18.500 Pengungsi Muslim Rohingya Banyak yang Sakit dan Menderita Luka Tembak

18.500 Pengungsi Muslim Rohingya Banyak yang Sakit dan Menderita Luka Tembak

BANGLADESH (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 18.500 Muslim Rohingya, banyak yang sakit dan beberapa lainnya menderita luka peluru, telah melarikan diri ke Bangladesh dalam enam hari terakhir di tengah pertempuran baru di Myanmar barat.

Laporan dari Organisasi Internasional untuk Migrasi (the International Organization for Migration-IOM) pada hari Rabu (30/8/2017) tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran masyarakat internasional.

Pemerintah dan organisasi asing khawatir bahwa desa Rohingya terkena hukuman kolektif setelah sebuah kelompok bersenjata pada tanggal 5 Agustus menyerang pos polisi dan sebuah pangkalan militer di negara bagian Rakhine.

Serangan perlawanan di pos perbatasan diklaim oleh Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA), sebuah kelompok jihad yang dibentuk oleh Muslim Rohingya yang tinggal di Arab Saudi setelah menghadapi kekerasan komunal yang serius di tahun 2012, menurut International Crisis Group .

Berhari-hari setelah serangan tersebut, tentara Myanmar membakar daerah-daerah di negara bagian Rakhine dan menembaki warga sipil, menurut kelompok hak asasi manusia dan saksi mata.

Banyak warga dilaporkan terbunuh. Al Jazeera belum dapat memverifikasi jumlah korban tewas.

Ketika sebagian besar Muslim Rohingya melarikan diri ke Bangladesh, umat Buddha Rakhine kebanyakan mencari suaka di kota dan vihara di selatan dan timur lokasi pertempuran.

“Sampai semalam, 18.500 orang telah menyeberang” dari negara bagian Rakhine Myanmar, Chris Lom, juru bicara IOM Asia Pasifik, kepada kantor berita AFP.

Lom mengatakan angka pasti sulit didapat karena banyak dari mereka yang berhasil mencapai Bangladesh kemungkinan tidak mendaftar ke pemerintah setempat.

“Kami juga tahu ada sekelompok orang yang terjebak di perbatasan tapi kami tidak tahu berapa jumlahnya,” kata Lom.

Bangladesh, yang telah menampung sekitar 400.000 Rohingya yang meninggalkan Myanmar selama bertahun-tahun, telah berjanji untuk memblokir pendatang baru dan telah mendeportasi beberapa dari mereka yang mencoba menyeberang.

“Mereka berada dalam kondisi yang sangat sangat menyedihkan,” kata Sanjukta Sahany, yang mengelola kantor IOM di kota selatan Cox’s Bazar di dekat perbatasan.

“Kebutuhan terbesar adalah makanan, layanan kesehatan dan mereka butuh tempat berlindung. Mereka memerlukan sedikitnya beberapa penutup, dan atap di atas kepala mereka.”

Sahany mengatakan banyak yang melintas “dengan luka tembak dan luka bakar,” dan pekerja bantuan tersebut melaporkan bahwa beberapa pengungsi “memberikan pandangan kosong” saat ditanyai.

“Orang-orang trauma, sangat terlihat.”

Aktivis Myanmar: Kurang dari Sepekan 800 Muslim Rohingya Dibunuh

Rakhine Utara telah dikunci sejak Oktober tahun lalu ketika sekelompok pejuang Rohingya yang sebelumnya tidak dikenal menyerang serangkaian pos perbatasan di dalam Myanmar.

Serangan itu memicu respon militer yang berlebihan, yang menyebabkan sekitar 87.000 muslim Rohingya melarikan diri ke Bangladesh, membawa serta kisah-kisah mengerikan tentang pembunuhan, pemerkosaan, penyiksaan dan desa-desa yang terbakar.

PBB yakin bahwa tindakan pemerintah Myanmar tersebut dapat menyebabkan pembersihan etnis dan kejahatan terhadap kemanusiaan berat.

Data satelit yang baru diakses oleh Human Rights Watch menunjukkan kebakaran yang meluas di sedikitnya 10 wilayah di Rakhine.

Bagikan
Close X