Berita Terkini

Polisi Inggris Tangkap 2 Orang Lagi Terkait Bom Manchester

MANCHESTER (Jurnalislam.com) – Polisi Inggris mengatakan bahwa mereka menahan dua orang lagi saat melakukan razia pada hari Sabtu (27/5/2017) sehubungan dengan pemboman di sebuah konser di Manchester, saat “bagian besar” jaringan di balik serangan saat ini sedang ditahan, lansir World Bulletin.

Kedua pria tersebut, berusia 20 dan 22 tahun, ditangkap di utara Manchester Sabtu pagi setelah polisi masuk ke sebuah rumah dengan meledakannya.

Penangkapan tersebut menjadikan jumlah tersangka yang ditahan di Inggris berjumlah 11 dalam ledakan hari Senin di sebuah konser idola pop AS Ariana Grande, di mana 22 orang meninggal dan 116 lainnya terluka. Kelompok IS telah mengklaim bertanggung jawab.

Polisi di Libya telah menahan ayah dan saudara pembom Salman Abedi yang berusia 22 tahun.

Mark Rowley, kepala polisi kontra-terorisme Inggris, mengatakan pada hari Jumat bahwa polisi telah menangkap “sebagian besar jaringan” yang terkait dengan kekejaman di mana tujuh anak berusia di bawah 18 tahun termasuk di antara 22 orang yang tewas.

“Kami telah menangani beberapa pemain kunci tapi masih ada yang harus dilakukan,” katanya.

Status ancaman teror Inggris telah dinaikkan menjadi “kritis”, tingkat tertinggi, yang berarti sebuah serangan dianggap sudah dekat dengan sebuah peringatan yang diberikan sebelum pertandingan play-off akhir pekan ini.

“Siapa pun yang datang ke Final Piala FA atau pertandingan play-off lainnya akhir pekan ini akan melihat peningkatan jumlah polisi di dalam dan sekitar stadion,” kata Jon Williams dari Kepolisian Metropolitan.

Serangan Mortir Iran Hantam Warga Sipil Pakistan di Perbatasan

KARACHI (Jurnalislam.com) – Pakistan mengklaim bahwa sebuah mortir yang ditembakkan oleh penjaga perbatasan Iran pada hari Sabtu (27/5/2017) pagi menewaskan seorang warga sipil Pakistan.

Mortir tersebut meledakkan sebuah kendaraan yang bergerak, membunuh pengemudinya di distrik Panjgur yang terpencil, yang berbatasan dengan negara tetangga Iran, Bashir Bungalzai, seorang pejabat senior pemerintah mengatakan kepada wartawan, lansir Anadolu Agency.

Insiden tersebut terjadi sepekan setelah penjaga perbatasan Iran menembakkan lima peluru mortir ke sisi perbatasan Pakistan, meskipun tidak ada korban yang dilaporkan.

“Kami telah mengajukan protes keras kepada pejabat perbatasan Iran atas insiden tersebut, dan menginformasikan pemerintah federal dan provinsi tentang pelanggaran itu,” kata pejabat tersebut.

Pakistan telah berulang kali menuduh Iran melepaskan tembakan dan menargetkan warga sipil dalam beberapa bulan terakhir.

Teheran menyalahkan Islamabad karena tidak bertindak melawan kelompok militan garis keras Sunni Jaish-e-Adl (Tentara Keadilan), yang diduga melakukan serangan dari perbatasan Pakistan.

Sebuah pertemuan antara dua pejabat perbatasan akan diadakan pada hari Ahad untuk membahas pelanggaran terbaru, kata Bungalzai.

Awal bulan ini, kedua belah pihak telah membentuk sebuah komisi gabungan dalam pertemuan antara Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif dan Menteri Dalam Negeri Pakistan Chaudhry Nisar Ali Khan di Islamabad, beberapa hari setelah 10 penjaga perbatasan Iran ditembak mati oleh pejuang di sepanjang perbatasan.

Pembentukan komisi tersebut terjadi beberapa hari setelah kepala militer Iran mengancam untuk membom tempat persembunyian pejuang, yang diduga dilindungi oleh tetangganya yang bersenjata nuklir.

Ancaman tersebut menyebabkan Pakistan memanggil duta besar Iran di Islamabad untuk mengajukan sebuah protes atas pernyataan tersebut, dengan mengatakan bahwa komentar tersebut bertentangan dengan “semangat hubungan antara kedua negara”.

Revision of Anti-Terrorism Law in Indonesia

JAKARTA (Jurnalislam.com) – National Police chief Tito Karnavian sees the need to revise the Anti-Terrorism Act soon. This view he conveyed in the talk show “Rosi” which aired on Kompas TV, Thursday (05/26/2017) night.

Tito also explained things that have not been regulated in the Anti-Terrorism Act covering prevention and deradicalisation.

“Especially in this action there is something to be strengthened, such as, criminalizing the initial actions before the occurrence of terrorism” replied Tito.

Tito’s used the example i’dad, it will include criminal acts.

“I’dad it is training, no jihad without i’dad. This training ‘idad’ is well armed, at the time perpatrators arrested in Aceh. Now they are even smarter, mountain training cams use of airsoft guns, wooden simulation pistols, What is his law with regards to this ? “Tito asked, because the law now has not set.

“Their goal is actually to do i’dad for the preparation of terrorist operations.

So therefore must become a criminalized act”he asserted. Tito further provided another example for revision in anti-terrorism laws, the police must make a list of organizations belonging to terrorism groups and for anyone who joined the organization can be processed by law.

“For example Jamaah Ansharut Daula (ISIS) is defined as an organization of terrorism, so that all criminalized acts of anyone who joins or supports JAD.

So joining JAD they can caught and legaly processed “. He said ,As already known, after the Kampung Melayu bomb incident, President Joko Widodo also urged the discussion on the revision of the Anti-Terrorism Act to be resolved soon. Anti-Terrorism Law will be expected to facilitate law enforcers in acting and application of prevention efforts.

Repoter: Ibnu Fariid

Translator: Taznim

Dua Orang Tewas Saat Menolong Muslimah dari Serangan Islamophobik

NEW YORK (Jurnalislam.com) – Dua orang Samaria ditikam sampai mati di kereta api Portland ketika mereka turun tangan saat seorang pria melakukan serangan Islamophobik pada dua wanita, kata polisi Sabtu (27/5/2017), lansir Anadolu Agency.

Jeremy Joseph Christian, 35, “mengomel dan mengoceh” di dalam kereta Metropolitan Area Express kemudian “beberapa orang mendekatinya dan tampak berusaha untuk menghentikan perilakunya,” juru bicara polisi Portland Sersan Pete Simpson mengatakan. “Mereka diserang dengan senjata tajam oleh Jeremy dengan kejam.”

Salah satu pria tersebut tewas seketika di tempat kejadian dan yang lainnya dinyatakan tewas di rumah sakit, kata Simpson. Satu orang penumpang lagi dirawat akibat luka yang tidak parah.

“Mereka hanyalah penumpang kereta dan sayangnya terjebak dalam peristiwa ini,” kata Simpson.

Dia mengatakan Christian, yang ditahan tanpa jaminan, menggunakan “bahasa kebencian atau bahasa yang bias” terhadap wanita-wanita tersebut, salah satunya mengenakan jilbab.

Organisasi advokasi Muslim terbesar di Amerika Utara, Council on American-Islamic Relations (CAIR), pada hari Sabtu meminta Presiden Donald Trump untuk mencela “meningkatnya kefanatikan” terhadap umat Islam.

“Presiden Trump harus berbicara secara pribadi melawan arus pasang Islamofobia dan bentuk-bentuk kefanatikan dan rasisme lainnya di negara kita yang telah diprovokasi oleh berbagai pernyataan, kebijakan dan pengangkatannya yang berdampak negatif pada komunitas minoritas,” Direktur Eksekutif CAIR Nihad Awad mengatakan.

Serangan di Portland terjadi pada hari Jumat saat sebagian besar 1,6 miliar Muslim di dunia bersiap-siap menunaikan ibadah bulan Ramadhan.

Joseph Christian
Joseph Christian

Juru bicara kepolisian Simpson mengatakan: “Kami bersama dengan komunitas Muslim. Kejadian seperti ini hanya menanamkan rasa takut di komunitas.”

“Kami telah mengulurkan tangan sebelum kejadian ini kepada rekan komunitas Muslim kami dan juga pada para imam mengenai patroli ekstra selama bulan Ramadhan. Kami ingin meyakinkan mereka bahwa perlindungan itu akan berlanjut,” tambahnya. Portland adalah rumah bagi sekitar 50.000 Muslim.

“Kejadian ini setidaknya muncul sebagai insiden terisolasi berdasarkan apa yang kita ketahui pada saat ini,” kata Simpson.

Tersangka Christian menghadapi pidana pembunuhan yang keji dan percobaan pembunuhan, diantara pidana lain. Dia memiliki catatan kriminal penculikan, perampokan, dan kepemilikan senjata.

Jenderal Garda Revolusi Iran Tewas di Mosul

IRAK (Jurnalislam.com) – Seorang Jenderal Garda Revolusi Iran terbunuh di Mosul barat pada hari Sabtu (27/5/2017) menyusul bentrokan bersenjata antara Pasukan Mobilisasi Populer dan kelompok Islamic State (IS).

Sumber keamanan mengatakan kepada Al Arabiya bahwa Jenderal Shaaban Nasiri tewas dalam operasi militer yang dilakukan oleh Pasukan Mobilisasi Populer untuk membebaskan distrik Al-Ba’aj di ujung barat Mosul.

Nasiri adalah tokoh terkemuka Garda Revolusi Iran yang membantu membentuk milisi Syiah Irak Badr, sebuah milisi yang berafiliasi dengan Pasukan Mobilisasi Populer yang berperang melawan rezim Saddam Hussein pada tahun 1980an.

Pasukan Mobilisasi Populer mengatakan Shaaban Nasiri memiliki “peran berpengaruh di Irak, Suriah dan Lebanon.”

 

Belajar Jadi Wanita Solehah dari Istri Buya Hamka

Oleh: Muhammad Pizaro, Putra Agam

“Saya diminta berpidato, tapi sebenarnya ibu-ibu dan bapak-bapak sendiri memaklumi bahwa saya tak pandai pidato. Saya bukan tukang pidato seperti Buya Hamka. Pekerjaan saya adalah mengurus tukang pidato dari sejak memasakkan makanan hingga menjaga kesehatannya.”

Itulah kalimat singkat dari Siti Raham binti Endah saat didapuk memberikan pidato dalam kunjungan Buya Hamka ke Makassar. Tak disangka, ucapan dari wanita bersahaja itu mendapat sambutan besar dari ribuan hadirin. “Hidup Umi.. Hidup Umi!” pekik massa.

Buya Hamka pun meneteskan air mata. Tangis haru dari ulama besar itu mengiringi langkah kaki sang kekasih turun dari panggung. Betapa besar pengorbanan istri tercintanya dalam masa-masa perjuangan. Siti Raham adalah garansi dari ketawadhuan di balik nama besar Buya Hamka.

Kisah cinta mereka dimulai pada 5 April 1929. Kala itu, Siti Raham berusia 15 tahun. Sedangkan Buya Hamka berumur 21 tahun. Sejak itu, mereka sah menjadi pasangan suami istri.

Ya, di sebuah usia dimana para muda-mudi saat ini lebih sibuk memakan rayuan dan menenggak kemaksiatan.

Perjuangan Buya Hamka meminang Siti Raham patutlah ditiru. Tidaklah salah Allah menganugerahi manusia dengan kekuatan akal pikirannya. Buya Hamka kemudian menulis roman berbahasa Minang berjudul “Si Sabariyah”. Buku itu dicetak tiga kali. Dari honor buku itulah Buya membiayai pernikahannya.

Banyak suka dan duka mewarnai perjalanan Buya Hamka merajut rumah tangga. Ulama Muhammadiyah itu tidak salah memilih Siti Raham. Di saat ujian datang, wanita kelahiran 1914 ini tampil sebagai motivasi baginya. Tanpa mengeluh maupun gundah.

“Kami hidup dalam suasana miskin. Sembahyang saja terpaksa berganti-ganti, karena di rumah hanya ada sehelai kain,” tutur Hamka dalam buku biografi “Pribadi dan Martabat Buya Prof Dr. Hamka” karangan Rusydi Hamka.

Puncak kemiskinan dua sejoli ini terjadi ketika lahir anak ketiga, yaitu Rusydi Hamka. Dia dilahirkan di kamar asrama, Kulliyatul Mubalighin, Padang Panjang pada 1935.

Sedangkan anak pertama Buya Hamka, bernama Hisyam, meninggal dalam usia lima tahun. Besarnya beban ekonomi ditambah kerasnya penjajahan, membuat Hamka harus memutar otak untuk membiayai anak-anaknya.

Dalam kondisi kekurangan, pergilah Hamka ke Medan untuk bekerja di Majalah Pedoman Masyarakat sebagai jurnalis dan penulis. Nama penanya Hamka.

Selama di Medan, ia banyak menulis artikel di berbagai majalah dan sempat menjadi guru agama saat beberapa bulan di Tebing Tinggi. Ia juga mengirimkan tulisan-tulisannya untuk surat kabar Pembela Islam di Bandung dan Suara Muhammadiyah yang dipimpin Abdul Rozak Fachruddin di Yogyakarta.

Selain itu, ia juga bekerja sebagai koresponden di Harian Pelita Andalas dan menuliskan laporan-laporan perjalanan, terutama perjalanannya ke Mekkah pada tahun 1927. Dari situlah lahir Novel Hamka Di Bawah Lindungan Ka’bah. Di kota yang kini menjadi ibukota Sumatera Utara itu, Hamka tinggal selama sebelas tahun.

Menurut penuturan Rusydi Hamka, saat itulah dia menyaksikan dan mengalami kesulitan-kesulitan hidup kedua orangtuanya. Di balik tanggung jawab sang ayah, tak lupa kesetiaan Siti Raham senantiasa bersamanya. Wanita tegar itu senantiasa menjalankan amanah Buya Hamka untuk menjadi istri yang taat suami dan mendidik anak-anak di kala Buya tiada bersamanya.

Namun di tengah keterbatasannnya, Hamka sukses menulis buku Tasawuf Modern, sebagai karangan bersambung dalam majalah Pedoman Masyarakat. Sukses di majalah, atas permintaan pembaca Tasawuf Modern diterbitkan sebagai sebuah buku untuk pertama kali tahun 1939.

Penerbitan pertama buku Buya tersebut mendapatkan sambutan yang luar biasa dari masyarakat sehingga mengalami cetak ulang beberapa kali pada penerbit di Medan. Setelah Proklamasi Kemerdekaan, Tasawuf Modern kembali diterbitkan di Jakarta sekitar tahun 60-an.

Dengan kondisi pas-pasan, Buya Hamka mampu menahkodai rumah tangga dengan tujuh orang anak. Itu belum ditambah beberapa kemenakan yang ikut dibiayai Buya Hamka. Sebab dalam adat Minang, seorang Mamak punya tanggung jawab terhadap kemenakan dan saudara perempuannya.

Rusydi mengatakan Hamka adalah orang yang biasa-biasa
saja. Berbeda dengan pria keturunan Minang yang pandai berdagang, Buya Hamka bukanlah orang yang mewarisi bakat berbisnis. Hamka juga bukanlah orang yang hidup dari gaji pemerintah.

“Ketika pindah ke Padang Panjang dalam suasana revolusi, ayah jelas tak punya sumber kehidupan tetap yang diharapkan setiap bulan,” terang Rusydi Hamka.

Saat memimpin Muhammadiyah di Sumatera Barat, Buya Hamka kerap keliling kampung untuk berdakwah. Perjalanan itu dilaluinya dengan Bendi maupun berjalan kaki. Kegiatan itu dilakukan selama berhari-hari tanpa pulang ke rumah.

Maka saat menemui istrinya di rumah, pertanyaan yang sering diutarakan Buya Hamka adalah: Apakah anak-anak (bisa) makan? Hingga Buya Hamka sengaja menepuk perut anak-anaknya untuk mengetahui apakah buah hatinya lapar atau kenyang.

Di sinilah, Siti Raham sukses menjalankan amanah sebagai Ibu. Agar anak-anaknya tidak kelaparan, Siti Raham rela menjual harta simpanannya. Beliau bukanlah wanita yang menjadikan perhiasan sebagai makhota. Karena makhota sejatinya adalah Buya Hamka dan keluarga.

Maka kalung, gelang emas, dan kain batik halus yang dibelinya di Medan terpaksa dijual di bawah harga demi membeli beras dan membayar uang sekolah anak-anak. Biarlah dirinya kesusahan, asal perut anak-anaknya tidak kelaparan dan tetap bisa melanjutkan pendidikan.

Kerap kali dirinya meneteskan air mata, ketika membuka almarinya untuk mengambil kain-kain simpanannya untuk dijual ke pasar. Tak tega melihat istrinya terus menguras hartanya, Buya Hamka sontak mengeluarkan beberapa helai kain Bugisnya untuk dijual. Namun sang istri mencegahnya.

“Kain Angku Haji jangan dijual, biar kain saya saja. Karena Angku Haji sering keluar rumah. Di luar jangan sampai Angku Haji kelihatan sebagai orang miskin,” ujarnya.

Demikianlah dalam keadaan sederhana Siti Raham masih mempertimbangkan kehormatan suaminya. Apa saja dilakukannya agar Buya Hamka tidak terlihat lusuh di mata jama’ah dan masyarakat. Dari mulai memikirkan pakaian hingga membersihkan kopiah bila Buya Hamka hendak keluar. Karena cinta adalah kehormatan.

Maka melihat Buya Hamka menangis saat dirinya turun dari mimbar pidato di Makassar, sang istri hanya bisa tersenyum, “’Kan yang Umi pidatokan itu kenyataannya saja.”

Pemerintah India Larang Muslim Jual Sapi dan Kerbau di Seluruh Negeri

Pemerintah India pada hari Jumat (26/5/2017) melarang penjualan sapi dan kerbau di pasar hewan untuk disembelih, World Bulletin melaporkan.

Menurut pedoman baru yang ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup, Hutan dan Perubahan Iklim India, seseorang hanya dapat membawa ternak ke pasar terbuka setelah mengajukan pernyataan tertulis bahwa ternak tersebut tidak akan dijual dengan tujuan untuk disembelih.

Keputusan tersebut diperkirakan akan melukai para petani dan pedagang daging Muslim di negara tersebut secara besar-besaran karena pemberitahuan baru tersebut juga melarang penjualan sapi jantan, sapi jantan muda, sapi betina, kerbau, dan unta.

Petani tidak punya pilihan selain memelihara ternak mereka yang sudah tua atau tidak berbobot dan tidak bisa menjualnya seperti dulu.

Pedagang daging Muslim, yang telah menghadapi kekerasan dari kelompok main hakim sendiri, akan memiliki masalah dalam menemukan hewan untuk disembelih. Mereka yang berurusan dengan perdagangan kulit juga akan sulit mendapatkan bahan mentah.

Sapi dianggap suci dalam agama Hindu. Setelah Perdana Menteri Narendra Modi berkuasa pada tahun 2014, banyak negara bagian di India memberlakukan undang-undang yang lebih keras mengenai pembunuhan sapi.

Pada tanggal 31 Maret, membunuh seekor sapi di negara bagian barat Gujarat dapat dikenai hukuman penjara seumur hidup setelah Majelis Negara mengubah Undang-undang Pelestarian Hewan Gujarat menjadi lebih keras.

Undang-undang yang diubah tersebut juga menjatuhkan hukuman penjara 7 sampai 10 tahun bagi mereka yang memiliki daging sapi, selain denda mulai dari $ 1500 sampai $ 7500.

Mesir Luncurkan Serangan Udara ke Libya Setelah Tewasnya 28 Kristen Koptik

MESIR (Jurnalislam.com) – Pesawat udara angkatan udara Mesir telah meluncurkan enam serangan yang ditujukan ke kamp-kamp di dekat Derna di Libya, yang diyakini sebagai tempat latihan pasukan bersenjata yang bertanggung jawab atas serangan mematikan terhadap penganut Kristen, kata sumber militer Mesir.

Abdel Fattah el-Sisi mengumumkan pada hari Jumat (26/5/2017) bahwa dia telah mengarahkan serangan terhadap apa yang dia sebut “kamp-kamp bersenjata”, dalam pidato di televisi yang menyatakan bahwa terorisme yang disponsori akan dihukum.

“Mesir tidak akan pernah ragu untuk menyerang kamp-kamp teror di manapun … jika mereka menyerang Mesir baik di dalam maupun di luar negeri,” kata Sisi.

Sebelumnya pada hari Jumat, sedikitnya 28 jemaat Kristen Koptik terbunuh dan puluhan lainnya terluka oleh penyerang bersenjata yang menyerang mereka saat mereka sedang melakukan perjalanan ke sebuah biara di provinsi Minya, Mesir.

Rombongan penganut Kristen menuju ke Biara Saint Samuel, yang terletak di luar kota Minya, sekitar 220 km selatan ibu kota Kairo, ketika penyerang bertopeng, yang datang dengan tiga truk pickup, melepaskan tembakan ke arah mereka sebelum melarikan diri dari tempat kejadian.

Pejabat keamanan dan medis Mesir mengatakan kepada kantor berita Associated Press bahwa dari 28 orang yang tewas tersebut kebanyakan adalah anak-anak.

Tidak ada yang langsung mengaku bertanggung jawab.

Reporter Al-Jazeera Mahmoud Abdelnahhed, melaporkan dari Tripoli, ibukota Libya, mengatakan bahwa penduduk Derna “sangat marah” dengan serangan udara tersebut.

“Sumber di lapangan mengatakan enam lokasi yang ditargetkan oleh pesawat tempur Mesir tersebut adalah daerah sipil dan distrik penuh penduduk di dalam kota,” katanya. “Mereka mengatakan bahwa hanya properti sipil seperti rumah, peternakan dan kendaraan yang rusak.”

Dalam dua tahun terakhir, angkatan udara Mesir telah melakukan beberapa serangan terhadap Derna, terutama pada bulan Februari 2015 dan Maret 2016, membunuh beberapa perempuan dan anak-anak.

Berbicara kepada Al Jazeera dari Boston, Tarek Masoud dari Universitas Harvard mengatakan bahwa Mesir tidak dapat menyelesaikan masalah keamanannya dengan menyerang Libya.

“Apakah orang-orang yang melakukan serangan terakhir di Mesir benar-benar berbasis di Libya?” dia berkata.

“Saya tidak tahu, tapi fakta bahwa serangan ini terjadi begitu dalam di Mesir menunjukkan kepada saya bahwa basis operasi serangan semacam ini tidak sampai ke perbatasan di Libya, namun sebenarnya berada di dalam Mesir.”

28 Kristen Koptik Tewas saat Sebuah Bis Diberondong Tembakan di Mesir

KAIRO (Jurnalislam.com) – Dua puluh delapan orang tewas dan beberapa lainnya terluka pada hari Jumat (26/5/2017) ketika penyerang tak dikenal menembaki sebuah bus yang membawa jamaat Kristen Koptik di provinsi selatan Minya, Mesir, menurut Direktorat Kesehatan Minya.

Dalam sebuah pernyataan tertulis Jumat malam, Direktorat Kesehatan Minya mengatakan 28 jenazah dibawa ke rumah sakit setempat.

“Beberapa penyerang tak dikenal melepaskan tembakan tanpa pandang bulu dari tiga kendaraan 4×4 ke sebuah bus, menewaskan sejumlah penganut Kristen Koptik,” menurut Kementerian Dalam Negeri Mesir.

“Pasukan keamanan bergegas ke tempat kejadian, yang terjadi di jalan menuju Biara St. Samuel di sebelah barat kota Al-Adwa,” sebuah pernyataan kementerian menambahkan.

Sementara itu, Presiden Abdel-Fattah al-Sisi mendesak pertemuan dewan keamanan untuk membahas bagaimana menangani kejadian tersebut, menurut sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh presiden.

Segera setelah serangan mematikan, yang terjadi sekitar tengah hari waktu setempat tersebut seorang sumber keamanan setempat mengkonfirmasi kepada Anadolu Agency bahwa insiden itu terjadi di jalan gurun yang menghubungkan Minya ke provinsi terdekat Beni Sueif.

Sumber yang sama, yang berbicara tanpa menyebut nama, mengatakan bahwa bus naas tersebut berangkat dari Beni Sueif menuju ke vihara yang terletak kira-kira 220 kilometer di selatan Kairo.

Menurut sumber itu, saksi mata melaporkan melihat pelaku melepaskan tembakan dari tiga kendaraan sebelum melarikan diri dari tempat kejadian.

Kelompok Islamic State (IS) kemudian mengaku bertanggung jawab atas serangan kembar tersebut, yang terjadi pada hari raya the Christian Palm Sunday.

Keadaan darurat memungkinkan pihak berwenang untuk melakukan serangkaian tindakan keamanan yang luar biasa, termasuk merujuk tersangka ke pengadilan Keamanan Negara, pemerlakuan jam malam dan pemberedelan surat kabar.

Pada bulan April, al-Sisi mengumumkan keadaan darurat tiga bulan setelah serangan ganda terhadap dua gereja di Mesir utara yang menyebabkan 45 pemuja Kristen Koptik tewas dan lebih banyak korban luka.

Revisi UU Anti-Terorisme, Camping ke Gunung Bisa Ditangkap

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kapolri Jenderal Tito Karnavian menilai perlunya segera merevisi Undang-Undang Anti Terorisme. Pandangan ini ia sampaikan dalam acara talkshow “Rosi” yang tayang pada Kompas TV, Kamis (26/5/2017) malam.

Tito juga menjelaskan hal-hal yang belum diatur dalam UU Anti-Terorisme meliputi penindakan pencegahan dan deradikalisasi.

“Khusus untuk penindakan ada hal yang harus diperkuat, yaitu mengkriminalisasi perbuatan-perbuatan awal sebelum terjadinya terorisme,” jawab Tito

Dalam penjelasanya Tito memberikan contoh i’dad nantinya termasuk tindakan kriminal.

I’dad itu adalah pelatihan, tidak ada jihad tanpa i’dad. Pelatihan ini tadinya mereka bersenjata ditangkaplah yang di Aceh. Nah sekarang mereka pintar, latihannya naik gunung camping menggunakan airsoft gun, pistol kayu. Hukum nya apa?” tanya Tito, karena undang-undang sekarang belum mengatur.

“Tujuan mereka sebetulnya adalah melakukan i’dad untuk persiapan operasi terorisme. Mesti dikriminalisasi,” tegasnya.

Lebih lanjut Tito memberi contoh lain jika revisi UU anti terorisme selesai, kepolisian bisa membuat daftar organisasi-organisasi yang masuk kategori kelompok terorisme dan bagi siapa saja yang bergabung dalam organisasi tersebut sudah bisa diproses hukum.

“Misalnya Jamaah Ansharut Daulah ditetapkan sebagai organisasi terorisme, sehingga semua dikriminalisasi perbuatan siapapun yang bergabung atau mendukung JAD. Jadi bergabung saja kita bisa tangkap dan proses hukum,” katanya

Sebagaimana telah diketahui seusai insiden bom Kampung Melayu, Presiden Joko Widodo juga mendesak pembahasan revisi Undang-Undang Anti-Terorisme segera diselesaikan. UU Anti-Terorisme nantinya diharapkan memudahkan penegak hukum dalam bertindak dan melakukan upaya pencegahan.