Kita semua memiliki tanggung jawab mencegah peredaran wabah ini, tidak bisa dibebankan hanya pada satu komunitas dan pemerintah saja, tanpa kontribusi dan partisipasi publik secara keseluruhan,” kata Asrorun, dalam konferensi pers secara daring di Graha BNPB, Jakarta, Kamis (19/3).

Asrorun lantas memberikan imbauan soal aktivitas ibadah, seperti tarawih berjamaah di bulan Ramadhan nanti.

Pada satu kawasan yang ada dalam zona merah, ia mengimbau aktivitas ibadah dibatasi di tempat-tempat yang bebas kerumunan fisik yang memiliki potensi penyebaran meluas.

Sedangkan di daerah zona hijau, menurutnya, aktivitas bisa berjalan sebagai biasa, namun dengan mengurangi tensi konsentrasi massa.

Di samping itu, ia mengingatkan agar masyarakat mengoptimalkan kesehatan dan kebersihan dengan rajin mencuci tangan, membersihkan tempat ibadah, meminimalisasi kontak fisik, dan membawa sajadah sendiri saat ke masjid.

“Ini bagian dari ikhtiar. Ketika ikhtiar sudah dilaksanakan, kita kuatkan dengan doa, munajat, dan qunut nazilah dalam setiap ibadah, ini bagian ikhtiar dhahir dan batin yang ditempuh sebagai umat beragama,” ujarnya.

PMI: Virus Corona Tidak Pilih-pilih

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla mengundang perwakilan pengurus organisasi kemasyarakatan (ormas) lintas agama untuk membahas upaya pencegahan wabah Corona Virus Disease (Covid-19) di Markas Pusat PMI Jakarta, Kamis.

JK mengajak seluruh ormas keagamaan untuk bekerja sama dalam mencegah penyebaran Covid-19, bersama-sama dengan PMI dalam memberikan pemahaman kepada seluruh masyarakat dalam menjaga kebersihan.

“Saya ada satu catatan, virus ini tidak pilih-pilih,” kata JK saat membuka rapat di Markas PMI Pusat, Jakarta, Kamis.

PMI juga siap memberikan bantuan kepada rumah-rumah ibadah yang kesulitan mendapatkan perlengkapan kesehatan, seperti masker, cairan pembersih tangan, serta memberikan pelatihan penyemprotan disinfektan.

Sementara itu, Ketua Tim Lembaga Daya Dharma Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) Christoforus Kristiono Puspo, S.J. mengapresiasi upaya PMI menggandeng pengurus ormas keagamaan dalam rangka mencegah penyebaran COVID-19.

“Ini sesuatu yang sangat baik sehingga punya keprihatinan bersama dan usaha bersama-sama. Dengan koordinasi bersama PMI, bisa menanggulangi situasi ini dengan baik dan cepat,” kata pastor di Gereja Katedral Jakarta itu.

Upaya gereja-gereja Katolik dalam mencegah penyebaran COVID-19, kataKristiono, terus dilakukan dengan menganjurkan umat menjaga kebersihan dan rajin mengenakan cairan pembersih tangan selama mengikuti ibadah.

“Kami tetap berkoordinasi dalam arti kebutuhan, seperti disinfektan, perlengkapan kesehatan yang sekarang ini meninggi harganya, itu bisa menjadi jembatan PMI bagi gereja Katolik untuk pengadaan itu,” ujarnya.

Hadir dalam pertemuan tersebut, antara lain perwakilan dari Dewan Masjid Indonesia (DMI), Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi), Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), dan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PDHI).

Sumber: republika.co.id

Wisma Atlet Dipersiapkan sebagai Rumah Sakit Darurat

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Kementerian Keuangan berencana menggunakan Wisma Atlet Kemayoran untuk dijadikan rumah sakit darurat pasien dalam pengawasan dan orang dalam pengawasan terkait infeksi virus Corona atau Covid-19.

Rencananya Wisma Atlet bisa digunakan mulai Senin (23/3/2020). Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Khalawi Abdul Hamid usai melakukan rapat koordinasi dengan Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo dan Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir.

“Pak Menteri PUPR memerintahkan sore ini agar bisa dimulai pengerjaannya,” kata Khalawi kepada Bisnis, Kamis (19/3/2020).

Rencananya, ada tiga tower di D-10 Rusun Wisma Atlet yang akan digunakan sebagai tempat isolasi pasien terkait Corona, yakni Tower 6 dan 7 untuk pasien, serta Tower 3 untuk dokter dan petugas.

“Rencana, mulai Senin [23/3/2020] bisa dipakai secara bertahap,” imbuhnya.

Sebelumnya, berdasarkan catatan Bisnis, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebutkan Wisma Atlet dirasa menjadi tempat yang tepat karena fasilitas seperti tempat tidur, listrik dan air sudah tersedia.

“Untuk isolasi, dibutuhkan suatu tempat dan wisma atlet belum digunakan sehingga menjadi tempat yang siap,” ujar Sri Mulyani yang ikut dalam Gugus Tugas Covid-19, Rabu (18/3/2020).

Sumber: bisnis.com

IDI Desak Pemerintah Tambah RS Rujukan Corona

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Jumlah kematian akibat corona di Indonesia melonjak menjadi 19 jiwa pada Rabu (18/3). Tambahan jumlah kematian juga diiringi akselerasi angka temuan kasus positif yang totalnya kini menjadi 277 kasus.

Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mendesak pemerintah melakukan upaya darurat. Di antaranya menambah rumah sakit rujukan untuk menangani pasien.

“Kalau tidak dilakukan maka rumah sakitnya tidak bisa menampung pasien,” ujar Ketua Umum Pengurus Besar IDI Daeng M Faqih saat dihubungi, Rabu (18/3).

Faqih menambahkan, meski ada tenaga dokter yang tidak dibutuhkan atau menanggur,  fasilitas kesehatan khusus rujukan tidak ditambah maka persoalan yang dihadapi adalah jumlah ruangan yang kurang. Selain itu, ia menyebutkan alat kesehatan untuk menangani itu juga bermasalah karena tak memadai.

“Jadi strateginya ya menambah rumah sakit,” katanya.

Dengan ditambahnya rumah sakit, dia menambahkan, berarti otomatis tenaga medis dokter juga bertambah. Di satu sisi, pihaknya juga meminta yang perlu diperhatikan adalah dukungan pemerintah seperti penyediaan alat perlindungan diri (APD).

Daeng mengaku pihaknya meminta tambahan APD karena RS baru pasti tidak melengkapi dengan banyak APD, bahkan tidak menyediakan sama sekali. Jika kelengkapan APD tidak dipenuhi, ia khawatir tenaga kesehatan dokter yang bertugas akan kewalahan dan jadi bumerang buat dia.

“Apalagi APD di rumah sakit kan hanya sedikit yang tersedia. Padahal ini kondisi darurat, jadi pasti tidak cukup APD nya,” ujarnya.

Daeng mengaku pihaknya telah mengajukan permohonan APD pada Gugus Tugas Penanganan Covid-19. Hasilnya, dia melanjutkan, pihak pemerintah mengaku berkomitmen untuk menyediakannya.

“Gugus tugas bilang berkomitmen menyiapkan atau memberikan suplai. Kemudian APD akan disalurkan ke RS itu,” ujarnya.

Faqih juga meminta pemerintah melakukan pencegahan dari sumbernya dengan mengungkap data pasien positif Covid-19. Ia menyebutkan ini penting dilakukan karena  selama ini contact tracing pasien positif corona tidak jelas.

“Padahal membuka data pasien ini untuk mencegah penularan,” ujarnya.

Kalau memang tidak mau diungkap ke publik, dia melanjutkan, minimal diungkap ke aparat seperti TNI/polri sampai pemerintah hingga RT/RW. Kemudian, ia menyebutkan perangkat desa ini ikut melokalisir daerah situ dan mengawasi yang bersangkutan benar-benar isolasi diri.

“Kalau tidak dibuka, siapa yang mengawasi,” katanya.

sumber: republika.co.id

Hukum Shalat Berjamaah dengan Shaf Renggang Karena Khawatir Covid-19

Bagaimana hukum shalat berjamaah dengan shaf renggang lantaran khawatir penyebaran virus corona atau Covid-19?

Berikut jawaban seorang pakar Fiqh madzhab Syafi’i dari Yaman, Syaikh Dr. Labib Najib yang ditulis di facebook miliknya belum lama ini.

Saya tegaskan:

Dengan memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, saya tegaskan: Shalat mereka sah. Para pemuka ulama’ mazhab Syafii, semoga Allah merahmati mereka, telah mengatakan, bahwa kalau imam dan makmum di masjid berkumpul, maka status kemakmumannya sah dengan syarat, makmum mengetahui gerakan imamnya, dan tidak mendahului. Maksudnya, makmum tidak mendahului imamnya dalam posisinya. Dan ini tampak terpenuhi di dalam gambar tersebut.

Tetapi, apakah mereka mendapatkan keutamaan jamaah?

Menurut as-Syihab ar-Ramli, jawabannya: Iya.

Menurut Ibn Hajar, jawabannya: Tidak. Redaksinya di dalam al-Manhaj al-Qawim, dengan Matannya:

(ويستحب تسوية الصفوف والأمر بذلك لكل أحد وهو من الإمام بنفسه أو مأذونه آكد للاتباع، مع الوعيد على تركها، والمراد بها إتمام الأول فالأول، وسدُّ الفرَج وتحاذي القائمين فيها .. فإن خولف في شئ من ذلك كُره) انتهى

“Disunahkan merapikan barisan. Perintah itu berlaku untuk setiap orang. Mulai dari imam sendiri, atau yang diseru, lebih tegas untuk mengikuti. Dengan ancaman bagi yang meninggalkannya. Maksudnya adalah menyempurnakan shaaf yang pertama, dan seterusnya. Menutup celah, merapatkan tumit orang yang berdiri di sana.. Jika itu dilanggar, maka hal itu makruh (tidak disukai).”

At-Tarmasi memberikan komentar pernyataan beliau (Ibn Hajar) (Juz IV/41):

(أي: وفاتته فضيلة الجماعة عند الشارح، وعند الشهاب الرملي: كل مكروهٍ من حيث الجماعة مفوِّتٌ لفضيلتهاإلا تسوية الصفوف) انتهى.

“Maksudnya, keutamaan jamaahnya hilang menurut pensyarah. Menurut as-Syuhab ar-Ramli, “Semua yang dimakruhkan dari segi berjamaah bisa menghilangkan keutamaannya (jamaah), kecuali merapikan barisan.”

Hal itu dikemukakan oleh al-‘Allamah Ba’asyan, semoga Allah merahmatinya, dalam Busyra al-Karim, hal. 362.

Lihat pula untuk tambahan, kitab al-Manhal an-Nadhah, masalah no 362 juga.

Saya (Dr. Labib Najib) tegaskan sebagai pendalaman fiqih:

Boleh jadi kemakruhan itu hilang, menurut Ibn Hajar al-Haitami, rahimahullah, jika memang ada kebutuhan untuk itu. Wallahu a’lam

Mudik Lebaran Tahun Ini Diimbau Ditunda

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Wakil Presiden Ma’ruf Amin berharap masyarakat mempertimbangkan kembali rencana mudik Lebaran tahun ini di tengah mewabahnya virus corona atau Covid-19 di Tanah Air.

Ma’ruf tak ingin tradisi mudik Lebaran untuk silaturahim justru menjadi pola baru penyebaran virus corona ke  sejumlah daerah di Indonesia.

“Maka itu juga, orang pergi mudik, menurut saya, saat ini menjaga diri itu lebih dianjurkan. Silaturahim itu baik, tapi menjaga diri jangan sampai berbuat sesuatu yang merugikan itu lebih baik,” ujar Ma’ruf di Jakarta, Kamis (19/3).

Ma’ruf menyarankan, lebih baik masyarakat sementara melakukan komunikasi jarak jauh demi meminimalisasi penularan virus, termasuk saat silaturahim Lebaran. Namun, jika hal itu tidak memungkinkan, masyarakat yang ingin mudik harus memastikan dirinya aman.

“Bisa lewat tekno, lewat medsos, dan Whatsapp (dan) IG. Jadi, silaturahimnya jarak jauh saja, itu anjuran saya. Tapi, kalau memang maksa pulang, dia harus bisa pastikan aman,” ujar Ma’ruf.

Ia menerangkan, jika terpaksa harus mudik, masyarakat harus memastikan dirinya tidak terinfeksi virus sehingga tak menularkan ke orang lain. “Pastikan bisa menjaga diri dari kemungkinan adanya potensi penularan di sana,” ujarnya.

Ma’ruf juga berharap kesadaran masyarakat yang termasuk orang dalam pemantauan (ODP) agar mengisolasi diri sementara dan tidak menghadiri kegiatan selama Ramadhan maupun Lebaran. “Kalau orang itu ODP artinya berpotensi. Sebaiknya memang tidak menghadiri acara-acara karena kalau dia pasti akan menularkan bukan saja tak boleh menghadiri tempat berjamaah, bahkan dilarang dan diharamkan sebab membahayakan. Kan ada di fatwa MUI,” ujarnya.

Hingga kini jumlah penderita virus corona di Tanah Air terus bertambah. Pemerintah mengumumkan ada tambahan sebanyak 55 pasien positif virus corona atau Covid-19 di Indonesia. Dengan demikian, per Rabu (18/3) ini total kasus orang yang terinfeksi virus corona sebanyak 227 orang.

Sumber: republika.co.id

Australia Prediksi Pandemi Corona Berlangsung Enam Bulan

SYDNEY(Jurnalislam.com) — Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengumumkan status darurat biosekuriti pada manusia akibat virus corona pada Rabu (18/3). Morrison juga menyebut krisis pandemi ini bisa bertahan hingga enam bulan.

Pernyataan formal tersebut memberikan kuasa pada pemerintah untuk melakukan penutupan kota atau wilayah, menerapkan jam malam, serta mewajibkan warga melakukan karantina jika dianggap perlu dalam langkah penahanan sebaran virus corona. Morrison juga menyerukan kepada seluruh warga Australia untuk menyingkirkan keinginan atau rencana perjalanan lintas negara.

Peningkatan anjuran perjalanan menjadi “Level 4: Dilarang Berpergian” ke negara mana pun di seluruh dunia disertai dengan larangan berkumpul yang tidak penting di dalam ruangan dengan peserta lebih dari 100 orang.

“Kehidupan berubah di Australia, sebagaimana yang terjadi juga di seluruh dunia,” ujar Morrison dalam konferensi pers melalui stasiun televisi.

Dia menambahkan, “Hidup akan terus berubah, seiring dengan langkah kita menangani corona yang mengglobal. Ini adalah semacam peristiwa sekali dalam seratus tahun.”

Sejauh ini, Australia telah mencatatkan lebih dari 500 kasus positif Covid-19 dan enam kasus kematian akibat infeksi virus corona jenis baru yang menyerang saluran pernapasan itu. Angka tersebut relatif kecil jika dibandingkan dengan sejumlah negara di dunia dengan tingkat paparan yang parah dengan kasus mencapai ribuan hingga puluhan ribu.

Sumber: republika.co.id

Corona Merebak, Penjualan Properti Merosot hingga 40 Persen

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Penjualan properti di Jawa Barat merosot hingga 40 persen menyusul adanya sentimen pandemi virus corona jenis baru atau Covid-19 yang merebak di Tanah Air.

Ketua Dewan Perwakilan Daerah Persatuan Perusahaan Real Estate Indonesia (REI) Jawa Barat Joko Suranto mengatakan bahwa pandemi virus corona semakin memperparah kondisi industri properti yang sejak beberapa tahun belakangan telah mengalami perlambatan.

“Ditambah sekarang adanya ketidakpastian membuat semakin turun terhadap daya beli,” ujar Joko saat dihubungi Bisnis, Rabu (18/3/2020).

Dia menyatakan bahwa sentimen corona yang turut mempengaruhi pasar properti di Jabar akan berimbas pada kinerja keuangan dari setiap perusahaan properti. Oleh sebab itu, dia berharap agar pihak terkait segera mengambil tindakan dengan mengeluarkan stimulus.

“Apapun bentuknya, relaksasi saat ini sangat diperlukan [di sektor properti], termasuk pajak,” katanya.

Pemerintah sebelumnya memang telah menyiapkan insentif Rp1,5 triliun sebagai antisipasi dampak corona dengan mengaktifkan kembali Subsidi Selisih Bunga (SSB) sebesar Rp800 miliar dan tambahan Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM) Rp700 miliar.

Hanya saja, penambahan subsidi itu harus dibarengi dengan stimulus lanjutan karena kondisi saat ini semakin tertekan. Terlebih, jika pemerintah ingin terus melanjutkan program sejuta rumah untuk kalangan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Apalagi, Joko mengakui bahwa penjualan turun hingga 40 persen itu berasal dari segmen MBR, sedangkan segmen menengah atas angkanya lebih besar lagi.

Sumber: republika.co.id