Berita Terkini

Masjid Dresden di Jerman Dibom dalam Serangan Islamophobia

JERMAN (Jurnalislam.com) – Serangan bom menghantam sebuah masjid dan pusat konvensi di kota Dresden di Jerman timur, kata polisi pada hari Selasa, menambahkan motif kejahatan tersebut tampaknya xenophobia dan Islamophobia, Aljazeera melaporkan, Selasa (27/09/2016)

Tidak ada yang terluka dalam ledakan Senin di kota yang telah menjadi hotspot untuk protes kelompok kanan dan kejahatan kebencian menyusul masuknya migran dan pengungsi ke Jerman.

Imam Masjid, istri dan dua anak laki-lakinya sedang berada di masjid Fatih Camii pada saat ledakan. Polisi mengatakan mereka menemukan sisa-sisa bahan peledak buatan sendiri di kedua TKP.

“Meskipun sejauh ini tidak ada yang mengaku bertanggung jawab, kita harus mengasumsikan bahwa ada motif xenophobia,” kata kepala polisi Dresden, Horst Kretschmar.

Menteri Dalam Negeri Jerman Thomas de Maiziere mengatakan serangan Masjid tersebut merupakan “skandal yang sangat besar” karena terjadi pada malam pertemuan tahunan ke-10 Konferensi Islam Jerman (the German Islam Conference).

Polisi mengaitkan ledakan dengan pusat kongres untuk perayaan yang direncanakan berlangsung pekan depan di Dresden menandai ulang tahun ke-26 penyatuan Jerman, yang akan dihadiri oleh Presiden Jerman Joachim Gauck.

“Kami sekarang telah beralih ke mode krisis,” Kretzxchmar mengatakan, saat polisi dikerahkan untuk menjaga dua Masjid dan pusat kebudayaan Islam di kota itu.

Sekitar 300 jamaah secara teratur menghadiri shalat Jumat di Masjid Fatih Camii, yang terletak tidak jauh dari pusat bersejarah Dresden.

Ledakan di Masjid tersebut terdengar pada pukul 1953 GMT pada hari Senin. Kekuatan ledakan itu mendorong pintu depan bangunan ke dalam dan menyebabkan gedung ditutupi dengan jelaga, kata polisi.

Ledakan di pusat konvensi – terletak sekitar 2 kilometer dari Masjid Fatih Camii dan terletak di pinggir Sungai Elbe, yang melintas melalui Dresden – terjadi sekitar setengah jam kemudian.

Panas yang disebabkan oleh ledakan di pusat menghancurkan sisi kubus kaca dekoratif di daerah terbuka di gedung kongres dan berserakan di bagian bangunan yang sedang dievakuasi.

Dresden, sebuah kota Baroque di Jerman bekas komunis timur, juga merupakan tempat kelahiran gerakan jalan anti-Islam PEGIDA, singkatan untuk Patriotik Eropa Menentang Islamisasi Barat (Patriotic Europeans Against the Islamisation of the Occident).

Anggotanya telah memprotes penuh kemarahan atas masuknya pengungsi dan migran yang tahun lalu membawa satu juta pencari suaka ke Eropa yang memiliki ekonomi terbesar.

Sekitar selusin demonstrasi direncanakan selama akhir pekan, baik oleh PEGIDA maupun oleh kelompok-kelompok anti-fasis.

Perdana menteri Negara bagian Saxony, Stanislaw Tillich menyebut “pemboman pengecut” tersebut sebagai sebuah “serangan terhadap kebebasan beragama dan nilai-nilai masyarakat yang tercerahkan” yang bisa dengan mudah menghilangkan nyawa.

Kejahatan kebencian kelompok kanan yang menargetkan kaum Muslim di tempat penampungan bagi para pencari suaka di Saxony naik menjadi 106 pada tahun 2015, dengan 50 serangan lain tercatat pada semester pertama tahun ini.

Dalam laporan tahunan yang menguraikan kemajuan sejak reunifikasi, pemerintah memperingatkan pekan lalu bahwa tumbuhnya xenophobia/Islamophobia dan “ekstremisme” sayap kanan bisa mengancam perdamaian di timur Jerman.

“Saya pikir perdebatan keamanan akan menjadi lebih intens dan juga lebih umum di masa depan,” katanya.

“Pengaruh Politik luar negeri di Jerman melalui agama adalah sesuatu yang tidak bisa kita terima,” kata de Maiziere.

Namun, para pemimpin Muslim yang menghadiri forum dialog peringatan 10 tahun tersebut berkomentar balik.

“Salah jika menyebut Muslim sebagai wakil kekuatan asing dan menyebut mereka memiliki peran sebagai wakil”, kata sekretaris jenderal Uni Islam Turki untuk Urusan Agama (the Turkish-Islamic Union for Religious Affairs) Bekir Alboga.

Sedikitnya 12 Tentara Afghanistan Tewas dalam Serangan Insider

KUNDUZ (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 12 tentara Nasional Afghanistan (ANA) tewas di sebuah pos pemeriksaan dalam serangan imarah Islam Afghanistan (Taliban) yang difasilitasi oleh dua rekan korban di provinsi Kunduz utara, Aljazeera melaporkan Selasa (27/09/2016).

Mahmood Denmark, juru bicara gubernur Kunduz, mengatakan pada hari Selasa dua tentara membantu mujahidin memasuki pangkalan dan kemudian bergabung dengan mereka menyerang rekan-rekan mereka saat mereka tidur.

Insiden itu terjadi di pinggiran kota Kunduz hanya beberapa saat setelah tengah malam pada hari Senin, Aziz Kamawal, seorang komandan polisi lokal senior, mengatakan kepada kantor berita AFP.

“Dua tentara melarikan diri setelah membunuh 12 rekan mereka yang sedang tidur di daerah Zazhil Khoman di Kunduz,” kata Kamawal.

Denmark mengatakan perburuan sedang dilakukan untuk tentara yang “penyusup” tersebut.

Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengaku bertanggung jawab atas serangan itu. Dia mengatakan para mujahidin Taliban menyerbu pos pemeriksaan, menewaskan semua tentara dan merebut senjata dan amunisi mereka.

Pos itu adalah salah satu di antara banyak pos yang membentuk sebuah cincin pelindung di sekitar kota Kunduz, yang berhasil dikuasai oleh Taliban tahun lalu – pertama kalinya Taliban merebut ibukota provinsi sejak kehilangan kekuasaan pada tahun 2001 setelah invasi pimpinan AS.

Dalam beberapa bulan terakhir, Taliban telah meningkatkan serangan di seluruh negeri terhadap pasukan keamanan Afghanistan.

Serangan insider melanda pasukan Afghanistan dan internasional (NATO) di dalam negeri, menjatuhkan moral dan menyebabkan ketidakpercayaan dalam jajaran keamanan.

Pihak berwenang memperkirakan sekitar 5.000 polisi dan tentara Afghanistan tewas pada 2015 – dengan tambahan 15.000 lainnya terluka.

NATO, yang membantu untuk melatih dan memfasilitasi pasukan Afghanistan, memperingatkan angka suram tersebut diperkirakan akan meningkat tahun ini.

Deradikalisasi, BNPT Gelar Baksos Melalui Program ‘Pesantren Bersinar’

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Sebanyak 10 pesantren se-Solo Raya mendapat bantuan pembagian 1000 paket lampu LED dan 300 lampu penerangan jalan dari Program “Pesantren Bersinar” yang digagas Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Acara yang digelar di Pondok Pesantren Ulul Albab, Glodok, Sukoharjo pada Senin (26/9/2016) itu dihadiri langsung oleh Ketua BNPT, Komjen Pol Suhardi Alius. Ponpes Ulul Albab adalah tempat dimana istri-istri trio bom Bali I menetap.

Suhardi menjelaskan, 10 pesantren se-kota Solo Raya dijadikan sebagai peletakan awal implementasi dari Program “Pesantren Bersinar ” dan akan dilanjutkan di beberapa kota di Indonesia di antaranya Sulawesi Selatan, Nusa tenggara Barat (NTB) dan Sulawesi Tengah (Sulteng)

“Ada empat daerah, yang pertama Soloraya, kemudian NTB, kemudian Sulsel dan Sulteng. Nah tempat-tempat ini kita anggap sebagai model proses asimilasi, proses deradikalisasi. Sehingga kita perlu kerjasama, disini ada sepuluh pesantren,” ujar mantan Kabareskrim Polri itu.

Diakui Suhardi, pondok yang mendapat bantuan adalah pondok-pondok yang mempunyai hubungan erat dengan para pelaku terorisme. Menurut Suhardi, radikalisme dan terorisme disebabkan oleh kesenjangan sosial dan ekonomi. Oleh sebab itu, dengan adanya program Pesantren Bersinar diharapkan akan meningkatkan kesejahteraan di lingkungan pesantren.

“Lampu yang kami bagikan ini hemat energi dengan daya rendah, sehingga pesantren bisa berhemat. Lampu hemat energi berdaya 60 watt memiliki tingkat cahya setara 600 watt. Jika sebelumnya bayar listrik untuk lampu Rp 4 juta sebulan misalnya, bisa ditekan mejadi Rp 400 ribu perbulan. Dengan begitu anggaran pembayaran listrik bisa dialokasikan untuk kegiatan produktif atau modal usaha,” paparnya.

Dijelaskan Suhardi, program Pesantren Bersinar merupakan program yang dicanangkan Presiden Jokowi, namun Presiden yang dijadwalkan membuka acara tersebut batal hadir.

“Sejatinya program Pesantren Bersinar ini bentuk kepedulian kami dari BNPT bersama BRI dengan CSR nya untuk melengkapi sarana dan prasarana pondok pesantren dengan listrik yang memadai. Program ini telah dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo. Sedianya memang bapak Presiden akan hadir sendiri pada acara ini, tetapi kali ini belum belum bisa hadir,” ujar Suhardi.

Sepuluh pondok pesantren di Solo Raya yang mendapat bantuan dari BNPT antara lain Ponpes Ulul Albab Polokarto Sukoharjo, Ponpes Hidayatullah Al Kahfi Mojosongo Surakarta, Ponpes Ummul Quro Jlegong Klego Boyolali, Ponpes Darusy Syahadah Simo Boyolali, Ponpes Darul Hasan Mranggen Polokarto Sukoharjo, Ponpes Mah’ad Aly Baitul Qur’an Wonoboyo Wonogiri, Ponpes Mamba’ul Hikmah Selogiri Wonogiri, Ponpes Nurul Ummah Karangpandan Karanganyar, dan Ponpes DarussalamTanon Sragen.

Adapun bantuan yang diberikan berupa 20 paket bermerek limar (listrik mandiri rakyat), 6 unit tiang lampu dan 1 unit genset 2.500 KVA. Pemberian bantuan tersebut dilakukan secara simbolis oleh Kepala BNPT kepada pembina Ponpes Ulul Albab, KH Shoimin.*

Muhammadiyah Buka Sekolah Darurat Korban Bencana Sumedang

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Muhammadiyah Kabupaten Sumedang membuka sekolah darurat di posko bantuan bencana Sumedang. Inisiatif tersebut diambil dengan alasan pendidikan anak-anak harus tetap berjalan.

Posko bantuan bencana Sumedang berlokasi di dua tempat. Pertama di GOR Tadjimalela dan kedua di Makodim 0610 Sumedang. Sementara itu, sekolah darurat yang diselenggarakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sumedang terdapat di Makodim 0610 Sumedang.

“Sekolah darurat didirikan oleh relawan Muhammadiyah dengan tujuan untuk memulihkan mental anak anak korban bencana,” ujar Wakil Ketua PDM Kabupaten Sumedang, Supala, dilansir dari situs resmi Muhammadiyah, Selasa (27/9/2016).

Menurut Supala, terdapat 240 anak korban bencana yang mengikuti pendidikan di sekolah darurat ini. Kata dia, anak-anak ini mendapatkan pemulihan mental dari para guru yang berasal dari relawan Muhammadiyah.

Pengungsi yang berada di Markas Kodim 0610 Sumedang sepenuhnya dikelola oleh Muhammadiyah. Jumlah pengungsi di Gor Tadjimalela sebanyak 1.027 orang. Sementara pengungsi yang berada di Markas kodim sebanyak 386 orang.

Supala mengatakan, bantuan yang diharapkan saat ini berupa bantuan alat pendidikan dan keperluan sekolah anak-anak bagi korban bencana. “Bantuan logistik seperti makanan dan minuman siap saji pun masih minim dan sangat dibutuhkan pengungsi di lokasi pengungsian,” ujar dosen STAI Muhammadiyah Bandung ini.

Dari data yang tercatat, pada Senin (26/9/2016) sekolah awal dimulai dengan diikuti sebanyak 196 anak atau siswa. Selasa hari ini, sekolah darurat ini masih digelar oleh PDM Sumedang. Metode yang digunakan dalam sekolah darurat ini, kata dia, adalah metode membangkitkan mental, keceriaan motivasi dan lainnya.

Menurutnya, lama waktu sekolah darurat ini, sampai selesainya penanggulangan bencana di Sumedang, dan pengungsi atau anak-anak bisa kembali ke rumahnya masing masing. Yaitu setelah rumah pengungsi disiapkan atau didirikan kembali.

Turki Desak Jerman Tangkap 2 Tersangka Kelompok Gulen Profil Tinggi di Negaranya

BERLIN (Jurnalislam.com) – Ankara telah meminta pihak berwenang Jerman untuk menemukan, menangkap dan menyerahkan dua Gulenists profil tinggi yang dituduh merencanakan upaya menggulingkan pemerintah Turki.

Kedutaan Turki di Berlin baru-baru ini mengirim nota diplomatik ke Kementerian Luar Negeri Jerman dan menuntut penyelidikan atas keberadaan mantan jaksa Zekeriya Oz dan Celal Kara, seorang pejabat senior Turki mengatakan kepada Anadolu Agency, Senin (26/09/2016).

Langkah diplomatik Turki pekan lalu muncul setelah laporan media melaporkan dua buronan tersebut , yang melarikan diri dari Turki pada akhir 2013, saat ini berada di kota Freiburg, Jerman selatan.

Pejabat, yang berbicara dengan syarat anonim karena pembatasan berbicara kepada media itu, mengatakan Turki telah secara resmi meminta Jerman untuk menyelidiki validitas laporan media tersebut, dan jika ini terbukti benar, segera menangkap dan menyerahkan dua tersangka untuk dituntut di Turki.

Dua tokoh kontroversial Zekeriya Oz dan Celal Kara yang diduga anggota senior jaringan Gulenist, juga dikenal sebagai teroris Organisasi Fetullah (Feto), yang dipimpin oleh Fetullah Gulen yang berbasis di AS.

Feto dituduh menginfiltrasi lembaga negara dan mengatur upaya kudeta 15 Juli di Turki untuk menggulingkan pemerintah yang terpilih secara sah.

Oz dan Kara memainkan peran kunci dalam penyelidikan anti-korupsi yang kontroversial pada akhir 2013, yang menargetkan tokoh politik senior di Turki. Mereka kemudian dituduh merekayasa bukti palsu, sebagai bagian dari rencana untuk menggulingkan pemerintah.

Kedua mantan jaksa tersebut belum terlihat di depan umum sejak mereka melarikan diri dari Turki pada akhir 2015, namun berbagai laporan media mengklaim bahwa mereka bersembunyi di selatan Jerman.

Tahun lalu, pemerintah Jerman mengatakan kepada rekan-rekan Turki mereka bahwa mereka tidak memiliki informasi yang mendukung klaim bahwa dua tersangka bersembunyi di negara ini.

Jerman adalah salah satu negara di mana Gulenists melaksanakan kegiatan yang signifikan melalui puluhan sekolah swasta, asosiasi bisnis, dan organisasi media.

Meskipun kecurigaan meluas, pemerintah Jerman sejauh ini enggan mengekang kegiatan Gulenists, menggarisbawahi bahwa mereka hanya akan bertindak jika menerima bukti nyata yang menunjukkan bahwa lembaga-lembaga ini terlibat dalam kegiatan yang melanggar konstitusi dan hukum Jerman.

Banjir Bandang Garut, JFI Minta Pemerintah Sensitif Kebencanaan Nasional

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Jurnalis Filantropy Indonesia (JFI) yang berkolaborasi dengan elemen-elemen kemanusiaan di Garut, Jawa Barat, mengajak kepada seluruh anak bangsa untuk membangun sinergi dalam agenda kemanusiaan bersama masyarakat Garut.

Pernyataan itu disampaikan Sekretaris Jendral Jurnalis Filantropy Indonesia, Irawan Djoko Nugroho dalam rilisnya, Senin (26/9/2016).

“Tragedi kemanusiaan berupa bencana alam yang menimpa masyarakat Garut – Jawa Barat menjadi keprihatian semua masyarakat di penjuru negeri ini. Terlebih bencana ini telah menewaskan 30 orang lebih, dan menyebabkan hancurnya rumah penduduk dan rusaknya fasilitas pelayanan umum sehingga aktifitas ekonomi masyarakat Garut menjadi lumpuh.,” terang Irawan.

Menurut Irawan, banjir bandang Garut tidak lepas dari rusaknya alam yang disebabkan eksploitasi alam yang tak terkendali. Untuk itu, JFI meminta kepada pemerintah untuk memiliki tanggap darurat nasional terhadap daerah-daerah yang rawan bencana.

“Jangan sampai sensitif itu muncul ketika bencana terjadi dan korban berjatuhan,” cetusnya.

Dalam kajian JFI, Indonesia merupakan daerah rawan bencana alam baik gunung berapi, kebakaran hutan, tanah longsor, banjir dan abrasi. Melihat besarnya bencana tersebut yang sulit diprediksikan kapan terjadinya, maka perlu sebuah grand strategi pembangunan tanggap kebencanaan yang melibatkan para stakeholder sehingga masyarakat mampu cepat bersikap jika ada bencana alam.

Selain itu, Irawan juga mengapresiasi kerja tim SAR, TNI, Polri serta lembaga-lembaga filantropy yang dengan cepat membantu korban dan rehabilitasi pascabencana di Garut. JIF mendesak pemerintah untuk segera mengirimkan peralatan berat untuk membantu pencarian korban.

“JFI akan terus melakukan monitoring perkembangan tragedi kemanusiaan dan berharap Garut bisa pulih dan masyarakat bisa beraktifitas lagi,” pungkasnya.

Dinilai Sesat dan Menyimpang, MUI Probolinggo Selidiki Ajaran Padepokan Dimas Kanjeng

PROBOLINGGO (Jurnalislam.com) – Majelis Ulama Indonesia (MUI)Probolinggo mulai menyelidiki ajaran Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Sebab, kuat dugaan aliran sesat dan ajaran menyimpang dalam padepokan itu.

Sekretaris MUI Probolinggo H. Yasin membenarkan penyelidikan internal yang dilakukan MUI terhadap ajaran Padepokan milik Taat Pribadi. Ia mengatakan ada Desakan dari MUI Jatim untuk menguak padepokan dengan pimpinan terkenal sebagai Pengganda Uang Gaib.

“Ini dilakukan setelah ada beberapa laporan yang masuk ke MUI. Selain itu, kami juga mendapat perintah dari MUI pusat dan Jatim untuk memeriksa ajaran Dimas Kanjeng ini,” katanya seperti yang dilansir dari surya.co.id, Senin (26/9/2016).

Terkait hal ini pihaknya akan berkoordinasi dengan Badan Koordinasi Penanggulangan Penodaan Agama (Bakorpa) Probilinggo untuk menyelidiki.

“Kami masih mengumpulkan bukti-bukti di lapangan. Termasuk memeriksa para saksi – saksi yang sempat belajar agama di Padepokan Dimas Kanjeng ini,” ujarnya.

Saat ini, kata dia memang ada beberapa indikasi menyimpang di Padepokan. Salah satunya bacaan yang harus sesuai dengan bahasa arab yang sesungguhnya, sebab salah membaca membuat arti berbeda.

Menurutnya, penyelidikan ini tidak boleh dilakukan secara gegabah. Artinya, Tim penyidik harus memiliki data dan fakta yang kuat di lapangan. Data yang diperoleh harus valid sebelum MUI mengeluarkan fatwa bahwa ajaran di Padepokan Dimas Kanjeng ini sesat.

“Fatwa ini kan tidak boleh main – main. Sekali dikeluarkan tidak bisa dicabut. Makanya kami harus teliti dan jeli sebelum memutuskan hal ini,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, pemilik Padepokan Dimas Kanjeng, Taat Pribadi tertangkap petugas keamanan terkait dugaan otak pembunuhan atas manta santrinya. Ia juga pernah dinobatkan sebagai Raja Probolinggo dan terkenal sebagai Pengganda Uang Gaib.

Netanyahu Bertemu Trump di New York Bahas al Quds sebagai Ibukota Israel

NEW YORK (Jurnalislam.com) – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah bertemu secara terpisah dengan calon presiden Amerika Hillary Clinton dan Donald Trump di New York pada hari Ahad, seorang pejabat di kantornya mengatakan, lansir World Bulletin Senin (26/09/2016).

“Pertemuan tersebut pertama kali disepakati dengan Trump, kemudian kami segera mencapai kamp Clinton untuk keseimbangan,” kata pejabat itu kepada AFP tanpa mengatakan siapa yang pertama kali mengusulkan pertemuan.

Netanyahu sudah di New York, di mana ia berpidato di hadapan Majelis Umum PBB, Kamis.

Para pengamat mengatakan perdana menteri Zionis itu sedang mencoba untuk menghindari kesan turut campur dalam kampanye pemilu Amerika.

Trump telah berencana untuk mengunjungi Israel pada Desember lalu, tetapi menunda perjalanannya setelah mengeluarkan proposal untuk melarang umat Islam memasuki Amerika Serikat yang mendapat kecaman dari seluruh dunia.

Kandidat Partai Republik anti Islam ini berjanji pada hari Ahad untuk mengakui Yerusalem (Al Quds) sebagai ibukota Israel “secara penuh tak terbagi” jika ia terpilih sebagai presiden, saat bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang juga bertemu dengan Hillary Clinton malam itu.

“Trump mengklaim bahwa Yerusalem telah menjadi ibukota abadi orang-orang Yahudi selama lebih dari 3000 tahun, dan bahwa Amerika Serikat, di bawah pemerintahan Trump, akhirnya akan menerima mandat kongres lama untuk mengenali Yerusalem sebagai ibukota tak terbagi dari negara bagian Israel,” isi kampanyenya dalam sebuah pernyataan.

Kantor Netanyahu mengeluarkan pernyataan tentang pertemuan sekitar satu jam tersebut tapi tidak menyebutkan janji Trump atas Yerusalem.

Trump mengatakan ia berjanji pada Netanyahu bahwa Amerika Serikat akan memberikan Israel “kerjasama strategis, teknologi dan militer yang luar biasa” jika dia terpilih.

“Mr. Trump mengakui Israel sebagai mitra penting Amerika Serikat dalam perang global melawan terorisme radikal,” katanya.

Pernyataan ini juga mengatakan keduanya membahas pengalaman Israel membangun pagar di Tepi Barat. Trump telah berjanji dalm kampanyenya untuk membangun tembok di sepanjang perbatasan AS-Meksiko.

Clinton bertemu secara pribadi dengan Netanyahu di Hotel W di New York, di mana pemimpin Zionis tersebut menghadiri Majelis Umum PBB sebelumnya.

Dalam sebuah pernyataan kampanye yang penuh harap Gedung Putih menekankan “kepentingan strategis menyeluruh” antara kedua negara dan menegaskan dukungannya untuk kesepakatan bantuan militer yang kuat yang baru-baru ini dijanjikan AS kepada Israel.

Kurang dari Sepekan 200 Warga Aleppo Tewas oleh Serangan Brutal Rezim Assad dan Rusia

SURIAH (Jurnalislam.com) – Petugas rumah sakit berjuang di Aleppo, saat jet tempur rezim Suriah dan Rusia terus membom kota yang dikuasai para pejuang Suriah di timur Aleppo, menewaskan lebih dari 200 orang dalam waktu kurang dari sepekan, lansir Aljazeera Senin (26/09/2016).

Reporter Al Jazeera Amr al-Halabi, melaporkan dari sebuah rumah sakit darurat di kota, menggambarkan sebuah situasi suram saat rumah sakit penuh sesak dengan puluhan orang tewas dan terluka.

“Orang yang sudah mati berada di lantai rumah sakit darurat ini,” kata Halabi. “Situasi di sini sangat putus asa.”

Mayat-mayat memenuhi lantai di dalam dan di luar fasilitas, saat relawan dan kerabat menolong orang-orang yang terluka dalam, mencari ruang untuk menempatkan mereka di atas lantai yang sudah penuh dengan korban serangan udara.

“Tidak ada cukup ruang bagi kita. Kita harus segera pergi untuk membuat lebih banyak ruang untuk mereka yang terluka,” kata Halabi saat ambulans berdatangan mengangkut korban yang tewas dan terluka memadati bangsal rumah sakit.

“Suasananya seperti hari penghakiman,” katanya.

Pada pertemuan darurat PBB pada hari Ahad, AS, Inggris dan Prancis mengatakan Rusia sebagai pendukung militer utama rezim Suriah Bashar al-Assad dalam melakukan kejahatan perang.

“Yang dilakukan Rusia bukan mensponsori dan melakukan kontra-terorisme. Ini adalah tindakan barbar,” kata Duta Besar AS Samantha Power.

“Sulit untuk menyangkal bahwa Rusia bermitra dengan rezim Suriah untuk melaksanakan kejahatan perang,” kata Duta Besar Inggris Matthew Rycroft, menambahkan bahwa persenjataan teknologi tinggi telah menimbulkan “neraka baru” pada Suriah yang sudah lelah berperang.

Sejak kesepakatan gencatan senjata berakhir pekan lalu, rezim Suriah Assad dan Rusia telah meningkatkan rentetan serangan udara yang ditujukan untuk mengambil alih wilayah timur kota dari kelompok pejuang.

Duta Rusia Vitaly Churkin mengakui bahwa lonjakan serangan selama beberapa hari terakhir berarti bahwa “membawa perdamaian adalah hampir mustahil sekarang.”

Tapi Churkin menyalahkan runtuhnya gencatan senjata kepada AS, menuduh Washington tidak mampu meyakinkan kelompok oposisi yang didukung AS untuk menjauhkan diri dari kelompok Jihad Jabhat Fath al Syam – yang sebelumnya dikenal sebagai Jabhah Nusrah dan tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata – dan mematuhi gencatan senjata.

Setelah pusat komersial Suriah, Aleppo telah dirusak oleh pertempuran dan dibagi sejak pertengahan 2012 antara kontrol rezim syiah Assad di barat dan kontrol oposisi di timur.

Wilayah timur telah dikepung ketat dan berkelanjutan sejak pertengahan Juli, menyebabkan kekurangan makanan dan bahan bakar. Serangan pada instalasi air dari kedua belah pihak menyebabkan lebih dari dua juta warga sipil tanpa air.

“Tak satu pun dari toko roti bisa beroperasi lagi karena pemboman dan kekurangan bahan bakar dan tepung, sehingga orang-orang mulai membuat roti mereka sendiri,” Imad Habush, 30 tahun, dari lingkungan Bab al-Nayrab mengatakan kepada kantor berita AFP.

“Saya tidak tahu mengapa rezim membom kami dengan cara barbar ini. Kami di sini warga sipil. Kami tidak membawa senjata, dan kami dikepung. Kami tidak memiliki cara untuk melarikan diri.”

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon juga telah memperingatkan penggunaan persenjataan canggih terhadap warga sipil bisa dituduh melakukan kejahatan perang.

Ban menyerukan kekuatan dunia untuk “bekerja lebih keras mengakhiri mimpi buruk” di Suriah yang telah memaksa hampir setengah dari penduduk negara itu meninggalkan rumah mereka dan menewaskan ratusan ribu lainnya.

6 Tentara Turki Tewas di Sirnak

SIRNAK (Jurnalislam.com) – Enam tentara tewas dan dua lainnya luka-luka dalam serangan oleh milisi PKK di provinsi Sirnak di tenggara Turki Senin (26/09/2016), menurut sumber keamanan, lansir Anadolu Agency.

Milisi komunis PKK menyerang tentara yang mengamankan pekerjaan konstruksi yang sedang berlangsung di jalan penghubung provinsi Sirnak dan Van, kata sumber, yang berbicara dengan syarat anonim karena pembatasan berbicara kepada media.

Satu ekstremis PKK tewas selama operasi penangkapan.

Sementara itu, militer Turki menewaskan tiga anggota PKK dalam operasi di provinsi Hakkari tenggara pada Senin, kata sumber-sumber militer.

PKK terdaftar sebagai organisasi teroris juga oleh internasional dan melanjutkan operasi bersenjata 30 tahun terhadap negara Turki bulan Juli 2015.

Sejak itu, serangan ektremis PKK menewaskan lebih dari 600 personel Turki dan juga merenggut nyawa banyak warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, sementara lebih dari 7.000 teroris PKK juga tewas dalam operasi militer.