Berita Terkini

Ini Tanggapan Menlu Qatar dalam Wawancara dengan Aljazeera

DOHA (jurnalislam.com)Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed Bin Abdulrahman Al Thani berbicara dengan Al Jazeera, Selasa (6/6/2017), setelah beberapa Negara anggota Dewan Kerjasama Teluk dan negara-negara lain memutuskan hubungan diplomatik mereka dengan Qatar pada hari Senin. Inilah tanggapan Sheikh Mohammed:

Al Jazeera: Apa alasan terjadinya krisis ini?

Sheikh Mohammed: Kami mengungkapkan penyesalan dan keterkejutan kami atas eskalasi melawan Qatar. Kita tidak tahu apakah alasan sebenarnya atau ada alasan yang tersembunyi dibalik krisis ini yang tidak kita ketahui.

Jika ada alasan nyata untuk krisis ini, hal itu bisa dibahas pada pertemuan GCC yang terjadi beberapa pekan yang lalu, namun tidak ada yang dikatakan atau dibahas sama sekali disana. Juga tidak ada yang dikatakan saat KTT Amerika-Islam-Arab di Riyadh. Jadi tidak ada yang dikatakan mengenai kejadian ini dan kami tidak memiliki indikasi bahwa krisis ini akan segera meletus.


Al Jazeera: Emir Sheikh Tamim akan memberikan pidato malam ini tapi menundanya. Mengapa?

Sheikh Mohammed: Sheikh Emirim Tamim bin Hamad Al-Thani hendak memberikan pidato untuk berbicara kepada rakyat Qatar malam ini, namun dia menerima telepon dari emir Kuwait yang meminta dia menundanya untuk memberi waktu menyelesaikan krisis tersebut. Emir Kuwait berperan penting dalam menyelesaikan krisis yang terjadi pada tahun 2014.

Langkah-langkah yang dilakukan terhadap Qatar belum pernah terjadi sebelumnya dan hanya sepihak. Kami di Qatar tidak mengambil langkah apapun atau sejenisnya, kami yakin ada masalah yang bisa diselesaikan melalui diskusi dan saling menghormati.

Saya menerima dan melakukan panggilan telepon banyak menteri luar negeri yang bersaudara dan ramah yang mendukung upaya untuk mengatasi krisis ini. Ada beberapa perang di dunia Arab. Ada krisis di Suriah, Libya, dan Yaman, dan kami merasa agak aneh bahwa GCC memutuskan untuk menyerang Qatar pada waktu sekarang ini.

Hal ini membawa pertanyaan nyata tentang masa depan negara-negara GCC, yang pada dasarnya adalah satu kesatuan yang memiliki bahasa sama dan memiliki ikatan keluarga yang luas di antara masyarakatnya. Bagaimanapun, kami menolak ketika beberapa Negara di GCC mencoba untuk memaksakan kehendak mereka kepada Qatar atau campur tangan dalam urusan dalam negeri Qatar. Ini ditolak. Tapi secara keseluruhan, kami rasa ada tanda tanya besar di GCC ini.

Al Jazeera: Bagaimana krisis ini akan mempengaruhi kehidupan sehari-hari di Qatar?

Sheikh Mohammed: Ada beberapa krisis yang terjadi di Qatar. Ada kudeta tahun 1996 dan krisis 2014 antara negara-negara GCC dan Qatar. Namun kita berhasil mengatasinya. Qatar akan bergantung pada dirinya sendiri untuk memberi kehidupan normal bagi warga dan penduduknya. Kami memiliki program yang akan menjamin kelangsungan hidup dan proyek bangunan utama seperti biasa.

Qatar telah menjadi sasaran kampanye penghinaan media. Pembicaraan tentang kesulitan ekonomi di Qatar akibat krisis saat ini tidak akurat. Kami hanya terpengaruh dalam hal perbatasan darat kita dengan Arab Saudi. Selain itu, kita tidak terpengaruh karena kita masih memiliki akses ke dunia melalui jalur laut internasional dan wilayah udara internasional.

Al Jazeera: Bagaimana hubungan dengan Amerika Serikat akan terpengaruh oleh ini?

Sheikh Mohammed: Qatar telah melakukan kampanye besar-besaran menentangnya di Barat, terutama dari seorang duta besar sebuah negara di GCC, yang merupakan pelanggaran piagam GCC. Kampanye melawan Qatar yang menuduh Qatar melakukan terorisme berasal dari institusi marjinal.

Hubungan kita dengan AS dilakukan melalui institusi resmi dan kuat. Hubungan Qatar-AS tidak dilakukan oleh kelompok marjinal, melainkan oleh lembaga pemerintah resmi AS. Kami memiliki kemitraan strategis dengan AS, kami adalah mitra kuat dalam perang melawan terorisme, dan menuju perdamaian di Timur Tengah.

Asing Aseng Ancaman Nyata, Khilafah Jadi Kambing Hitam

Oleh : Husain Yatmono

Peneliti Ekonomi Politik Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Salamuddin Daeng, menyampaikan kepada mediaumat.com, Ahad (14/5/2017) bahwa: “Rencana pembubaran HTI adalah serangan terhadap para pejuang kemerdekaan, pejuang kedaulatan, yang disponsori oleh asing dan taipan. Lebih lanjut Daeng menjelaskan, hal itu terjadi lantaran selama ini HTI selalu menolak neoliberalisme, penguasaan kekayaan alam oleh asing dan taipan, menolak demokrasi liberal, melawan pengkhianatan pemerintah dan elite politik yang semakin jauh dari amanat para pendiri bangsa,” pungkasnya.

Jika yang disampaikan Daeng ini benar, tentu saja merupakan ancaman bagi kelompok yang kritis, dan merupakan langkah mundur bagi pendidikan politik di tanah air. Kebijakan represif dan otoriter ala Orde Lama dan Orde baru muncul kembali. Selama ini HTI memang dikenal aktif mengkritisi kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat dan ini tidak hanya dilakukan saat masa presiden sekarang saja.

Beberapa kebijakan pemerintah yang menjadi sorotan HTI adalah penggelolaan sumber daya alam yang dikuasai asing, menaikkan Bahan Bakar Minyak (BBM), Tarif Dasar Listrik (TDL), serta mahalnya biaya hidup yang menyebabkan masyarakat semakin terpuruk kesejahterannya.

HTI tidak hanya mengkritik, tetapi juga menawarkan konsep penggelolaan sumber daya alam yang menguasai hajat hidup orang banyak harus dikelola negara. Sumber daya alam yang jumlahnya melimpah dalam pandangan Islam, milik rakyat yang harus dikelola negara, bukan diserahkan ke swasta apalagi asing. Jika swasta atau asing diminta menggelola sumber daya alam, maka orientasi mereka hanya untung dan untung.

HTI dalam berbagai dakwahnya, baik lewat media cetak, video, seminar maupun audiensi dengan pengambil kebijakan selalu menawarkan konsep penggelolaan sumber daya alam dalam sudut pandang Islam. Inilah yang membedakan dakwah HTI dengan dakwah yang dilakukan oleh ormas Islam maupun partai Islam lainnya.

Berbagai persoalan kekinian, dikupas dengan rapi dan dengan argumentasi yang kuat baik secara fakta maupun hukum syara’ (ketentuan Al Qur’an), dalam media-media HTI. Inilah yang menjadi daya tarik, sehingga kaum muslimin pun mengetahui bahwa agama Islam itu mengatur segala persoalan, mulai dari ibadah hingga persoalan kehidupan sehari-hari serta menggelola negara. Selama ini, saat anda membaca terbitan ataupun media Islam lain, selalu mengupas persoalan seputar ibadah ritual, seperti aqidah, sholat, zakat, puasa. Melalui media-media terbitannya HTI memiliki kontribusi dalam mencerdaskan masyarakat, sehingga mereka memiliki kesadaran politik yang benar.

Apa yang disampaikan HTI dalam dakwahnya, bukanlah merupakan ancaman, tapi justru sebuah pencerahan berpikir, bagaimana bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa yang kuat dan mandiri. Apakah konsepsi ini mau diambil atau diacuhkan oleh pemerintah, semua tergantung pada mereka.

Yang justru saat ini telah menggerogoti negeri ini adalah bercokolnya kepentingan neo liberalisme dan neo imperialisme pada negeri ini, sebagaimana disampaikan Salamuddin Daeng di atas. Mereka telah menggunakan agen-agennya yang duduk di legislatif, eksekutif maupun yudikatif. Inilah ancaman nyata bagi negeri kita Indonesia. Kelompok neo liberal, telah menguasai sejumlah aset dan sumber daya alam negeri ini. Lewat perundang-perundang yang dibuat oleh DPR, mereka bisa melakukan menggeruk aset negara dengan legal. Inilah yang disebut dengan neo imperialisme.

Mereka tidak perlu menggirimkan pasukan atau menembakan pelurunya untuk mengguasai negeri ini, tapi cukup mengajukan draft undang-undang yang telah mereka siapkan, hingga lolos menjadi sebuah undang-undang. Dengan undang-undang tersebut, mereka menggeruk kekayaan negeri ini, mereka bisa menguasai negeri ini. Inilah ancaman nyata yang sedang melanda negeri ini sekarang.

Sejumlah undang-undang telah diamandemen, seperti warga non pribumi bisa menjadi Presiden, warga negara asing bisa memiliki properti seratus persen, kepemilikan asing atas sumber daya alam, kepemilikan asing atas faslitas yang menguasai hajat hidup orang banyak seperti: air, jalan toll, dll.

Semua yang melakukan perubahan dan menyetujui undang-undang ini bukan HTI, tetapi justru partai-partai yang berkuasa. Semua ini terjadi bukan karena sistem Khilafah, tetapi justru sistem demokrasi liberal yang sedang diterapkan di negeri ini.

Bagaimana bisa dikatakan, khilafah akan mengancam NKRI, UUD 45, Kebhinekaan serta Pancasila, semua itu justru terjadi saat ini. Dimana saat khilafah tidak mengatur negara, tetapi justru demokrasi liberal yang mengendalikan kepentingan negeri ini. Di dalam sistem seperti ini, NKRI bisa terancam. Buktinya Timor Timur sudah lepas, OPM ancaman disintegrasi di Papua, Menado Merdeka, dan lain-lain. Khilafah hanyalah dijadikan kambing hitam untuk menutupi kesalahan mereka dalam menggemban amanah rakyat.

Berbagai makar dan tipu daya mereka lakukan untuk membangun opini negatif terhadap khilafah. Baik itu para pengusungnya, tokohnya dan organisasinya, maupun memberikan gambaran yang buruk terhadap realitas khilafah. Dengan memunculkan sejumlah tindakan teror, bom, sampai ancaman pembubaran serta adu domba.

Munculnya ledakan bom di Kampung Melayu, Jakarta Timur, menjelang bulan puasa dibingkai menjadi berita yang dilakukan oleh oleh kelompok yang menghedaki Khilafah. CNN menyebutkan bahwa ISIS bertanggung jawab terahdap hal ini.

Tentu saja ini menjadi pertanyaan bagi kita bersama, bagaimana mungkin umat Islam melakukan semua itu. Mereka bisa bersatu dalam jumlah jutaan tanpa ada satupun korban yang meninggal, atau benturan. Lalu siapakah sebenarnya pelaku bom tersebut?.

Sementara strategi pecah belah umat Islam pun diterapkan untuk menghadapi perlawanan umat Islam ini. Politik adu domba merupkan rekomendasi Rand Corporation – sebuah lembaga think tanks, Amerika Serikat dalam melemahkan perjuangan umat Islam. Sebagaimana ditulis oleh Cherly Benard, dalam bukunya Civil Democratic, Partners, Resources, And Starategies, diungkap secara detil upaya pecah belah umat Islam. Mereka membagi umat Islam dalam tiga kelompok yaitu: moderat, tradisonal dan fundamentalis. Rekomendasi mereka dukung kelompok Islam tradisionalis agar berlawanan dengan kelompok Islam fundamentalis dan mencegah pertalian atau hubungan yang erat diantara kelompok tersebut. Inilah yang saat ini sedang dimainkan oleh penguasa terhadap kondisi umat Islam di Indonesia. Mereka membenturkan kelompok yang dicap sebagai fundamentalis seperti: HTI, FPI dengan kelompok yang mereka sebut dengan tradisional seperti NU.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin meminta umat Islam di Indonesia jangan mau diadu domba. Menurut Rais Aam PBNU, persoalan yang dihadapi umat Islam saat ini ada indikasi pihak yang ingin memecah belah umat dengan beragam cara. (http://khazanah.republika.co.id, 15/5/2017)

Kini umat Islam sudah cerdas, mereka tidak mau dijadikan kambing hitam dalam setiap kegiatan teror. Karena Islam tidak mengajarkan demikian dalam meraih tujuannya. Asing dan aseng paham betul jika kaum muslimin bersatu, mereka akan mampu membangkitkan kembali Khilafah Islam, hal itu merupakan mimpi buruk bagi mereka. Kepentingan dan bisnis mereka di negeri-negeri Islam yang bercokol puluhan tahun akan sirna. Mereka pun berupaya sekuat tenaga untuk menghentikan kelompok Islam yang mengusung politik dalam gerakannya.

Lord Curzon, sekretaris luar negeri Inggris tahun 1919-1924 mengatakan, “Kita harus menghentikan apapun yang bisa membawa persatuan Islam dalam bentuk apapun di antara anak-anak kaum muslimin. Karena kita sudah berhasil mengakhiri kekhalifahan, Jadi kita harus memastikan bahwa tidak pernah terjadi lagi persatuan bagi kaum muslimin, apakah itu persatuan intelektual ataupun budaya.”

Kebangkitan Islam politik selalu mereka halang-halangi, dan memberikan cap negatif bagi kelompok Islam politik. Mereka menyebut kelompok radikal, teroris, fundamentalis, agar umat Islam takut menampakkan jati dirinya sebagai seorang muslim yang taat.

Dalam berbagai kesempatan umat Islam selalu diingatkan bahwa agama itu sesuatu yang suci (sakral), sementara politik adalah kotor, penuh rekayasa, karenanya harus dipisahkan antara urusan agama dan politik. Padahal sejatinya, mereka melakukan politik yang kotor dan penuh rekayasa, karena tidak menggunakan nilai-nilai agama dalam berpolitik. Jika ingin membuat politik menjadi suci atau bersih bukan agama yang dipisahkan dari politik, tetapi justru politik itu harus diatur oleh agama. Dengan menjauhkan agama dari politik, maka akan lahir politikus yang menghalalkan segala cara untuk meraih tujuan. Inilah politik yang kotor, ala Machiavelli karena menjauhkan peran agama dalam berpolitik. Politik Machiavelli inilah yang harus dibubarkan karena menyengsarakan rakyat dan hanya memberikan keuntungan bagi para pemilik modal. Inilah ancaman nyata bagi negeri Indonesia saat ini.

*) Analis di PKDA (Pusat Kajian Data-Analisis)

AS Kirim Senjata ke Pasukan Filipina untuk Perangi Kelompok IS di Marawi

FILIPINA (Jurnalislam.com)Amerika Serikat pada hari Senin (5/6/2017) memberi ratusan senapan mesin, pistol dan peluncur granat, kepada Filipina yang oleh seorang komandan setempat akan digunakan untuk melawan kelompok bersenjata yang memerangi pasukannya di kota selatan, lansir World Bulletin.

“Peralatan ini akan meningkatkan kemampuan pasukan khusus (Philippine Marines ‘), dan membantu melindungi (tentara) yang terlibat secara aktif dalam operasi di Filipina selatan,” kata sebuah pernyataan kedutaan AS.

Kepala Mayor Marinir Filipina Mayor Jenderal Emmanuel Salamat mengatakan pada sebuah upacara bahwa tentara akan menggunakan senjata tersebut dalam pertempuran yang sedang berlangsung melawan kelompok IS di kota Marawi selatan.Militan menerbangkan bendera hitam kelompok IS yang mengamuk melalui Marawi hampir dua pekan yang lalu, memicu bentrokan dengan tentara dan polisi yang menewaskan sedikitnya 178 orang.

Sebagai tanggapan atas kekerasan tersebut, Presiden Rodrigo Duterte dengan cepat mengumumkan darurat militer di wilayah selatan Mindanao untuk menumpas apa yang dia katakan sebagai ancaman yang tumbuh cepat dari IS di sana.

Filipina dan Amerika Serikat telah berpuluh-puluh tahun menjadi sekutu dekat, dan mereka terikat oleh sebuah perjanjian pertahanan mutual untuk saling melindungi satu sama lain jika diserang.

Amerika Serikat adalah pemasok terbesar militer dan perangkat keras militer di Filipina.

Namun Duterte, yang berkuasa tahun lalu, telah berusaha melonggarkan hubungan Filipina dengan Amerika Serikat sambil menjalin hubungan yang lebih erat dengan China dan Rusia.

Duterte telah meminta penarikan pasukan Amerika dari negaranya sambil mengurangi latihan militer gabungan sebagai tanggapan atas kritik AS atas perang mematikannya terhadap narkoba.

Dia telah mempertimbangkan China dan Rusia sebagai sumber senjata baru, dan mengeluhkan kualitas perangkat keras “bekas” militer Amerika.

“Saya tidak akan menerima lagi peralatan militer yang bekas. Yang diberikan orang Amerika, saya tidak menginginkannya lagi,” kata Duterte pada hari Jumat.

Peralatan yang diserahkan pada hari Senin itu semuanya baru, menurut perwira AS pada upacara tersebut, termasuk sejumlah senapan mesin bergaya Gatling M134D, yang mampu melepas tembakan ribuan putaran per menit, serta 300 senapan serbu M4 dan 100 peluncur granat.

Pasukan Oposisi Tembak Jatuh Jet Tempur Rezim Assad

SURIAH (Jurnalislam.com)Dua pejuang oposisi Suriah dan seorang pemantau perang mengatakan sebuah pesawat militer Suriah jatuh sekitar 50km timur Damaskus pada hari Senin (5/6/2017) di wilayah yang dikuasai oposisi di dekat garis depan dengan daerah yang dikuasai rezim Assad, Middle East Eye melaporkan.

“Kami telah menjatuhkan sebuah jet tempur rezim Suriah di daerah Tel Dakwa di pedesaan Damasus dan kami sedang mencari pilot tersebut,” kata Saad al-Haj, juru bicara kelompok oposisi Jaish Osoud Al Sharqiya yang didukung Barat, kepada Reuters. Osoud Al Sharqiya adalah salah satu kelompok utama yang berperang di gurun Suriah tenggara, yang dikenal sebagai gurun Badia.

Oposisi mengatakan bahwa mereka menembak pesawat dengan senapan mesin anti-pesawat berat yang telah dikirimkan kepada mereka dalam beberapa pekan terakhir oleh Amerika Serikat.

Gambar yang tampaknya adalah jasad pilot telah tersebar di situs media sosial oposisi selain gambar-gambar reruntuhan pesawat yang dikatakan sebagai pesawat tempur.

Pejabat oposisi lainnya, Said Seif dari kelompok Ahmed Abdo Martir yang bermarkas di Barat dan beroperasi di daerah tersebut, mengatakan bahwa pesawat jatuh di daerah yang terletak 15 km timur Bir Qasab antara bandara Tal Dakwa dan Dumair.

Seif mengatakan bahwa oposisi menembak pesawat dengan senjata anti-pesawat terbang yang telah dikirimkan kepada mereka oleh AS dan sekutu-sekutunya untuk menangkis serangan baru ke timur laut Suriah oleh rezim dan milisi yang didukung sekutu Iran.

Militer Suriah tidak bisa dihubungi untuk dimintai komentar saat berita ini ditulis.

Lembaga monitor perang the Syrian Observatory for Human Rights yang berbasis di Inggris mengatakan sebuah pesawat ditembak jatuh oleh kelompok oposisi di daerah tersebut namun tidak dapat memastikan apakah pilotnya tewas atau masih hidup.

Sebuah Bus di India Terbakar, 22 Tewas

INDIA (Jurnalislam.com)Sedikitnya 22 orang tewas Senin pagi (5/6/2017) di negara bagian Uttar Pradesh, India utara, saat sebuah bus terbakar setelah bertabrakan dengan sebuah truk, kata beberapa pejabat polisi, lansir World Bulletin.

Korban yang terluka dibawa ke rumah sakit terdekat untuk perawatan, sementara mayat yang hangus tidak dapat dikenali lagi, kata Jogendera Kumar, seorang perwira polisi senior.

“Kami belum menemukan penyebab pasti kecelakaan itu,” tambahnya.

Bus yang membawa penumpang dari ibu kota New Delhi ke kota Gonda mengalami kecelakaan di Jalan Raya Nasional di distrik Bareilly.

Kepala Menteri Uttar Pradesh Yogi Adityanath mengumumkan kompensasi sebesar $ 3.100 untuk korban yang, dan $ 800 untuk yang terluka.

Kecelakaan jalan raya adalah kejadian biasa di India. Lebih dari 400 orang kehilangan nyawa setiap hari di jalan pada tahun 2015, menurut data pemerintah.

Tanggapi Isu Qatar, Jubir Presiden Turki Desak Dialog Sesama Negara Teluk

ANKARA (Jurnalislam.com) – Juru bicara Presiden Recep Tayyip Erdogan pada hari Senin (5/6/2017) meminta dialog dan negosiasi di antara anggota Dewan Kerjasama Teluk (the Gulf Cooperation CouncilGCC) setelah beberapa anggotanya memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar demi masalah keamanan nasional, lansir Anadolu Agency.

Sebelumnya pada hari Senin, Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Yaman memutus hubungan dengan Qatar, yang merupakan perpecahan terburuk sejak beberapa tahun di antara beberapa negara besar di dunia Arab.

Ibrahim Kalin mengatakan dalam sebuah pernyataan tertulis bahwa “anggota GCC, yang berada berada dalam aliansi bisnis strategis dengan Turki, harus menyelesaikan masalah mereka melalui negosiasi, dialog, dan komunikasi”.

Setelah Erdogan meluncurkan usaha diplomatik untuk mengatasi keretakan itu, Kalin mengulangi pernyataan kesedihan Turki atas kejadian tersebut, dan mengatakan bahwa pihaknya siap untuk memenuhi tanggung jawabnya dalam periode yang akan datang.

Inilah Perkembangan Jam Terakhir Sejak Negara Teluk Putuskan Hubungan dengan Qatar

DOHA (Jurnalislam.com) – Inilah perkembangan jam terakhir dalam hitungan mundur yang dirilis Aljazeera sejak tiga negara Teluk Arab memutuskan hubungan dengan Qatar pada Senin pagi (5/6/2017):

6:30 pm (Senin sore) – Israel memuji gerakan anti-Qatar

Avigdor Lieberman, menteri pertahanan Israel, memuji tindakan pemutusan hubungan terhadap Qatar, dengan mengatakan “tidak ada keraguan bahwa Qatar membuka banyak kemungkinan kerja sama dalam perjuangan melawan teror”.

6:25 pm – Saudi menutup kantor Al Jazeera

Arab Saudi menutup kantor berita Al Jazeera Media Network, menurut media pemerintah Saudi

5:40 pm – Tidak ada kapal Qatar yang diperbolehkan di pelabuhan Saudi

Otoritas Pelabuhan Saudi telah memberitahu agen pengiriman untuk tidak menerima kapal berbendera Qatar atau kapal yang dimiliki oleh perusahaan atau perorangan Qatar.

5:10 pm – Mesir menangguhkan hubungan udara dan laut

Kementerian luar negeri Mesir mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa negara tersebut menangguhkan hubungan udara dan laut ke Qatar, dengan alasan keamanan nasional.

4:40 pm – Turki mengungkapkan ‘kesedihan’

Turki siap membantu dan dapat menegosiasikan perselisihan, kata Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu dalam sebuah konferensi pers bersama di Ankara.

Cavusoglu juga mengatakan: “Turki melihat persatuan dan persatuan antara negara-negara Teluk sebagai kesatuan kita sendiri”.

4:00 pm – makanan dari Iran ‘bisa mencapai 12 jam’

Pengiriman makanan yang dikirim dari Iran bisa mencapai Qatar dalam 12 jam, kata Reza Nourani, ketua serikat eksportir produk pertanian.

3:30 pm – pelabuhan UEA mengusir kapal-kapal Qatar

Pelabuhan UEA Fujairah mengatakan semua kapal yang mengibarkan bendera Qatar atau menuju Qatar tidak akan diizinkan untuk menelepon ke pelabuhan.

3:30 pm – Iran menyerukan dialog

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Bahram Ghasemi dikutip di situs web kementerian tersebut menyerukan “dialog yang jelas dan eksplisit” di antara negara-negara yang berperang. Iran mengatakan meningkatnya ketegangan di antara tetangganya di Teluk Arab mengancam kepentingan semua orang di wilayah tersebut.

3:15 pm – Maladewa memutuskan hubungan dengan Qatar

Keputusan itu dibuat karena Maladewa “menentang tegas kegiatan yang mendorong terorisme dan ekstremisme”.

3:10 pm – Mesir memanggil duta besar

Kementerian luar negeri Mesir mengatakan telah memberikan waktu 48 jam bagi duta besar Qatar di Kairo untuk meninggalkan negara tersebut dan telah memerintahkan utusannya sendiri di Doha untuk kembali ke Mesir, juga dalam dua hari.

2:50 pm – Haftar Libya memutuskan hubungan dengan Qatar

Fraksi yang dipimpin oleh Khalifa Haftar, satu dari tiga oposisi pemerintah Libya, mengumumkan bahwa pihaknya memutuskan hubungan dengan Qatar.

Menteri luar negeri Haftar menuduh Qatar “melindungi terorisme”.

1:30 pm – Antrian di Perbatasan Saudi

Antrian truk yang berbaris melintasi perbatasan di Arab Saudi tidak dapat memasuki Qatar.

1:20 pm – Pembaruan dari FIFA

Badan sepak bola dunia mengatakan bahwa mereka tetap berada dalam “kontak reguler dengan Qatar”.

FIFA mengeluarkan sebuah pernyataan singkat yang mengatakan bahwa pihaknya telah berbicara dengan “ the Qatar 2022 Local Organizing Committee dan the Supreme Committee for Delivery Legacy untuk menangani hal-hal yang berkaitan dengan Piala Dunia FIFA 2022″.

Dikatakan: “Kami tidak memiliki komentar lebih lanjut untuk saat ini”.

1:15 pm – Penerbangan Air Arabia ditangguhkan mulai Selasa

Air Arabia, sebuah maskapai penerbangan berbiaya rendah yang berbasis di Uni Emirat Arab, mengatakan bahwa pihaknya menangguhkan penerbangan ke Qatar bersama dengan maskapai penerbangan Emirati lainnya karena krisis diplomatik yang terus meningkat.

Air Arabia mengatakan penerbangannya akan ditangguhkan dari Selasa “sampai pemberitahuan lebih lanjut”.

12:10 pm – penerbangan Saudia ditangguhkan dari Senin

Saudi Arabian Airlines mengatakan bahwa pihaknya menunda penerbangan ke ibukota Qatar, Doha.

Maskapai ini, yang juga dikenal sebagai Saudia, memposting di Twitter bahwa mereka akan menghentikan penerbangan dari Senin pagi, tanpa menjelaskan lebih jauh.

11:05 am – penerbangan FlyDubai dibatalkan mulai Selasa

Maskapai penerbangan Dubai FlyDubai mengatakan telah membatalkan penerbangannya ke Qatar di tengah perselisihan diplomatik antara negara Arab dan negara-negara Arab lainnya.

Operator tersebut mengatakan pada hari Senin bahwa, mulai Selasa, semua penerbangan akan ditangguhkan. Tidak ada rincian lain.

Keputusan FlyDubai menyusul Emirates dan Etihad dalam membatalkan penerbangan ke Doha.

10:45 am – Yaman memutus hubungan dengan Qatar

Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional telah memutuskan hubungan dengan Qatar dan mengatakan bahwa pihaknya mendukung keputusan koalisi pimpinan-Arab Saudi untuk mengakhiri partisipasi Qatar dalam perang melawan pemberontak Syiah Houthi di Yaman. Qatar telah menjadi bagian dari koalisi sejak Maret 2015.

Pemerintah Presiden Abed Rabbo Mansour Hadi mengatakan bahwa pihaknya memutuskan hubungan dengan Qatar sebagian adalah karena dukungan Qatar bagi kelompok ekstremis di Yaman ” bertentangan dengan tujuan yang diumumkan oleh negara-negara pendukung pemerintah Yaman yang sah”.

10:20 am – Penerbangan Emirates dibatalkan mulai Selasa

Maskapai penerbangan Emirates yang berbasis di Dubai mengatakan bahwa pihaknya menunda penerbangan ke Qatar di tengah keretakan diplomatik yang berkembang.

Emirates pada hari Senin mengatakan di situsnya bahwa penerbangan akan ditangguhkan mulai hari Selasa sampai pemberitahuan lebih lanjut.

10:00 am – AS mendesak persatuan GCC

Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson mengatakan kepada wartawan di Sydney: “Penting agar GCC tetap bersatu”.

Tillerson mengharapkan bahwa keretakan “tidak akan menimbulkan dampak signifikan pada perjuangan terpadu melawan terorisme”.

Qatar menjadi tuan rumah pangkalan militer AS terbesar di Timur Tengah.

9:55 am – reaksi resmi Qatar

Qatar mengatakan “tidak ada pembenaran yang sah” bagi empat negara Arab untuk memutuskan hubungan diplomatik.

Qatar juga mengatakan keputusan tersebut adalah “pelanggaran atas kedaulatannya”, dan bersumpah kepada warganya bahwa hal itu tidak akan mempengaruhi mereka.

8:35 am – Etihad menunda penerbangan mulai Selasa

Maskapai penerbangan Etihad yang berbasis di Abu Dhabi mengatakan bahwa pihaknya menangguhkan penerbangan ke Qatar dari 6 Juni “sampai pemberitahuan lebih lanjut”.

Etihad mengatakan penerbangan terakhirnya akan berangkat Selasa pagi.

Etihad tidak memberikan alasan untuk keputusan tersebut. Etihad membawa bendera Uni Emirat Arab.

6:10 am – UAE dan Mesir memutuskan hubungan dengan Qatar

Uni Emirat Arab dan Mesir telah memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar.

Baik UEA maupun Mesir membuat pengumuman di kantor berita negara bagian mereka selang beberapa menit satu sama lain.

6:00 am – Saudi memotong hubungan dengan Qatar

Arab Saudi mengatakan bahwa pihaknya telah memotong hubungan diplomatik dengan Qatar dan telah menarik mundur semua pasukan Qatar dari perang yang sedang berlangsung di Yaman.

Arab Saudi membuat pengumuman melalui badan pers Saudi, Saudi Press Agency, yang dikelola negara pada Senin pagi. Tampaknya waktunya diperhitungkan dengan pengumuman sebelumnya oleh Bahrain yang juga memotong hubungan.

Perselisihan antara Qatar dan negara-negara Arab Teluk meningkat baru-baru ini dari dibajaknya sebuah kantor berita Qatar yang dikelola negara. Sejak itu beritanya telah berputar.

5:50 am (Senin pagi) – Bahrain memotong hubungan dengan Qatar

Bahrain mengatakan bahwa pihaknya telah memotong hubungan diplomatik dengan Qatar di tengah keretakan yang semakin dalam antara negara-negara Teluk Arab.

Kementerian Luar Negeri Bahrain mengeluarkan sebuah pernyataan pada awal hari Senin yang mengatakan bahwa pihaknya akan menarik misi diplomatiknya dari ibukota Qatar di Doha dalam waktu 48 jam dan bahwa semua diplomat Qatar harus meninggalkan Bahrain dalam periode yang sama.

Begini Kronologi Isu Qatar dalam Beberapa Hari Terakhir

DOHA (Jurnalislam.com) – Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain memutuskan hubungan mereka dengan Qatar pada hari Senin (5/6/2017), menuduhnya mendukung kelompok-kelompok Islam, membuka keretakan terburuk selama bertahun-tahun di antara beberapa negara terkuat di dunia Arab.

Langkah terkoordinasi tersebut secara dramatis meningkatkan perselisihan mengenai dukungan Qatar terhadap Ikhwanul Muslimin, gerakan Islam tertua di dunia, dan menambahkan bahwa Doha bahkan mendukung agenda saingan regional Iran.

Mengumumkan penutupan hubungan/jalur transportasi dengan Qatar, ketiga negara Teluk tersebut memberi waktu dua pekan bagi pengunjung dan warga Qatar untuk meninggalkan negara mereka.

Qatar juga diusir dari sebuah koalisi pimpinan Saudi di Yaman.

Gangguan ekonomi terus berlanjut, karena perusahaan penerbangan Etihad Airways milik Abu Dhabi, Emirates dan Fly Dubai yang berbasis di Dubai mengatakan bahwa mereka akan menunda semua penerbangan ke dan dari Doha mulai Selasa pagi sampai pemberitahuan lebih lanjut.

Langkah-langkah tersebut lebih parah dibandingkan perpecahan selama delapan bulan sebelumnya di tahun 2014, ketika Arab Saudi, Bahrain dan UEA menarik duta besar mereka dari Doha, sekali lagi menuduh Qatar mendukung beberapa kelompok bersenjata. Saat itu, hubungan/jalur transportasi masih dipertahankan dan warga Qatar tidak diusir.

Perpecahan antara Doha dan sekutu terdekatnya dapat menimbulkan dampak di Timur Tengah, di mana negara-negara Teluk menggunakan kekuatan keuangan dan politik mereka untuk mempengaruhi peristiwa di Libya, Mesir, Suriah, Irak dan Yaman.

Pengumuman tersebut muncul 10 hari setelah Presiden Donald Trump mengunjungi Riyadh meminta negara-negara Muslim untuk berdiri bersatu melawan kelompok-kelompok bersenjata, dan menyebut Iran sebagai sumber utama pendanaan dan dukungan bagi kelompok bersenjata.

Berikut adalah garis waktu (timeline) peristiwa utama baru-baru ini yang menyebabkan eskalasi perselisihan antara negara-negara GCC yang dilansir Aljazeera.

Pemecatan Yaman terhadap pemimpin selatan

28 April 2017: Puluhan ribu orang Yaman di Aden memprotes pemecatan oleh Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi terhadap gubernur provinsi tersebut dan seorang menteri kabinet yang dipuji karena telah membantu mengusir Hutheat Iran dari kota pada tahun 2015.

Gubernur provinsi Aid Aid al-Zubaidi dan anggota kabinet Hani bin Brek dipecat. Keduanya dipandang sebagai pendukung separatisme di Yaman selatan.

Zubaidi adalah salah satu pemimpin Perlawanan Selatan yang membantu mengusir pemberontak Syiah Houthi dari kotanya.

Yaman menuduh UEA berperilaku seperti ‘penguasa wilayah pendudukan’

2 Mei 2017: Presiden Yaman, Hadi, menuduh UEA berperilaku “seperti kekuatan pendudukan di Yaman dan bukan kekuatan pembebasan” dalam sebuah pertemuan dengan pangeran mahkota Abu Dhabi Mohammed bin Zayed.

Trump tiba di Arab Saudi

20 Mei 2017: Presiden AS Donald Trump tiba di Arab Saudi pada lawatan pertama perjalanan luar negerinya sejak bertugas untuk mengadakan serangkaian pertemuan dengan raja dan pemimpin Arab serta Muslim lainnya.

Dalam sebuah sambutan red-carpet di bandara, Raja Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud menyambut Trump, istrinya Melania dan rombongannya tak lama setelah mereka mendarat di ibu kota, Riyadh.

‘Beri mereka neraka’

22 Mei 2017: Malam sebelum mantan Menteri Pertahanan AS Robert Gates dijadwalkan untuk berbicara di sebuah konferensi profil tinggi Washington di Qatar, duta besar UEA untuk AS, Yousef al-Otaiba, menggunakan nama julukan Putra Mahkota UEA bin Muhammad bin Zayed mengirim email ke Robert Gates memintanya untuk “memberi mereka neraka”.

23 Mei 2017: Keesokan harinya, Gates menyerang Qatar dengan pedas, mengkritik dukungannya terhadap “kelompok Islam”, pada sebuah acara yang diselenggarakan oleh Yayasan Pertahanan untuk Demokrasi (Foundation for Defense of DemocraciesFDD).

“Beritahu Qatar untuk memilih sisi atau kita akan mengubah sifat hubungan, termasuk menurunkan basis,” kata Gates.

Hacking Kantor Berita Qatar

24 Mei 2017: Kantor Berita Qatar ditargetkan oleh hacker dengan komentar “palsu” yang konon mengkritik kebijakan luar negeri AS yang dikaitkan dengan Amir Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani di platform Qatar News Agency (QNA) yang memicu perang media regional.

Qatar membantah pernyataan tersebut terkait dengan amir, yang konon mengkritik kebijakan luar negeri AS. Ucapan palsu amir tersebut diambil oleh media Saudi dan UEA, dan memicu tanggapan marah di Riyadh dan Abu Dhabi.

FBI membantu Qatar dalam penyelidikan hacking QNA

2 Juni 2017: Biro Investigasi Federal AS tiba di Doha setelah pemerintah Qatar meminta bantuan kepada Amerika Serikat menyusul pelanggaran keamanan oleh peretas bulan sebelumnya di platform media resmi, QNA.

Hacker membocorkan email

3 Juni 2017: Hacker merilis seri email pertama yang diambil dari kotak masuk duta besar UAE untuk Amerika Serikat, Yousef al-Otaiba, termasuk email ke Robert Gates pada 22 Mei.

Intercept melaporkan bahwa email tersebut, yang dikeluarkan oleh sebuah kelompok yang disebut “Kebocoran Global”, menunjukkan hubungan yang erat antara Otaiba dan kelompok pemikir neokonservatif pro-Israel, FDD.

Arab Saudi, Mesir, UEA memutuskan hubungan dengan Qatar

5 Juni 2017: Beberapa negara memotong hubungan diplomatik setelah Arab Saudi, Mesir, UEA dan Bahrain mengumumkan bahwa mereka akan menangguhkan hubungan dengan negara Teluk. Kerajaan Saudi membuat pengumuman tersebut melalui Badan Pers Saudi yang dikelola negara, dengan mengatakan bahwa pihaknya mengambil tindakan untuk apa yang mereka sebut sebagai perlindungan keamanan nasional.

Kantor berita tersebut mengeluarkan sebuah pernyataan yang menuduh Qatar “membantu banyak kelompok teroris dan sektarian yang bertujuan menciptakan ketidakstabilan di wilayah ini”.

Bereaksi terhadap dampak tersebut, Qatar menjelaskan bahwa keputusan tersebut “melanggar kedaulatannya”, bersumpah kepada warganya dan ratusan ribu penduduk bahwa tindakan tersebut tidak akan mempengaruhi mereka.

Pengacara Al Khaththath Sebut Kliennya tak Pernah Jumpa Ahok di Mako Brimob

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kuasa Hukum Al Khaththath, Achmad Michdan mengatakan, kliennya tidak pernah melihat Ahok di Rumah Tanahan (Rutan) Markas Komando (Mako) Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Padahal, keduanya ditahan di rutan yang sama.

Michdan mengatakan suatu hari dia bertanya apakah kliennya pernah bertemu dengan Ahok selama berada di Mako Brimob. Sekretaris Jenderal Forum Umat Islam (FUI) tersebut menjawab tidak pernah.

Michdan juga mengaku pernah menanyakan keberadaan Ahok kepada petugas di Rutan Mako Brimob ketika sedang menjenguk Al Khaththath. Namun, Michdan mengatakan jawaban petugas selalu sama, yaitu petugas selalu menjawab tidak tahu.

“Saya pernah tanya, tapi (jawabannya) enggak tahu. Petugas itu yang memang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, kami juga enggak ngerti,” katanya dikutip dari Republika, Senin (5/6/2017).

Muhammad Gatot Saptono alias Ustadz Al Khaththath yang juga Sekretaris Jenderal Forum Umat Islam ditetapkan sebagai tersangka kasus makar. Al Khaththat dan sejumlah orang diduga melakukan pemufakatan jahat.

Al Khaththath Tersangka dikenakan Pasal 107 KUHP juncto Pasal 110 KUHP tentang pemufakatan makar. Kepolisian pun menahannya di Rutan Mako Brimob sejak Jumat 31 maret 2017 lalu.

Sedangkan Ahok divonis oleh majelis hakim Pengadilan Jakarta Utara dalam kasus penodaan agama. Dia dipindahkan ke Mako Brimob sejak 10 Mei 2017, setelah sempat ditempatkan di Lapas Cipinang, Jakarta Timur.

Sumber: Republika

Ramadhan, Bulan Memuliakan Ulama

Oleh: Ahmadi Sofyan, Penulis dan Pengamat sosial

SAAT menulis catatan ini, sebetulnya saya ingin memberikan judul keras “Bunuhkan Saja Ulama-nya!!!” Sebagaimana judul catatan saya beberapa minggu yang lalu di kolom TARING (Catatan Ringan) di harian Babel Pos yang katanya sempat heboh, viral dan trending topic di medsos (media sosial) dengan judul: “Robohkan Saja Masjid-nya!!!”. Ratusan SMS, WA dan telpon masuk ke handphone saya mengomentari tulisan tersebut yang alhamdulillah hampir semuanya menyatakan dukungan walaupun ada beberapa komen yang “mengharukan”.

Tapi sebagai penulis yang berperilaku cuek, dukungan, pujian, cacian dan celaan terhadap apa yang sudah saya tulis bernilai sama, yakni “mane kenek pembace” (terserah pembaca) untuk menilai. Karena menulis bagi saya sama dengan menikmati secangkir kopi. Jangan pernah melarang saya untuk menikmati kopi, kapan pun dan dimana pun, kecuali di bulan Ramadhan seperti ini. Karena hanya Ramadhan (agama) saja yang bisa mengatur waktu saya menikmati kopi yakni saat berbuka, habis tarawih dan sampai menjelang imsyak. Begitupula dalam hal menulis!

Ulama adalah pemuka agama atau pemimpin agama yang bertugas untuk mengayomi, membina dan membimbing umat Islam baik dalam masalah-masalah agama maupun masalah sehari hari yang diperlukan baik dari sisi keagamaan maupun sosial kemasyarakatan.

Dengan demikian, pengertian ulama secara harfiyah adalah orang-orang yang memiliki ilmu. Pengertian ulama secara harfiyah adalah orang yang dengan ilmunya menyampaikan mereka kepada sifat takut kepada Allah. Ulama adalah orang-orang yang menjelaskan segala apa yang dihalalkan dan diharamkan, dan mengajak kepada kebaikan serta menafikan segala bentuk kemudharatan. Karakteristik esensial ulama adalah iman, ilmu, dan amal, yang semuanya amat mendalam, berbeda dengan orang biasa, serta mendapatkan pengakuan dan penerimaan dari masyarakat secara kultural.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin mengatakan: “Tradisi ulama adalah mengoreksi penguasa untuk menerapkan hukum Allah. Kerusakan masyarakat adalah akibat kerusakan penguasa dan kerusakan penguasa itu akibat kerusakan ulama.” Al-Ghazali bahkan membagi ulama dalam 2 kategori, yakni ulama akhirat dan ulama dunia (ulama su’). Salah satu tanda ulama dunia adalah mendekati penguasa.

Ulama adalah pewaris sifat kenabian. Karena dari ulama-lah kita bisa mengenal ilmu agama setelah Nabi tiada. Berbagai jenis kitab (buku) kita menjadi tahu berbagai tafsiran dan pemikiran-pemikiran mereka. Ulama jua yang mendirikan berbagai pesantren jauh sebelum Indonesia merdeka. Dari dari pesantren juga para ulama menggerakkan semangat perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia yang akhirnya bersama para pendiri negeri ini, memproklamirkan Kemerdekaan RI tepat pada tanggal 10 Ramadhan atau 17 Agustus tahun 1945.

Ini artinya kemerdekaan RI yang diraih tidak lepas dan memiliki peran penting dari para ulama yang terlahir di bumi pertiwi. Kala kemerdekaan diraih, peran ulama pun tak berhenti disitu, namun mengisi kemerdekaan, merumuskan berbagai kebutuhan sebuah negara, bahkan bersama founding fathers, para ulama seperti Kiyai Haji Agus Salim mengenalkan Indonesia sebagai sebuah negara yang beradab, mayoritas muslim dan penuh nilai-nilai tata kerama kepada dunia.

Namun, sangat kita sayangkan akhir-akhir ini, sepertinya rezim pemerintah saat ini bukan sekedar menjauhkan diri dari ulama, tapi yang lebih parah adalah banyaknya ulama yang terzholimi, bahkan para ulama yang memiliki kecintaan besar pada negeri ini. Ulama yang pancasilais yang tidak rela kekayaan negeri ini dikeruk asing. Ulama yang hidup bersama umat bukan hidup bersama penguasa. Bahkan kadangkala saya berpikir ekstrim dan memiliki keyakinan bahwa andaikata hari ini Indonesia perang dengan negara lain, saya yakin para ulama, kaum santri dan TNI adalah manusia Indonesia terdepan maju ke medan perang sebagaimana tempoe doeloe saat perebutan kemerdekaan ini.

Oleh karenanya, saat ini adalah kesempatan bagi para orangtua, guru-guru, ustadz dan ustadzah, para pemimpinan pesantren untuk menciptakan generasi muda Islam bermentalkan ulama yang istiqomah, tangguh menghadapi berbagai cuaca dan angin yang menerpa. Tak terlena dengan angin sepoi-sepoi yang bertiup manja dan tak gentar menghadapi angin topan yang menerjang.

Ramadhan 1438 H, momen dimana generasi Islam harus dibekali ketangguhan mental menghadapi berbagai cobaan dan ujian hidup, bukan generasi cengeng, generasi hobi selfie dan generasi yang menganggap hidup di dunia adalah abadi. Generasi muda harus diberikan semangat cinta tanah air yang tidak boleh dibangun dengan kezholiman, berpangkat tinggi namun menzholimi, menyikut kiri kanan, menginjak yang bawah dan menjilat atasan, tanpa pandang halal haram, hanya karena demi mempertahankan dan memperoleh jabatan. Bagi mereka Surga sudah tidak dirindukan dan neraka makin tidak membuat ketakutan.

Ramadhan 1438 H, adalah momen kita memahami dengan nurani bahwa tidak semua pemimpin itu palsu, tapi saya tidak membantah kalau di era modern salah satu kepalsuan merupakan syarat utama dari prinsip kepemimpinan. Ramadhan 1438 H, adalah dimana kita memahami bahwa di negeri yang mayoritas muslim ini, bahwa apa saja yang menonjolkan Islam-nya pasti dicap primordial, tidak universal, bodoh, tidak bhinneka tunggal ika, tidak pancasilais, tidak toleransi, tidak memenuhi estetik dan tidak bisa masuk jamaah peradaban dunia modern. Begitulah jahilnya manusia modern.

Ramadhan 1438 H ini, kita menyadari bahwa kalau dulu di zaman Fir’aun, lelaki dibunuh. Pada zaman Fir’aun modern ini kelaki-lakian dan kejantanan (istiqomah dan keberanian) yang dibunuh. Ramadhan 1438 H ini jua, kita kembali mengaji dan mengkaji bahwa ternyata di atas fiqh ada akhlak, diatas akhlak ada taqwa dan diatas taqwa ada cinta. Ya Allah, entah dimana posisi aparat dan penguasa kami saat ini?

Ya, Ramadhan 1438 H ini, kita kembali menyadari bahwa sangatlah tidak pantas kalau kaum santri atau umat Islam mengamuk, meskipun kadang mereka tidak memiliki cara lain selain mengamuk demi menjaga harga diri dan kehormatannya. Akan datang suatu masa, dimana kaum santri hanya memiliki 2 pilihan, yakni menjadi kambing yang tersuruk-suruk ataukah menjadi harimau yang mengamuk.

Ramadhan 1438 H ini adalah momen dimana kita bertadarrus nasional melihat banyak sisi dari negeri ini bahwa kita sedang hidup di sebuah negeri dimana kejahatan dan kebodohan berkerjasama dengan teramat manis dan tersistematis. Di antara kita banyak yang mengaku pemimpin, aslinya adalah penguasa yang semena-mena. Menasehati rakyat agar hidup sederhana, sambil mulutnya mengunyah gunung, hutan, laut dan jalan tol.

Ramadhan 1438 H ini kita mendiagnosa bahwa ternyata negeri ini telah mewarisi kanker zaman, kepala buat berjalan, kaki untuk memimpin sidang. Di moment Ramadhan ini pula sepertinya Tuhan sudah saatnya memusnahkan segenap setan, sebab manusia telah pandai menciptakan setan-setan di dalam diri sendiri tanpa bantuan setan.

Ramadhan 1438 H, marilah kita lantunkan do’a: “Tuhan, tanami ladang Indonesia dengan keinsyafan Adam, ketahanan Nuh, kecerdasan Ibrahim, ketulusan Ismail, kebersahajaan Ayub, kesabaran Yunus, kelapangan Yusuf, kesungguhan Musa, kefasihan Harun, kebeningan Khidir, kesucian Isa, kematangan Muhammad SAW”

Penguasa dan aparat, cukuplah kita menjadi bangsa yang kerdil dan pengecut, janganlah lagi ditambah dengan ketidakjujuran, kemunafikan dan penzholiman terhadap ulama. Saya bukan ulama, tapi insya Allah saya mencintai ulama dan ingin bersama-sama para ulama walau hanya sekedar tukang bawa sandal sang ulama.

Salam Cinta!