Berita Terkini

Milisi Maois Bunuh 24 Pasukan India

CHHATTISGARH (Jurnalislam.com) – Kelompok Maois telah membunuh sedikitnya 24 tentara paramiliter pada hari Senin (24/4/2017) di sebuah daerah terpencil di India tengah, seorang pejabat polisi mengatakan, lansir Aljazeera.

Para prajurit India sedang menjaga pekerja jalan di distrik Sukma di negara bagian Chhattisgarh saat mereka diberondong tembakan. Para penyerang menembak dari puncak bukit menargetkan kelompok tentara, kata petugas polisi Jitendra Shukla.

Media lokal melaporkan bahwa sedikitnya enam pasukan komando mengalami luka kritis dan sedang diangkut melalui udara.

Serangan tersebut merupakan yang terakhir dalam konflik yang berlangsung lama antara gerilyawan dan pihak berwenang India di hutan dan daerah pedesaan di India bagian timur dan tengah.

“Kami menemukan 23 mayat dari tempat kejadian dan satu jawan (tentara) meninggal di Raipur (ibukota negara bagian tersebut) saat perawatan,” Anand Chhabra, seorang perwira polisi senior di Chhattisgarh yang bergolak mengatakan kepada kantor berita AFP.

Pledoi Ahok, Alfian Tanjung: Kawal Umat Islam!

SERANG (Jurnalislam.com) – Persidangan keduapuluh kasus penistaan agama yang menjerat petahana DKI, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok kembali akan digelar. Sidang dengan agenda pembacaan pledoi (nota pembelaan) di Gedung Kementan, Ragunan, Jakarta, Selasa (25/4/2017) ini dinilai harus dikawal penuh umat Islam.

“Gerakan perlawanan penuntutan (unjuk rasa -red) yang lebih masif dan keras harus dilakukan agar Ahok dapat dihukum,” kata pemerhati Islam, Dr Alfian Tanjung kepada jurniscom di kawasan Serang, Senin (24/4/2017).

Ia menegaskan, gerakan perlawanan untuk menuntut keadilan ini patut dilakukan. Sebab, sudah banyak contoh kasus serupa yang dihukum maksimal, yakni 5 tahun penjara.

“Harus dihukum sebagaimana yang dialami oleh Permadi, Lia Eden, dan Armendo,” tegasnya.

“Harus dipenjara 5 tahun, itu minimal menurut saya,” tambahnya.

Sebelumnya, pada persidangan kemarin, Kamis (20/4/2017) Jaksa Penuntut Umum (JPU) hanya menuntut Ahok dengan hukuman percobaan, tidak seperti terdakwa yang lain.

Reporter: Jajat

Sidang Pledoi, Ahok Dinilai Akan Merasa Tak Bersalah Menista Al Maidah

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Persidangan kasus penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok akan kembali digelar besok, Selasa (25/4/2017). Sidang keduapuluh kali ini akan mendengarkan pembacaan nota pembelaan atau pledoi dari Ahok secara pribadi dan dari penasehat hukum Ahok.

“Persidangan esok hari, agendanya mendengarkan Ahok membacakan pembelaan pribadinya di hadapan persidangan, selain itu juga ada pembacaan pledoi dari PH Ahok,” kata Tim Advokasi GNPF MUI, Nasrulloh Nasution di kawasan Condet, Jakarta Timur, Senin (24/4/2017).

Nasrulloh mengatakan, agenda pembacaan pledoi pada persidangan besok merupakan hak yang diberikan oleh KUHAP kepada terdakwa untuk menangkis tuduhan dan analisis hukum Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang tertuang di dalam surat dakwaan dan surat tuntutan.

“Pasal 182 KUHAP memberikan hak kepada Ahok dan atau penasehat hukumnya untuk mengajukan Nota Pembelaan atau Pledoi setelah JPU mengajukan tuntutan pidana,” ujarnya.

Meski begitu, ia menilai, dalam nota pembelaannya Ahok akan merasa tidak bersalah menista surat Al Maidah 51, sama seperti nota keberatan (eksepsi) yang diajukan dan ditolak pada awal persidangan.

“Ahok tidak akan merasa bersalah dan menyesal telah menista Surah Al Maidah 51. Isi eksepsi yang pernah dibacakan Ahok akan kembali diulang dalam pledoi antara lain Ahok kalah di Pilgub Bangka Belitung 2007 karena selebaran Surah Al Maidah 51, Ahok menutup Kalijodo, Ahok memberangkatkan umrah marbot masjid, Ahok membangun masjid, Ahok memberikan hewan qurban, dan sebagainya,” papar dia.

Lebih lanjut ia menambahkan, Pasal 182 KUHAP telah memberikan hak sekaligus kesempatan yang diberikan kepada Terdakwa dan Penasehat Hukumnya untuk membela diri dengan mengatakan dirinya tidak bersalah. Dengan catatan yang dimilikinya, pihak Ahok diberikan hak yang sama untuk membantah segala tuduhan yang dialamatkan kepadanya.

Setelah pembacaan nota pembelaan, maka sidang selanjutnya berdasarkan Pasal 182 ayat (2) dan (3) KUHAP adalah pembacaan tanggapan JPU atas Pledoi terdakwa atau yang lebih dikenal dengan replik.

Reporter: HA

Alfian Tanjung: The Importace of a Khilafah System In These Times

SERANG (Jurnalislam.com) – Various polemics appear as the khilafah system is discussed. many are apposed to this system of Islamic civilization and consider it irrelevant in modern times.

Dr. Alfian Tanjung rate, explained about those who reject this system are those who do not understand the essence and history of the caliphate system.

“Khilafah is sunnatullah (the way of the Prophet PBUH), those who refuse have little understanding of Islam and the history of Muslim civilization and Islamic guidance,” he told jurniscom at Al Muhajirin Mosque, Waringin, Serang, Monday (04/24/2017).

According to him, the rejection of the khilafah is due more to the lack of understanding of the pattern of Muslim struggle and the priority of Muslims in exposing Islam as a teaching.

“The Islamic Khilafah is a form of system that can unite Islam,” he explained. He states, if a Muslim has absolutely no pull to the system of khilafah, then they are an odd type of Muslim group.

“If Muslims have no ties to khilafah of the ummah then this is somewhat unique. Religious books, history sheets, and ask those who are proficient in this filed (khilafah) should be consulted “he concluded.

Reporter: Jajat

Translator: Taznim

Bangun Ekonomi Umat, MUI Rangkul Pemerintah, Ormas Islam, dan Pengusaha

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Komitmen konkret MUI untuk membangun ekonomi umat tertuang dalam kongres ekonomi umat Islam yang baru saja berakhir dihelat di Hotel Sahid Jakarta, Senin (24/4/2017) siang. Kongres melahirkan sejumlah poin deklarasi yang titik tekannya memperkuat ekonomi yang berkeadilan dan merata untuk umat.

Baca Juga: Ini Enam Poin Deklarasi Kongres Ekonomi Umat Islam

Untuk merealisasikan hal itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Ma’aruf Amin mengatakan, akan menggerakan ekonomi umat melalui pesantren dan koperasi.

Selain itu, MUI juga akan berkoordinasi dengan pemerintah untuk melahirkan kebijakan-kebijakan baru yang menopang arus baru ekonomi Indonesia.

“Mensinergikan mereka kemudian juga mensinkronisasi dan mengakselerasi. Karena itu MUI dari pusat sampai ke daerah akan terus menggerakan itu,” kata Kyai Ma’ruf kepada wartawan di Hotel sahid Jakarta, senin (24/4/2017).

MUI juga akan mengajak para pengusaha untuk bermitra dan ambil bagian di dalamnya.

“Nah, kalau ekonomi umat ini tumbuh, kemudian pemerintah membuat kebijakan-kebijakan yang berpihak ditambah para pengusaha besar ikut bergabung, kita harapkan hasil keputusan kongres itu bisa berjalan,” paparnya.

Kyai Ma’ruf menyatakan, MUI akan membentuk komite yang berasal dari ormas Islam, pemerintah, pengusaha, dan MUI sendiri untuk mengawal jalannya hasil kongres.

“Semua itu kita libatkan untuk membahas arus baru ekonomi Indonesia ini. Komite ini akan terus mengawal baik masalah kebijakan, kemitraan, maupun gerakan-gerakan ekonomi umat Islam,” pungkasnya.

Reporter: M Firdaus

The six Points of the Declaration of Islamic Economic Congress

JAKARTA (Jurnalislam.com) – The Islamic Economic Congress of the Indonesian Ulema Council (MUI) has officially finished today, Monday (24/4/2017) at Hotel Sahid, Jakarta. The congress, which was held on 22 April, resulted in a six points declension read out by Vice President Jusuf Kalla.

Chairman of the Commission for Economic Empowerment, M. Azrul Tanjung said the presses declaration point includes strengthening a just and equitable economy for the people as stated in the basic provisions of the country.

The declaration points include, firstly, affirming equality, equitable, and independent national economic system in addressing economic disputes.

Second, accelerate in the redistribution and optimization of natural resources wisely and sustainably.

Third, strengthening competent and highly competitive human resources based on science and technology excellence, innovation, entrepreneurship.

Fourth, moving cooperatives , small and medium enterprises to become the main business actors of the national economy.

Fifth, realize equal partnerships of large enterprises with small cooperatives ,small and medium enterprises to be integrated in production systems and markets.

In addition, the fifth declaration point is the mainstreaming of sharia law in economy and in the national economy.

Finally, the establishment of the National Committee of Economic Ummah to guard the New Flow of the Indonesian Economy.

Reporter: M Firdaus

Translator: Taznim

Dr Ayman al Zawahiri Peringatkan Adanya Agenda ‘Nasionalis’ di Suriah

SURIAH (Jurnalislam.com) – Lengan media Al Qaeda, As Sahab, mengeluarkan pesan audio dari Syeikh Ayman al Zawahiri hari Ahad (23/4/2017). Berkas audio, yang disambung dengan gambar faksi jihad di Suriah, hanya berdurasi sekitar enam menit. Pesan ini dirilis melalui media sosial, termasuk saluran Telegram milik As Sahab kemudian di lansir Long War Journal.

Amir Al Qaeda memperingatkan bahwa perang Suriah seharusnya tidak dianggap sebagai upaya “nasionalis” secara eksklusif, karena inilah yang diinginkan musuh para mujahidin. Sebaliknya, dia mengatakan bahwa konflik Suriah harus dilihat sebagai “masalah seluruh umat,” atau komunitas Muslim di seluruh dunia.

Pernyataan Syeikh Zawahiri sangat menarik mengingat rebranding Jabhah Nusrah tahun lalu, dan kemudian bergabungnya mereka dengan beberapa faksi jihad lainnya untuk membentuk Hay’at Tahrir al Sham (Majelis untuk Pembebasan Sham- HTS) pada bulan Januari. Berbagai tokoh al Qaeda dan jihadis lainnya di Suriah telah mendiskusikan cara terbaik untuk mempresentasikan dirinya ke dunia. Peluncuran Jabhah Nusrah pada bulan Juli 2016 didukung oleh al Qaeda.

Dr Ayman Zawahiri secara eksplisit mendukung perjuangan di Suriah, mengatakan bahwa ini adalah perang “gerilya” dan para pelaku jihad seharusnya tidak fokus berusaha memegang wilayah pada saat ini. Sebaliknya, ia mengatakan, mereka harus fokus untuk melemahkan musuh mereka.

“Untuk awalan, saya ingin memberitahu saudara-saudara tercinta kita di Sham [Suriah] bahwa luka-luka kalian adalah luka bagi seluruh umat, dan rasa sakit kalian adalah rasa sakit seluruh umat. Kalian selalu ada dalam doa – doa kami setiap saat, dan kami ingin mengorbankan jiwa kami untuk Anda,” Zawahiri memulai pesannya, yang dirilis dengan transkrip bahasa Inggris.

“Jika ada yang menghalangi kita,” lanjutnya, “Ketahuilah bahwa kami terlibat dalam pertempuran melawan musuh Tentara Salib yang sama dengan yang Anda lawan, meski berada di garis depan yang berbeda.”

Pemimpin Al Qaeda mengatakan bahwa “satu-satunya alasan” kaum muslim internasional di Suriah “menjadi sasaran” adalah bahwa mereka “ingin Islam diterapkan di atas bumi Sham. ” Namun Aliansi Setan Internasional tidak akan pernah menerima hal ini, dan mereka akan mengerahkan segala daya upaya untuk menghentikan arus Islam ini,” kata Syeikh Zawahiri.

Konsisten dengan pesan al Qaeda di masa lalu, Syeikh Ayman Zawahiri menerangkan AS dan Barat sebagai anggota rezim Iran dan Bashar al Assad. Dia mengingatkan rakyat Suriah untuk “mempersiapkan” diri mereka menghadapi perang yang panjang melawan Tentara Salib dan Rafidho (istilah untuk orang Syiah dan Iran] serta Nushairiyah [yang berarti anggota rezim Syiah Assad].”

Syeikh Zawahiri memuji rakyat Suriah yang telah “berjihad di jalan Allah membangkitkan bendera Islam dan jihad di tanah Sham, dan untuk membebaskannya dari penindasan, tirani dan korupsi.”

“Jadi jangan mundur,” katanya. “Jangan goyah atau melakukan kompromi.

Mati secara terhormat, tapi jangan pernah menerima penghinaan.”

Pemimpin Al Qaeda ini mengulangi seruan tandzimnya untuk menggalang persatuan dalam perjuangan. Sejak awal perang, dengan beberapa pengecualian, Al Qaeda berusaha untuk tetap berhubungan erat dengan kelompok perjuangan lainnya. Strategi ini sempat terganggu oleh bangkitnya Negara Islam Abu Bakr al Baghdadi pada tahun 2013 dan 2014, namun Al Qaeda mampu mengatasinya.

“Bersatu dan tutup barisan Anda dengan saudara laki-laki dan mujahidin Muslim, tidak hanya di Sham, tapi juga seluruh dunia, karena ini adalah operasi Salibisme tunggal yang dilakukan terhadap umat Islam di seluruh dunia,” kata Syeikh Zawahiri.

Dia kemudian mengkritik siapapun yang menganggap perang Suriah dapat dipisahkan dari jihad di tempat lain di seluruh dunia.

Berbicara kepada para jihadis di Suriah, Dr Ayman Zawahiri mengatakan bahwa beberapa “ingin menipu Anda untuk percaya dengan mitos bahwa hanya jika Anda mengubah jihad Anda menjadi perjuangan Suriah nasionalis yang eksklusif, maka penjahat internasional terkemuka akan senang dengan Anda.”

“Umat saya dan saudara laki-laki saya di Sham,” kata Zawahiri, “Saya ingin menawarkan beberapa saran sebagai pengingat untuk kalian dan diri saya sendiri.” Kemudian, dia menambahkan: “Kita harus terus meninjau tindakan kita, dan menarik kembali diri kita dari segala hal yang mampu menghalangi kemenangan. Karena kita tidak pernah bisa lebih baik daripada Sahabat Nabi Saw, yang jauh dari kemenangan saat mereka tidak taat. Mengkaji ulang secara kritis dan koreksi kesalahan adalah langkah pertama dalam pertempuran menuju kemenangan.”

“Menurut pendapat saya,” pemimpin al Qaeda itu melanjutkan, “strategi untuk jihad di Sham harus berfokus pada perang gerilya yang bertujuan untuk menjatuhkan musuh dan mengeluarkan darah mereka sampai mati.” Ini “adalah senjata pilihan orang-orang yang tertindas. Melawan penjajah arogan di setiap zaman, “kata Zawahiri.

“Jangan duduk sendiri dengan berpegangan pada teritori (batas wilayah), sebaliknya, fokus hancurkanlah moral musuh kalian.

Bawa musuh ke titik keputusasaan yang buruk dengan melancarkan serangan tanpa henti dan timbulkan kerugian yang tak tertahankan pada pasukannya.”

Untuk kedua kalinya dalam pesan singkatnya, Zawahiri kembali memperingatkan untuk tidak memperlakukan konflik Suriah sebagai sebuah perjuangan “nasionalis”. “Masalah Sham adalah masalah seluruh umat,” katanya. “Kita tidak boleh menyajikannya hanya sebagai masalah rakyat Syam, dan kemudian mempersempitnya menjadi masalah rakyat Suriah saja, karena ini adalah rencana musuh dan tujuannya yang banyak dicari.”

“Musuh berusaha untuk mengubah jihad di Sham dari masalah umat Islam menjadi masalah Suriah yang secara eksklusif nasionalis, kemudian mengubah masalah nasionalis menjadi isu wilayah dan daerah tertentu, dan akhirnya menguranginya menjadi isu beberapa kota, desa dan lingkungan,” Zawahiri mengingatkan.

Oleh karena itu maka, “adalah kewajiban bagi kita untuk menghadapi strategi jahat ini dengan menyatakan bahwa jihad di Syam adalah jihad umat Islam yang bertujuan untuk menetapkan peraturan Allah di tanah Allah. Ini harus bersamaan dengan mendorong seluruh umat berpartisipasi dalam jihad Sham melalui putra, kekayaan, usaha, dan energinya.”

Syeikh Zawahiri menyediakan daftar pendek umat Islam yang telah “membela Sham sebelumnya dalam sejarah,” termasuk Salahuddin dan orang-orang Turki Utsmani. Dia menunjukkan bahwa “tidak ada” orang-orang yang masuk dalam daftarnya “yang merupakan warga Suriah, melainkan mereka Muslim dan mujahid.” Ini mungkin merupakan peringatan bagi para pelaku jihad untuk memperlakukan banyak pejuang asing di Suriah yang telah bergabung dengan perjuangan anti-Assad tanpa perbedaan.

Amir Al Qaeda kemudian menutup dengan mengatakan bahwa para jihadis seharusnya tidak berusaha untuk menenangkan Barat, atau pihak lain. “Oleh karena itu, kami tidak boleh tunduk pada dikte penjahat terkemuka, yang berusaha mengintimidasi kami dengan tuduhan ‘terorisme’ dan ‘ekstremisme’,” kata Zawahiri.

Dia memperingatkan bahwa ini akan menyebabkan nasib yang sama dengan yang diderita oleh Muhammad Mursi, pemimpin Ikhwanul Muslimin yang secara singkat menjabat sebagai presiden Mesir.

“Ini adalah kekuatan sama yang bahkan menggulingkan Muhammad Mursi, terlepas dari kenyataan bahwa kekuatan ini telah memberi semua yang mereka minta,” kata Zawahiri.

Syeikh Ayman menambahkan: “Saya memohon kepada Allah Swt agar rakyat Sham diberi ketabahan. Semoga Allah memberkati mereka dengan kemenangan dan dukungan-Nya, dan membimbing mereka untuk mengambil sikap bersama di samping saudara-saudara mujahidin di seluruh dunia dalam melawan musuh bersama yang sama.”

Alfian Tanjung: Sistem Khilafah Prioritas Umat Eksiskan Islam Sebagai Ajaran

SERANG (Jurnalislam.com) – Berbagai polemik muncul seiring sistem khilafah diperbincangkan. Tidak sedikit yang menolak sistem peradaban Islam ini dan menganggap tidak relevan untuk diterapkan kini. Pemerhati Islam, Dr. Alfian Tanjung menilai, yang menolak sistem ini tidak paham esensi dan sejarah sistem khilafah.

“Khilafah adalah sunnatullah, siapa yang menolak berarti tidak paham Islam dan sejarah peradaban umat Islam serta pedoman Islam,” katanya kepada jurniscom di Masjid Al Muhajirin, Waringin, Serang, Senin (24/4/2017).

Menurutnya, penolakan terhadap khilafah lebih bersifat kepada ketidakpahaman terhadap pola perjuangan umat Islam dan prioritas umat Islam dalam mengeksiskan Islam sebagai sebuah ajaran.

“Khilafah Islam adalah wujud sistem yang dapat mempersatukan Islam,” terangnya.

Ia menyatakan, jika seorang muslim sama sekali tidak ada keberpihakan kepada sistem khilafah, ia termasuk kategori muslim yang “unik”.

“Jika muslim tidak ada keberpihakan kepada khilafah umat agak unik. Perlu kembali membuka buku buku, lembaran sejarah, dan bertanya kepada yang paham terkait ini,” pungkasnya.

Reporter: Jajat

Ini Enam Poin Deklarasi Kongres Ekonomi Umat Islam

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kongres Ekonomi Umat Islam Majelis Ulama Indonesia (MUI) resmi ditutup hari ini, Senin (24/4/2017) di Hotel Sahid, Jakarta. Kongres yang diselenggarakan sejak 22 April itu menghasilkan enam poin deklrasi yang dibacakan langsung oleh Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla.

Ketua Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat, M. Azrul Tanjung mengatakan, titik tekan deklarasi mencakup memperkuat ekonomi yang berkeadilan dan merata untuk umat seperti yang tertera dalam ketentuan dasar negara.

Adapun poin deklarasi meliputi, pertama, menegaskan sistem perekonomian nasional yang adil, merata, dan mandiri dalam mengatasi kesenjangan ekonomi.

Kedua, mempercepat redistribusi dan optimalisasi sumber daya alam secara arif dan keberlanjutan. Ketiga, memperkuat sumber daya manusia yang kompeten dan berdaya saing tinggi berbasis keunggulan IPTEK, inovasi, dan kewirausahaan.

Keempat, menggerakkan koperasi dan usaha mikro, kecil dan menengah menjadi pelaku usaha utama perekonomian nasional. Kelima, mewujudkan mitra sejajar usaha besar dengan koperasi, usaha mikro, kecil dan menengah dalam sistem produksi dan pasar terintegrasi.

Selain itu, poin deklarasi kelima adalah pengarusutamaan ekonomi syariah dalam perekonomian nasional, tetap dalam bingkai Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI.

Terakhir, yaitu membentuk Komite Nasional Ekonomi Umat untuk mengawal Arus Baru Perekonomian Indonesia.

Reporter: M Firdaus

Muslim Cleric Habib Rizieq Advised Caution in Follow Up Trial of Ahok Tomorrow

JAKARTA (Jurnalislam.com) – The planned arrival of a large amount of Muslims in the follow-up trial of religious prosecution case in Kementan Auditorium on Tuesday (25/4/2017) tomorrow is justified said the Cleric of the Islamic Defenders Front (FPI), Habib Rizieq Shihab.

He urged Muslims to follow the clerical command and be alert to infiltration and provication that could undermine this peaceful action.

“We come to follow the case. Not to riot. Follow the clerical command. Do not let there be infiltration in the middle of our ranks, “he said in the memorial Isra Mi’raj in Assembly sermon Miftahul Ulum, Sunday (23/4/2017) night.

According to Habib Rizieq, the judge has the absolute right to see, read and judge, and decide the verdict for defendant Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Thus there is still a chance for judges to impose appropriate punishment on Ahok, such as punishment to the accused in other religious blasphemy cases. Habib Rizieq said that the prosecution read by the Public Prosecutor (Prosecutor) in the previous trial indicated the arrogance of the law enforcement officers.

“They should not create conditions that endanger the nation and state by protecting religious blasphemers.”

Habib Rizieq also said he could not accompany Muslims i this action because at the same time he will be examined in Metro Jaya Police Headquarters as a witness. In addition to Habib, police will also check on his wife and uncle.

Source: RMOL

Translator: Taznim