Berita Terkini

SOHR: Jet Tempur Rusia Bunuh 34 Warga Sipil di Deir Al Zour

SURIAH (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 34 warga sipil, termasuk sembilan anak-anak, tewas dalam serangan udara Rusia di feri Sungai Efrat di dekat kota Deir Al Zour, Suriah, menurut sebuah kelompok pemantau pada Ahad (10/9/2017), Aljazeera melaporkan.

Rami Abdel Rahman, kepala Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia yang berbasis di Inggris, mengatakan bahwa serangan udara pada hari Ahad tersebut menargetkan “lebih dari 40 feri” yang meninggalkan kota al-Boulil di barat daya Deir Al Zour menuju pantai timur Sungai Efrat.

Pihak berwenang Rusia tidak bersedia memberikan tanggapan langsung.

Serangan hari Ahad terjadi saat pasukan Suriah meluncurkan serangan terhadap kelompok Islamic State (IS) di seluruh provinsi Deir Al Zour dengan dukungan udara militer Rusia.

Menurut saluran War Media yang dioperasikan oleh sekutu rezim Suriah Syiah Hizbullah, pasukan Suriah menguasai sepenuhnya jalan sepanjang 450 km yang menghubungkan ibu kota, Damaskus, ke Deir Al Zour untuk pertama kalinya dalam empat tahun.

“Tentara Suriah dan sekutu-sekutunya sekarang mengendalikan seluruh jalan raya internasional antara Deir Al Zour dan Damaskus, melalui kota-kota di Sukhna dan Palmyra,” katanya, merujuk pada kota-kota Suriah lainnya yang direbut dari IS.

Aliansi pasukan Kurdi Suriah dan Arab yang didukung oleh Amerika Serikat juga sedang bergerak melawan IS di Deir Al Zour.

Pasukan Demokratik Suriah (SDF) pada hari Sabtu mengumumkan telah mulai membersihkan pasukan IS dari daerah timur sungai Efrat, yang melintas secara diagonal di seluruh provinsi tersebut.

Pada hari Ahad, Observatorium mengatakan bahwa SDF telah melakukan serangan, merebut wilayah yang berjarak hanya beberapa kilometer dari kota Deir Al Zour.

“Mereka menguasai puncak bukit tujuh kilometer dari tepi timur Sungai Efrat,” kata Abdel Rahman.

Dia menghubungkan kemenangan cepat tersebut dengan fakta bahwa “bagian timur Deir Al Zour adalah gurun dan tidak padat penduduknya”.

Provinsi Deir Al Zour yang kaya minyak berbatasan dengan Irak dan merupakan hadiah strategis bagi SDF dan tentara Suriah.

Sejak tahun 2014, IS telah menguasai sekitar 60 persen kota dan sebagian besar provinsi di sekitarnya.

Menlu Bangladesh: Pasukan Myanmar Bunuh 3.000 Lebih Muslim Rohingya

DHAKA (Jurnalislam.com) – Pasukan Budha Myanmar telah membunuh sedikitnya 3.000 Muslim Rohingya dalam kekerasan terbaru terhadap minoritas Muslim di negara bagian Rakhine, Myanmar barat, kata menteri luar negeri Bangladesh pada hari Ahad (10/9/2017), lansir Anadolu Agency.

“Mereka telah membunuh lebih dari 3.000 orang di sana dan menghancurkan rumah mereka,” kata Abul Hasan Mahmood Ali kepada pers, setelah memberikan briefing kepada para utusan negara-negara Arab dan barat dan perwakilan badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Dhaka mengenai upaya Bangladesh untuk pengungsi Rohingya.

Menteri luar negeri mengatakan bahwa masyarakat internasional menggambarkan kekerasan di Rakhine sebagai “genosida dan kami juga berpikir demikian”.

Ali mengatakan 300.000 orang Rohingya telah tiba di Bangladesh dalam dua pekan terakhir sementara 4.000 dari mereka sebelumnya telah melarikan diri ke Bangladesh untuk menghindari penyiksaan militer Budha Myanmar.

Menteri tersebut mengatakan kepada utusan bahwa Bangladesh telah menampung 400.000 Rohingya selama tiga dekade terakhir dan gelombang arus lonjakan tersebut menghasilkan angka 700.000 dan menghadirkan tantangan besar bagi Dhaka dalam hal menyediakan tempat berlindung serta bantuan kemanusiaan lainnya kepada mereka.

Menteri luar negeri juga menyatakan bahwa seluruh dunia saat ini bersama Bangladesh, mengatakan bahwa “Masyarakat internasional telah menunjukkan ketertarikan untuk bekerja sama dalam masalah politik dan kemanusiaan.

“Beberapa negara telah mengumumkan dana tambahan. Dana ini akan disesuaikan melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa.”

Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai etnis paling teraniaya di dunia, telah menghadapi ketakutan yang meningkat atas serangan militer sejak puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.

Oktober lalu, setelah serangan terhadap pos-pos perbatasan di distrik Maungdaw Rakhine, militer Myanmar melancarkan tindakan keras selama lima bulan di mana, menurut kelompok Rohingya. Sekitar 400 orang terbunuh.

PBB mendokumentasikan perkosaan kelompok massal, pembunuhan, penyiksaan – termasuk bayi dan anak kecil – penyembelihan, pemukulan brutal dan penghilangan yang dilakukan oleh militer.

Dalam sebuah laporan, penyidik ​​PBB mengatakan bahwa pelanggaran hak asasi manusia merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan berat.

Kekerasan baru meletus di negara bagian Rakhine, Myanmar, hampir dua pekan yang lalu ketika militer melancarkan operasi terhadap kaum Muslim Rohingya.

Bangladesh, yang telah menjadi tuan rumah sekitar 400.000 pengungsi Rohingya, telah menghadapi masuknya pengungsi baru sejak operasi militer diluncurkan.

Pada hari Sabtu, PBB mengatakan sedikitnya sudah 290.000 orang Rohingya mencari perlindungan di Bangladesh.

Erdogan: Kerahkan Semua Kemampuan untuk Hentikan Kekejaman Myanmar di Rohingya

ASTANA (Jurnalislam.com) – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada hari Ahad (10/9/2017) mendesak negara-negara Muslim untuk “kerahkan semua kemampuan” untuk menghentikan “kekejaman” yang dilakukan terhadap etnis muslim Rohingya di Myanmar.

“Kami ingin bekerja sama dengan pemerintah Myanmar dan Bangladesh untuk mencegah keadaan buruk kemanusiaan di kawasan ini,” katanya pada sesi pembukaan pertemuan Organisasi Kerjasama Islam-OKI (Organisation of Islamic Cooperation-OIC) di ibukota Kazakhstan, Astana, lansir Anadolu Agency.

Erdogan mengatakan Turki telah menawarkan bantuan dan mengatakan bahwa dia berharap agar pemerintah Bangladesh mengakui dan membantu Muslim Rohingya melarikan diri dari kekerasan di Myanmar.

“Organisasi internasional, dan kita sebagai negara Muslim pada khususnya, harus berjuang bersama dengan segala cara yang ada untuk menghentikan kekejaman itu,” katanya.

Erdogan sebelumnya berjanji untuk mengangkat isu Rohingya pada pertemuan tahunan Majelis Umum PBB akhir bulan ini.

Sebuah pernyataan terakhir disepakati pada hari Ahad pertemuan puncak OKTO – pertemuan puncak pertama tentang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Presiden Kazakhstan Nursultan Nazarbayev mengatakan terima kasih atas upaya delegasi Turki mempersiapkan pernyataan semacam itu.

Erdogan meminta “saudara-saudara di sekeliling meja” untuk mengikuti dan melaksanakan keputusan.

“Pertemuan tersebut meminta pemerintah Myanmar untuk menerima misi pencarian fakta Dewan HAM PBB melakukan investigasi menyeluruh dan independen atas semua dugaan pelanggaran undang-undang hak asasi manusia internasional dan untuk membawa pelaku ke pengadilan,” kata pernyataan tersebut.

Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai orang-orang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi ketakutan yang meningkat atas serangan kekerasan sejak puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.

Oktober lalu, setelah serangan terhadap pos-pos perbatasan di distrik Maungdaw Rakhine, militer Myanmar melancarkan tindakan keras selama lima bulan dimana, menurut kelompok Rohingya, sekitar 400 orang terbunuh.

PBB mendokumentasikan perkosaan kelompok massal, pembunuhan, penyiksaan – termasuk bayi dan anak kecil – penyembelihan, pemukulan brutal dan penghilangan yang dilakukan oleh militer Budha Myanmar.

Dalam sebuah laporan, penyidik ​​PBB mengatakan bahwa pelanggaran hak asasi manusia merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan berat.

Kekerasan baru meletus di negara bagian Rakhine, Myanmar, hampir dua pekan yang lalu ketika militer melancarkan operasi terhadap kaum Muslim Rohingya.

Bangladesh, yang telah menjadi tuan rumah sekitar 400.000 pengungsi Rohingya, telah menghadapi masuknya pengungsi baru sejak operasi keamanan diluncurkan.

Pada hari Sabtu, PBB mengatakan sedikitnya 290.000 orang Rohingya mencari perlindungan di Bangladesh.

Erdogan tiba di ibu kota Kazakhstan pada hari Sabtu untuk kunjungan dua hari.

Setelah pertemuan puncak tersebut, presiden Turki tersebut juga mengadakan pertemuan tertutup dengan Presiden Bangladesh Abdul Hamid dan juga para pemimpin lainnya.

Hadiah Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi Terancam Dicopot

MYANMAR (Jurnalislam.com) – Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Myanmar Aung San Suu Kyi menghadapi sorotan mendalam dan terancam dicopot atas responsnya terhadap penderitaan penduduk Rohingya di negaranya, Aljazeera melaporkan, Ahad (10/9/2017).

Hampir 300.000 muslim Rohingya telah melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh, menurut PBB, sejak pembantaian Militer Budha Myanmar pada kaum Muslim minoritas itu dimulai lebih dari dua pekan yang lalu.

Kekerasan tersebut dimulai pada 25 Agustus setelah para pejuang Muslim Rohingya melakukan serangan balasan dengan menyerang pos polisi di Rakhine, di pantai barat Myanmar (dahulu Burma), hingga memicu sebuah tindakan keras militer.

Aung San Suu Kyi, konselor negara dan pemimpin de facto, pekan ini mengklaim bahwa situasi tersebut dipelintir oleh “gunung es kesalahan informasi yang sangat besar.”.

“Kami memastikan bahwa semua orang di negara kita berhak mendapatkan perlindungan atas hak-hak mereka dan juga hak untuk, tidak hanya pertahanan politik tapi sosial dan kemanusiaan,” katanya kepada Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan saat melakukan pembicaraan telepon pada bulan September 5.

Rohingya, yang sering digambarkan sebagai “minoritas paling teraniaya di dunia,” adalah kelompok etnis yang sebagian besar beragama Muslim, yang telah tinggal di wilayah mayoritas umat Buddha selama berabad-abad.

Saat ini ada sekitar 1,1 juta penduduk di negara Asia Tenggara itu, yang merupakan rumah bagi lebih dari 100 kelompok etnis dan sekitar 55 juta orang.Sejumlah tokoh tinggi secara terbuka mengkritik Aung San Suu Kyi, yang dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1991 atas kampanyenya yang mendukung demokrasi di Myanmar, sehubungan dengan krisis tersebut.

Hampir semua pemimpin dunia bersatu mengutuk Aung San Suu Kyi, hanya beberapa saja menolak.

Perdana Menteri India Narendra Modi, misalnya, menolak untuk berbicara dan malah menawarkan dukungannya kepadanya.

“Kami berbagi kekhawatiran dengan Anda mengenai kekerasan ekstremis di negara bagian Rakhine dan terutama kekerasan terhadap pasukan keamanan,” katanya dalam sebuah kunjungan kenegaraan ke Myanmar pada 6 September.

Lebih dari 400.000 orang telah menandatangani sebuah petisi online yang meminta penghargaan Aung San Suu Kyi dicabut, mengatakan “hampir tidak melakukan apa pun yang bisa menghentikan kejahatan terhadap kemanusiaan di negaranya ini “.

“[hadiah] hanya diberikan kepada ‘orang-orang yang telah memberikan yang terbaik untuk persaudaraan internasional.’ Nilai damai ini harus dipupuk oleh para pemenang Hadiah Nobel Perdamaian, termasuk Aung San Suu Kyi, sampai hari-hari terakhir mereka,” isi petisi change.org.

“Ketika seorang pemenang tidak dapat mempertahankan kedamaian, maka demi perdamaian itu sendiri, hadiah itu perlu dikembalikan atau disita oleh Komite Hadiah Nobel Perdamaian.”

Ribuan Umat Islam Ikuti Aksi Peduli Rohingya di Bima

BIMA (Jurnalislam.com) – Ribuan umat Islam di Bima turun ke jalan mengikuti aksi peduli Rohingya, Ahad (9/9/2017). Massa yang berasal dari ormas Islam, mahasiswa, pelajar, pondok pesantren melakulan longmarch melewati jalan Soekarno-Hatta Kota Bima.
Koordinator aksi, Awaluddin Sunan mengatakan, aksi ini merupakan aksi simpatik untuk menunjukkan solidaritas kepada kaum muslim Rohingya yang sekarang sedang teraniaya.
“Oleh karena itu kami turun ke jalan untuk menyampaikan dan mengabarkan kepada seluruh masyarakat Bima bahwa di belahan bumi Myanmar ada saudara kita yang sedang mengalami penindasan oleh,” kata Awaludin.
Sementara itu, Amir Wilayah Nusra Ansharsyariah, Ustadz Muhammad Taqiyuddin dalam orasinya mengajak umat Islam untuk membantau muslim Rohingya dengan harta maupun do’a.
“Mereka saat ini sedang membutuhkan bantuan dan uluran tangan kita, karena mereka mengalami kelaparan akibat penindasa, maka kita sebagai kaum muslimin disini juga memiliki kewajiban untuk membantunya,” tuturnya.
Aksi juga diisi dengan penggalangan dana oleh peserta aksi kepada warga kota Bima dengan menyebarkan kotak infak.

JITU: Buku Mengetuk Pintu Langit Akan Menjadi Dokumentasi Sejarah Penting Bagi Bangsa

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Sekretaris Jenderal Jurnalis Islam Bersatu (JITU), Pizaro Novelan Tauhidi berharap buku ‘Mengetuk Pintu Langit’ akan menjadi dokumentasi sejarah yang penting bagi perjalanan bangsa Indonesia.

“Buku keluaran JITU insya Allah akan menjadi dokumentasi bersejarah bagi bangsa Indonesia, karena ini dokumentasi jurnalistik dimana jutaan umat Islam berkumpul menyuarakan keadilan,” kata Pizaro dalam acara Bedah Buku “Mengetuk Pintu Langit”, di Masjid Istiqomah, Citarum, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (9/9/2017) dilansir Islamic News Agency (INA).

Merawat Spirit 212, JITU Gelar Bedah Buku “Mengetuk Pintu Langit”

Pizaro menuturkan, kedepannya para ulama, tokoh nasional, dan masyarakat luas akan dapat mengambil banyak manfaat dari hadirnya buku kedua yang diterbitkan oleh JITU itu.

“Buku ini akan selalu ada di hati generasi setelah kita, catatan sejarah di dalam buku itu sangat kental menjadikan generasi umat Islam memahami sejarah dengan baik,” ungkap Pizaro.

Aksi 212, kata Pizaro, merupakan bukti bahwa ummat Islam adalah ummat yang santun, toleran, dan penuh persaudaraan.

“Kita bisa lihat, dimana aksi 7 juta orang menuntut keadilan bisa dilakukan dengan damai tanpa ada kekerasan, dan pengerusakan. Disitu tidak lagi mengedepankan bendera ormas, dan latar belakang golongan, bahkan ada non muslim yang diperlakukan dengan baik dalam aksi,” tuturnya.

Adanya buku ini, kata pria keturunan Minang ini, untuk terus mengabadikan komentum kemenangan ummat Islam dalam menegakkan keadilan

“Sangat sayang jika momentum itu hilang dari sejarah anak bangsa. Keadilan itu harus ditegakkan tanpa melihat siapa dan apa dibelakangnya,”tutup Pizaro.

Reporter: Haikal/INA

Kang Ucay: Buku Mengetuk Pintu Langit Wajib Dimiliki Anak Cucu Saya

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Mantan personil band Rocket Rockers yang kini menjadi aktivis dakwah, Noor Al-Kautsar alias Ucay mengatakan, bahwa buku ‘Mengetuk Pintu Langit’ wajib untuk dimiliki anak-cucunya sebagai pengetahuan sejarah Aksi Bela Islam yang pernah terjadi di Indonesia.

“Buku ini juga menjadi salah satu sarana untuk memahamkan orang-orang yang sinis terhadap aksi kemarin,” katanya saat menjadi pembicara dalam Bedah Buku tersebut di Masjid Istiqomah, Citarum, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (9/9/17) dilansir Islamic News Agency (INA).

Menjaga Spirit 212 untuk Ukhuwah Islamiyah

Ucay yang mengaku selalu mengikuti Aksi Bela Islam ini menambahkan, buku ‘Mengetuk Pintu Langit’ menggambarkan bagaimana ukhuwah dan persatuan umat bukanlah suatu yang mustahil.

Hal senada juga disampaikan Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Jawa Barat, Ustadz Roinurbalad. Ia menyatakan bahwa buku setebal 300 halaman lebih tersebut memberikan satu spirit fundamental untuk pergerakan umat Islam di Indonesia.

“Karena kalau yang datang adalah panggilan ilahi, tidak ada yang bisa menghentikan tekad untuk berjuang,” tandasnya.

Jaga Spirit 212, Gerakan Shalat Subuh Berjamaah Digelar Serentak di 212 Titik Seluruh Indonesia

Buku Mengetuk Pintu Langit merupakan Catatan Reportase Tim Jurnalis Islam Bersatu (JITU) dalam merangkum peristiwa yang terjadi saat Aksi Bela Islam khususnya 411 dan 212 beberapa waktu yang lalu.

Reporter: Ali Muhtadin/INA

Merawat Spirit 212, JITU Gelar Bedah Buku “Mengetuk Pintu Langit”

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Jurnalis Islam Bersatu (JITU) bekerja sama dengan Komunitas Dakwah dan Sosial (Kodas) menggelar Bedah Buku ‘Mengetuk Pintu Langit’ di Masjid Istiqomah, Citarum, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (9/9/17).

Dalam sambutannya, Ketua Umum JITU Agus Abdullah mengatakan, buku tersebut sengaja dibuat agar bisa dinikmati oleh umat.

“Kami melihat peristiwa Aksi Bela Islam sebagai sebuah momen penting. Maka dengan segala upaya bulan lalu buku ini bisa terbit,” ujar Agus sebagaimana dilansir Islamic News Agency (INA).

Bachtiar Nasir: Kami Tidak Ketuk Pintu Istana, Tapi Ketuk Pintu Langit

Agus menjelaskan, bahwa buku ‘Mengetuk Pintu Langit’ sejatinya merupakan buku kedua yang ditulis oleh JITU, setelah sebelumnya juga pernah merangkum catatan jurnalisme mengenai krisis Suriah.

Sementara itu, Ketua Kodas Rio Helmy mengaku turut bersyukur atas terbit dan beredarnya buku tersebut.

“Karena bagi kami buku ini adalah hadiah terindah dalam bentuk sebuah dokumentasi,” katanya.

Menurutnya, dokumentasi dari sebuah peristiwa yang bersejarah merupakan hal yang sangat penting.

Apalagi, tambahnya, peristiwa Aksi Bela Islam yang menjadi objek penulisan buku ‘Mengetuk Pintu Langit’ adalah momen fenomenal berkumpulnya umat Islam terbesar sepanjang sejarah Indonesia bahkan dunia internasional.

Deddy Mizwar: Perjuangan KH. Zaenal Musthofa Inspirasi Spirit 212

Rio mengungkapkan, dengan diadakan bedah buku tersebut mampu untuk menumbuhkan semangat ruhiyah umat Islam tentang sebuah persatuan.

“Ini sangat penting karena hari ini kita melihat penista agama akhir-akhir ini muncul lagi,” imbuhnya.

Sebagaimana diketahui, buku ‘Mengetuk Pintu Langit’ merupakan catatan reportase yang disusun oleh Jurnalis Islam Bersatu tentang Aksi Bela Islam menuntut penegakan hukum penistaan al-Qur’an oleh Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok beberapa waktu yang lalu.

Turut hadir sebagai pembicara, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Jawa Barat Roin Nurbalad, Sekertaris Jenderal JITU Muhammad Pizaro, dan Aktivis Dakwah yang juga Mantan Vokalis Band Rocket Rockers Noor Al-Kautsar atau Kang Ucay.

Repoerter: Ali Muhtadin/INA

Ribuan Warga Madura Penuhi Alun-Alun Sumenep Hadiri Malam Doa Untuk Rohingya

SUMENEP (Jurnalislam.com) – Suasana malam minggu yang berbeda terjadi di Sumenep, Madura. Alun-alun kota Sumenep, persis depan Masjid Agung Sumenep yang bisa dipadati oleh muda-mudi kali ini, Sabtu (9/9/2017) dipadati oleh umat Islam Madura dalam rangka doa bersama untuk Ummat Islam Rohingya

“Acara ini selain untuk memanjatkan doa untuk ummat Islam Rohingya yang saat ini tengah disiksa, diperkosa, hingga dibunuh oleh kaum budha dan junta Myanmar dengan sangat bengis. Acara ini juga sebagai ajang silaturahmi ummat islam se-Madura khususnya Kabupaten Sumenep”, kata KH Taufiqurrahman, Wakil Rais Syuriah PCNU Sumenep sekaligus Pimpinan Pondok Mathlabul Ulum Jambu kepada JurnalIslam.com, Sabtu (9/9/2017).

Pernyataan Sikap Bersama MUI dan GUIB Jawa Timur Tentang Genosida Muslim Rohingya

Menurut KH Taufiq, umat Islam seperti satu tubuh, dan apabila ada bagian tubuh yang terluka, bagian yang lain ikut merasakannya. Ia pun mengutip hadits Nabi:

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Namir, telah menceritakan kepada kami Abi(Abdullah bin Namir), telah menceritakan kepada kami Zakariya, dari Sa’bi, dari Nu’man bin Basyir dia berkata:

Rasulullah bersabda: “orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya).” (H.R. Muslim)

Aliansi Umat Islam Peduli Rohingya Desak Negara-negara Muslim Kirim Tentara ke Myanmar

SURABAYA (Jurnalislam.com) – Aksi damai peduli Muslim Rohingya juga digelar Aliansi Umat Islam Peduli Rohingya di depan Tugu Pahlawan, Kota Surabaya, Jumat (8/9/2017). Ratusan orang dari berbagai ormas berpartisipasi dalam aksi tersebut.

Dalam aksinya, mereka membawa spanduk-spanduk kecaman terhadap pemerintah Myanmar.

Koordinator aksi, Abdul Rozaq dalam orasinya menyayangkan sikap negara-negara Muslim yang seolah tak berdaya menghentikan pembantaian umat Islam yang terhadi di Rakhine, Myanmar.

“Pembantaian kembali dilakukan rezim Budha Myanmar kepada minoritas Muslim Rohingya sejak Jumat kemarin namun anehnya tidak ada satu pun penguasa negeri Muslim yang mampu menolongnya,” kata Abdul Rozaq.

Peduli Rohingya, Ribuan Umat Islam Bacakan ‘Ikrar Mujahidin Tasikmalaya“

Abdul Rozaq mendesak pemimpin negara-negara Muslim untuk mengirimkan tentara perdamaian guna menghentikan kekejaman militer Myanmar terhadap etnis Muslim Rohingya.

“Menuntut kepada para pemimpin negeri-negeri muslim untuk mengirimkan tentaranya menghentikan kebiadaban tentara Myanmar dalam pembantain umat Islam Rohingya,” tegasnya.

Mereka juga menyampaikan pernyataan sikap yang menitikberatkan pada persatuan umat Islam untuk membantu Muslim Rohingya.

Aliansi Umat Islam Peduli Rohingya menyatakan sikap:

1) Kondisi umat Islam Rohingya yang terus berulang, adalah suatu keadaan yang sangat menyedihkan. Allah SWT telah menyebut kaum Muslimin sebagai khairul ummah. Bagaimana mungkin khairul ummah itu keadaannya seperti ini. Mengapa hal itu terjadi? karena umat Islam tida mempunyai kekuatan untuk menolong saudara-saudara kita tersebut.

2) Mengutuk keras sikap diamnya para pemimpin Myanmar dan menuntut mereka menghentikan kebiadaban yang dilakukan atas umat Islam Rohingya, sekarang juga. Padahal di Myanmar itu ada penguasa yang disebut-sebut sebagai pendekar demokrasi, bahkan pernah mendapatkan hadiah nobel perdamaian, Aung San Suu Kyi, tapi ternyata dia setelah menjadi penguasa tidak berbuat apa-apa untuk menolong rakyatnya sendiri. Muslim Rohingya itu bagian tak terpisahkan dari Burma (sekarang ganti nama jadi Myanmar), bahkan Rohingya ada lebih dulu dibandingkan Burma. Tapi alih-alih memberikan pertolongan dan perlindungan, bahkan menyebut kata “Rohingya” pun tidak pernah dilakukan Aung San Suu Kyi.

3) Menuntut kepada para pemimpin negeri-negeri muslim untuk mengirimkan tentaranya menghentikan kebiadaban tentara Myanmar dalam pembantain umat Islam Rohingya. Serta mengusir duta besarnya dan memutuskan hubungan diplomatik dengan Myanmar dari negeri-negeri Islam, termasuk Indonesia.

4) Mengajak semua pihak untuk makin menyadari bahwa umat Islam, tanpa persatuan umat Islam itu akan terus menjadi entitas yang sangat lemah. Bukan hanya di Rohingya, di Palestina dan di belahan dunia lainnya juga umat Islam dalam keadaan menderita. Pun begitu di Indonesia. Karena itulah diperlukan persatuan. Dan untuk bersatu itu diperlukan institusi yang akan menyatukan umat Islam. Institusi itu disebut dengan khilafah. Karena itulah khilafah itu sesuatu yang sangat penting, sangat mutlak, yang oleh para ulama disebut sebagai tajul furudh atau mahkota dari kewajiban karena dengan adanya khilafah ini maka kewajiban-kewajiban yang lain akan terlaksana termasuk kewajiban untuk menolong saudara kita yang mengalami penderitaan seperti yang dialami oleh Muslim Rohingya.