Berita Terkini

Riset IDEAS: Potensi 200 Ribu Kasus Corona di Bulai Mei

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Institute For Demographic and Poverty Studies (IDEAS) memproyeksikan bila tidak ada perubahan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah pusat atau daerah, maka jumlah kasus infeksi Covid-19 akan menembus 2 ribu kasus pada hari ke-35 atau 5 April 2020.

Angka kasus kemudian meningkat jadi 10 ribu kasus pada hari ke-50 yaitu 20 April 2020 atau menjelang Ramadhan 24 April 2020.

Jika upaya penanggulangan Covid-19 belum berubah juga, jumlah orang positif Covid-19 diperkirakan akan terus bertambah dan bisa mencapai 200 ribu kasus pada hari ke-70. Kira-kira pada Mei 2020.

Direktur IDEAS Yusuf Wibisono dalam siaran persnya dikutip Sabtu (28/3), menilai hingga kini tindakan umum Indonesia menghadapi wabah Covid-19 masih bersifat lunak. Artinya tindakan hanya berupa imbauan tetap di rumah, social distancing, dan restriksi lunak meliburkan sekolah.

Beberapa daerah telah menerapkan restriksi lebih luas seperti menutup tempat wisata, menutup perkantoran, melarang keramaian, hingga pembatasan kegiatan ibadah.

“Namun tindakan pemerintah daerah ini cenderung sporadis dan tidak terkoordinir,” ujarnya pada soft launching hasil riset IDEAS yang bertajuk ‘Darurat Covid-19, Masa Kritis Menahan Ledakan’, di Kantor IDEAS, Tangerang Selatan.

Yusuf Wibisono menilai, diperlukan perubahan kebijakan untuk mencegah ledakan kasus infeksi Covid-19 secara signifikan dengan menekan kurva laju pertumbuhan kasus.

Pada hari ke-70 (10 Mei 2020), IDEAS memproyeksikan dengan tindakan moderat, bukan hanya lunak, kasus infeksi covid-19 berada di kisaran 110 ribu kasus. Namun dengan tindakan tegas angka dapat ditekan hingga kisaran 30 ribu kasus. Tindakan akan menjadi tidak berguna jika terlambat dilakukan.

“Dengan pola saat ini, tanpa perubahan kebijakan, kasus infeksi Covid-19 akan menembus 200 ribu kasus pada hari ke-70,” kata pimpinan lembaga think tank Dompet Dhuafa tersebut.

IDEAS melihat kondisi saat ini sudah memenuhi kondisi kedaruratan kesehatan masyarakat. Karena itu pihaknya mendorong pemerintah pusat secepatnya mengambil tindakan tegas sesuai UU No. 6/2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

Dalam jangka pendek atau satu pekan, IDEAS merekomendasikan beberapa hal. Pertama menetapkan karantina total Jabodetabek. Karantina Jakarta saja tidak memadai, karena telah menyatunya aktivitas warga Jabodetabek. Kedua menetapkan pembatasan sosial berskala besar di Jawa di luar Jabodetabek, terutama melarang aktivitas mudik/pulang kampung.

Sumber: republika.co.id

Korban Tewas Corona di Itali Tembus Hampir 1000 Orang Per Hari

ROMA(Jurnalislam.com) — Jumlah korban virus corona di Italia yang meninggal mencapai rekor baru pada Jumat.

Setidaknya 969 dllaporkan meninggal dalam sehari, dan ini menjadi yang terburuk sejak pandemi ini dimulai. Termasuk di antara korban adalah 44 dokter.

Menurut catatan ISS, hampir 6.500 tenaga kesehatan telah terinfeksi virus.  Seperti dilansir Metro.co.uk, dengan tambahan baru tersebut, maka jumlah korban meninggal akibat Covid-19 di Italia mencapai 9.134 orang.

Virologi telah memperingatkan, jumlah kasus positif Corona di Italia bisa lima kali lebih besar daripada data resmi yang disebutkan mencapai 86.498 orang.

Artinya, jumlah yang terinfeksi masih mungkin akan terus naik, meski warga Italia sudah diminta untuk berada di rumah kecual ada kebutuhan sangat mendesak.

Sebelumnya, Gubernur Lombardy mengaku cemas melihat kasus infeksi Covid-19 yang tetap meningkat di tengah penerapan karantina wilayah atau lockdown. “Saya cemas, mungkin kami melewatkan sesuatu,” ujarnya pada Kamis.

Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte telah menjanjikan paket ekonomi sebesar 25 miliar euro yang dijadwalkan disetujui pada April mendatang.
Menurutnya Eropa menghadapi risiko resesi yang parah setelah pandemi Covid-19. Langkah-langkah khusus diperlukan untuk menghindari hal tersebut.

sumber: republika.co.id

MUI Minta Jangan Mudik Dulu: Utamakan Nyawa!

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau umat Muslim Indonesia untuk memprioritaskan terlebih dahulu keselamatan nyawa dan masyarakat daripada mudik ke kampung halaman.

“Di sini penting bagi kita semua memiliki kesadaran kolektif untuk memprioritaskan keselamatan jiwa, baik diri kita maupun orang lain ketimbang aktivitas-aktivitas lain yang bukan prioritas. Saya kira itu kuncinya,” kata Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam Sholeh, Sabtu (28/3).

Dia mengatakan bahwa dalam konteks perlindungan jiwa, yang seharusnya wajib dilaksanakan saja akhirnya memperoleh dispensasi untuk dilakukan penyesuaian, terlebih lagi untuk hal-hal yang tidak terkait dengan kebutuhan dan juga kewajiban.

“Pada prinsipnya perlindungan jiwa harus diutamakan dan juga didahulukan daripada memperoleh upaya untuk kesempurnaan ibadah,” katanya usai konferensi pers.

Sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD menyebutkan pemerintah sedang menyiapkan suatu kebijakan terkait dengan larangan mudik sementara untuk pencegahan penyebaran Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

Ia mengingatkan bahwa di dalam hukum ada klausul bahwa dalil keselamatan rakyatlah yang menjadi hukum tertinggi. Oleh karena itu, kata dia, pemerintah sekarang ini sedang menyiapkan juga satu rencana kebijakan agar masyarakat tidak mudik dahulu ke kampung halaman.

sumber: republika.co.id

Tok! MUI Keluarkan Fatwa Tentang Pengurusan Jenazah Korban Covid-19

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Majelis Ulama Indonesia kembali mengeluarkan fatwa terbaru nomor 18 Tahun 2020 tentang Pedoman Pengurusan Jenazah (Tajhiz al-Jana’iz) Muslim yang terinfeksi Covid-19, Jumat (27/03).

 

Sebelumnya dalam Ketentuan Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020 angka 7 secara umum ditetapkan bahwa pengurusan jenazah yang terpapar Covid-19, terutama dalam memandikan dan mengafani harus dilakukan sesuai protokol medis dan dilakukan oleh pihak yang berwenang, dengan tetap memperhatikan ketentuan Syariat.

Sedangkan untuk menyolatkan dan menguburkannya, dilakukan sebagaimana biasa dengan tetap menjaga agar tidak terpapar Covid-19.

 

Umat Islam yang meninggal karena wabah Covid-19, dalam pandangan MUI, sesuai dengan pandangan Syara’ masuk dalam kategori “syahid akhirat”. Hak-hak jenazah seperti memandikan, mengkafani, menyolati, serta menguburkan wajib dipenuhi. Pelaksanaan hak-hak jenazah tersebut juga wajib mempertimbangkan keselamatan petugas dengan mematuhi ketentuan protokol medis.

 

Dimulai dari hak pertama, yaitu memandikan, MUI memandang bahwa sesuai Syariat, jenazah dimandikan tanpa harus dibuka pakaiannya. Petugas yang memandikan wajib berjenis kelamin yang sama dengan jenazah yang dimandikan atau dikafani.

 

“Jika petugas yang memandikan tidak ada yang berjenis kelamin sama, maka dimandikan oleh petugas yang ada, dengan syarat jenazah dimandikan tetap memakai pakaian, jika tidak, maka ditayamumkan,” ungkap Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat, KH. Asrorun Niam Sholeh, Jumat (27/03) melalui keterangan tertulis.

 

Jika ada najis dalam diri jenazah, maka perlu dibersihkan terlebih dahulu. Jenazah tersebut dimandikan dengan cara mengucurkan air secara merata ke seluruh bagian tubuh jenazah.

Proses memandikan jenazah ini bisa diganti dengan tayamum bila memang tidak memungkinkan dimandikan. Cara tayamumnya dengan mengusap wajah dan kedua tangan jenazah (minimal sampai pergelangan tangan) dengan debu.

 

“Untuk kepentingan perlindungan diri pada saat mengusap, petugas tetap menggunakan APD,” katanya.

 

Bila beberapa ahli mengatakan bahwa jenazah covid-19 tersebut tidak mungkin dimandikan atau ditayamumkan kerena berbahaya bagi petugas, maka sesuai ketentuan Dlarurat Syar’iyyah (hukum darurat), jenazah tersebut tidak perlu dimandikan atau ditayamumkan.

 

Jenazah yang tidak dimandikan atau ditayamumkan tersebut, menurut Fatwa ini, kemudian dikafani menggunakan kain yang menutup seluruh tubuh. Jenazah kemudian dimasukkan ke dalam kantong jenazah yang aman serta tidak tembus air. Ini untuk mencegah penularan virus sekaligus menjaga keselamatan petugas. Jika masih ditemukan najis di tubuh jenazah pasca mengkafani, petugas boleh mengabaikan najis tersebut.

 

Fatwa ini menyebutkan, usai proses mengafani seperti itu, jenazah kemudian dimasukkan ke dalam peti jenazah yang tidak tembus air dan udara. Tubuh jenazah tersebut dimiringkan ke kanan sehingga saat dikuburkan jenazah tersebut menghadap kiblat.

 

Setelah itu, menurut fatwa ini, jenazah kemudian disunnahkan untuk segera disholatkan. Pihak yang menyolatkan wajib menjaga diri dari penularan virus, sehingga lokasi sholat di sebuah tempat yang aman dari penularan Covid-19.

 

Bila tidak memungkinkan ditemukan tempat aman, maka sholat untuk jenazah tersebut boleh dilaksanakan di kuburan sebelum maupun sesudah dimakamkan.  Jika tetap tidak memungkinkan, maka bisa menggunakan sholat ghaib (jarak jauh).

 

Pada bagian akhir, yaitu menguburkan jenazah, perlu dilakukan sesuai dengan ketentuan Syariah dan protokol medis. Proses penguburan dilakukan dengan memasukkan jenazah beserta petinya ke dalam liang kubur tanpa harus membuka peti, plastik, maupun kain kafan jenazah.

 

Karena darurat (ad-dlarurah al-syar’iyyah), maka penguburan beberapa jenazah dalam satu liang kubur diperbolehkan. Ini sesuai dengan ketentuan Fatwa MUI Nomor 34 Tahun 2004 terkait Pengurusan Jenazah (Tajhiz al-Jana’iz) dalam Keadaan Darurat. (MUI).

Wali Kota Tegal Blokade 49 Akses Saat Lock Down

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono memerintahkan blokade 49 titik akses jalan protokol dalam kota dan penghubung jalan antarkampung. Nantinya, hanya akan ada beberapa pintu masuk ke Tegal.

Hal itu dilakukan untuk membatasi pergerakan orang-orang yang akan masuk ke Tegal agar penyebaran virus Covid-19 atau corona dapat dikendalikan.

“Ini harus dicek suhu tubuhnya dan ada beberapa titik, harus menunjukkan identitas, KTP, SIM, dan sebagainya. Jadi kalau terjadi yang tidak diinginkan, kita melacak mudah,” ujar Dedy dalam sebuah diskusi, Sabtu (28/3).

Ia melakukan karantina wilayah atau lockdown, karena mengetahui banyak warganya yang merantau di Jakarta. Sehingga ditakutkan mereka yang kembali ke Tegal akan menjadi pembawa virus Covid-19

“Kita melihat dari kacamata kemanusiaan, bahwa hal ini saya lakukan ini untuk protect warga saya,” ujar Dedy.

Pemberlakuan lockdown ini sempat tak disetujui oleh warga Tegal. Namun, pihaknya selalu melakukan koordinasi dan komunikasi untuk menjelaskan bahaya dari virus corona ini.

“Awalnya masyarakat itu rata-rata menolak, setelah tahu warganya ada yang positif, mereka itu merasa tidak nyaman kalau tidak dibatasi. Apalagi Kota Tegal merupakan kota transit,” katanya.

Diketahui, juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona, Achmad Yurianto, mengatakan, ada penambahan kasus positif corona di Indonesia sebanyak 153 orang. Ia mengatakan, total akumulatif pasien yang positif terinfeksi virus corona hingga Jumat (27/3), berjumlah 1046 orang.

Ia menambahkan, pasien yang meninggal sebanyak 87 orang. Sementara itu, pasien yang dinyatakan sembuh sebanyak 46 orang.

sumber: republika.co.id

Explore Humanity Salurkan Bantuan untuk Tenaga Medis

BANDUNG(Jurnalislam.com)– Sebagai upaya untuk dapat terus berkontribusi dalam dunia kemanusiaan dan membantu para tenaga medis yang berjuang di garda terdepan merawat korban wabah virus corona.

Explore Humanity! yang bergerak dalam bidang kemanusiaan kembali menghadirkan sedikit bantuan bagi masyarakat yang tertimpa musibah tersebut.

Selain dari kebutuhan Alat Pelindung Diri (APD) dan Alat Kesehatan lainnya, kami melihat bahwa para tenaga medis yang sedang berjuang menolong pasien postif Covid-19 pun perlu perhatian khusus dari kita semua, mereka kerja overtime bahkan sedikit sekali waktu untuk istirahat, sungguh luar biar tuntutannya.

Tidak jarang mereka harus terus terjaga dalam membantu para pasien sehingga terkuras stamina dan fisiknya.

“Hal penting yang seringkali luput dari perhatian kita adalah sisi spiritual yang justru menjadi pelindung utama dalam momentum yang terjadi sekarang ini, selain mereka yang di garda terdepan harus selalu menjaga fisik mereka juga harus selalu menjaga dan meningkatkan hubungan mereka dengan sang maha Pencipta,”kata pegiat Explore Humanity, Ridhan dalam keterangan yang diterima Jurnalislam.com, Jumat (27/3/2020).

Untuk itu, katanya, bersama @bromedistrict (brand clothing asal Bandung), Explore berkolaborasi mencoba memberikan kontribusi, melihat ada hal yang penting untuk memfasilitasi mereka dalam beribadah memperkuat sisi spiritualnya.

“Ya, sajadah traveller (portable) yang bisa dilipat dengan tersedia kantung untuk penyimpanannya serta mudah dibawa, terbuat dari bahan waterproof sehingga sangat mudah dibersihkan dengan semprotan antiseptik ketika sudah dipakai, dan juga untuk meminimalisir penyebaran virus karena memiliki sajadah sendiri,” pungkasnya.

Selain itu, Explore  juga berusaha bersama-sama dengan alumni angkatan ’94 ITB yang tergabung dalam @94neshaberbagi serta komunitas @ars_happy_runners memberikan bantuan berupa Multivitamin dan Hand Sanitizer kepada mereka pejuang garda terdepan dalam melawan Covid-19 di RS Hasan Sadikin Bandung.

Cegah Corona, Mahasiswa Pesmadai Gelar Aksi Bagi-bagi Rempah ke Masyarakat

JAKARTA(Jurnalislam.com)- Pesantren Mahasiswa Dai (Pesmadai) menggelar kegiatan bagi-bagi rempah kepada masyarakat Ciputat, Depok, dan Bogor.

Kegiatan ini dinamakan gerakan #PesmadaiPeduliIndonesia dimana kegiatan ini dilakukan oleh seluruh elemen Pesantren Mahasiswa Pesmadai (Pesmadai).

Baik dari lingkup santri, pengurus, musyrif, dan juga direktur Pesmadai ikut andil dalam mensukseskan kegiatan tersebut.

Menurut Direktur Pesmadai Ahmad Muzakki, kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan optimisme masyarakat dalam menghadapi pandemi Covid-19.

“Dalam menghadapi pandemi Covid-19, kondisi psikis masyarakat Indonesia sekarang tidak baik-baik saja. Oleh karena itu harus ada gerakan-gerakan influence seperti Pesmadai Peduli sebagai langkah optimisme masyarakat dalam menghadapi pandemi Covid-19,” tutur Ahmad Muzakki dalam keterangannya kepada media di Jakarta, Sabtu (28/03/2020).

Selain itu, kegiatan pada pada 25-26 Maret 2020 ini juga untuk menumbuhkan kepedulian mahasiswa Pesmadai kepada masyarakat dalam menghadapi bencana sosial.

Dalam kegiatan kepedulian ini, tampak para mahasiswa semangat dalam membagikan rempah-rempah kepada para warga.

Adapun yang dibagikan berupa jahe, kunyit, temulawak, dan jeruk nipis.

“Saya berharap semoga cobaan ini sebagai langkah bagi kaum masyarakat Indonesia untuk memperkuat iman dan taqwa kita kepada Allah Azza Wa Jalla, karena kita sebagai hamba tidak ada daya di hadapan sang Kuasa. Maka dari itu, di samping kita memperkuat imun, mari kita sama-sama memperkuat iman. Kita berlindung dari Allah agar bangsa kita cepat pulih dari wabah ini,” pungkas Direktur Pesmadai.

BSMI Akan Dirikan RS Lapangan untuk Pasien Corona

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Data Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dan pasien positif terinfeksi virus COVID-19 terus bertambah. Kapasitas RS Rujukan dikhawatirkan kewalahan menampung PDP maupun pasien positif terinfeksi COVID-19.

Ketua Umum BSMI Djazuli Ambari mengatakan, Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) akan mendirikan Rumah Sakit Lapangan (RSL) dan ambulans bertekanan negatif sebagai ruang isolasi untuk pasien terpapar virus COVID-19.

“RS Lapangan BSMI yang biasa kita gunakan saat bencana akan kita fungsikan sebagai ruang isolasi sehingga perlu dilakukan modifikasi dengan tekanan negatif. Begitu juga ambulans BSMI akan diset menjadi ambulans bertekanan negatif sebagai standar penindakan pasien COVID-19,” ujar Djazuli di Jakarta, Jumat (27/3/2020).

Djazuli berharap pendirian RS Lapangan bisa membantu pemerintah dalam penyediaan ruang isolasi perawatan pasien COVID-19.

Djazuli mengatakan, saat ini mayoritas wilayah di Indonesia sudah bersiaga dalam menghadapi pandemi Corona. Ia menyebut di daerah tidak semua Alat Pelindung Diri (APD) untuk tenaga kesehatan tersedia dan memadai sesuai standar.

“APD bagi tenaga kesehatan ibarat baju perang. Kalau yang berperang melawan virus di garda depan bertumbangan karena kurangnya APD, kita tahu apa yang akan terjadi kemudian,” papar Djazuli.

Pihaknya pun sudah menghimpun bantuan donasi APD dan menyalurkan ke tenaga kesehatan yang membutuhkan. Ia juga menyebut BSMI di berbagai provinsi, kota dan kabupaten seluruh Indonesia juga sudah bergerak untuk membantu masyarakat.

“Sejak awal mulai dari edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), sosialisasi bahaya COVID-19, penyemprotan disinfektan ke tempat-tempat umum dan penyaluran APD sudah kita lakukan. Dan akan kita terus lakukan di seluruh provinsi BSMI berada. Mohon doanya,” kata Djazuli.

Tembus 1000 Kasus, Pemerintah Sayangkan Masyarakat Masih Berkeliaran

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Pemerintah menyayangkan masih banyak masyarakat yang belum menjalankan prinsip jaga jarak sosial dan fisik secara ketat. Sikap abai masyarakat ini disebut ikut berkontribusi terhadap lonjakan jumlah pasien positif Covid-19 yang terus berlanjut hingga Jumat (27/3) ini.

Dalam 24 jam terakhir, ada penambahan 153 orang yang terinfeksi virus corona sehingga total kasus positif di Indonesia sebanyak 1.046 jiwa. “Dari hari ke hari kita melihat ada penambahan kasus yang signifikan, ini menandakan bahwa proses penularan masih berlangsung terus menerus di tengah masyarakat.

Berarti ada kontak dekat yang terjadi dengan kasus ini sehingga terjadi penularan dan memunculkan angka sakit,” jelas Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto, Jumat (27/3).

Yurianto kembali mengingatkan masyarakat untuk benar-benar menerapkan prinsip jaga jarak di tengah kehidupan sosial. Secara teknis, obrolan yang dilakukan dalam jarak kurang dari 1,5 meter berpotensi menularkan virus corona. Virus ini menular melalui droplet atau cairan ludah yang keluar saat seseorang bersin atau batuk.

Penularan juga bisa terjadi melalui kontak tak langsung. Peralatan yang digunakan secara bersama-sama, misalnya gagang pintu, pegangan berdiri di dalam kereta atau bus, hingga railing tangga merupakan media penularan yang cukup ampuh. Droplet dari orang positif Covid-19 bisa saja menempel di alat-alat tersebut dan berpindah ke orang lain melalui sentuhan.

“Kemudian secara langsung (orang yang menyentuh) lanjut makan atau minum tanpa cuci tangan atau menyentuh hidung mulut mata. Inilah yang menjadi bukti bahwa kasus ini masih terus menular. Saya minta mari kita patuhi bersama tentang kontak dekat,” jelas Yurianto.

Masyarakat juga diingatkan bahwa anak muda dengan imunitas yang masih baik bisa saja berperan sebagai carrier atau pembawa virus corona. Kendati tanpa mengalami gejala seperti demam, batuk, atau pilek, anak muda yang positif Covid-19 ini tetap bisa menularkan virus tersebut ke orang lain seperti orang tua.

“Sehingga tanpa disadari, kondisi tubuh yang penuh dengan virus dia sebarkan ke mana-mana melalui kontak dekat dengan keluarga. Apabila ini mengenai kelompok rentan, baik usia tua atau yang memiliki penyakit penyerta, maka dampak yang muncul bisa serius,” jelasnya.

Pemerintah juga masih menjalankan rapid test atau tes cepat Covid-19 terhadap siapapun yang pernah melakukan kontak langsung dengan pasien positif. Per Jumat (27/3) ini sudah ada 500 ribu kit rapid test yang didistribusikan ke daerah-daerah. Rapid test digunakan untuk memetakan sebaran Covid-19 dan meningkatkan pencegahan dengan cara isolasi diri.

sumberL republika.co.id

Ada Opsi BLT, Pemerintah Ngaku Sedang Kumpulkan Data Pekerja Informal

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Pemerintah sedang mematangkan skema penyaluran bantuan langsung tunai (BLT) ke pekerja sektor informal harian dan usaha mikro kecil (UMK).

Bantuan ini diharapkan mampu membantu menjaga daya beli dua kelompok masyarakat yang dinilai terdampak dari perlambatan ekonomi akibat wabah virus corona (Covid-19).

Asisten Deputi Pengembangan Kewirausahaan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Iwan Faidi menyebutkan, pihaknya sedang merumuskan detail dari kebijakan tersebut. Perumusan tersebut termasuk mekanisme pengumpulan data sampai kemampuan keuangan negara.

“Saat ini sedang dibahas mekanisme untuk pengumpulan data, kriteria (penerima BLT), besaran, ketersedian ruang fiskal, dan penyaluran,” ujarnya, Jumat (27/3).

Iwan memastikan pembahasan dilakukan secara komprehensif dengan kementerian/lembaga terkait. Hal tersebut tetap memperhatikan akuntabilitas dari BLT.

Ada beberapa opsi skema penyaluran yang dibahas di internal Kemenko Perekonomian. Salah satunya, Iwan menyebutkan, pemanfaatan kartu prakerja sebagai medium menyalurkan BLT ke pekerja informal dan UMK terdampak.

Namun, Iwan masih belum bisa memberi penjelasan lebih detail karena harus melengkapi sejumlah poin. “Mekanismenya sedang dibahas,” tuturnya.

Sementara itu, ekonom Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Rusli Abdullah mengatakan, BLT akan menjadi bantuan sosial yang efektif untuk memastikan jaring pengaman sosial. Salah satu upaya yang dapat dilakukan pemerintah adalah menggaet asosiasi dan perusahaan terkait pekerja informal dan UMK. Misalnya, perusahaan aplikasi transportasi daring Gojek dan Grab. “Mereka bisa diminta mendata mitra yang memang sudah terkena dampak,” ujar Rusli.

sumber: republika.co.id