Berita Terkini

Jelang Ramadhan 1442 H, DD Bali Salurkan Puluhan Mukena Bagi Dhuafa

JEMBRANA(Jurnalislam.com) – Jelang Ramadhan 1442 H tahun ini, Dompet Dhuafa menggagas seruan gerakan “RAMADAN INI SAATNYA BERBAGI LAGI”. Gerakan tersebut mengajak masyarakat untuk lebih peduli kepada sesama, terutama yang terdampak secara langsung dari lesunya ekonomi di tengah pandemi. Yaitu dengan menguatkan sendi-sendi ekonomi dalam kehidupan masyarakat untuk melanjutkan keberlangsungan hidup melalui dana Zakat, Infak, Sedekah (ZIS) dan tentunya Wakaf.

 

Tidak kalah semarak berbagai wilayah sambut Ramadhan 1442 H, seperti di Bali, dengan Dompet Dhuafa Bali dengan menyalurkan puluhan mukena  untuk dhuafa dan lansia di Yeh Sumbul, Mendoyo, Jembrana, Bali pada hari Sabtu (03/04/2021).

 

Menurut Wahyu Sri Handono selaku Pimpinan Dompet Dhuafa (DD) Bali di saat pendistribusian mukena, mengatakan, “penyaluran bantuan mukena ini dilakukan dalam membantu mereka terutama para lansia hingga kaum dhuafa dalam menyambut Ramadhan 1442 H. Penyaluran mukena ini berlokasi di Masjid Nurrudin dengan mensasar 51 penerima manfaat”.

 

Meski ditengah pandemi Covid-19 hal ini tidak menyulutkan kita untuk berbagi untuk mereka yang membutuhkan. Kegiatan ini akan terus berlanjut dengan beragam program yang bergulir di tengah Ramadhan 1442 H.

 

“Kami atas nama Desa Yeh Sumbul Rt 02 mengucapkan terima kasih atas bantuan mukena bagi masyarakat kami. Sebelumnya kami juga memohon untuk dukungan pembuatan tempat wudhu di Masjid kami yang saat ini masih mengalami kendala dalam pembangunannya. Sehingga dengan adanya bantuan ini akan terus berlanjut silahturami dengan Dompet Dhuafa Bali,” tutur Solehah, Ketua Pengajian Nurrudin.

Perkuat Sinergi, SPRB- BPBD Jatim Gelar Rakor

MALANG (Jurnalislam.com)- Rapat Koordinasi (Rakor) Sekber Relawan Penanggulangan Bencana (SRPB) Jatim dengan BPBD Jatim resmi dibuka. Rakor ini digelar di Hotel Aria Gajayana, Malang, Sabtu-Minggu, 3-4 April 2021.

Rakor dibuka oleh Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan (PK) BPBD Jatim Gatot Soebroto. Sedangkan temanya adalah “Memperkuat Sinergitas BPBD Jatim dan Mitra SRPB Jatim untuk Peningkatan Kepedulian dalam Dunia Kemanusiaan”.

Dalam sambutannya, Gatot Soebroto menyatakan, banyak program yang bisa dikerjasamakan antara SRPB Jatim dengan BPBD Jatim. Pihaknya secara terbuka akan menjalin kerja sama dan mendukungnya.

“Lembaga ini (SRPB Jatim) harus besar dan dikenal masyarakat luas. Oleh karena itu, SRPB harus berada di tengah-tengah masyarakat,” ungkap Gatot Soebroto.

Ia juga menyebutkan ada dua lembaga besar yang dianggap sebagai satu. Yakni SRPB Jatim dan FPRB. Menurutnya, dua organisasi ini saling bahu-membahu menangani bencana.

“Ada anggota SRPB yang ikut FPRB, dan juga sebaliknya. Oleh karena itu, saya ucapkan terima kasih kepada para relawan atas kerja samanya dalam membantu menangani masalah kebencanaan,” jelasnya.

Gatot juga berpesan, mengurus rumah besar seperti SRPB Jatim tidak mudah. Sebab itu, diperlukan kekompakan dan harus bisa jalan bersama.

“Kenapa Mosipena (Mobil Edukasi Penanggulangan Bencana) kita luncurkan. Hal ini agar masyarakat tahu ada lembaga besar seperti SRPB Jatim yang ikut mendukung kegiatan-kegiatan kemanusiaan,” jelas Gatot.

Oleh karena itu, ia minta kepada SRPB Jatim untuk terus meningkatkan kegiatan di luar. Tujuannya agar masyarakat tahu apa itu SRPB Jatim.

Ia juga mengapresiasi pengurus dan Koordinator SRPB Jatim Dian Harmuningsih yang merangkul dan mengajak berkegiatan teman-teman disabilitas. “Minimal bisa menyosialisasikan ancaman-ancaman bencana di kelompok kecil mereka,” imbuhnya.

Gatot Soebroto juga mengajak mitra SRPB Jatim ikut dalam kegiatan ekspedisi Destana gunung api dan sungai. Ia ingin SRPB Jatim ikut bersama dan memberikan dukungan

Sementara itu, Ketua Panitia Rakor Dadang Iqwandy mengatakan, tujuan rakor ini untuk memperkuat sinergitas BPBD Jatim dengan SRPB Jatim. Ia mengucapkan terima kasih kepada peserta karena kehadirannya mencapai 92 persen.

Sedangkan Koordinator SRPB Jatim Dian Harmuningsih mengingingatkan bahwa bencana adalah urusan bersama. Oleh karena itu, relawan punya peranan besar dalam penanggulangan bencana.

“Saya juga ucapkan terima kasih kepada panitia lokal yang bekerja keras mewujudkan acara ini,” katanya dalam memberikan sambutan.

Reporter: Yan Aditya

Ketum JITU Terpilih Bakal Ajak Content Creator Muslim untuk Bergabung

BANDUNG(Jurnalislam.com)–Jurnalis Islam Bersatu (JITU) menggelar kongres pergantian kepengurusan pada Sabtu (3/4), di Bandung.

 

Kongres yang mengambil tema “Memperkuat Regenerasi JITU sebagai Estafet Perjuangan Jurnalis Islam” itu digelar dengan agenda utama pergantian Ketua Umum JITU kepengurusan periode 2018-2021 ke Ketua Umum Terpilih 2021-2024.

 

Ketua Umum sebelumnya, Pizaro Gozali, yang merupakan jurnalis dari media Anadolu Agency mengatakan, pergantian kepengurusan ini selain untuk melanjutkan estafet kepengurusan, juga untuk menjawab tantangan media di era inovasi.

 

“Tantangan yang dihadapi hari ini di antaranya adalah disrupsi media digital. Di mana konten-konten media saat ini tidak hanya muncul dalam media-media konvensional namun juga dalam platfor-platform seperti blog dan media sosial. Diharapkan kepengurusan berikutnya mampu menjawab tantangan itu,” kata Pizaro.

 

Adapun mekanisme pergantian Ketua Umum JITU ditetapkan melalui musyawarah yang dilakukan oleh Dewan Syura. Dari proses musyawarah tersebut, ditetapkanlah jurnalis dari media Metro TV, Saifal, sebagai Ketua Umum JITU Terpilih Periode 2021-2024.

 

Dalam sambutannya, Saifal menyampaikan bahwa dalam kepengurusannya ia akan berusaha untuk membuka ruang kepada rekan-rekan jurnalis dari media muslim dan media arus utama.

 

Selain itu, poin penting lainnya adalah terbukanya kesempatan bagi para pekerja kreatif atau content creator untuk bergabung dengan JITU.

 

“Ke depan membuka kesempatan untuk berkolaborasi dengan para content creator yang sama-sama ingin berjuang dalam wadah JITU,” kata Saifal dalam sambutannya pada acara yang digelar secara hybrid (daring dan luring) itu.

 

Pelaksanaan secara luring digelar untuk melakukan prosesi kongres, di kantor lembaga wakaf Sinergi Foundation, di Jl. Sidomukti, Bandung. Adapun bagi peserta, mengikuti acara secara daring.

Kongres JITU Tetapkan Ketua Baru Periode 2021-2024

BANDUNG(Jurnalislam.com)–Jurnalis Islam Bersatu (JITU) menggelar kongres pergantian kepengurusan pada Sabtu (3/4), di Bandung.

 

Kongres yang mengambil tema “Memperkuat Regenerasi JITU sebagai Estafet Perjuangan Jurnalis Islam” itu digelar dengan agenda utama pergantian Ketua Umum JITU kepengurusan periode 2018-2021 ke Ketua Umum Terpilih 2021-2024.

 

Ketua Umum sebelumnya, Pizaro Gozali, yang merupakan jurnalis dari media Anadolu Agency mengatakan, pergantian kepengurusan ini selain untuk melanjutkan estafet kepengurusan, juga untuk menjawab tantangan media di era inovasi.

 

Adapun mekanisme pergantian Ketua Umum JITU ditetapkan melalui musyawarah yang dilakukan oleh Dewan Syura. Dari proses musyawarah tersebut, ditetapkanlah jurnalis dari media Metro TV, Saifal, sebagai Ketua Umum JITU Terpilih Periode 2021-2024.

 

Dalam sambutannya, Saifal menyampaikan bahwa dalam kepengurusannya ia akan berusaha untuk membuka ruang kepada rekan-rekan jurnalis dari media muslim dan media arus utama.

Pakar: Herd Immunity Tergantung Kecepatan Vaksinasi

SLEMAN(Jurnalislam.com) — Epidemiolog UGM, dr Riris Andono Ahmad, mengatakan, herd immunity atas Covid-19 tercapai bila 70 persen populasi telah memiliki kekebalan. Kekebalan atas virus SARS Cov-2 dapat diperoleh lewat vaksinasi atau infeksi langsung.

“70 persen populasi harus miliki imunitas untuk mencapai herd immunity. Lalu, kapan Indonesia bisa mencapainya, itu tergantung kecepatan pemberian vaksin dan capai targetnya sebelum selesai di durasi imunitasnya,” kata Doni, Rabu (31/3).

Direktur Pusat Kajian Kedokteran Tropis UGM ini menjelaskan, sejauh ini belum pasti berapa lama kekebalan tubuh atas Covid-19 dapat bertahan di orang-orang yang sudah divaksinasi. Sebab, Covid-19 merupakan virus baru dan terus bermutasi.

Sehingga, ilmuwan dunia masih terus meneliti dan mengumpulkan berbagai data tentang virus ini. Sejumlah penelitian ada yang menyebut jika setelah tiga bulan imunitasnya menurun. Ada yang setelah enam bulan dan sudah 12 bulan.

“Yang menjadi acuan sekitar satu tahun, tapi sekali lagi memang belum ada kesimpulan pasti karena Covid-19 ini penyakit baru,” kata dosen FKKMK itu.

Melihat kondisi tersebut, Doni berharap, pemberian vaksin ke semua target di Tanah Air bisa dilakukan sesegara mungkin. Dengan begitu, diharapkan kekebalan komunal bisa terwujud sebelum penurunan kekebalan atas virus corona baru ini.

Untuk itu, ia meminta masyarakat tidak perlu lagi ragu menerima vaksin. Saat ini, vaksinasi tela masuki tahap kedua bagi lansia dan pekerja publik, jadi masih tersisa tahap ketiga untuk bidang geospasial, ekonomi dan sosial.

Kemudian, tahap keempat masyarakat dan pelaku ekonomi lain dengan pendekatan kluster sesuai ketersediaan vaksin. Meski semua telah menerima vaksin, Doni meminta masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan dan mematuhi prokes.

Sebab, ia mengingatkan, vaksinasi tidak lantas mampu menghentikan pandemi Covid-19. Pemberian vaksin dalam hal ini membantu mengendalikan pandemi Covid-19, yakni diharapkan bisa menurunkan angka kesakitan dan angka kematian.

“Namun, penularan virus corona masih saja tetap berlangsung. Jadi, meski sudah vaksinasi harus tetap jaga 5M karena penularan masih bisa berlanjut. Hanya saja resiko untuk sakit jadi parah dan meninggal bisa diturunkan dengan divaksin,” ujar Doni.

Sumber: republika.co.id

8 Juta Warga Sudah Divaksin

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Pemerintah sampai saat ini telah melakukan vaksinasi terhadap 8.095.717 orang. Terdapat penambahan 366.135 orang yang menerima dosis pertama vaksin Covid-19.

Menurut data Satgas Penanganan Covid-19, sampai dengan pukul 15.00 WIB, pada Rabu (31/3), terjadi juga penambahan orang yang mendapatkan vaksinasi dosis kedua sebesar 209.333 orang. Dengan penambahan itu maka total yang sudah selesai menjalani proses vaksinasi Covid-19, yaitu sudah menerima dua dosis vaksin, adalah sebesar 3.709.597 orang.

Pemerintah pada proses vaksinasi tahap I dan tahap II yang menyasar petugas kesehatan, petugas publik serta orang lanjut usia menargetkan 40.349.051 orang akan menerima vaksin. Rinciannya adalah 1.468.764 sumber daya manusia kesehatan, 17.327.169 petugas publik dan 21.553.118 orang lanjut usia.

Secara total pemerintah menargetkan akan melakukan vaksinasi terhadap sekitar 181,5 juta orang untuk mencapai kekebalan kelompok atau herd immunity. Penambahan masyarakat yang mendapat vaksin itu terjadi setelah Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) merekomendasikan melanjutkan penggunaan vaksin AstraZeneca setelah munculnya laporan KIPI di Sulawesi Utara (Sulut).

Ketua Komnas KIPI Prof. Hindra Irawan mengatakan dalam taklimat media di Jakarta pada Selasa (30/3) bahwa setelah melakukan kajian ditemukan bahwa KIPI di Sulut masuk dalam kategori ringan. “Sehingga kami keluarkan rekomendasi bahwa vaksin ini dapat diteruskan dalam program imunisasi nasional di Sulawesi Utara,” ujar Hindra.

Dalam kesempatan yang sama Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi meminta agar masyarakat tidak ragu dan tidak memilih-milih vaksin Covid-19. Dia menegaskan pemerintah akan selalu memastikan menggunakan jenis vaksin covid-19 yang aman dan bermanfaat untuk meningkatkan kekebalan tubuh berdasarkan rekomendasi dari para ahli.

“Jadi tidak usah ragu-ragu untuk divaksinasi, tidak usah memilih-milih vaksin,” kata Nadia.

Sumber: republika.co.id

Vaksinasi Guru Ditarget Selesai Akhir Mei 2021

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Guru, dosen, dan tenaga pendidik jadi salah satu target sasaran petugas pelayanan publik yang jadi kelompok sasaran mendapatkan vaksinasi covid-19 tahap II. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menargetkan vaksinasi Covid-19 untuk tenaga pengajar ini selesai pada akhir Mei 2021.

“Target vaksinasi guru selesai akhir Mei 2021,” ujar Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kemenkes Siti Nadia Tarmizi saat dihubungi Republika, Rabu (31/3).
Terkait guru yang telah mendapatkan vaksinasi Covid-19 hingga hari ini, Nadia mengakui belum mengetahui persis. Ia mengaku harus bertanya lagi ke unit terkait.
Kemenkes menargetkan sebanyak 5.057.582 pendidik yang terdiri dari guru, dosen, dan tenaga pendidik bisa mendapatkan vaksin Covid-19. Nadia mengaku stok vaksin mencukupi hingga akhir vaksinasi untuk tenaga pengajar ini.

Terkait kecukupan persediaan, ia mengakui, stok vaksin covid-19 selama April sedikit yaitu sekitar 7 juta dosis. Kemudian, dia melanjutkan, vaksin Sinovac dijadwalkan akan datang bulan April yaitu berupa bahan baku (bulk) yang jumlahnya sekitar 10 juta dosis.

“Sehingga, diharapkan pada Mei sudah kembali lagi ke rencana awal. Rencana awal bulan Mei adalah sebanyak 27 juta dosis,” ujarnya.

Mengenai apakah guru yang belum divaksin Covid-19 tetap menjalankan sekolah tatap muka, Nadia menyebutkan pihaknya merujuk pada surat keputusan bersama (SKB) 4 menteri mengenai pertemuan tatap muka yang diumumkan Selasa (30/3) kemarin. “Iya untuk pelaksanaannya,” ujarnya.

Sumber: republika.co.id

Keterisian RS Wisma Atlet Turun, Tinggal 33,47 Persen

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Tingkat hunian atau keterisian tempat tidur (BOR) di Rumah Sakit Darurat (RSD) Covid-19, Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat menurun. Tercatat BOR atau bed occupany ratio di RSD Wisma Atlet kini tinggal 33,47 persen hingga per Rabu (31/3).

“Kalau dilihat laporan pagi tadi, kami bersyukur hari ini sudah lebih menurun dibandingkan hari-hari kemarin. Hunian di Wisma Atlet saat ini 33,47 persen dari 5.994 tempat tidur yang telah disediakan,” ujar Koordinator Rumah Sakit Darurat (RSD) Covid-19 Wisma Atlet, Mayjen TNI dr Tugas Ratmono, saat mengisi konferensi virtual BNPB mengenai Update RSD Wisma Atlet, Rabu (31/3).

Ia menambahkan hunian di RSD Wisma Atlet saat ini cukup rendah jika dibandingkan sebulan lalu yang masih 80 persen dan keterisiannya terus menurun. Ia menambahkan, penurunan pasien saat ini sama seperti BOR di awal Oktober 2020 lalu, yaitu sekitar 32 persen.

Kini, dia menambahkan, pasien yang dirawat di RSD Wisma Atlet sebanyak 2.006 orang dan angka kesembuhan meningkat 95,12 persen. Terkait menurunnya jumlah pasien dan meningkatnya kesembuhan di RSD Wisma Atlet, ia menganalisa ada tiga penyebab.

Pertama, pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) skala mikro yang sangat efektif untuk menjaga peningkatan penularan Covid-19 antara masyarakat.

 

Kedua, program vaksinasi juga telah dilaksanakan.
Menurutnya, meski cakupan imunisasi belum mencapai sesuai target tapi paling tidak bisa memberikan ketahanan individu.
“Faktor ini yang memberikan dampak dan kami bersyukur tingkat huniannya menurun,” ujarnya.

Kendati demikian, pihaknya meminta semua pihak harus tetap waspada. Ia mengakui pogram vaksinasi Covid-19 tetap berjalan namun tak membuat kebal. Jadi, ia menegaskan setelah mendapatkan vaksinasi harus mematuhi protokol kesehatan 3M bahkan 5M.

“Ini yang selalu kami ingatkan di RSD Wisma Atlet,” katanya.

Sumber: republika.co.id

Pengamat: Polisi Sudah Tahu Peta Pelaku, Tapi Tidak Ditangkap Sedari Awal

 

JAKARTA (Jurnalislam.com)— Pengamat Hukum dari Universitas Andalas, Feri Amsari, mengatakan, kepolisian seperti terburu-buru menyimpulkan kasus terorisme kepada kelompok tertentu jika relasi itu tidak terang betul. Sehingga, dia menyarankan, penyidik harus lebih menelusuri kasus tersebut.

 

“Dalam menangani kasus-kasus kejahatan serius, menyimpulkan secara sederhana suatu kasus memperlihatkan terburu-buru. Apalagi, masyarakat akan menilai janggal jika polisi sudah mengetahui peta pelaku, tetapi tidak menangkap sedari awal bahkan jika dikaitkan dengan FPI terkesan nuansanya dikaitkan dengan kasus HRS,” katanya, Rabu (31/3).

Menurut dia, seharusnya polisi menelusuri secara menyeluruh dulu sampai akarnya baru menyimpulkan. “Apalagi sudah langsung menyampaikan berbagai kaitan dengan individu atau organisasi tertentu. Terlihat mereka seperti terburu-buru,” kata dia.

Sebelumnya diketahui, Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabag Penum) Divisi Humas Polri Kombes Pol Ahmad Ramadhan mengatakan, sudah 94 terduga teroris ditangkap selama operasi pencegahan dan penindakan terorisme yang dilaksanakan sejak Januari hingga Maret 2021.

“Bukti bahwa kami melakukan keseriusan selama periode 2021 sejak Januari sampai Maret ini Densus 88 Anti Teror Mabes Polri telah menangkap sebanyak 94 tersangka teroris,” kata Ramadhan di Gedung Divisi Humas Polri, Jakarta, Selasa (30/3).

Ramadhan menyebutkan, 94 terduga teroris itu ditangkap di sejumlah wilayah di Tanah Air, yakni Makassar, Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jawa Timur, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jakarta, Bekasi, Jawa Barat dan Tengerang, Banten. Pada operasi pencegahan dan penanggulangan terorisme Januari 2021 ditangkap sebanyak 20 orang terduga teroris di wilayah Makassar.

Polisi juga masih menyelidiki keterkaitan terduga teroris yang ditangkap kemarin dengan FPI. Sejauh ini polisi menemukan bukti kehadiran dua terduga teroris di sidang Habib Rizieq Shihab.

Menurut Yusri pendalaman itu dilakukan karena polisi mendapatkan foto dua terduga teroris yang menghadiri sidang Habib Rizieq Shihab beberapa waktu dan juga kegiatan FPI.

Sumber: republika.co.id

Ini Kriteria Halal Produk di Indonesia

JAKARTA(Jurnalislam.com)— Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kemenag berdialig secara daring dengan perwakilan American Chamber Indonesia (AmCham Indonesia) di Jakarta. Dialog membahas terkait penyelenggaraan jaminan produk halal di Indonesia.

Pelaksana Tugas Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Mastuki menjelaskan, produk yang beredar dan diperjualbelikan di Indonesia membutuhkan kepastian status halal. Karenanya dalam audit halal dikenal pendekatan tracebility, yakni ketertelusuran asal muasal bahan yang digunakan dalam suatu produk.

Mastuki menegaskan, setiap perusahaan harus memastikan bahwa dalam proses produk halal, harus ada pemisahan alat  produksi halal dengan yang tidak halal. Hal itu untuk menghindari kemungkinan terjadinya percampuran atau kontaminasi bahan halal dan non-halal.

“Kriteria halal Indonesia itu menganut pendekatan ketertelusuran. Dari hulu ke hilir. Sejak memperoleh bahan sampai proses pengolahan, penyimpanan, distribusi, hingga penyajian dipastikan kehalalannya. Itu yang disebut mata rantai halal (halal value chain),” jelas Mastuki, Rabu (31/3/2021).

“Pemisahan fasilitas produksi halal itu mutlak dilakukan. Peraturan Pemerintah (PP) nomor 39 tahun 2021 mengatur secara detil konsep pemisahan ini. Meski pada praktiknya tentu tidak serumit itu. Yang penting ada kepastian tidak terkontaminasi. Dan secara scientific judgement bisa dibenarkan,” imbuhnya.

Mastuki mengingatkan, jangan memaknai penerapan jaminan produk halal dari sisi prosedural semata, tetapi substansial. Maksudnya, ada kesadaran halal yang dibangun pada level individu maupun perusahaan, baik skala lokal, nasional, maupun internasional.

“Filosofi di balik pemisahan proses produksi halal adalah membangun kepercayaan konsumen. Jika proses produksinya dipastikan halal dan thayyib, konsumen pasti merasa aman. Lalu tumbuh kepercayaan” pungkasnya.

Director of Government Relations Kamar Dagang Amerika di Indonesia (AmCham Indonesia) Gusti Kahari mengaku senang dan mengapresiasi peran BPJPH dalam membangun industri halal. Dia berharap dapat melanjutkan kerja sama dengan BPJPH secara lebih baik.

“Regulasi halal merupakan salah satu isu yang menjadi perhatian komunitas bisnis Amerika di Indonesia. Karenanya AmCham terus membangun komunikasi dengan BPJPH sejak beberapa tahun yang lalu. Kami merasa terbantu dengan penjelasan yang sangat mendetil dan informatif tentang regulasi halal,” ucapnya.