Berita Terkini

Al Shabaab Serang Pangkalan Militer Somalia, 26 Pasukan Tewas

SOMALIA (Jurnalislam.com) – Kelompok Al-Shabab menyerang sebuah pangkalan militer di dekat kota pelabuhan Kismayu di selatan Somalia pada hari Ahad, (3/8/2017) kata seorang perwira tentara Somalia, menambahkan bahwa dia tidak segera mengetahui rincian korban.

Faksi jihad itu mengaku bertanggung jawab atas serangan dan mengatakan 26 tentara Somalia tewas dalam insiden tersebut, namun klaim mereka belum dapat dikonfirmasi oleh sumber lain.

“Kami mengetahui al-Shabab menyerang pangkalan dan pertempuran sengit serta ledakan terjadi, tapi tetap saja kami tidak memiliki rincian,” kata Mohamed Isa, seorang perwira militer, kepada kantor berita Reuters dari Kismayu, lansir Aljazeera.

Serangan itu terjadi di sebuah pangkalan di desa Bula Gudud, dekat Kismayu.

Radio negara juga melaporkan pangkalan tersebut telah diserang namun mengatakan korban belum diketahui.

Pangkalan tersebut dioperasikan bersama oleh tentara nasional Somalia dan pasukan dari wilayah semi-otonom Jubbaland Somalia selatan, lapornya.

Warga di Bula Gudud mengatakan ledakan terdengar dan baku tembak terjadi sesaat setelah shalat subuh hari ini.

Abdiasis Abu Musab, juru bicara militer al-Shabab, mengatakan kepada Reuters: “Pagi ini, kami menyerang pangkalan Jubbal di dekat Bula Gudud, kami membunuh 26 tentara dan membakar dua mobil.”

Al Shabab meninggalkan markas setelah merebut sejumlah senjata, amunisi dan beberapa kendaraan, tambahnya.

Al-Shabab merupakan al-Qaeda di Afrika yang memerangi pemerintah boneka Somalia bentukan Barat (AS) dan ingin menerapkan hukum (syariah) Islam di Somalia.

Pakistan Ajak OKI Wujudkan Solidaritas untuk Muslim Rohingya

KARACHI (Jurnalislam.com) – Pakistan pada hari Ahad (3/8/2017) mengungkapkan keprihatinannya yang mendalam atas meningkatnya jumlah kematian dan pemindahan paksa Muslim Rohingya, dan menyebut ini sebagai sumber keprihatinan dan petaka serius di tengah Idul Adha saat ini – salah satu dari dua hari hari raya utama kaum Muslim di seluruh dunia.

“Pakistan mendesak pihak berwenang di Myanmar untuk menyelidiki laporan pembantaian, meminta pertanggungjawaban mereka, dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk melindungi hak-hak Muslim Rohingya,” kata Menteri Luar Negeri Pakistan dalam sebuah pernyataan, lansir Anadolu Agency.

Sejalan dengan posisi konsisten melindungi hak-hak minoritas Muslim di seluruh dunia, pernyataan tersebut mengatakan, Pakistan akan bekerja sama dengan masyarakat internasional – khususnya, Organisasi Kerjasama Islam – OKI (the Organization of Islamic Cooperation – OIC) – untuk mewujudkan solidaritas dengan Muslim Rohingya dan bekerja untuk menjaga hak-hak mereka.

Erdogan Kecam Pembantaian di Myanmar dan akan Tuntut di Pengadilan PBB

Kekerasan meletus di negara bagian Rakhine di Myanmar pada 25 Agustus ketika pasukan Myanmar melancarkan operasi pembantaian terhadap komunitas Muslim Rohingya. Kekerasan ini memicu masuknya pengungsi baru ke negara tetangga Bangladesh, meskipun negara tersebut menutup perbatasannya untuk para pengungsi.

Laporan media mengatakan pasukan Myanmar menggunakan kekuatan yang tidak proporsional, mengusir ribuan warga desa Rohingya dan menghancurkan rumah mereka dengan mortir dan senapan mesin.

Daerah ini telah mengalami ketegangan antara populasi sekte Buddhis dan kaum Muslim sejak kekerasan komunal terjadi pada tahun 2012.

Sebuah tindakan keras yang diluncurkan Oktober lalu di Maungdaw, di mana Rohingya menjadi mayoritas, menyebabkan sebuah laporan PBB mengenai pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan terhadap kemanusiaan oleh aparat keamanan.

PBB mendokumentasikan pemerkosaan massal, pembunuhan, penyiksaan – termasuk bayi dan anak kecil – penyembelihan, pemukulan brutal, dan penghilangan paksa. Perwakilan Rohingya mengatakan lebih dari 400 orang telah terbunuh dalam tindakan keras tersebut.

UNHCR: 73.000 Muslim Rohingya Telah Melintasi Perbatasan

MYANMAR (Jurnalislam.com) – Hampir 75.000 Muslim Rohingya telah melarikan diri dari pembantaian etnis di Myanmar ke negara tetangga Bangladesh, dengan petugas bantuan memperingatkan bahwa kapasitas kamp bantuan penuh karena ribuan orang terus masuk setiap hari.

Vivian Tan, jurubicara regional UNHCR, mengatakan kepada Al Jazeera pada hari Ahad (3/9/2017) bahwa sedikitnya 73.000 warga Rohingya melintasi perbatasan sejak kekerasan meletus pada 25 Agustus, ribuan lainnya diperkirakan menyusul.

“Sebagian besar yang datang benar-benar kelelahan, beberapa mengatakan bahwa mereka belum makan dalam beberapa hari dan beberapa mengalami trauma akibat pengalaman mereka,” katanya.

“Seorang wanita tiba sendirian setelah mengikuti sekelompok pengungsi di seberang perbatasan. Ketika bertemu dengan PBB, dia mengatakan bahwa suaminya telah ditembak dan bayinya yang berusia 18 bulan dia tinggalkan bersama mertuanya.

“Dia telah kehilangan kontak dengan keluarganya dan sedang berjuang untuk memproses apa yang sedang terjadi,” Tan menambahkan.

Dalam beberapa hari terakhir, puluhan ribu Rohingya telah menyeberang ke Bangladesh untuk menghindari pembunuhan massal yang mereka katakan sedang dilakukan oleh pasukan Myanmar.

PBB mendokumentasikan pemerkosaan massal, pembunuhan, penyiksaan, penyembelihan – termasuk bayi dan anak kecil – pemukulan brutal, dan penghilangan paksa. Perwakilan Rohingya mengatakan sekitar 400 orang telah terbunuh dalam tindakan keras tersebut.

Ini Laporan PBB atas Situasi yang Semakin Memburuk bagi Muslim Rohingya

JENEWA (Jurnalislam.com) – Pejabat HAM PBB memperingatkan situasi yang memburuk dengan cepat di negara bagian Rakhine di Myanmar, karena puluhan ribu Muslim Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh, Anadolu Agency melaporkan, Jumat (1/9/2017).

“Situasi kemanusiaan memburuk dengan cepat dan saya khawatir ribuan orang semakin berisiko melakukan pelanggaran berat terhadap hak asasi mereka,” kata Yanghee Lee, pelapor khusus PBB mengenai situasi hak asasi manusia di Myanmar, dalam sebuah pernyataan Kamis malam didukung oleh pelapor khusus PBB untuk kebebasan beragama dan berkeyakinan, Ahmed Shaheed, dan pelapor khusus mengenai masalah minoritas, Fernand de Varennes.

“Puluhan ribu Muslim Rohingya sekarang dilaporkan melarikan diri ke Bangladesh,” kata mereka.

Ada beberapa laporan yang dapat dipercaya bahwa tentara di Myanmar menggunakan granat berpeluncur roket terhadap warga sipil yang bergerak menuju Bangladesh, kata Lee.

“Siklus kekerasan yang memburuk sangat memprihatinkan dan harus segera diatasi,” kata Lee.

Lee mengecam kegagalan pihak berwenang di Myanmar untuk membantu Muslim Rohingya melakukan evakuasi ke lokasi yang lebih aman.

“Lebih dari 27.000 orang telah menyeberang ke Bangladesh di daerah sekitar Cox’s Bazar, sementara 20.000 lainnya masih terdampar di antara kedua negara. Jumlah tersebut terus bertambah,” kata Lee.

“Saya meminta Pemerintah untuk segera memberikan bantuan segera kepada semua orang yang terkena dampak di Negara Bagian Rakhine, dan memberikan akses yang tidak terbatas kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memberikan bantuan kemanusiaan,” kata Lee.Kekerasan meletus di Rakhine, Myanmar pada 25 Agustus ketika pasukan keamanan negara Asia Tenggara tersebut melancarkan operasi terhadap komunitas Muslim Rohingya. Operasi ini memicu masuknya pengungsi baru ke negara tetangga Bangladesh, meskipun negara tersebut menutup perbatasannya untuk para pengungsi.

Aktivis Myanmar: Kurang dari Sepekan 800 Muslim Rohingya Dibunuh

Laporan media mengatakan pasukan keamanan Myanmar menggunakan kekuatan yang tidak proporsional, menggusur ribuan warga desa Rohingya dan menghancurkan rumah mereka dengan mortir dan senapan mesin.

Daerah ini telah mengalami ketegangan antara populasi sekte Budhis dan kaum Muslim sejak kekerasan komunal terjadi pada tahun 2012.

Sebuah tindakan keras dilakukan pada bulan Oktober yang lalu di Maungdaw, di mana Rohingya adalah mayoritas, hingga PBB menyelidiki dan merilis laporan mengenai pelanggaran hak asasi manusia oleh pasukan keamanan yang mengindikasikan kejahatan terhadap kemanusiaan

PBB mendokumentasikan pemerkosaan massal, pembunuhan, penyiksaan, penyembelihan – termasuk bayi dan anak kecil – pemukulan brutal, dan penghilangan paksa. Perwakilan Rohingya mengatakan sekitar 400 orang telah terbunuh dalam tindakan keras tersebut.

 

Turki Desak Bangladesh agar Buka Pintu Bagi Muslim Rohingya

ANKARA (Jurnalislam.com) – Menteri Luar Negeri Turki menelepon Bangladesh pada hari Jumat (1/9/2017) agar membuka pintu bagi Muslim Rohingya yang melarikan diri dari kebiadaban pasukan Myanmar di negara bagian Rakhine, Myanmar barat.

Berbicara di sebuah acara perayaan Idul Adha Partai AK di provinsi Mediterania Antalya, Mevlut Cavusoglu mengatakan bahwa mereka mengatakan kepada Bangladesh untuk membuka pintu bagi muslim Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar dan Turki akan membayar biaya tersebut, lansir Anadolu Agency.

“Kami juga memobilisasi Organisasi Kerjasama Islam, dan akan mengadakan pertemuan puncak mengenai Arakan [negara Rakhine] tahun ini. Kita perlu menemukan solusi untuk masalah ini,” Cavusoglu menambahkan.

Dia mengatakan tidak ada negara Muslim lainnya selain Turki yang menunjukkan kepekaan terhadap pembantaian yang terjadi di negara bagian Rakhine.

Cavusoglu juga berbicara di telepon dengan mantan Sekretaris Jenderal PBB dan kepala Komisi Penasehat Negara Bagian Rakhine Kofi Annan pada hari Jumat, menurut sumber diplomatik yang berbicara dengan syarat anonim karena pembatasan untuk berbicara dengan media.

Kekerasan meletus di negara bagian Rakhine di Myanmar pada 25 Agustus ketika pasukan negara tersebut melancarkan operasi terhadap komunitas Muslim Rohingya. Kekerasan ini memicu masuknya pengungsi baru ke negara tetangga Bangladesh, meskipun negara tersebut menutup perbatasannya bagi para pengungsi.

Laporan media mengatakan pasukan Myanmar menggunakan kekuatan yang tidak proporsional, menggusur ribuan warga desa Rohingya dan menghancurkan rumah mereka dengan mortir dan senapan mesin.

Daerah ini telah mengalami ketegangan antara populasi sekte Budhis dan kaum Muslim sejak kekerasan komunal terjadi pada tahun 2012.

Sebuah tindakan keras dilakukan pada bulan Oktober yang lalu di Maungdaw, di mana Rohingya adalah mayoritas, hingga PBB menyelidiki dan merilis laporan mengenai pelanggaran hak asasi manusia oleh pasukan keamanan yang mengindikasikan kejahatan terhadap kemanusiaan.

PBB mendokumentasikan pemerkosaan massal, pembunuha, penyiksaan, penyembelihan – termasuk bayi dan anak kecil – pemukulan brutal, dan penghilangan paksa. Perwakilan Rohingya mengatakan sekitar 400 orang telah terbunuh dalam tindakan keras tersebut

Miliaran Muslim di Dunia Rayakan Idul Adha

JURNALISLAM.COM – Miliaran Muslim di seluruh dunia merayakan hari raya Idul Adha saat sekitar dua juta jamaah melaksanakan ibadah terakhir haji tahunan di Arab Saudi.

Jutaan jamaah Muslim pada hari Jumat (1/9/2017) berjalan menuju kompleks bertingkat besar di Mina setelah subuh untuk melemparkan kerikil (jumrah) di tiga kolom besar sebagai symbol Iblis.

Di sini umat Islam percaya bahwa iblis mencoba untuk berbicara dengan Nabi Ibrahim AS agar tidak tunduk kepada kehendak Allah.

Umat ​​Islam percaya bahwa iman Ibrahim AS diuji saat Allah memerintahkannya untuk mengorbankan anak tunggalnya Ismail. Ibrahim siap untuk tunduk pada perintah tersebut, tapi kemudian Allah menukar anaknya dengan domba untuk diqurbankan.

Hari-hari terakhir haji bertepatan dengan hari raya Idul Adha, atau “Hari Raya Qurban”, untuk memperingati ujian iman Ibrahim. Di hari raya tersebut, umat Islam menyembelih hewan ternak dan membagikan dagingnya kepada orang miskin khususnya.

Di tiga hari terakhir haji, jamaah haji bermalam di sebuah lembah tenda besar yang disebut Mina dan selama tiga hari ambil bagian dalam sebuah ibadah simbolis merajam iblis.

Sebagian besar jamaah akan tinggal di Mina sampai Senin lalu menyelesaikan ibadah haji.

Mereka kemudian akan mengelilingi Ka’bah yang berbentuk kubus di Mekkah, situs Islam paling suci, sebelum pulang.

Ka’bah mewakili rumah metaforis Allah dan keesaan Allah dalam Islam. Umat Islam yang taat di seluruh dunia menghadap ke Ka’bah selama lima kali sholat setiap hari sebagai kiblat.

Ibadah Haji lima hari adalah serangkaian ritual untuk membersihkan jiwa dari dosa dan menanamkan rasa kesetaraan dan persaudaraan di kalangan umat Islam.

Ibadah Haji adalah kewajiban semua umat Islam yang dilakukan sekali dalam seumur hidup.

Selama tiga hari terakhir haji, jamaah pria mencukur kepala mereka dan melepaskan pakaian ihrom putih yang dikenakan selama haji. Wanita memotong seikat kecil rambut mereka sebagai tanda kelahiran kembali dan pembaharuan spiritual.

Namun, ada beberapa kekecewaan di kalangan penduduk Qatar, yang menanggung beban krisis diplomatik di Teluk.

Arab Saudi adalah salah satu negara yang memblokade Doha melalui darat dan udara, dan melarang calon jamaah untuk bepergian. Laporan mengatakan hanya beberapa lusin penduduk Qatar yang bisa melakukan ibadah haji tahun ini.

Ada lebih dari satu miliar Muslim di seluruh dunia.

Banyak yang menggunakan kesempatan Idul Adha untuk mengingat orang-orang yang menderita dalam konflik di seluruh dunia, dari Yaman dan Suriah hingga Irak dan Myanmar untuk turut peduli dan membantu.

Beberapa merayakan Idul Adha pada hari Sabtu, termasuk banyak umat Islam di Pakistan.

Menembus Jalan Pelosok Berlumpur Hingga Sungai Berarus Deras, untuk Sebuah Amanah

Distribusi Green Kurban 2017

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Tim penyaluran Green Kurban (GK) Sinergi Foundation telah mulai memobilisasi hewan kurban ke polosok-pelosok Nusantara sebelum Hari Idul Adha. Salah satunya, distribusi dilakukan di Aceh, tepatnya desa pedalaman di Kabupaten Aceh Tamiang dan Aceh Timur.

Di Aceh Tamiang, tim GK menyusuri tiga desa terpencil, yakni kampung Bengkelang di kecamatan Bandar Pusaka, kampung Sulum dan kampung Tanjung Gelumpang di kecamatan Sekrak. Sementara di Aceh Timur, mereka menyalurkan hewan kurban ke wilayah, yang di antaranya Gampong Pante Kera, Melidi, Tampur Bor, Ranto Naro, dan Gampong Rantau Panjang.

Sepriyanto, Ketua Yayasan Sinergi Foundation yang mengepalai langsung monitoring GK di Aceh menyatakan perjalanan mereka penuh dengan rintangan menghadang. Guna sampai di lokasi, tak hanya jalan darat yang berlumpur, arus sungai yang deras pun mereka arungi. Apalagi, dengan hujan yang terus menerus turun selama empat hari terakhir, membuat mereka menghabiskan 2,5 jam perjalanan dengan perahu boat.

Sempat, dengan medan yang sulit dan waktu yang tak singkat, sapi-sapi kurban berontak. Mereka melawan kala dituntun menuju perahu di penyeberangan Bengkelang.

Tak berhenti sampai di sana. Puncaknya, rintangan itu dihadang tim GK saat hendak melintasi batu raksasa yang dijuluki Batu Katak. Batu tersebut terletak di tengah sungai, dan membahayakan siapa saja yang melaluinya. Di titik ini, nyawa dipertaruhkan.

“Di Batu Katak, beberapa kali kecelakaan merenggut nyawa manusia. Salah satu yang dramatis, yaitu meninggalnya dua orang guru dari pulau Jawa, plus pengemudi perahu boat yang diterjang arus sungai yang demikian deras,” kata Sepriyanto, Rabu (30/8/2017). Kendati demikian, alhamdulillah, katanya, Batu Katak akhirnya berhasil dilalui.

Setelah naik boat selama 2,5 jam, barulah tim GK memulai pergerakan ke Gampong Ranto Naro kecamatan Simpang Jernih dengan berjalan kaki di jalan setapak area bekas hutan tanaman industri. Di jajaran bukit barisan ini, mereka berjalan sejauh 12 kilometer dengan kisaran waktu 4 jam.

Sepriyanto menerangkan, setiap titik distribusi memiliki tantangannya tersendiri. Namun segala rintangan yang ada itu, katanya, bisa dilalui dengan semangat membara yang dimiliki para relawan.

“Selain harus melewati jalan berlumpur, perjalanan harus dilanjutkan dengan menggunakan boat dan ada pula yang harus menggunakan transportasi getek. Doakan kami, agar amanah kurban ini tersalurkan pada mereka yang membutuhkan,” pungkas Sepriyanto.

Siaran Pers

Hadapi Ketangguhan Taliban, AS Mulai Tambah Kekuatan Tempurnya di Afghanistan

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Pejabat Pentagon mengkonfirmasi pada hari Rabu (30/8/2017) bahwa AS telah menghitung tingkat kekuatannya di Afghanistan, Anadolu Agency melaporkan.

Direktur Staf Gabungan Letnan Jenderal Kenneth F. McKenzie Jr. dan juru bicara Pentagon Dana White mengatakan ada 11.000 tentara di Afghanistan, lebih tinggi 2.600 dari rencana sebelumnya.

Pejabat tersebut menolak memberikan penilaian serupa untuk Irak dan Suriah dimana ada lebih banyak tentara dari pada yang diketahui publik, namun White mengatakan bahwa Pentagon sedang mengkaji pembukuan publiknya.

“Setiap arena operasional berbeda, dan kita harus mempertimbangkan berbagai masalah,” katanya kepada wartawan.

McKenzie mengatakan angka untuk Irak dan Suriah akan segera dirilis.

Jumlah pasukan di Afghanistan lebih tinggi karena Pentagon memutuskan bahwa anggota bertugas di negara tersebut untuk sementara dalam hadapi makin seringnya serangan Taliban. Kelompok ini sebelumnya dihilangkan oleh pemerintahan masa lalu.

Pengumuman tersebut dikeluarkan saat militer AS dilaporkan bersiap mengirim sekitar 3.900 tentara tambahan ke negara yang dilanda perang tersebut sesuai dengan kebijakan baru Donald Trump.

Namun McKenzie mengatakan tidak ada pasukan baru yang dikirim ke negara tersebut.

18.500 Pengungsi Muslim Rohingya Banyak yang Sakit dan Menderita Luka Tembak

BANGLADESH (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 18.500 Muslim Rohingya, banyak yang sakit dan beberapa lainnya menderita luka peluru, telah melarikan diri ke Bangladesh dalam enam hari terakhir di tengah pertempuran baru di Myanmar barat.

Laporan dari Organisasi Internasional untuk Migrasi (the International Organization for Migration-IOM) pada hari Rabu (30/8/2017) tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran masyarakat internasional.

Pemerintah dan organisasi asing khawatir bahwa desa Rohingya terkena hukuman kolektif setelah sebuah kelompok bersenjata pada tanggal 5 Agustus menyerang pos polisi dan sebuah pangkalan militer di negara bagian Rakhine.

Serangan perlawanan di pos perbatasan diklaim oleh Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA), sebuah kelompok jihad yang dibentuk oleh Muslim Rohingya yang tinggal di Arab Saudi setelah menghadapi kekerasan komunal yang serius di tahun 2012, menurut International Crisis Group .

Berhari-hari setelah serangan tersebut, tentara Myanmar membakar daerah-daerah di negara bagian Rakhine dan menembaki warga sipil, menurut kelompok hak asasi manusia dan saksi mata.

Banyak warga dilaporkan terbunuh. Al Jazeera belum dapat memverifikasi jumlah korban tewas.

Ketika sebagian besar Muslim Rohingya melarikan diri ke Bangladesh, umat Buddha Rakhine kebanyakan mencari suaka di kota dan vihara di selatan dan timur lokasi pertempuran.

“Sampai semalam, 18.500 orang telah menyeberang” dari negara bagian Rakhine Myanmar, Chris Lom, juru bicara IOM Asia Pasifik, kepada kantor berita AFP.

Lom mengatakan angka pasti sulit didapat karena banyak dari mereka yang berhasil mencapai Bangladesh kemungkinan tidak mendaftar ke pemerintah setempat.

“Kami juga tahu ada sekelompok orang yang terjebak di perbatasan tapi kami tidak tahu berapa jumlahnya,” kata Lom.

Bangladesh, yang telah menampung sekitar 400.000 Rohingya yang meninggalkan Myanmar selama bertahun-tahun, telah berjanji untuk memblokir pendatang baru dan telah mendeportasi beberapa dari mereka yang mencoba menyeberang.

“Mereka berada dalam kondisi yang sangat sangat menyedihkan,” kata Sanjukta Sahany, yang mengelola kantor IOM di kota selatan Cox’s Bazar di dekat perbatasan.

“Kebutuhan terbesar adalah makanan, layanan kesehatan dan mereka butuh tempat berlindung. Mereka memerlukan sedikitnya beberapa penutup, dan atap di atas kepala mereka.”

Sahany mengatakan banyak yang melintas “dengan luka tembak dan luka bakar,” dan pekerja bantuan tersebut melaporkan bahwa beberapa pengungsi “memberikan pandangan kosong” saat ditanyai.

“Orang-orang trauma, sangat terlihat.”

Aktivis Myanmar: Kurang dari Sepekan 800 Muslim Rohingya Dibunuh

Rakhine Utara telah dikunci sejak Oktober tahun lalu ketika sekelompok pejuang Rohingya yang sebelumnya tidak dikenal menyerang serangkaian pos perbatasan di dalam Myanmar.

Serangan itu memicu respon militer yang berlebihan, yang menyebabkan sekitar 87.000 muslim Rohingya melarikan diri ke Bangladesh, membawa serta kisah-kisah mengerikan tentang pembunuhan, pemerkosaan, penyiksaan dan desa-desa yang terbakar.

PBB yakin bahwa tindakan pemerintah Myanmar tersebut dapat menyebabkan pembersihan etnis dan kejahatan terhadap kemanusiaan berat.

Data satelit yang baru diakses oleh Human Rights Watch menunjukkan kebakaran yang meluas di sedikitnya 10 wilayah di Rakhine.

Third Session, the Prosecutor Rejects Objection Note of Ustaz Alfian Tanjung

SURABAYA (Jurnalislam.com) -The trial of the three anti-communist activists Ustaz Alfian Tanjung with the agenda of reading the response of the Prosecutor General (Prosecutor) related to the exception (note of objection) was held again in the Space Cakra PN Surabaya, Wednesday (08/30/2017).

The Public Prosecutor in this session conveyed the objection related to the Exception submitted by the legal advisor and also Ustaz Alfian Tanjung in the second trial last Wednesday.

In monitoring journalistlam, Muslims crowded the courtroom, and Ustaz Alfian Tanjung came still wearing Prisoner Vest Chief lawyer of Ustaz Alfian Tanjung, Al Katiri, said that his side will give Ustaz Alfian Tanjung a suspended sentence, considering he is the head of the family and has an elderly parent whose responsibility is his responsibility.

“We from the legal team of Ustaz Alfian Tanjung requested one week to respond to the attitudes of the Prosecutor regarding the rejection of the exceptions we presented at the previous trial,” said Al Katiri.

Translator: Taznim