Berita Terkini

Belajar Jadi Wanita Solehah dari Istri Buya Hamka

Oleh: Muhammad Pizaro, Putra Agam

“Saya diminta berpidato, tapi sebenarnya ibu-ibu dan bapak-bapak sendiri memaklumi bahwa saya tak pandai pidato. Saya bukan tukang pidato seperti Buya Hamka. Pekerjaan saya adalah mengurus tukang pidato dari sejak memasakkan makanan hingga menjaga kesehatannya.”

Itulah kalimat singkat dari Siti Raham binti Endah saat didapuk memberikan pidato dalam kunjungan Buya Hamka ke Makassar. Tak disangka, ucapan dari wanita bersahaja itu mendapat sambutan besar dari ribuan hadirin. “Hidup Umi.. Hidup Umi!” pekik massa.

Buya Hamka pun meneteskan air mata. Tangis haru dari ulama besar itu mengiringi langkah kaki sang kekasih turun dari panggung. Betapa besar pengorbanan istri tercintanya dalam masa-masa perjuangan. Siti Raham adalah garansi dari ketawadhuan di balik nama besar Buya Hamka.

Kisah cinta mereka dimulai pada 5 April 1929. Kala itu, Siti Raham berusia 15 tahun. Sedangkan Buya Hamka berumur 21 tahun. Sejak itu, mereka sah menjadi pasangan suami istri.

Ya, di sebuah usia dimana para muda-mudi saat ini lebih sibuk memakan rayuan dan menenggak kemaksiatan.

Perjuangan Buya Hamka meminang Siti Raham patutlah ditiru. Tidaklah salah Allah menganugerahi manusia dengan kekuatan akal pikirannya. Buya Hamka kemudian menulis roman berbahasa Minang berjudul “Si Sabariyah”. Buku itu dicetak tiga kali. Dari honor buku itulah Buya membiayai pernikahannya.

Banyak suka dan duka mewarnai perjalanan Buya Hamka merajut rumah tangga. Ulama Muhammadiyah itu tidak salah memilih Siti Raham. Di saat ujian datang, wanita kelahiran 1914 ini tampil sebagai motivasi baginya. Tanpa mengeluh maupun gundah.

“Kami hidup dalam suasana miskin. Sembahyang saja terpaksa berganti-ganti, karena di rumah hanya ada sehelai kain,” tutur Hamka dalam buku biografi “Pribadi dan Martabat Buya Prof Dr. Hamka” karangan Rusydi Hamka.

Puncak kemiskinan dua sejoli ini terjadi ketika lahir anak ketiga, yaitu Rusydi Hamka. Dia dilahirkan di kamar asrama, Kulliyatul Mubalighin, Padang Panjang pada 1935.

Sedangkan anak pertama Buya Hamka, bernama Hisyam, meninggal dalam usia lima tahun. Besarnya beban ekonomi ditambah kerasnya penjajahan, membuat Hamka harus memutar otak untuk membiayai anak-anaknya.

Dalam kondisi kekurangan, pergilah Hamka ke Medan untuk bekerja di Majalah Pedoman Masyarakat sebagai jurnalis dan penulis. Nama penanya Hamka.

Selama di Medan, ia banyak menulis artikel di berbagai majalah dan sempat menjadi guru agama saat beberapa bulan di Tebing Tinggi. Ia juga mengirimkan tulisan-tulisannya untuk surat kabar Pembela Islam di Bandung dan Suara Muhammadiyah yang dipimpin Abdul Rozak Fachruddin di Yogyakarta.

Selain itu, ia juga bekerja sebagai koresponden di Harian Pelita Andalas dan menuliskan laporan-laporan perjalanan, terutama perjalanannya ke Mekkah pada tahun 1927. Dari situlah lahir Novel Hamka Di Bawah Lindungan Ka’bah. Di kota yang kini menjadi ibukota Sumatera Utara itu, Hamka tinggal selama sebelas tahun.

Menurut penuturan Rusydi Hamka, saat itulah dia menyaksikan dan mengalami kesulitan-kesulitan hidup kedua orangtuanya. Di balik tanggung jawab sang ayah, tak lupa kesetiaan Siti Raham senantiasa bersamanya. Wanita tegar itu senantiasa menjalankan amanah Buya Hamka untuk menjadi istri yang taat suami dan mendidik anak-anak di kala Buya tiada bersamanya.

Namun di tengah keterbatasannnya, Hamka sukses menulis buku Tasawuf Modern, sebagai karangan bersambung dalam majalah Pedoman Masyarakat. Sukses di majalah, atas permintaan pembaca Tasawuf Modern diterbitkan sebagai sebuah buku untuk pertama kali tahun 1939.

Penerbitan pertama buku Buya tersebut mendapatkan sambutan yang luar biasa dari masyarakat sehingga mengalami cetak ulang beberapa kali pada penerbit di Medan. Setelah Proklamasi Kemerdekaan, Tasawuf Modern kembali diterbitkan di Jakarta sekitar tahun 60-an.

Dengan kondisi pas-pasan, Buya Hamka mampu menahkodai rumah tangga dengan tujuh orang anak. Itu belum ditambah beberapa kemenakan yang ikut dibiayai Buya Hamka. Sebab dalam adat Minang, seorang Mamak punya tanggung jawab terhadap kemenakan dan saudara perempuannya.

Rusydi mengatakan Hamka adalah orang yang biasa-biasa
saja. Berbeda dengan pria keturunan Minang yang pandai berdagang, Buya Hamka bukanlah orang yang mewarisi bakat berbisnis. Hamka juga bukanlah orang yang hidup dari gaji pemerintah.

“Ketika pindah ke Padang Panjang dalam suasana revolusi, ayah jelas tak punya sumber kehidupan tetap yang diharapkan setiap bulan,” terang Rusydi Hamka.

Saat memimpin Muhammadiyah di Sumatera Barat, Buya Hamka kerap keliling kampung untuk berdakwah. Perjalanan itu dilaluinya dengan Bendi maupun berjalan kaki. Kegiatan itu dilakukan selama berhari-hari tanpa pulang ke rumah.

Maka saat menemui istrinya di rumah, pertanyaan yang sering diutarakan Buya Hamka adalah: Apakah anak-anak (bisa) makan? Hingga Buya Hamka sengaja menepuk perut anak-anaknya untuk mengetahui apakah buah hatinya lapar atau kenyang.

Di sinilah, Siti Raham sukses menjalankan amanah sebagai Ibu. Agar anak-anaknya tidak kelaparan, Siti Raham rela menjual harta simpanannya. Beliau bukanlah wanita yang menjadikan perhiasan sebagai makhota. Karena makhota sejatinya adalah Buya Hamka dan keluarga.

Maka kalung, gelang emas, dan kain batik halus yang dibelinya di Medan terpaksa dijual di bawah harga demi membeli beras dan membayar uang sekolah anak-anak. Biarlah dirinya kesusahan, asal perut anak-anaknya tidak kelaparan dan tetap bisa melanjutkan pendidikan.

Kerap kali dirinya meneteskan air mata, ketika membuka almarinya untuk mengambil kain-kain simpanannya untuk dijual ke pasar. Tak tega melihat istrinya terus menguras hartanya, Buya Hamka sontak mengeluarkan beberapa helai kain Bugisnya untuk dijual. Namun sang istri mencegahnya.

“Kain Angku Haji jangan dijual, biar kain saya saja. Karena Angku Haji sering keluar rumah. Di luar jangan sampai Angku Haji kelihatan sebagai orang miskin,” ujarnya.

Demikianlah dalam keadaan sederhana Siti Raham masih mempertimbangkan kehormatan suaminya. Apa saja dilakukannya agar Buya Hamka tidak terlihat lusuh di mata jama’ah dan masyarakat. Dari mulai memikirkan pakaian hingga membersihkan kopiah bila Buya Hamka hendak keluar. Karena cinta adalah kehormatan.

Maka melihat Buya Hamka menangis saat dirinya turun dari mimbar pidato di Makassar, sang istri hanya bisa tersenyum, “’Kan yang Umi pidatokan itu kenyataannya saja.”

Pemerintah India Larang Muslim Jual Sapi dan Kerbau di Seluruh Negeri

Pemerintah India pada hari Jumat (26/5/2017) melarang penjualan sapi dan kerbau di pasar hewan untuk disembelih, World Bulletin melaporkan.

Menurut pedoman baru yang ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup, Hutan dan Perubahan Iklim India, seseorang hanya dapat membawa ternak ke pasar terbuka setelah mengajukan pernyataan tertulis bahwa ternak tersebut tidak akan dijual dengan tujuan untuk disembelih.

Keputusan tersebut diperkirakan akan melukai para petani dan pedagang daging Muslim di negara tersebut secara besar-besaran karena pemberitahuan baru tersebut juga melarang penjualan sapi jantan, sapi jantan muda, sapi betina, kerbau, dan unta.

Petani tidak punya pilihan selain memelihara ternak mereka yang sudah tua atau tidak berbobot dan tidak bisa menjualnya seperti dulu.

Pedagang daging Muslim, yang telah menghadapi kekerasan dari kelompok main hakim sendiri, akan memiliki masalah dalam menemukan hewan untuk disembelih. Mereka yang berurusan dengan perdagangan kulit juga akan sulit mendapatkan bahan mentah.

Sapi dianggap suci dalam agama Hindu. Setelah Perdana Menteri Narendra Modi berkuasa pada tahun 2014, banyak negara bagian di India memberlakukan undang-undang yang lebih keras mengenai pembunuhan sapi.

Pada tanggal 31 Maret, membunuh seekor sapi di negara bagian barat Gujarat dapat dikenai hukuman penjara seumur hidup setelah Majelis Negara mengubah Undang-undang Pelestarian Hewan Gujarat menjadi lebih keras.

Undang-undang yang diubah tersebut juga menjatuhkan hukuman penjara 7 sampai 10 tahun bagi mereka yang memiliki daging sapi, selain denda mulai dari $ 1500 sampai $ 7500.

Mesir Luncurkan Serangan Udara ke Libya Setelah Tewasnya 28 Kristen Koptik

MESIR (Jurnalislam.com) – Pesawat udara angkatan udara Mesir telah meluncurkan enam serangan yang ditujukan ke kamp-kamp di dekat Derna di Libya, yang diyakini sebagai tempat latihan pasukan bersenjata yang bertanggung jawab atas serangan mematikan terhadap penganut Kristen, kata sumber militer Mesir.

Abdel Fattah el-Sisi mengumumkan pada hari Jumat (26/5/2017) bahwa dia telah mengarahkan serangan terhadap apa yang dia sebut “kamp-kamp bersenjata”, dalam pidato di televisi yang menyatakan bahwa terorisme yang disponsori akan dihukum.

“Mesir tidak akan pernah ragu untuk menyerang kamp-kamp teror di manapun … jika mereka menyerang Mesir baik di dalam maupun di luar negeri,” kata Sisi.

Sebelumnya pada hari Jumat, sedikitnya 28 jemaat Kristen Koptik terbunuh dan puluhan lainnya terluka oleh penyerang bersenjata yang menyerang mereka saat mereka sedang melakukan perjalanan ke sebuah biara di provinsi Minya, Mesir.

Rombongan penganut Kristen menuju ke Biara Saint Samuel, yang terletak di luar kota Minya, sekitar 220 km selatan ibu kota Kairo, ketika penyerang bertopeng, yang datang dengan tiga truk pickup, melepaskan tembakan ke arah mereka sebelum melarikan diri dari tempat kejadian.

Pejabat keamanan dan medis Mesir mengatakan kepada kantor berita Associated Press bahwa dari 28 orang yang tewas tersebut kebanyakan adalah anak-anak.

Tidak ada yang langsung mengaku bertanggung jawab.

Reporter Al-Jazeera Mahmoud Abdelnahhed, melaporkan dari Tripoli, ibukota Libya, mengatakan bahwa penduduk Derna “sangat marah” dengan serangan udara tersebut.

“Sumber di lapangan mengatakan enam lokasi yang ditargetkan oleh pesawat tempur Mesir tersebut adalah daerah sipil dan distrik penuh penduduk di dalam kota,” katanya. “Mereka mengatakan bahwa hanya properti sipil seperti rumah, peternakan dan kendaraan yang rusak.”

Dalam dua tahun terakhir, angkatan udara Mesir telah melakukan beberapa serangan terhadap Derna, terutama pada bulan Februari 2015 dan Maret 2016, membunuh beberapa perempuan dan anak-anak.

Berbicara kepada Al Jazeera dari Boston, Tarek Masoud dari Universitas Harvard mengatakan bahwa Mesir tidak dapat menyelesaikan masalah keamanannya dengan menyerang Libya.

“Apakah orang-orang yang melakukan serangan terakhir di Mesir benar-benar berbasis di Libya?” dia berkata.

“Saya tidak tahu, tapi fakta bahwa serangan ini terjadi begitu dalam di Mesir menunjukkan kepada saya bahwa basis operasi serangan semacam ini tidak sampai ke perbatasan di Libya, namun sebenarnya berada di dalam Mesir.”

28 Kristen Koptik Tewas saat Sebuah Bis Diberondong Tembakan di Mesir

KAIRO (Jurnalislam.com) – Dua puluh delapan orang tewas dan beberapa lainnya terluka pada hari Jumat (26/5/2017) ketika penyerang tak dikenal menembaki sebuah bus yang membawa jamaat Kristen Koptik di provinsi selatan Minya, Mesir, menurut Direktorat Kesehatan Minya.

Dalam sebuah pernyataan tertulis Jumat malam, Direktorat Kesehatan Minya mengatakan 28 jenazah dibawa ke rumah sakit setempat.

“Beberapa penyerang tak dikenal melepaskan tembakan tanpa pandang bulu dari tiga kendaraan 4×4 ke sebuah bus, menewaskan sejumlah penganut Kristen Koptik,” menurut Kementerian Dalam Negeri Mesir.

“Pasukan keamanan bergegas ke tempat kejadian, yang terjadi di jalan menuju Biara St. Samuel di sebelah barat kota Al-Adwa,” sebuah pernyataan kementerian menambahkan.

Sementara itu, Presiden Abdel-Fattah al-Sisi mendesak pertemuan dewan keamanan untuk membahas bagaimana menangani kejadian tersebut, menurut sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh presiden.

Segera setelah serangan mematikan, yang terjadi sekitar tengah hari waktu setempat tersebut seorang sumber keamanan setempat mengkonfirmasi kepada Anadolu Agency bahwa insiden itu terjadi di jalan gurun yang menghubungkan Minya ke provinsi terdekat Beni Sueif.

Sumber yang sama, yang berbicara tanpa menyebut nama, mengatakan bahwa bus naas tersebut berangkat dari Beni Sueif menuju ke vihara yang terletak kira-kira 220 kilometer di selatan Kairo.

Menurut sumber itu, saksi mata melaporkan melihat pelaku melepaskan tembakan dari tiga kendaraan sebelum melarikan diri dari tempat kejadian.

Kelompok Islamic State (IS) kemudian mengaku bertanggung jawab atas serangan kembar tersebut, yang terjadi pada hari raya the Christian Palm Sunday.

Keadaan darurat memungkinkan pihak berwenang untuk melakukan serangkaian tindakan keamanan yang luar biasa, termasuk merujuk tersangka ke pengadilan Keamanan Negara, pemerlakuan jam malam dan pemberedelan surat kabar.

Pada bulan April, al-Sisi mengumumkan keadaan darurat tiga bulan setelah serangan ganda terhadap dua gereja di Mesir utara yang menyebabkan 45 pemuja Kristen Koptik tewas dan lebih banyak korban luka.

Revisi UU Anti-Terorisme, Camping ke Gunung Bisa Ditangkap

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kapolri Jenderal Tito Karnavian menilai perlunya segera merevisi Undang-Undang Anti Terorisme. Pandangan ini ia sampaikan dalam acara talkshow “Rosi” yang tayang pada Kompas TV, Kamis (26/5/2017) malam.

Tito juga menjelaskan hal-hal yang belum diatur dalam UU Anti-Terorisme meliputi penindakan pencegahan dan deradikalisasi.

“Khusus untuk penindakan ada hal yang harus diperkuat, yaitu mengkriminalisasi perbuatan-perbuatan awal sebelum terjadinya terorisme,” jawab Tito

Dalam penjelasanya Tito memberikan contoh i’dad nantinya termasuk tindakan kriminal.

I’dad itu adalah pelatihan, tidak ada jihad tanpa i’dad. Pelatihan ini tadinya mereka bersenjata ditangkaplah yang di Aceh. Nah sekarang mereka pintar, latihannya naik gunung camping menggunakan airsoft gun, pistol kayu. Hukum nya apa?” tanya Tito, karena undang-undang sekarang belum mengatur.

“Tujuan mereka sebetulnya adalah melakukan i’dad untuk persiapan operasi terorisme. Mesti dikriminalisasi,” tegasnya.

Lebih lanjut Tito memberi contoh lain jika revisi UU anti terorisme selesai, kepolisian bisa membuat daftar organisasi-organisasi yang masuk kategori kelompok terorisme dan bagi siapa saja yang bergabung dalam organisasi tersebut sudah bisa diproses hukum.

“Misalnya Jamaah Ansharut Daulah ditetapkan sebagai organisasi terorisme, sehingga semua dikriminalisasi perbuatan siapapun yang bergabung atau mendukung JAD. Jadi bergabung saja kita bisa tangkap dan proses hukum,” katanya

Sebagaimana telah diketahui seusai insiden bom Kampung Melayu, Presiden Joko Widodo juga mendesak pembahasan revisi Undang-Undang Anti-Terorisme segera diselesaikan. UU Anti-Terorisme nantinya diharapkan memudahkan penegak hukum dalam bertindak dan melakukan upaya pencegahan.

Serangan Udara AS Targetkan Warga Sipil IS di Suriah, 106 Tewas

SURIAH (Jurnalislamcom) – Sedikitnya 106 warga sipil, termasuk 42 anak-anak, tewas dalam serangkaian serangan udara oleh koalisi pimpinan AS di sebuah kota yang dikuasai Islamic State (IS) di Suriah timur, menurut sebuah kelompok pemantau, lansir Aljazeera, Jumat (26/5/2017).

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (the Syrian Observatory for Human Rights-SOHR) yang berbasis di Inggris mengatakan bahwa korban tewas tersebut diakibatkan oleh serangan udara yang menargetkan Al Mayadeen di provinsi Deir Az Zor.

“Ada dua gelombang serangan: satu di Kamis malam dan yang kedua setelah tengah malam, yang menargetkan bangunan yang menampung keluarga pasukan [IS],” Rami Abdel Rahman, kepala SOHR, mengatakan kepada kantor berita DPA.

Abdel Rahman mengatakan kebanyakan dari mereka yang tewas adalah warga negara Maroko dan Suriah yang telah melarikan diri ke Al Mayadeen dari ibukota de facto IS, Raqqa, di timur laut Suriah.

Serangan udara pertama dilaporkan membunuh 35 warga sipil.

SOHR melacak perkembangan konflik Suriah melalui jaringan kontak di lapangan.

Ramadhan Saatnya Meraih Kemenangan

oleh: Ust Hamzah Baya S.Pd.I (Ketua Mimbar Syari’ah)

Harapan seorang mukmin saat datangnya bulan ramadhan sebagaimana yang ada pada diri salafusholeh umat terbaik yang mengamalkan islam ini adalah perubahan kebaikan dalam diri dan semakin dekat kepada Allah, sebagaimana doa yang mereka panjatkan kepada Allah:

اَللَّهُمَّ سَلِّمْنِي إِلَى رَمَضَانَ ، وَسَلِّمْ لِي رَمَضَانَ ، وَتُسلمهُ مِنِّي مُتَقَبَّلاً
“Ya Allah, selamatkanlah aku agar bisa berjumpa dengan Ramadhan, selamatkanlah aku agar berhasil menjalani Ramadhan, dan terimalah amalku.”(Hilyatul Auliya’, juz 1, hlm. 420)

Mereka meminta kepada Allah supaya mempertemukanya dengan bulan Ramadhan, karena mereka mengetahui bahwa di bulan itu terdapat kebaikan yang sangat besar dan manfaat yang begitu luas.

Kemudian, apabila bulan Ramadhan sudah masuk mereka pun meminta kepada Allah untuk memberikan pertolongan dan bantuan kepada mereka dalam beramal salih di bulan tersebut. Kemudian,

Apabila Ramadhan usai mereka juga memohon kepada Allah agar menerima amalan mereka itu, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

“Dan orang-orang yang memberikan apa-apa yang sanggup mereka persembahkan sementara hati mereka itu merasa takut; bagaimanakah kiranya keadaan mereka ketika dikembalikan kepada Rabbnya. Mereka itulah orang yang bersegera dalam kebaikan-kebaikan dan mereka berlomba-lomba untuk meraihnya.”(QS. al-Mu’minun : 60-61)

Mereka bersungguh-sungguh dalam beramal, kemudian setelah itu mereka dirundung oleh rasa cemas dan khawatir setelah beramal, apakah amalnya itu diterima ataukan tidak. malam diisi dengan sholat sedangkan siang hari diisi dengan puasa, membaca al-Qur’an, dzikir kepada Allah, dan berbagai amal kebaikan, diantara yang dilakukan oleh salafusoleh dalam mengisi aktifitas ramadhan adalah:

– Memadati waktu-waktu mereka dengan duduk di rumah-rumah Allah ‘azza wa jalla
– Tilawatil Qur’an dan senantiasa berdzikir kepada Allah
– Mereka saling mempelajari kandungan Kitabullah ‘azza wa jalla. (Tholabul ilmi)
– Mereka senantiasa berusaha menjaga agar waktunya tidak terbuang sia-sia.
– Mereka adalah orang yang sangat dermawan khususnya dibulan ramadhan. sebagaimana Rasulullah dalam riwayat:
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling pemurah dalam memberikan kebaikan, dan sifat pemurah beliau yang paling besar adalah ketika Ramadhan”. (H.R Muttafaq alaih)

Siapakah Orang Yang Celaka Di Bulan Ramadhan

Rasulullah saw memberikan pernyataan atau peringatan yang harus kita perhatikan dan berusaha untuk menghindarinya. Imam Nawawi dalam salah satu pernyataannya juga memperingatkan kita tentang hal ini. Ia berkata; “Celakalah kaum Ramadhaniyyin (mendapatkan bulan ramdhan) Mereka tidak mengenal Allah kecuali di bulan Ramadhan.”

Rasulullah saw bersabda;
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, ketika Rasulullah SAW akan menaiki mimbar untuk khutbah Jum’at, pada anak tangga pertama beliau mengucapkan amin, ketika naik pada anak tangga kedua beliau juga mengucapkan amin, begitu juga pada anak tangga ketiga beliau mengucapkan amin.

Setelah selesai shalat, para sahabat kemudian bertanya, ”Wahai Rasulullah, mengapa engkau mengucapkan amin pada anak tangga pertama sampai ketiga tadi?”

Rasulullah SAW menjawab, “Pada anak tangga pertama aku mengucapkan amin, karena malaikat Jibril membisikkan kepada ku, celakalah dan merugilah orang yang ketika disebut namamu wahai Muhammad, dia tidak bershalawat kepadamu , kemudian pada anak tangga kedua, aku mengucapkan amin, karena malaikat Jibril membisikkan kepadaku, celakalah dan merugilah orang yang tinggal bersama kedua orang tuanya tapi tidak membuatnya masuk surga, dan pada anak tangga ketiga aku mengucapkan amin, karena malaikat Jibril membisikkan kepadaku, celakalah dan merugilah orang yang melaksanakan ibadah shaum di bulan Ramadhan, tapi Allah tidak mengampuni dosa-dosanya. (Dishahîhkan al-Albâni dalam Shahîh at-Targhîb wat-Tarhîb).

Pada bulan suci Ramadhan ini, kita mendapatkan kesempatan untuk bertaubat kepada Allah Azza wajalla, meminta ampun kepadaNya agar dosa-dosa kita diampuni dan taubat kita diterima.

Kesempatan ini tidak boleh disia-siakan. Mari kita laksanakan seluruh ibadah di bulan suci ini dengan sebaik-baiknya, Semoga Ramadhan tahun ini, kita bisa lebih baik. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita dan menjadikan kita sebagai hambaNya yang shaleh, yang akan keluar sebagai pemenang menjadi muttaqin dan diwafatkan dalam keadaan khusnul khatimah Amin ya rabbal alamin. Wallahu ‘alam bish shawab.

Muslimah KAMMI Dianiaya, Mahasiswa Solo Desak Polisi Dihukum dan Minta Maaf

SOLO (Jurnalislam.com) – Puluhan mahasiswa anggota Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Solo Raya mengelar unjuk rasa di depan Polrestabes Surakarta pada Jumat (26/5/2017) sebagai bentuk atas perlakukan represif kepolisian terhadap rekan mereka di Jakarta beberapa waktu lalu yang menyebabkan 7 anggota KAMMI ditangkap, bahkan salah satunya seorang muslimah diduga dianiaya.

Unjuk rasa melibatkan gabungan elemen KAMMI Solo Raya seperti mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta(UMS), Institut agama Islam negeri Surakarta (IAIN), Universitas Sebelas Maret Surkarta(UNS), dll.

Masiswa menyesalkan sikap aparat yang represif kepada mahasiswa padahal KAMMI datang dengan damai menuntut kasus BLBI dan Century dan kasus lain segera di tuntaskan.

Korlap aksi Agil Setiawan mengutuk keras tindakan represif aparat. “Kami dari KAMMI Solo Raya mengutuk keras adanya gerakan represif dari kepolisian kepada saudara- saudara kami di Jakarta, seharusnya tidak terjadi padahal kita datang dengan damai dengan agenda- agenda untuk menuntut hukum kasus BLBI dan Century segera di tuntaskan,”tegasnya.

KAMMI Solo Raya mengajukan 3 tuntutan kepada kepolisian yaitu:

1. Mengutuk keras tindakan represif kepolisian terhadap mahasiswa.

2.Penegakan supremasi hukum yang berkeadilan tanpa tebang pilih.

3.Menuntut kepolisian untuk mengaudit kinerjanya, serta permohonan maaf kepada seluruh mahasiswa Indonesia.

reporter: Ridho

Jelang Ramadhan, Sepasang Mualaf Bersyahadat di Masjid Cheng Ho Jember

JEMBER (Jurnalislam.com) – Kabar gembira kini datang dari Jember Jawa Timur. Sepasang suami istri mengikrarkan kalimat syahadat, memutuskan memeluk Islam. Adalah Hendra Tatoo bersama istrinya melafalkan 2 kalimat syahadat di hadapan jamaah masjid dan petugas Kemenag pada acara yang dihelat Komunitas Gerakan Memakmurkan Masjid (GEMMAS) Jember di Masjid Muhammad Cheng Hoo Kaliwates, Jember, Jumat (27/05/2107).

“Alhamdulillah inilah pilihan hidup terbaik bagi kami, insya Allah besok bisa menyambut bulan penuh berkah bersama saudara kami lainnya” kata haru pria yang kemudian berganti nama Muhammad Hendra ini.

Ikrar syahadat sepasang mualaf ini berlangsung setelah Serah Terima Wakaf Al Qur’an untuk Masjid dan Musholla se Jember dari donatur dr Suherman Rasyid kepada Ketua Komunitas GEMMAS; Muhammad Hery.

Menanggapi masuk Islamnya sepasang muallaf ini, Wiwid, seorang jamaah Masjid Cheng Ho menyatakan bahwa umat Islam yang sudah Islam sejak lahir harus bisa memberi contoh yang lebih baik dalam mengamalkan Islam.

“Dia yang dulunya pemabuk dan penjudi sudah melakukan perubahan besar. perubahan yang tepat dan terbaik yang akan membuat hidupnya lebih bahagia dan selamat dunia-akhirat. Semoga memotivasi kita yang lebih dulu ber-Islam” pungkasnya.

 

‘Demo Malam Hari, Pendukung Ahok Dibiarkan, Mahasiswa KAMMI Ditindak’

SOLO (Jurnalislam.com)- Aksi reprensif pihak aparat kepolisian terhadap unjuk rasa yang dilakukan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) didepan Istana Negara, Jakarta (24/5/2017) menuai keprihatinan banyak pihak. Aksi ini sendiri berakhir dibubarkan dan polisi menangkap 7 peserta aksi.

Ketua Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) Ustadz Muinudinillah Basri mengatakan bahwa tindakan pihak aparat terhadap KAMMI ini sebagai bukti tidak adilnya pihak aparat terhadap umat Islam.

Baca Juga : Anggotanya Ditangkap, Mahasiswa KAMMI Demo Minta Kapolri Dicopot

Pasalnya, para pendukung Ahok yang melakukan demo melebihi batas waktu yang ditetapkan, hanya dibiarkan tanpa ada tindakan dari pihak aparat.

“Itu merupakan bukti ketidakadilan yang sangat nampak sekali. Bagaimana pendukung Ahok demo sampai malam hari dibiarkan, sementara mahasiswa KAMMI ditindak,”katanya di hadapan wartawan usai memberi sambutan aksi Tarhib Ramadhan di Masjid Agung Surakarta, Kamis(25/5/2017).

Ustadz Muin sapaannya, Menegaskan, Bahwa KAMMI mewakili suara rakyat untuk menyampaikan aspirasinya kepada pemerintahan. Dia melanjutkan, tindakan pihak kepolisian terhadap KAMMI yang melakukan pemukulan dan penangkapan saat unjuk rasa adalah sebuah kebijakan yang tidak jelas.

“KAMMI, istilahnya mahasiswa sebagai inti sari umat di Indonesia ini. Kemudian polisi represif, ini menunjukan kekalutan dan kebijakan yang tidak jelas,”pungkasnya.